Bukankah
senja tadi gerimis meruncing menghujani bumi?. Entah mengapa November disesaki
oleh hujan, Sampai-sampai band Hair Metal 80', Gun n Roses pernah membuat lagu November Rain, sepertinya memang
November identik dengan hujan. Tentu malam ini dingin sedang menjadi-jadi, banyak
yang menginggalkan keramain untuk lebih memilih dibalik tebalnya kehangatan. Banyak
yang memilih cara itu untuk menikmati hari dimana dingin menjadi tema utamanya.
Tiba-tiba saja dingin mengingatkanku pada paras halusmu. Sepertinya malam
menghanyutkanku pada dirimu yang semakin
hari semakin menjadi asing padaku. Jelas, ingatanku ini tak bisa ditahan begitu
saja tanpa ada obat mujarabnya. Bertemu denganmu.
Malam
ini malam minggu, ketika banyak dari antara kita menghabiskan waktu dengan
memadu kasih. Tentu akupun ingin menjadi bagian dari mereka yang menikmati
dingin dengan berpeluk erat daripada sekedar menutup diri dibalik selimut. Menghabiskan malam dalam keintiman yang tak pernah
terasa sebelumnya. Ah, sepertinya itu terlalu bermuluk-muluk. Kucium saja kau
selalu menolakku dengan berbagai alasan, sebatas membelai rambut panjangmu,
sebatas mencium keningmu dan tangan halusmu. Sudahlah, sepertinya memang itu
yang bisa kudapat.
“malam
ini kita keluar, Ayu”
“Ayo,
mumpung aku lagi diluar nih. Kemana?”
“Jemput
aku saja dulu, setelah itu kita pikirkan tujuan kita kemana”
Seperti
biasa, aku tak pernah memikirikan arah kita melangkah. Biarkan kekinian berpikir yang
lebih menentukan segalanya. Benar saja, beberapa saat ketika aku menghubungimu
kau datang ketempatku. Kau begitu manis malam ini, baju hitammu, rambut
kemerah-merahanmu, bibir tipismu sepintas kau mirip dengan Bella Swam. Ah,
jelas aku tak akan bicara itu didepanmu karena hanya menambah mu senang saja. lalu berceracau kesana kemari Biarkan saja aku yang tahu itu.
Kita
duduk diruangan yang acak-acakan oleh buku dan kertas. Ada perbicangan dimana kau seperti biasa tetap keras kepala, bahwan denga kau punya alasan -apapun
itu alasannya-kau selalu merasa benar dan kebenaran semakin membuatmu kau
semakin tidak ingin disalahkan. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu juga
tidak ingin terlalu menghakimi tingkahmu. Ceritamu soal Ayahmu yang menurutmu
menyebalkan hanya membuatku menilai kalau kau memang anak ingusan yang belum
mengenal arti kehidupan ini, meski sebenarnya aku pun tak tahu banyak. Ya, memang perlu belajar untuk menjadi luar biasa
dengan cara yang tidak biasa tentunya.
Malam
sedikit melarut. Jelas, aku tak ingin
berlama-lama ditempat itu. Aku ingin menikmati malam bersamamu tanpa yang lain
meski itu sekedar bayangan.
“bagaimana
kalau kita keluar kota saja, Ayu?”ajakku padamu
Kau
pernah bilang ingin sesuatu hal yang tak terduga dan menantang. Mungkin saja
ajakanku ini menarik untukmu meski kurang menantang. Aku ingin mengajakmu
ketempat yang tak biasa kau lakukan ditempatmu sebelumnya. Aku ingin ada
kenangan yang kau tinggalkan diingatamu soal aku dan dengan tempat-tempat yang tak pantas kau
lupaka begitu saja, meski itu sebatas kesederhaan. Ya, sebatas kasih saying yang
kuberikan padamu meski tidak sehebat mentari pada dunia. Sebatas kesenangan
yang ingin kutunjukan padamu meski tidak sehebat orang lainnya.
“ayo,
kemana ya?ada yang menarik ga? Kota-kota disekitar kota ini tidak begitu
menarik” ia coba menjawab
“ayo
kita cari pasar malam. Mungkin disana ada keromantisan yang bisa kita ciptakan”
saranku padanya
“wah
ide bagus itu. Ayo” ia tidak terlalu antusias. Seperti biasa ekspresinya pun
datar-datar saja. Hanya sekali aku lihat kau tertawa lepas. Tawamu itu
kecantikan yang tak mudah untuk didefiniskan.
Malam
itu aku sendiri tak tahu dimana ada Pasar Malam. Aku hanya asal ajak saja sebab
tujuan utamaku hanya berdua bersamamu dalam gelap malam. Itu saja.
Aku menemukannya Pasar Malam itu
beberapa puluh kilometer dari kotaku. Sepertinya dingin tidak menyurutkan
ketertarikan sejoli-sejoli muda untuk menikmati malam ini. Malam minggu, dimana
menurut bangsa Romawi minggu atau Monday dalam bahasa Inggris itu didedikasikan
bagi dewa bulan. Begitu hiruk pikuknya keramaian.
Lalu lalang orang datang dan pergi. Keriuhan dan kegaduhan campur aduk disana
sini. aku suka kesemrawutan ini!. Karena semakin semrawut artinya pasar malam
ini semakin ramai!. Meski lapangan itu becek sisa hujan tadi sore juga tak mampu menyurutkan antusias. Jelas
sekali warga memang butuh hiburan murah.
Bunyi
derit decit besi saling beradu seperti jerit kengerian yang saling bersahut.
Tekanan roda besi dari mainan kereta-keretaan saling bergesek dengan rel nya yang
terbuat dari besi juga. Sahut-sahutan suara serak para pedagang kaki lima
berrebut menawarkan barang dagangannya. menyempurnakan pesta keriuhan ini. Sepertinya
kau tidak terlalu kikuk dengan keadaan yang tidak biasa kau hadapi itu. Aku tau
keramaian yang kau maksud bukan seperti ini bukan? Music-musik yang kau biasa
dengan bukan Koar-koar musik sember dari speaker diselingi bunyi lip lop dari
beberapa lampu-lampu penghias komidi putar menambah gaduh suasana. Tetapi music
pemecah saraf yang menjadi barometer seseorang dikatakan sebagai anak kandung
dari modernitas. Jauh, jauh sekali suasanya dengan keadaanmu itu yang kadang
kau pulang dengan tidak sadarkan diri. Mungkin saja kau pulang kali ini tidak
dengan sadarkan diri, tetapi tidak sadarkan diri kalau kau sedang jatuh cinta
padaku.
Dipasar
malam inilah ada kesederhanaan yang kadang tidak pernah kau lihat. Mereka berebut
rupiah hanya untuk sekedar makan hari esok atau bagiamana anaknya sekolah. Pasar
malam tidak lagi populer dan menarik untuk dikunjungi karena gerusan roda
modernisasi.
Malam
ini sedikit beda, pasar malam kedatangan iblis yang mengaku bidadari. Aku mengajakmu
untuk menaiki komidi putar. Aku selalu teringat suasana romantis pasar malam
yang digambarkan di film Serigala Terakhir. Tentu kau sudah menontonnya bukan?.
Itu indah sekali. Komedi putas sepertinya pilihan yang tepat. Naik komedi putar
merupakan pengalaman pertamaku dengan mu. Entah kau menikmati atau tidak aku
tak sempat memperhatikanmu karena kita terlalu sibuk bercerita soal hal-hal
intim yang semakin membuat kita saling mengenal satu sama lain. Tidak ada kata
cinta malam itu. Entah berapa putaran,
rasanya waktu berjalan begitu cepat sampai operatornya mempersilahkan kita
berdua turun. Malam itu memang tidak ada ungkapan perasaan yang harus
disahihkan kita hanya memalui kenikmatan bercengkaram tanpa tendensi yang
berlebihan. Rinduku pun kau mampu obati dengan hadirmu yang mau kuajak kemanapu
kita berjalan. Dalam langkah pun tak ada tangan yang berjabat erat saling
memegang. Hanya sesekali aku meciumi rambut merahmu yang wangi itu. Aih malam
sepertinya semakin membuatku meminta lain-lain padamu. ah
malam
semakin larut.angin malam menusuk semua tulang belulangku, sepintas kau masih
tampak ayu.
“ayo
kita pulang saja. Malam sudah larut”
“ayo”
Malam
ini kau menolakku untuk kucium tetapi kau membiarkanku aku memelukmu,
melepaskan rindu dan keluku jika mengingatmu. Kau hanya sering mengingatkanku
kalau kita bukan siapa-siapa, tetepi kau tak pernah menolak untuk menjadi arti
dan membuat arti dalam hubungan ini. Kau menikmatinya? Atau kau hanya terbiasa
dalam ketidak berarturan. Mungkin aku harus kembali mengingat kalau kau masih
anak kecil yang sedang belajar memaknai kesungguh-sungguhan. Biarkan saja aku
bertindak untukmu dan kau hanya memberikan kesempatan untuk membuatmu lebih
indah dari sekedar teman.
Malam
ini tetap indah, kau membiarkan tangan dan keningmu ku kecup. Aku suka malam,
kaos hitammu membuat cerah malam yang sedang sendu karena hujan tak juga
berkompromi dengan mentari.
Pasti
dalam hati kau tertawa. Meski kau coba untuk diam dan pura kalau malam itu
biasa saja. Setidaknya ada suatu hal yang kita perbuat menumbuhkan bulu-bulu
ingatan untuk dapat membawa kita terbang menjadi lebih bebas.
#untuk malam yang banyak ceritanya!