Senin, 10 Desember 2012

All The TIme




I wanna live forever
Don't you realize forever means together

I wanna grow my hair and nails to all my life
I hope you do change your last name and be a wife

4 bait lirik yang aku suka. Berharap ada seseorang yang bisa aku nyanyikan lagu ini. All The Time, ini lagu memang sangat aku suka, sering sekali muncul di playlistku. kesukaanku pada lagu ini tidak hanya pada aransemen musiknya saja, tetapi juga lirik lagunya yang "gue banget". 




Afrika Kecil di Timur Pulau Jawa




Matahari sedang tidak ingn berbaik hati untuk sedikit saja mengurangi sengatannya. Benar-benar panas menusuk kulit. Siang itu memang siang yang penuh petualangan menyusuri panasnya aspal dari Jember sampai ke Baluran. Baluran itu seperti Afrika. Seberapa afrika kah Baluran itu?. Sepertinya perjalanan Jember tak ada masalah yang berarti, sepanjang perjalanan hanya diisi oleh canda tawa dan cerita-cerita soal hari lalu yang belum pernah kami ceritakan, ya sebatas membunuh waktu saja. Ini memang perjalanan pertama menuju Baluran jadi aku pun tak tahun banyak soal arah dan jalannya itu hanya menuruti petunjuk jalan saja. 

Sesampainya di AsemBagus , salah satu kecamatan dari Situbondo, kami berhenti sejenak untuk sekedar meluruskan kaki dan membasahi tenggorokan dengan dinginnya Es jeruk. “permisi pak, dari sini Baluran apa masih jauh?” tanyaku dengan ramah. Sepertinya aku salah bertanya pada bapak tua itu, dia menjawab dengan bahasa Madura yang sama sekali aku tak paham. “keso’on pak”hanya itu yang kutahu dan bisa kujawab. Lalu kita melanjutkan perjalanan kearah Banyuwangi, kata orang sih memang Taman Nasional Baluran itu arah Banyuwangi. Dalam perjalanan itu aku berharap menemukan rerimbunan pohon  Beringin, Mahoni atau sesamanyalah yang membuat perjalanan kami sedikit lebih adem dan benar saja doa kami terkabul, sepanjang perjalanan sebelum memasuki Tanam Nasional Baluran jalannya begitu teduh.
Tiba-tiba saja rerimbunan pohon itu lenyap dan berganti gersang yang mengganas. Bulan itu memang sedang bulan kemarau yang menjadi dan udaranyapun jelas terasa panas.

“sepertinya kita sudah masuk Afrika, bee”katanya Anggie

Benar saja, beberapa kilometer kemudian terpasang plang besar “selama Datang di Taman Nasional Baluran”. Well, kita sudah sampai di muka depan Baluran dari arah Situbondo selanjutnya kita akan susuri jalan yang kata orang juga sepi dan banyak begalnya itu. Lagi, kami ingin membuktikan kabar yang berhembus itu.  Kanan-kiri kami hanya hamparan savanna yang meranggas, pohon-pohon  pun kering menghitam bekas terbakar. Beberapa kali kami melihat tempat latihan Marinir di Taman Nasional Baluran, pemandangan itu menambah indah Baluran meski pada saat itu cuacanya sedang panas-panasnya. 

Kurang lebih dua jam perjalanan kami melintasi jalan raya lintas utara yang melewati Baluran. Jalan yang menghubungkan antara Situbondo dan Banyuwangi. Selama dua Jam pula jalanan disana begitu sepi hanya beberapa saja yang lewat itu pun berserangan tujuan dengan kami, jelas saja kalau banyak begal ditempat ini sebab kawasan hutan Baluran memang begitu sepi apalagi kalau malam hari jelas akan gelap sekali, dari awal perjalanan sampai tengah-tengah kami sedikit sekali menemukan lampu penerangan. 

Sampailah pada tikungan  yang  misterius itu, masyarakat Banyuwangi menyebutnya Jurang Tangis, ditempat itu menurut banyak cerita rawan sekali kecelakaan dan dulu mitosnya daerah itu tempat pembuangan korban dari G30/S. Waw keren sekali tempat itu membuat adrenalin kami melonjak-lonjak.  Sepanjang perjalanan setelah jurang tangis kami memasuki wilayah hutan kering dengan mayoritas pohonnya Jati. Dalam perjalanan itu untung saja kami bertemu dengan sekelompok pecinta Vespa gembel, ya dengan sedikit jurus “yo man dan peace brother” mereka semua menerima kami dengan begitu hangat apalagi aku bercerita soal si Master (nama Vespaku), “we are brother bro” kata mereka sambil mengacungkan tanda V (peace) .  kami ikut iring-iringan mereka. Well, perjalananan tidak “sedingin’ sebelumnya, ada tawa dan teriak-teriak  urakan ala anak Vespa yang memecah sepi. Benar-benar perjalanan yang penuh petualangan. Eits ini belum seberapa, Yoman!!!
Pintu Masuk TN Baluran

Lalu tibalah kami diujung Taman Nasional Baluran tepatnya di daerah Bajulmati, Banyuwangi. Disanalah pintu masuk Taman Nasional Baluran, tepatnya kami masuk k kantor Taman Nasional Baluran. Dari pintu gerbang, kami harus melanjutkan perjalanan 15 Km untuk bisa merasakan suasana  sesungguhnya dari little Africa. Awalnya bayangan kami perjalanannya akan lebih mudah dan mulus karena sudah diaspal 

“15km kalau kecepatan kita 30km/jam mungkn hanya 30menitan” dengan percaya diri aku mengatakan itu pada Anggie.
“wah ga sabar pengen cepet sampai”jawabnya dengan penuh semangat











Bayangan yang muncul diawal itu memang terbukti tetapi keterbuktiannya hanya beberapa kilometer saja. Ya, kurang lebih 3km saja sisanya jalanan berbatu yang tidak mungkin laju motor sampai 30km/jam.  Jalannya  rusak parah meski batu-batunya tidak terlalu besar tetapi berbahaya jika terlalu kencang mengemudikannya karena batunya bercampur pasir.  Perlahanan tapi pasti, aku dan Anggie mencoba menikmati suasanya Savana yang bercampur dengan hawa panas yang muncul dari gersangnya tanah di sekitar jalan. Beberapa kali kami mlihat bekas-bekas semak yang terbakar.  Ternyata diantara kegersangan itu ada juga daerah hijau. Memasuki daerah itu begitu sejuk, terdengar pula ocehan burung di daerah itu, tepat sekali jika sambil mendengarkan karya-karya musisi musik klasik dari Jepang, Kitaro. Perjalan berlanjur, suasana sejuk dan hijau itu berganti, kembali gersang. Pemandangan Baluran memang cantik khas Afrika. Aku memang belum pernah ke Afrika, tetapi aku pernah membaca National Geographi edisi Afrika. Dalam majalah itu diulas soal Taman Nasional Kiliminjaro, yeah, rasanya aku tak berlebihan menyandingkan Taman Nasional Kiliminjaro dengan Taman  Nasional Baluran. Baluran pun punya gunung yang juga bernama Baluran, Baluran punya Savana bahkan Baluran punya Pantai yang bernama Bama, pantainya pasir putih pula. Baluran memang keren!!!

Evergreen Baluran
Savana kering Baluran

Sampailah kami di Bekol, tempat istirahat dan penginanapan bagi para pengunjung Baluran. Kami sampai kira-kira pukul 12.00WIB sedangkan kami berangkat dari Jember pukul 07.00WIB.  lelah dan segala adrenalin yang melonjak-lonjak menambah seru petualangan ini. Baluran memang eksotis, kami disuguhkan banyak hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Afrika kecil yang selama ini banyak dibicarakan orang memang benar-benar mewajahkan Afrika ditanah Jawa. 

Bekol

Kata petugas Taman Nasional Baluran, Baluran ini juga mempunyai hutan mangrove dan ekosistem perairan. Sedangkan penghuninya juga tak kalah ramai. Bahkan, Taman Nasional Baluran seluas 25.000 hektar itu dijuluki surga burung Indonesia. Tidak hanya burung di Baluran juga mudah ditemui Rusa dan Kerbau liar. Menurut penjelasan petugasnya selain Rusa dan Kerbau, Baluran juga merupakan habitat dari uga ada 26 jenis mamalia diantaranya banteng (Bas javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuan alpi-nus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak), rusa (Cervus timorensis rus-sa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tra-gulus javanicus pelandoc), dan kucing bakau(Prio-nailurus vivertinus) . Menurut penjelasnya juga, beberapa hari yang lalu ia menemukan seekor pyton yang sedang memangsa rusa didekat sumber air Baluran. 

Great, tidak salah memang kami berpetualang ke Baluran. Meskipun awalnya kami berdua sempat ragu apakah akan sampai atau tidak di Baluran karena memang sama-sama tidak ada yang tahun soal kondisi disana.
Gunung Baluran


Kami pun mencoba mencari tempat yang enak untuk berisitarahat, ditambah lagi aku dan Anggie belum makan. Untung saja Anggie masak nasi Goreng dan Ayam teriyaki. Well. Kami menyantapknya diatas bekol (menara pengintai satwa) sambil disuguhi pemandangan lautan dan Gunung Baluran yang eksotis itu. Dari atas terlihat dengan jelas betapa luasnya Baluran dan betapa “afrikanya” Baluran. Angin memang sepertinya sedang pengertian ditengah cuaca panas yang menyengat kulit, benar-benar sejuk dan tenang suasana pada saat itu. Kami pun tertidur beberapa saat karena kelelahan. Tiba-tiba saja seekor monyet besar (seperti babon) mendekati dan menggoda Anggie. Ia begitu saja menjerit. Wah sepertinya monyet itu suka padanya, keadaan menakutkan itu tiba-tiba sirna begitu saja ketika Anggie melempar roti dan monyet itu menyukai rotinya. Keganasan monyet itu berganti menjadi lucu.



savana Baluran








sumber air tempat hewan minum




Monyet ini begitu menyusahkan

Merak pun jadi objek jepretan




Sedangkan aku  turun kebawah kearah Savana untuk mencari Rusa atau Burung. Aku memang berencana untuk mengabadikannya lewat foto. Medannya  tidak mudah, selain hutannya cukup luas, jalannya dipenuhi oleh semakin berduri,sedangkan si Rusa tidak bisa didekati dengan begitu saja sehingga aku harus 'blusukan' ke dalam hutan mencari tempat yang tepat untuk memotret. beberapa kali usahaku gagal sampai pada akhrinya aku mencoba mengendap-endap, menunggu waktu yang tepat Rusa-Rusa lewat didepanku. Sepertinya tak salah lensa 70-300mm ini aku bawa, lensa itu mampu menjangkau jarak sekitar 15 meter didepanku. Yes, aku dapatkan foto kegerombolan rusa itu. Sebenarnya aku ingin memotret Banteng tetapi rasanya waktu dan iklim yang tidak tepat. Banteng tidak muncul dibulan-bulan ini (November). "memang telah terjadi penyusutan populasi Banteng di Baluran, selain karena ulah jahil manusia, juga karena kondisi Savana yang banyak mengalami perubahan. “Tahun 2001 jumlah banteng masih berkisar 219 hingga 267 ekor, setahun berikutnya tersisa 81 -15 ekor. Bahkan tahun 2006, jumlahnya tinggal 25 ekor saja. Data terakhir tahun 2007, populasi banteng 34 ekor saja” begitu menurut penjelasan kepala TN Baluran yang lupa aku tanyakan namanya. 


Rusa


Siang pun berganti, matahari mulai mengkaramkan sinarnya menuju arah timur, langit pun menguning menampakan lembayungnya, gradasi warna menciptakan bianglala dari diarah pandang menuju pantai. Wow indah sekali sore itu, Kami memandangi keindahan itu dari Bekol sambil menghabiskan perbekalan yang kami bawa. Letih dan lelah terbayarkan lunas. Sensasi Afrika jelas terasa ditempat ini. keberadaan Savana yang lengkap dengan penghuninta seperti Rusa, Kerbau, Banteng, Monyet menambah eksotis tempat ini. 
savana

Awalnya kami mau menginap Baluran, harga penginapannya tidak terlalu mahal. Ada dua kelas, kelas yang harganya Rp75000 dan harga Rp. 150.000 tetapi sayangnya kamar disana semuanya penuh. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan petualangan menuju Banyuwangi menelusuri pantai Watu dodol dan pesisir timur pulau Jawa. Pulangnya kami melewati Gumitir. Sepertinya Gumitir sedang tidak bersahabat dengan kami, ditengah perjalanan ban motor kami tiba-tiba meletus. Mungkin terlalu lelah sepertinya sepedah motor Revo ini. Tetapi namanya petualangan, sekali lagi itu justru menambah keren dan indah suasana, kami mendorong cukup jauh karena aku tak tega melihat Anggie yang kelelahan akhirnya aku titipkan dia dirumah penduduk untuk sekedar beristirahat.

Suasana malam itu begitu indah sekali. Nuansa petualangannya terasa betul, melalui perjalanannya tidak mudah dan menantang sekitar 250km kita berjalan dan menghabiskan 6liter bensin. Great moment tercipta ditanggal 2 November 2012. Baluran menjadi saksi bahwa kami telah berhasil menjejakinya. Masih banyak tempat lainnya, pulau Menjangan, pulau Sempu dan tentu saja Karimun Jawa.

Ok, nantinya petualangan kita selanjutnya!!
Soal BandeAlit dan Gunung Gending


Sabtu, 24 November 2012

Ketertindasan adalah Awal Bahasa Perlawanan (Kisah Guy Fawkes)

Anonymous dengan senyum mautnnya!

Anonymous merupakan salah satu kelompok Hacker yang ‘kerjaannya’ bikin onar di jejaring internet. Biasanya yang menjadi sasasaran mereka adalah instansi-intansi besar, bahkan negara. Dalam kasus ini serangan yang dilakukan oleh kelompok Anonymous sebagai bentuk perlawanan pada Israel yang menyerang Palestina (baca Gaza). Bentuk perlawanan yang tidak menggunakan kekerasan tetapi dampaknya sangat signifikan. "Biar kami perjelas sekali lagi: Anonymous tidak memberikan dukungan terhadap aksi kekerasan. Anonymous merupakan kumpulan individu dari berbagai penjuru dunia yang memiliki tujuan untuk kepentingan hak asasi manusia, keadilan, dan persamaan universal untuk warga negara di semua negara," tulis Anonymous di situs Anonpaste.me. Terang saja meskipun tanpa kekerasan aksi mereka membuat banyak pihak yang menjadi korbannya keteteran menghadapinya. Dunia maya memang tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan nyata karena hampir semua kehidupan didunia ini digerakan secara online  sehingga jika terjadi kekacauan didunia maya berdampak pula pada kehidupan nyata.
Serangan yang dilakukan oleh kelompok Hacker itu membuatku tertarik . bukan tertarik pada aksi hackingnya tetapi soal nama kelompok dan style mereka ketika muncul didepan publik bergaya seperti mr. V dalam film V for Vandeta. Wow keren sekali!. Menggunakan topeng berwajah tersenyum dengan aksen kumis tipis melengkung dan topi hitam ala rabi  Yahudi sungguh menambah kesan dingin sosok anonymous.
Anonymous yang aku tahu ada di film V For Vandeta sebagai sosok yang pejuang yang selalu menggunakan topeng. Film itu menceritakan Inggris pada tahun 2038 yang ketika itu dipimpin oleh seorang dictator yang menyengsarakan rakyat Inggris. Rakyat Inggris dilanda kelaparan, kemiskinan dan banyak yang mati karena keadaan itu. Sampailah pada saat itu muncul seorang sosok yang misterius yang dikenal sebagai Mr.V. Mr V mencoba melepaskan keadaan buruk itu dan dalam menjalankan aksi perlawanan sistem  dengan menggunakan topeng. Topeng yang selalu digunakan Mr. V dalam menjalankan aksi perlawanan terhadap sistem menjadi simbol bahwa pelaku pemberontakan adalah masyarakat itu sendiri dan bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga menghindari kultus individu seseorang yang biasa terjadi dalam suatu revolusi. Biasanya dalam revolusi selalu muncul sosok-sosok yang pada akhirnya identik dengan revolusi itu dan seolah-seolah menjadi individu yang dikultuskan sebut saja Bung Karno atau Lennin dalam revolusi Bolsyevik di Russia.

Kisah dari film Anonymous itu sungguh sangat menarik meskipun saya cukup pusing memahaminya karena alur ceritanya meloncat-loncat. Sekali lagi, ada hal sangat menarik perhatianku diluar alur ceritanya yaitu topengnya yang sedang tersenyum.dingin, Topeng itu membuatku penasaran soal siapa sebenarnya topeng terseyum itu?apakah memang tokoh yang benar-benar ada atau hanya sebatas topeng imajenasi yang dibuat-buat dalam film itu. Tetapi jika memang topeng itu sebatas imajenasi sungguh luar biasa karyanya sampai-sampai kelompok hacker berbahaya menggunakan topeng itu sebagai symbol perlawanan mereka.
Akhirnya saya mencoba untuk mencari dikaskus. Saya ingin membeli topeng itu dan dipakai ketika aksi turun kejalan. Sambil berorasi dan menggunakan topeng. Wow terkesan sangat misterius. Dari kaskus itu aku menemukan nama dari sesosok Guy Fawkes. Topeng itu ternyata merupakan wajah  Guy Fawkes yang melegenda itu. Lalu siapa Guy Fawkes itu?

Seberapa penting sosok Guy Fawkes itu sehingga wajahnya dijadikan topeng dan symbol perlawanan? Ternyata kisah hidupnya tidak jauh berbeda seperti yang dikisahkan dalam film V for Vandeta. Guy Fawkes merupakan seorang ekstimis katolik di Inggris (Inggris mayoritasnya Protestan). Kisah heroik Guy Fawkes dimulai dari ekspresi kekecewaan pada kerajaan. Masyarakat Katolik yang mendapat perlakuan tidak adil dari Raja James I dan Guy Fawkes ingin meledakan gedung parlemen sebagai balas dendam terhadap petinggi-petinggi Protestan yang jahat dan keji pada saat itu. Pada masa itu, petinggi-petinggi gereja Protestan dan Raja James I membebani masyarakat katolik Inggris dengan begitu tinggi, selain itu juga mereka menangkapi para imam katolik. Aktivitas keagamaan kaum katolik juga dibatasi, kaum katolik tidak bisa mendirikan gereja begitu saja bahkan hanya sekedar untuk mengadakan misa pun dilarang. Akhirnya kaum katolik Inggris melakukan ritus keagamaannya dengan cara sembunyi-sembunyi.

Penangkapan Guy Fawkes
Guy Fawkes bersama teman-temannya yang kurang lebih berjumlah 30 orang dengan membawa 30kg mesiu pada tanggal 5 November 1605 dikota London, mereka mencoba untuk meledakan gedung parlemen Inggris untuk membunuh James I yang dianggap paling bertanggung jawab atas penderitaan kaum Katolik. Naas memang tak bisa ditolak, aksi Guy Fawkes keburu diketahui. Guy Fawkes lalu dipenjara dan dihukum mati. Sebagai penghormatan untuknya para imigran di Inggris memperingat tanggal 5 November sebagai hari bubuk mesiu. Dimana kota London dipenuhi oleh kembang api. (Pantas saja beberapa waktu yang lalu dosenku yang kuliah di London di akun Facebooknya menuliskan “sial, London berisik banget oleh Kembang api, saya tidak bisa tidur karena itu berisiknya”). 

Guy Fawkes adalah symbol perlawanan yang kecenderungannya sebagai kelompok anarki (jangan maknai anarki sebagai perusak). Mereka yang merasa ketertindasan adalah bentuk pilihan yang harus dibalas oleh perlawanan. Guy Fawkes dan kawan-kawannya tidak peduli dengan keminoritasannya. Meski mereka sedikit dibandingkan dengan kaum protestan, Guy Fawkes tidak peduli untuk segera bertindak dengan menyingkirikan ketertindasan, ya meski pada akhirnya ia harus mati itu. Setidaknya kematiannya menginspriasi banyak pihak dan menjadikannya sebagai symbol perlawanan. Itulah kenapa pada akhrinya kelompok hacker anonymous menjadikan dirinya sebagai symbol perlawanan. 

lawanlah dengan buku!!!
Ditengah krisis global dimana keadilan ditentukan oleh pihak penguasa yang memenangkan perang. Dimana pendefinisian moral adalah terpisahnya kepala dan leher dan uang menjadi Tuhan baru yang lebih disembah umat manusia. Semua adalah kekacauan dari segala lini kehidupan yang awal mulanya karena kepentingan ekonomi lalu beranjak pada kepentingan social, politik bahkan budaya. 

Tidak ada yang benar-benar tulus untuk memaslahatan. Tidak ada pula genarasi yang berusaha memaknai perdamaian sebagai wujud nyata, bukan mimpi. Semua karena kepentingan manusia yang terus menggerus nalar dan sisi kemanusiaannya. Mereka berebut senjata lalu datang dengan peluru-peluru yang siap mencabuti nyawa manusia yang tak tahu sebelumnya soal darah dan air mata. Dunia memang sedang kacau balau, Negara-negara adidaya sedang menancapkan cengkramannya di Negara dunia ketiga dan menganggap negera dunia ketiga macam Indonesia ini bisa dengan mudah dibodohi dan dipermainkan oleh kepentingan global.
Kita hanya menjadi tumbal dan objek kesenangan dari mereka si pendefinisi kebenaran. Kekacauan ini harus segera berakhir. Minoritas atau mayoritas bukan lagi jadi semacam penghalang. Perlawanan harus tetap tegak berdiri meski kita tak pernah tau batas kemampuannya. Sekali lagi, memang perlu Guy Fawkes-Guy Fawkes baru yang datang dijaman modern ini. Perlawanannya pun tidak sama dengan Guy Fawkes terdahulu dengan membakar Lord Of House. 

2004 Arko Datta, India, Reuters




2003 Jean-Marc Bouju, France, The Associated Press


Negara hanyalah korporasi penjagal. Menindasi rakyatnya atas nama kesejahtraan. Nyatanya, rakyat hanya sapi perah kekuasaan. Guy Fawkes sudah ratusan tahun yang lalu mati, mungkin saja tulang belulangnya sudah habis dimakan jaman tetapi nafas perlawanannya masih tetap hidup menembuh lorong waktu di masa yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

1989 Charlie Cole, USA, Newsweek
Sebagai penutup, kita sedang duduk, diam, makan, tidur, beraktifitas dijaman dimana moral dan keadilan didefinisikan oleh pemenang. Selamanya kita akan menjadi kalah dan terlahir menjadi kalah digerus arus liberalisme dan kapitalisme yang sulit memaknai arti kebersamaan dengan sunggu-sungguh. Oleh karena itu lahirlah. Lahirlah genarasi baru pemberontak-pemberontak, diluaran sana para keparat sedang asik menikmati roti kekuasan. Diluaran sana mereka sedang bercinta dibalik kursi empu kekuasaan dan kita yang menikmati kesengsaraan.
Guy Fawkes hanya bagian kecil dari perlawanan yang tak pernah mati sampai dunia ini berakhir

Merdeka!

Gerimis dan Pasar malam ittu?


Bukankah senja tadi gerimis meruncing menghujani bumi?. Entah mengapa November disesaki oleh hujan, Sampai-sampai band Hair Metal 80', Gun n Roses pernah membuat lagu November Rain, sepertinya memang November identik dengan hujan. Tentu malam ini dingin sedang menjadi-jadi, banyak yang menginggalkan keramain untuk lebih memilih dibalik tebalnya kehangatan. Banyak yang memilih cara itu untuk menikmati hari dimana dingin menjadi tema utamanya. Tiba-tiba saja dingin mengingatkanku pada paras halusmu. Sepertinya malam menghanyutkanku  pada dirimu yang semakin hari semakin menjadi asing padaku. Jelas, ingatanku ini tak bisa ditahan begitu saja tanpa ada obat mujarabnya. Bertemu denganmu.
Malam ini malam minggu, ketika banyak dari antara kita menghabiskan waktu dengan memadu kasih. Tentu akupun ingin menjadi bagian dari mereka yang menikmati dingin dengan berpeluk erat daripada sekedar menutup diri dibalik selimut. Menghabiskan malam dalam keintiman yang tak pernah terasa sebelumnya. Ah, sepertinya itu terlalu bermuluk-muluk. Kucium saja kau selalu menolakku dengan berbagai alasan, sebatas membelai rambut panjangmu, sebatas mencium keningmu dan tangan halusmu. Sudahlah, sepertinya memang itu yang bisa kudapat.
“malam ini kita keluar, Ayu”
“Ayo, mumpung aku lagi diluar nih. Kemana?”
“Jemput aku saja dulu, setelah itu kita pikirkan tujuan kita kemana”
Seperti biasa, aku tak pernah memikirikan arah kita melangkah. Biarkan kekinian berpikir yang lebih menentukan segalanya. Benar saja, beberapa saat ketika aku menghubungimu kau datang ketempatku. Kau begitu manis malam ini, baju hitammu, rambut kemerah-merahanmu, bibir tipismu sepintas kau mirip dengan Bella Swam. Ah, jelas aku tak akan bicara itu didepanmu karena hanya menambah mu senang saja. lalu berceracau kesana kemari  Biarkan saja aku yang tahu itu.
Kita duduk diruangan yang acak-acakan oleh buku dan kertas.  Ada perbicangan dimana kau seperti biasa  tetap keras kepala, bahwan denga kau punya alasan -apapun itu alasannya-kau selalu merasa benar dan kebenaran semakin membuatmu kau semakin tidak ingin disalahkan. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu juga tidak ingin terlalu menghakimi tingkahmu.  Ceritamu soal Ayahmu yang menurutmu menyebalkan hanya membuatku menilai kalau kau memang anak ingusan yang belum mengenal arti kehidupan ini, meski sebenarnya aku pun tak tahu banyak. Ya, memang perlu belajar untuk menjadi luar biasa dengan cara yang tidak biasa tentunya.
Malam  sedikit melarut. Jelas, aku tak ingin berlama-lama ditempat itu. Aku ingin menikmati malam bersamamu tanpa yang lain meski itu sekedar bayangan.
“bagaimana kalau kita keluar kota saja, Ayu?”ajakku padamu
Kau pernah bilang ingin sesuatu hal yang tak terduga dan menantang. Mungkin saja ajakanku ini menarik untukmu meski kurang menantang. Aku ingin mengajakmu ketempat yang tak biasa kau lakukan ditempatmu sebelumnya. Aku ingin ada kenangan yang kau tinggalkan diingatamu soal aku dan  dengan tempat-tempat yang tak pantas kau lupaka begitu saja, meski itu sebatas kesederhaan. Ya, sebatas kasih saying yang kuberikan padamu meski tidak sehebat mentari pada dunia. Sebatas kesenangan yang ingin kutunjukan padamu meski tidak sehebat orang lainnya.
“ayo, kemana ya?ada yang menarik ga? Kota-kota disekitar kota ini tidak begitu menarik” ia coba menjawab
“ayo kita cari pasar malam. Mungkin disana ada keromantisan yang bisa kita ciptakan” saranku padanya
“wah ide bagus itu. Ayo” ia tidak terlalu antusias. Seperti biasa ekspresinya pun datar-datar saja. Hanya sekali aku lihat kau tertawa lepas. Tawamu itu kecantikan yang tak mudah untuk didefiniskan.
Malam itu aku sendiri tak tahu dimana ada Pasar Malam. Aku hanya asal ajak saja sebab tujuan utamaku hanya berdua bersamamu dalam gelap malam. Itu saja.
Aku menemukannya Pasar Malam itu beberapa puluh kilometer dari kotaku. Sepertinya dingin tidak menyurutkan ketertarikan sejoli-sejoli muda untuk menikmati malam ini. Malam minggu, dimana menurut bangsa Romawi minggu atau Monday dalam bahasa Inggris itu didedikasikan bagi dewa bulan.  Begitu hiruk pikuknya keramaian. Lalu lalang orang datang dan pergi. Keriuhan dan kegaduhan campur aduk disana sini. aku suka kesemrawutan ini!. Karena semakin semrawut artinya pasar malam ini semakin ramai!. Meski lapangan itu becek sisa hujan tadi  sore juga tak mampu menyurutkan antusias. Jelas sekali warga memang butuh hiburan murah.
Bunyi derit decit besi saling beradu seperti jerit kengerian yang saling bersahut. Tekanan roda besi dari mainan kereta-keretaan saling bergesek dengan rel nya yang terbuat dari besi juga. Sahut-sahutan suara serak para pedagang kaki lima berrebut menawarkan barang dagangannya. menyempurnakan pesta keriuhan ini. Sepertinya kau tidak terlalu kikuk dengan keadaan yang tidak biasa kau hadapi itu. Aku tau keramaian yang kau maksud bukan seperti ini bukan? Music-musik yang kau biasa dengan bukan Koar-koar musik sember dari speaker diselingi bunyi lip lop dari beberapa lampu-lampu penghias komidi putar menambah gaduh suasana. Tetapi music pemecah saraf yang menjadi barometer seseorang dikatakan sebagai anak kandung dari modernitas. Jauh, jauh sekali suasanya dengan keadaanmu itu yang kadang kau pulang dengan tidak sadarkan diri. Mungkin saja kau pulang kali ini tidak dengan sadarkan diri, tetapi tidak sadarkan diri kalau kau sedang jatuh cinta padaku.
Dipasar malam inilah ada kesederhanaan yang kadang tidak pernah kau lihat. Mereka berebut rupiah hanya untuk sekedar makan hari esok atau bagiamana anaknya sekolah. Pasar malam tidak lagi populer dan menarik untuk dikunjungi karena gerusan roda modernisasi.

Malam ini sedikit beda, pasar malam kedatangan iblis yang mengaku bidadari. Aku mengajakmu untuk menaiki komidi putar. Aku selalu teringat suasana romantis pasar malam yang digambarkan di film Serigala Terakhir. Tentu kau sudah menontonnya bukan?. Itu indah sekali. Komedi putas sepertinya pilihan yang tepat. Naik komedi putar merupakan pengalaman pertamaku dengan mu. Entah kau menikmati atau tidak aku tak sempat memperhatikanmu karena kita terlalu sibuk bercerita soal hal-hal intim yang semakin membuat kita saling mengenal satu sama lain. Tidak ada kata cinta malam itu.  Entah berapa putaran, rasanya waktu berjalan begitu cepat sampai operatornya mempersilahkan kita berdua turun. Malam itu memang tidak ada ungkapan perasaan yang harus disahihkan kita hanya memalui kenikmatan bercengkaram tanpa tendensi yang berlebihan. Rinduku pun kau mampu obati dengan hadirmu yang mau kuajak kemanapu kita berjalan. Dalam langkah pun tak ada tangan yang berjabat erat saling memegang. Hanya sesekali aku meciumi rambut merahmu yang wangi itu. Aih malam sepertinya semakin membuatku meminta lain-lain padamu. ah
malam semakin larut.angin malam menusuk semua tulang belulangku, sepintas kau masih tampak ayu.
“ayo kita pulang saja. Malam sudah larut”
“ayo”
Malam ini kau menolakku untuk kucium tetapi kau membiarkanku aku memelukmu, melepaskan rindu dan keluku jika mengingatmu. Kau hanya sering mengingatkanku kalau kita bukan siapa-siapa, tetepi kau tak pernah menolak untuk menjadi arti dan membuat arti dalam hubungan ini. Kau menikmatinya? Atau kau hanya terbiasa dalam ketidak berarturan. Mungkin aku harus kembali mengingat kalau kau masih anak kecil yang sedang belajar memaknai kesungguh-sungguhan. Biarkan saja aku bertindak untukmu dan kau hanya memberikan kesempatan untuk membuatmu lebih indah dari sekedar teman.
Malam ini tetap indah, kau membiarkan tangan dan keningmu ku kecup. Aku suka malam, kaos hitammu membuat cerah malam yang sedang sendu karena hujan tak juga berkompromi dengan  mentari.
Pasti dalam hati kau tertawa. Meski kau coba untuk diam dan pura kalau malam itu biasa saja. Setidaknya ada suatu hal yang kita perbuat menumbuhkan bulu-bulu ingatan untuk dapat membawa kita terbang menjadi lebih bebas.


#untuk malam yang banyak ceritanya!