Tentang menulis yang ingin aku ceritakan.
Beberapa waktu yang lalu, aku bersama kawan-kawan GmnI bersama-sama mendiskusikan untuk menerbitkan media alternatif GmnI. Media ini harapannya menjadi manifestasi ide-ide segar kawan-kawan.
Dimulai dari penggodokan tema tulisan berlanjut pada pembentukan outline tulisan sampai upgrading sederhana tentang proses reportase lalu selanjutnya penerjunan reportase. Dari hasil diskusi didapatkanlah tema besar tentang cara pandang GmnI pada perubahan-perubahan yang terjadi di Universitas Jember. Sedikit pengetahuan jurnalistikku didapat melalui proses di organisasi pers kampus, UKPKM Tegalboto. Disana aku mendapat banyak ilmu tentang banyak hal tentunya, namun khususnya memang jurnalistik. Melalui apa yang kumiliki itu, aku ingin membagikannya pada kawan-kawanku di GmnI. Karena dengan menulis sebenarnya tujuan dari gerakan kita bisa lebih efektif untuk tersampaikan. Menulis lebih sederhana dari sekedar teriak-teriak dalam peluh dan terik. Menulis lebih gahar dari sekedar membakar ban, menulis lebih merepotkan dari sekedar baku hantam dan chaos. Pemahaman itu yang sebenarnya harus mulai ditanamkan pada kader-kader GmnI. Artinya, gerakan GmnI tidak hanya sekedar berteriak lalu mengepalkan tanggan namun juga ada upaya-upaya intelektual yang lebih terkoordinir dan masif. Maksudku, tidak semua harus menjadi kapten, tidak semua harus menjadi beringin, tidak semua harus menjadi sama sehingga GmnI ini memiliki kader yang memiliki banyak potensi.
Beberapa waktu yang lalu, aku bersama kawan-kawan GmnI bersama-sama mendiskusikan untuk menerbitkan media alternatif GmnI. Media ini harapannya menjadi manifestasi ide-ide segar kawan-kawan.
Dimulai dari penggodokan tema tulisan berlanjut pada pembentukan outline tulisan sampai upgrading sederhana tentang proses reportase lalu selanjutnya penerjunan reportase. Dari hasil diskusi didapatkanlah tema besar tentang cara pandang GmnI pada perubahan-perubahan yang terjadi di Universitas Jember. Sedikit pengetahuan jurnalistikku didapat melalui proses di organisasi pers kampus, UKPKM Tegalboto. Disana aku mendapat banyak ilmu tentang banyak hal tentunya, namun khususnya memang jurnalistik. Melalui apa yang kumiliki itu, aku ingin membagikannya pada kawan-kawanku di GmnI. Karena dengan menulis sebenarnya tujuan dari gerakan kita bisa lebih efektif untuk tersampaikan. Menulis lebih sederhana dari sekedar teriak-teriak dalam peluh dan terik. Menulis lebih gahar dari sekedar membakar ban, menulis lebih merepotkan dari sekedar baku hantam dan chaos. Pemahaman itu yang sebenarnya harus mulai ditanamkan pada kader-kader GmnI. Artinya, gerakan GmnI tidak hanya sekedar berteriak lalu mengepalkan tanggan namun juga ada upaya-upaya intelektual yang lebih terkoordinir dan masif. Maksudku, tidak semua harus menjadi kapten, tidak semua harus menjadi beringin, tidak semua harus menjadi sama sehingga GmnI ini memiliki kader yang memiliki banyak potensi.
Gerakan menulis ada bentuk dari keberanian itu sendiri. Aku ingin membiasakan kawan-kawan untuk berani mengadu gagasan intelektualnya dengan sistematis dan mengena pada sasaran. Salah satu bentuk perlawanan itu melalu buletin TIRTA. Melalui buletin ini, harapannya kawan-kawan berani bergagasan, membangun daya nalar dan kritis tetapi tetap rasional. Meski terkesan santun tetap tidak meninggalkan kesan gaharnya. Konsep buletinnya diunggah melalui blog sehingga proses penyebarannya lebih luas dan harapannya bisa lebih masif dari sekedar dicetak beberapa eksemplar. Menulis bukan hal yang sulit, begitu kata banyak orang. Namun yang tersulit dari menulis ada memulainya lalu akhirnya membiasakan untuk menulis. Banyak kader-kader GmnI yang merasa apriori dengan kemampuan menulisnya sendiri. Namun kawan, menulislah, apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. suatu saat pasti berguna begitu kata Pramoedya Ananta Toer.
Menulis membuat kita lebih leluasa untuk berceracau. Melalui tulisan kita bisa mengungkapkan kegilaan apapun karena Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian. “Writing, at its best, is a lonely life. kata Ernest Hemingway ketika menyampaikan pidato dalam penghargaan Nobel Sastra yang ia terima. Ya, Menulis adalah kesendirian dan seharusnya tidak diributkan oleh orang lain. Menulis penuh kesunyian dari proses kontemplatif itu kita bisa masuk dalam dunia yang menjelaskan tentang segalanya, termasuk renungan tentang siapa diri ini. *ya intinya, proses kontemplatif dapat (banyak) menjelaskan keterwakilan sipenulis pada tulisannya.
Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian
Melawan pada yang berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan. Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" begitu kata Pramoedya A. Toer. Apa kita ingin dihilangkan sejarah? Hal yang paling sederhana dari menulis yaitu tulisan-tulisan yang kita buat akan menjadi dokumentasi berharga yang kemudian kelak akan menjadi pelajaran pada generasi setelah kita. aku coba mengambil contoh, mengapa bangsa Yunani, Mesir atau China bisa lebih maju dari kita? salah satunya karena peradaban Indonesia dibangun oleh tradisi lisan dan sedikit sekali tradisi tulis.
Harapannya dengan menulis kawan-kawan juga akan memulai untuk membaca lalu berdiskusi sehingga argumentasi-argumentasi kita tidak hanya asal bunyi yang hanya baca selembar sudah merasa membaca sampai khatam sehingga memberikan kesimpulan yang menyesatkan bahkan membodohi.
Selain itu, kita pun tidak mudah reaksioner karena menulis membiasakan kita untuk menganalisis terlebih dahulu. Menulis menerapkan prinsip keseimbangan. Sederhananya ketika kita mengkritik maka ada alasan rasional mengapa kita mengkritik lalu dibalik kritikan ada solusi. Kesan “urakan” menjadi tereliminasi oleh ketenangan dalam merangkai kata-kata. Karena kalau kata Jean Marais, "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Apalagi kita, yang katanya sebagai kader nasionalis, dengan menulis maka kita akan mempelajari pula bahasa sehingga kita akan pula mempelajari bangsa ini. Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri.
Menulis akan melahirkan keberanian untuk menjadi kita. GmnI akan melahirkan kader-kader intelektual. Sehingga pejuang-pemikir pemikir pejuang bukanlah sekedar motto yang selalu kita teriak-teriakan ketika KTD saja. Ada penjewatahan, sekali lagi untuk menjadi lebih berani. Berani untuk memulai, berani untuk tidak terbodohi oleh petuah-petuah usang tentang gerakan yang masih absurd. Kita tidak mungkin bisa hidup bebas begini kalau bukan karena melawan. Soekarno, Hatta, Syahrir, mereka semua berani memberontak dan melawan
Kawan, gerakan kita adalah gerakan pengulangan yang diwariskan oleh generasi yang lapuk dimakan waktu. Dimana dalam pengulangan itu, kadang tidak pernah mencoba untuk mengujinya dengan waktu, sering kali kita memakan mentah-mentah segala hal yang usang itu. tentu kawan semua pahamkan maksudku. Tentang pengulangan menurut Albert Camus dalam bukunya Mite Sisifus kalau hidup ini adalah pengulangan, mengerjakan apa yang sudah dikerjakan kemarin dan akan diulangi lagi keesokan harinya; begitu seterusnya, untuk selamanya, apa perlu hingga habis keabadian? Tidak ada salahnya kita berani untuk memilih pola yang lain bukan? melalui menulis mari kita belajar untuk menjadi berani, tidak hanya dalam gerakan-gerakan organisasi yang masih dalam tataran ocehan namun juga berani untuk merubah pola lama yang usang dengan pembaharuan yang lebih kekinian. Rasanya reformasi gerakan memang perlu dalam tubuh organisasi ini. Menulis ada jalur menuju kearah sana lalu mari kita memulainya.[]
TABIK.
Merdeka
Postscript: terdapat beberapa quote yang aku ambil dari omongan Soe Hok Gie dan Pramoedya Ananta Toer.






0 komentar:
Posting Komentar