Minggu, 31 Agustus 2014

Kepergian Pertama

Tentangmu, Jude. Aku ingin memelukmu lebih erat, melepaskan tawa yang tertahan oleh jarak. Hari-hari terakhir kita selalu diisi oleh perdebatan soal jarak, rindu dan keresahan yang sulit diendapkan. Kita dalam rimba kesendirian, mencari pijar dan pijakan setelah semuanya terpaksa dipisahkan oleh pilihan yang katanya sebagai bagian dari modernisasi manusia, bekerja lalu mendapat uang. 

Akhirnya, kita yang menjadi bagian konsekuensinya. Rasanya aku pun sampai samar bagaimana merasakan pelukmu, lupa harum tubuhmu atau suara renyahmu dipagi hari. Sekali lagi, jarak tidak sedang berdamai dengan hubungan kita. 

Jarak dan Rindu adalah resah yang baru

Tepat pukul 05.00 WIB, kereta mengantarkanku pada belahan yang lain. Katanya, membawa mimpiku ditempat terbaik. Aku tidak terlalu percaya, hanya sekedar mengikuti arus saja. Subuh itu, kau mengantarku dengan nafas yang tertahan didada, mata yang mulai menggelinang dan tangan yang menggamit keras. Aku tahu, kau tak rela melepaskan kebersamaan yang dibangun selama dua tahun terakhir ini. Selama waktu itu, rasanya hampir setiap saat kita bersama. Melawati banyak cerita, semuanya terangkum dalam album kebersamaan yang pada subuh itu akan bersambung. Tak ada jalan-jalan blusukan ketempat-tempat yang asing, tidak ada makan malam bersama, tidak ada memasak bersama. Detik itu, segalanya terhenti, meminta untuk diputar kebelakang beberapa tahun yang lalu, saat hari hangat pertemuan pertama kita. Dimana, kau dan aku masih malu-malu untuk menyapa apalagi berpelukan. Hari itu, kita serasa lugu untuk mengatakan cinta satu sama lain. Sayangnya, yang paling angkuh dan keras dari segalanya adalah waktu. Waktu terus beranjak detik demi detik meninggalkan segala rindu. Tak peduli rindu besarnya se Himalaya, tak peduli resah menghujam perasaan, tak peduli aku ditikam rindu. Waktu yang lambat itu benar-benar meninggalkan keriangan dan melahirkan kesedihan yang baru. Meski satu sama lain sadar, kepergian ini bukanlah kepergian tanpa kepulanganga. Meski kita pun sadar, tangis ini akan diganti oleh tawa yang tak bisa dilupakan oleh apapun. Tetap saja, kita terlanjur ringkih oleh jarak. Jarak terlampu sadis, sesadis waktu yang kaku dan angkuh.

Belajar Berjarak

Entah hari keberapa, tak ada yang peduli. Kita terlanjur melacurkan diri pada rindu. Rindu semakin congkak menikam disetiap hembusan nafas. Tak peduli dunia semaju apapun, tak peduli Whatsaap, tak peduli Line, Skype, atau apaun itu. Rindu tetaplah rindu, apalagi rinduku terlalu manja, banyak mintanya. Hanya pertemuan yang mampu mengeliminasinya. 

Dalam keteraniayaan tersebut, kita belajar tentang menjadi manusia yang tak selamanya indah. Kita belajar menghargai pertemuan yang tak selalu bertatap muka. Belajar mengeja jarak agar tidak terlalu dibodohi sehingga terjerembab pada kemelankolisan yang tak kunjung usai. Kadang, aku menikmatinya namun aku masih banyak kalahnya, apalagi kalau bukan oleh.... ah tentu kau tau bukan?

Seperti pagi ini, ketika ada waktu yang tak banyak aku menyepatkan diri untuk menuliskan keresahanku ini, yang tertulis maka abadi. Begitulah. aku ingin mengabadikannya.





Selasa, 12 Agustus 2014

Cak Wang dan Ingatan yang Menolak Lapuk



Rasanya tidak pernah merasa bosan untuk menceritakan Jember, lebih dalam dan lebih lengkap. Jember tak hanya sekedar kata yang dirangkai dalam dua huruf vokal atau sekedar kota yang berada hampir diujung pulau Jawa. Bukan. Jember lebih dari sekedar bahasa, Jember adalah untaian cerita yang layak diceritakan sebagai pengantar tidur. Jember adalah kesemestaan cerita!





***

 Jember semakin dingin. Kemarau menghembuskan udara dinginnya. Jember semakin sepi ditinggalkan penghuninya, banyak diantaranya yang berebut untuk menikmati ritus suci Idul Fitri. Namun, Jember tetap tidak kehilangan ceritanya. Disudut yang tak terlalu ramai, beberapa penghuni yang tersisa di kota Jember menikmati kemeriahan malam bersama canda tawa, perjumpaaan hangat setelah terpisah, cerita penuh semangat atau sekedar suara lamat-lamat karena bercerita sedikit pribadi. Diantara semua kehangatan itu, ada kepulan asap rokok, asbak yang penuh dengan puntung-puntung rokok dan tentunya sahabat setia dari setiap kehangatan tersebut, Kopi. Yap, kopi adalah bagian dari identitas yang berkembang bak jamur. Hampir setiap sudut kota Jember berdiri warung-warung kopi. Dari mulai yang kelas kaki lima sampai hotel bintang lima. Semua tempat berlomba memberikan sajian kopi terbaiknya. 

Warung kopi telah menjadi rumah kedua bagi pecinta ‘ngopi’. Dari segala golongan, bersatu dalam kebersamaan yang sederhana, menikmati kopi dan ngobrol ngalor-ngidul. Warung kopi telah menjadi identitas baru di Jember. Ruang publik yang menceritakan banyak hal. Tidak ada si Kaya atau si Miskin. Semuanya sama, merujuk pada pemikiran dari Habermas tentang konsep ruang publik yang menekankan bahwa Ruang publik yang bebas dari campur tangan pemerintah dan pasar—di mana semua warga terlibat secara adil dalam perdebatan rasional mengenai kebaikan bersama dalam rangka mencapai konsesus dan tindakan yang demokratis.  

Dalam konsep ruang publik, masyarakat datang ke warung kopi awalnya untuk sekedar menikmati kopi disempurnakan melalui obrolan. Berawal dari obrolan tentang musik, seni lalu beranjak pada obrolan sengit tentang politik atau ekonomi. Semua  terjadi kesetaraan rasional tanpa hierarki. Obrolan-obrolan tersebut tersedia melalui pengamatan, penglihatan pada kondisi lingkungan yang tersebar memalui banyak sarana, media massa, sosial media dan banyak lainnya. Perdebatan, obrolan tersebut melahirkan pemahaman baru, menciptakan kesadaran baru. Warung kopi pada akhirnya bisa menjadi media untuk mengomunikasikan informasi dan juga pandangan. Dalam keadaan masyarakat bertemu dan berdebat akan sesuatu secara kritis maka akan terbentuk apa yang disebut dengan masyarakat madani. Secara sederhana masyarakat madani bisa dipahami sebagai masyarakat yang berbagi minat, tujuan, dan nilai tanpa paksaan—yang dalam teori dipertentangkan dengan konsep negara yang bersifat memaksa.

Memang dalam perkembangannya konsep ruang publik tidak hanya sebatas ruang fisik, namun juga ruang-ruang lainnya sebagai tempat diamana arus informasi berada. Sosial media bisa menjadi salah satu contohnya. Konsep ruang publik dalam bentuk virtual tersebut justru melahirkan esensi yang berbeda dalam konteks komunikasi komunal. Satu sama lain tidak bisa bertemu, tak bisa bertatap muka. Hal inilah yang menurut John Horgan, The End of Science sebagai salah satu bentuk kematian, kematian sosial. Warung kopi sebagai nadi baru yang menghidupakan lagi proses-proses yang kultural cum mengaksikan ini.

****
Kenyataan itu disadari oleh banyak masyarakat khususnya di Jember. Banyak diantara saya dan penggemar warung kopi lainnya akhirnya lebih memilih untuk hahahihi bersama diwarung kopi, bersama kopi dan obrolan-obrolan hangat lainnya. Saya biasa menghabiskan waktu hangat tersebut diwarung Kopi Cak Wang. Warung kopi yang menurut saya lebih epic dari tempat lainnya yang biasa menjadi tempat nongkrong saya. Di Cak wang saya mengenal lebih akrab kawan-kawan, sebut saja Whisnu, Arik, Rizal, Adjie, Ikhsan. Kawan se warung kopi. Dari tempat ini pula, karena obrolan yang begitu bebas akhirnya melahirkan ide-ide liar  yang justru mencipta kreativitas.

Bicara soal warung kopi  Cak wang, ada hal yang istimewa ditempat ini yaitu di Cakwang warung kopi yang buka selama 24 jam dan tujuh hari non stop. Ditempat ini, benar-benar menghadirkan suasana yang bebas, saya bisa berjam-jam disini dengan tanpa tahu malu hanya memesan segelas kopi hanya untuk sekedar membunuh waktu dengan menulis, Wifi-an. Seperti saat saya menulis tulisan ini, saya menulisnya di  Cakwang sejak pagi tadi.

Sungguh, ditempat ini dengan suasana kekeluargaan pegawainya membuat saya benar-benar betah meski menunya pun hanya itu-itu saja. Tidak penting. Saya sangat membutuhkan suasana yang menciptakan kenyamanan. Itu poin pentingnya dari hal lainnya.

Di Cak Wang pula tempatnya luas dan menyediakan jaringan wifi yang cukup bersaing diantara warung kopi atau cafe yang ada di Jember. Alasan-alasan tersebutlah yang membuat saya begitu jatuh hati pada ruang publik yang bernama warung kopi Cak wang. Saya menjadi penggemar warung kopi Cak wang semenjak warung kopi ini berada dilingkungan kampus, tepatnya didalam kampus FISIP. Setahun yang lalu, saya dan tentu para penggemar Warung Kopi Cakwang yang biasa diseput Cak Wang Ranger sempat bersedih karena warung kopi ini terpaksa ditutup karena kontraknya yang sudah habis. Kesedihan itu hanya bertahan selama dua bulan saja sebab tak lama setelah itu Warung Kopi Cak Wang dibuka kembali. Bahkan dibuka di tiga tempat yang berbeda. Namun saya terlanjur jatuh hati pada warung kopi Cak Wang yang berada di jalan Mastrip.  


Namun, romantisme saya bersama Cak Wang  beberapa waktu yang akan datang akan terganggu. Saya tidak bisa lagi ngopi dan berproses kreatif disini karena saya harus beranjak mencari hal yang baru di tempat yang lain. Saya akan bekerja di Jakarta secara otomatis saya pun berpisah dengan Jember, cak wang dan segala ceritanya yang sempat tertulis dengan indah dalam ingatan saya. Huft...

Apa boleh buat. Cerita tentang Cak wang dan warung kopi yang lainnya adalah cerita yang tidak bisa dilenyapkan dari Jember. Warung kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pecinta Jember. Warung kopi telah menjadi nadi baru dalam metamorfosis silaturahmi masyarakat Jember dan warung kopi adalah ruang kelas yang lebih nyaman dari kelas pada waktu kuliah. Warung kopi pun telah menjadi basecamp bagi perubahan-perubahan yang terjadi di Jember. Cerita indah saya tentang warung kopi lahir dari Cakwang.


Sam Arik dan Hal-hal Lain yang Tersembunyi


Foto Songong sebelum Kekalahan Catur dengan Telak dan pantas diingat sampai kapanpun 


Catur adalah biang keladi

Fin, dimana?” Whatsapp saya berdering, pertanda ada pesan masuk. Pesan itu berasal dari salah seorang teman.
aku lagi download film, sam” balasku
ah ga penting. Lebih penting kita main catur dan aku mengalahkan kamu.  Mempermalukan mu didepan penghuni Cakwang” balasnya dengan congkak.
Baiklah, begitu permulaannya kisah ini dimulai. Pesan tadi berasal dari seorang kawan yang bernama Arik. Ia adalah penabuh drum dari band Black Dog, band yang pernah tampil di Cafe Hard Rock, Bali. Band yang beranggotan Dion, Awan dan Arik. Semuanya berkacamata namun sepertinya hanya Dion sang Vokalis saja yang baik dan normal. Lainnya? Silahkan cari tau sendiri.  Arik bertato di lengannnya dan berkacamata yang tak terlalu tebal. Hobinya mendesign logo. Bakat dan hobinya pernah membuat dia hidup dalam keberlimpahan materi. Namun kali ini dia sedang berjuang ulang, benar, bahwa hidup adalah roda yang sedang berputar.

Gayanya khas anak band yang ngerasa sok asik, celana skinny kumel, sepatu sneakers, dan tentu tato sebagai tanda yang menyahihkan ke-anak band-nya. Namun, jangan biarkan fantasi anda berlebihan membayangkan sosok Arik ini. Ia tak seperti penabuh drum lainnya, jangan bayangkan seperi Travis, Eno, atau siapa lagi ya?yang biasanya keren, pendiam dan cool. Tidak. Tatonya tak lebih sebatas tanda lahir yang kebesaran dan ia lebih sering cerobohnya daripada cool-nya, ia lebih banyak dibully nya daripada dipuja-puja dan ia lebih sering kalah main caturnya daripada menangnya.

Arik memang misterius diantara kawan-kawan sekopian lainnya. Ia katanya berasal dari Surabaya namun ia tidak pernah pulang kampung. Sudah dua kali lebaran ia tidak juga pulang. Entah ia berasal dari mana, dari keluarga apa. Mungkin dia berasal dari batu yang terkurung dalam gua terbebas setelah orang baik menolongnya. Ia tetap misterius sampai detik ini saya berteman dengannya.

Saya biasa memanggilnya dengan sebutan sam, jika dibalik jadi Mas. Ngomong-ngomong soal ceroboh, ia adalah ahlinya, ia ceroboh dalam segala hal, termasuk dalam berbicara saja kadang suka salah menyebutnya, sering melipir contohnya: bahasa jawanya kedengaran adalah kerungu namun ia tetap keukeuh menyebutnya keringi, alasannya karena itu bahasa Surabaya. Oke. Baiklah. Kecerobohan lainnya yaitu suatu sore yang ceria, ia pernah datang ke Cak Wang dengan membanggakan dirinya telah menemukan celana denim murah dan berkualitas  yang ia beli di Babebo (Bukan Bukan Bos, semacam baju-baju bekas impor). Namun kami mencurigainya karena celana denim tersebut elastis dan tidak ada sakunya, selidik punya selidik akhirnya celana tersebut merupakan leging celana hamil. Tidak berhenti sampai disitu saja, ia pun pernah salah membeli CD (celana dalam), yang ternyata merupakan lingerie. Ah sial kali cerobohnya.
Tentu banyak sekali kecerobohan yang hendak saya dustakan. Demi menjaga nama baiknya sebagai anak band calon terkenal dan mendunia itu.

Baiklah, cukup rasanya saya memperkenalkan kawan saya yang terkenal absurd dan ceroboh tersebut. Setelah pesan singkatnya tersebut saya meladeni tantangannya, ia terus banyak bicara dan bercakap-cakap seolah ia adalah grandmaster catur kelas wahid yang pasti menang melawan siapapun dalam sekejap. Benar saja, dalam sekejap skor pertandingan sudah 2-0, dua untuk saya.

Ia tidak juga berhenti berceracau dan mencari-cari alasan untuk kekalahannya. Hem, loser memang selalu seperti itu. Bicara soal ceroboh, ia pun menyepatkan diri untuk melakukan kecerobohan ditengah kekalahannya. Ia dengan percaya diri memainkan bidak catur hitam yang pada posisi waktu itu ia bermain untuk bidak berwarna putih. Kejadian tersebut berlangsung beberapa kali. Alamak!

 Arik dalam sisi yang lain
Setelah kekalahan itu, Arik tidak juga bergeming untuk mengakui kelalahan-kekalahan sebelumnya, total sudah 6-2 dia kalah. Pernah suatu ketika, ia menantangku untuk bermain catur ketika aku berada diluar kota. Tentu saja aku menolak namun mulut besarnya tetap juga tidak bisa direm. Sampai  aku pulang, ia juga tak hentinya berceracau  sampai akhirnya aku layani tantangannya. Hasilnya? Tentu tau bukan? ia kalah lagi. Sebelum kekalahan telak itu, diawal pertandingan pertama, ia panik lalu mengatakan “ Ini main dua kali ya?”. Tanda dia insecure. Tidak berlaku pepatah mengatakan “kata-kata adalah senjata”. Di depan Arik, “kata-kata adalah kalah main catur”

Arik tetaplah arik, dibalik ia yang ceroboh, absurd dan kadang freak, ia merupakan kawan yang baik. Pendengar yang baik, penghibur yang garing, pembribik yang sering gagalnya daripada berhasilnya. Tidak, ia adalah kawan yang penyabar, bahkan sangat sabar. Ia percaya bahwa orang sabar berpantat lebar. Oleh karena itu, ia memilih untuk sabar agar pantatnya lebar.

Disisi yang mengenaskan, Arik kawan yang penuh percaya diri, Ia setia pada kawan. Memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, memberikan saran yang baik kepada kawannya yang sedang kekusahan. Sampai saya berpikir, jangan-jangan sikap ceroboh dan anehnya adalah cara dia untuk menghibur kawannya. Ia seperti sosok penebus dosa kawan-kawannya. Arik lebih senang dibully daripada dipuji. Arik lebih senang terlihat konyol daripada terlihat cool. Dengan tampilan yang seperti itu maka ia mampu menjadi warna yang berbeda diantara kawan-kawan yang lainnya. Ia bijak, seperti guru Splinter, Gurunya Kura-kura ninja, ia bijak seperti Splinter, si tikus itu. Artinya ia tikus dong? Bisa jadi.
  
Apapun itu, Arik adalah kawan baik kami. Tanpa ia hidup ini hampa, ia pelengkap yang sengaja Tuhan hadirkan. Ia sungguh pembeda. Oh ya, jika kalian ingin melihat Arik terlihat seperti bintang datanglah ketika Black Dog main. Ketika bermain ia serasa (merasa) seperti laki-laki keren, bersuara berat seperti Christian Bale, pemeran Batman. Berbebadan kekar seperti Dywane Johnson. Tentu para wanita akan mastrubasi ditempat melihat penampilannya yang datang 100 purnama sekali tersebut. Ruar Biasa.
Salam Hangat untuk Sam Arik!!!!


Postscript: Arik merupakan kawan yang baik dan ia sedang berjuang untuk mengembalikan mimpi besarnya dan hidup untuk mimpinya. Ia rela keluar kerja karena ia mengimani Passion hidupnya, ngeband dan cari uang dari design! Selamat berjuang kawan