Remang mentari
menghantarkan langkah pada rindu yang berkerut. Disebuah stasiun tua tempat
peluit terakhir menghantarkan perjalanan yang memisahkan diri. Ada rindu yang
katanya milik jarak, namun juga waktu yang ikut mengambil alih.
Kereta masih satu jam
lagi akan berangkat. Namun rinai air mata tak bisa ditahankan, ada saja alasan
untuk menetes, katanya dengan nada manjanya.
“kenapa waktu berjalan
begitu cepat?” padahal kita belum sempat berkeliling Surabaya” keluhnya.
Sepanjang perjalanan dari rumahnya ke stasiun ia terus memegangi tangan ini, tak ingin lepas. Sesekali tatapannya memelas sambil berkata.
Sepanjang perjalanan dari rumahnya ke stasiun ia terus memegangi tangan ini, tak ingin lepas. Sesekali tatapannya memelas sambil berkata.
“sudahlah jangan pergi.
Di Surabaya saja, kamu bisa mencari hal-hal baru disini” rayunya sambil
berlinang air mata.
Perjumpaan memang
dilengkapi oleh perpisahan, perpisahan sejenak tepatnya. Entah kepergian
keberapa? Saya tak hafal betul. Pastinya yang dinanti adalah setiap kepulangan
yang meluluhkan rindu.
Stasiun selalu tampak
romantis meski tak perlu perpisahan yang melankolia karena tak ada lari kecil
mengejar kereta, tak ada ciuman panjang khas prajurit sebelum berangkat perang.
Kebijakan PT KAI telah meluluhkan ritus klise itu. Cukup lambaian tangan dan
berdiri mematung sambil mengigit bibir agar
rintih air mata tak terlalu membasahi.
Surabaya sore itu,
setelah bersama selama sebualan terakhir akhirnya membawa pada ujung perjumpaan
yang baru. Saya harus kembali mencari nafas, ke Jakarta. Sedangkan ia harus
kembali beraktifitas menjadi mahasiswa akhir. Kebersamaan itu melahirkan banyak cerita itu
belumlah tunai namun harus terhenti sejenak.
Tepat pukul 19.00,
selepas lokomotif menjemput penumpang, saya bergegas mempersiapkan diri. Ia semakin mematung tanpa kata sepatah kata
pun, stasiun telah membisukan mulutnya. Sekedar berkata hati-hati atau kecup
perjalanan tak ada yang ia lakukan. Mungkin kalut perpisahan membuat ia lebih
banyak menahan dirinya. Berada dalam kubangan penantian, mencari ruang untuk merebahkan kelunya.
Saya masuk dalam
gerbong dan lambaian tangan menjadi pengantar perjalanan sore itu, romantika
perpisahan dicukupkan dalam sederhana lambai lembut dan linangan air mata yang
tak tertahankan. Kereta bergerak perlahan-lahan, di stasiun Gubeng yang nampak
layu, rindu itu menjadi muram, meminta dipertemukan sang empunya kembali.
Jaga diri baik-baik,
Perempuanku.
Surabaya, 8 April 2015







0 komentar:
Posting Komentar