Jumat, 10 April 2015

Di Remang Mentari Berlinang Rindu


Istimewa

Remang mentari menghantarkan langkah pada rindu yang berkerut. Disebuah stasiun tua tempat peluit terakhir menghantarkan perjalanan yang memisahkan diri. Ada rindu yang katanya milik jarak, namun juga waktu yang ikut mengambil alih.
Kereta masih satu jam lagi akan berangkat. Namun rinai air mata tak bisa ditahankan, ada saja alasan untuk menetes, katanya dengan nada manjanya.

“kenapa waktu berjalan begitu cepat?” padahal kita belum sempat berkeliling Surabaya” keluhnya.
 Sepanjang perjalanan dari rumahnya ke stasiun ia terus memegangi tangan ini, tak ingin lepas. Sesekali tatapannya memelas sambil berkata.
“sudahlah jangan pergi. Di Surabaya saja, kamu bisa mencari hal-hal baru disini” rayunya sambil berlinang air mata.

Perjumpaan memang dilengkapi oleh perpisahan, perpisahan sejenak tepatnya. Entah kepergian keberapa? Saya tak hafal betul. Pastinya yang dinanti adalah setiap kepulangan yang meluluhkan rindu. 

Stasiun selalu tampak romantis meski tak perlu perpisahan yang melankolia karena tak ada lari kecil mengejar kereta, tak ada ciuman panjang khas prajurit sebelum berangkat perang. Kebijakan PT KAI telah meluluhkan ritus klise itu. Cukup lambaian tangan dan berdiri mematung sambil mengigit  bibir agar rintih air mata tak terlalu membasahi.
Surabaya sore itu, setelah bersama selama sebualan terakhir akhirnya membawa pada ujung perjumpaan yang baru. Saya harus kembali mencari nafas, ke Jakarta. Sedangkan ia harus kembali beraktifitas menjadi mahasiswa akhir.  Kebersamaan itu melahirkan banyak cerita itu belumlah tunai namun harus terhenti sejenak. 

Tepat pukul 19.00, selepas lokomotif menjemput penumpang, saya bergegas mempersiapkan diri.  Ia semakin mematung tanpa kata sepatah kata pun, stasiun telah membisukan mulutnya. Sekedar berkata hati-hati atau kecup perjalanan tak ada yang ia lakukan. Mungkin kalut perpisahan membuat ia lebih banyak menahan dirinya. Berada dalam kubangan penantian, mencari ruang untuk merebahkan kelunya.
Saya masuk dalam gerbong dan lambaian tangan menjadi pengantar perjalanan sore itu, romantika perpisahan dicukupkan dalam sederhana lambai lembut dan linangan air mata yang tak tertahankan. Kereta bergerak perlahan-lahan, di stasiun Gubeng yang nampak layu, rindu itu menjadi muram, meminta dipertemukan sang empunya kembali.
Jaga diri baik-baik, Perempuanku.

Surabaya, 8 April 2015

0 komentar:

Posting Komentar