Jumat, 29 Maret 2013

Kemungkinan Sekarang adalah Memperbesar Kemungkinan

“Kemana aku harus bertanya? Seolah pertanyaan ku membentur dinding-dinging kebebalan, dihadang oleh kemalasan dan diacuhkan oleh ketidak pedulian. Harus berapa kali aku berceracau, memaki  atau bahkan memberi sanjungan setinggi langit untuk kawan-kawanku itu tetapi mereka terlampau membatu untuk sekedar bisa dikata “sadar” dan Loyal”. Itu tadi gumamku yang berpadu dengan amarah dan kesedihan. Baru saja, sebelum Jumatan, seorang kawan datang ke kostku bercerita soal masa-masa suram di Komisariat GmnI. Obrolannya seolah membukan ingatanku akan kemuntaban yang terhatankan. Dan sekarang waktunya untuk melampiaskan segala yang menyesakan dada.
Beberapa waktu lalu, aku menyempatkan diri untuk sekedar bermain-main kesana. Ya, lebih tepatnya membunuh waktu luangku dan ingin mengobrol dengan kawan-kawan “seperjuanganku” (istilah ini sedikit lebay memang:P) dulu, tentu datang kesana dengan harapan agar bisa bertemu wajah-wajah baru yang lebih segar daripada wajah-wajah lama yang ‘memuakan’, sebut saja Wawan, Indra, Reza atau orang-orang langka yang seharusnya diawetkan di museum sebut saja Udin atau Hendri. Naas memang, aku tak menemukannya hanya cengar cengir Wawan, ketambunan Indra dan ceplas-ceplosnya Reza. Huhft, kita hanya bisa bernostalgia saja kalau seperti ini, tidak lebih karena tak etis rasanya menanyakan kondisi (gerakan) komisariat ke mereka sebab mereka sudah satu tahun ini menjadi demisioner dan tentu pengurus yang lebih berhak menjelaskan semua keingin tahuanku.
“Kemana pengurus yang lain wan?” tanyaku pada Wawan.
“emboh vin, onok sibuk semua” jawabnya seolah biasa, ia begitu datar menjawabnya. Berbeda denganku yang aneh mendengarnya.
“lhoh kok iso sibuk ga jelas ngono wan?” tanyaku semakin ingin tahu.
“lha kui, aku dewe ga habis pikir, mungkin mereka sedang dalam proses mencari diri paling” Wawan berseloroh.
Waktu itu kebutulan aku bawa sebotol “Bintang” dan kami menikmatinya sampai tetes terakhir. Lalu aku pulang begitu saja denga kekecewaan, pikirku aku bisa berdiskusi panjang lebar sampai pagi seperti dulu sambil menyelipkan kata-kata sarkas agar agumentasi kita lebih bernas tetapi sayang kejidian itu hanya kisah klasik dimasa lampau tidak ada kisah ulangannya dimasa pengurusan sekarang.  Siapa yang salah? Ah sudahlah, tanganku menunjuk hidungku karena aku gagal menjadi Korlap dan lebih memilih meninggalkan kegiatan harian di GmnI untuk lebih berkonsentrasi di organisasi lain. Aku rasa itu lebih baik dari pada saling tunjuk dan tidak menyelsaikan masalah.
Beberapa hari kemudian aku datang kembali ke Komisariat tentu dengan harapan yang tak jauh beda seperti beberapa waktu sebelumnya. “aku ingin bertemu dengan kader-kader baru yang bertaji. Membicarakan Idelogi sampai berbusa-busa dan membaca banyak buku”. Sial, kali harapanku di tundukan oleh keadaan yang lebih parah, Komisariat sepi tak ada orang. Tak ubahnya kontrakan yang ditinggal penghuninya ketika  mudik lebaran. Ilalang tumbuh liar, koran-koran berhamburan acak-acakan seolah baru saja disantroni maling. Meteran listrik berbunyi karena pulsanya sudah mulai habis. Huft, tragis memang. Rasanya malu kalau terus kosong seperti ini. Dengan sedikit iseng dan satire, aku membalikan dan melepaskan semua logo-logo GmnI yang terpasang. Ya, apa yang kulakukan sebagai simbol saja kalau kita benar-benar memalukan karena memfungsikan komisariat yang dulu dianggap sebagai sentral gerakan kini hanya sebatas kontrakan untuk tidur dan ngerumpi atau mabuk lah.
Jaman Sudah berganti
setelah melihat komisarit yang sunyi, aku sms Deni, Komisaris komisariat Hukum. “Den, dimana?”
“aku di DPRD mas, lagi ngopi dengan mas Reza”jawabnya cepat
“kader-kader yang lain kemana aja?”tanyaku
“Andik ke Kediri mas, Haykal ada bapaknya, Hisyam ke Tanggul, Ocha ada adiknya, Budi sibuk resepsi, dan kader lainnya pulang kerumah masing-masing”jawabnya
“Huhft, bersabarlah, Den. Jadi pemimpin memang akan merasakan kesepian. Tetap semangat kawan muda” kataku
Kasian sekali Deni, ditinggal kader dan pengurusnya. Pantas saja GmnI komisariat Hukum yang pada tahun 2009 sampai 2011 begitu garang, kini tak ubahnya seperti paguyuban yang menampung orang-orang sakit karena mencoba sadar akan ketidak sadarannya tetapi tidak melakukan apapun.  Kawan-kawan yang lebih aktif sekarang lebih senang untuk memilih pacaran sambil beralasan “sek mas, aku nganterin dulu” padahal berkeliling kota suka riang atau bergalau ria di jejaring sosial dengan lirik-lirik sendu Keris Patih, Jancuklah. Ada pula yang sok mempunyai prinsip dengan begitu keras dan sok sangar tetapi hatinya rapuh dan lapuk. Diberi masukan sedikit saja langsung sakit hati dan reaksioner. Ada pula yang sukanya hilang menghilang dengan mengatas namakan alasan-alasan yang tak bisa dibantah tetapi malah sibuk dengan hal-hal yang gj (gak jelas) buktinya “aku tidur mas di kontrakan temen”, asulah, hidup kok cuman untuk tidur. Ada pula yang hobinya pinjem buku tetapi dibaca Cuma dua lembar langsung merasa sok paling tahu dengan mengajari kader-kader dibawahnya sambil petantang petenteng “kalian itu harus suka baca” sembari mengeluarkan buku yang itu-itu saja dan halaman yang dibaca itu-itu saja pula. Berbagai macam ‘varietas’ manusia yang bergumul di ruang absurd itu.
Hal semacam itu hanyalah ketidakmampuan kita mencari apa yang ada di organsisasi ini, dimanapun organisasinya ketika kita selalu mencoba untuk menghindar maka jadinya hanyalah menjadi kader-kader yang lebih memilih mengundurkan diri sebut saja Citra dan Firda. Mereka adalah orang-orang disorentasi yang tak bisa ejakulasi sehingga pusing dan stres, kasian!
Mungkin ini generasi yang berbeda dengan generasi yang dulu. Rasanya sudah banyak kata yang terucap dari kawan-kawan demisioner, dari mulai memberi saran, mengajak untuk bergerak bersama, bahkan mengadakan kegiatan sendiri yang diatur semuanya oleh kawan-kawan demisioner tetapi itu kurang memberi arti apapun dan merubah keadaan. Para pengurus harian Komisariat tetap bebal dan membatu malah sibuk dengan aktivitas privatnya. Rasanya  sangat sulit berkorban untuk kepentingan komunal sehingga menjadi individualis-individualis dalam ruang komunal, buktinya ketika ada masalah lebih baik lari seperti Cherry Belle yang lagi “ngambek”, holyshit.
Sampai hal yang sangat parah, setidaknya bagiku terkait dengan pembayaran uang kontrakan. Dimana kawan-kawan yang seharusnya memiliki tanggung jawab, justru lelet dalam bertindak sehingga para demisioner yang sibuk “mengemis kesana kemari” untuk menutupi dana yang kurang. Haduh lalu timbul pertanyaan? Siapa yang pengurus dan siapa yang demisioner? Sebenernya semua itu tak jadi soal tetapi pertanyaanya lagi, dimana kepekaan kawan-kawan pengurus? Meski pada akhirnya ikut bergerak.
Ketika ditanya tentang permasalahan yang ada, banyak diantara mereka yang menjawab dengan alasan yagn seragam “aku binggung mas harus ngapain?”. What The Fuck. Binggung kok terus-terusan, akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan selain bergulat dengan kebingungan itu sendiri. Kawan-kawan pengurus tidak ingin mencoba dan senantiasa merendahkan diri sendiri dengan kebingungan itu. Mereka beralibi kenapa kita selalu disalahkan tanpa pernah berkaca “apa yang pernah kita lakukan?” seolah-olah menyalahkannya kawan-kawan demisioner hanyalah cuap-cuap yang menjatuhkan tanpa maksud untuk saling membangun. Kalau pola pikir itu masih ada sepertinya kawan-kawan pengurus perlu menyelsaikannya di tataran diri sendiri dulu karena terlalu banyak memainkan unsur subjektifitas. Perlu kita ketahui bahwa, organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang bersatu dalam wadah yang teratur dan terorganisir, dimana permasalahan-permasalahan yang ada di jawab secara komunal atau bersama-sama, dalam proses dialektika itu tidak selamanya harus dengan sanjungan atau kelembutan. Ketika kebebalan lebih dominan adakalanya dengan caci maki agar kita lebih bermental dan mengendurkan urat-urat kaku penyebab bebal. Sejutu?
Ayolah, bukan waktunya terus kawan-kawan itu seperti anak burung elang yang terus diberi makan oleh induknya. Kawan-kawan sudah waktunya menjadi elang yang ganas dan siap bertempur. Ingat? Banyak permasalahan yang perlu dikaji dan perlu kesensitifan gerakan organisasi ini, TURBA itu indah loh. GmnI bukan sebatas organisasi yang bisanya beronani wacana dalam diskursus-dikursus mengawang. Kita perlu membumi, berjabat erat dengan ketertindasan, beromatika dalam terik yang penuh peluh, bercumbu dengan orasi-orasi pembebasan, berkasih-kasih ria dalam debat panjang revolusi sosialis Indonesia atau bergandengan tangan dalam kerjaran polisi. Kita harus mengingat kembali pada sejarah masa lampau, dimana generasi-generasi terdahulu kita dengan segala keterbatasannya masih bisa meneriakan “Merdeka” untuk merobohkan tiran. Kita masih ingat bukan, ketika perlawanan GmnI pada kasus tanah Sukorejo di balas oleh peluru-peluru yang dibeli dari uang rakyat atau kita masih ingat bukan ketika pendahulu kita tetap tegar berbicara pembebasan meski kepalanya ditodongkan  senapan di KODIM sana atau kita masih ingat tidak ketika kawan-kawan GmnI mencoba merebut RRI lalu dibalas oleh pentungan dari pasukan berkendaraan Trail atau apakah kita masih ingat turun kejalan sampai dini hari ketika penolakan kenaikan BBM, masih ingatkah tidak dengan aksi penolakan Widodo sebagai Dekan? Ketika kita masih mengingat jelas cerita itu, entah karena mengalami langsung atau cerita titipan masa lalu, setidaknya kita sadar bahwa sejarah harus menginspirasi kita untuk lebih baik. Ketika dalam ruang onani wacana kita selalu bilang “Bung Karno selalu bialng Jangan Melupakan Sejarah (JAS MERAH)” seharusnya kita paham dan kita sadar kalau sejarah harus menginspirasi kita, generasi GmnI diera dimana Fakultas Hukum akan diadakan program ke Notariatan.
Janganlah Mengeluh
Mengeluh terus akan membuat kita menjadi kader-kader yang penakut dan memalukan karena orang dihargai karena usahanya sedangkan ketakutan membuat kita menjadi kerdil dan tak berarti digilas oleh perubahan, mati karena takut mencoba. Kawan-kawan terlalu banyak mengeluh tanpa pernah mencoba nikmatnya ber RODINDA dalam proses. Kekalutan, kegundahan, dan ketakutan kita dihari ini akan menjadi semacam kisah manis ketika kita bisa melampui masa-masa berproses ini. Tentu pada akhirnya kita akan menjadi kader-kader yang bermental lebih baik di waktu yang sudah menunggu nanti.
Kita bukan bagian dari generasi gagal yang dicatat dalam sejarah kelam GmnI sekelam ketika pada tahun 1981, GmnI harus di pecah menjadi dua. Bukan, bukan kita bukan dari bagian kekelaman itu, kawan.
Sejak pertama kali kita “digodok” di kawah candradimuka Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, di Sempolan maka sejak saat itulah kita akan terlahir sebagai generasi pejuang pemikir-pemikir pejuang. Dimana ketakutan hanyalah omong kosong untuk menidurkan bayi ketika susah tidur. Orang-orang seperti kita tidak layak mati di tempat tidur!!!!
Merdeka!!!!

Kamis, 28 Maret 2013

Cerita Dari Rakyat Sidomulyo

Awalan
Suasana hijau pohon Pinus dan segarnya udara pegunungan begitu terasa ketika akan memasuki wilayah desa Sidomulyo. Pintu masuk menuju desa ini berada di sisi jalan antara Jember dan Banyuwangi, tepatnya di daerah Ngarahan. Dimana daerah itu berada di kaki gunung Gumitir. Sidomulyo yang merupakan bagian dari wilayah kecamatan Silo, Jember terkenal sebagai salah satu sentra penghasil  kopi di Kabupaten Jember.  Desa ini terletak pada ketinggian 560 m dari permukaan laut, sehingga sangat cocok untuk ditanami kopi khususnya varietas kopi Robusta. Pada saat ini sebaran luas areal kopi rakyat di kecamatan Silo kisaran (2.192,23 ha).



Setelah memasuki desa Sidomulyo, saya merasakan aroma sangaraian kopi sehingga semakin menyahihkan kalau desa ini sebagai penghasil kopi. Kopi yang menjadi komoditas utama desa itu dikelola bukan oleh perusahan baik itu PT Perkebunan Nusantara atau Perusahan Daerah Perkebunan tetapi oleh masyarakat desa itu sendiri. Kopi rakyat, begitu para penduduk desa menyebutnya. Sebutan kopi rakyat merupakan pengusahaan kopi yang dilakukan oleh rakyat, artinya masyarakat setempat yang mengusahakan industri kopi dari daerah Sidomulyo.


Kopi rakyat ini sudah diusahakan sejak jaman Belanda. Kopi rakyat di desa Sidomulyo merupakan akibat dari adanya Perusahan Perkebunan Besar milik Pemerintah Belanda. Pada waktu itu para pekerja perkebunan mencoba menanam kopi di lahan-lahan milik pribadi yang berada di sekitar lokasi Perusahan Perkebunan Besar milik Belanda. kebiasaan itu berlangsung lama bahkan sampai pada hari ini sehingga menciptakan kemandirian pada masyarakat untuk mengelola kopinya sendiri bagi kepentingannya sendiri.
Pembinaan dan Pengembagan kopi rakyat oleh Pemerintah dimulai sejak tahhun 1980 an yaitu melalui Program Pemerintah Pusat yang disebut dengan Proyek Rehabilitasi dan Tanaman Ekspor (PRTE), dengan adanya program ini perkembangan areal kopi rakyat meningkat begitu pesat. Perkembangan itu mengingkatkan geliat ekonomi masyarkat sehingga kopi dapat dijadikan penompang ekonomi masyarakat.


Koperasi sebagai wadah perjuangan

Koperasi Kopi merupakan tujuan utama saya pada waktu itu. Koperasi Kopi di Desa Sidomulyo merupakan salah satu simbol dari kebangkitan masyarakat dan menjadikan kopi sebagai senjata utamanya. Pada awalnya kopi rakyat yang berada di Desa Sidomulyo diusahakan oleh individu-individu tetapi hasil panen tidak mampu menghasilkan hasil yang maksimal karena tidak hanya kurangnya informasi dan pengembangan, selain itu juga atas dasar keterdesakan ekonomi, banyak masyarkat yang tidak dapat memaksimalkan harga jual kopi karena kopi dipetik pada waktu masih hijau. Maka atas dasar itulah di Desa Sidomulyo dibentuklah Koperasi pada tahun 2007.

Koperasi ini bertujuan untuk memfasilitasi para petani kopi baik bagi mereka yang menjadi anggota koperasi ataupun yang bukan menjadi anggota Koperasi. Keberadaan Koperasi kopi itu menambah geliat pertumbuhan ekonomi desa Sidomulyo. “koperasi tidak saja sebatas sebagai wadah untuk tujuan ekonomi tetapi masyarkat diajak untuk belajar bersama, saling menguatkan dalam kerja-kerja kolektif kolegial, dimana hasilnya pun dapat maksimal bagi kesejahtraan masyakatat” tambah Pak Joko Suyono, salah satu dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Jember yang menjadi pendamping di desa Sidomulyo. Sedangkan menurut penjelasan ketua Koperasi Buah Ketakiasi, pak  Swarno kalau produksi kopi di desa Sidomulyo yang dikelola oleh Koperasi sekitar 600 ton dengan rata-rata tiap anggota 1 ton per tahun. Harga jualnya pun cukup tinggi sekitar 25000 per liter karena nilai tambah dari kopi dari Sidomulyo proses pengelolaanya yang berbeda.

Keberhasilan masyarakat desa mengelola kopi secara mandiri itu berhasil menarik minat berbagai pihak untuk berkerja sama, salah satunya adalah perusahan  eksportir kopi yang membeli kopi hasil olahan kering masyarakat Sidomulyo. Selain itu untuk terus meningkatkan kualitas kopi dan kualitas sumber daya manusianya, desa Sidomulyo bekerja sama dengan Universitas Jember dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Hasilnya adalah pabrik pengelolaan basah. Konsep dasar dari metode pengelolaan basah kopi yaitu penghilangan lapisan lendir dari buah. Senyawa gula yang terkandung di dalam lendir mempunyai sifat menyerap air dari lingkungan (higroskopis). Permukaan biji kopi cenderung lembab sehingga menghalangi proses pengeringan. Senyawa gula merupakan media tumbuh bakteri yang sangat baik sehingga dapat merusak mutu biji kopi.

Pengelolaan dan manajemen yang baik berdampak pada peningkatan kualitas ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat Desa Sidomulyo. “Sebelum kopi dikelola secara maksimal banyak penduduk desa yang bekerja keluar desa tetapi sekarang masyarakat desa sini bekerja disini” kata pak Suryadi, salah satu pengurus koperasi. Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu Bank Indonesia melalui program CSR (Cost Responsibelity) membangun saluran air bersih bagi masyarakat desa Sidomulyo. Selain itu kualitas pendidikan masyarakat Sidomulyo pun mengingkat. Hal ini dipertegas dengan pernyataan salah seorang pengurus koperasi “sekarang penduduk desa sini tidak hanya sampai SMA tetapi bisa sampai kuliah juga. Kesadaran akan arti penting pendidikan mulai tumbuh sejak kopi di desa Sidomulyo mulai dikembangkan dengan maksimal” kata pak Suryadi menunjukan kalau pengelolaan kopi rakyat berhasil memperbaiki kesejahtraan dan kesadaran sosial masyarakat.

Dampak pengelolaan Kopi Rakyat
Hal yang menarik yang saya tangkap dari pengelolaan kopi rakyat di desa Sidomulyo yaitu tidak adanya sistem mandor atau pola-pola yang biasa ad di perkebunan-perkebunan yang bukan dikelola oleh rakyat. Sehingga pola yang tercipta sangat kekeluargaan salah satu bentuknya setiap tahun penduduk desa bergotong royong untuk bergiliran membersihkan kebun milik sesama petani. Kegiatan itu dilakukan oleh seluruh penduduk desa sehingga suasana gotong royongnya begitu kental terasa. Selain itu kebiasaan masyarakat untuk bergotong royong juga terlihat ketika salah satu warga desa ada yang membangun rumah maka dengan serempak warga desa yang lain membantu untuk menyelsaikan rumah tersebut. Mereka melakukan itu dengan sukarela.

Ketika saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa pengurus koperasi, salah satu pengurus koperasi menunjukan hasil olahan kopi bubuk yang diproduksi oleh koperasi. Koperasi Kopi telah berhasil mengembangkan produknya tidak hanya sebatas biji kopi tetapi sampai pada bubuk dan siap konsumsi. Produksi bubuk kopi itu dilakukan di desa Sidomulyo juga, dimana pada awalnya didampingi oleh dosen dan Mahasiswa dari fakultas Pertanian Universitas Jember. Kopi bubuk desa Sidomulyo pada bulan Agustus 2010 berhasil memperoleh penghargaan sebagai kemasan kopi terbaik tingkat Nasional di Bali.
Pengelolaan kopi oleh masyarakat atau bahasa lainnya kopi rakyat ternyata jika dikelola secara tepat mampu mengahasilkan kualitas kopi yang tak kalah baiknya dengan kopi yang dikelola oleh PT PN atau PDP. Justru PT PN seringkali meminta pasokan tambahan kopi pada desa Sidomulyo apabila produksi PT PN tidak mencukupi permintaan pasar.

Kalau saya melihat, pengelolaan kopi oleh masyarakat sebenarnya sesuai dengan pemikiran besar Bung Karno soal BERDIKARI dibidang ekonomi. Masyarakat mampu memberbaiki kualiatas hidupnya oleh usaha yang dilakukan secara mandiri, meskipun, terkait dengan pengelolaan kopi di desa Sidomulyo saya masih belum bisa mengatakan kalau mereka mengelolanya benar-benar secara mandiri karena masih ada bantuan dari berbagai pihak untuk memandirikan masyarkat Sidomulyo agar mampu memberdayakan potensi baik itu potensi alam atau potensi SDM yang ada didesa itu sendiri tetapi usaha untuk menjadikan masyarakat mengusahakan penghidupannya secara mandiri adalah suatu bentuk tindakan yang cukup menarik untuk dicontoh. Satu hal yang tak bisa saya elakan dan menarik perhatian saya setelah mengobrol panjang dengan beberapa pengurus Koperasi dan warga desa Sidomulyo yaitu semangat mereka untuk berkembang dan mengembangkan diri.
Obrolan panjang saya dengan beberapa pengurus koperasi di akhiri dengan seruputan kopi Sidomulyo yang semakin menambah kehangatan dari pengurus koperasi.




.

.

Senin, 18 Maret 2013

Inter Milan dan Kesederhanaan Zanetti






Terlalu banyak idola di dunia ini, terlalu banyak pula yang berprestasi tetapi, rasanya hanya satu yang benar-benar aku kagumi. Bukan soal keberhasilannya membawa banyak piala atau memasukan banyak gol ke gawang lawan. Tidak, itu terlalu sempit bagiku untuk mengagumi sepak bola, meskipun alasan tadi memang rasional. Setiap orang pasti mempunyai idolanya, apapun itu. Tidak terkecuali dalam hal sepak bola.
Adalah soal kecintaanku pada Internazionale Milano, klub Sepak Bola yang saat ini dan selamanya berkecimpung dikancah tertinggi sepak Bola Italia, Serie-A.  Klub ini menjadi satu-satunya yang belum pernah turun kasta ke divisi yang lebih rendah dari Serie-A. Sekali lagi, bukan itu alasanku mengangumi klub yang berkostum Biru-Hitam ini.

Aku tidak tidak terlalu ingat dengan persis tapi sekitar tahun 1998 pada waktu itu aku masih kelas 2 SD. ketika itu tetangga sebelah rumahku, kalau tidak salah namanya Dika, aku biasa memanggil aa Dika. Ia lebih tua 5 tahun dariku, ia sering kali menggunakan kaos sepak bola, kostum Inter Milan dengan nama Ronaldo di punggungnya. Pada waktu itu aku tidak tahu sepak bola di Eropa sana, yang aku tahu hanya sekedar bermain bola, posisiku waktu itu sebagai kiper. Tidak tahu siapa itu Ronaldo, apa itu Inter Milan atau Juven*us, atau A* Milan. Benar-benar tidak tahu.
Tiba-tiba saja, aku minta ke mamah untuk membelikan kostum sepak bola yang sama seperti Aa Dika. Ingat sekali aku waktu itu, hari itu juga mamahku sore-sore setelah Sholat Asyar pergi untuk membelikan kostum berwarna Biru Hitam itu dan bernomor punggung 9. Keren sekali rasanya, meski aku masih belum tahu kostum klub apa yang aku pakai, hanya atas dasar ikut-ikutan saja.


Beberapa hari kemudian, kalau tidak salah hari Jum’at dini hari, aku tak sengaja menghidupkan TV kebetulan sekali pada waktu itu final Piala UEFA yang kini bergani nama Liga Eropa, antara Internazionale Milan dan Parma, kalau tidak salah Inter Milan menang 3-0 pada waktu itu. Wow, itu momen yang sulit dilupakan olehku. Maka sejak hari itu, aku benar-benar mulai belajar mengenal lebih jauh klub idola pertamaku itu. Aku sering mencari berita tentang Inter Milan, dulu masih belum ada internet, informasi yang ada hanya melalui Tabloid BOLA dan GO, itupun aku tidak bisa beli sendiri karena uang jajanku harus aku kumpulan 4hari untuk bisa beli Tabloid olahraga itu, kalau tidak salah harga Tabloid BOLA masih Rp.4000 dan GO Rp 3500, aku samar-samar mengingatnya.
Kecintaanku semakin bertambah bak orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, hampir setiap akhir pekan ketika pertandingan Inter Milan ditayangkan di stasiun TV aku selalu bangun di dini hari. Kebiasaan baruku itu membuat mamah dan ayahku bertanya-tanya, sebab kadang aku teriak-teriak sendiri di kamar karena gregetan bola yang ditendang tidak masuk, sampai akhirnya mamahku tahu dan memarahiku karena berteriak-teriak sendiri. Aku tak patah arang, ketika mamah menyuruh mematikan TV, aku mematikannya tetapi aku hidupkan kembali setelah mamah masuk pergi dari kamark, kali ini suaranya aku kecilkan dan kamarku aku kunci rapat-rapat agar teriakanku tidak terdengar dengan jelas.well. berhasil. Aku mulai menjadi menggandrungi sepak bola dan tentunya Inter Milan, hampir tiap 3 bulan sekali sepatuku rusak karena setiap kali pulang sekolah aku menyempatkan bermain sepak bola dulu dilapangan sebelah SD ku, waktu itu posisiku masih menjadi kiper. Kebiasaanku itu membuat Mamahku gusar karena hampir setiap hari Mamah mencuci bajuku, karena basah oleh peluh. Nakal sekali memang aku pada waktu itu.

Sampailah pada momen lainnya yang juga tak bisa kulupakan, sampai-sampai aku masih ingat tanggalnya. Tanggal 24 Maret 2002,  ketika itu Inter Milan tanding melawan AS Roma di Guesepe Meazza. Inter Milan menang 3-1 melawan Roma, pada waktu itu 2 gol Alvaro Recoba dan 1 gol Christian Vieri membenamkan As Roma dan mengagalkan AS Roma untuk mempertahankan Scudetto. Aku masih cukup ingat, gol itu tendangan bebas yang begitu cantik dari  Alvaro Recoba pada menit 71  menjadi golnya yang ke 5 pada 12 laga yang telah ia lakoni pada musim itu. AS Roma pada waktu itu masih diperkuat bek tangguh Christian Panucci, Montella, Delvenchio, Cafu, kiper Antonioli dan jangkar asal Prancis yang dikartu merah karena memukul Alvaro Recoba Jonathan Zebina. Sedangkan Inter Milan masih ditangani oleh Hector Raul Cuper, allenatoer berambut putih yang mendapat julukan Mr. Runner-up, sedangkan Stikernya sudah di isi oleh pemain termahal Italian, Christian “BoBo” Vieri, sergio Concencao,stephane Dalmat, Ivan Cordoba, Clerence Serdorf dll. Sungguh luar biasa malam itu, aku bebas berteriak-teriak karena Ayah dan adik-adikku ikut menonton juga. Alvaro Recoba jelas menjadi man of the match tetapi perhatianku justru tertarik pada sosok kapten berambut belah samping ala Giancito Faccheti, yang juga mantan kapten Inter Milan yang kemudian menjadi presiden tetapi meninggal pada tahun 2004. Sosok itu bernama Javier Zanetti, pemain yang berposisi sebagai full back ini baru saja 3 tahun mengenakan ban kapten sejak tanggal 29 August 1999, mengantikan Gueseppe Bergomi yang baru saja pensiun.

Idola baru

Pada waktu itu ia adalah sosok bek yang tangguh, berlari dengan cepat, cekatan menghalau serangan lawan, membuat frustasi pada penyerang lawan, dan cepat dalam menyerang. Pemain Argentina itulah yang menjadi sosok legenda hidup Inter Milan pada hari ini. Kini ia telah melakoni laga yang ke-600 bersama Inter Milan, sungguh rekor yang luar biasa setara dengan Paolo Maldini legenda Ac Milan, sampai-sampai tentangga sebelah itu harus mengistirahkan nomer punggung 3.
Pemain yang bernama lengkap Javier Adelmar Zanetti sebelumnya pernah bermain untuk klub lainnya di Argentina, Banfield dan Talleres, sebelum ia pindah ke Italia untuk merintis kariernya sebagai seorang legenda.


Pemain yang pernah mendapat kartu pertamanya di Serie-A pada laga kontra Udinese pada tanggal 2011 kemarin juga terlibat dalam beberapa misi sosial salah satunya kedekatannya dengan kelompok pemberontak Zapatista. Ia sungguh pemain sepak Bola teladan baik didalam lapangan dan diluar lapangan. Rasanya tak pernah aku mendengar Zanetti berkeliaran ditengah malam, keluar masuk club malam atau bergonta ganti pasangan.
Kata Zanetti
“Saat kau memutuskan untuk hidup sebagai pesepakbola, kau harus mampu menjadi seorang pesepakbola berkelas. Pesepakbola yang mengutamakan prestasi dan behavior dibandingkan sensasi, karena sadar atau tidak sadar, dunia sedang melihatmu. Mungkin kau bukan seorang pesepakbola, tapi belajarlah pada Maldini yang tidak pernah tertangkap media menghabiskan malam-malamnya dengan berpindah dari satu klub malam ke klub malam lain atau Inzaghi yang mengisi waktu luangnya dengan menonton rekaman pertandingan Serie C atau mungkin si garang Gattuso, yang selalu hadir di tempat latihan empat puluh lima menit sebelum latihan dimulai”

Dari kecintaanku pada Inter Milan dan kekagumanku pada sosok Zanetti, aku sadar bahwa sepak bola memang tidak sekedar kalah atau menang. Bukan seberapa banyak mengalahkan atau dikalahkan meski semuanya faktor-faktor yang mempengaruhi kecintaan dan kekaguman. Rasanya penggemar sejati Juventus tidak akan bergeming untuk beralih klub lainnya meski Juventus harus terdegradasi ke Serie-B dimana Inter Milan belum pernah merasakan atau seorang tifosi tidak akan  membiarkan klub kesayangannya bangkrut sehingga mereka bahu membahu mengumpulkan dana untuk membeli saham klub kesayangannya, hal itu pernah dilakukan oleh tifosi dari klub besar macam Barcelona dan Real Madrid. Hal itu dilakukan agar klub kesayangannya tidak sampai runtuh karena krisis keuangan.

Atau tidak mungkin suporte Barcelona harus melempar kepala Babi kepada Luis Figo ketika Figo pindah ke Madrid kalau bukan karena alasan kecintaanya pada klub dan idolahnya atau pendukung Fiorentina yang marah ketika Gabriel Batistuta pindah ke As Roma sehingga membakar patung perunggu Batistuta di Firenze. Hal tak logis selalu terjadi di sepak bola, sekali lagi alasan kekalahan atau kemenangan bukan lagi alasan utamanya. Lihat saja, pada tahun 2007 ketika itu Siena degradasi ke serie-B tetapi para penggemarnya justru senang karena tak tega melihat klub kesayangannya kalah terus di Serie-A.
Sebelum aku menutup tulisan ini, aku akan menambahkan kata-kata  Zanetti “Pembicaraan seperti ini membuatku sadar kalau kebahagiaan dalam sepakbola tidak melulu soal bagaimana kau bertanding di lapangan hijau, tidak melulu soal enam ratus pertandingan, tidak melulu soal ban kapten yang melingkar di lenganku sejak 29 Agustus 1999”

Benar, il Pupi, Sepak Bola selalu saja menawarkan sisi menariknya. Meski musim ini Inter Milan tidak begitu membanggakan tetapi tetap memberikan kebahagiaan bagiku ketika aku menyaksikan pertandingannya.
Hampir 14 Tahun aku menjadi Tifosi IL Nerazzurri, sejak kali pertama menyaksikan laga Inter Milan kontra Parma, maka sejak saat itu kecintaan ini sulit untuk dilunturkan, apapun alasannya.

Amala Inter Pazza Amala