Terlalu banyak idola di dunia ini, terlalu banyak pula yang berprestasi tetapi, rasanya hanya satu yang benar-benar aku kagumi. Bukan soal keberhasilannya membawa banyak piala atau memasukan banyak gol ke gawang lawan. Tidak, itu terlalu sempit bagiku untuk mengagumi sepak bola, meskipun alasan tadi memang rasional. Setiap orang pasti mempunyai idolanya, apapun itu. Tidak terkecuali dalam hal sepak bola.
Adalah soal kecintaanku pada Internazionale Milano, klub Sepak Bola yang saat ini dan selamanya berkecimpung dikancah tertinggi sepak Bola Italia, Serie-A. Klub ini menjadi satu-satunya yang belum pernah turun kasta ke divisi yang lebih rendah dari Serie-A. Sekali lagi, bukan itu alasanku mengangumi klub yang berkostum Biru-Hitam ini.
Aku tidak tidak terlalu ingat dengan persis tapi sekitar tahun 1998 pada waktu itu aku masih kelas 2 SD. ketika itu tetangga sebelah rumahku, kalau tidak salah namanya Dika, aku biasa memanggil aa Dika. Ia lebih tua 5 tahun dariku, ia sering kali menggunakan kaos sepak bola, kostum Inter Milan dengan nama Ronaldo di punggungnya. Pada waktu itu aku tidak tahu sepak bola di Eropa sana, yang aku tahu hanya sekedar bermain bola, posisiku waktu itu sebagai kiper. Tidak tahu siapa itu Ronaldo, apa itu Inter Milan atau Juven*us, atau A* Milan. Benar-benar tidak tahu.
Tiba-tiba saja, aku minta ke mamah untuk membelikan kostum sepak bola yang sama seperti Aa Dika. Ingat sekali aku waktu itu, hari itu juga mamahku sore-sore setelah Sholat Asyar pergi untuk membelikan kostum berwarna Biru Hitam itu dan bernomor punggung 9. Keren sekali rasanya, meski aku masih belum tahu kostum klub apa yang aku pakai, hanya atas dasar ikut-ikutan saja.
![]() |
Beberapa hari kemudian, kalau tidak salah hari Jum’at dini hari, aku tak sengaja menghidupkan TV kebetulan sekali pada waktu itu final Piala UEFA yang kini bergani nama Liga Eropa, antara Internazionale Milan dan Parma, kalau tidak salah Inter Milan menang 3-0 pada waktu itu. Wow, itu momen yang sulit dilupakan olehku. Maka sejak hari itu, aku benar-benar mulai belajar mengenal lebih jauh klub idola pertamaku itu. Aku sering mencari berita tentang Inter Milan, dulu masih belum ada internet, informasi yang ada hanya melalui Tabloid BOLA dan GO, itupun aku tidak bisa beli sendiri karena uang jajanku harus aku kumpulan 4hari untuk bisa beli Tabloid olahraga itu, kalau tidak salah harga Tabloid BOLA masih Rp.4000 dan GO Rp 3500, aku samar-samar mengingatnya.
Kecintaanku semakin bertambah bak orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, hampir setiap akhir pekan ketika pertandingan Inter Milan ditayangkan di stasiun TV aku selalu bangun di dini hari. Kebiasaan baruku itu membuat mamah dan ayahku bertanya-tanya, sebab kadang aku teriak-teriak sendiri di kamar karena gregetan bola yang ditendang tidak masuk, sampai akhirnya mamahku tahu dan memarahiku karena berteriak-teriak sendiri. Aku tak patah arang, ketika mamah menyuruh mematikan TV, aku mematikannya tetapi aku hidupkan kembali setelah mamah masuk pergi dari kamark, kali ini suaranya aku kecilkan dan kamarku aku kunci rapat-rapat agar teriakanku tidak terdengar dengan jelas.well. berhasil. Aku mulai menjadi menggandrungi sepak bola dan tentunya Inter Milan, hampir tiap 3 bulan sekali sepatuku rusak karena setiap kali pulang sekolah aku menyempatkan bermain sepak bola dulu dilapangan sebelah SD ku, waktu itu posisiku masih menjadi kiper. Kebiasaanku itu membuat Mamahku gusar karena hampir setiap hari Mamah mencuci bajuku, karena basah oleh peluh. Nakal sekali memang aku pada waktu itu.
Sampailah pada momen lainnya yang juga tak bisa kulupakan, sampai-sampai aku masih ingat tanggalnya. Tanggal 24 Maret 2002, ketika itu Inter Milan tanding melawan AS Roma di Guesepe Meazza. Inter Milan menang 3-1 melawan Roma, pada waktu itu 2 gol Alvaro Recoba dan 1 gol Christian Vieri membenamkan As Roma dan mengagalkan AS Roma untuk mempertahankan Scudetto. Aku masih cukup ingat, gol itu tendangan bebas yang begitu cantik dari Alvaro Recoba pada menit 71 menjadi golnya yang ke 5 pada 12 laga yang telah ia lakoni pada musim itu. AS Roma pada waktu itu masih diperkuat bek tangguh Christian Panucci, Montella, Delvenchio, Cafu, kiper Antonioli dan jangkar asal Prancis yang dikartu merah karena memukul Alvaro Recoba Jonathan Zebina. Sedangkan Inter Milan masih ditangani oleh Hector Raul Cuper, allenatoer berambut putih yang mendapat julukan Mr. Runner-up, sedangkan Stikernya sudah di isi oleh pemain termahal Italian, Christian “BoBo” Vieri, sergio Concencao,stephane Dalmat, Ivan Cordoba, Clerence Serdorf dll. Sungguh luar biasa malam itu, aku bebas berteriak-teriak karena Ayah dan adik-adikku ikut menonton juga. Alvaro Recoba jelas menjadi man of the match tetapi perhatianku justru tertarik pada sosok kapten berambut belah samping ala Giancito Faccheti, yang juga mantan kapten Inter Milan yang kemudian menjadi presiden tetapi meninggal pada tahun 2004. Sosok itu bernama Javier Zanetti, pemain yang berposisi sebagai full back ini baru saja 3 tahun mengenakan ban kapten sejak tanggal 29 August 1999, mengantikan Gueseppe Bergomi yang baru saja pensiun.
Idola baru
Pada waktu itu ia adalah sosok bek yang tangguh, berlari dengan cepat, cekatan menghalau serangan lawan, membuat frustasi pada penyerang lawan, dan cepat dalam menyerang. Pemain Argentina itulah yang menjadi sosok legenda hidup Inter Milan pada hari ini. Kini ia telah melakoni laga yang ke-600 bersama Inter Milan, sungguh rekor yang luar biasa setara dengan Paolo Maldini legenda Ac Milan, sampai-sampai tentangga sebelah itu harus mengistirahkan nomer punggung 3.
Pemain yang bernama lengkap Javier Adelmar Zanetti sebelumnya pernah bermain untuk klub lainnya di Argentina, Banfield dan Talleres, sebelum ia pindah ke Italia untuk merintis kariernya sebagai seorang legenda.

Pemain yang pernah mendapat kartu pertamanya di Serie-A pada laga kontra Udinese pada tanggal 2011 kemarin juga terlibat dalam beberapa misi sosial salah satunya kedekatannya dengan kelompok pemberontak Zapatista. Ia sungguh pemain sepak Bola teladan baik didalam lapangan dan diluar lapangan. Rasanya tak pernah aku mendengar Zanetti berkeliaran ditengah malam, keluar masuk club malam atau bergonta ganti pasangan.
Kata Zanetti
“Saat kau memutuskan untuk hidup sebagai pesepakbola, kau harus mampu menjadi seorang pesepakbola berkelas. Pesepakbola yang mengutamakan prestasi dan behavior dibandingkan sensasi, karena sadar atau tidak sadar, dunia sedang melihatmu. Mungkin kau bukan seorang pesepakbola, tapi belajarlah pada Maldini yang tidak pernah tertangkap media menghabiskan malam-malamnya dengan berpindah dari satu klub malam ke klub malam lain atau Inzaghi yang mengisi waktu luangnya dengan menonton rekaman pertandingan Serie C atau mungkin si garang Gattuso, yang selalu hadir di tempat latihan empat puluh lima menit sebelum latihan dimulai”
Dari kecintaanku pada Inter Milan dan kekagumanku pada sosok Zanetti, aku sadar bahwa sepak bola memang tidak sekedar kalah atau menang. Bukan seberapa banyak mengalahkan atau dikalahkan meski semuanya faktor-faktor yang mempengaruhi kecintaan dan kekaguman. Rasanya penggemar sejati Juventus tidak akan bergeming untuk beralih klub lainnya meski Juventus harus terdegradasi ke Serie-B dimana Inter Milan belum pernah merasakan atau seorang tifosi tidak akan membiarkan klub kesayangannya bangkrut sehingga mereka bahu membahu mengumpulkan dana untuk membeli saham klub kesayangannya, hal itu pernah dilakukan oleh tifosi dari klub besar macam Barcelona dan Real Madrid. Hal itu dilakukan agar klub kesayangannya tidak sampai runtuh karena krisis keuangan.

Atau tidak mungkin suporte Barcelona harus melempar kepala Babi kepada Luis Figo ketika Figo pindah ke Madrid kalau bukan karena alasan kecintaanya pada klub dan idolahnya atau pendukung Fiorentina yang marah ketika Gabriel Batistuta pindah ke As Roma sehingga membakar patung perunggu Batistuta di Firenze. Hal tak logis selalu terjadi di sepak bola, sekali lagi alasan kekalahan atau kemenangan bukan lagi alasan utamanya. Lihat saja, pada tahun 2007 ketika itu Siena degradasi ke serie-B tetapi para penggemarnya justru senang karena tak tega melihat klub kesayangannya kalah terus di Serie-A.
Sebelum aku menutup tulisan ini, aku akan menambahkan kata-kata Zanetti “Pembicaraan seperti ini membuatku sadar kalau kebahagiaan dalam sepakbola tidak melulu soal bagaimana kau bertanding di lapangan hijau, tidak melulu soal enam ratus pertandingan, tidak melulu soal ban kapten yang melingkar di lenganku sejak 29 Agustus 1999”
Benar, il Pupi, Sepak Bola selalu saja menawarkan sisi menariknya. Meski musim ini Inter Milan tidak begitu membanggakan tetapi tetap memberikan kebahagiaan bagiku ketika aku menyaksikan pertandingannya.
Hampir 14 Tahun aku menjadi Tifosi IL Nerazzurri, sejak kali pertama menyaksikan laga Inter Milan kontra Parma, maka sejak saat itu kecintaan ini sulit untuk dilunturkan, apapun alasannya.
Amala Inter Pazza Amala









0 komentar:
Posting Komentar