Kamis, 28 Maret 2013

Cerita Dari Rakyat Sidomulyo

Awalan
Suasana hijau pohon Pinus dan segarnya udara pegunungan begitu terasa ketika akan memasuki wilayah desa Sidomulyo. Pintu masuk menuju desa ini berada di sisi jalan antara Jember dan Banyuwangi, tepatnya di daerah Ngarahan. Dimana daerah itu berada di kaki gunung Gumitir. Sidomulyo yang merupakan bagian dari wilayah kecamatan Silo, Jember terkenal sebagai salah satu sentra penghasil  kopi di Kabupaten Jember.  Desa ini terletak pada ketinggian 560 m dari permukaan laut, sehingga sangat cocok untuk ditanami kopi khususnya varietas kopi Robusta. Pada saat ini sebaran luas areal kopi rakyat di kecamatan Silo kisaran (2.192,23 ha).



Setelah memasuki desa Sidomulyo, saya merasakan aroma sangaraian kopi sehingga semakin menyahihkan kalau desa ini sebagai penghasil kopi. Kopi yang menjadi komoditas utama desa itu dikelola bukan oleh perusahan baik itu PT Perkebunan Nusantara atau Perusahan Daerah Perkebunan tetapi oleh masyarakat desa itu sendiri. Kopi rakyat, begitu para penduduk desa menyebutnya. Sebutan kopi rakyat merupakan pengusahaan kopi yang dilakukan oleh rakyat, artinya masyarakat setempat yang mengusahakan industri kopi dari daerah Sidomulyo.


Kopi rakyat ini sudah diusahakan sejak jaman Belanda. Kopi rakyat di desa Sidomulyo merupakan akibat dari adanya Perusahan Perkebunan Besar milik Pemerintah Belanda. Pada waktu itu para pekerja perkebunan mencoba menanam kopi di lahan-lahan milik pribadi yang berada di sekitar lokasi Perusahan Perkebunan Besar milik Belanda. kebiasaan itu berlangsung lama bahkan sampai pada hari ini sehingga menciptakan kemandirian pada masyarakat untuk mengelola kopinya sendiri bagi kepentingannya sendiri.
Pembinaan dan Pengembagan kopi rakyat oleh Pemerintah dimulai sejak tahhun 1980 an yaitu melalui Program Pemerintah Pusat yang disebut dengan Proyek Rehabilitasi dan Tanaman Ekspor (PRTE), dengan adanya program ini perkembangan areal kopi rakyat meningkat begitu pesat. Perkembangan itu mengingkatkan geliat ekonomi masyarkat sehingga kopi dapat dijadikan penompang ekonomi masyarakat.


Koperasi sebagai wadah perjuangan

Koperasi Kopi merupakan tujuan utama saya pada waktu itu. Koperasi Kopi di Desa Sidomulyo merupakan salah satu simbol dari kebangkitan masyarakat dan menjadikan kopi sebagai senjata utamanya. Pada awalnya kopi rakyat yang berada di Desa Sidomulyo diusahakan oleh individu-individu tetapi hasil panen tidak mampu menghasilkan hasil yang maksimal karena tidak hanya kurangnya informasi dan pengembangan, selain itu juga atas dasar keterdesakan ekonomi, banyak masyarkat yang tidak dapat memaksimalkan harga jual kopi karena kopi dipetik pada waktu masih hijau. Maka atas dasar itulah di Desa Sidomulyo dibentuklah Koperasi pada tahun 2007.

Koperasi ini bertujuan untuk memfasilitasi para petani kopi baik bagi mereka yang menjadi anggota koperasi ataupun yang bukan menjadi anggota Koperasi. Keberadaan Koperasi kopi itu menambah geliat pertumbuhan ekonomi desa Sidomulyo. “koperasi tidak saja sebatas sebagai wadah untuk tujuan ekonomi tetapi masyarkat diajak untuk belajar bersama, saling menguatkan dalam kerja-kerja kolektif kolegial, dimana hasilnya pun dapat maksimal bagi kesejahtraan masyakatat” tambah Pak Joko Suyono, salah satu dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Jember yang menjadi pendamping di desa Sidomulyo. Sedangkan menurut penjelasan ketua Koperasi Buah Ketakiasi, pak  Swarno kalau produksi kopi di desa Sidomulyo yang dikelola oleh Koperasi sekitar 600 ton dengan rata-rata tiap anggota 1 ton per tahun. Harga jualnya pun cukup tinggi sekitar 25000 per liter karena nilai tambah dari kopi dari Sidomulyo proses pengelolaanya yang berbeda.

Keberhasilan masyarakat desa mengelola kopi secara mandiri itu berhasil menarik minat berbagai pihak untuk berkerja sama, salah satunya adalah perusahan  eksportir kopi yang membeli kopi hasil olahan kering masyarakat Sidomulyo. Selain itu untuk terus meningkatkan kualitas kopi dan kualitas sumber daya manusianya, desa Sidomulyo bekerja sama dengan Universitas Jember dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Hasilnya adalah pabrik pengelolaan basah. Konsep dasar dari metode pengelolaan basah kopi yaitu penghilangan lapisan lendir dari buah. Senyawa gula yang terkandung di dalam lendir mempunyai sifat menyerap air dari lingkungan (higroskopis). Permukaan biji kopi cenderung lembab sehingga menghalangi proses pengeringan. Senyawa gula merupakan media tumbuh bakteri yang sangat baik sehingga dapat merusak mutu biji kopi.

Pengelolaan dan manajemen yang baik berdampak pada peningkatan kualitas ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat Desa Sidomulyo. “Sebelum kopi dikelola secara maksimal banyak penduduk desa yang bekerja keluar desa tetapi sekarang masyarakat desa sini bekerja disini” kata pak Suryadi, salah satu pengurus koperasi. Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu Bank Indonesia melalui program CSR (Cost Responsibelity) membangun saluran air bersih bagi masyarakat desa Sidomulyo. Selain itu kualitas pendidikan masyarakat Sidomulyo pun mengingkat. Hal ini dipertegas dengan pernyataan salah seorang pengurus koperasi “sekarang penduduk desa sini tidak hanya sampai SMA tetapi bisa sampai kuliah juga. Kesadaran akan arti penting pendidikan mulai tumbuh sejak kopi di desa Sidomulyo mulai dikembangkan dengan maksimal” kata pak Suryadi menunjukan kalau pengelolaan kopi rakyat berhasil memperbaiki kesejahtraan dan kesadaran sosial masyarakat.

Dampak pengelolaan Kopi Rakyat
Hal yang menarik yang saya tangkap dari pengelolaan kopi rakyat di desa Sidomulyo yaitu tidak adanya sistem mandor atau pola-pola yang biasa ad di perkebunan-perkebunan yang bukan dikelola oleh rakyat. Sehingga pola yang tercipta sangat kekeluargaan salah satu bentuknya setiap tahun penduduk desa bergotong royong untuk bergiliran membersihkan kebun milik sesama petani. Kegiatan itu dilakukan oleh seluruh penduduk desa sehingga suasana gotong royongnya begitu kental terasa. Selain itu kebiasaan masyarakat untuk bergotong royong juga terlihat ketika salah satu warga desa ada yang membangun rumah maka dengan serempak warga desa yang lain membantu untuk menyelsaikan rumah tersebut. Mereka melakukan itu dengan sukarela.

Ketika saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa pengurus koperasi, salah satu pengurus koperasi menunjukan hasil olahan kopi bubuk yang diproduksi oleh koperasi. Koperasi Kopi telah berhasil mengembangkan produknya tidak hanya sebatas biji kopi tetapi sampai pada bubuk dan siap konsumsi. Produksi bubuk kopi itu dilakukan di desa Sidomulyo juga, dimana pada awalnya didampingi oleh dosen dan Mahasiswa dari fakultas Pertanian Universitas Jember. Kopi bubuk desa Sidomulyo pada bulan Agustus 2010 berhasil memperoleh penghargaan sebagai kemasan kopi terbaik tingkat Nasional di Bali.
Pengelolaan kopi oleh masyarakat atau bahasa lainnya kopi rakyat ternyata jika dikelola secara tepat mampu mengahasilkan kualitas kopi yang tak kalah baiknya dengan kopi yang dikelola oleh PT PN atau PDP. Justru PT PN seringkali meminta pasokan tambahan kopi pada desa Sidomulyo apabila produksi PT PN tidak mencukupi permintaan pasar.

Kalau saya melihat, pengelolaan kopi oleh masyarakat sebenarnya sesuai dengan pemikiran besar Bung Karno soal BERDIKARI dibidang ekonomi. Masyarakat mampu memberbaiki kualiatas hidupnya oleh usaha yang dilakukan secara mandiri, meskipun, terkait dengan pengelolaan kopi di desa Sidomulyo saya masih belum bisa mengatakan kalau mereka mengelolanya benar-benar secara mandiri karena masih ada bantuan dari berbagai pihak untuk memandirikan masyarkat Sidomulyo agar mampu memberdayakan potensi baik itu potensi alam atau potensi SDM yang ada didesa itu sendiri tetapi usaha untuk menjadikan masyarakat mengusahakan penghidupannya secara mandiri adalah suatu bentuk tindakan yang cukup menarik untuk dicontoh. Satu hal yang tak bisa saya elakan dan menarik perhatian saya setelah mengobrol panjang dengan beberapa pengurus Koperasi dan warga desa Sidomulyo yaitu semangat mereka untuk berkembang dan mengembangkan diri.
Obrolan panjang saya dengan beberapa pengurus koperasi di akhiri dengan seruputan kopi Sidomulyo yang semakin menambah kehangatan dari pengurus koperasi.




.

.

1 komentar:

  1. nice post
    bolehkah kita sharing tentang hal ini?
    karena saat ini saya sedang meneliti tentang pengembangan usaha kopi di desa sidomulyo

    BalasHapus