Jumat, 29 Maret 2013

Kemungkinan Sekarang adalah Memperbesar Kemungkinan

“Kemana aku harus bertanya? Seolah pertanyaan ku membentur dinding-dinging kebebalan, dihadang oleh kemalasan dan diacuhkan oleh ketidak pedulian. Harus berapa kali aku berceracau, memaki  atau bahkan memberi sanjungan setinggi langit untuk kawan-kawanku itu tetapi mereka terlampau membatu untuk sekedar bisa dikata “sadar” dan Loyal”. Itu tadi gumamku yang berpadu dengan amarah dan kesedihan. Baru saja, sebelum Jumatan, seorang kawan datang ke kostku bercerita soal masa-masa suram di Komisariat GmnI. Obrolannya seolah membukan ingatanku akan kemuntaban yang terhatankan. Dan sekarang waktunya untuk melampiaskan segala yang menyesakan dada.
Beberapa waktu lalu, aku menyempatkan diri untuk sekedar bermain-main kesana. Ya, lebih tepatnya membunuh waktu luangku dan ingin mengobrol dengan kawan-kawan “seperjuanganku” (istilah ini sedikit lebay memang:P) dulu, tentu datang kesana dengan harapan agar bisa bertemu wajah-wajah baru yang lebih segar daripada wajah-wajah lama yang ‘memuakan’, sebut saja Wawan, Indra, Reza atau orang-orang langka yang seharusnya diawetkan di museum sebut saja Udin atau Hendri. Naas memang, aku tak menemukannya hanya cengar cengir Wawan, ketambunan Indra dan ceplas-ceplosnya Reza. Huhft, kita hanya bisa bernostalgia saja kalau seperti ini, tidak lebih karena tak etis rasanya menanyakan kondisi (gerakan) komisariat ke mereka sebab mereka sudah satu tahun ini menjadi demisioner dan tentu pengurus yang lebih berhak menjelaskan semua keingin tahuanku.
“Kemana pengurus yang lain wan?” tanyaku pada Wawan.
“emboh vin, onok sibuk semua” jawabnya seolah biasa, ia begitu datar menjawabnya. Berbeda denganku yang aneh mendengarnya.
“lhoh kok iso sibuk ga jelas ngono wan?” tanyaku semakin ingin tahu.
“lha kui, aku dewe ga habis pikir, mungkin mereka sedang dalam proses mencari diri paling” Wawan berseloroh.
Waktu itu kebutulan aku bawa sebotol “Bintang” dan kami menikmatinya sampai tetes terakhir. Lalu aku pulang begitu saja denga kekecewaan, pikirku aku bisa berdiskusi panjang lebar sampai pagi seperti dulu sambil menyelipkan kata-kata sarkas agar agumentasi kita lebih bernas tetapi sayang kejidian itu hanya kisah klasik dimasa lampau tidak ada kisah ulangannya dimasa pengurusan sekarang.  Siapa yang salah? Ah sudahlah, tanganku menunjuk hidungku karena aku gagal menjadi Korlap dan lebih memilih meninggalkan kegiatan harian di GmnI untuk lebih berkonsentrasi di organisasi lain. Aku rasa itu lebih baik dari pada saling tunjuk dan tidak menyelsaikan masalah.
Beberapa hari kemudian aku datang kembali ke Komisariat tentu dengan harapan yang tak jauh beda seperti beberapa waktu sebelumnya. “aku ingin bertemu dengan kader-kader baru yang bertaji. Membicarakan Idelogi sampai berbusa-busa dan membaca banyak buku”. Sial, kali harapanku di tundukan oleh keadaan yang lebih parah, Komisariat sepi tak ada orang. Tak ubahnya kontrakan yang ditinggal penghuninya ketika  mudik lebaran. Ilalang tumbuh liar, koran-koran berhamburan acak-acakan seolah baru saja disantroni maling. Meteran listrik berbunyi karena pulsanya sudah mulai habis. Huft, tragis memang. Rasanya malu kalau terus kosong seperti ini. Dengan sedikit iseng dan satire, aku membalikan dan melepaskan semua logo-logo GmnI yang terpasang. Ya, apa yang kulakukan sebagai simbol saja kalau kita benar-benar memalukan karena memfungsikan komisariat yang dulu dianggap sebagai sentral gerakan kini hanya sebatas kontrakan untuk tidur dan ngerumpi atau mabuk lah.
Jaman Sudah berganti
setelah melihat komisarit yang sunyi, aku sms Deni, Komisaris komisariat Hukum. “Den, dimana?”
“aku di DPRD mas, lagi ngopi dengan mas Reza”jawabnya cepat
“kader-kader yang lain kemana aja?”tanyaku
“Andik ke Kediri mas, Haykal ada bapaknya, Hisyam ke Tanggul, Ocha ada adiknya, Budi sibuk resepsi, dan kader lainnya pulang kerumah masing-masing”jawabnya
“Huhft, bersabarlah, Den. Jadi pemimpin memang akan merasakan kesepian. Tetap semangat kawan muda” kataku
Kasian sekali Deni, ditinggal kader dan pengurusnya. Pantas saja GmnI komisariat Hukum yang pada tahun 2009 sampai 2011 begitu garang, kini tak ubahnya seperti paguyuban yang menampung orang-orang sakit karena mencoba sadar akan ketidak sadarannya tetapi tidak melakukan apapun.  Kawan-kawan yang lebih aktif sekarang lebih senang untuk memilih pacaran sambil beralasan “sek mas, aku nganterin dulu” padahal berkeliling kota suka riang atau bergalau ria di jejaring sosial dengan lirik-lirik sendu Keris Patih, Jancuklah. Ada pula yang sok mempunyai prinsip dengan begitu keras dan sok sangar tetapi hatinya rapuh dan lapuk. Diberi masukan sedikit saja langsung sakit hati dan reaksioner. Ada pula yang sukanya hilang menghilang dengan mengatas namakan alasan-alasan yang tak bisa dibantah tetapi malah sibuk dengan hal-hal yang gj (gak jelas) buktinya “aku tidur mas di kontrakan temen”, asulah, hidup kok cuman untuk tidur. Ada pula yang hobinya pinjem buku tetapi dibaca Cuma dua lembar langsung merasa sok paling tahu dengan mengajari kader-kader dibawahnya sambil petantang petenteng “kalian itu harus suka baca” sembari mengeluarkan buku yang itu-itu saja dan halaman yang dibaca itu-itu saja pula. Berbagai macam ‘varietas’ manusia yang bergumul di ruang absurd itu.
Hal semacam itu hanyalah ketidakmampuan kita mencari apa yang ada di organsisasi ini, dimanapun organisasinya ketika kita selalu mencoba untuk menghindar maka jadinya hanyalah menjadi kader-kader yang lebih memilih mengundurkan diri sebut saja Citra dan Firda. Mereka adalah orang-orang disorentasi yang tak bisa ejakulasi sehingga pusing dan stres, kasian!
Mungkin ini generasi yang berbeda dengan generasi yang dulu. Rasanya sudah banyak kata yang terucap dari kawan-kawan demisioner, dari mulai memberi saran, mengajak untuk bergerak bersama, bahkan mengadakan kegiatan sendiri yang diatur semuanya oleh kawan-kawan demisioner tetapi itu kurang memberi arti apapun dan merubah keadaan. Para pengurus harian Komisariat tetap bebal dan membatu malah sibuk dengan aktivitas privatnya. Rasanya  sangat sulit berkorban untuk kepentingan komunal sehingga menjadi individualis-individualis dalam ruang komunal, buktinya ketika ada masalah lebih baik lari seperti Cherry Belle yang lagi “ngambek”, holyshit.
Sampai hal yang sangat parah, setidaknya bagiku terkait dengan pembayaran uang kontrakan. Dimana kawan-kawan yang seharusnya memiliki tanggung jawab, justru lelet dalam bertindak sehingga para demisioner yang sibuk “mengemis kesana kemari” untuk menutupi dana yang kurang. Haduh lalu timbul pertanyaan? Siapa yang pengurus dan siapa yang demisioner? Sebenernya semua itu tak jadi soal tetapi pertanyaanya lagi, dimana kepekaan kawan-kawan pengurus? Meski pada akhirnya ikut bergerak.
Ketika ditanya tentang permasalahan yang ada, banyak diantara mereka yang menjawab dengan alasan yagn seragam “aku binggung mas harus ngapain?”. What The Fuck. Binggung kok terus-terusan, akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan selain bergulat dengan kebingungan itu sendiri. Kawan-kawan pengurus tidak ingin mencoba dan senantiasa merendahkan diri sendiri dengan kebingungan itu. Mereka beralibi kenapa kita selalu disalahkan tanpa pernah berkaca “apa yang pernah kita lakukan?” seolah-olah menyalahkannya kawan-kawan demisioner hanyalah cuap-cuap yang menjatuhkan tanpa maksud untuk saling membangun. Kalau pola pikir itu masih ada sepertinya kawan-kawan pengurus perlu menyelsaikannya di tataran diri sendiri dulu karena terlalu banyak memainkan unsur subjektifitas. Perlu kita ketahui bahwa, organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang bersatu dalam wadah yang teratur dan terorganisir, dimana permasalahan-permasalahan yang ada di jawab secara komunal atau bersama-sama, dalam proses dialektika itu tidak selamanya harus dengan sanjungan atau kelembutan. Ketika kebebalan lebih dominan adakalanya dengan caci maki agar kita lebih bermental dan mengendurkan urat-urat kaku penyebab bebal. Sejutu?
Ayolah, bukan waktunya terus kawan-kawan itu seperti anak burung elang yang terus diberi makan oleh induknya. Kawan-kawan sudah waktunya menjadi elang yang ganas dan siap bertempur. Ingat? Banyak permasalahan yang perlu dikaji dan perlu kesensitifan gerakan organisasi ini, TURBA itu indah loh. GmnI bukan sebatas organisasi yang bisanya beronani wacana dalam diskursus-dikursus mengawang. Kita perlu membumi, berjabat erat dengan ketertindasan, beromatika dalam terik yang penuh peluh, bercumbu dengan orasi-orasi pembebasan, berkasih-kasih ria dalam debat panjang revolusi sosialis Indonesia atau bergandengan tangan dalam kerjaran polisi. Kita harus mengingat kembali pada sejarah masa lampau, dimana generasi-generasi terdahulu kita dengan segala keterbatasannya masih bisa meneriakan “Merdeka” untuk merobohkan tiran. Kita masih ingat bukan, ketika perlawanan GmnI pada kasus tanah Sukorejo di balas oleh peluru-peluru yang dibeli dari uang rakyat atau kita masih ingat bukan ketika pendahulu kita tetap tegar berbicara pembebasan meski kepalanya ditodongkan  senapan di KODIM sana atau kita masih ingat tidak ketika kawan-kawan GmnI mencoba merebut RRI lalu dibalas oleh pentungan dari pasukan berkendaraan Trail atau apakah kita masih ingat turun kejalan sampai dini hari ketika penolakan kenaikan BBM, masih ingatkah tidak dengan aksi penolakan Widodo sebagai Dekan? Ketika kita masih mengingat jelas cerita itu, entah karena mengalami langsung atau cerita titipan masa lalu, setidaknya kita sadar bahwa sejarah harus menginspirasi kita untuk lebih baik. Ketika dalam ruang onani wacana kita selalu bilang “Bung Karno selalu bialng Jangan Melupakan Sejarah (JAS MERAH)” seharusnya kita paham dan kita sadar kalau sejarah harus menginspirasi kita, generasi GmnI diera dimana Fakultas Hukum akan diadakan program ke Notariatan.
Janganlah Mengeluh
Mengeluh terus akan membuat kita menjadi kader-kader yang penakut dan memalukan karena orang dihargai karena usahanya sedangkan ketakutan membuat kita menjadi kerdil dan tak berarti digilas oleh perubahan, mati karena takut mencoba. Kawan-kawan terlalu banyak mengeluh tanpa pernah mencoba nikmatnya ber RODINDA dalam proses. Kekalutan, kegundahan, dan ketakutan kita dihari ini akan menjadi semacam kisah manis ketika kita bisa melampui masa-masa berproses ini. Tentu pada akhirnya kita akan menjadi kader-kader yang bermental lebih baik di waktu yang sudah menunggu nanti.
Kita bukan bagian dari generasi gagal yang dicatat dalam sejarah kelam GmnI sekelam ketika pada tahun 1981, GmnI harus di pecah menjadi dua. Bukan, bukan kita bukan dari bagian kekelaman itu, kawan.
Sejak pertama kali kita “digodok” di kawah candradimuka Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, di Sempolan maka sejak saat itulah kita akan terlahir sebagai generasi pejuang pemikir-pemikir pejuang. Dimana ketakutan hanyalah omong kosong untuk menidurkan bayi ketika susah tidur. Orang-orang seperti kita tidak layak mati di tempat tidur!!!!
Merdeka!!!!

0 komentar:

Posting Komentar