Jumat, 19 April 2013

BANGKIT DARI DEKADENSI

Oleh Gulfino Che Guevarrato*

Hampir dari tahun 2004 sejarah kami terhenti di titik nol, tanpa karya, tanpa anggota dan tanpa semangat. Kami gagal menuliskan sejarah dan hanya terdiam dalam kevakuman. Seolah hidup tak mampu dan mati pun segan, dekandensi ini terus menggerus organisasi yang pada dekade 90an sempat menjadi media pers mahasiswa (persma) yang sangat disegani, bahkan sejarah dimasa lalu mencatat kalau kami salah satu dari lima LPM yang membidani lahirnya UKPKM yang kelak kita kenal sebagai UKPKM Tegalboto, persma di tingkat universitas. Sejarah hanyalah sejarah yang tak bisa mungkin diulang dan akan sangat naif jika hanya sebatas membaggakannya tanpa berbuat sesuatu untuk menuliskan kembali cerita yang baru.
Imparsial, begitu nama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari fakultas Hukum Unej. Arti Imparsial sendiri adalah tidak memihak. Dengan semangat itu kami berusaha menjadi awak-awak persma yang mengaktualisasikan semangat berproses kami dengan tidak memihak pada siapapun, meski secara subjektif akan selalu memihak pada kaum yang tertindas. Keberpihakan pada kaum tertindas ditandaskan dalam kode etik persma.

Imparsial bukanlah organisasi yang terus menerus hanya menampangkan papan namanya dan mempunyai sekertariat tetapi tidak ada nyamanya. Seolah hanya jasad-jasad yang tidak bisa berkarya.  Oleh karena itu dengan semangat yang terbangun kembali dari mati suri yang mebelenggu kami pada keterpurukan itulah yang akhirnya mendorong kami yang pada saat ini hanya terdiri dari 5 orang untuk bangkit dari liang jahanam yang bernama “hidup tanpa gerakan”. Imparsial mencoba  bangun kembali, mengemasi sisa-sisa kejayaan masa lalu sebagai bekal di masa depan, tentu dengan semangat pembaharuan, dengan perlawanan tanpa banyak bicara. Melalui pena, lensa, dan kertas kami akan berbicara banyak.meraung-raung dikala keadilan ini dibiarkan dan menerkam melalui tulisan dikala semuanya sudah semakin parah.

Maka dari itu, kami segera berbenah untuk mempersiapkan dialektika-dialektika baru, meramaikan semangat berproses yang membara di antara UKM-UKM fakultas Hukum. Perjuangan kami bukanlah perjuangan dirimba-rimba yang kelam tetapi teralienasi dari realitas, perjuangan kami bukan juga beretorika tentang teori –teori kuno tetapi nol tanpa praksis. Perjuangan kami pun bukan perjuangan yang berkoar-koar melalui megaphone tetapi mempagari diri dalam menara gading pendidikan. Perjuangan kami hanyalah perjuangan anak-anak ingusan yang baru saja belajar menuliskan realitas dalam kertas-kertas buram dan perjuangan kami sebatas memindahkan  keindahan melalui lensa-lensa usang. Sebatas itu saja.

Oleh karena itu kami mengundang kawan-kawan yang berani meluangkan waktunya untuk berproses dalam absurditas pendidikan informal untuk menuju pada pencerahan khalayak. Sekali lagi, kami hanya mengundang kawan-kawan yang berani bergabung dengan LPM IMPARSIAL untuk berproses, mempertajam analisis, membicarakan filsafat yang absurd, mempercantik karya memalui foto dan menelurkannya dalam majalah, buletin lalu mengoyangkan tirani yang arogan.
Salam perubahan!!!
Ragu-ragu harap diyakinkan!!!





*Saya menulis ini karena melihat kawan-kawan baru LPM Imparsial yang sangat bersemangat untuk memulai membangun Imparsial kembali. Tahun 2009-2010, kebetulan saya pernah merasakan bagiamana sulitnya membangunkan tidur Imparsial, sampai setelah Imparsial terkumpul beberapa anggota, saya terpaksa didepak dari Imparsial karena pertentangan saya soal keterlibatan ekstra di Imparsial, meskipun saya seorang GmnI sekalipun. Sejak saat itu, saya menyebrang ke UKPKM TegalBoto dan menjadi pengurus puncak disana. Sekali lagi, tulisan ini hanyalah sebentuk dukungan moril bagi kawan-kawan Imparsial, apapun Imparsial merupakan tempat dimana saya benar-benar memulai belajar menulis jadi sudah sepantasnya untuk tetap mendukung setiap kemajuan dari Persma. Dan tulisan ini tidak mengurangi rasa cinta saya pada UKPKM Tegalboto yang telah memberikan kepercayaanya pada saya untuk memimpin organisasi ini setahun kedepan.
Mantan Anggota Imparsial yang sekarang hijrah ke UKPKM Tegalboto UNEJ

Selasa, 16 April 2013

You’ll Never Walk Alone, bro!!!


Mata belum juga tertutup untuk sekedar meletakan kepala dibantal lalu terbang menuju alam mimpi. Malam tadi, aku terbangun sekitar pukul 00.30 WIB tujuanku untuk membaca dan menulis. Rutinitas itu aku biasa lakukan ketika  memang merasa bahwa aku ingin menulis atau membaca. Ada kewajiban tulisan untuk kawan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) dari Yogjakarta dan sedikit menutup ending tulisan untuk refleksi Tegalboto Pos. Sampai pukul 07.00WIB semuanya baru beres. Beginilah ketika memang semangat menulis sedang tinggi-tingginya, setelah beberapa hari berada di titik nol. Kini aku ingin menulis, menceritakan tentang seorang kawan yang sering berdialektika bersamaku diruang-ruang yang lunak untuk mencurahkan segala keresahan dan kegundahan ketika melewati kehidupan ini.
Siang yang panas tetapi kami masih sangat enggan untuk menghentikan aktivitas yang menghibur itu. Aku, Ainul, Agus dan Yuri sedang tidak bisa diganggu karena kami sedang menrusuhi Libbi, kawan kami ditempat magang. Tujuannya sederhana agar dia marah, dan melatih dia sabar. Tujuan itu sebenarnya hanya kamuflase belaka. Ketika ia hampir naik pitam, Ainul dengan tampang alim yang sebenarnya adalah topeng yang paling berhasil mengelabui orang, berkata pada Libbie “bie, tujuan awak dewe ngudoi awakmu itu ben awakmu sabar. Ben ga nesuan” mimik muka persis seperti  Aa Gym ketika ceramah. Shit :P tetapi ia pun kawan yang baik dan pantas, pantas untuk di antemi.
 Mendengar ocehan Ainul, Libbie kembali tenang dan kami memulai lagi. Guyonan, ehm sepertinya  Bully-an lebih tepat. Dimulai dari apapun yang Libbie kerjakan dan katakan. Contonya ketika ia mencoba menangkis ejekanku “ah kon iku vin, dasar manusia kata-kata”sergahnya. Aku hanya membalas, “lah awakmu bi, lanang omahan” jawabku santai. Ia pun diam seribu bahasa dan semua terbahak-bahak. Kejadian itu berlangsung ketika magang. Dari semenjak 13 Maret sampa sekarang ini. Bisa dibayangkan bagaimana ia tertekan dengan guyonan sarkas kami. Libbie memang bukan orang yang sabar, ia laki-laki yang terlihat tangguh tetap nyatanya ia rapuh. Semua itu memang terjadi di beberapa waktu lalu, ketika ia belum berkumpul dengan mahasiswa-mahasiwa absurd dan begundal macam kami, termasuk  Ainul yang mantan ketua organisasi kerohanian di kampus. Kami memang ingin menjadi apa adanya, tidak ada sok keren di depan sesama kami, kecuali Libbie #kenek maneh bie.
 Setelah berselang hampir satu bulan, kita memulai kebersamaan dari pukul 08.00WIB sampai 13.00WIB, dari situ kebersamaan yang sesungghunya itu dibangun, kerapuhan diperbaiki, amarah diredam jadi kesabaran. Kini ia bukan lagi laki-laki pemalu yang beberapa semester lalu hanya untuk datang ke kampus saja harus malu-malu atau lelaki minder yang tidak bisa bersikap jika ditekan atau laki-laki yang hobinya banting HP ketika amarah membutakan logika. Ia jauh lebih baik dari yang kawan-kawan kenal sebelumnya. Bukan karena kami atau karena dia berteman dengan kami tetapi karena memang ia sudah saatnya beranjak dari titik nol. Ia tidak ingin terus menerus berada di titik nol.
 Ketika pada awal-awal magang, ia kadang marah atau ngambul, dengan tiba-tiba diam dan tak ingin bicara, ya ngambul khas ala perempuan-perempuan labil itu. Kini ia sudah jauh lebih baik. Beberapa kali kita bertukar pemikiran, mencoba lebih tenang dan elegan menghadapi suatu permasalahan. Ada banyak kata yang kuingat selain manusia kata-kata yang ia lontarkan untukku,-oh ya, manusia kata-kata yang ia maksud karena aku selalu beretorika ketika berbicara sehingga membuat orang yang mencari masalah denganku kadang dibuat kebingungan, begitu menurutnya- ia pun pernah mengatakan kalau ia merupakan orang yang ditinggal sendiri oleh kawan yang dekat dengannya selama ini ketika ia ditimpa suatu permasalahan yang menurutku itu permasalahan yang keren dan laki-laki banget, kenapa keren? Karena ia berhasil menyelesaikan masalah itu dengan diam-diam tanpa bantuan orang lain dan ia tidak gentar dengan presepsi orang lain yang memandang sebelah mata padanya. Iku jenenge koncoku!!, begitu kata libbie dan aku ingin katakan kata-kata itu padanya.
Sebulan kita bersama-sama, banyak bercerita entah itu cerita suka, duka cerita tentang kehidupan yang satire. Dari cerita-cerita itu kami saling mengenal satu sama lain. Memaknai perkawanan tidak hanya secara luas. Kini, laki-laki yang dulu aku kenal bermulut besar dan terkesan arogan ditambah individualis, kini adalah kawanku sendiri, yang sangat merendah, tenang dan tidak pemarah. Ia pun sering memberikan masukan yang memang pantas untuk didenagar, beberapa kali aku mencoba menganalisa kepribadiannya dan mengkritiknya dan beberapa kali pula ia menganalisa dang mengkritikku. Kita sama-sama saling membangun diri dalam hubungan perkawanan ini. 
Ia selalu berkata kepada kami, entah pada aku Ainul, Yuri, Agus atau Aku. “aku pingen weroh awakmu 10 tahun engkas jadi opo, jek tak ileng raimu seng megeli iku” ocehnya dengan nada kesal, sekarang ia hanya bisa mengoceh dan tersenyum. Kemarin da yang pengalaman menarik. ketika itu ada sesosok laki-laki paruh baya yang membuat Libbie di uji ketenangannya. Ia dihampiri lalu disalami oleh laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu Ayah dari mantanya Libbie, sontak saja seluruh pegawai Pemda mengetahui semuanya dan bisa dibayangkan Libbie dibuat salah tingkah dan tidak banyak bicara, lagi ia diam seribu bahasa. “lah pak, iki onok mantan mantune” itu kata-kata yang aku ingat dari ibu-ibu groupies Pemda. Kali ini ia cukup tenang meski di gojloki sekantor. Menurutnya ia lebih bersyukur karena dalam kejadian itu aku belum datang karena sedang menyelsaikan urusan di rektorat UNEJ. Aku masih beruntung untuk tidak melewatkan momen membahagiakan itu, karena laki-laki itu masih ada ketika aku sudah datang, jadi aku masih bisa “menghabisinya” ketika laki-laki itu salaman pulang dengan Libbie.
Ah ada-ada saja cerita dari Magang ini. Satu hal yang ingin aku ajak padanya. Aku ingin menegaskan padanya kalau jalanan benar-benar Indah dan penuh pengalaman. Meski ia tahu akan hal itu tetapi kadang ia enggan untuk mencoba menikmatinya. 
Kalau ada masalah, jangan pendam sendiri, bro. Karena kamu tidak akan pernah berjalan sendirian[]
Jember, 17 April 2013


Minggu, 14 April 2013

Kawah Candradimuka


Dalam subuh ini, kau datang kembali
Membawaku mengingat lembah dan  hijaunya hutanmu
Bersama tetes embun..
Aku rindu..
Sungguh rindu,,
Berteriak lantang
Dengan tangan terkepal
Menjadikan Kapitalis ada musuh yang harus denyahkan, mungkin usang
mungkin juga tidak.
Hanya dihutanmu,yang membawaku pada rindu yang semakin tak tertahan
tak berhasil diendapkan waktu
meski ingatan semakin melapuk
aku tetap rindu
Untukmu..rumahku, rumah kita
Hanya itu yang kutahu,
Selebihnya rindu ini menusukku perlahan
Membuat kelu
Tak bicara
Sempolan selalu hijau,,
Sunyi
Damai, meski teriakan-teriakan itu memecahkan semuanya namun kau tetap anggun dalam temaram yang menyahihkan syahdu..

Sedang dalam Posisi Nol

sumber Google
Beberapa  minggu ini, Jember sepertinya sedang galau, galau dalam arti cuacanya yang berubah secara tiba-tiba. Dikala siang, panas benar-benar membakar kulit sedang di sorenya langit benar-benar tak pandang bulu menguyurkan air. Sore hari sering sekali berganti dari terik menuju sangat basah. Hem, inilah anomali cuaca.

Keadaan cuaca di Jember semakin memperparah kebosananku di kota ini, karena  ketika panas yang sangat terik, jelas aku enggan untuk kemana-kemana, kalau sudah di Tegal Boto ya disitu sampai sore, ketika hujan pun tidak bisa kemana-mana. Selain itu cuaca mendung berdampak tidak menyenangkan secara psikologi. Entahlah, kali ini aku memang sedang ingin menulis tentang kepenatan yang semakin menjadi karena sudah hampir 5bulan aku tidak pergi kemana-mana, hanya di Jember dan sekitarnya. Hari-hariku terasa membosankan apalagi semenjak selesai seminar proposal sebab sebelumnya aku masih ada kegiatan kesana-kemari yang membunuh waktu kosongku dan masih bisa produktif, entahla dalam hal apapun tetapi intinya bisa bermanfaat. Rasanya semua kegiatanku beberapa hari ini terasa sangat tidak menarik untuk dijalani. Pagi-pagi aku pergi magang, siangnya aku ke Tegalboto atau ke organisasi yang lai. Lain dari itu kadang aku mengisi waktu kosong dengan ngopi, main game, baca buku, internetan, diskusi, jalan-jalan keliling kota Jember. kebiasaan keliling Jember itu membuatku sampai hafal daerah-daerah yang ada di Jember sampai-sampai jalan tikusnya sekalipun. Mungkin kegiatan yang lebih menyenangkan hanya pacaran. Ah, penat sekali rasanya, kegiatan yang melulu itu-itu saja, bertemu dengan orang yang itu-itu saja, datang ke tempat yang itu-itu saja, seolah Jember memang begitu kecil untuk sekedar membuatku senang. Mungkin aku bukan orang satu-satunya yang saat ini sedang merasakan kebosanan.

Akibat kepenatanku ini, beberapa kali terbesit keinginan untuk mengepaki beberap baju dan memasukannya kedalam Carrier lalu pergi jalan-jalan menapaki setapak-setapak yang akan membuatku bisa segera menggenapi impianku untuk berkililing Indonesia, pergi dari Jember untuk beberapa saat sepertinya akan mengembalikan libidoku untuk bisa bersemangat kembali melakukan banyak hal. Sudah ada beberapa renacanya, salah satu Sumatra, ingin sekali aku kembali ke sana. Memulai perjalanan dari Lampung, mampir ke Lampung barat menikmati senja di Pantai Liwa lalu kembali ke Bandar Lampung melanjutkan perjalanan ke Palembang dan menyebrang ke Pulau Bangka lalu berganti kapal menuju ke Belitung. Namun semua harapan pemecah penat itu harus sedikt tertahan, Anggie tidak mengijinkan aku pergi sampai aku selesai magang selain itu aku masih punya tanggungan untuk menyelsaikan kewajibanku di TegalBoto, tidak tega juga aku harus tinggalkan Elya sendirian, karena pengurusku yang lain masih sibuk dengan kepentingannya. Selain itu, tidak pantas rasanya aku meninggalkanya dan kawan-kawanku yang lain ketika kita sedang sibuk menggarap Tegalboto pos yang sudah berbulan-bulan belum terbit, yang mana selain karena tulisan yang telat masuk ke redaksi, juga birokrasi kampus Unej yang ingin mencari masalah dengan menahan uang  yang menjadi hak organisasi untuk mencetak Tegalboto pos. Sudah 5 bulan belum cair-cair. Damn, hanya menambah-nambah jengkel saja!

Kepentan ini berdampak pada hal-hal lain yang membuatku tidak produktif, beberapa kali aku harus bertengkar dengan Elya karena tidak juga menyelsaikan tulisan terakhirku, refleksi. Namun pertengkaran itu hanya semacam dialektika dalam organisasi. Tak jarang pula aku kadang marah-marah ke Anggie meski hanya kesalahan kecil saja, untung saja, perempuan jelitaku ini bisa mengerti aku dan mengajakku untuk melupakan penat. Skripsiku pun aku tinggalkan untuk beberapa saat.
Apakah kepenatan ini merupakan hal yang wajar? Kalau aku merasa ini tidak bisa didiamkan harus segera beranjak dan melakukan sesuatu, aku bukanlah orang yang suka berdiam diri, menenggelamkan diri dalam ketidak produktifan. Kadang diam adalah kegiatan yang sangat menenangkan, beberapa hari ini aku begitu senang memandangi senja, kebiasaan yang lama aku tinggalkan, rasanya tenang sekali.
Ya, mungkin ini sedikit ceritaku, alasan kenapa belakangan ini aku tidak stabil, mungkin aku sedang bosan-bosannya. Kebosanannku sudah sampai pada titik nadir, perlu semangat dan motivasi untuk membawaku terbang kembali sampai titik zenith.
Maafkan aku, untuk Anggie yang sempat kena dampaknya dan Elya yang sering menahan kesal karena tulisanku belum juga selasai tapi malam ini aku akan segara edit lagi tulisan yang kau kembali kan itu.[]

Jember, 15 April 2013
2. 56 WIB
Che