Oleh Gulfino Che Guevarrato*
Hampir dari tahun 2004 sejarah kami terhenti di titik nol, tanpa karya, tanpa anggota dan tanpa semangat. Kami gagal menuliskan sejarah dan hanya terdiam dalam kevakuman. Seolah hidup tak mampu dan mati pun segan, dekandensi ini terus menggerus organisasi yang pada dekade 90an sempat menjadi media pers mahasiswa (persma) yang sangat disegani, bahkan sejarah dimasa lalu mencatat kalau kami salah satu dari lima LPM yang membidani lahirnya UKPKM yang kelak kita kenal sebagai UKPKM Tegalboto, persma di tingkat universitas. Sejarah hanyalah sejarah yang tak bisa mungkin diulang dan akan sangat naif jika hanya sebatas membaggakannya tanpa berbuat sesuatu untuk menuliskan kembali cerita yang baru.
Imparsial, begitu nama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari fakultas Hukum Unej. Arti Imparsial sendiri adalah tidak memihak. Dengan semangat itu kami berusaha menjadi awak-awak persma yang mengaktualisasikan semangat berproses kami dengan tidak memihak pada siapapun, meski secara subjektif akan selalu memihak pada kaum yang tertindas. Keberpihakan pada kaum tertindas ditandaskan dalam kode etik persma.
Imparsial bukanlah organisasi yang terus menerus hanya menampangkan papan namanya dan mempunyai sekertariat tetapi tidak ada nyamanya. Seolah hanya jasad-jasad yang tidak bisa berkarya. Oleh karena itu dengan semangat yang terbangun kembali dari mati suri yang mebelenggu kami pada keterpurukan itulah yang akhirnya mendorong kami yang pada saat ini hanya terdiri dari 5 orang untuk bangkit dari liang jahanam yang bernama “hidup tanpa gerakan”. Imparsial mencoba bangun kembali, mengemasi sisa-sisa kejayaan masa lalu sebagai bekal di masa depan, tentu dengan semangat pembaharuan, dengan perlawanan tanpa banyak bicara. Melalui pena, lensa, dan kertas kami akan berbicara banyak.meraung-raung dikala keadilan ini dibiarkan dan menerkam melalui tulisan dikala semuanya sudah semakin parah.
Maka dari itu, kami segera berbenah untuk mempersiapkan dialektika-dialektika baru, meramaikan semangat berproses yang membara di antara UKM-UKM fakultas Hukum. Perjuangan kami bukanlah perjuangan dirimba-rimba yang kelam tetapi teralienasi dari realitas, perjuangan kami bukan juga beretorika tentang teori –teori kuno tetapi nol tanpa praksis. Perjuangan kami pun bukan perjuangan yang berkoar-koar melalui megaphone tetapi mempagari diri dalam menara gading pendidikan. Perjuangan kami hanyalah perjuangan anak-anak ingusan yang baru saja belajar menuliskan realitas dalam kertas-kertas buram dan perjuangan kami sebatas memindahkan keindahan melalui lensa-lensa usang. Sebatas itu saja.
Oleh karena itu kami mengundang kawan-kawan yang berani meluangkan waktunya untuk berproses dalam absurditas pendidikan informal untuk menuju pada pencerahan khalayak. Sekali lagi, kami hanya mengundang kawan-kawan yang berani bergabung dengan LPM IMPARSIAL untuk berproses, mempertajam analisis, membicarakan filsafat yang absurd, mempercantik karya memalui foto dan menelurkannya dalam majalah, buletin lalu mengoyangkan tirani yang arogan.
Salam perubahan!!!
Ragu-ragu harap diyakinkan!!!
*Saya menulis ini karena melihat kawan-kawan baru LPM Imparsial yang sangat bersemangat untuk memulai membangun Imparsial kembali. Tahun 2009-2010, kebetulan saya pernah merasakan bagiamana sulitnya membangunkan tidur Imparsial, sampai setelah Imparsial terkumpul beberapa anggota, saya terpaksa didepak dari Imparsial karena pertentangan saya soal keterlibatan ekstra di Imparsial, meskipun saya seorang GmnI sekalipun. Sejak saat itu, saya menyebrang ke UKPKM TegalBoto dan menjadi pengurus puncak disana. Sekali lagi, tulisan ini hanyalah sebentuk dukungan moril bagi kawan-kawan Imparsial, apapun Imparsial merupakan tempat dimana saya benar-benar memulai belajar menulis jadi sudah sepantasnya untuk tetap mendukung setiap kemajuan dari Persma. Dan tulisan ini tidak mengurangi rasa cinta saya pada UKPKM Tegalboto yang telah memberikan kepercayaanya pada saya untuk memimpin organisasi ini setahun kedepan.
Mantan Anggota Imparsial yang sekarang hijrah ke UKPKM Tegalboto UNEJ






