Selasa, 16 April 2013

You’ll Never Walk Alone, bro!!!


Mata belum juga tertutup untuk sekedar meletakan kepala dibantal lalu terbang menuju alam mimpi. Malam tadi, aku terbangun sekitar pukul 00.30 WIB tujuanku untuk membaca dan menulis. Rutinitas itu aku biasa lakukan ketika  memang merasa bahwa aku ingin menulis atau membaca. Ada kewajiban tulisan untuk kawan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) dari Yogjakarta dan sedikit menutup ending tulisan untuk refleksi Tegalboto Pos. Sampai pukul 07.00WIB semuanya baru beres. Beginilah ketika memang semangat menulis sedang tinggi-tingginya, setelah beberapa hari berada di titik nol. Kini aku ingin menulis, menceritakan tentang seorang kawan yang sering berdialektika bersamaku diruang-ruang yang lunak untuk mencurahkan segala keresahan dan kegundahan ketika melewati kehidupan ini.
Siang yang panas tetapi kami masih sangat enggan untuk menghentikan aktivitas yang menghibur itu. Aku, Ainul, Agus dan Yuri sedang tidak bisa diganggu karena kami sedang menrusuhi Libbi, kawan kami ditempat magang. Tujuannya sederhana agar dia marah, dan melatih dia sabar. Tujuan itu sebenarnya hanya kamuflase belaka. Ketika ia hampir naik pitam, Ainul dengan tampang alim yang sebenarnya adalah topeng yang paling berhasil mengelabui orang, berkata pada Libbie “bie, tujuan awak dewe ngudoi awakmu itu ben awakmu sabar. Ben ga nesuan” mimik muka persis seperti  Aa Gym ketika ceramah. Shit :P tetapi ia pun kawan yang baik dan pantas, pantas untuk di antemi.
 Mendengar ocehan Ainul, Libbie kembali tenang dan kami memulai lagi. Guyonan, ehm sepertinya  Bully-an lebih tepat. Dimulai dari apapun yang Libbie kerjakan dan katakan. Contonya ketika ia mencoba menangkis ejekanku “ah kon iku vin, dasar manusia kata-kata”sergahnya. Aku hanya membalas, “lah awakmu bi, lanang omahan” jawabku santai. Ia pun diam seribu bahasa dan semua terbahak-bahak. Kejadian itu berlangsung ketika magang. Dari semenjak 13 Maret sampa sekarang ini. Bisa dibayangkan bagaimana ia tertekan dengan guyonan sarkas kami. Libbie memang bukan orang yang sabar, ia laki-laki yang terlihat tangguh tetap nyatanya ia rapuh. Semua itu memang terjadi di beberapa waktu lalu, ketika ia belum berkumpul dengan mahasiswa-mahasiwa absurd dan begundal macam kami, termasuk  Ainul yang mantan ketua organisasi kerohanian di kampus. Kami memang ingin menjadi apa adanya, tidak ada sok keren di depan sesama kami, kecuali Libbie #kenek maneh bie.
 Setelah berselang hampir satu bulan, kita memulai kebersamaan dari pukul 08.00WIB sampai 13.00WIB, dari situ kebersamaan yang sesungghunya itu dibangun, kerapuhan diperbaiki, amarah diredam jadi kesabaran. Kini ia bukan lagi laki-laki pemalu yang beberapa semester lalu hanya untuk datang ke kampus saja harus malu-malu atau lelaki minder yang tidak bisa bersikap jika ditekan atau laki-laki yang hobinya banting HP ketika amarah membutakan logika. Ia jauh lebih baik dari yang kawan-kawan kenal sebelumnya. Bukan karena kami atau karena dia berteman dengan kami tetapi karena memang ia sudah saatnya beranjak dari titik nol. Ia tidak ingin terus menerus berada di titik nol.
 Ketika pada awal-awal magang, ia kadang marah atau ngambul, dengan tiba-tiba diam dan tak ingin bicara, ya ngambul khas ala perempuan-perempuan labil itu. Kini ia sudah jauh lebih baik. Beberapa kali kita bertukar pemikiran, mencoba lebih tenang dan elegan menghadapi suatu permasalahan. Ada banyak kata yang kuingat selain manusia kata-kata yang ia lontarkan untukku,-oh ya, manusia kata-kata yang ia maksud karena aku selalu beretorika ketika berbicara sehingga membuat orang yang mencari masalah denganku kadang dibuat kebingungan, begitu menurutnya- ia pun pernah mengatakan kalau ia merupakan orang yang ditinggal sendiri oleh kawan yang dekat dengannya selama ini ketika ia ditimpa suatu permasalahan yang menurutku itu permasalahan yang keren dan laki-laki banget, kenapa keren? Karena ia berhasil menyelesaikan masalah itu dengan diam-diam tanpa bantuan orang lain dan ia tidak gentar dengan presepsi orang lain yang memandang sebelah mata padanya. Iku jenenge koncoku!!, begitu kata libbie dan aku ingin katakan kata-kata itu padanya.
Sebulan kita bersama-sama, banyak bercerita entah itu cerita suka, duka cerita tentang kehidupan yang satire. Dari cerita-cerita itu kami saling mengenal satu sama lain. Memaknai perkawanan tidak hanya secara luas. Kini, laki-laki yang dulu aku kenal bermulut besar dan terkesan arogan ditambah individualis, kini adalah kawanku sendiri, yang sangat merendah, tenang dan tidak pemarah. Ia pun sering memberikan masukan yang memang pantas untuk didenagar, beberapa kali aku mencoba menganalisa kepribadiannya dan mengkritiknya dan beberapa kali pula ia menganalisa dang mengkritikku. Kita sama-sama saling membangun diri dalam hubungan perkawanan ini. 
Ia selalu berkata kepada kami, entah pada aku Ainul, Yuri, Agus atau Aku. “aku pingen weroh awakmu 10 tahun engkas jadi opo, jek tak ileng raimu seng megeli iku” ocehnya dengan nada kesal, sekarang ia hanya bisa mengoceh dan tersenyum. Kemarin da yang pengalaman menarik. ketika itu ada sesosok laki-laki paruh baya yang membuat Libbie di uji ketenangannya. Ia dihampiri lalu disalami oleh laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu Ayah dari mantanya Libbie, sontak saja seluruh pegawai Pemda mengetahui semuanya dan bisa dibayangkan Libbie dibuat salah tingkah dan tidak banyak bicara, lagi ia diam seribu bahasa. “lah pak, iki onok mantan mantune” itu kata-kata yang aku ingat dari ibu-ibu groupies Pemda. Kali ini ia cukup tenang meski di gojloki sekantor. Menurutnya ia lebih bersyukur karena dalam kejadian itu aku belum datang karena sedang menyelsaikan urusan di rektorat UNEJ. Aku masih beruntung untuk tidak melewatkan momen membahagiakan itu, karena laki-laki itu masih ada ketika aku sudah datang, jadi aku masih bisa “menghabisinya” ketika laki-laki itu salaman pulang dengan Libbie.
Ah ada-ada saja cerita dari Magang ini. Satu hal yang ingin aku ajak padanya. Aku ingin menegaskan padanya kalau jalanan benar-benar Indah dan penuh pengalaman. Meski ia tahu akan hal itu tetapi kadang ia enggan untuk mencoba menikmatinya. 
Kalau ada masalah, jangan pendam sendiri, bro. Karena kamu tidak akan pernah berjalan sendirian[]
Jember, 17 April 2013


0 komentar:

Posting Komentar