Minggu, 12 Mei 2013

Hikayat: aku dan kamu adalah KITA

Untuk perempuanku!
Entah kenapa 2 hari ini aku sedang gandrung untuk mengingat-ingat kembali awal pertama kita bertemu, tentunya aku hanya mengingat-ingat sendiri tanpa bercerita padamu. Tak terasa oleh ku kalau kita sudah beranjak lebih dari 1 satu dalam kebersamaan. Semenjak pertama bertemu denganmu, aku masih ingat waktu itu. Hari Rabu, 2 Mei 2012, tepatnya malam hari, kala itu aku mengajak mu untuk pertama kalinya bertatap muka setelah hampir seminggu saling mengenal melalui jejaring sosial. Sebenarnya kita sudah saling mengetahui tetapi tidak saling mengenal.

“ Hai Anggie” sapaku pertama kali. Waktu itu aku menjemputmu di kost lalu kita pergi mencari tempat makan yang enak sekalian nyaman untuk bertukar cerita. Malam itu memang tidak terlalu istimewa tetapi awal yang penting bagi hubungan kita kedepan. Aku lihat senyumu yang  manis  karena lesung pipimu. Aku pun membuatkan tulisan di Blogku “Lesung Pipi itu yang membuatku tidak bisa tidur”
.
 Sejak malam itu, kita semakin dekat. Sampai-sampai  beberapa hari kemudian tepatnya hari Jumat subuh  sekitar jam 5an, kamu datang ke UKPKM Tegal Boto. Aku belum tidur waktu itu karena malamnya aku sedang ada wawancara pengangkatan anak magang. Aku mengajakmu untuk minum kopi subuh itu. Jujur saja, pada waktu itu aku terheran-heran kenapa kamu mau-maunya mendatangiku, subuh pula. Sejak hari itulah aku semakin yakin kalau aku sedang jatuh hati padamu. kebersamaan itu semakin lama semakin menyenangkan. Aku sendiri tak pernah tahu pasti tanggal pertama aku dan kamu menyepakati untuk menjadi ‘kita’. tetapi selalu saja ada  tanda dalam hubungan ini, oleh karena itu kamu mengusulkan tanggal 3. Ehm, aku tidak teralu ambil pusing dengan itu semua.

Seiring berjalannya waktu banyak hal yang pernah kita lalui. Waktu itu tidak terlalu penting tetapi yang perlu kita ambil dari perjalanan yang beriringan dengan waktu berjalan ini adalah seberapa banyak pelajaran yang kita ambil untuk membuat kita lebih baik. Banyak hal yang membuat kita semakin menghargai arti kebersamaan. Setelah beberapa bulan akhirnya kamu tahu kalau aku masih menjalin hubungan dengan mantan pacarku, setelah sebelumnya kamu pun melakukan hal yang sama. Akhirnya kamu memutuskan untuk benar-benar memilih aku pada bulan September tetapi bulan itu aku masih tetap membagi sayangku dengan orang lain. Maafkan aku untuk kebodohanku yang satu ini.
Sampai klimaksnya, pada bulan November 2012  terjadi kejadian yang memalukan di  kampus fakultas hukum didepan matamu aku berkelahi hanya karena alasan perempuan yang bukan seharusnya lagi aku hiraukan. Sial.

Pada waktu itu, kamu baru mengetahui semuanya. Segala kebohongan yang aku sembunyikan dan segal salahku padamu. Aku pun menyadari salahku dan siap menerima segala risiko yang ada. sungguh, aku terkejut ketika kamu tidak marah dan memutuskan untuk mengakhirnya. Aku tahu kamu sungguh sangat kecewa waktu itu, aku pun sadar kalau aku pantas mendapatkan apapun dari kemungkinan yang terburuk tetepi kamu mengajariku untuk bisa memaafkan dan mengajariku untuk bisa terbuka. Kamu hanya meminta ketegasanku pada waktu itu, ingat sekali dengan suara yang bergetar tanpa meneteskan air mata (meskipun aku lihat matamu berkaca-kaca), kamu memintaku untuk mengakhiri semuanya atau kamu yang akan mengakhirinya. Kekecewaan mu memang sudah sangat bertumpuk-tumpuk tetepi ikatan kebersamaan yang kita sepakati membuatmu lebih tenang dalam bertindak.

Aku sempat kalut pada waktu itu karena masih belum menemukan keyakinan padamu.bingung memilih siapa. Karena kejadian pertengkaran ku dengan anak Akasia itu membuatku sulit untuk bertindak karena aku baru menyadari kalau aku sedang dibohongi olehnya. Aku pun sadar bahwa aku yang mempunyai andil salah padanya tetapi yang tak habis pikir kenapa kesakitan harus dibalas oleh kesakitan. Kamu tentu masih ingat waktu dimana aku sedang down, aku sering acuhkan kamu, marah tanpa alasan yang jelas.

 Lambat laun semua kebaikan yang ditanam tumbuh juga. Kamu menunjukan sayangmu padaku tidak sebatas kata-kata saja. Ketidak yakinanku pada waktu itu karena kamu terlampau egois dan individulis, ya, meskipun aku sadar akan hal itu karena memang latar belakangmu sebagai anak tunggal.  Tetapi pemahamanku pada waktu itu sifat-sifat seperti itu tidak akan baik dalam hubungan. Kamu pun selalu bilang padaku kalau sedang berusaha untuk menjadi lebih baik. Mungkin karena sebelumnya dalam hubunganku selalu diliputi oleh amarah, aku pun kadang tak bisa menahan emosi padamu. lagi-lagi, kamu mengajariku untuk menjadi lebih sabar, mengajari bukan memberi tahu secara verbal tetapi dalam tindakan. Dalam proses-proses yang diluar jangakuanku itulah aku banyak mendapatkan pelajaran, bagiamana aku harus bersikap pada perempuan, bagaimana aku harus bisa menahan emosi, bagaimana aku harus bertutur yang baik dan sopan. Hal-hal itu sebelumnya aku sempat lupakan.

Banyak hal yang sudah berubah, kita menjalin hubungan dalam kehangatan. Banyak jalanan yang pernah kita lalui bersama. Kita pernah terbakar terik padang Savana Baluran, kita pernah kedinginan di kawah Ijen, kita pernah kehujana di Banyuwangi, kita pernah tersesat pada saat menuju Rawa Cangak, kita pernah berpetualang di hutan kucur sampai menemukan petapa yang sudah 3 tahun di hutan itu, kita pernah menapak tilasi semangat Reformasi 1998 di gedung MPR RI, kita pernah minum Heineken bareng di Ciwalk, kita pernah ngopi bareng di Javaco Kopi di Bandung, kita pernah duduk santai menikmati indahnya suasana jogja, kita pernah bercumbu dalam gelapnya bus malam, dan kita terus mencari banyak cerita untuk kemudian diceritakan pada anak-anak kita dikala kita sudah benar-benar sahih membentuk  kerajaan kecil yang selama ini selalu kita impikan.

Anggie, sudah banyak yang berubah dari dirimu semenjak pertama kita bertemu, tak terasa hubungan ini terus mencari bentuk terbaiknya tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa hilang dari dirimu, manjamu. Kata-kata yang tak pernah bisa hilang dan selalu kamu ucapkan  yaitu “aku kangen kamu”. Ya, kata-kata itu sering kali kamu ucapkan meskipun sebenarnya kita sering bertemu. Anggie, anggie. Kita memang banyak perbedaan, kamu suka warna ungu sedangkan aku suka hitam, kamu tidak suka Jogja tetapi aku sangat suka Jogja, kamu suka shoping tetapi aku paling benci shoping, kamu suka makan manis sedangkan aku suka asin, dan masih banyak lainnya. kamu ingat puisi Soe Hoek Gie yang berjudul ‘sebuah tanya’ yang pernah aku kasihkan untuk mu, “kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta”.

Cinta itulah yang akhirnya melengkapi diri kita yang berbeda ini. Dengan perbedaan itu secara tidau sadar kalau kita sedang membuat kekayaan dalam hubungan. Aku baru mengerti serunya main puzle setelah kamu menang terus ketika main puzle bersamaku, aku baru mengerti enaknya buah Kiwi ketika kamu memaksaku untuk mengincipinya dan aku suka setelah sebelumnya aku tidak suka karena bentuknya yang berbulu dan aneh itu. Aku baru tahu manisnya duren setelah kamu mengajakku makan duren di Botani setelah sebelumnya aku paling tidak suka duren sama sekali. Aku dan kamu adalah kita yang terus belajar mengeja abjad-abjad kehidupan yang terus menerus membuat cerita. sekali lagi untuk kita yang akan menciptakan keindahan  di masa depan bersama benih revolusi yang aku tanam diharimmu.

Jember, 13 Mei 2013. Dikala langit berhiaskan bintang dan bulan sabit



Mempertanyakan Ulang Praktikum di Fakultas Hukum UNEJ

Oleh Gulfino Guevarrato

Hampir setiap malam kampus fakultas Hukum selalu ramai dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai angakatan. Rata-rata kepentingan mereka sama yaitu mengerjakan tugas-tugas kuliah yang bejibun, kerja kelompok atau sekedar mengisi waktu dengan browsing memanfaatkan Wifi kampus. Beberapa waktu terakhir ini fakultas Hukum memang sedang gencar-gencarnya memperbaiki diri entah itu secara fisik atau dari pondasi pendidikan. Ada yang menarik dengan perubahan dalam sistem pendidikan yang ada di fakultas Hukum yaitu dalam proses belajar yang memberikan ruang lebih banyak kepada mahasiswa untuk belajar secara perorangan (indivudually learning) dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman (learning experiencing).  Maka tak heran, mahasiswa akan lebih banyak disibukan oleh kegiatan-kegiatan akedemik diluar jam kuliah karena hampir setiap mata kuliah selalu menyepilkan praktikum yang mana pelaksanaannya biasanya diluar waktu kuliah. Praktikum idealnya semacam pengaplikasian ilmu yang telah diajarkan sehingga tak heran kampus selalu ramai seperti pasar malam.

Pelaksanaan praktikum pun ada alokasi dananya tersendiri yang tentunya diambil dari mahasiswa meskipun transaparasinya perlu dipertanyakan ulang. Ada bermacam-macam praktikum itu, salah satunyanya adalah studi banding. Namun, pelaksanaan praktikum benar-benar lepas dari hakikatnya artinya pelaksanaanya sebatas dilakukan sebatas formalitas belaka. Sering kali mahasiswa ‘diharuskan’ untuk ikut praktikum dalam bentuk studi banding. Entah itu ke Jogja, Jakarta, Malang atau Bali. Rata-rata tujuannya tempat-tempat yang menarik dan banyak tempat wisatanya. Karena harus saya akui kalau tujuan dari studi banding itu hanyalah hura-hura yang dibalut dengan tujuan akademis.

Saya pernah ikut studi banding tujuaanya MPR RI dan Mahkamah Pelalayaran. Dalam pelaksanaanya porsi untuk studi bandingnya sepertinya tidak seimbang jika dibandingkan dengan kegiatan bersenang-senangnya, seperti ke Bandung dan Jogja. Pelaksanaan studi banding sepertinya memang tidak mengenai sasaran.  Kegiatan itu bukan satu-satunya, masih banyak kegiatan-kegiatan lainnya yang menghabiskan banyak uang dalam kamuflase pendidikan tetapi sebenarnya adalah liburan. Sungguh ironis.

Kegiatan studi banding itu dijadikan semacam trend karena ada hampir di setiap mata kuliah dari tiga jurusan di fakultas Hukum. Pelaksanaan praktikum pun harus kita akui bersama luput dari sasarannya dan perlu di evaluasi ulang. Ya, saya memang harus mengakui pula pelaksanaan praktikum dalam bentuk studi banding itu memang bermanfaat, bermanfaat untuk refreshing ditengah kepenatan kegiatan kuliah tetapi kalau memang tujuannya untuk berlibur rasanya tak perlulah harus menggunakan istilah studi banding atau apalah itu yang ada dalam ruang lingkup akademis.semacam anomali lah.

Saya yakin sekali bahwa perubahan kurikulum atau perubahan sistem pendidikan yang ada di fakultas Hukum memiliki tujuan yang baik dan membangun. Saya pun jadi teringat pada Jhon Dewey, salah seorang pemikir berkebangsaan Amerika. Pemikirannya yang terkenal yaitu pendidikan progresif. Menurutnya Pendidikan bukan hanya proses pemberian pengetahuan yang bersifat statis. Keterampilan dan pengetahuan mahasiswa dari proses belajar harus diintegrasikan sepenuhnya ke dalam kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan dalam dunia nyata. Jika dihubungakn dengan praktikum kurang lebih tujuaanya tidak jauh dari situ yaitu memperoleh keterampilan melalui proses belajar yang diintergrasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kontek fakultas hukum sepertinya memang tidak jauh berbeda dengan pemikirannya Jhon Dewey yaitu mengarahkan mahasiswa untuk mencari pengalaman-pengalaman belajar karena pengalaman belajar akan berpengaruh dalam penjelajahan dan introduksi ide-ide baru yang revolusioner.
Filsafat instrumentalisme Dewey sendiri dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman yang bergerak dan bergerak kembali menuju pengalaman, untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan yang tidak menentu kearah keadaan tertentu.

Apapun itu, dalam pelaksanaan proses pendidikan yang terjadi di fakultas Hukum tujuanya jelas yaitu bagaimana menghasilkan kader-kader lulusan fakultas Hukum yang terdidik dan berguna karena Pendidikan merupakan komponen penting dalam perubahan sosial. Namun sayang sekali, hal itu kadang dilupakan oleh banyak pihak (secarta khusus civitas akademik). Pendidikan masih belum mampu untuk mempengaruhi tatanan dan perubahan sosial. Pendidikan hanya mencerminkan tatanan sosial dalam arti: siapa yang berpendidikan, ia memiliki hak prerogatif untuk mendominasi kelas ekonomi dan pendidikan dijadikan salah satu barometer status sosial.
Jika berkaca pada realita yang ada jangalah dulu kita bermuluk-muluk soal pendidikan sebagai sarana pembebasan seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire. Pendidikan sekarang ini memiliki kecenderungan mengalienasi peserta didiknya. Mahasiswa akan sangat disibukan oleh tugas, praktikum, sehingga sering kali harus melupakan realitas yang terjadi disekitanya. Tujuanya jelas, yaitu mendapatkan nilai sesempurna mungkin dan lulus cepat. Sistem pendidikan pun masih belum menemukan bentuk terbaiknnya seperti yang sudah saya ceritakan diatas. Sekali lagi, Praktikum pun akhirnya mengalieanis mahasiswa ketika memang pelaksanaanya tidak terarah.

Perlu kita ketahui kalau diluar sana, banyak sesama kita yang perlu diperjuangkan bersama. Karena dengan cara membaur dengan realita,  sesungguhnya pendidikan itu tidak akan statis karena besentuhan dengan realitas dan terus menciptakan dialektika-dialektikan baru yang akan mengedukasi kita. Sehingga istilah praktikum, studi banding abal-abal itu hanyalah omong kosong yang tidak pernah menemukan praksisnya dan tetap membiarkan kita dalam menara gading pendidikan yang sama sekali tidak mencerdaskan. oleh karena itu perlu usaha untuk mengevaluasi sistem yang katanya berpihak pada perubahan nyatanya malah terdiam dalam kebisuan.

Jumat, 10 Mei 2013

Untuk Perempuan Berlesung Pipi (bag 2)


Kali ini aku ingin menahan nafasku untuk beberapa saat lalu mengingat dirimu yang mungkin sudah terlelap.  Sudah banyak cerita yang sering diceritakan oleh angin, oleh hujan, oleh terik dan oleh kita dikala senja belum benar-benar tenggelam. Setiap hari kita bertemu muka, saling menyapa, membelai, memuji atau bahkan saling bertengkar. Kemarin kau baru saja menggigit tanganku,sakit sekali.
Kita biasa melewatkan hari dengan tidur-tiduran di kostku sambil bercerita banyak hal. Rasanya selalu ada saja cerita-cerita yang keluar dari mulut kita. Ketika memang bosan ‘ngaplo’, kadang kita memasak hal-hal yang belum pernah kita makan sampai-sampai berat badanku naik sekarang ini gara-gara kau selalu mengajakku makan. Hem, tapi itu hanya sementara lusa perutku sudah kembali rata, ndut.aih, aku sedang rindu kau, selalu rindu. Entahlah aku sendiri pun tak mempunyai alasan yang jelas.

Belakang ini aku jarang ajak kamu jalan-jalan, ehm terakhir k pulau Kucur, Puger. Kamu tahu sendiri belakangan ini aku sedang banyak kegiatan, selain itu rasanya sudah tidak ada tempat yang menarik yang belum pernah kita kunjungi. Semua pernah kamu datangi, sepertinya hampir di Kabupaten Karesdienan Besuki   kita pernah datangi. Sampai-sampai hanya untuk sekedar beli rujak saja kita cari di Rambipuji, makan pecel ke Ngarahan atau makan Ayam goreng yang sangat kita suka harus ke Banyuwangi. Oh ya, satu lagi yang aku lupa, untuk makan Mie Goreng yang kesukaan kita, kita sampai harus ke Situbondo. Hadeh, memang repot ya, tetapi itulah menariknya. Selalu ada saja ingatan-ingatan yang kita tanam lalu dipetik dikemudian hari untuk diceritakan ketika kita sudah tua nanti.

Beberapa akhir ini kau sering kali marah. Marah karena cemburu oleh orang yang ada di masa laluku. Sudahlah, jangan kau biarkan dirimu dalam kesia-siaan karena tidaklah ada alasan apapun yang sepadan untuk menginggalkanmu. Kau tau sendiri, bagaimana kualitas hubunganku dulu dengan dia dan kualitas hubunganku dengan kau. Mulai sekarang janganlah pernah takut oleh alasan-alasan yang tak beralasan itu. Ketika dia menggangu hubungan kita, biarkan saja. Aku pun enggan berurusan dengan hal-hal yang  sia-sia.
Senang sekali jika kita terus berusaha untuk saling membangun diri dan menciptakan kualitas hubungan yang positif. Terima kasih aku padamu karena telah mengajarkanku untuk menjadi sabar, setelah sebelumnya aku sangat emosional, menjadi tenang,  mengajariku mandi pagi dan berpakaian rapi, membiasakan berdoa sebelum makan, dll. aku masih ingat dan sangat senang ketika awal pertama magang, kau datang k kostku pagi sekali hanya untuk mengajari aku berpakaian rapi. Pada waktu itu, kau ajari aku sertika lalu merapihkan letak leher kemejaku yang tidak rapi. Begitu telatennya kamu, ngie. Setelah itu kau memasakan nasi goreng kesukaanku. Terima kasih sayang.

Kamu semakin hari semakin lucu, goyunan-goyunanmu kadang membuatku terpingkal-pingkal. Kita memang sering bergeje ria, tapi dari kondisi itulah aku sadar kalau kita sedang membangun ikatan kasih yang lebih baik.

Tak terasa kita sudah mengijak usia hubungan setahun lebih, masih sangat muda tentunya. Dari kebersamaan kita yang terus berlanjut ini, aku selalu berharap kalau kita saling melengkapi. Apa adanya kamu adalah pelengkap dalam hidupku. Saling menggamit lalu melangkah menemukan cakrawala kehidupan bersama. Amin..

Love U, Anggie Puspita.....
Hem, aku menulis ketika mataku sduah tak kuat untuk melek.


Selasa, 07 Mei 2013

Terlahir Untuk Menjadi Berlian



Jember selalu tak pernah ingin berhenti melahirkan karyanya melalui anak-anak muda yang mengekspresikan bakatnya, salah satunya melalui seni. Sagavo band yang bergenre Alternatif/Rock itu  berdiri sejak 21 Juni 2007 itu mencoba merilis kumpulan lagu-lagunya dalam bentuk Extended Play (EP) yang berjudul Anthem For The Glory"  pada tanggal 13 Mei 2013 di gedung Yabina, Jember. “ini merupakan EP pertama dari kami” kata Rian, salah satu personil Sagavo. “ EP ini sempat tertunda launchingya karena masalah internal kami yaitu hengkangnya Inyok sebagi penggebuk drum Sagavo” tambah Rian disela-sela obrolan ketika sedang ngopi di Cak Wang.

EP ini berisikan enam lagu, dimana lagu yang As hard As Diamond menjadi singel pertamanya. Kesan pertama dari EP ini adalah semangat, pesan sosial dan cinta yang dibahasakan dengan tidak menye-menye. Enam lagu itu akan mengajak kita sebagai pendengar untuk terus jingkrak-jingkrak dan Headbangs, Hell yeah!!.

Sebagai awalan “Anthem For Glory” dan “As hard As Diamond”  terdengar lebih gahar dengan paduan screm Jendik dan clean vokal Rian. Suara vokal Jendik yang khas dengan Screamnya itu seolah mengingatkan saya pada Danny Worsnop, vokalinya Asking Alexandria. Ehm, memang jelas berbeda tetapi ada karakter khas yang tidak jauh berbeda.  Menurut saya, kedua lagu itu sebagai pergambaran semangat Sagavo untuk tetap terus berkarya dan mewarnai dunia musik, tidak hanya di Jember tapi scene Indie secara umum, tentunya dengan karya yang orisinil. “Kita tak Akan mati” kalimat yang menurutku sama garangnya seperti kata-kata Chairil Anwar “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Saya pun sepertinya jatuh hati pada pendengaran pertama pada lagu “ As hard as diamond”, apalagi reffnya karena dalam reff itu Sagavo ‘ngotot’ untuk tetap berkomitmen agar tetap bisa eksis dengan karya-karyanya. Sesuai dengan judul lagunya As hard As Diamnond, semangat mereka  sekeras batu berlian. Oh Fu*kinDamn, Dude!haha

“sampai nanti sampai akhir
sampai ku tak bangun lagi
semua tetap berdiri (siksamu takkan berarti)
sampai nanti sampai akhir
sampai ku tak bangun lagi
semua tetap berdiri”

Lagu lainnya seperti “12 Mei 1998” yang didedikasikan untuk semangat perjuangan mahasiswa 1998, dimana dalam tragedi Trisakti itu ada empat korban yang tewas karena tertembak.
“Tak terbayangkan
jiwa melayang dan berjatuhan
oleh TEMBAKAN”
Sementara, “Cheer dan Move” dan Bangun Dan Bertahanlah” tidak banyak menampilkan perbedaan yang berarti. Keduanya tetap dengan tema semangat melawan, perjuangan dalam arti yang sangat luas. Meski dalam lirik “Bangun dan Bertahanlah” seolah ada ketidak konsistenan makna yaitu “hanya untuk bertahan, hanya untuk melawan”. Disatu sisi betahan tetapi disisi lain melawan. Ketidak sinkronan ini bisa dilihat dikalimat sebelumnya “tersadarlah bahwa perjuangan kita tak kan terhenti karena kita akan bertahan”. Saya paham maksudnya tetepi sepertinya penggunaan diksinya saja yang kurang tepat. Jadi artinya bahwa mereka melawan tetapi dengan bertahan.

Mungkin musik dari Sagavo mungkin tidak akan menjadi hits yang terdengar disetiap 10 meter ditengah keramaian. Namun musik Sagavo akan tetap bisa didengar kapanpun oleh pendengar-pendengar yang ingin mengedukasi telinganya dengan musik-musik yang bermutu. Musik Sagavo pun bukan musik yang terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan komersialisasi pasar.

Semenjak saya pertama kali mendengar Sagavo pada tanggal 12 Desember 2009 di malam inagurasi Fakulatas Hukum sampai saat ini, Sagavo telah menunjukan kematangannya sebagai band yang bergerak di jalur Indie.  Tidak saja soal musik tetapi juga perwajahan yang menjadi identias band, seperti video clip, profil band yang mulai menampakan karakternya, sepertinya mereka tidak main-main dalam bermusik.
Ya, saya yakin mereka benar-benar sedang menuju jalan panjang untuk menjadi lebih baik. “Long way To Be Better” akan terus mereka titi dengan menyingkirkan segala penghalang dan hambatan, sekali lagi untuk menjadi lebih baik dan lebih matang.
Cheers and Move!!!


Pers Mahasiswa Sebagai Ruang Dialektis

Salam Persma!!!

Sejak awal pergerakan melawan penjajah, kaum pergerakan sadar akan arti penting bacaan dalam meningkatkan kesadaran rakyat anti penindasan sekaligus meluaskan semangat perlawanan. Disinilah peran pers mulai tampak untuk membela rakyat yang terjajah dan menyatukan cita-cita bersama untuk mentang penjajahan. Kesadaran ini pun diambil Tirto Adhi Soeryo dengan mendirikan koran Medan Prijaji (1910-1912) yang bermotto: "Organ boeat bangsa jang terperenta tempat akan memboeka swaranja anak-Hindia". 
Pendikotomian pers ini dimulai pada tahun 1950an antara pers umum dan pers mahasiswa, dimana pada periode ini Indonesia memasuki fase kesinambungan sejarah perjuangan kemerdekaan dari tiga periode sejarah yakni periode Pergerakan Kebangsaan, periode Pendudukan Jepang, dan periode Revolusi Fisik 1945-1949 sampai dengan Pengakuan Kedaulatan di tahun 1950. Puncaknya kembalinya Indonesia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada masa ini juga sekaligus menandai dimulainya demokrasi parlementer, dimana kekuasaan berada ditangan partai politik. Partai politik menancapkan pengaruhnya sampai pada tataran akar rumput, salah satunya kampus dan media. Tidak sedikit partai politik yang mempunyai media sendiri atau media yang berafiliasi dengan partai politik untuk menjadi corong dari program dan propaganda partai politik, sebut saja Harian Rakyat yang pro pada PKI. Pun dengan kampus, partai politik begitu leluasa memasuki kampus, Partai Sosialis Indonesia (PSI) mendirikan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS), Partai Nasional Indonesia(PNI)  mendirikan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Masyumi mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Partai Komunis Indonesia mendirikan Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan partai-partai lain pun menancapkan kakinya di dalam kampus.

Sejarah gerakan mahasiswa terus berlanjut dari semenjak Boedi Oetomo, gerakan mulai terkonsentrai di kampus-kampus, tidak terkecuali pers. Hal itu ditandai dengan berdirinya Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada tahun 1955 tetapi berakhir para tahun 1980an karena kebijakan dari kepentingan penguasa untuk mengebiri aktifitas mahasiswa yang dijejalkan dalam sistem pendidikan dengan nama NKK/BKK. Baru pada tahun 1992 muncul kembali wadah pers mahasiswa yang bernama Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), dimana pada waktu itu tidak diperbolehkan menggunakan nama pers mahasiswa.
Waktu terus berputar, sejarah tetap ditulis dan perjuangan tidak pernah berakhir, Persma mulai tumbuh sebagai wadah pergerakan bagi mahasiswa untuk mengakutalisasikan aspirasinya melalui tulisan dan foto. Persma  lebih menekankan pada pengodokan isu-isu yang berkembang di kampus, meski tidak jarang ikut terlibat dalam proses proganda isu-isu nasional. Akibatnya pun persma dibredel karena tidak sesuai dengan kehendak penguasa waktu itu, sebut saja di Jember Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sastra UNEJ- SAS- yang pada tahun 1994 di bredel oleh dekanatnya setelah mengangkat hasil wawancara Pramoedya Ananta Toer yang mengkritik pemerintah Orde Bar dan militer.
Pada era ini meski sama-sama pers, pers umum dan pers mahasiswa mengalami perbedaan dalam segi gerakannya. Jurang pemisah itu ditandai dengan runtuhnya semangat perjuangan dan profesionalitas dari pers umum yang kini telah terinfeksi oleh pemodal sehingga sekarang ini, pers umum lebih mengedepankan penaikkan oplah serta pemberitaan yang bombastis dan tendensius. Menuju pencerahan masyarakat sepertinya harus ditanggalkan terlebih dahulu jika berbicara keuntungan. Sedangkan persma, yang terdiri dari mahasiswa masih sedikit lebih aman dari kontaminasi kepentingan para pemodal sehingga persma bisa dikatakan lebih ‘jujur dan ceplas-ceplos’ dalam memberitakan atau menganlisis suatu permasalahan, halangan paling kuat ketika tulisannya terlalu keras mengkritik mungkin sebatas rektorat atau dekanat dan tentu permasalahan klasik soal kaderisasi atau regenerasi. Kerja-kerja persma pun tidak senjelimet pers umum yang kadang diawasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. awak persma lebih banyak cangruk (berkomunal), ‘ngopi’ meski sesekali konsilidasi untuk menguatkan kinerja, kerja-kerja persma sifatnya bukan ‘berkerja’ mencari keutungan tetapi lebih pada proses belajar (nonprofit), tentu belajar secara kultural. Warung kopi menjadi tempat favorit, jika merujuk pemikiran Habermas, warung kopi merupakan salah satu ruang publik yang bebas dari kontaminasi pasar dan pemerintah, sehingga mampu menciptakan konsensus rasional. Mungkin kita akan setuju kalau tempat macam warung kopi itu merupakan salah satu ruang kontemplasi dan dialetika sekaligus meningkatkan jaringan kerja antar LPM.
Nyatanya hasil-hasil pemikiran dari awak persma yang dituangkan dalam karyanya tidak sederhana rutinitasnya. Pengerjaan media yang lebih mendalam dan terkesan hati-hati, karena mengatasnamakan proses belajar. Maka kadang analisisnya atau pemberitaanya lebih menarik dan jernih dari pers umum.  Isu-isu menarik tetapi tidak dilirik oleh pers umum karena dianggap tidak menguntungkan kadang dilahap oleh persma, sebut saja tema majalah tahun 2011 LPM Ekpresi UNY “jalan berliku sastra anak”. Di media itu dikupas habis soal peran yang siginfikan sastra anak. Namun, keberadaanya masih dianggap tidak penting. Termasuk isu-isu sensitif macam pertambangan yang dkupas habis oleh LPM Ecpose UNEJ dimajalahnya tahun 2009 soal mitos kesejahtraan pertambangan emas di Tumpang Pitu, Banyuwangi. begitu pula dengan LPM Natas, Sanatadharma yang mengktisi permasalahan pertambangan di selatan Yogyakarta. Belum lagi permasalahan isu-isu lokal kampus masing-masing yang kadang membuat pihak-pihak terkait macam rektorat atau dekanat kebakaran jenggot menanggapinya.
Kejernihan dan keseterilan dari kontaminasi-kontaminsai yang dapat merusak idealisme pers akan yang tetap dikawal oleh mahasiswa sehingga pers mahasiswa, sekali lagi meskipun mahasiswa tidak bisa dianggap sebelah mata. Persma dapat mengawal isu yang menyangkut permasalahan bersama, karena  sesungguhnya pers tidak akan pernah bisa objektif, kalaupun ada keobjektifan kita hanya satu. Yaitu keperpihakan kepada rakyat, keperpihakan kepada yang tertindas. Hal itu dituangkan dalam satu point kode etik persma. Arti penting persma, khususnya dalam ruang lingkup kampus dapat kita lihat bagaimana LPM-LPM menelurkan kader-kader berbakat, kita pernah mendengar Ahmad Wahib, Muhidin M Dahlan, Dahlan Iskhan yang merupakan jebolan dari Persma.
Ada yang sedikit membuat dahi berkerut ketika melihat perkembangan persma pada saat ini, beberapa tahun belakangan ini. Persma seolah kehilangan tajinya, lemah syahwat dalam menanggapi isu-isu yang terkait dengan keberpihakan persma kepada yang tertindas. Jangan terlalu jauh membicarakan yang tertindas, dalam hal kaderisasipun beberapa persma yang pada akhirnya harus termegap-megap melewatinya, di Jember saja ada beberapa LPM yang pada akhirnya harus mati suri meski pada akhirnya  dengan kerja sama dan ke eratan antar sesama LPM yang tergabung dalam PPMI kota Jember bisa memberikan semangat untuk tetap berproses. Kemunduran itu dikarenakan, ya salah satunya kerena perkembangan jaman. Sepertinya pun tidak adil jika menyalahkan hanya pada jaman yang terus berubah karena itu konsekuensi logis. Alasan lainnya adalah minat mahasiswa yang saat ini memang menurun tetapi pun minat pun tidak ada bisa ditunjuk sebagai biang keladi menunduran persma karena masih ada sistem pendidikan dan paradigma ketika kuliah harus lulus cepat sehingga hanya mahasiswa-mahasiswa pemberani saja yang rela meluangkan waktunya untuk memilih aktif di persma atau di organisasi lainnya, lain dari itu mahasiswa-mahasiswa yang akan menjadi skrup-skrup kapitalis yang terserap oleh kepentingan pasar lebih memilih asyik untuk kuliah lalu pulang. Ah, sepertinya pun tidak bisa menyalahkan sistem. Intinya, kemunduran gerakan dari persma memang melibatkan banyak faktor dan alasan. Sehingga kita antar sesama awak persma perlu sama-sama memikirkan bagaimana keberlangsungan proses kaderisasi yang merupakan tiang penyangga gerakan persma agar tetap terjaga, salah satunya melalui penguatan jaringan kerja antar sesama LPM, penguatan jaringan kerja ini semacam penyatuan permasalahan yang dibahas secara bersama oleh sesama LPM. Sebagai contoh bagaimana arti penting jaringan kerja, LPM Ekspresi UNY dan UKPKM Tegalboto UNEJ. Dua LPM yang berkerabat sudah cukup lama, mungkin dimulai sejak dekade 2002an. Hubungan kekerabatan itu memberikan dampak positif bagi kemanjuan intern LPM,  entah itu sharing soal narasumber, pemateri, permasalahan internal khususnya terkait kaderisasi atau sharing soal percetakan. Kekerabatan itu bahkan tidak hanya dalam tataran organisasi tetapi juga sampai ranah personal. Hubungan semacam ini yang sifatnya kultural itulah yang justru diharapkan dapat memberikan pemecahan baru terkait permasalahan di internal masing-masing organisasi.
Persma bukan sebatas ruang untuk sekedar menulis, me-lay out, atau fotografi tetapi ruang dimana kita ditempa dan terus untuk mengedukasi diri agar menjadi kader-kader bangsa yang sama berpihaknya seperti dalam kode etik persma yaitu keberpihakan pada kaum yang tertindas.[]
Tabik!!