Menjadi persoalan baru, ketika apatisme terlalu berkuasa sehingga acap kali membuang jauh-jaukepedulian atau lain dari itu, apatisme memaknai ulang atas suatu hal yang sebelumnya terpola pada pakemnya. Ya, semacam alasan pembenar saja agar menyesuaikan dengan rutinitas yang ada atau mencoba membuat hal baru seolah menjadi hispter padahal mainstream yang malu-malu sehingga mencoba membuat keunikan tersendiri meski tak beresensi. Hem. aku hanya melihatnya dari kejauhan, dibalik lubang-lubang tambang emas di Gunung Manggar, Ambulu. Di sela celah batu Gumuk yang telah luluh.
Setelah berganti wajah, berganti tubuh, berganti pandangan tetapi tetap berseragam sama, karena seragam itu masih berguna sebagai simbol (semata), aku merasakan kegusaran yang sama seperti seorang kawan lamaku, namun tak pernah bisa terjawab sampai hari ini. Persoalan itu tentang pemaknaan ulang pecinta alam, yang mana ketika dulu aku pernah aktif di organisasi pecinta alam kampus namun hanya melalui proses-proses yang membuatku terasa membentur tembok ratapan. “ada perbedaan visi dalam pemaknaan organisasi mahasiswa pecinta alam” pikirku waktu itu, namun aku hanya mendiamkannya saja. Awalnya dalam benakku, pecinta alam itu sekumpulan ‘manusia’ yang merasa memiliki kepedulian lebih kepada lingkungan, kebetulan ketika SMA aku terlibat dalam gerakan stop Global Warming. Kenapa manusianya aku beri tanda petik karena mereka manusia yang istimewa dalam arti memilih meluangkan banyak waktu, materi tenaga untuk alam, lingkungan. Intinya, kegiatan-kegiatan pecinta alam itu tidak sebatas bercumbu dalam rimba, menyelami ngarai, atau merayap diterjalnya tebing. Sekali lagi tidak sekedar itu saja. Ada rasa kepedulian yang besar kepada lingkungan sekitar, sebagai contoh terlibat dalam advokasi pelestarian lingkunga, menanam pohon dilahan kritis, atau juga terlibat dalam sosek masyarakat sekitar rimba. Nyatanya, aku hanya bertemu dengan segala macam kegiatan yang bersentuhan dengan alam bebas, bergumul dalam dingin malam, memanjangkan langkah untuk mengarungi hutan lebat atau menginjakan kaki di puncak gunung tertinggi, lain dari itu tidak. Harapanku terbentur pada kultur yang dirasa berbeda, dimana yang ditonjolkan kemampuan untuk bertahan bukan kepedulian pada lingkungan, contoh mudahnya masih sering ku lihat anggota-anggota pecinta alam yang membuang sampah dihutan, menebang pohon sembarang meskipun untuk alasan api unggun. Itu adalah contoh sederhana kalau alam hanya digunakan sebatas untuk mensahihkan identitas atas seragam dan scaf yang dikenakan “ini aku anggota organisasi pecinta alam yang telah banyak mendaki gunung, menyisiri pantai dan memanjat banyak tebing, yang menanggap setiap anggota pecinta alam adalah saudara sehingga sakit satu sakit semua, persetan dengan salah dan benarnya”. Namun kadang bisu ketika ditanya soal bagaimana peran yang harus diambil ketika Paseban akan tenggelam oleh pasang laut ketika Pasir besinya terus dikeruk atau pura-pura buta ketika melihat lubang-lubang tambang emas di Wuluhan atau tak berdaya ketika melihat keterbelakangan masyarakat sekitar rimba.
Bukan bermaksud untuk mencari nilai kebenaran atau memasung kesalahan, tidak. Aku hanya ingin berangan-angan soal pecinta alam itu harusnya bagaimana?. Meski aku bukan lagi anggota pecinta alam, meski aku hanya beberapa kali mendaki gunung.
Ketika itu, tahun 2010 untuk pertama kalinya aku mendatangi salah satu desa di kecamatan Paseban Jember yang berdekatan langsung dengan bibir pantai Paseban, dimana pasirnya begitu menyilaukan para investor tambang untuk segera melepaskan birahinya mengeksploitasi pasir besi itu. Masyarakat didesa itu jelas menolak karena memang posisi laut dan daratan lebih tinggi laut dan pasir besi itu sebagai tanggul alam yang melindungi mereka dari air laut yang pasang. Waktu itu, aku dan beberapa teman dari organisasi mahasiwa ekstra mencoba memahami permasalah yang terjadi namun apa daya, analisis lingkungan kami sangat minim sehingga kami hanya bisa berupaya dibidang lainnya yaitu penyelesaian sengketa hukum dan mendampingi masyarakat untuk meredakan konflik horizontal antar sesama, karena pada waktu itu ada semacam politik devide at impera yang dilakukan investor untuk memecah belah masyarakat. Ketika aku bertanya kepada salah seorang tokoh masyarkat “apakah ada teman-teman pecinta alam yang ikut terlibat dalam permasalahan ini, karena ini pun termasuk permasalahan lingkungan mas?” “ oh belum mas hanya teman-teman dari mahasiswa dari organisasi ekstra dari PMII dan GmnI” jawabnya. Setelah obrolan itu dan setelah hari itu aku tidak lagi memikirkannya soal ambil peran teman-teman OPA, karena kebetulan pada waktu itu aku masih menjadi anggota OPA.
Berapa tahun kemudian sejak hari itu, ketika ada semacam keresahan pasca banyaknya gumuk di Jember yang hilang akibat eksplotasi gumuk secara berlebihan, aku kembali lagi bertanya-tanya? Dimana peran kawan-kawanku ini? -Sekarang ini aku sudah bukan lagi anggota OPA, namun telah menjadi anggota Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas-. Pasca setelah terjadi angin ribut di daerah kauman, Jember kota. Aku kembali lagi merasakan keresahan karena gumuk-gumuk yang sebelumnya berfungsi sebagai pemecah angin dan meresap air kini telah beralih fungsi lahan, dari mulai pertokoan, perumahan atau rusak begitu saja. Lagi-lagi pertanyaanku tentang keberadaan pecinta alam dimana? Bukan bermaksud menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan alam pada OPA, namun setidaknya ada peran yang bisa diambil oleh masing-masing pihak bagi pelestarian lingkungan ini, khususnya di Jember.
Dalam perkembangannya, sungguh senang rasanya ketika melihat OPA dari fakultas lain yang bertindak berani untuk membeli Gumuk. Setidaknya ada angin segar kalau OPA masih peduli pada lingkungan tidak sekedar mendaki gunung lalu berpose ria yang di upload di sosial media atau atau memilih dirimba sunyi.
Sekali lagi, aku hanya ingin berandai-andai agar menjadi pecinta alam yang tidak hanya ‘sebatas’ menikamati alam. Hi kawan, cobalah tengok dengan mata kawan-kawan? Lihat pasca Semeru di angkat ke layar lebar, dengan film 5cm. Kini Semeru penuh dengan sampah. Pasar telah menjamah kesucian Mahameru, sampah berserakan dibibir danau Ranu Kumbolo, oh tidak sepanjang perjalanan dari Ranu Pane sampai Puncak Semeru. Hi, saudaraku tolong lihatlah Sempu kini berserakan oleh sampah pula. Seolah tidak keren jika tidak berkelana di alam bebas, ya sebatas agar terlihat lebih keren saja meneteng-neneteng carrier. Itulah keadaan sekarang kawan. Lingkungan telah dijual untuk kepentingan pundi-pundi.
Kali ini, saya ingin lebih intim, mencoba memberi kritik pada kawanku yang kebetulan sebagai ketua umum Organisasi Pecinta Alam kampusku. Aku teringat pada seseorang yang mendorongku untuk ‘berkunjung’ ke Semeru. Tentu, kau tau siapa idolaku itu, Soe Hok Gie. Ia seorang pecinta alam, menikmati alam namun ia tidak buta pada realitas sosial yang terjadi disekitarnya. Ia menggunakan alam sebagai tempat yang penuh kontemplatif, tempat mengasingkan diri setelah lelah bertarung dalam ruang yang nyata. Ia sosok pecinta alam yang tidak malu-malu untuk mengkritis kondisi yang menurutnya penuh dengan kemunafikan. Ia bukan orang yang anti sosial, buta pada kondisi disekitarnya.
Lalu apakah kita bisa mengambil pelajaran dari seorang Soe Hok Gie, tentunya kau pun sepakat kalau ada nilai positif yang harus dipraksiskan. Benar, apalagi kita mahasiswa fakultas hukum, yang mana selalu berdekatan dengan dogma-dogma yang kadang membuatmu malas untuk masuk kelas sehingga meminta TA pada kawanmu yang lain. Namun apakah kau tetap malas juga membiarkan keresahanmu terbiarkan begitu saja, melihat organisasi katanya kau hargai dan cintai itu hanya berisi bocah-bocah yang tidak mempunyai soul pada lingkungan, begitu kan ceracaumu di Twitter? Ada baiknya kita mencoba mengendap, membalikan kemudi dan mengangkat sauh untuk segera berlayar dalam ide yang praksis, tidak hanya sebatas retorika-retorika kosong.
Oh ya, beberapa waktu lalu aku membaca Undang-Undang 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Dimana dengan gamblang dijelaskan dalama pasal 37 tentang peran masyarakat dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna, artinya perlu ada upaya untuk memulai tidak hanya dalam kegiatan-kegiatan yang intern yang jauh dari esensi menghargai dan melestarikan lingkungan. Kita perlu membuka telinga dan mata lebar-lebar sambil menyiapkan tenaga dan suara yang lantang untuk mengepalkan tangan pada siapa saja yang mencoba untuk merusak lingkungan, mudahnya seperti itu. Sehingga generasi yang terlebih dahulu berproses, macam aku atau kamu setidaknya meninggalkan pondasi-pondasi yang kiranya akan diteruskan pada generasi selanjutnya, aku berbicara sebagai kita yang saat ini sama-sama mimpin organisasi yang mempunyai kultur besar dan berbeda dari yang lain. Alangkah tidak menyenangkannya ketika kita sadar akan keresahan yang terjadi di oganisasi yang kita pimpin namun membiarkannya begitu saja. Berkegiatan di alam bebas bukan lah menjadi tujuan yang paling utama namun seperti Soe Hok Gie, menggunakan alam sebagai tempat menyepi, kontemplasi bukan menyendiri dan anti sosial, ya pura tuli, pura bisu dan pura lugu.
Akhirnya, Kemungkinan terbesar sekarang, memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan. Sehingga setiap orang yang kita temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk kemungkinan untuk berkata tidak mungkin. Semoga obrolan melalui tulisan ini mampu mengedukasi masing-masing. Kita sama-sama berproses tetap berposes dalam jalur yang berbeda untuk bertemu pada samudra yang sama.
Salam Lestari dan Salam Persma.
Untuk saudara Se-PDAku, Fathoni “Gesper”Amsyari ketua Umum IMPA Akasia periode 2012-2013.