Kamis, 08 Agustus 2013

Kawan Baru itu Bernama Syahdu


Sepi begitu menyengat, malam ini sepi terlalu ditawarkan begitu banyak sehingga setiap jengkal langkahku selalu diikuti oleh syahdu. Tanpa bintang, langit diselimuti awan hitam, tanda hujan namun hujan tetap enggan membasahi gersang. Percuma saja aku meminta hujan, hujan tak sudi membasahi kemarau, karena aku butuh juga sejuk. Dikanan dan kiriku hanya lampu temaran yang terbuat dari bekas botol minuman berenergi. Temaran itu sengaja ditempelkan dikanan kiri jalan oleh pemuda desa untuk memeriahkan hari nan Fitri ini. Temaran sisa  takbiran malam lalu masih tetap menyala sampai 3hari kedepan, khas suasana desa yang menentramkan. Malam  begitu syahdu ditemani lantunan Dewa 19- kangen. Tepat sekali, aku memang sedang menahan gejolak rindu, “ membara menahan rasa, pertemuan kita nanti” begitu kata salah satu liriknya, seolah menyindirku dalam senyap malam ini. Aku rindu teman hidupku, Anggie. Ia teman hiudp lebih dari pacar atau apapun. Damn, I Miss You.
 
Aku memang sedang mencari sepi, bergumul dengan malam yang sepi sungguh membuat tenang. Sepi adalah kawan yang tepat untuk membawaku terbang melintang kebanyak tempat. Mengunjungi yang lalu, berimajenasi tentang yang akan datang, bersamamu. Pada saat sepi yang syahdu seperti inilah kematian terasa begitu tajam menyayat ingatan. Oh Tuhan, Engakau membawaku pada pengalaman yang menentramkan, membayangkan bagaimana nanti kematian menghampiriku, dimana aku menghadapi kematian? Diranjang empukah atau dalam alam kebebasan?, entahlah. Kematian tidak akan mengakhiri semuanya, hanya perpindahan saja. Jiwa akan tetap hidup dalam  tunas semangat baru. Begitulah siklus itu terus diceritakan.
 
Malam semakin larut, membawaku suasana kontemplatif untuk menelanjangi segala resahku, salahku.  Lalu datang pertanyaan yang juga belum aku bisa jawab dengan pasti,” kemana aku akan melangkah setelah mentari benar-benar memintaku melanjutkan langkah?”. Sebentar lagi waktu itu tiba. Aku akan lulus kuliah dan mencari kehidupan untuk melanjutkan asa dan membanggakan yang kucintai.
 
Kedekatanku dengan sunyi bukan untuk lari dari penat. Aku hanya ingin mengakrabi sunyi yang katanya mencandu itu. Terlalu muak aku dengan hingar, meski aku pun tak terlalu suka dimakan sepi. Memang ada resah, keresahan akan kebutuhan suasan yang penuh dengan kontemplasi. Sepi bagiku adalah ruang untuk lebih mengenal siapa aku, menjadi lebih jujur akan segala kebohongan di kala mentari purba menerangi. Aku suka sepi karena ada suara lembutmu memanggil-manggil namaku, aku suka sepi karena ada wajahmu meski kau tak ada disampingku, aku suka sepi karena membawaku pada kejujuran, semangat dan tentunya segala jawaban atas setaip pertanyaan yang tak terjawab.
 
Sepi adalah kawan, ya kawan untuk memperkenalkan diriku pada aku, menurutku seperti itu.
 
Malam semakin larut dan aku masih tetap tenggelam dalam syahdu, playlist terus berlanjut mendendangkan nada-nada yang menambah malam lebih syahdu, aku masih terhanyut dalam renungan malam. Hidup itu menarik ya? Aku bertemu dengan banyak cerita, teringat tentang kemenangan dan kekalahan, kebodohgan. Sepi yang syahdu ini pun seperti anti toxin , membuang segala ingatan kotor yang pernah datang mengisi buku ceritaku, meski sempat merasakan indah.

Semua tercurah dalam suatu cerita panjang yang terus akan ditulis, kini aku sedang membacanya sambil ditemani syahdu. Sudah, itu saja yang ingin kuceritakan. Seorang kawan yang bernama sepi. Bukan sepi yang menikam, bukan sepi yang katanya mencandu tapi sepi sanggup menceritakan cerita-cerita yang sempat aku tulis, namun tak sempat kubaca.

Samudra Menantimu, Kawan


Mas Asep dan AKu setelh Wisuda tahun 2013
Tentang waktu, aku memulainya dari gerakan yang begitu lambat. Bergantian dari detik ke detik berubah menjadi menit lalu jam. Jam berakumulasi menjadi hari, hari terus beranjak menjadi bulan, minggu, tahun dan seterusnya.  Dalam waktu yang bergerak banyak kisah yang diceritakan dan aku berusaha menangkapnya dalam barisan kata-kata yang membuat kelu untuk dikenang. Berawal dari perjumpaan sehingga saling berkenalan menjadi kawan berbagi lalu diantarkan oleh waktu pada perpisahan. Seolah itu hukum yang sudah pasti, sulit dielakan. Terlalu kuasa waktu mengatur semuanya, termasuk soal pertemuan dan perpisahan. Rasanya yang terakhir itu paling tidak enak untuk dilalui. Tak ubahnya seperti kemeriahan pasar malam yang tiba-tiba senyap ketika bulan dan bintangbeganti mentari. Kali ini pun aku mengalami kisah yang tidak ku sukai, tentang pertemuan dengan kawan baru lalu dihadapkan dengan kabar perpisahan.

Beberapa waktu lalu, ketika saya tak sengaja menyempatkan mampir diwarung kopi tempat biasa berkumpul untuk memuntahkan ide, bertemu dengan banyak muka dan banyak kepala yang membawa ide-ide yang menarik untuk segera di praksiskan. Malam itu aku bertemu dengan kawan, sebenarnya ia baru saja aku kenal, ia biasa aku panggil Asep, mas Asep lebih tepatnya. Nama panggilannya itu bukan nama yang sebenarnya, menurut penjelasnya, sebenarnya ia bernama Luqman Al Farid, sedangkan sebutan Asep itu karena ketika ia SMA (atau SMP) ia menjadi santri disuatu pesantren, dan Asep merupakan nama kyai yang menjadi pemimpin di pesantren tersebut sehingga sejak saat itu ia lebih dikenal dengan nama Asep daripada Luqman. Hem, jauh sekali bergantian namanya.

Perkenalan ku dengan dia diawali melalui Anggie Puspita, Anggie yang lebih dulu mengenal mas Asep karena kedekatan dalam paguyuban mahasiswa Surabaya. Awalnya tidak terlalu dekat lalu mulai saling mengenal ketika sama-sama suka ngopi diwarung kopi. Dari warung kopi itu proses dialektis tercipta, banyak cerita yang disampikan sehingga saling memperkaya pengalaman dan pengetahuan. Kebetulan mas Asep, kawan yang aku anggap cukup paham soal agama, dimana soal satu ini aku benar-benar tidak paham dan sedang berusaha untuk bisa memahami. Obrolan diwarung kopi itu benar-benar ngalor-ngidul menemukan sendiri alur dan klimaks ceritanya tanpa harus dicari-cari. Ia orang yang bersahabat dan hangat sehingga mengobrol dengannya tidak pernah terasa, sampai-sampai jarum jam sudah menunjukan angka 4 jam obrolan. Pernah ada kejadian yang membuatku benar-benar menaruh respek pada Mas Asep. Ketika itu sehabis ngopi di Cak Wang, Vespa yang aku kendarai mogok dan tidak bisa jalan lalu ia pun membantu. Pikirku hanya sebatas membantu sebatas formalitas saja, ya dikarenakan ia baru mengenalku (maaf mas, terlalu berpikiran negatif) tetapi ia benar-benar total membantu agar Vespaku yang sering ngadat-ngadatan itu segara membaik dari mulai membelikan bensin sampai akhirnya mendorong sampai di bengkel. Mungkin itu hal yang biasa tetapi ketika itu aku dan dia baru pertama kali ngopi dan ia sudah rela berusah payah untuk orang yang baru pertama kali ia kenalnya. Sejak saat itu, kita semakin banyak bercerita dan bertukar ide tentang remeh temeh tetapi bermakna.

Obrolan diwarung kopi selalu mengangkasa, meluas meski diawali dari hal kecil yang sepertinya tidak menarik tetapi selalu saja ada proses diskusi yang membuat obrolan tidak pernah terputus, begitu obrolan ku dengan kawan  baru itu. Beberapa kali aku minta ia mengajarkan ngaji, namun ide itu masih belum terealisasikan sampai pada akhirnya ia bercerita kalau ia tinggal beberap hari lagi di Jember. Sontak kabar itu membuatku terhenyak, meski ia kawan yang baru aku kenal tetapi rasanya ia kawan yang tepat untuk sharing hal-hal kecil yang menambah panjang malam diantara uap kopi yang terus mengepul. Kini, ia harus pindah karena ia sudah dihadapkan pada konsekuensi hidup “lulus menjadi mahasiswa”. Ia melalui proses itu sangat panjang, kalau tidak salah ia angkatan 2006 dan baru lulus 2013. Well. Totalitas tanpa batas.

Sekali lagi perkawanan itu tidak mengenal waktu lama atau sebentar untuk bisa sama-sama nyaman dalam berkawan. Ia termasuk kawan yang mudah beradaptasi, meski baru dikenal tetapi seolah seperti sahabat lama. Malam itu, aku menyakan alasannya kenapa kok begitu cepat harus memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Jember, ia menjelaskan kalau ia harus mengabdi kepada orang tuanya. “ aku yo kudu ngabdi karo wong tuwekku,om” jelasnya dengan logat Surabayanya yang khas. Pertemanaku dengan mas Asep begitu hangat dan bersahabat sekali.
Malam itu, keadaanya sedikit berbeda, aku lebih banyak diam seoalah tak siap harus kehilangan kawan ngopi. Namun ia berkata padaku “ jangan ucapkan selamat tinggal om, tetapi ucapkan sampai jumpa lagi”. persis seperti yang dikatakan oleh kapten Bajak laut Luffy si Topi Jerami. Benar, kawan. Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal, biarkan kita berjumpa lagi dilain waktu. Rencananya aku ingin lebih mengenal kota Surabayamu itu. Haha

Perpisahan bagiku suatu hal yang biasa namun sedikit berbeda suasanya jika aku berpisah dengan kawan baik. Beberapa bulan ini, aku bertemu dengan banyak perpisahan, dari mulai sahabat-sahabat se-anggakatanku di 2009 di fakultas Hukum, kawan se-organisasi dll. Sungguh tidak menyenangkan perpisahan itu namun aku harus menyadari kalau pertemuan dan perpisahan itu seperti dua sisi mata koin. Namun dari obrolan tadi malam aku pun disadarkan tidak pernah ada istilah perpisahan yang ada hanya pertemuan yang akan terjadi diwaktu yang akan datang.

Semoga kita benar-benar bisa bertemu lagi kawan, menghabiskan banyak obrolan ditemani kopi hangat yang terus mengepul dalam kehangatan kebersamaan. Sekali , selamat jalan dan sampaikan kabar baikmu dari tanah lamamu, Surabaya.[]



Rabu, 07 Agustus 2013

Memaknai Ulang Rimba

Menjadi persoalan baru, ketika apatisme terlalu berkuasa sehingga acap kali membuang jauh-jaukepedulian atau lain dari itu, apatisme memaknai ulang atas suatu hal yang sebelumnya terpola pada pakemnya. Ya, semacam alasan pembenar saja agar menyesuaikan dengan rutinitas yang ada atau mencoba membuat hal baru  seolah menjadi hispter padahal mainstream yang malu-malu sehingga mencoba membuat keunikan tersendiri meski tak beresensi. Hem. aku hanya melihatnya dari kejauhan, dibalik lubang-lubang tambang emas di Gunung Manggar, Ambulu. Di sela celah batu Gumuk yang telah luluh.

Setelah berganti wajah, berganti tubuh, berganti pandangan  tetapi tetap berseragam sama, karena seragam itu masih berguna sebagai simbol (semata), aku merasakan kegusaran yang sama seperti seorang kawan lamaku, namun tak pernah bisa terjawab sampai hari ini. Persoalan itu tentang pemaknaan ulang pecinta alam, yang mana ketika dulu aku pernah aktif di organisasi pecinta alam kampus namun hanya melalui proses-proses yang membuatku terasa membentur tembok ratapan. “ada perbedaan visi dalam pemaknaan organisasi mahasiswa pecinta alam” pikirku waktu itu, namun aku hanya mendiamkannya saja. Awalnya dalam benakku, pecinta alam itu sekumpulan ‘manusia’ yang merasa memiliki kepedulian lebih kepada lingkungan, kebetulan ketika SMA aku terlibat dalam gerakan stop Global Warming. Kenapa manusianya aku beri tanda petik karena mereka manusia yang istimewa dalam arti memilih meluangkan banyak waktu, materi tenaga untuk alam, lingkungan. Intinya, kegiatan-kegiatan pecinta alam itu tidak sebatas bercumbu dalam rimba, menyelami ngarai, atau merayap diterjalnya tebing. Sekali lagi tidak sekedar itu saja. Ada rasa kepedulian yang besar kepada lingkungan sekitar, sebagai contoh  terlibat dalam advokasi pelestarian lingkunga, menanam pohon dilahan kritis, atau juga terlibat dalam sosek masyarakat sekitar rimba. Nyatanya, aku hanya bertemu dengan segala macam kegiatan yang bersentuhan dengan alam bebas, bergumul dalam dingin malam, memanjangkan langkah untuk mengarungi hutan lebat atau menginjakan kaki di puncak gunung tertinggi, lain dari itu tidak. Harapanku terbentur pada kultur yang dirasa berbeda, dimana yang ditonjolkan kemampuan untuk bertahan bukan kepedulian pada lingkungan, contoh mudahnya masih sering ku lihat anggota-anggota pecinta alam yang membuang sampah dihutan, menebang pohon sembarang meskipun untuk alasan api unggun. Itu adalah contoh sederhana kalau alam hanya digunakan sebatas untuk mensahihkan identitas atas seragam dan scaf yang dikenakan “ini aku anggota organisasi pecinta alam yang telah banyak mendaki gunung, menyisiri pantai dan memanjat banyak tebing, yang menanggap setiap anggota pecinta alam adalah saudara sehingga sakit satu sakit semua, persetan dengan salah dan benarnya”. Namun kadang bisu ketika ditanya soal bagaimana peran yang harus diambil ketika Paseban akan tenggelam oleh pasang laut ketika Pasir besinya terus dikeruk atau pura-pura buta ketika melihat lubang-lubang tambang emas di Wuluhan atau tak berdaya ketika melihat keterbelakangan masyarakat sekitar rimba.
Bukan bermaksud untuk mencari nilai kebenaran atau memasung kesalahan, tidak.  Aku hanya ingin berangan-angan soal pecinta alam itu harusnya bagaimana?. Meski aku bukan lagi anggota pecinta alam, meski aku hanya beberapa kali mendaki gunung.

Ketika itu, tahun 2010 untuk pertama kalinya aku mendatangi salah satu desa di kecamatan Paseban Jember yang berdekatan langsung dengan bibir pantai Paseban, dimana pasirnya begitu menyilaukan para investor tambang untuk segera melepaskan birahinya mengeksploitasi pasir besi itu. Masyarakat didesa itu jelas menolak karena memang posisi laut dan daratan lebih tinggi laut dan pasir besi itu sebagai tanggul alam yang melindungi mereka dari air laut yang pasang. Waktu itu, aku dan beberapa teman dari organisasi mahasiwa ekstra mencoba memahami permasalah yang terjadi namun apa daya, analisis lingkungan kami sangat minim sehingga kami hanya bisa berupaya dibidang lainnya yaitu penyelesaian sengketa hukum dan mendampingi masyarakat untuk meredakan konflik horizontal antar sesama, karena pada waktu itu ada semacam politik devide at impera yang dilakukan investor untuk memecah belah masyarakat.  Ketika aku bertanya kepada salah seorang tokoh masyarkat  “apakah ada teman-teman pecinta alam yang ikut terlibat dalam permasalahan ini, karena ini pun termasuk permasalahan lingkungan mas?” “ oh belum mas hanya teman-teman dari mahasiswa dari organisasi ekstra dari PMII dan GmnI” jawabnya. Setelah obrolan itu dan setelah hari itu aku tidak lagi memikirkannya soal ambil peran teman-teman OPA, karena kebetulan pada waktu itu aku masih menjadi anggota OPA.

Berapa tahun kemudian sejak hari itu, ketika ada semacam keresahan pasca banyaknya gumuk di Jember yang hilang akibat eksplotasi gumuk secara berlebihan, aku kembali lagi bertanya-tanya? Dimana peran kawan-kawanku ini? -Sekarang ini aku sudah bukan lagi anggota OPA, namun telah menjadi anggota Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas-.  Pasca setelah terjadi angin ribut di daerah kauman, Jember kota. Aku kembali lagi merasakan keresahan karena gumuk-gumuk yang sebelumnya berfungsi sebagai pemecah angin dan meresap air kini telah beralih fungsi lahan, dari mulai pertokoan, perumahan atau rusak begitu saja. Lagi-lagi pertanyaanku tentang keberadaan pecinta alam dimana? Bukan bermaksud menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan alam pada OPA, namun setidaknya ada peran yang bisa diambil oleh masing-masing pihak bagi pelestarian lingkungan ini, khususnya di Jember.
 
Dalam perkembangannya, sungguh senang rasanya ketika melihat OPA dari fakultas lain yang bertindak berani untuk membeli Gumuk. Setidaknya ada angin segar kalau OPA masih peduli pada lingkungan tidak sekedar mendaki gunung lalu berpose ria yang di upload di sosial media atau atau memilih dirimba sunyi.

Sekali lagi, aku hanya ingin berandai-andai agar menjadi pecinta alam yang tidak hanya ‘sebatas’ menikamati alam. Hi kawan, cobalah tengok dengan mata kawan-kawan? Lihat pasca Semeru di angkat ke layar lebar, dengan film 5cm. Kini Semeru penuh dengan sampah. Pasar telah menjamah kesucian Mahameru, sampah berserakan dibibir danau Ranu Kumbolo, oh tidak sepanjang perjalanan dari Ranu Pane sampai Puncak Semeru. Hi, saudaraku tolong lihatlah Sempu kini berserakan oleh sampah pula. Seolah tidak keren jika tidak berkelana di alam bebas, ya sebatas agar terlihat lebih keren saja meneteng-neneteng carrier. Itulah keadaan sekarang kawan. Lingkungan telah dijual untuk kepentingan pundi-pundi. 

Kali ini, saya ingin lebih intim, mencoba memberi kritik pada kawanku yang kebetulan sebagai ketua umum Organisasi Pecinta Alam kampusku. Aku teringat pada seseorang yang mendorongku untuk ‘berkunjung’ ke Semeru. Tentu, kau tau siapa idolaku itu, Soe Hok Gie. Ia seorang pecinta alam, menikmati alam namun ia tidak buta pada realitas sosial yang terjadi disekitarnya. Ia menggunakan alam sebagai tempat yang penuh kontemplatif, tempat mengasingkan diri setelah lelah bertarung dalam ruang yang nyata. Ia sosok pecinta alam yang tidak malu-malu untuk mengkritis kondisi yang menurutnya penuh dengan kemunafikan. Ia bukan orang yang anti sosial, buta pada kondisi disekitarnya.

Lalu apakah kita bisa mengambil pelajaran dari  seorang Soe Hok Gie, tentunya kau pun sepakat kalau ada nilai positif yang harus dipraksiskan. Benar, apalagi kita mahasiswa fakultas hukum, yang mana selalu berdekatan dengan dogma-dogma yang kadang membuatmu malas untuk masuk kelas sehingga meminta TA pada kawanmu yang lain. Namun apakah kau tetap malas juga membiarkan keresahanmu terbiarkan begitu saja, melihat organisasi katanya kau hargai dan cintai itu hanya berisi bocah-bocah yang tidak mempunyai soul pada lingkungan, begitu kan ceracaumu di Twitter? Ada baiknya kita mencoba mengendap, membalikan kemudi dan mengangkat sauh untuk segera berlayar dalam ide yang praksis, tidak hanya sebatas retorika-retorika kosong.

Oh ya, beberapa waktu lalu aku membaca Undang-Undang 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Dimana dengan gamblang dijelaskan dalama pasal 37 tentang peran masyarakat dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna, artinya perlu ada upaya untuk memulai tidak hanya dalam kegiatan-kegiatan yang intern yang jauh dari esensi menghargai dan melestarikan lingkungan. Kita perlu membuka telinga dan mata lebar-lebar sambil menyiapkan tenaga dan suara yang lantang untuk mengepalkan tangan pada siapa saja yang mencoba untuk merusak lingkungan, mudahnya seperti itu. Sehingga generasi yang terlebih dahulu berproses, macam aku atau kamu setidaknya meninggalkan pondasi-pondasi yang kiranya akan diteruskan pada generasi selanjutnya, aku berbicara sebagai kita yang saat ini sama-sama mimpin organisasi yang mempunyai kultur besar dan berbeda dari yang lain. Alangkah tidak menyenangkannya ketika kita sadar akan keresahan yang terjadi di oganisasi yang kita pimpin namun membiarkannya begitu saja. Berkegiatan di alam bebas bukan lah menjadi tujuan yang paling utama namun seperti Soe Hok Gie, menggunakan alam sebagai tempat menyepi, kontemplasi bukan menyendiri dan anti sosial, ya pura tuli, pura bisu dan pura lugu.

Akhirnya, Kemungkinan terbesar sekarang, memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan. Sehingga setiap orang yang kita temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk kemungkinan untuk berkata tidak mungkin. Semoga obrolan melalui tulisan ini mampu mengedukasi masing-masing. Kita sama-sama berproses tetap berposes dalam jalur yang berbeda untuk bertemu pada samudra yang sama.
Salam Lestari dan Salam Persma.

Untuk saudara Se-PDAku,  Fathoni “Gesper”Amsyari ketua Umum IMPA Akasia periode 2012-2013.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Kapitalisasi Ritus Suci

Senyap itu perlahan hadir. Merasuk melalui celah-celah ventalisi bersama dengan dingin yang menusuk tulang. Malam ini H-4, Jember sudah mulai terasa senyap ditinggal para penghuninya, khusus hanya didaerah kampus. Para penghuninya yang mayoritas mahasiswa sudah banyak yang kembali di rumahnya masing-masing menikmati hari besar bersama keluarga, menyatap sepiring Opor ayam dan kupat, mengenakan baju baru  sambil mengobrol santai dengan sanak keluarga yang juga sama berkumpul untuk bersilaturahmi, seolah semuanya terasa kekeluargaan. Ya, mudah-mudahan seperti, kehangatan yang tidak hanya dipertemukan dalam sebatas momen.  Sedangkan saya masih tetap bertahan dalam ruangan sepi, sekertariat UKPKM Tegalboto bersama kawan-kawan yang juga memilih untuk pulang mendekati hari H lebaran.  Saya sengaja tidak mudik lebaran ini. Saya ingin benar-benar merasakan keheningan lebaran jauh dari hiruk pikuk keramaian yang saya merasa itu semua sebatas kesemuan.

Ketika Idul Fitri dimaknai sebagai hari kemenangan, hari dimana Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Bulan Ramadhan merupakan bulan khusus yang dikhususkan Allah untuk Umat Islam. Di bulan ini terdapat maghfirah, rahmah dan itqun minan nar. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi sarana umat manusia untuk memohon dan meminta pengampunan dari Allah dengan jalan melaksanakan ibadah puasa dan shalat tarawih. Sebagaimana hadis Rasul:

(Dari Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Faudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan kepercayaan bahwa perintah puasa itu dari Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya).

Keheningan adalah pilihan yang tepat bagi saya tanpa kue lebaran, baju baru, atau apapun yang menjadi simbol kebaruan, kebaruan yang materialistik. Idul Fitri yang katanya sebagai momen kemenangan ditanggapi salah kaprah, berpuasa yang katanya menahan nafsu seolah tak berbekas ketika Idul Fitri atau pasca dari itu. Setelahnya semua berlomba berburu hasrat kebendaanya. maka menjadi sah ketika saya harus mengatakan Idul Fitri tak lebih dari acara seremonial yang identik dengan unjuk kuasa materi. Repetisi pesan audio visual terlanjur menyihir alam kesadaran (subconscious) sehingga menyebabkan gangguan kejiwaan (neurosis) dengan laku konsumtif. Mengacu pada terminologi puasa (shaum) yang berarti menahan, semestinya ramadhan membuat kita kian mampu mengendalikan diri, nyatanya itu lagi-lagi sebatas omong kosong. Bukan soal ide ajarannya namun penangkapan atas pesan puasa yang tidak tersampaikan, bukan pula karena saya sudah merasa menjalankan bulan puasa dengan baik sesuai keinginan Tuhan, masih terlalu jauh untuk itu.  Keresahan yang tak terjawab itu ketika Idul Fitri ini dimaknai sebatas ritus suci yang sebatas seremonial belaka, seperti yang sudah saya katakan diawal, makan opor, ketawa ketiwi, menjadi etalase kapitalis dengan barang-barang terbaru, bermaaf-maaf yang palsu, atau mungkin tangisan-tangisan yang mainstream. Karena tidak afdol jika tidak berderai air mata. Suasananya pun tak lebih dari 3 hari. Lalu saya bertanya-tanya, namun pertanyaanku selalu membentur dinding ketidak tahuan. “ lalu untuk apa kita merayakan Bulan Ramadhan yang 3 hari itu? Ketika memang ritus suci itu sebatas manifestasi dari kapitalisme yang berganti wajah atau sebatas formalitas belaka?” atau “ apa dengan membeli baju baru, menghabiskan banyak uang, makan-makan, dll itu simbol dari kemenangan?”. Mungkin aku terlalu dangkal memaknainya, namun sudah cukup lama aku tidak merasakan kekhusyukan meraih kemenangan itu. Tak ada kebaharuan ruhiyah pasca Ramadhan akibat terlalu fokus ‘beribadah’ di mall, supermarket, dan pusat-pusat perbelajaan lainnya.

Sudah 4tahun aku merasakan kehampaan di Bulan Ramadhan, semenjak Eyangku di Garut meninggal. Ketika kami keluarga besar berkumpul –sekali lagi- semua itu sebatas formalitas yang terkesan dipaksakan, kekeluargaan yang tidak hangat, kebaruan yang tidak menarik, selebihnya hanyalah ritus kosong yang tak pernah saya rasakan esensi kesuciannya, kemenangannya. Aih, Lebaran lebih baik dalam sunyi, karena semenjak itu atau mungkin lebih lama lagi, saya terjebak pada kapitalisasi ritus yang menjauhkan dari esensi Idul Fitri. Seolah tak ikut berlebaran jika tanpa hal-hal yang baru.

Kini saya hanya ingin mencari kekhusyukan dari hari kemenangan yang akan datang di 4 hari lagi meski tanpa kemeriahan tanpa kemegahan, meski tanpa kehangatan Mamah, Ayah dan adik-adik. Memang berkumpul dengan keluarga itu indah, namun aku ingin memprotes diriku sendiri, menghukum diriku sendiri yang terlampau terlarut dalam kekosongan hari suci itu.
Selamat Lebaran untuk saudaraku, kawanku dan semuanya! 

*UKPKM TEGALBOTO, di kala Subuh yg berwajah senyap

Jumat, 02 Agustus 2013

Tentang Mu: aku ceritakan Kelahiranmu



Siang itu, mentari terasa begitu menyengat. Namun kehangatan yang berbeda terasa di Rumah Sakit Harapan Kita. Kurang 1 menit untuk menggenapkan menuju jam 12 siang, seorang anak perempuan lucu dilahirkan melengkapi kehangatan keluarga yang telah menantinya 2tahun lamanya, Selasa tanggal 3 Agustus 1993 Anggie Puspita Chris Agata untuk pertama kalinya meneriakan suaranya keras-keras seolah ingin menunjukan pada dunia seorang dara jelita telah dilharikan ke bumi ini. Hari itu aku tidak ada disana karena aku masih belajar untuk bisa berlari. Aku tidak tahu tentang hari itu. Aku hanya menerka-nerka saja.

Hari itu sudah berganti, berganti rupa, berganti warna dan melewati labirin kehidupan yang terus berlanjut yang akhirnya membawa ia sampai pada hari yang sudah terasa. Jika ditengok kembali sudah 20 tahun ia menghirup udara dunia ini. Bersama cerita-cerita dari mulai kisah pilu, bahagia, riang semua mewarnai hari-harinya yang sendiri. Ia menjadi satu-satunya yang menemani Ayah dan Ibunya.

Kini, ia bukan lagi perempuan kecil yang pendiam, perempuan kecil yang menangis ketika dilarang untuk bermain air hujan, ia bukan lagi perempuan kecil yang menyebut pesawat dengan sebutan “wat..wat.” atau dengan polosnya meminta uang ke mesin ATM. Kini ia perempuan jelita yang banyak menemani hari-hariku. Ia perempuan manis yang sudah menginjak usia 20 tahun, meski aku tahu dia sungguh enggan menerima kenyataan kalau ia sudah beranjak dari hari ke hari untuk sampai pada usianya yang ke-20.  


Tak sempat kita menikmati bergantinya malam menyambut hikayat kelahiranmu. Kita tak sempat melewatkan itu kembali. Aku pun tidak sempat membalas kecup hangatmu ketika kau menyambut keliharanku dalam tatapan mata pertama setelah terlelap. Aku pun tak sempat menyelipkan setangkai bunga diteralis kamarmu untuk sekedar menyelamatimu, aku pun tak sempat membawakan sepaket kue tart sebagai penanda hari ulang tahunmu. Bukan aku enggan, sayang. Namun biarkan beberapa baris kata ini mewakili keinginanku untuk tetap tidak membiarkan kehangatan kelahiranmu itu bias begitu saja.

“Selamat ulang Tahun, sayang”. Sekedar kata yang ingin ku sampaikan padamu dibarengi beribu doa untuk menyambut hari baru menjadi lebih berwarna dan lebih baik. Tentunya melewati hari bersama aku, dengan membawa pada banyak cerita dan petualangan lalu membiarkannya terkenang dikala kita sudah saling memutih.

Selamat Ulang tahun, mbul. Semoga segala kebaikan menyertaimu dihari-hari yang akan semakin berat dan menantang. Bersama tangan kita yang saling menggamil mensahihkan kebersamaan yang menjadi mimpi manis.
I Love You sayang. Happy Birthday Puspita!