Kamis, 08 Agustus 2013

Kawan Baru itu Bernama Syahdu


Sepi begitu menyengat, malam ini sepi terlalu ditawarkan begitu banyak sehingga setiap jengkal langkahku selalu diikuti oleh syahdu. Tanpa bintang, langit diselimuti awan hitam, tanda hujan namun hujan tetap enggan membasahi gersang. Percuma saja aku meminta hujan, hujan tak sudi membasahi kemarau, karena aku butuh juga sejuk. Dikanan dan kiriku hanya lampu temaran yang terbuat dari bekas botol minuman berenergi. Temaran itu sengaja ditempelkan dikanan kiri jalan oleh pemuda desa untuk memeriahkan hari nan Fitri ini. Temaran sisa  takbiran malam lalu masih tetap menyala sampai 3hari kedepan, khas suasana desa yang menentramkan. Malam  begitu syahdu ditemani lantunan Dewa 19- kangen. Tepat sekali, aku memang sedang menahan gejolak rindu, “ membara menahan rasa, pertemuan kita nanti” begitu kata salah satu liriknya, seolah menyindirku dalam senyap malam ini. Aku rindu teman hidupku, Anggie. Ia teman hiudp lebih dari pacar atau apapun. Damn, I Miss You.
 
Aku memang sedang mencari sepi, bergumul dengan malam yang sepi sungguh membuat tenang. Sepi adalah kawan yang tepat untuk membawaku terbang melintang kebanyak tempat. Mengunjungi yang lalu, berimajenasi tentang yang akan datang, bersamamu. Pada saat sepi yang syahdu seperti inilah kematian terasa begitu tajam menyayat ingatan. Oh Tuhan, Engakau membawaku pada pengalaman yang menentramkan, membayangkan bagaimana nanti kematian menghampiriku, dimana aku menghadapi kematian? Diranjang empukah atau dalam alam kebebasan?, entahlah. Kematian tidak akan mengakhiri semuanya, hanya perpindahan saja. Jiwa akan tetap hidup dalam  tunas semangat baru. Begitulah siklus itu terus diceritakan.
 
Malam semakin larut, membawaku suasana kontemplatif untuk menelanjangi segala resahku, salahku.  Lalu datang pertanyaan yang juga belum aku bisa jawab dengan pasti,” kemana aku akan melangkah setelah mentari benar-benar memintaku melanjutkan langkah?”. Sebentar lagi waktu itu tiba. Aku akan lulus kuliah dan mencari kehidupan untuk melanjutkan asa dan membanggakan yang kucintai.
 
Kedekatanku dengan sunyi bukan untuk lari dari penat. Aku hanya ingin mengakrabi sunyi yang katanya mencandu itu. Terlalu muak aku dengan hingar, meski aku pun tak terlalu suka dimakan sepi. Memang ada resah, keresahan akan kebutuhan suasan yang penuh dengan kontemplasi. Sepi bagiku adalah ruang untuk lebih mengenal siapa aku, menjadi lebih jujur akan segala kebohongan di kala mentari purba menerangi. Aku suka sepi karena ada suara lembutmu memanggil-manggil namaku, aku suka sepi karena ada wajahmu meski kau tak ada disampingku, aku suka sepi karena membawaku pada kejujuran, semangat dan tentunya segala jawaban atas setaip pertanyaan yang tak terjawab.
 
Sepi adalah kawan, ya kawan untuk memperkenalkan diriku pada aku, menurutku seperti itu.
 
Malam semakin larut dan aku masih tetap tenggelam dalam syahdu, playlist terus berlanjut mendendangkan nada-nada yang menambah malam lebih syahdu, aku masih terhanyut dalam renungan malam. Hidup itu menarik ya? Aku bertemu dengan banyak cerita, teringat tentang kemenangan dan kekalahan, kebodohgan. Sepi yang syahdu ini pun seperti anti toxin , membuang segala ingatan kotor yang pernah datang mengisi buku ceritaku, meski sempat merasakan indah.

Semua tercurah dalam suatu cerita panjang yang terus akan ditulis, kini aku sedang membacanya sambil ditemani syahdu. Sudah, itu saja yang ingin kuceritakan. Seorang kawan yang bernama sepi. Bukan sepi yang menikam, bukan sepi yang katanya mencandu tapi sepi sanggup menceritakan cerita-cerita yang sempat aku tulis, namun tak sempat kubaca.

0 komentar:

Posting Komentar