Senyap itu perlahan hadir. Merasuk melalui celah-celah ventalisi bersama dengan dingin yang menusuk tulang. Malam ini H-4, Jember sudah mulai terasa senyap ditinggal para penghuninya, khusus hanya didaerah kampus. Para penghuninya yang mayoritas mahasiswa sudah banyak yang kembali di rumahnya masing-masing menikmati hari besar bersama keluarga, menyatap sepiring Opor ayam dan kupat, mengenakan baju baru sambil mengobrol santai dengan sanak keluarga yang juga sama berkumpul untuk bersilaturahmi, seolah semuanya terasa kekeluargaan. Ya, mudah-mudahan seperti, kehangatan yang tidak hanya dipertemukan dalam sebatas momen. Sedangkan saya masih tetap bertahan dalam ruangan sepi, sekertariat UKPKM Tegalboto bersama kawan-kawan yang juga memilih untuk pulang mendekati hari H lebaran. Saya sengaja tidak mudik lebaran ini. Saya ingin benar-benar merasakan keheningan lebaran jauh dari hiruk pikuk keramaian yang saya merasa itu semua sebatas kesemuan.
Ketika Idul Fitri dimaknai sebagai hari kemenangan, hari dimana Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Bulan Ramadhan merupakan bulan khusus yang dikhususkan Allah untuk Umat Islam. Di bulan ini terdapat maghfirah, rahmah dan itqun minan nar. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi sarana umat manusia untuk memohon dan meminta pengampunan dari Allah dengan jalan melaksanakan ibadah puasa dan shalat tarawih. Sebagaimana hadis Rasul:
(Dari Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Faudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan kepercayaan bahwa perintah puasa itu dari Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya).
Keheningan adalah pilihan yang tepat bagi saya tanpa kue lebaran, baju baru, atau apapun yang menjadi simbol kebaruan, kebaruan yang materialistik. Idul Fitri yang katanya sebagai momen kemenangan ditanggapi salah kaprah, berpuasa yang katanya menahan nafsu seolah tak berbekas ketika Idul Fitri atau pasca dari itu. Setelahnya semua berlomba berburu hasrat kebendaanya. maka menjadi sah ketika saya harus mengatakan Idul Fitri tak lebih dari acara seremonial yang identik dengan unjuk kuasa materi. Repetisi pesan audio visual terlanjur menyihir alam kesadaran (subconscious) sehingga menyebabkan gangguan kejiwaan (neurosis) dengan laku konsumtif. Mengacu pada terminologi puasa (shaum) yang berarti menahan, semestinya ramadhan membuat kita kian mampu mengendalikan diri, nyatanya itu lagi-lagi sebatas omong kosong. Bukan soal ide ajarannya namun penangkapan atas pesan puasa yang tidak tersampaikan, bukan pula karena saya sudah merasa menjalankan bulan puasa dengan baik sesuai keinginan Tuhan, masih terlalu jauh untuk itu. Keresahan yang tak terjawab itu ketika Idul Fitri ini dimaknai sebatas ritus suci yang sebatas seremonial belaka, seperti yang sudah saya katakan diawal, makan opor, ketawa ketiwi, menjadi etalase kapitalis dengan barang-barang terbaru, bermaaf-maaf yang palsu, atau mungkin tangisan-tangisan yang mainstream. Karena tidak afdol jika tidak berderai air mata. Suasananya pun tak lebih dari 3 hari. Lalu saya bertanya-tanya, namun pertanyaanku selalu membentur dinding ketidak tahuan. “ lalu untuk apa kita merayakan Bulan Ramadhan yang 3 hari itu? Ketika memang ritus suci itu sebatas manifestasi dari kapitalisme yang berganti wajah atau sebatas formalitas belaka?” atau “ apa dengan membeli baju baru, menghabiskan banyak uang, makan-makan, dll itu simbol dari kemenangan?”. Mungkin aku terlalu dangkal memaknainya, namun sudah cukup lama aku tidak merasakan kekhusyukan meraih kemenangan itu. Tak ada kebaharuan ruhiyah pasca Ramadhan akibat terlalu fokus ‘beribadah’ di mall, supermarket, dan pusat-pusat perbelajaan lainnya.
Sudah 4tahun aku merasakan kehampaan di Bulan Ramadhan, semenjak Eyangku di Garut meninggal. Ketika kami keluarga besar berkumpul –sekali lagi- semua itu sebatas formalitas yang terkesan dipaksakan, kekeluargaan yang tidak hangat, kebaruan yang tidak menarik, selebihnya hanyalah ritus kosong yang tak pernah saya rasakan esensi kesuciannya, kemenangannya. Aih, Lebaran lebih baik dalam sunyi, karena semenjak itu atau mungkin lebih lama lagi, saya terjebak pada kapitalisasi ritus yang menjauhkan dari esensi Idul Fitri. Seolah tak ikut berlebaran jika tanpa hal-hal yang baru.
Kini saya hanya ingin mencari kekhusyukan dari hari kemenangan yang akan datang di 4 hari lagi meski tanpa kemeriahan tanpa kemegahan, meski tanpa kehangatan Mamah, Ayah dan adik-adik. Memang berkumpul dengan keluarga itu indah, namun aku ingin memprotes diriku sendiri, menghukum diriku sendiri yang terlampau terlarut dalam kekosongan hari suci itu.
Selamat Lebaran untuk saudaraku, kawanku dan semuanya!
*UKPKM TEGALBOTO, di kala Subuh yg berwajah senyap






0 komentar:
Posting Komentar