Kamis, 08 Agustus 2013

Samudra Menantimu, Kawan


Mas Asep dan AKu setelh Wisuda tahun 2013
Tentang waktu, aku memulainya dari gerakan yang begitu lambat. Bergantian dari detik ke detik berubah menjadi menit lalu jam. Jam berakumulasi menjadi hari, hari terus beranjak menjadi bulan, minggu, tahun dan seterusnya.  Dalam waktu yang bergerak banyak kisah yang diceritakan dan aku berusaha menangkapnya dalam barisan kata-kata yang membuat kelu untuk dikenang. Berawal dari perjumpaan sehingga saling berkenalan menjadi kawan berbagi lalu diantarkan oleh waktu pada perpisahan. Seolah itu hukum yang sudah pasti, sulit dielakan. Terlalu kuasa waktu mengatur semuanya, termasuk soal pertemuan dan perpisahan. Rasanya yang terakhir itu paling tidak enak untuk dilalui. Tak ubahnya seperti kemeriahan pasar malam yang tiba-tiba senyap ketika bulan dan bintangbeganti mentari. Kali ini pun aku mengalami kisah yang tidak ku sukai, tentang pertemuan dengan kawan baru lalu dihadapkan dengan kabar perpisahan.

Beberapa waktu lalu, ketika saya tak sengaja menyempatkan mampir diwarung kopi tempat biasa berkumpul untuk memuntahkan ide, bertemu dengan banyak muka dan banyak kepala yang membawa ide-ide yang menarik untuk segera di praksiskan. Malam itu aku bertemu dengan kawan, sebenarnya ia baru saja aku kenal, ia biasa aku panggil Asep, mas Asep lebih tepatnya. Nama panggilannya itu bukan nama yang sebenarnya, menurut penjelasnya, sebenarnya ia bernama Luqman Al Farid, sedangkan sebutan Asep itu karena ketika ia SMA (atau SMP) ia menjadi santri disuatu pesantren, dan Asep merupakan nama kyai yang menjadi pemimpin di pesantren tersebut sehingga sejak saat itu ia lebih dikenal dengan nama Asep daripada Luqman. Hem, jauh sekali bergantian namanya.

Perkenalan ku dengan dia diawali melalui Anggie Puspita, Anggie yang lebih dulu mengenal mas Asep karena kedekatan dalam paguyuban mahasiswa Surabaya. Awalnya tidak terlalu dekat lalu mulai saling mengenal ketika sama-sama suka ngopi diwarung kopi. Dari warung kopi itu proses dialektis tercipta, banyak cerita yang disampikan sehingga saling memperkaya pengalaman dan pengetahuan. Kebetulan mas Asep, kawan yang aku anggap cukup paham soal agama, dimana soal satu ini aku benar-benar tidak paham dan sedang berusaha untuk bisa memahami. Obrolan diwarung kopi itu benar-benar ngalor-ngidul menemukan sendiri alur dan klimaks ceritanya tanpa harus dicari-cari. Ia orang yang bersahabat dan hangat sehingga mengobrol dengannya tidak pernah terasa, sampai-sampai jarum jam sudah menunjukan angka 4 jam obrolan. Pernah ada kejadian yang membuatku benar-benar menaruh respek pada Mas Asep. Ketika itu sehabis ngopi di Cak Wang, Vespa yang aku kendarai mogok dan tidak bisa jalan lalu ia pun membantu. Pikirku hanya sebatas membantu sebatas formalitas saja, ya dikarenakan ia baru mengenalku (maaf mas, terlalu berpikiran negatif) tetapi ia benar-benar total membantu agar Vespaku yang sering ngadat-ngadatan itu segara membaik dari mulai membelikan bensin sampai akhirnya mendorong sampai di bengkel. Mungkin itu hal yang biasa tetapi ketika itu aku dan dia baru pertama kali ngopi dan ia sudah rela berusah payah untuk orang yang baru pertama kali ia kenalnya. Sejak saat itu, kita semakin banyak bercerita dan bertukar ide tentang remeh temeh tetapi bermakna.

Obrolan diwarung kopi selalu mengangkasa, meluas meski diawali dari hal kecil yang sepertinya tidak menarik tetapi selalu saja ada proses diskusi yang membuat obrolan tidak pernah terputus, begitu obrolan ku dengan kawan  baru itu. Beberapa kali aku minta ia mengajarkan ngaji, namun ide itu masih belum terealisasikan sampai pada akhirnya ia bercerita kalau ia tinggal beberap hari lagi di Jember. Sontak kabar itu membuatku terhenyak, meski ia kawan yang baru aku kenal tetapi rasanya ia kawan yang tepat untuk sharing hal-hal kecil yang menambah panjang malam diantara uap kopi yang terus mengepul. Kini, ia harus pindah karena ia sudah dihadapkan pada konsekuensi hidup “lulus menjadi mahasiswa”. Ia melalui proses itu sangat panjang, kalau tidak salah ia angkatan 2006 dan baru lulus 2013. Well. Totalitas tanpa batas.

Sekali lagi perkawanan itu tidak mengenal waktu lama atau sebentar untuk bisa sama-sama nyaman dalam berkawan. Ia termasuk kawan yang mudah beradaptasi, meski baru dikenal tetapi seolah seperti sahabat lama. Malam itu, aku menyakan alasannya kenapa kok begitu cepat harus memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Jember, ia menjelaskan kalau ia harus mengabdi kepada orang tuanya. “ aku yo kudu ngabdi karo wong tuwekku,om” jelasnya dengan logat Surabayanya yang khas. Pertemanaku dengan mas Asep begitu hangat dan bersahabat sekali.
Malam itu, keadaanya sedikit berbeda, aku lebih banyak diam seoalah tak siap harus kehilangan kawan ngopi. Namun ia berkata padaku “ jangan ucapkan selamat tinggal om, tetapi ucapkan sampai jumpa lagi”. persis seperti yang dikatakan oleh kapten Bajak laut Luffy si Topi Jerami. Benar, kawan. Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal, biarkan kita berjumpa lagi dilain waktu. Rencananya aku ingin lebih mengenal kota Surabayamu itu. Haha

Perpisahan bagiku suatu hal yang biasa namun sedikit berbeda suasanya jika aku berpisah dengan kawan baik. Beberapa bulan ini, aku bertemu dengan banyak perpisahan, dari mulai sahabat-sahabat se-anggakatanku di 2009 di fakultas Hukum, kawan se-organisasi dll. Sungguh tidak menyenangkan perpisahan itu namun aku harus menyadari kalau pertemuan dan perpisahan itu seperti dua sisi mata koin. Namun dari obrolan tadi malam aku pun disadarkan tidak pernah ada istilah perpisahan yang ada hanya pertemuan yang akan terjadi diwaktu yang akan datang.

Semoga kita benar-benar bisa bertemu lagi kawan, menghabiskan banyak obrolan ditemani kopi hangat yang terus mengepul dalam kehangatan kebersamaan. Sekali , selamat jalan dan sampaikan kabar baikmu dari tanah lamamu, Surabaya.[]



0 komentar:

Posting Komentar