Sabtu, 08 Maret 2014

Kemana AKU, diriku?

Aku melihat diriku..
Diantara pena yang meleleh terbakar terik revolusi
Aku menemukan diriku
Bersama tumpukan-tumpakan ingatan yang larut dicerca hujan
Aku mencari diriku diantara air mata yang tergenang dalam keresahan
Tapi aku tak menemukan AKU?
Aku terus mencari AKU
Diantara jalanan yang menjadi saksi peluh kemenangan
Tapi aku menjadi asing pada diriku
akhirnya
Ada AKU diantara kertas-kertas lusuh tanda cinta yang tak sempat kau baca
Ada AKU diantara bunga kering yang kau buang ditempat sampah
Tapi diriku tak mengenal AKU lagi
diriku mencari AKU setelah malam mencurinya dari ku
ku menemukannya meski aku asing padaku
menyisakan kenangan lalat yang rindu pada luka.
Rindu yang tak bisa lepas dari kepedihan.
Aku bukanlah diriku lagi.
karena AKU telah sirna bersamaan dengan runtuhnya tembok itu.

Senja yang Berbeda

Ia adalah sunyi yang meminta hingar
Kadang mengendap dalam langkah yang malu-malu
Mencari belaian lembut yang mebuai
Akhirnya
mendapati
Tentang sore yang tak lagi bersenja
Hilang termakan mega
Entahlah, kadang rindu itu menantinya. Ditemani sepi yang asing

Menulis adalah Sebuah Keberanian

Tentang menulis yang ingin aku ceritakan.
     Beberapa waktu yang lalu, aku bersama kawan-kawan GmnI bersama-sama mendiskusikan untuk menerbitkan media alternatif GmnI. Media ini harapannya menjadi manifestasi ide-ide segar kawan-kawan.
Dimulai dari penggodokan tema tulisan berlanjut pada pembentukan outline tulisan sampai upgrading sederhana tentang proses reportase lalu selanjutnya penerjunan reportase. Dari hasil diskusi didapatkanlah tema besar tentang cara pandang GmnI pada perubahan-perubahan yang terjadi di Universitas Jember.  Sedikit pengetahuan jurnalistikku didapat melalui proses di organisasi pers kampus, UKPKM Tegalboto. Disana aku mendapat banyak ilmu tentang banyak hal tentunya, namun khususnya memang jurnalistik. Melalui apa yang kumiliki itu, aku ingin membagikannya pada kawan-kawanku di GmnI. Karena dengan menulis sebenarnya tujuan dari gerakan kita bisa lebih efektif untuk tersampaikan. Menulis lebih sederhana dari sekedar teriak-teriak dalam peluh dan terik. Menulis lebih gahar dari sekedar membakar ban, menulis lebih merepotkan dari sekedar baku hantam dan chaos. Pemahaman itu yang sebenarnya harus mulai ditanamkan pada kader-kader GmnI. Artinya, gerakan GmnI tidak hanya sekedar berteriak lalu mengepalkan tanggan namun juga ada upaya-upaya intelektual yang lebih terkoordinir dan masif. Maksudku, tidak semua harus menjadi kapten, tidak semua harus menjadi beringin,  tidak semua harus menjadi sama sehingga GmnI ini memiliki kader yang memiliki banyak potensi.

Gerakan menulis ada bentuk dari keberanian itu sendiri. Aku ingin membiasakan kawan-kawan untuk berani mengadu gagasan intelektualnya dengan sistematis dan mengena pada sasaran. Salah satu bentuk perlawanan itu melalu buletin TIRTA. Melalui buletin ini, harapannya kawan-kawan berani bergagasan, membangun daya nalar dan kritis tetapi tetap rasional. Meski terkesan santun tetap tidak meninggalkan kesan gaharnya.  Konsep buletinnya diunggah melalui blog sehingga proses penyebarannya lebih luas dan harapannya bisa lebih masif dari sekedar dicetak beberapa eksemplar. Menulis bukan hal yang sulit, begitu kata banyak orang. Namun yang tersulit dari menulis ada memulainya lalu akhirnya membiasakan untuk menulis. Banyak kader-kader GmnI yang merasa apriori dengan kemampuan menulisnya sendiri. Namun kawan, menulislah, apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. suatu saat pasti berguna begitu kata Pramoedya Ananta Toer.

Menulis membuat kita lebih leluasa untuk berceracau. Melalui tulisan kita bisa mengungkapkan kegilaan apapun karena Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian. “Writing, at its best, is a lonely life. kata Ernest Hemingway ketika menyampaikan pidato dalam penghargaan Nobel Sastra yang ia terima. Ya, Menulis adalah kesendirian dan seharusnya tidak diributkan oleh orang lain. Menulis penuh kesunyian dari proses kontemplatif itu kita bisa masuk dalam dunia yang menjelaskan tentang segalanya, termasuk renungan tentang siapa diri ini. *ya intinya, proses kontemplatif dapat (banyak) menjelaskan keterwakilan sipenulis pada tulisannya.

Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian
Melawan pada yang berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.  Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" begitu kata Pramoedya A. Toer. Apa kita ingin dihilangkan sejarah? Hal yang paling sederhana dari menulis yaitu tulisan-tulisan yang kita buat akan menjadi dokumentasi berharga yang kemudian kelak akan menjadi pelajaran pada generasi setelah kita. aku coba mengambil contoh, mengapa bangsa Yunani, Mesir atau China bisa lebih maju dari kita? salah satunya karena peradaban Indonesia dibangun oleh tradisi lisan dan sedikit sekali tradisi tulis.
Harapannya dengan menulis kawan-kawan juga akan memulai untuk membaca lalu berdiskusi sehingga argumentasi-argumentasi kita tidak hanya asal bunyi yang hanya baca selembar sudah merasa membaca sampai khatam sehingga memberikan kesimpulan yang menyesatkan bahkan membodohi.

Selain itu, kita pun tidak mudah reaksioner karena menulis membiasakan kita untuk menganalisis terlebih dahulu. Menulis menerapkan prinsip keseimbangan. Sederhananya ketika kita mengkritik maka ada alasan rasional mengapa kita mengkritik lalu dibalik kritikan ada solusi. Kesan “urakan” menjadi tereliminasi oleh ketenangan dalam merangkai kata-kata. Karena kalau kata Jean Marais, "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Apalagi kita, yang katanya sebagai kader nasionalis, dengan menulis maka kita akan mempelajari pula bahasa sehingga kita akan pula mempelajari bangsa ini. Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri.

Menulis akan melahirkan keberanian untuk menjadi kita. GmnI akan melahirkan kader-kader intelektual. Sehingga pejuang-pemikir pemikir pejuang bukanlah sekedar motto yang selalu kita teriak-teriakan ketika KTD saja. Ada penjewatahan, sekali lagi untuk menjadi lebih berani. Berani untuk memulai, berani untuk tidak terbodohi oleh petuah-petuah usang tentang gerakan yang masih absurd. Kita tidak mungkin bisa hidup bebas begini kalau bukan karena melawan. Soekarno, Hatta, Syahrir, mereka semua berani memberontak dan melawan

Kawan, gerakan kita adalah gerakan pengulangan yang diwariskan oleh generasi yang lapuk dimakan waktu. Dimana dalam pengulangan itu, kadang tidak pernah mencoba untuk mengujinya dengan waktu, sering kali kita memakan mentah-mentah segala hal yang usang itu. tentu kawan semua pahamkan maksudku. Tentang pengulangan menurut Albert Camus dalam bukunya Mite Sisifus kalau hidup ini adalah pengulangan, mengerjakan apa yang sudah dikerjakan kemarin dan akan diulangi lagi keesokan harinya; begitu seterusnya, untuk selamanya, apa perlu hingga habis keabadian?  Tidak ada salahnya kita berani untuk memilih pola yang lain bukan?  melalui menulis mari kita belajar untuk menjadi berani, tidak hanya dalam gerakan-gerakan organisasi yang masih dalam tataran ocehan namun juga berani untuk merubah pola lama yang usang dengan pembaharuan yang lebih kekinian. Rasanya reformasi gerakan memang perlu dalam tubuh organisasi ini. Menulis ada jalur menuju kearah sana lalu mari kita memulainya.[]

TABIK.
Merdeka

Postscript: terdapat beberapa quote yang aku ambil dari omongan Soe Hok Gie dan Pramoedya Ananta Toer.

Tidak Perlu Judul

Selamat malam. Sudah cukup lama saya tidak ngerumat blog ini. Kalau diibaratkan rumah mungkin sudah penuh dengan sarang laba-laba, debu dan hampir melapuk ditinggalkan waktu. Malam menjelang pagi ini, saya kembali tersadar akan rutinitas yang hilang, entah karena alasan apa saya melupakan blog ini. Skripsi? Tidak juga namun cukup berpengaruh akan kealphaan ku menulis. Pastinya ada banyak hal yang membuat saya melupakan dan meninggalkan kebiasaan menulis. Biasanya dalam sepekan minimal ada beberapa tulisan yang saya buat. Tujuannya untuk melatih menulis saja. Dari awal passion saya bukan untuk menulis, namun saya teringat oleh Pramoedya Ananta Toer, menulislah, apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. suatu saat pasti berguna. Oleh karena itu, saya membiasakan meski tulisan sederhana juga agar tidak dilupakan oleh sejarah. 
 
Tulisan saya tidak untuk dikonsumsi oleh orang lain hanya untuk kesenangan saya saja. Sampai beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan Mas Nuran, ia menyarankan saya untuk mengikuti perlombaaan atau sayembara menulis. Tujuannya untuk mengukur kualitas tulisan. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Mas Nuran, namun pada waktu itu semangat untuk menulis belum juga timbul. Terakhir aku mengupdatenya sekitar bulan November, itu pun tidak jelas menulis apa (rasanya memang tidak ada yang jelas). Setelah itu kembai lagi hilang.
 
Malam semakin senyap dan Pagi semakin mendekat. Ditemani teh anget dan dimeja yang sama seperti terakhir saya  menulis beberapa bulan lalu. Saya coba untuk memulainya kembali. Memulai dari hal sederhana dan mencoba untuk menghidupkan kembali blog yang selama ini menjadi tempat menyimpan cerita yang tersimpan melalui bait-bait kata. Setelah itu, biarkan aku kembali lagi dalam rutinitas yang lama aku idamkan. Menulis sampai larut, menyelsaikan buku-buku yang aku beli tapi belum terjamah sama sekali. Sial sekali, saya serasa kolektor buku, berlagak sok intelek dengan buku-buku tebal namun tidak terbaca. Bukan mungkin, namun harus pasti kalau saya untuk kembali membaca, menikmati malam dan menulis. Jika saya mengingatnya, sungguh menyenangkan suasana tersebut. Syahdu, senyap dan penuh ketenangan yang mencandu. Suasana yang penuh rindu, membuat saya juga lebih tenang dalam menjalani keseharian.
 
Waktu telah membawa pada suasana yang berbeda. Jika sebelumnya saya menikmati malam diantara buku-buku lalu beronani melalui tulisan dimana waktu itu saya masih bergulat dengan ruang-ruang kelas sebagai mahasiswa. Kini saya berada didepan pintu gerbang untuk keluar dalam kehidupan yang lebih menarik dan nyata daripada sekedar ocehan-ocehan teori yang selama ini saya dapat dikelas.
Semoga saja, kebiasaan menulis untuk mencari kontemplasi sehingga menemukan ketenangan ini menjadi teman dikala sepi dan senyap, seperti malam ini.

Salam hangat