Kutipan diatas seolah menjadi isyarat bagi Soe Hok Gie, benar. Ia
meninggal bukan ditempat tidur. Firasat kepergian Gie telah ia rasakan sebelum
lereng Semeru menjadi saksi kepulangan Gie untuk selamanya dan bukan tempat
tidur tempat hembusan nafas terakhirnya.
“orang - orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur”,
tentu ada makna yang harus dijelaskan dari kutipan Gie tersebut, pertanyaan
pertama, siapa “orang-orang seperti kita”? lalu kenapa tidak pantas mati
ditempat tidur?
Orang seperti kita? menurut saya, mereka adalah orang-orang yang berani
keluar dari zona nyaman. Sesederhana itu saja mendefinisikan orang-orang
seperti kita itu. Baiklah tak
perlu berlama-lama dalam penafsiran. Hal lainnya yang menarik untuk dikaji
lebih dalam, kenapa tidak pantas mati ditempat tidur? Menurut saya, inilah
pesan paling penting dari Soe Hok Gie sebelum kematiannya. Ia ingin menunjukan
pada kita, bahwa tempat tidur merupakan simbol dari kenyamanan dan ketidak
tahuan. Oleh karena itu, ia ingin menunjukan agar jangan sampai kita sebelum meninggal
terhenti pada ketidaktahuan, tanpa mengenal Indonesia lebih jauh. Yang terakhir
itu saya yang menerjemahkan kutipan Gie.
***
Bondowoso pagi itu, kabut gagal membuat damai, kicau burung tak sanggup
menghentikan semangat. Samar-samar mentari coba menyemangati dari balik gunung
yang masih berselimut awan. Hari itu, saya dan Anggie coba membuktikan kalau
tempat tidur bukanlah tempat yang melulu tepat untuk menyabut pagi, sampai
kadang kala pagi terlampau cepat mengkhianati.
Sudah berkali-kali saya ke Bondowoso, sepertinya tempat ini tidak sedamai
sejarahnya. Pada tanggal 23 November, pernah terjadi peristiwa berdarah akibat
kekejian penjajah Belanda. Para pejuang kemerdekaan Indonesia yang ditangkapi
oleh Belanda dibawa dari Bondowoso menuju Surabaya menggunakan tiga gerbong. Gerbong
ketigalah yang memakan banyak korban karena gerbong terakhir itu masih bagus
sehingga tidak ada celah udara yang masuk. Dalam setiap keberangakatan
mengangkut 100 tahanan, total pejuang yang meninggal mencapai 48 orang dari
gerbong ketiga.
Hari itu, kami mengunjungi stasiun Bondowoso. Stasiun tersebut telah
menjadi saksi bisu dari sejarah kelam dari kota yang dikenal dengan tapainya
tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir ini, stasiun Bondowoso sudah tidak
berfungsi. Ketika saya bertanya pada pengelola stasiun, alasannya karena
menurunnya minat masyarakat untuk menggunakan kereta ke Bondowoso.
“ketika masih
beroperasi, stasiun Bondowoso menjadi penghubung kereta dari Jember menuju
Panarukan, Situbondo” jelasnya. Ia pun menambahkan kalau tidak menuntup
kemungkinan stasiun Bondowoso akan diaktifkan kembali sebagai jalur kereta
wisata.
Perjalanan di Bondowoso berlanjut menuju Gunung Ijen. Sebelumnya Ijen
merupakan destinasi wisata yang sangat erat dengan Bondowoso, namun Banyuwangi
ikut mempromosikan Ijen sebagai bagian dari destinasi wisata Banyuwangi, karena
kota ujung pulau Jawa tersebut sedang gencar-gencarnya membangun citra
wisatanya.
Baiklah, Ijen terkenal dengan danau kawanya yang luas dan merupakan
kolam asam tersebar didunia,luasnya 960 meter x 600 meter. Kawah tersebut
terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera. Disisi
kawah terdapat pertambangan belarang yang ditambang secara tradisional oleh
penduduk lokal. Sekitar dini hari, dipertambangan belerang tersebut terdapat
keajaiban alam lainnya, kilauan api biru berpijar mempercantik kawah air asam
ditengah gulita. Sungguh iconic api
biru tersebut.
Turun lima kilometer menuju arah Bondowoso, pernah suatu ketika Farah Quin bersafari di Jawa Timur bagian timur, dari mulai Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Dalam perjalanan di Bondowoso, ia menunggah diakun Instragramnya foto dihamparan padang rumput dan gunung hijau. Farah Quin memberi tanda tagar Kawah Wurung. Sejak itu, kawah Wurung semakin familiar menjadi tambahan wisata di Kabupaten Bondowoso.
Turun lima kilometer menuju arah Bondowoso, pernah suatu ketika Farah Quin bersafari di Jawa Timur bagian timur, dari mulai Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Dalam perjalanan di Bondowoso, ia menunggah diakun Instragramnya foto dihamparan padang rumput dan gunung hijau. Farah Quin memberi tanda tagar Kawah Wurung. Sejak itu, kawah Wurung semakin familiar menjadi tambahan wisata di Kabupaten Bondowoso.
Meski bernama kawah wurung jangan bayangkan lokasi dilokasi tersebut
terdapat cerukan yang mengeluarkan asap sulfur yang panas. Dinamakan kawah
wurung dikarenakan ada sebuah bukit yang awalnya akan menjadi kawah namun proses
pembentukannya gagal karena faktor vulkasis. Akhirnya menjadi kawah yang tidak
jadi atau wurung dalam bahasa Jawanya. Akhirnya kawah wurung tak jauh berbeda
seperti Oro-Oro Ombo Semeru atau Taman Teletubis di Lereng Argopuro. Anda bisa
berlari-lari seperti Syahrini sambil berteriak “i will Free”
Sayangnya, kawah cantik tersebut belum mendapatkan perhatian dari pemkab
Bondowoso sehingga jangan pernah membayangkan lokasinya mudah diakses. Jalanannya
tanah dan sangat becek ketika hujan adalah risiko yang ditanggung pengunjung.
Jangan kuatir! itu justru menambah tantangan dalam perjalanan. Hal lain yang
perlu diperhatikan, tidak ada ruang parkir yang terjamin keamannya.
| Air Terjun Blawan |
Desa Blawan menjadi lokasi terakhir yang saya kunjungi. Desa dibawah
lembah tersebut benar-benar eksotis dan lengkap . Air terjun, gua kapur, kolam
rendam air panas, pabrik pengeringan kopi Arabica, dan penginapan peninggalan
Belanda. Pertama-tama kami mengunjungi gua kapur. Letaknya berada dibawah
lembah, berbatasan langsung dengan sungai Blawan. Untuk menjangkau tempat
tersebut, kami harus menuruni tangga bambu. Rimbun pepohonan, tetesan air dari
tebing menjadi penyambut pertama. Perlu beberapa waktu untuk mencari lokasi
tersebut karena jalanan yang licik dan tingginya rumput membatasi batas
pandangan. Suasana berubah menjadi semakin wingit ketika kami menemukan gua
kapur tersebut. Kain mori, sisa-sisa orang bersemedi dan sesajen yang sudah
mengering menyabut pandangan kami.
Suasana sunyi tersebut tidak menutupi
panorama gua kapur yang cantik, saya jadi teringat dengan Green Canyon
di Pangandaran.
Kami pun naik kembali menuju ke air terjun Blawan. Kira-kira perlu
berjalan sejauh 200 meter untuk sampai diair terjun tersebut. Ditengah jalan,
saya menemukan beberapa kuburan tua dan semacam sendang (pancuran air yang
biasa digunakan untuk mandi). Saya sempat bertanya pada masyarakat sekitar
tersebut, mereka menjelaskan bawah makam tersebut merupakan peristirahatan
terakhir sesepuh desa tersebut dan sendang itu merupakan petilasan mandi Damar
Wulan, seorang toko ksatria dari kerajaan Blambangan.
Sampailah kami di air terjun Blawan. Perjalanan naik turun tangga dibayar
tuntas oleh bulir-bulir air yang membuat sejuk kepala kami. Air terjun itu
terbilang unik karena kita tidak bisa renang dibawahnya. Air sungai yang jatuh
langsung membentuk aliran sungai besar yang membentuk jurang dalam jadi kita
hanya menikmatinya dari tengah-tengah air terjun itu.
Setelah lelah jalan-jalan kami memutuskan untuk merenggangkan otot-otot
yang kaku karena berjalanan yang panjang. Tentu tujuannya tak lain dan tak
bukan adalah kolam rendam air hangat. Hanya dengan membayar 3000 rupiah saja
kami bisa sampai kembung berendam disana. Kolam tersebut terdiri dari beberala
level kepanasannya. Level pertama tentu kami akan memerah seperti udang. Level
kedua, tidak terlalu panas namun cukuplah untuk membuat kita bergelinjang kepanasan. Level ketiga sudah tidak terasa
panasnya sama sekali hanya menyisakan air yang sedikit hangat karena sudah
dicampur dengan air dingin. Kami memilih level kedua karena dirasa cukup untuk
melemaskan badan yang pegal. Sekedar info saja, kolam rendam air panas tersebut
mengandung belerang sehingga sangat baik bagi mereka yang menderita
gatal-gatal.
Sambil berendam kopi arabica khas Bondowoso menemani suasana santai
dipadukan dengan mie rebus plus telor setengah matang yang ditaburi sedikit
merica. Surga duniawi, berdua saja sudah cukup indah melalui kebersamaan yang
hangat tersebut.
Awalnya saya mau langsung pulang ke Jember, hari sudah semakin sore dan awan sudah memberi peringatan kalau warna hitamnya penanda yang paling jelas akan turunnya hujan. Anggie mengajak untuk bermalam di Blawan, seperti yang saya tulisankan diawal kalau Blawan ini benar-benar lengkap. Catimor Homestay menjadi alternatif bermalam kami. Meski berembel-embel homestay, Catimor lebih tepat disebut sebagai hotel. Catimor benar-benar elegan, bangunannya dibangun pada tahun 1984 dan terjaga dengan baik sampai malam itu saya menginap. Suasana Belanda begitu terasa, rumah panjang, lampu minyak khas eropa yang kini telah dimodifikasi menjadi lampu listrik, bahkan furnitur peninggalan Belanda masih terawat dengan baik menjadi penyempurna nuansa Belanda dihotel tersebut. saya benar-benar menikmati malam itu apalagi diluaran hujan menjadi pelengkapnya. Kopi Arabica adalah jamu ampuh pengusir dingin lembah Blawan dan ketela goreng Purnalah malam itu dalam lelah.
| Pengeringan Kopi Arabica Blawan |
| Taman Perumahan Pejabat Perkebunan |
Esok paginya, setelah puas beristirahat. Suasana damai khas desa
perkebunan Belanda semakin membuat angan saya terbang ke era tahun 1800-an,
ditengah-tengah pegawai perkebunaan dan buruh perkebunan yang sedang memetik
kopi. Andai saja di Jakarta ada tempat seperti itu, maka saya akan berkompromi
untuk menghentikan keresahan saya di Jakarta.
Bondowoso yang cantik, Bondowoso yang damai, Bondowoso yang sunyi telah
menjadi pelengkap kunjungan saya di Jember. Indonesia itu Indah, tempat tidur
tidak dapat menghentikan untuk mengenal lebih jauh curamnya jurang Bondowoso,
hijaunya kawah Wurung, birunya pijaran kawah Ijen, hangatnya kolam rendam
Blawan dan nyenyaknya cutimor. Silahkan nikmati pesonanya dan mari kita
bersulang dalam damainya!






Ini jalan" kitaa sebelum kembali ke jakarta (lagi).
BalasHapusNanti kita buat coretan yg dan pengalaman yg banyak..
kalau bisa mengarungi samudra..
berputar" seluruh indonesia..
kita membuat jejak agar bisa di cerita kan.. :) :*