Selasa, 14 April 2015

Dibalik Sepinya Kota Pensiunan




"orang - orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”(Soe Hok Gie)


Kutipan diatas seolah menjadi isyarat bagi Soe Hok Gie, benar. Ia meninggal bukan ditempat tidur. Firasat kepergian Gie telah ia rasakan sebelum lereng Semeru menjadi saksi kepulangan Gie untuk selamanya dan bukan tempat tidur tempat  hembusan nafas terakhirnya. “orang - orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur”, tentu ada makna yang harus dijelaskan dari kutipan Gie tersebut, pertanyaan pertama, siapa “orang-orang seperti kita”? lalu kenapa tidak pantas mati ditempat tidur?
Orang seperti kita? menurut saya, mereka adalah orang-orang yang berani keluar dari zona nyaman. Sesederhana itu saja mendefinisikan orang-orang  seperti kita itu.  Baiklah tak perlu berlama-lama dalam penafsiran. Hal lainnya yang menarik untuk dikaji lebih dalam, kenapa tidak pantas mati ditempat tidur? Menurut saya, inilah pesan paling penting dari Soe Hok Gie sebelum kematiannya. Ia ingin menunjukan pada kita, bahwa tempat tidur merupakan simbol dari kenyamanan dan ketidak tahuan. Oleh karena itu, ia ingin menunjukan agar jangan sampai kita sebelum meninggal terhenti pada ketidaktahuan, tanpa mengenal Indonesia lebih jauh. Yang terakhir itu saya yang menerjemahkan kutipan Gie.
                    ***
Bondowoso pagi itu, kabut gagal membuat damai, kicau burung tak sanggup menghentikan semangat. Samar-samar mentari coba menyemangati dari balik gunung yang masih berselimut awan. Hari itu, saya dan Anggie coba membuktikan kalau tempat tidur bukanlah tempat yang melulu tepat untuk menyabut pagi, sampai kadang kala pagi terlampau cepat mengkhianati.
Saya dan Anggie berjalan menyusuri damainya kota Bondowoso. Benar kata orang-orang kalau Bondowoso kota yang (terlalu) menawarkan zona nyaman. Tak ada kemacetan lalu lintas, tak ada polusi knalpot secara berlebihan. Suasana kota berjalan lambat penuh dengan senyum dan damai penghuninya. Kota pensiunan yang menghipnotis.
Sudah berkali-kali saya ke Bondowoso, sepertinya tempat ini tidak sedamai sejarahnya. Pada tanggal 23 November, pernah terjadi peristiwa berdarah akibat kekejian penjajah Belanda. Para pejuang kemerdekaan Indonesia yang ditangkapi oleh Belanda dibawa dari Bondowoso menuju Surabaya menggunakan tiga gerbong. Gerbong ketigalah yang memakan banyak korban karena gerbong terakhir itu masih bagus sehingga tidak ada celah udara yang masuk. Dalam setiap keberangakatan mengangkut 100 tahanan, total pejuang yang meninggal mencapai 48 orang dari gerbong ketiga.
Hari itu, kami mengunjungi stasiun Bondowoso. Stasiun tersebut telah menjadi saksi bisu dari sejarah kelam dari kota yang dikenal dengan tapainya tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir ini, stasiun Bondowoso sudah tidak berfungsi. Ketika saya bertanya pada pengelola stasiun, alasannya karena menurunnya minat masyarakat untuk menggunakan kereta ke Bondowoso.
“ketika masih beroperasi, stasiun Bondowoso menjadi penghubung kereta dari Jember menuju Panarukan, Situbondo” jelasnya. Ia pun menambahkan kalau tidak menuntup kemungkinan stasiun Bondowoso akan diaktifkan kembali sebagai jalur kereta wisata.
Perjalanan di Bondowoso berlanjut menuju Gunung Ijen. Sebelumnya Ijen merupakan destinasi wisata yang sangat erat dengan Bondowoso, namun Banyuwangi ikut mempromosikan Ijen sebagai bagian dari destinasi wisata Banyuwangi, karena kota ujung pulau Jawa tersebut sedang gencar-gencarnya membangun citra wisatanya.
Baiklah, Ijen terkenal dengan danau kawanya yang luas dan merupakan kolam  asam tersebar didunia,luasnya  960 meter x 600 meter. Kawah tersebut terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera. Disisi kawah terdapat pertambangan belarang yang ditambang secara tradisional oleh penduduk lokal. Sekitar dini hari, dipertambangan belerang tersebut terdapat keajaiban alam lainnya, kilauan api biru berpijar mempercantik kawah air asam ditengah gulita. Sungguh iconic api biru tersebut.

Turun lima kilometer menuju arah Bondowoso, pernah suatu ketika Farah Quin bersafari di Jawa Timur bagian timur, dari mulai Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Dalam perjalanan di Bondowoso, ia menunggah diakun Instragramnya foto dihamparan padang rumput dan gunung hijau. Farah Quin memberi tanda tagar Kawah Wurung. Sejak itu, kawah Wurung semakin familiar menjadi tambahan wisata di Kabupaten Bondowoso. 
Kawah Wurung
Meski bernama kawah wurung jangan bayangkan lokasi dilokasi tersebut terdapat cerukan yang mengeluarkan asap sulfur yang panas. Dinamakan kawah wurung dikarenakan ada sebuah bukit yang awalnya akan menjadi kawah namun proses pembentukannya gagal karena faktor vulkasis. Akhirnya menjadi kawah yang tidak jadi atau wurung dalam bahasa Jawanya. Akhirnya kawah wurung tak jauh berbeda seperti Oro-Oro Ombo Semeru atau Taman Teletubis di Lereng Argopuro. Anda bisa berlari-lari seperti Syahrini sambil berteriak “i will Free”
Sayangnya, kawah cantik tersebut belum mendapatkan perhatian dari pemkab Bondowoso sehingga jangan pernah membayangkan lokasinya mudah diakses. Jalanannya tanah dan sangat becek ketika hujan adalah risiko yang ditanggung pengunjung. Jangan kuatir! itu justru menambah tantangan dalam perjalanan. Hal lain yang perlu diperhatikan, tidak ada ruang parkir yang terjamin keamannya.



Air Terjun Blawan
Desa Blawan menjadi lokasi terakhir yang saya kunjungi. Desa dibawah lembah tersebut benar-benar eksotis dan lengkap . Air terjun, gua kapur, kolam rendam air panas, pabrik pengeringan kopi Arabica, dan penginapan peninggalan Belanda. Pertama-tama kami mengunjungi gua kapur. Letaknya berada dibawah lembah, berbatasan langsung dengan sungai Blawan. Untuk menjangkau tempat tersebut, kami harus menuruni tangga bambu. Rimbun pepohonan, tetesan air dari tebing menjadi penyambut pertama. Perlu beberapa waktu untuk mencari lokasi tersebut karena jalanan yang licik dan tingginya rumput membatasi batas pandangan. Suasana berubah menjadi semakin wingit ketika kami menemukan gua kapur tersebut. Kain mori, sisa-sisa orang bersemedi dan sesajen yang sudah mengering menyabut pandangan kami.  Suasana sunyi tersebut tidak menutupi  panorama gua kapur yang cantik, saya jadi teringat dengan Green Canyon di Pangandaran.
Kami pun naik kembali menuju ke air terjun Blawan. Kira-kira perlu berjalan sejauh 200 meter untuk sampai diair terjun tersebut. Ditengah jalan, saya menemukan beberapa kuburan tua dan semacam sendang (pancuran air yang biasa digunakan untuk mandi). Saya sempat bertanya pada masyarakat sekitar tersebut, mereka menjelaskan bawah makam tersebut merupakan peristirahatan terakhir sesepuh desa tersebut dan sendang itu merupakan petilasan mandi Damar Wulan, seorang toko ksatria dari kerajaan Blambangan.
Sampailah kami di air terjun Blawan. Perjalanan naik turun tangga dibayar tuntas oleh bulir-bulir air yang membuat sejuk kepala kami. Air terjun itu terbilang unik karena kita tidak bisa renang dibawahnya. Air sungai yang jatuh langsung membentuk aliran sungai besar yang membentuk jurang dalam jadi kita hanya menikmatinya dari tengah-tengah air terjun itu.
Setelah lelah jalan-jalan kami memutuskan untuk merenggangkan otot-otot yang kaku karena berjalanan yang panjang. Tentu tujuannya tak lain dan tak bukan adalah kolam rendam air hangat. Hanya dengan membayar 3000 rupiah saja kami bisa sampai kembung berendam disana. Kolam tersebut terdiri dari beberala level kepanasannya. Level pertama tentu kami akan memerah seperti udang. Level kedua, tidak terlalu panas namun cukuplah untuk membuat kita bergelinjang  kepanasan. Level ketiga sudah tidak terasa panasnya sama sekali hanya menyisakan air yang sedikit hangat karena sudah dicampur dengan air dingin. Kami memilih level kedua karena dirasa cukup untuk melemaskan badan yang pegal. Sekedar info saja, kolam rendam air panas tersebut mengandung belerang sehingga sangat baik bagi mereka yang menderita gatal-gatal.
Sambil berendam kopi arabica khas Bondowoso menemani suasana santai dipadukan dengan mie rebus plus telor setengah matang yang ditaburi sedikit merica. Surga duniawi, berdua saja sudah cukup indah melalui kebersamaan yang hangat tersebut.

Awalnya saya mau langsung pulang ke Jember, hari sudah semakin sore dan awan sudah memberi peringatan kalau warna hitamnya penanda yang paling jelas akan turunnya hujan. Anggie mengajak untuk bermalam di Blawan, seperti yang saya tulisankan diawal kalau Blawan ini benar-benar lengkap. Catimor Homestay menjadi alternatif bermalam kami. Meski berembel-embel homestay, Catimor lebih tepat disebut sebagai hotel. Catimor benar-benar elegan, bangunannya dibangun pada tahun 1984 dan terjaga dengan baik sampai malam itu saya menginap. Suasana Belanda begitu terasa, rumah panjang, lampu minyak khas eropa yang kini telah dimodifikasi menjadi lampu listrik, bahkan furnitur peninggalan Belanda masih terawat dengan baik menjadi penyempurna nuansa Belanda dihotel tersebut. saya benar-benar menikmati malam itu apalagi diluaran hujan menjadi pelengkapnya. Kopi Arabica adalah jamu ampuh pengusir dingin lembah Blawan dan ketela goreng Purnalah malam itu dalam lelah.

Pengeringan Kopi Arabica Blawan

Taman Perumahan Pejabat Perkebunan
Esok paginya, setelah puas beristirahat. Suasana damai khas desa perkebunan Belanda semakin membuat angan saya terbang ke era tahun 1800-an, ditengah-tengah pegawai perkebunaan dan buruh perkebunan yang sedang memetik kopi. Andai saja di Jakarta ada tempat seperti itu, maka saya akan berkompromi untuk menghentikan keresahan saya di Jakarta.
Bondowoso yang cantik, Bondowoso yang damai, Bondowoso yang sunyi telah menjadi pelengkap kunjungan saya di Jember. Indonesia itu Indah, tempat tidur tidak dapat menghentikan untuk mengenal lebih jauh curamnya jurang Bondowoso, hijaunya kawah Wurung, birunya pijaran kawah Ijen, hangatnya kolam rendam Blawan dan nyenyaknya cutimor. Silahkan nikmati pesonanya dan mari kita bersulang dalam damainya!
Jalan-Jalan cuy!!!



1 komentar:

  1. Ini jalan" kitaa sebelum kembali ke jakarta (lagi).
    Nanti kita buat coretan yg dan pengalaman yg banyak..
    kalau bisa mengarungi samudra..
    berputar" seluruh indonesia..
    kita membuat jejak agar bisa di cerita kan.. :) :*

    BalasHapus