Langit Jakarta/ semakin muram//
Lampu tak semua dinyalakan//
Hujan/ tak lagi ciptakan//
Yang tersisa/ hanya umpatan ditengah kegaduhan//
yang terdengar/ derit cacian//
tanpa peduli pada kebenaran//
ah/Jakarta/ Persetan//
Ada angin pancaroba jatuh tanpa di undang//
Hadir menggugat ingatan//
Penuh tanya// berharap jawaban//
Apakah ada peduli yang tersisa/
saat kebanalan/
Menemukan makna yang benar?// katamu menahan kesal//
Setelah seharian bertarung mempertebal keyakinan//.
Atau jangan-jangan/ telah sirna tanpa kesepakatan//
Meski ada penantian/ dari sekedar sapa apalagi cinta//
apa daya aku lengah/ tanpa aksara apalagi kata/
membiarkanmu tersandera/ dalam ceracau buta//
*Untuk manisku, yang sempat muram dan tetap manja.
Lelaplah
Esok aku hadir, meski pagi terlampau berkhianat!







0 komentar:
Posting Komentar