Kamis, 10 Maret 2016

Surat Terbuka Untuk Mas Bebe: Ketika Perjuangan Harus di Definisikan Ulang




Teruntuk Mas Bebe di tempat nun jauh di mato
Apakah sampean tetap ginuk-ginuk dan toeng-toeng? Aku harap samepan sdh tidak toeng-toeng lagi. Baiklah. Lama kita tidak berjumpa, terakhir kita berjumpa saat pasukan Jenderal Zod menghancurkan desa kita di Krypton, rumah Jor-El yang pertama hancur lalu sampean lari ke Planet Namex sedangkan aku harus pindah ke Bumi. Heumm, Bumi yang absurd.  Lama sekali, sudah hampir 100 tahun cahaya kita tidak bertemu.
Bagaiamana kabarmu Mas Beib? Apakah badanmu sudah semakin hijau, aku rasa jangan terlalu sering panas-panas.  Jarang terlalu sering bermain dengan Picolo mas, karena itu hanya akan menganggu ngopi sore mu.

Aku di bumi seperti ini, hidup di kota yang samar, teramat sama membedakan mana kebanalan dan mana kebenaran. Semuanya serba tidak pasti, sempat tidak nyaman meski selebihnya menyenangkan, bahwa hidup adalah proses memilih, sama seperti saat sampean tinggal di Namek, berkawan dengan Picolo lalu mencoba ingin menjadi Hulk karena hijau tak selalu PKB. #Hallahhh.
Begini mas Beib. Sengaja aku tulis semacam surat kepada sampean terkait pertanyaan sampean kemarin. Aku kemarin sedang sibuk. Biasalah mas, meng-konspirasi-kan sesuatu yang peuh konspirasi, biar agak serius hidup ini meski sesekali harus kita tertawakan.
Pertanyaan mu, menurutku menarik. Meskipun sebenarnya biasa aja dan bisa aku jawab lewat social media yang diciptakan manusia Yahud (tanpa i). Namun aku ingin lebih dramatis dan sentimentil. Kali-kali lah,  seperti Pramoedya yang membalas permintaan maaf Gus Dus melalui surat terbuka.

Yang Abadi hanya Keragu-raguan

Haduuh, aku kok dari tadi tidak to the point ya! Oke.oke mas. Jangan sembur aku!
Siang itu, kira-kira Pukul 14.19 waktu Bumi, sampean bertanya pada ku, diawali dari narasi logik kemudian sampai pada pertanyaan yang sejujurnya membuat ku merefleksikan ulang.
“Kita sama tau klo org2 politik, opo sing nang dpr, pemerintahan, hukum iku akeh sing teko ekstra. Ketika ini negara gak diurus dgn baik sama mereka, atau mereka ga kerja maksimal, apa gak ada smcm dorongan/tekanan moral dr lembaganya dulu supaya bisa back on track? Misal kamu, kpn hari cerita betapa org2 yg kamu sempet kagum trnyata ga sebaik kamu kira. Pdhl ada yg mas2 mbak2mu di GMNI. Apa yg bikin mrk benar2 berubah? Duit okelah, kuasa, wanita, oke. Tp itu urusan personal. Andai kegakbeneran ini dilakukan kolektif, apa yg sebenarnya terjadi itulo. Pdhl kamu, aku jg yakin, andai sama yakin sama ajaran bungkarno, ga mungkin gini kan?” Aku cmn kepikiran.

Aku akan menjawab dari secuil yang aku tahu mas.
Sejatinya, dalam dunia politik dan pemerintahan tidak di kooptasi hanya oleh Ekstra, tapi dari aktivis gerakan, iya. Yang rata-rata kubangan berproses kawan-kawan tersebut bisa mulai dari UKM, Lembaga Mahasiswa, Komunitas dan tentunya Organisasi Mahasiswa Ekstra. Kita persempit ruang lingkup Ormerk, rata-rata Ormerk punya basis ideologi. Yang berbau sok nasionalis ada GmnI, yang kecenderungan sok Islamis ada PMII, HMI, IPNU, KAMMI, HTI, dll. Ada pula yang sok Kristen ada PMKRI untuk agama Katolik dan GMKI untuk Protestan. Yang berbau sok ke-kiri-kiri-an ada SMID kemudian jadi LMND dll. Aku rasa semua dari kita sudah jamak mendengar itu.

Lalu pertanyaanya kenapa mereka banyak yang masuk dalam kubangan yang sama pasca lulus kuliah. Alasannya tidak jauh dari khitoh, dasar yang sudah dipilih selama berproses di dunia yang penuh romantika kampus. Gerakan akan melahirkan gerakan. Alasan lainnya kenapa kok ‘mereka’ banyak di dunia yan serba tak pasti, yang bernama Politik. Karena memang mahasiswa-mahasiswa yang pernah berkecimpung dalam dunia gerakan tidak akan terlalu terkejut melihat situasi politis yang serba rumit dan unik tersebut. Meski tidak menutup kemungkinan bagi yang diluar mahasiswa gerakan untuk masuk dalam dunia politik. Pada intinya, dunia gerakan –tidak melulu dari Ormerk- merupakan wadah belajar untuk terjun ke dunia politik praktis.

Kontrol tanpa Pengontrol

Pertanyaannya mas Beib adalah, bagaimana mekanisme kontrol organisasi ketika kader/alumninya keluar jalur dari filosofi gerakan? Saya ingat sekali, ketika Anas Urbaningrum di cokok KPK. Bahwa KAHMI pun beraksi, melalui Mahfud MD, "Anas itu adik saya, junior saya, sebab itu saya berempati dan bersimpati. Tetapi saya tegaskan urusan hukum Anas itu tetap harus jalan," ujar Mahfud. Artinya mekanisme kontrol itu akan selalu ada dikalangan alumni-alumni yang pada umumnya telah membentuk organisasi alumni sendiri. GmnI mendirikan Persatuan Alumni GmnI, HMI mendirikan KAHMI, PMII mendirikan organisasi IKA PMII, UKPKM Tegalboto punya Preman Tegalboto dedengkot hariannya, Romdhi “almighty” Fatkrur Rozi. Artinya yang ingin aku katakan, mekanisme kontrol itu tidak lagi melalui kader-kader aktif yang sedang ber-rodinda (romantika, dinamika dan dielektika) gerakan. Mekansime kontrol sudah diakuisisi oleh sesama alumni.
  
Politik adalah Seni, termasuk Air Seni

Pertanyaan selanjutnya, mengapa banyak kader-kader idealis ketika berproses dalam gerekan mahasiswa menjadi sontoloyo ketika sudah berpolitik praktis? Diawali dari adigium, tidak ada yang abadi dalam politik selain kepentingan. Adigium tersebut seolah menjadi penyahih bahwa perjuangan tidak harus lurus. Seringkali banyak diantara kawan-kawan perjuangan yang keblinger akan kuasa bukan kuasa personal namun juga kuasa kolektif. Bagaiamana kepentingan kelompok terlalu jauh dominan sehingga kompromis terlalu banyak dilakukan. Dari kekuasaan kolektif-tentunya dibalut dengan jargon-jargon puitis yang mengatas namakan rakyat- terjadi pendistribusian kekuasaan pada kader-kader lainnya. Begitu yang terjadi di Demokrat pada era SBY, akhirnya terjadilah korupsi berjamaah di tubuh partai tersebut. Ideologi sering kali tidak dijadikan sebagai marwah gerakan namun hanya sebatas teks ideologi yang nihil praksis.

Ideologi Bung Karno hanya dekorasi cantik untuk rumah yang bernama Partai. Parpol telah mengalami dekadensi tujuan. Jangan bandingkan pada Pemilu pertama Indonesia tahun 1955, ketika itu tujuan berpolitik adalah menjadi negarawan yang luhur, sesuai apa yang dikatakan oleh Socrates, Politik merupakan pekerjaan suci. Lain dulu lain sekarang lain guru lain pula lakunya, hari ini tujuan berpolitik bukanlah untuk menjadi pengabdi tapi...ah tentu pahamlah. Bukan pula untuk melahirkan negarawan-negarawan, menjadi pengusaha mungkin iya.
Aku menjadi sedikit sentimentil ketika membicarakan hal tersebut, karena hadangan terbesar untuk terjun ke dunia politik adalah menanggalkan  perasaan. Hitam dan putih bukanlah kepastian, para politisi sepertinya terlalu banyak belajar teori Relativitasnya Einstein. Sangat relatif.
Kalau soal pertanyaanmu tentang Ibu, aku tak ingin menjawabnya karena aku tak punya komptensi memahami itu mas.

***
Sampai disuatu titik tertentu, aku baru menyadari bahwa sampean bukan ingin menjadi Hulk mas, tapi kamu telah menjadi Avatar. Avatar pengedali ceret.
Selamat siang mas Beib, salam untuk ShenLong. Jangan berebut bola naga. Namek tak selamanya hijau. PKB juga seperti itu ;p


0 komentar:

Posting Komentar