Teruntuk
Mas Bebe di tempat nun jauh di mato
Apakah sampean tetap ginuk-ginuk dan
toeng-toeng? Aku harap samepan sdh tidak toeng-toeng lagi. Baiklah. Lama kita
tidak berjumpa, terakhir kita berjumpa saat pasukan Jenderal Zod menghancurkan
desa kita di Krypton, rumah Jor-El yang pertama hancur lalu sampean lari ke
Planet Namex sedangkan aku harus pindah ke Bumi. Heumm, Bumi yang absurd. Lama sekali, sudah hampir 100 tahun cahaya
kita tidak bertemu.
Bagaiamana kabarmu Mas
Beib? Apakah badanmu sudah semakin hijau, aku rasa jangan terlalu sering panas-panas.
Jarang terlalu sering bermain dengan
Picolo mas, karena itu hanya akan menganggu ngopi sore mu.
Aku di bumi seperti
ini, hidup di kota yang samar, teramat sama membedakan mana kebanalan dan mana
kebenaran. Semuanya serba tidak pasti, sempat tidak nyaman meski selebihnya
menyenangkan, bahwa hidup adalah proses memilih, sama seperti saat sampean
tinggal di Namek, berkawan dengan Picolo lalu mencoba ingin menjadi Hulk karena
hijau tak selalu PKB. #Hallahhh.
Begini mas Beib. Sengaja
aku tulis semacam surat kepada sampean terkait pertanyaan sampean kemarin. Aku kemarin
sedang sibuk. Biasalah mas, meng-konspirasi-kan sesuatu yang peuh konspirasi,
biar agak serius hidup ini meski sesekali harus kita tertawakan.
Pertanyaan mu,
menurutku menarik. Meskipun sebenarnya biasa aja dan bisa aku jawab lewat social
media yang diciptakan manusia Yahud (tanpa i). Namun aku ingin lebih dramatis
dan sentimentil. Kali-kali lah, seperti
Pramoedya yang membalas permintaan maaf Gus Dus melalui surat terbuka.
Yang
Abadi hanya Keragu-raguan
Haduuh, aku kok dari
tadi tidak to the point ya! Oke.oke
mas. Jangan sembur aku!
Siang itu, kira-kira
Pukul 14.19 waktu Bumi, sampean bertanya pada ku, diawali dari narasi logik kemudian sampai pada pertanyaan
yang sejujurnya membuat ku merefleksikan ulang.
“Kita
sama tau klo org2 politik, opo sing nang dpr, pemerintahan, hukum iku akeh sing
teko ekstra. Ketika ini negara gak diurus dgn baik sama mereka, atau mereka ga
kerja maksimal, apa gak ada smcm dorongan/tekanan moral dr lembaganya dulu
supaya bisa back on track? Misal kamu, kpn hari cerita betapa org2 yg kamu
sempet kagum trnyata ga sebaik kamu kira. Pdhl ada yg mas2 mbak2mu di GMNI. Apa
yg bikin mrk benar2 berubah? Duit okelah, kuasa, wanita, oke. Tp itu urusan
personal. Andai kegakbeneran ini dilakukan kolektif, apa yg sebenarnya terjadi
itulo. Pdhl kamu, aku jg yakin, andai sama yakin sama ajaran bungkarno, ga
mungkin gini kan?” Aku cmn kepikiran.
Aku akan menjawab dari
secuil yang aku tahu mas.
Sejatinya, dalam dunia
politik dan pemerintahan tidak di kooptasi hanya oleh Ekstra, tapi dari aktivis
gerakan, iya. Yang rata-rata kubangan berproses kawan-kawan tersebut bisa mulai
dari UKM, Lembaga Mahasiswa, Komunitas dan tentunya Organisasi Mahasiswa
Ekstra. Kita persempit ruang lingkup Ormerk, rata-rata Ormerk punya basis
ideologi. Yang berbau sok nasionalis ada GmnI, yang kecenderungan sok Islamis
ada PMII, HMI, IPNU, KAMMI, HTI, dll. Ada pula yang sok Kristen ada PMKRI untuk
agama Katolik dan GMKI untuk Protestan. Yang berbau sok ke-kiri-kiri-an ada
SMID kemudian jadi LMND dll. Aku rasa semua dari kita sudah jamak mendengar
itu.
Lalu pertanyaanya
kenapa mereka banyak yang masuk dalam kubangan yang sama pasca lulus kuliah. Alasannya
tidak jauh dari khitoh, dasar yang
sudah dipilih selama berproses di dunia yang penuh romantika kampus. Gerakan
akan melahirkan gerakan. Alasan lainnya kenapa kok ‘mereka’ banyak di dunia yan
serba tak pasti, yang bernama Politik. Karena memang mahasiswa-mahasiswa yang
pernah berkecimpung dalam dunia gerakan tidak akan terlalu terkejut melihat
situasi politis yang serba rumit dan unik tersebut. Meski tidak menutup
kemungkinan bagi yang diluar mahasiswa gerakan untuk masuk dalam dunia politik.
Pada intinya, dunia gerakan –tidak melulu dari Ormerk- merupakan wadah belajar
untuk terjun ke dunia politik praktis.
Kontrol
tanpa Pengontrol
Pertanyaannya mas Beib
adalah, bagaimana mekanisme kontrol organisasi ketika kader/alumninya keluar
jalur dari filosofi gerakan? Saya ingat sekali, ketika Anas Urbaningrum di
cokok KPK. Bahwa KAHMI pun beraksi, melalui Mahfud MD, "Anas itu adik
saya, junior saya, sebab itu saya berempati dan bersimpati. Tetapi saya
tegaskan urusan hukum Anas itu tetap harus jalan," ujar Mahfud. Artinya
mekanisme kontrol itu akan selalu ada dikalangan alumni-alumni yang pada
umumnya telah membentuk organisasi alumni sendiri. GmnI mendirikan Persatuan Alumni
GmnI, HMI mendirikan KAHMI, PMII mendirikan organisasi IKA PMII, UKPKM
Tegalboto punya Preman Tegalboto dedengkot hariannya, Romdhi “almighty” Fatkrur
Rozi. Artinya yang ingin aku katakan, mekanisme kontrol itu tidak lagi melalui kader-kader
aktif yang sedang ber-rodinda (romantika, dinamika dan dielektika) gerakan. Mekansime
kontrol sudah diakuisisi oleh sesama alumni.
Politik
adalah Seni, termasuk Air Seni
Pertanyaan selanjutnya,
mengapa banyak kader-kader idealis ketika berproses dalam gerekan mahasiswa
menjadi sontoloyo ketika sudah berpolitik praktis? Diawali dari adigium,
tidak ada yang abadi dalam politik selain kepentingan. Adigium tersebut seolah
menjadi penyahih bahwa perjuangan tidak harus lurus. Seringkali banyak diantara
kawan-kawan perjuangan yang keblinger akan kuasa bukan kuasa personal namun
juga kuasa kolektif. Bagaiamana kepentingan kelompok terlalu jauh dominan
sehingga kompromis terlalu banyak dilakukan. Dari kekuasaan kolektif-tentunya
dibalut dengan jargon-jargon puitis yang mengatas namakan rakyat- terjadi
pendistribusian kekuasaan pada kader-kader lainnya. Begitu yang terjadi di
Demokrat pada era SBY, akhirnya terjadilah korupsi berjamaah di tubuh partai
tersebut. Ideologi sering kali tidak dijadikan sebagai marwah gerakan namun
hanya sebatas teks ideologi yang nihil praksis.
Ideologi Bung Karno
hanya dekorasi cantik untuk rumah yang bernama Partai. Parpol telah mengalami
dekadensi tujuan. Jangan bandingkan pada Pemilu pertama Indonesia tahun 1955,
ketika itu tujuan berpolitik adalah menjadi negarawan yang luhur, sesuai apa
yang dikatakan oleh Socrates, Politik merupakan pekerjaan suci. Lain dulu lain
sekarang lain guru lain pula lakunya, hari ini tujuan berpolitik bukanlah untuk
menjadi pengabdi tapi...ah tentu pahamlah. Bukan pula untuk melahirkan
negarawan-negarawan, menjadi pengusaha mungkin iya.
Aku menjadi sedikit
sentimentil ketika membicarakan hal tersebut, karena hadangan terbesar untuk
terjun ke dunia politik adalah menanggalkan
perasaan. Hitam dan putih bukanlah kepastian, para politisi sepertinya
terlalu banyak belajar teori Relativitasnya Einstein. Sangat relatif.
Kalau soal pertanyaanmu
tentang Ibu, aku tak ingin menjawabnya karena aku tak punya komptensi memahami
itu mas.
***
Sampai disuatu titik
tertentu, aku baru menyadari bahwa sampean bukan ingin menjadi Hulk mas, tapi
kamu telah menjadi Avatar. Avatar pengedali ceret.
Selamat siang mas Beib,
salam untuk ShenLong. Jangan berebut bola naga. Namek tak selamanya hijau. PKB
juga seperti itu ;p







0 komentar:
Posting Komentar