Jumat, 08 April 2016

Panama Paper Tak Butuh Tax Amnesty

Kemelut Tak Pernah Usai
     Terbongkarnya dokumen Panama Papers secara internasional membuktikan bahwa keinginan warga masyarakat untuk menghindari pajak tinggi.  Seperti diketahui Panama Papers adalah sebutan terkait bocornya data ribuan klien perusahaan pengelola investasi asal Panama, Mossack Fonseca. Jutaan dokumen itu memuat mengenai individu dan entitas bisnis yang memanfaatkan perusahaan offshore untuk menghindari pajak dan melakukan pencucian uang.

     Terdapat banyak nama dari Indonesia yang masuk di Panama Paper. Rata-rata Pengusaha dan Politisi. Nama yang cukup bikin tercengang adalah tercatutnya Nama Rini Soemarno. Sebab ia merupakan Menteri BUMN yang notabene merupakan bagian dari Pemerintahan saat ini.

      Respon Pemerintah untuk saat ini masih bertindak secara pasif. Jika melihat negara lain, di Islandia, perdana Menterinya langsung mundur dari jabatannya sebagai bentuk pertanggung jawabannya. Di Inggris, pemerintahan negara tersebut membentuk tim khusus untuk menyelidiki persoalan Panama Paper. Di Panama, telah membentuk komisi Independen untuk mengevaluasi sistem transparansi dan hukum negara tersebut. Sedangkan di Prancis,  memasukan Panama sebagai daftar hitam negara pengemplang pajak.  Di Belahan lain,  Negara Amerika Serikat, mengeluarkan aturan untuk memaksa Bank mencari identitas orang yang bertanggung jawab pada perusahaan palsu (sheel Company) yang menjadi mengatas namakan dokumen di Panama Paper. Artinya pemerintah di banyak negara merespon cepat dengan membuat kebijakan-kebijakan strategis untuk menangani kasus bocornya dokumen Panama Paper. Sedangkan di Indonesia, DPR-RI justru meresponnya dengan langkah lain yang cenderung tidak masuk akal, yaitu mempercepat pembahasan RUU Tax Amnesty. Jelas. Hal tersebut merupakan dua hal yang berbeda. Para pihak yang terlibat dalam Panama Paper merupakan pihak-pihak pendosa negara, pengemplang pajak. negara mengalami kerugian pada tindakannya. Sedangkan Tax Amnesty tak lebih dari karpet merah yang memposisikan pendosa negara sebagai penyelamat negara. Logika macam apa yang coba dihadirkan?

Pandangan Pribadi
       Pertama, Pembasahan Tax Amnesty bukan jalan tengah yang bijak. Seharusnya pemerintah lebih mawas diri. Melihat sistem perpajakan di negara ini telah seberapa efektif dalam menjaga agar tidak melahirkan pengemplang pajak baru. Misalnya koreksi pada sistem perpajakan saat ini, mengapa  ada 2.961 nama dari Indonesia di Panama Paper, yang terindikasi melakukan pengemplangan pajak dan transaksi keuangan ilegal? Oleh karena itu, pembangunan sistem adminsitrasi perpajakan adalah langkah yang lebih konkrit daripada kembali membicarakan Tax Amnesty, ketika Pemerintah dan DPR RI ingin membahas kembali Tax Amnesty, maka seperti dalam peribahasa bagai Anjing mengulangi bangkai, mengulangi lagi perbuatan yang tak patut.

      Kedua, Retooling Kelembagaan Keuangana adalah bentuk konkrit, dalam hal ini Kementrian keuangan sebagai lembaga pengelolaan keuangan di negara ini. Retooling atau melengkapi kembali dalam konteks penguatan kelembagaan, seperti mengganti perundang-undangan yang melemahkan posisi tawar pada wajib pajak, meropisisi sistem pemungutan pajak di negara ini. Jika selama ini Self-assesment dianggap justru memicu potensi pengemplangan pajak. Mengapa tidak membuat kebijakan yang lebih force dalam pemungutan pajak, tentu hal tersebut merupakan kewenangan dari pemerintah, dalam hal ini adalah kemenkeu. Selain itu, Yurisdiksi Perpajakan di Indonesia menjadi kuasa KemenKeu.

        Ketiga, negara Indonesia adalah negara yang memiliki wibawa sebagai pemerintahan dan entitas bangsa. Dalam kaitannya dengan Panama Paper, jika memang ada ‘orang dalam’ Jokowi yang terlibat maka Presiden harus bertindak tegas. Seperti yang jamak diberitakan bahwa Menteri Rini Soemarno merupakan salah satu orang dari 2.961 yang namanya termuat di Panama Paper. Oleh karena itu, akan menjadi gentle man apabila Presiden bisa memberikan sikap dan ketegasannya untuk melakukan membersihkan Kabinet dari menteri-menteri yang tidak bersih.  Apabila Presiden tetap mempertahankn Rini Soemarno maka hal tersebut bukan merupakan tindakan yang bijak dari seorang Presiden. jika Jokowi tetap bersikukuh mempertahankan Rini meski skandal Panama Papers melibatkan Menteri BUMN tersebut, artinya Presiden telah mengorbankan nurani, rakyat, bangsa dan negara?
         Keempat, seharusnya yang bereaksi bukan para politisi di DPR-RI yang reaksioner menganggap Tax Amnesty sebagai jalan keluar. Jika memang pihak-pihak yang terlibat dengan Panama Paper merupakan bagian dari pendosa Pajak negara ini, maka jelas bahwa konsekuensinya adalah hukuman. Oleh karena itu, lembaga penegakan hukum lah yang seharusnya meresponnya dengan cepat. KPK, Kejaksaan dan Kepolisianlah yang seharusnya menangani persoalan tersebut. Karena tidak hanya terindikasi pengemplangan pajak namun juga tindak pidana pencucian uang atau Economy Underground atau kegiatan ekonomi ilegal seperti bisnis terlarang.

      Negara Indonesia terus diterpa prahara, dari mulai hal yang tidak penting, setidak penting rombongan genit yang berfoto kemayu di bawah bunga Sakura dan para rombongan kakap pengemplang pajak yang tak tau malu namanya termuat di Panama Paper. Sikap kita sebagai warga negara yang (merasa) baik tentunya harus melihat persoalan tersebut sebagai proses pendewasaan berbangsa dan bertanah air.

      Semoga kita menjadi warga negara yang tidak reaksioner menyikap persoalan kebangsaan yang banal dan degil tersebut.
Merdeka!!!

Rabu, 06 April 2016

Jember adalah makna bukan kata



         
      Mengapa saya kuliah di Jember? Pertanyaan itu semacam penolakan diri saya ketika menyadari bahwa Universitas Jember (UNEJ) menerima lamaran pendidikan yang saya ajukan melalui program PMDK. Sebelumnya saya ingin masuk UGM atau paling tidak UNDIP. Semuanya sama, memilih fakultas Hukum sebagai pilihan pertama dan Hubungan Internasional sebagai pilihan kedua.

Suatu pagi di tahun 2009, saya menerima kabar dari Guru BK bahwa berkas saya lolos PMDK di Unej. Unej bukanlah tempat yang asing bagi saya, apalagi fakultas Hukumnya. Saya lahir di Jember, tepatnya di klinik Margirahayu, dekat TK Bayangkara.  Ayah pernah kuliah disana periode tahun 1981-1988an. Sampai saat ini ijasahanya tidak juga diambil. Hem,lupakan. saya tidak sedang membicarakan ayah dalam tulisan kali ini.

Saya memikirkan, kenapa saya harus kuliah di Unej? Sempat ada penolakan yang cukup lama, karena setelah tahu saya mendapat PMDK di Jember, pintu menuju UGM di tutup oleh Ayah. Saya tidak mendapat ijin untuk ikut UM UGM, Universitas harapan, sampai detik saya menulis. Hubungan saya dan ayah pun tidak baik. Sangat tidak baik, karena saya menyimpan bara amarah.

 Saya pun berangkat ke Jember untuk daftar ulang. Sekedar mengingatkan, bahwa PMDK jalur tanpa test hanya mengandalkan prestasi dan nilai rapot. PMDK pun tidak menyahihkan bahwa saya berprestasi, saya lebih suka menyebutnya sebagai keberuntungan karena saya tidak perlu sibuk ikut SMPTN dan keribetan ujian lainnya. Keberuntungan itu baru saya sadari beberapa tahun setelah hari penuh kemurungan. 

Jember bukanlah kota pilihan. Sepi, aneh, dan agak norak. Apalah kota itu, pikir seorang bocah waktu itu. Tak ada daya tarik yang membuat saya memilih Jember sebagai alasan yang mutlak, kalau bukan karena saya yang  tidak diberi kesempatan bertarung di UGM. Tidak ada alasan lain selain itu. Hem, 2009 telah melampaui batas waktu yang liyan.

Tentang Jember dan rindu yang tak bisa dibagi

Tahun 2009 dan segala penolakan pada Jember telah lingsir, menjauh sampai dititik saat ini saya menulis diruang kosong, hanya meja, kursi dan pendingin ruangan, tidak lagi di Jember namun di Jakarta.  Dulu, hampir tiga bulan sekali saya pulang ke Garut dan merasa bahwa Jember bukanlah tempat saya berada. Saya ingin ke UGM. Itu pikiran keruh yang akhirnya berdampak pada hasil ujian saya sangat buruk. Disemester pertama, dua mata kuliah tidak bisa ikut ujian. Mata kuliah Bahasa Belanda dan Pengantar Sosiologi Hukum. IPK 2,14 menjadi konsekuensi paling logis. Enam bulan saya berkutat dengan rasa amarah pada ayah. Kenapa saya tidak diberi ijin untuk mencoba ke UGM, urusan tidak lolos, tak jadi soal. Lebih penting saya bisa merasakan pertarungan untuk memperebutkan satu kursi di Fakultas Hukum UGM, pikir saya waktu itu. Kalaupun berangkat sendiri, saya tak punya cukup logistik. Uang jajan saya terlalu pas-pasan sebagai bekal nekad saya ke Jogjakarta. Alasan lainnya, mamah selalu menahan amarah saya dan memberikan wejangan bijak. Periode 2009 sampai 2010 saya masih belum menyadari bahwa Jember adalah satu keberuntungan bagi saya. 

         Tahun 2016, dimana banyak proses telah saya lewatkan dari kota itu. Penolakan saya pada Jember telah kalis begitu saja dimakan aktifitas. Lebih tepatnya aktifitas di Organisasi, GmnI dan UKPKM Tegalboto adalah rumah saya waktu itu. Saya berproses menemukan natalitas untuk kedua kalinya dan dibaptis di sungai Bedadung, sampai penolakan pada Jember menjadi cecar rindu yang entah sampai kapan harus ditahan. Saya benar-benar menyukai Jember, sesederhana saya mencintai kebebasan. 

Jember bukan perkara kota di hampir ujuang timur pulau Jawa. Jember bagi saya bukan sebatas geospasial. Sekali lagi, Jember adalah penemukan ‘aku’ yang tak sempat saya temukan di kota tempat saya tinggal, Garut. Saya bertemu dengan perebutan nalar, kuasa sampai pemaknaan. Sederhananya, saya belajar banyak dari kota Jember. Belajar tidak hanya bunyi Pasal-pasal da azas di fakultas Hukum, saya menemukan makna di Jember.

Tak heran, hampir tiga bulan sekali saya berkunjung ke Jember, meski saat ini tempat saya berproses ada di Jakarta. Jakarta-Jember hanya batasan ruang saja namun harapan saya kelak, saya ingin kembali ke kota itu. Entah kapan, entah berapa banyak rambut putih yang menghiasai kepala, entah seberapa lantang saya berteriak, entah seberapa lemah saya berjalan. Pusara saya ingin damai di Jember. 

Jember adalah batas tipis saya dan rindu, dimana saya menemukan rindu pada hal yang absurd. Akan jelas ketika saya rindu Anggie, ia pasangan saya. Namun rindu saya pada Jember seperti ke-absurd-an yang mencandu. Saya rindu jalanan berlubang di Jalan menuju Antirogo, mayang, Tanggul, Panti, Puger, Jenggawah, Kencong dll, saya rindu suasana sehabis hujan di Jember, saya rindu harum udara Jember, saya rindu celetukan dan logat unik dari penduduk Jember, saya rindu pada yang tak terdefinisi oleh inderawi. Sekali lagi, karena saya rindu pada Jember sebisa-bisanya dan sehormat-hormatnya karena “Jember adalah makna bukan kata”. Mungkin saya bukanlah yang pertama atau satu-satunya . banyak kawan yang seperti saya.

Oleh karena itu, biarkan aku merindukan Jember dengan sederhana, sederhana aku menulis rindu pada Jember.
Titip rindu untuk langit Jember.
 

Senin, 04 April 2016

Malam semakin lugu, kita yang menolak Bodoh



*memungut sisa ingatan diskusi antara saya dan Ikhsan




Malam semakin lingsir. Dinding kamar tampak kusam, cahaya neon 15 Watt tak mampu terlalu kuat melawan malam, kamar berukuran 3x3 tampak redup, sedikit panas namun ada harapan dari mata mulut jendela yang menganga membiarkan angin malam Jakarta masuk, mengganti udara bebal sisa-sisa lelah selepas bekerja. Malam itu, saya berkunjung ke Kost karib di Duren Tiga. Kawan karib yang berasal dari kubangan sama di Jember dulu. Iya Dulu. Seolah, waktu itu telah jauh beranjak meninggalkan semangat-semangat tulus untuk terus belajar dan berkarya. Ah sudahlah. Jakarta atau Jember hanya perkara ruang. Waktu dan semangat tetap sama, meski kadang direcoki oleh kepentingan-kepentingan untuk menjadi manusia modern, bekerja dan berdasi. Kami telah lebih dulu melepaskan embel-embel simbolik yang penuh kooptasi.

Malam itu, diawali dari obrolan kawan lama yang sudah sebulan tidak berjumpa, padahal kost saya dan ikhsan hanya selemparan batu saja, Superman yang melempar batunya. kesibukanlah yang membuat satu sama lain tidak bisa dengan serta merta berjumpa setiap saat. Di kost Ikhsan ada juga karib saya, Wishnu dan Adjie, pun keduanya berasal dari kubangan yang sama seperti Ikhsan dan saya.
Malam semakin membawa pada obrolan yang lebih serius, ketika Wishnu lebih memilih kencan dengan pacarnya sedangkan Adjie lebih memilih onani di kamarnya. Saya berada dalam obrolan sentimentil, diskusi dipinggiran kota Metropolis.

Saya bertanya pada Ikhsan soal hubungannya dengan perempuan yang selalu menantinya di Jember sana, panggil saja perempuan itu Kelincik (pakai K). Raut wajahnya nampak lebih serius, pandangannya lebih tajam memperhatikan kata-kata yang saya ucapkan. Ia sepertinya tidak ingin membicarakan hal tersebut lebih dalam. Sampailah muara diskusi ini pada yang sifatnya lebih aksiologis dan ontologis. Diskusi makin filosofis ketika, perkara perempuan coba diterjemahkan tidak bagaimana melakukan aneksasi, kolonialisasi pada kaum hawa. Tidak. Namun lebih reflektif,
“apa itu lelaki, fin? Bagaimana jika  kelamin (sebagai Pembeda) tidak ada? Lalu bagaimana kita menyebut diri sebagai lelaki? Tanyanya dengan penuh penekanan.


Tentang Kesatria yang Terlupakan
      “apa itu lelaki, fin? Bagaimana jika  kelamin (sebagai Pembeda) tidak ada? Lalu bagaimana kita menyebut diri sebagai lelaki? Tanyanya dengan penuh penekanan.
Diskusi tersebut coba membuka paradigma baru tentang kelelakian yang diyakin oleh masing-masing dari kami. 

      Pertanyaan itu yang diutarakan sebagai pemantik diskusi panjang. Kami mencoba mengurai makna lekaki itu apa? Kriteria menjadi lelaki itu adanya dititik mana dan apa?
“Kesatria, jiwa kesatria lah yang dapat menyimbolkan kami sebagai seorang lelaki” kata kunci yang coba kami urai pertama adalah kesatria. Namun bagaiaman kita menjadi kesatria? Apakah dengan menjadi sosok yang biasa ditulis di Hipwee “ 11 syarat menjadi lelaki sejati”. Hallah..
Diskusi mengalir, Ksatria seperti wujud dari capaian terbaik menjadi lelaki. Kemudian muncul pertanyaan,

 apakah seorang lelaki agar menjadi kesatria, dia harus kaya? Disukai banyak lawan jenisnya? Haibat dan segala megalomaniak lainnya?
Kami coba mengurainya kembali, lalu kestria apakah sebegitu tidak adilnya bagi orang-orang yang tidak ganteng, tidak kaya, tidak sempurna (kaum difabel)?
Apakah mereka tidak punya kesempatan menjadi kestria? 

Kembali pada esensi diawal, Kesatrian bukan lagi tentang hal-hal yang bersifat Ontologis, namun lebih aksiologis. Kesatria dalam pemaknaan Ontologis (penampakan) lebih pada ia ada sosok yang telah selesai pada makna Ksatria dalam pengertian yang lebih aksiologis (tentang nilai), kemudian menjadi being dan existence adalah konsekuensi ketika tahapan aksiologis telah paripurna dimaknai. Artinya Kesatria adalah sikap!
Kemudian, pertanyaan selanjutnya sikap apa yang membuat lelaki menjadi Kesatria? (sekali lagi, singkirkan jenis kelamin, singkirkan pembeda lainnya)

Pertama kali, kami menemukan bahwa lelaki yang berjiwa kesatria itu dibangun dari pondasi, ia bisa memilih bukan memutuskan. Memilih ialah kondisi ada lebih dari satu hal yang bisa menjadi pembandingnya sebelum ia menentukan pilihannya. Maksud dari diskusi tersebut, kondisinya bukan serta merta dalam memusutkan tanpa pilihan terlebih dahulu.

          Sebelumnya agar lelaki mendapatkan pilihan, ia harus melakukan penaklukan atau perjuangan. Pilihan yang didapat oleh lelaki tidak alih-alih datang dari langit tanpa perjuangan. Artinya, sifat lelaki adalah berjuang adalah step menuju lelaki sebagai Ksatria
Penaklukan tidak hanya perkara bagaiaman lelaki ‘menaklukan lawan jenisnya’. Karena lekaki kesatria tidak tersekat pada bagaimana ia menjadi existance ketika sebatas menjadi penakluk perempuan. Menaklukan dalam pengertian yang universal, melawan ego, melawan power will. Minimalnya ada 3 pilihan krusial dalam hidup lelaki untuk bisa dikatakan Ksatria.
1.      Pilihan untuk menentukan jalan hidup
2.      Pilihan untuk menentukan ruang dimana meraih kejayaan (harta dan tahta)
3.      Memilih untuk menentukan pasangan hidup untuk mereplikasi diri (mencari keturunan)

  Menurut Nietzche, bahwa hakikat tedalam dari ada (being) adalah kehendak untuk berkuasa (Power Will). Singkatnya, kehendak untuk berkuasa adalah hakikat dari dunia, hidup dan ada. Kehendak untuk berkuasa adalah hakikat dari segalanya. Lelaki (manusia) tidak jauh berbeda seperti binatang, keduanya memiliki kekuatan untuk menggapai Power Will-nya. Namun, dijelaskan oleh Nietzche bahwa yang membedakan lelaki (manusia) dengan binatang, manusia mempunyai potensi untuk mengatasi diri dan mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri. Ditahap tersebut seorang lelaki telah meningkatkan kualitas dirinya untuk menjadi sosok Ksatria. Sederhananya, mengelola ego dan hasrat agar tidak jauh menyerupai binatang.
Baiklah, Memilih saja tidak cukup karena memilih adalah lantai dasar dari beberapa lantai untuk meraih Jiwa Ksatria. Lelaki tidak selesai begitus aja dalam pemilihannya namun harus mengelola pilihannya tersebut. Kami menemukan tahap berikutnya untuk menjadi lelaki Ksatria, ada tiga hal yang menjadi modal penting. Dimana tiga hal tersebut  saling berkaitan dan tidak bisa dipilih salah satunya saja yaitu:

1.      Lelaki harus bertanggung jawab
Bertanggung jawab pada pilihan adalah sikap awal dari Ksatria. Pemaknaan bertanggung jawab tersebut bahwa lelaki sadar bahwa pilihannya memiliki konsekuensi, sehingga dalam memilih lelaki tidak seporadis. Misalnya dalam memilih pasangan hidup,  lelaki tidak hanya melihat perkara sexualitas lawan jenisnya saja namun adalah konsekuensi yang sudah tergambarkan dimasa yang akan datang. Sederhananya Lelaki diposisi yang bertanggung jawab seperti seorang sutradara membuat film, sang sutradara sudah memiliki gambaran-gambaran jalan cerita film tersebut kemudian mengelolanya dengan jenius. Konflik-konflik dalam hidup yang dilalui dikemudian hari adalah serangkaian pemanis cerita. Konsistensi dalam pilihan termasuk menjadi tanggung jawabny.

2.      Lelaki harus berani
Dalam posisi ini, Lelaki seperti Nahkoda ditengah Badai di samudera lepas. Sang Nahkoda harus berani dalam menentukan keputusan yang tepat, tidak tergesa-gesa dan tegas. Keberanian itulah yang membawa lelaki pada dua sisi yang harus siap ia hadapi, berani diluar zona nyaman atau berani dalam zona nyaman karena keduanya memiliki ruang uji yang sama-sama mengerikan. Lelaki pun memiliki keberanian dalam menentukan pilihan dan sikap, ia tidak akan menggantungkan pada sikap tanpa pilihan. Iya atau tidak. Tony Blair mantan Perdana Menteri Inggris pernah mengatakan, seni dalam kepemimpinan adalah berani memilih, memilih ‘ya atau tidak’. Tapi pemimpin harus siap dengan pilihan tidak. ‘Tidak’ dimaknai bukan hanya sebatas denial terhadap yang ia tidak suka namun juga penolakan yang ia suka. 

3.      Bijaksana adalah salah satu kunci menjadi Lelaki
Menjadi bijak tidak semata harus tampil seperti Dalai Lama atau memilih jalan Ahimsa Mahatma Gandhi. Menjadi bijak bukan berarti harus secerdas Einstein. Kami merasa itu tidak perlu. Seorang Jenghis Khan yang membantai seluruh penduduk desa di India pun tetap memiliki hak dan kesempatan menjadi bijak. Artinya menjadi bijak tidak harus menjadi siapa dan apa. Menjadi bijak adalah pilihan dan sikap dari penerimaan-penerimaan yang terdapat dalam kehidupan ini untuk kemudian menyikapinya dengan pilihan sikap yang dapat diterima sebagai pilihan paling baik meski tidak terasa menyenangkan. Lelaki yang menuju tahapan ksatria akan menapaki tahapan menjadi bijak. Bijak tidak membiarkan perempuannya menunggu atau bijak tidak menyikapi gejolak dalam kehiduapan keseharian.
     Kebijaksanaan dibangun dari prespektif yang Imparsial. Artinya melihat segala sesuatu secara menyeluruh, tidak tersekat-sekat pada egosentris kedirian, sebatas mempertahankan eksistensialismenya. Pondasi dari kebijaksanaan adalah sikap jujur, menahan diri agar ego tidak berkuasa dan prespektif yang tidak parsial.

Tahapan Nirwana
         Menjadi ksatria seperti manusia mencari surga. Tidak ada parameter yang pasti dan sahih sampai di surga mana kita akan berada. Tidak juga dengan manusia berbuat baik akan sampai pada surga yang diharapkan. Menjadi ksatria bukanla intrepretasi dari diri sendiri, tentunya hanya kental pada nuansa subjektifitas saja. Ksatria adalah tentang penilaian, mereka yang menilai bukan saya sebagai individu. Iya bukan saya. Semua serba imaterial, tidak berwujud namun dapat dirasakan, seperti oksigen. Kami sendiri pun menyepakai tahap ksatria adalah dimana posisi ego sebagai individu dapat ditaklukan oleh si lelaki itu sendiri. Artinya bukan seberapa banyak perempuan yang dapat ia tiduri atau sebera sering berganti pekerjaan atau seberapa banyak harta yang ditumpuk. Bukan. Namun semua itu seberapa berkuasa diri lelaki sebagai manusia pada egosentrisnya.
Diskusi terus berlanjut dan semakin dalam. Ikhsan bertanya,
apa cukup lelaki menjadi ksatria?

         Tentu tidak cukup. Apalah arti ksatria jika ia hanya dirundung akan penderitaan kesendirian yang tidak berkesudahan.  Ia harus menjadi manusia dalam pengertian yang paling esensial, ditemani dan mereplikasi diri. Berkerluarga dan melanjutkan keturunan. Ksatria harus menjadi raja.
Lelaki sebagai ksatria harus menjadi raja. Raja harus mempunyai istana dan mahkota. Oleh karena itu. Pernikahan adalah wujud paling logis sebagai seremonial sang lelaki untuk menjadi raja. Lebih tepatnya dinobatkan sebagai raja. Proses pernikahan didapat dari proses yang terdahulu. Menaklukan kemudian memilih setelah itu bertanggung jawab, berani dan bijaksana dalam pilihannya.
Lelaki akan pada tahap itu setelah ia sadar akan pilihannya dan menyematkan pada satu pilihan yang paling baik. Kali ini, pilihannya bukan perkara pekerjaan atau jalan hidup namun pilihan yang akan disematkan pada sosok lawan jenis mana yang akan mendampinginya. Dalam hal ini, kami bersepakat bahwa perempuan bukan lagi tulang rusuk yang berada di titik simetris lelaki.  Namun perempuan adalah mahkota lelaki. Mahkota sebagai manifestasi paling nyata dari kehormatan, kewibawaan dan kelayakan manusia  berjenis lelaki pantas disebut sebagai lelaki ksatria yang sahih menjadi raja.

        Kenapa perempuan adalah mahkota. Karena perempuan ‘didapat’ dari proses penaklukan eksternal dan internal si lelaki. Bagi perempuan feminis mungkin tidak sepakat, tidak apa. Sekali lagi ini hanya diskusi dari dua lelaki maskulin pemegang teguh sistem Patriarki. Perempuan adalah kerhomatan merupakan esensi paling dasar bahwa lelaki harus bisa bertanggung jawab pada pilihanya, pilihannya mempersunting perempuan tersebut menjadi mahkotanya, termasuk mengelola kerajaannya untuk bisa menjadi kerajaan yang berkembang dan maju. 
Survival dan Replikasi

        Dalam tahapan dari awal yaitu penaklukan sampai menjadi raja adal tool untuk ‘bertarung merebut nilai dari Ksatria. Menurut Freud, dua hal yang dialami manusia adalah replikasi yaitu melanjutkan keturunan dan survival bertahan hidup. Dua hal tersebut dibangun dari pondasi-pondasi yang kuat.
        Pemahaman replikasi bahwa manusia dihadapkan  pada pilihan  berpasangan agar memiliki kemampuan mempertahankan keturunan. Penyatuan lendir akan menghasilkan keturunan, begitu sederhananya. Namun tidak serta merta naluri kebinatangan tetap dipertahankan, seperti yang diterangkan oleh Nietzche diawal bahwa yang membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuan mengelola  keinginan. Ora ngasal lidig-lidig, enak! Begitu kalau kata kawan-kawan Lidig Mania

       Dalam replikasi harus memperhatikan bibit bobot dan bebet. Terdengar klasik namun itu parameter yang paling sederhana dari petuah tetua dulu. Baiklah. Si lelaki akan melirik perempuan yang secara seksualitas menarik, naluri kebinatangan manusia yang digunakan. Perempuan yang mencolok. Berdada besar, cantik, berbokong besar atau apalah itu sesuai kriteria masing-masing. salah, lepaskan salah dan benar. Namun yang pasti itu pilihan yang mendasar.

        Kemudian manusia akan pada tahapan survival. Beranak pinak saa tidak cukup namun juga perlu bertahan hidup untuk meraih kejayaan atau alasan-alasan lainnya. Oleh karena itu, mengapa kita perlu sehat, perlu cerdik dan perlu bekerja. Semua agar kita sebagai manusia bisa bertahan, kalau kata Makoto Shihio (tokoh dalam anime Samurai X) “ yang kuat akan bertahan, yang lemah akan musnah”. Terdengar agak fasis dan tidak humanis namun lihatlah lebih realistis. Bahwa hukum alam akan menyeleksi pihak-pihak yang lemah. Hukum evolusi pun demikian. Artinya yang bertahan dari kehidupan saat ini adalah hal-hal yang memenangkan pertarungan. Kita hidup dari sperma yang menang dari miliaran sperma yang kalah. Bahkan dari tahapan paling dasar sendiri kita sebagai manusia adalah penakluk.

          Kembali pada persoalan bahwa manusia harus bertahan. Tentu dalam bertahan harus dibarengi dengan tool, yang dimaknai sebagai bekal menjalani hidup.  Contoh yang paling sederhana, kenapa kita harus berpendidikan tinggi? Tidak serta merta pendidikan sampai S3 atau Profesor hanya untuk menambah nama kita yang terpahat di pusara kelak. Bukan. Namun pendidikan mempengaruhi prespektif. Tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan, kecerdasan merupakan poin dasar dari prespektif yang dimiliki manusia. Pendidikan membawa manusia pada memahami dan pemahaman. Mengerti dan memaknai. Bukan sekedar ‘hafal tanpa esensi’. Bangku kuliah mengajarkan manusia untuk melihat sesuatu tidak tersekat pada ketidak tahuan. Karena bekal dasar untuk bertahan hidup adalah melihat persoalan secara menyeluruh bukan tersekat-sekat.  Itulah kenapa lelaki yang akan menjadi ksatria harus berpendidikan, tidak terkecuali pasangannya.

            Begitu pula kenapa perlu menjadi sehat dan perlu memiliki kelayakan dalam hal materi semua menuju pada alat, sarana untuk mencapai tujuan hidup yang makmur, bahagia dan bla.bla..
Lebih penting dari itu, sebagai lelaki adalah untuk meraih makna jiwa ksatria.
Lain daripada itu, perempuan yang akan (kelak) menjadi mahkota lelaki adalah perempuan yang terseleksi dari proses perjuangan sang lelaki, artinya perempuan-perempuan yang layak diperjuangkan.

        Baiklah. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui atau menyamakan pandangan kawan-kawan pembaca terkait definisi lelaki. Makna lelaki yang terdifini sebagai ksatria merupakan kesimpulan dari diskusi kami malam itu. Bukan pula untuk merasa paling tahu, hanya sebatas merasionalisasikan  bagaiamana, tahapan seperti apa yang harus dilalui oleh sesorang lelaki untuk mendapatkan nirwananya. Kami rasa para feminis akan berkerut dahi. Anggap saja, kami sedang menjadi ideal dengan definisi pemaknaan tersebut.


huftt, tak terasa pagi terlampau cepat mengkhianati...
Tabik!!!