*memungut sisa ingatan diskusi antara saya dan Ikhsan
Malam semakin lingsir.
Dinding kamar tampak kusam, cahaya neon 15 Watt tak mampu terlalu kuat melawan
malam, kamar berukuran 3x3 tampak redup, sedikit panas namun ada harapan dari
mata mulut jendela yang menganga membiarkan angin malam Jakarta masuk, mengganti
udara bebal sisa-sisa lelah selepas bekerja. Malam itu, saya berkunjung ke Kost
karib di Duren Tiga. Kawan karib yang berasal dari kubangan sama di Jember
dulu. Iya Dulu. Seolah, waktu itu telah jauh beranjak meninggalkan
semangat-semangat tulus untuk terus belajar dan berkarya. Ah sudahlah. Jakarta
atau Jember hanya perkara ruang. Waktu dan semangat tetap sama, meski kadang
direcoki oleh kepentingan-kepentingan untuk menjadi manusia modern, bekerja dan
berdasi. Kami telah lebih dulu melepaskan embel-embel simbolik yang penuh
kooptasi.
Malam itu, diawali dari
obrolan kawan lama yang sudah sebulan tidak berjumpa, padahal kost saya dan
ikhsan hanya selemparan batu saja, Superman yang melempar batunya. kesibukanlah
yang membuat satu sama lain tidak bisa dengan serta merta berjumpa setiap saat.
Di kost Ikhsan ada juga karib saya, Wishnu dan Adjie, pun keduanya berasal dari
kubangan yang sama seperti Ikhsan dan saya.
Malam semakin membawa
pada obrolan yang lebih serius, ketika Wishnu lebih memilih kencan dengan
pacarnya sedangkan Adjie lebih memilih onani di kamarnya. Saya berada dalam
obrolan sentimentil, diskusi dipinggiran kota Metropolis.
Saya bertanya pada Ikhsan
soal hubungannya dengan perempuan yang selalu menantinya di Jember sana,
panggil saja perempuan itu Kelincik (pakai K). Raut wajahnya nampak lebih
serius, pandangannya lebih tajam memperhatikan kata-kata yang saya ucapkan. Ia
sepertinya tidak ingin membicarakan hal tersebut lebih dalam. Sampailah muara
diskusi ini pada yang sifatnya lebih aksiologis dan ontologis. Diskusi makin
filosofis ketika, perkara perempuan coba diterjemahkan tidak bagaimana
melakukan aneksasi, kolonialisasi pada kaum hawa. Tidak. Namun lebih reflektif,
“apa itu lelaki, fin? Bagaimana
jika kelamin (sebagai Pembeda) tidak
ada? Lalu bagaimana kita menyebut diri sebagai lelaki? Tanyanya dengan penuh
penekanan.
Tentang Kesatria yang Terlupakan
“apa
itu lelaki, fin? Bagaimana jika kelamin
(sebagai Pembeda) tidak ada? Lalu bagaimana kita menyebut diri sebagai lelaki?
Tanyanya dengan penuh penekanan.
Diskusi tersebut coba membuka
paradigma baru tentang kelelakian yang diyakin oleh masing-masing dari kami.
Pertanyaan itu yang diutarakan
sebagai pemantik diskusi panjang. Kami mencoba mengurai makna lekaki itu apa?
Kriteria menjadi lelaki itu adanya dititik mana dan apa?
“Kesatria, jiwa kesatria lah yang
dapat menyimbolkan kami sebagai seorang lelaki” kata kunci yang coba kami urai
pertama adalah kesatria. Namun bagaiaman kita menjadi kesatria? Apakah dengan
menjadi sosok yang biasa ditulis di Hipwee “ 11 syarat menjadi lelaki sejati”.
Hallah..
Diskusi mengalir, Ksatria seperti
wujud dari capaian terbaik menjadi lelaki. Kemudian muncul pertanyaan,
apakah
seorang lelaki agar menjadi kesatria, dia harus kaya? Disukai banyak lawan
jenisnya? Haibat dan segala megalomaniak lainnya?
Kami coba mengurainya
kembali, lalu kestria apakah sebegitu tidak adilnya bagi orang-orang yang tidak
ganteng, tidak kaya, tidak sempurna (kaum difabel)?
Apakah mereka tidak punya kesempatan menjadi kestria?
Kembali pada esensi
diawal, Kesatrian bukan lagi tentang hal-hal yang bersifat Ontologis, namun
lebih aksiologis. Kesatria dalam pemaknaan Ontologis (penampakan) lebih pada ia
ada sosok yang telah selesai pada makna Ksatria dalam pengertian yang lebih
aksiologis (tentang nilai), kemudian menjadi being dan existence
adalah konsekuensi ketika tahapan aksiologis telah paripurna dimaknai. Artinya
Kesatria adalah sikap!
Kemudian, pertanyaan selanjutnya sikap apa yang membuat lelaki menjadi Kesatria?
(sekali lagi, singkirkan jenis kelamin, singkirkan pembeda lainnya)
Pertama kali, kami
menemukan bahwa lelaki yang berjiwa kesatria itu dibangun dari pondasi, ia bisa memilih bukan memutuskan.
Memilih ialah kondisi ada lebih dari satu hal yang bisa menjadi pembandingnya
sebelum ia menentukan pilihannya. Maksud dari diskusi tersebut, kondisinya
bukan serta merta dalam memusutkan tanpa pilihan terlebih dahulu.
Sebelumnya agar lelaki mendapatkan
pilihan, ia harus melakukan penaklukan atau perjuangan. Pilihan yang didapat
oleh lelaki tidak alih-alih datang dari langit tanpa perjuangan. Artinya, sifat
lelaki adalah berjuang adalah step
menuju lelaki sebagai Ksatria
Penaklukan tidak hanya perkara
bagaiaman lelaki ‘menaklukan lawan jenisnya’. Karena lekaki kesatria tidak
tersekat pada bagaimana ia menjadi existance ketika sebatas menjadi penakluk
perempuan. Menaklukan dalam pengertian yang universal, melawan ego, melawan power will. Minimalnya ada 3 pilihan
krusial dalam hidup lelaki untuk bisa dikatakan Ksatria.
1. Pilihan untuk menentukan jalan hidup
2. Pilihan untuk menentukan ruang dimana
meraih kejayaan (harta dan tahta)
3. Memilih untuk menentukan pasangan
hidup untuk mereplikasi diri (mencari keturunan)
Menurut Nietzche, bahwa
hakikat tedalam dari ada (being) adalah kehendak untuk berkuasa (Power Will). Singkatnya, kehendak untuk
berkuasa adalah hakikat dari dunia, hidup dan ada. Kehendak untuk berkuasa
adalah hakikat dari segalanya. Lelaki (manusia) tidak jauh berbeda seperti
binatang, keduanya memiliki kekuatan untuk menggapai Power Will-nya. Namun,
dijelaskan oleh Nietzche bahwa yang membedakan lelaki (manusia) dengan
binatang, manusia mempunyai potensi untuk mengatasi diri dan mempunyai tujuan
yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri. Ditahap tersebut seorang
lelaki telah meningkatkan kualitas dirinya untuk menjadi sosok Ksatria.
Sederhananya, mengelola ego dan hasrat agar tidak jauh menyerupai binatang.
Baiklah, Memilih saja tidak cukup karena memilih adalah lantai dasar dari
beberapa lantai untuk meraih Jiwa Ksatria. Lelaki tidak selesai begitus aja
dalam pemilihannya namun harus mengelola pilihannya tersebut. Kami menemukan
tahap berikutnya untuk menjadi lelaki Ksatria, ada tiga hal yang menjadi modal
penting. Dimana tiga hal tersebut saling
berkaitan dan tidak bisa dipilih salah satunya saja yaitu:
1. Lelaki harus bertanggung jawab
Bertanggung jawab pada pilihan adalah
sikap awal dari Ksatria. Pemaknaan bertanggung jawab tersebut bahwa lelaki
sadar bahwa pilihannya memiliki konsekuensi, sehingga dalam memilih lelaki
tidak seporadis. Misalnya dalam memilih pasangan hidup, lelaki tidak hanya melihat perkara sexualitas
lawan jenisnya saja namun adalah konsekuensi yang sudah tergambarkan dimasa
yang akan datang. Sederhananya Lelaki diposisi yang bertanggung jawab seperti
seorang sutradara membuat film, sang sutradara sudah memiliki gambaran-gambaran
jalan cerita film tersebut kemudian mengelolanya dengan jenius. Konflik-konflik
dalam hidup yang dilalui dikemudian hari adalah serangkaian pemanis cerita. Konsistensi
dalam pilihan termasuk menjadi tanggung jawabny.
2. Lelaki harus berani
Dalam posisi ini, Lelaki seperti
Nahkoda ditengah Badai di samudera lepas. Sang Nahkoda harus berani dalam
menentukan keputusan yang tepat, tidak tergesa-gesa dan tegas. Keberanian itulah
yang membawa lelaki pada dua sisi yang harus siap ia hadapi, berani diluar zona
nyaman atau berani dalam zona nyaman karena keduanya memiliki ruang uji yang
sama-sama mengerikan. Lelaki pun memiliki keberanian dalam menentukan pilihan
dan sikap, ia tidak akan menggantungkan pada sikap tanpa pilihan. Iya atau
tidak. Tony Blair mantan Perdana Menteri Inggris pernah mengatakan, seni dalam
kepemimpinan adalah berani memilih, memilih ‘ya atau tidak’. Tapi pemimpin
harus siap dengan pilihan tidak. ‘Tidak’ dimaknai bukan hanya sebatas denial terhadap yang ia tidak suka namun
juga penolakan yang ia suka.
3. Bijaksana adalah salah satu kunci
menjadi Lelaki
Menjadi bijak tidak semata harus
tampil seperti Dalai Lama atau memilih jalan Ahimsa Mahatma Gandhi. Menjadi bijak
bukan berarti harus secerdas Einstein. Kami merasa itu tidak perlu. Seorang
Jenghis Khan yang membantai seluruh penduduk desa di India pun tetap memiliki
hak dan kesempatan menjadi bijak. Artinya menjadi bijak tidak harus menjadi
siapa dan apa. Menjadi bijak adalah pilihan dan sikap dari
penerimaan-penerimaan yang terdapat dalam kehidupan ini untuk kemudian
menyikapinya dengan pilihan sikap yang dapat diterima sebagai pilihan paling
baik meski tidak terasa menyenangkan. Lelaki yang menuju tahapan ksatria akan
menapaki tahapan menjadi bijak. Bijak tidak membiarkan perempuannya menunggu
atau bijak tidak menyikapi gejolak dalam kehiduapan keseharian.
Kebijaksanaan dibangun dari
prespektif yang Imparsial. Artinya melihat segala sesuatu secara menyeluruh, tidak
tersekat-sekat pada egosentris kedirian, sebatas mempertahankan
eksistensialismenya. Pondasi dari kebijaksanaan adalah sikap jujur, menahan
diri agar ego tidak berkuasa dan prespektif yang tidak parsial.
Tahapan Nirwana
Menjadi ksatria seperti manusia
mencari surga. Tidak ada parameter yang pasti dan sahih sampai di surga mana
kita akan berada. Tidak juga dengan manusia berbuat baik akan sampai pada surga
yang diharapkan. Menjadi ksatria bukanla intrepretasi dari diri sendiri,
tentunya hanya kental pada nuansa subjektifitas saja. Ksatria adalah tentang
penilaian, mereka yang menilai bukan saya sebagai individu. Iya bukan saya.
Semua serba imaterial, tidak berwujud namun dapat dirasakan, seperti oksigen.
Kami sendiri pun menyepakai tahap ksatria adalah dimana posisi ego sebagai
individu dapat ditaklukan oleh si lelaki itu sendiri. Artinya bukan seberapa
banyak perempuan yang dapat ia tiduri atau sebera sering berganti pekerjaan
atau seberapa banyak harta yang ditumpuk. Bukan. Namun semua itu seberapa berkuasa
diri lelaki sebagai manusia pada egosentrisnya.
Diskusi terus berlanjut dan semakin
dalam. Ikhsan bertanya,
apa cukup lelaki menjadi ksatria?
Tentu tidak cukup. Apalah arti
ksatria jika ia hanya dirundung akan penderitaan kesendirian yang tidak berkesudahan. Ia harus menjadi manusia dalam pengertian
yang paling esensial, ditemani dan mereplikasi diri. Berkerluarga dan
melanjutkan keturunan. Ksatria harus menjadi raja.
Lelaki sebagai ksatria harus menjadi
raja. Raja harus mempunyai istana dan mahkota. Oleh karena itu. Pernikahan
adalah wujud paling logis sebagai seremonial sang lelaki untuk menjadi raja.
Lebih tepatnya dinobatkan sebagai raja. Proses pernikahan didapat dari proses
yang terdahulu. Menaklukan kemudian memilih setelah itu bertanggung jawab,
berani dan bijaksana dalam pilihannya.
Lelaki akan pada tahap itu setelah ia
sadar akan pilihannya dan menyematkan pada satu pilihan yang paling baik. Kali
ini, pilihannya bukan perkara pekerjaan atau jalan hidup namun pilihan yang
akan disematkan pada sosok lawan jenis mana yang akan mendampinginya. Dalam hal
ini, kami bersepakat bahwa perempuan bukan lagi tulang rusuk yang berada di
titik simetris lelaki. Namun perempuan
adalah mahkota lelaki. Mahkota sebagai manifestasi paling nyata dari kehormatan,
kewibawaan dan kelayakan manusia
berjenis lelaki pantas disebut sebagai lelaki ksatria yang sahih menjadi
raja.
Kenapa perempuan adalah mahkota.
Karena perempuan ‘didapat’ dari proses penaklukan eksternal dan internal si
lelaki. Bagi perempuan feminis mungkin tidak sepakat, tidak apa. Sekali lagi
ini hanya diskusi dari dua lelaki maskulin pemegang teguh sistem Patriarki.
Perempuan adalah kerhomatan merupakan esensi paling dasar bahwa lelaki harus
bisa bertanggung jawab pada pilihanya, pilihannya mempersunting perempuan
tersebut menjadi mahkotanya, termasuk mengelola kerajaannya untuk bisa menjadi
kerajaan yang berkembang dan maju.
Survival dan Replikasi
Dalam tahapan dari awal yaitu
penaklukan sampai menjadi raja adal tool untuk
‘bertarung merebut nilai dari Ksatria. Menurut Freud, dua hal yang dialami
manusia adalah replikasi yaitu melanjutkan keturunan dan survival bertahan
hidup. Dua hal tersebut dibangun dari pondasi-pondasi yang kuat.
Pemahaman replikasi bahwa manusia
dihadapkan pada pilihan berpasangan agar memiliki kemampuan
mempertahankan keturunan. Penyatuan lendir akan menghasilkan keturunan, begitu
sederhananya. Namun tidak serta merta naluri kebinatangan tetap dipertahankan,
seperti yang diterangkan oleh Nietzche diawal bahwa yang membedakan manusia
dengan binatang adalah kemampuan mengelola
keinginan. Ora ngasal lidig-lidig,
enak! Begitu kalau kata kawan-kawan Lidig Mania
Dalam replikasi harus memperhatikan
bibit bobot dan bebet. Terdengar klasik namun itu parameter yang paling
sederhana dari petuah tetua dulu. Baiklah. Si lelaki akan melirik perempuan
yang secara seksualitas menarik, naluri kebinatangan manusia yang digunakan.
Perempuan yang mencolok. Berdada besar, cantik, berbokong besar atau apalah itu
sesuai kriteria masing-masing. salah, lepaskan salah dan benar. Namun yang
pasti itu pilihan yang mendasar.
Kemudian manusia akan pada tahapan
survival. Beranak pinak saa tidak cukup namun juga perlu bertahan hidup untuk
meraih kejayaan atau alasan-alasan lainnya. Oleh karena itu, mengapa kita perlu
sehat, perlu cerdik dan perlu bekerja. Semua agar kita sebagai manusia bisa
bertahan, kalau kata Makoto Shihio (tokoh dalam anime Samurai X) “ yang kuat
akan bertahan, yang lemah akan musnah”. Terdengar agak fasis dan tidak humanis
namun lihatlah lebih realistis. Bahwa hukum alam akan menyeleksi pihak-pihak
yang lemah. Hukum evolusi pun demikian. Artinya yang bertahan dari kehidupan
saat ini adalah hal-hal yang memenangkan pertarungan. Kita hidup dari sperma
yang menang dari miliaran sperma yang kalah. Bahkan dari tahapan paling dasar
sendiri kita sebagai manusia adalah penakluk.
Kembali pada persoalan bahwa manusia
harus bertahan. Tentu dalam bertahan harus dibarengi dengan tool, yang dimaknai sebagai bekal
menjalani hidup. Contoh yang paling
sederhana, kenapa kita harus berpendidikan tinggi? Tidak serta merta pendidikan
sampai S3 atau Profesor hanya untuk menambah nama kita yang terpahat di pusara
kelak. Bukan. Namun pendidikan mempengaruhi prespektif. Tujuan dari pendidikan
adalah mencerdaskan, kecerdasan merupakan poin dasar dari prespektif yang
dimiliki manusia. Pendidikan membawa manusia pada memahami dan pemahaman. Mengerti
dan memaknai. Bukan sekedar ‘hafal tanpa esensi’. Bangku kuliah mengajarkan
manusia untuk melihat sesuatu tidak tersekat pada ketidak tahuan. Karena bekal
dasar untuk bertahan hidup adalah melihat persoalan secara menyeluruh bukan
tersekat-sekat. Itulah kenapa lelaki
yang akan menjadi ksatria harus berpendidikan, tidak terkecuali pasangannya.
Begitu pula kenapa perlu menjadi
sehat dan perlu memiliki kelayakan dalam hal materi semua menuju pada alat,
sarana untuk mencapai tujuan hidup yang makmur, bahagia dan bla.bla..
Lebih penting dari itu, sebagai
lelaki adalah untuk meraih makna jiwa ksatria.
Lain daripada itu, perempuan yang
akan (kelak) menjadi mahkota lelaki adalah perempuan yang terseleksi dari
proses perjuangan sang lelaki, artinya perempuan-perempuan yang layak
diperjuangkan.
Baiklah. Tulisan ini tidak
dimaksudkan untuk menggurui atau menyamakan pandangan kawan-kawan pembaca
terkait definisi lelaki. Makna lelaki yang terdifini sebagai ksatria merupakan
kesimpulan dari diskusi kami malam itu. Bukan pula untuk merasa paling tahu,
hanya sebatas merasionalisasikan
bagaiamana, tahapan seperti apa yang harus dilalui oleh sesorang lelaki
untuk mendapatkan nirwananya. Kami rasa para feminis akan berkerut dahi. Anggap
saja, kami sedang menjadi ideal dengan definisi pemaknaan tersebut.
huftt, tak terasa pagi terlampau cepat mengkhianati...
Tabik!!!