Sabtu, 24 November 2012

Ketertindasan adalah Awal Bahasa Perlawanan (Kisah Guy Fawkes)

Anonymous dengan senyum mautnnya!

Anonymous merupakan salah satu kelompok Hacker yang ‘kerjaannya’ bikin onar di jejaring internet. Biasanya yang menjadi sasasaran mereka adalah instansi-intansi besar, bahkan negara. Dalam kasus ini serangan yang dilakukan oleh kelompok Anonymous sebagai bentuk perlawanan pada Israel yang menyerang Palestina (baca Gaza). Bentuk perlawanan yang tidak menggunakan kekerasan tetapi dampaknya sangat signifikan. "Biar kami perjelas sekali lagi: Anonymous tidak memberikan dukungan terhadap aksi kekerasan. Anonymous merupakan kumpulan individu dari berbagai penjuru dunia yang memiliki tujuan untuk kepentingan hak asasi manusia, keadilan, dan persamaan universal untuk warga negara di semua negara," tulis Anonymous di situs Anonpaste.me. Terang saja meskipun tanpa kekerasan aksi mereka membuat banyak pihak yang menjadi korbannya keteteran menghadapinya. Dunia maya memang tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan nyata karena hampir semua kehidupan didunia ini digerakan secara online  sehingga jika terjadi kekacauan didunia maya berdampak pula pada kehidupan nyata.
Serangan yang dilakukan oleh kelompok Hacker itu membuatku tertarik . bukan tertarik pada aksi hackingnya tetapi soal nama kelompok dan style mereka ketika muncul didepan publik bergaya seperti mr. V dalam film V for Vandeta. Wow keren sekali!. Menggunakan topeng berwajah tersenyum dengan aksen kumis tipis melengkung dan topi hitam ala rabi  Yahudi sungguh menambah kesan dingin sosok anonymous.
Anonymous yang aku tahu ada di film V For Vandeta sebagai sosok yang pejuang yang selalu menggunakan topeng. Film itu menceritakan Inggris pada tahun 2038 yang ketika itu dipimpin oleh seorang dictator yang menyengsarakan rakyat Inggris. Rakyat Inggris dilanda kelaparan, kemiskinan dan banyak yang mati karena keadaan itu. Sampailah pada saat itu muncul seorang sosok yang misterius yang dikenal sebagai Mr.V. Mr V mencoba melepaskan keadaan buruk itu dan dalam menjalankan aksi perlawanan sistem  dengan menggunakan topeng. Topeng yang selalu digunakan Mr. V dalam menjalankan aksi perlawanan terhadap sistem menjadi simbol bahwa pelaku pemberontakan adalah masyarakat itu sendiri dan bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga menghindari kultus individu seseorang yang biasa terjadi dalam suatu revolusi. Biasanya dalam revolusi selalu muncul sosok-sosok yang pada akhirnya identik dengan revolusi itu dan seolah-seolah menjadi individu yang dikultuskan sebut saja Bung Karno atau Lennin dalam revolusi Bolsyevik di Russia.

Kisah dari film Anonymous itu sungguh sangat menarik meskipun saya cukup pusing memahaminya karena alur ceritanya meloncat-loncat. Sekali lagi, ada hal sangat menarik perhatianku diluar alur ceritanya yaitu topengnya yang sedang tersenyum.dingin, Topeng itu membuatku penasaran soal siapa sebenarnya topeng terseyum itu?apakah memang tokoh yang benar-benar ada atau hanya sebatas topeng imajenasi yang dibuat-buat dalam film itu. Tetapi jika memang topeng itu sebatas imajenasi sungguh luar biasa karyanya sampai-sampai kelompok hacker berbahaya menggunakan topeng itu sebagai symbol perlawanan mereka.
Akhirnya saya mencoba untuk mencari dikaskus. Saya ingin membeli topeng itu dan dipakai ketika aksi turun kejalan. Sambil berorasi dan menggunakan topeng. Wow terkesan sangat misterius. Dari kaskus itu aku menemukan nama dari sesosok Guy Fawkes. Topeng itu ternyata merupakan wajah  Guy Fawkes yang melegenda itu. Lalu siapa Guy Fawkes itu?

Seberapa penting sosok Guy Fawkes itu sehingga wajahnya dijadikan topeng dan symbol perlawanan? Ternyata kisah hidupnya tidak jauh berbeda seperti yang dikisahkan dalam film V for Vandeta. Guy Fawkes merupakan seorang ekstimis katolik di Inggris (Inggris mayoritasnya Protestan). Kisah heroik Guy Fawkes dimulai dari ekspresi kekecewaan pada kerajaan. Masyarakat Katolik yang mendapat perlakuan tidak adil dari Raja James I dan Guy Fawkes ingin meledakan gedung parlemen sebagai balas dendam terhadap petinggi-petinggi Protestan yang jahat dan keji pada saat itu. Pada masa itu, petinggi-petinggi gereja Protestan dan Raja James I membebani masyarakat katolik Inggris dengan begitu tinggi, selain itu juga mereka menangkapi para imam katolik. Aktivitas keagamaan kaum katolik juga dibatasi, kaum katolik tidak bisa mendirikan gereja begitu saja bahkan hanya sekedar untuk mengadakan misa pun dilarang. Akhirnya kaum katolik Inggris melakukan ritus keagamaannya dengan cara sembunyi-sembunyi.

Penangkapan Guy Fawkes
Guy Fawkes bersama teman-temannya yang kurang lebih berjumlah 30 orang dengan membawa 30kg mesiu pada tanggal 5 November 1605 dikota London, mereka mencoba untuk meledakan gedung parlemen Inggris untuk membunuh James I yang dianggap paling bertanggung jawab atas penderitaan kaum Katolik. Naas memang tak bisa ditolak, aksi Guy Fawkes keburu diketahui. Guy Fawkes lalu dipenjara dan dihukum mati. Sebagai penghormatan untuknya para imigran di Inggris memperingat tanggal 5 November sebagai hari bubuk mesiu. Dimana kota London dipenuhi oleh kembang api. (Pantas saja beberapa waktu yang lalu dosenku yang kuliah di London di akun Facebooknya menuliskan “sial, London berisik banget oleh Kembang api, saya tidak bisa tidur karena itu berisiknya”). 

Guy Fawkes adalah symbol perlawanan yang kecenderungannya sebagai kelompok anarki (jangan maknai anarki sebagai perusak). Mereka yang merasa ketertindasan adalah bentuk pilihan yang harus dibalas oleh perlawanan. Guy Fawkes dan kawan-kawannya tidak peduli dengan keminoritasannya. Meski mereka sedikit dibandingkan dengan kaum protestan, Guy Fawkes tidak peduli untuk segera bertindak dengan menyingkirikan ketertindasan, ya meski pada akhirnya ia harus mati itu. Setidaknya kematiannya menginspriasi banyak pihak dan menjadikannya sebagai symbol perlawanan. Itulah kenapa pada akhrinya kelompok hacker anonymous menjadikan dirinya sebagai symbol perlawanan. 

lawanlah dengan buku!!!
Ditengah krisis global dimana keadilan ditentukan oleh pihak penguasa yang memenangkan perang. Dimana pendefinisian moral adalah terpisahnya kepala dan leher dan uang menjadi Tuhan baru yang lebih disembah umat manusia. Semua adalah kekacauan dari segala lini kehidupan yang awal mulanya karena kepentingan ekonomi lalu beranjak pada kepentingan social, politik bahkan budaya. 

Tidak ada yang benar-benar tulus untuk memaslahatan. Tidak ada pula genarasi yang berusaha memaknai perdamaian sebagai wujud nyata, bukan mimpi. Semua karena kepentingan manusia yang terus menggerus nalar dan sisi kemanusiaannya. Mereka berebut senjata lalu datang dengan peluru-peluru yang siap mencabuti nyawa manusia yang tak tahu sebelumnya soal darah dan air mata. Dunia memang sedang kacau balau, Negara-negara adidaya sedang menancapkan cengkramannya di Negara dunia ketiga dan menganggap negera dunia ketiga macam Indonesia ini bisa dengan mudah dibodohi dan dipermainkan oleh kepentingan global.
Kita hanya menjadi tumbal dan objek kesenangan dari mereka si pendefinisi kebenaran. Kekacauan ini harus segera berakhir. Minoritas atau mayoritas bukan lagi jadi semacam penghalang. Perlawanan harus tetap tegak berdiri meski kita tak pernah tau batas kemampuannya. Sekali lagi, memang perlu Guy Fawkes-Guy Fawkes baru yang datang dijaman modern ini. Perlawanannya pun tidak sama dengan Guy Fawkes terdahulu dengan membakar Lord Of House. 

2004 Arko Datta, India, Reuters




2003 Jean-Marc Bouju, France, The Associated Press


Negara hanyalah korporasi penjagal. Menindasi rakyatnya atas nama kesejahtraan. Nyatanya, rakyat hanya sapi perah kekuasaan. Guy Fawkes sudah ratusan tahun yang lalu mati, mungkin saja tulang belulangnya sudah habis dimakan jaman tetapi nafas perlawanannya masih tetap hidup menembuh lorong waktu di masa yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

1989 Charlie Cole, USA, Newsweek
Sebagai penutup, kita sedang duduk, diam, makan, tidur, beraktifitas dijaman dimana moral dan keadilan didefinisikan oleh pemenang. Selamanya kita akan menjadi kalah dan terlahir menjadi kalah digerus arus liberalisme dan kapitalisme yang sulit memaknai arti kebersamaan dengan sunggu-sungguh. Oleh karena itu lahirlah. Lahirlah genarasi baru pemberontak-pemberontak, diluaran sana para keparat sedang asik menikmati roti kekuasan. Diluaran sana mereka sedang bercinta dibalik kursi empu kekuasaan dan kita yang menikmati kesengsaraan.
Guy Fawkes hanya bagian kecil dari perlawanan yang tak pernah mati sampai dunia ini berakhir

Merdeka!

Gerimis dan Pasar malam ittu?


Bukankah senja tadi gerimis meruncing menghujani bumi?. Entah mengapa November disesaki oleh hujan, Sampai-sampai band Hair Metal 80', Gun n Roses pernah membuat lagu November Rain, sepertinya memang November identik dengan hujan. Tentu malam ini dingin sedang menjadi-jadi, banyak yang menginggalkan keramain untuk lebih memilih dibalik tebalnya kehangatan. Banyak yang memilih cara itu untuk menikmati hari dimana dingin menjadi tema utamanya. Tiba-tiba saja dingin mengingatkanku pada paras halusmu. Sepertinya malam menghanyutkanku  pada dirimu yang semakin hari semakin menjadi asing padaku. Jelas, ingatanku ini tak bisa ditahan begitu saja tanpa ada obat mujarabnya. Bertemu denganmu.
Malam ini malam minggu, ketika banyak dari antara kita menghabiskan waktu dengan memadu kasih. Tentu akupun ingin menjadi bagian dari mereka yang menikmati dingin dengan berpeluk erat daripada sekedar menutup diri dibalik selimut. Menghabiskan malam dalam keintiman yang tak pernah terasa sebelumnya. Ah, sepertinya itu terlalu bermuluk-muluk. Kucium saja kau selalu menolakku dengan berbagai alasan, sebatas membelai rambut panjangmu, sebatas mencium keningmu dan tangan halusmu. Sudahlah, sepertinya memang itu yang bisa kudapat.
“malam ini kita keluar, Ayu”
“Ayo, mumpung aku lagi diluar nih. Kemana?”
“Jemput aku saja dulu, setelah itu kita pikirkan tujuan kita kemana”
Seperti biasa, aku tak pernah memikirikan arah kita melangkah. Biarkan kekinian berpikir yang lebih menentukan segalanya. Benar saja, beberapa saat ketika aku menghubungimu kau datang ketempatku. Kau begitu manis malam ini, baju hitammu, rambut kemerah-merahanmu, bibir tipismu sepintas kau mirip dengan Bella Swam. Ah, jelas aku tak akan bicara itu didepanmu karena hanya menambah mu senang saja. lalu berceracau kesana kemari  Biarkan saja aku yang tahu itu.
Kita duduk diruangan yang acak-acakan oleh buku dan kertas.  Ada perbicangan dimana kau seperti biasa  tetap keras kepala, bahwan denga kau punya alasan -apapun itu alasannya-kau selalu merasa benar dan kebenaran semakin membuatmu kau semakin tidak ingin disalahkan. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu juga tidak ingin terlalu menghakimi tingkahmu.  Ceritamu soal Ayahmu yang menurutmu menyebalkan hanya membuatku menilai kalau kau memang anak ingusan yang belum mengenal arti kehidupan ini, meski sebenarnya aku pun tak tahu banyak. Ya, memang perlu belajar untuk menjadi luar biasa dengan cara yang tidak biasa tentunya.
Malam  sedikit melarut. Jelas, aku tak ingin berlama-lama ditempat itu. Aku ingin menikmati malam bersamamu tanpa yang lain meski itu sekedar bayangan.
“bagaimana kalau kita keluar kota saja, Ayu?”ajakku padamu
Kau pernah bilang ingin sesuatu hal yang tak terduga dan menantang. Mungkin saja ajakanku ini menarik untukmu meski kurang menantang. Aku ingin mengajakmu ketempat yang tak biasa kau lakukan ditempatmu sebelumnya. Aku ingin ada kenangan yang kau tinggalkan diingatamu soal aku dan  dengan tempat-tempat yang tak pantas kau lupaka begitu saja, meski itu sebatas kesederhaan. Ya, sebatas kasih saying yang kuberikan padamu meski tidak sehebat mentari pada dunia. Sebatas kesenangan yang ingin kutunjukan padamu meski tidak sehebat orang lainnya.
“ayo, kemana ya?ada yang menarik ga? Kota-kota disekitar kota ini tidak begitu menarik” ia coba menjawab
“ayo kita cari pasar malam. Mungkin disana ada keromantisan yang bisa kita ciptakan” saranku padanya
“wah ide bagus itu. Ayo” ia tidak terlalu antusias. Seperti biasa ekspresinya pun datar-datar saja. Hanya sekali aku lihat kau tertawa lepas. Tawamu itu kecantikan yang tak mudah untuk didefiniskan.
Malam itu aku sendiri tak tahu dimana ada Pasar Malam. Aku hanya asal ajak saja sebab tujuan utamaku hanya berdua bersamamu dalam gelap malam. Itu saja.
Aku menemukannya Pasar Malam itu beberapa puluh kilometer dari kotaku. Sepertinya dingin tidak menyurutkan ketertarikan sejoli-sejoli muda untuk menikmati malam ini. Malam minggu, dimana menurut bangsa Romawi minggu atau Monday dalam bahasa Inggris itu didedikasikan bagi dewa bulan.  Begitu hiruk pikuknya keramaian. Lalu lalang orang datang dan pergi. Keriuhan dan kegaduhan campur aduk disana sini. aku suka kesemrawutan ini!. Karena semakin semrawut artinya pasar malam ini semakin ramai!. Meski lapangan itu becek sisa hujan tadi  sore juga tak mampu menyurutkan antusias. Jelas sekali warga memang butuh hiburan murah.
Bunyi derit decit besi saling beradu seperti jerit kengerian yang saling bersahut. Tekanan roda besi dari mainan kereta-keretaan saling bergesek dengan rel nya yang terbuat dari besi juga. Sahut-sahutan suara serak para pedagang kaki lima berrebut menawarkan barang dagangannya. menyempurnakan pesta keriuhan ini. Sepertinya kau tidak terlalu kikuk dengan keadaan yang tidak biasa kau hadapi itu. Aku tau keramaian yang kau maksud bukan seperti ini bukan? Music-musik yang kau biasa dengan bukan Koar-koar musik sember dari speaker diselingi bunyi lip lop dari beberapa lampu-lampu penghias komidi putar menambah gaduh suasana. Tetapi music pemecah saraf yang menjadi barometer seseorang dikatakan sebagai anak kandung dari modernitas. Jauh, jauh sekali suasanya dengan keadaanmu itu yang kadang kau pulang dengan tidak sadarkan diri. Mungkin saja kau pulang kali ini tidak dengan sadarkan diri, tetapi tidak sadarkan diri kalau kau sedang jatuh cinta padaku.
Dipasar malam inilah ada kesederhanaan yang kadang tidak pernah kau lihat. Mereka berebut rupiah hanya untuk sekedar makan hari esok atau bagiamana anaknya sekolah. Pasar malam tidak lagi populer dan menarik untuk dikunjungi karena gerusan roda modernisasi.

Malam ini sedikit beda, pasar malam kedatangan iblis yang mengaku bidadari. Aku mengajakmu untuk menaiki komidi putar. Aku selalu teringat suasana romantis pasar malam yang digambarkan di film Serigala Terakhir. Tentu kau sudah menontonnya bukan?. Itu indah sekali. Komedi putas sepertinya pilihan yang tepat. Naik komedi putar merupakan pengalaman pertamaku dengan mu. Entah kau menikmati atau tidak aku tak sempat memperhatikanmu karena kita terlalu sibuk bercerita soal hal-hal intim yang semakin membuat kita saling mengenal satu sama lain. Tidak ada kata cinta malam itu.  Entah berapa putaran, rasanya waktu berjalan begitu cepat sampai operatornya mempersilahkan kita berdua turun. Malam itu memang tidak ada ungkapan perasaan yang harus disahihkan kita hanya memalui kenikmatan bercengkaram tanpa tendensi yang berlebihan. Rinduku pun kau mampu obati dengan hadirmu yang mau kuajak kemanapu kita berjalan. Dalam langkah pun tak ada tangan yang berjabat erat saling memegang. Hanya sesekali aku meciumi rambut merahmu yang wangi itu. Aih malam sepertinya semakin membuatku meminta lain-lain padamu. ah
malam semakin larut.angin malam menusuk semua tulang belulangku, sepintas kau masih tampak ayu.
“ayo kita pulang saja. Malam sudah larut”
“ayo”
Malam ini kau menolakku untuk kucium tetapi kau membiarkanku aku memelukmu, melepaskan rindu dan keluku jika mengingatmu. Kau hanya sering mengingatkanku kalau kita bukan siapa-siapa, tetepi kau tak pernah menolak untuk menjadi arti dan membuat arti dalam hubungan ini. Kau menikmatinya? Atau kau hanya terbiasa dalam ketidak berarturan. Mungkin aku harus kembali mengingat kalau kau masih anak kecil yang sedang belajar memaknai kesungguh-sungguhan. Biarkan saja aku bertindak untukmu dan kau hanya memberikan kesempatan untuk membuatmu lebih indah dari sekedar teman.
Malam ini tetap indah, kau membiarkan tangan dan keningmu ku kecup. Aku suka malam, kaos hitammu membuat cerah malam yang sedang sendu karena hujan tak juga berkompromi dengan  mentari.
Pasti dalam hati kau tertawa. Meski kau coba untuk diam dan pura kalau malam itu biasa saja. Setidaknya ada suatu hal yang kita perbuat menumbuhkan bulu-bulu ingatan untuk dapat membawa kita terbang menjadi lebih bebas.


#untuk malam yang banyak ceritanya!

Jumat, 16 November 2012

Sajak dari Sang Luna yang berkabut!


“I wanna grow my hair and nails you up my life , I hope to do change your last name and be a wife” (The SIGIT-All The Time)

Aku mulai tulisanku dengan sepenggal lirik dari The SIGIT, band dari Bandung yang beberapa hari terakhir ini lagunya sering kali aku putar untukmu. Lirik itu seolah –mungkin- mewakili perasaan kita dan harapan yang ada dikemudian hari. Ya, sama saat kita putar lagu itu dengan headset yang saling berbagi kau yang kiri dan aku yang kanan. Kita berdua mendengarkan lagu itu dengan suasana yang sedikit berbeda. Ada malam, ada bintang, ada nyanyian jangkrik, ada sunyi, kabut dan bulan. Berirama dalam suasana yang sangat mendukung, ya lagunya tidak sama sekali mendayu tetapi suasanya yang mengiramakan lagu The SIGIT yang terkenal dengan alunan distorsi yang menghentak dengan suasana malam yang sedikit berkabut itu. Kita benar-benar sedang jatuh cinta untuk yang kesekian kalianya. Entah berapa kali. Munggkin ribuan atau jutaan kali?

Kita berdua menyusuri jalanan yang sepi, meski kadang hanya lewat beberapa pengedara saja.. Jalanan memang benar-benar sepi setelah hujan dan berkabut. Tetapi lampu jalanan membuat suasana tidak mencekam oleh sepi. Kita susuri setip jengkal jalanan itu dan kita sedang membuat cerita baru yang tidak pernah aku buat sebelumnya. Tidak ada amarah, curiga atau dendam. Semuanya hanya soal kebersamaan yang ingin “disahihkan”. Kita seolah melupakan kerikuhan beberapa waktu lalu. Melupakannya dengan momen sederhana tetapi sangat mampu mewakili bahwa kita memang ingin berdua. Tak perlu ada kata cinta, tak perlu pula ada kata yang mencoba menyakinkan. Kita hanya berjalan melalui semuanya bersama suara Rekti The SIGIT yang kami berdua suka.
“tak pernah aku merasakan malam seromantis ini, kamu ngebuat aku mendayu-dayu”katamu dengan nada manjamu
 “sungguh?, kita hanya berjalan diantara bulan yang ditutupi kabut saja”kataku sambil memandangi wajahnya
“ini kesederhanaan yang tidak sederhana dampaknya. Aku selalu ingin malam seperti ini datang lagi” Ia sepertinya begitu menikmati.
Entah, aku sendiri tak begitu paham dengan malam itu. Malam itu mungkin semacam akumulasi rindu yang tak juga sempat dipecahkan. Malam itu mungkin pula semacam tumpukan emosi yang tak sempat tersampaikan atau malam itu memang kita bedua sedang ingin bersama dalam keadaan yang benar-benar menyatu sehingga semuanya menjadi berkesan dan sulit untuk ditinggalkan begitu saja dalam ingatan kita. Tak perlu diranjang hotel, tak perlu pula dalam cumbu yang menjadi. Tidak, jauh dari itu semuanya. Kita benar-benar sahih!

Daun-daun yang berguguran, bau busuk dedaunan dan ranting yang jatuh tentu saja kabut. Kita hanya memandangi itu saja tetapi semua itu seolah saksi kita berdua. Lalu ku ajak dirinya duduk tanah yang cukup lapang. Kita duduk memandangi cahaya bulan yang malu-malu karena kabut. Perasaan kita memang sedang bermekaran, mengeluarkan aroma harum. Mungkin tepat jika malam itu perasaan kita dianalogikan sebagai bunga sedang malam yang menebar keharuman. Ada semilir angin malam sedang berusaha menerbangkan serbuk-serbuk perasaan yang sedang bermekaran itu. Terbang terbawa angin menyebar kemana-mana lalu ketika arah angin dan kabut itu kembali kearah kita, Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti Puspita, kita memang tidak sedang mengerti kenapa kebatuan kita tiba-tiba menjadi lumer. Seolah cahaya bulan lebih panas dari matahari sehingga kita yang sebelumnya sama-sama membatu tiba-tiba saja melepaskan keegoisan itu untuk menikmati keberduaan kita yang langka ini.
Ada daun-daun berguguran
Ada pula tawa yang diintip Bulan
Ini tentang kita yang mencoba menjadi sahih

Aku dan kau dalam remang sang luna

Ada jangkrik-jangkrik yang sedang bernyanyi
Ada pula kodok-kodok yang merusak suasana
Tetapi pelukmu adalah keindahan malam yang kunanti
Puspitaku, Bulan ini sedikit muram karena kabut, sedikit sendu oleh hujan
Tapi tangan kita masih sangat erat bergengaman
Menjadikan semua ingatan-ingatan ini untuk sulit melapuk karena waktu

Ini malam yang sengaja Tuhan buat untuk kita nikmati dengan tawa dan lollipop!!

Malam itu berakhir, purnama berganti. Mungkin kita akan membuat cerita lagi di lain waktu. Menceritakan keindahan yang lebih indah dari hari yang lalu. Dikenang ketika tidur dan menanti bunga tidur yang bermekaran. Itu saja, manisku!