Minggu, 27 Januari 2013

Biarkan kamu Cum Laude di mata Tuhan



Mungkin itulah kegetiran? Mungkin itu kegagalan? Atau mungkin juga itu kekalahan yang membuahkan penyesalan dan kekecewaan?. Semunya memang serba mungkin, hanya diri kita yang merasakan tentang semua yang terjadi. Termasuk tentang Cum Laude, ada yang bermimpi mendapatkan predikat itu, ada pula yang acuh karena itu tidak begitu penting tetapi predikat itu memang begitu membanggakan. Apalagi jika kita berhasil menunjukannya pada orang tua yang kita sayangi. Sadarlah, sekarang pun tidak sedikit diantara kita yang mendapatkan predikat sebagai cum lauder tetapi mendapatkannya dengan cara yang tidak elegan sama sekali. Menampilkan wajah memelas, sok pintar dengan kekesongan atau apapun lah. Intinya cum laude bukanlah segalanya yang bisa membuat kita menjadi lemah. Aku rasa orang tua kita akan lebih bangga ketika anaknya setelah lulus bisa bekerja dengan manfaat dan mampu menghidupi keluarganya. Jelas itu lebih ‘prestasi’ dari pada  cum laude yang sebats statistik saja.

Cum laude tak lagi istimewa!
Sengaja aku menulis ini untukmu, kawanku. Kesedihanmu memang beralasan karena  belum berhasil membahagiakan orang tuamu, melihat pancaran kebanggan orang tuamu ketika kau lulus dengan predikta cum laude, tapi ingatlah itu bukan segalanya yang membuatmu menjadi patah arang lalu meratapi keadaan ini dan tak bisa beranjak. Aku tahu betul kapasitasmu seperti apa? Tentu saja, selama kita menjadi saling mengenal kau cerdas dan terampil itu sudah menjadi modal penting hanya saja keberuntungan atau mungkin kebaikan masih melindungimu sebab tidak sedikit yang mendapat predikat cumlaude dikampus kita bermain curang dengan menjadi pelacur intelektual, ya anggap saja pelacur intelektual bagi mereka yang suka mengemis nilai, mencari muka didepan dosen dengan menutupi kebopengannya. Tak perlu risau, matahari masih terus menyinari, selama itu pula kau harus sadar bahwa semangat itu harus tetap membara. Cum laude atau tidak cum laude bukan hal yang penting lagi sebab  kau masih lebih layak mendapatkan itu semua meski tidak disahihkan dalam angka dan patung cinderamata tanda cum laude. Semua memang serba simbol saja.

Sedih bukan alasan dominan.
Sekarang bukan saatnya memikirkan cum laude atau tidak. Kebahagian orang tuamu tidak ditentukan sebatas itu saja bukan? Sebab seperti yang sudah ku bilang tadi selagi matahari masih terus bersinar selama itu pula kemungkinannya semakin besar untuk membuat keluargamu bahagia. Sedangkan cum laude hanya cangkang-cangkang kecil yang sudah harus kau lalui, percuma juga kita cum laude tetapi pada akhirnya menjadi pengangguran terdidik. Sungguh sayang bukan? Atau pecuma juga mendapat predikta cum laude  lalu berkerja di perusahaan besar tetapi tidak menjadi manfaat bagi sekitarnya.

Kawanku yang ku sayang, aku pernah bercerita soal filosofi china tidak? Ada yin dan yang, dimana dalam lingkarang terdapat warna putih dan hitam, tentu kau tau bukan kalau itu semua soal keseimbangan? . keseimbangan dalam kehidupan ini, mungkin saja kau tidak mendapatkan predikat itu pada hari ini karena Tuhan ingin menyeimbangkan kehidupanmu di masa yang akan datang. Ketika manusia hidup selalu bahagia tanpa pernah merasakan getir itu namanya bukan manusia yang sejati bukan?. Ayolah, sudah jangan  biarkan dirimu menjadi lemah karena tujuang yang tak sempat kau capai. Kebahagian itu bagai oksigen yang terbang bebas diudara, ada disekitar kita, tinggal bagiamana kita menjaringnya untuk diri kita.

Aku selalu ingat tentang cita-citamu, tujuan hidupmu setelah kita berkenalan banyak hal yang kita lakukan untuk saling mengedukasi diri. Dari proses dialektis itu, pada akhrinya menghadirkan dirimu yang tidak ‘itu-itu saja’. Semua yang kau dapat dihari ini adalah usaha murnimu, yang tak berlebihan ketika aku bilang bahwa nilai-nilai yang kau dapat suci dari proses belajarmu sebagai mahasiswa. Bukanlah hasil merendahkan idealismemu untuk sebatas simbol-simbol angkat atau huruf yang tak mempunyai bobot atau lebih sederhananya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Untuk kawanku, yang sempat menjadi pendamping revolusi hidupku. Sudah bukan saatnya ratapan itu terus kau biarkan menggoresmu dalam penyesalan. Ingat, waktu kita sudah mendekati akhir. Kebersamaan sudah mendekati batasnya. Oleh karena itu siapakan diri kita untuk masuk dalam rimba kehidupan yang  lebih kejam dari kehidupan kampus, yang intrik-intriknya paling keras soal pemilihan dekan, paling umum soal pelacuran pada nilai, yang paling mungkin sekarang adalah memperbesar kemungkinan yang ada tengah kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Dirimba kehidupan nanti, pasti kita akan bertemu dengan kebopengan-bopengan yang lebih tragis dari yang pernah kita temui di kampus. IPK mu yang kau dapatkan  sekarang ini sudah sangat membuat ku puas, minimal aku sebagai ‘teman’mu. Itu saja. Selamat malam. 

Jumat, 25 Januari 2013

LEBIH DARI SEKEDAR TEMAN BERPETUALANG


Toko Kopi Lama di Bandung

LEBIH DARI SEKEDAR TEMAN PETUALANGAN

Kita itu adalah aku dan kamu, bukan lagi aku atau kamu. Kita adalah satu yang tidak dipisah oleh ke-aku-an. Kita adalah bagian dari kisah yang sempat diceritakan melalui hujan, dingin, gelap, lembah, kabut, lelah, damai dan kasih yang tak terpisahkan oleh alasan apapun, itu harapan terbesarku!.

Pantai Bande Alit


Kita adalah bagian dari petualangan-petualangan yang penuh peluh, lelah, tawa, ceria dan kadang kesal. Sudah banyak cerita yang sempat kita buat untuk petualangan-petualangan itu. Petualangan yang tidak hanya sekedar memandangi keindahan saja, ada kegetiran, ada nestapa yang terlihat oleh kedua bola mata ini. Semuanya memang bercampur aduk menciptakan kisah yang lebih indah ketika diendapkan jaman lalu menceritakan kembali dikemudian hari ketika kita sudah sahih, ya bagai nikmatnya rum yang disimpan selama puluhan tahun.

Petualangan itu dimulai dari i Bande alit, dimana kita berdua terjebak hujan deras ditengah hutan Meru betiri sampai terjatuh karena licin batu-batu koral sebagai alas jalan satu-satunya yang bisa diakses menujut Bandealit. Kita pun pernah tersesat dihutan karet ketika menuju Rawa Cangak. Kau ingat? Untung saja waktu itu ada  pencari rumput yang berbaik hati menunjukan arah yang benar. Pulangnya pun kita melewati jembatan bambu ala indiana Jones, melewati hutan jati dan bertemu orang tua yang bercerita soal Siwil , mahluk kerdil di hutan Meru Betiri. Tidak berhenti disitu, petualangan terus berlanjut dari mulai yang direncanakan sebelumnya sampai tidak direncanakan. Kita berpetualang karena alasan kejenuhan di kota Jember. Pada waktu kita sedang kelaparan tetapi tidak ingin makan disekitaran Jember kota.  Lalu aku mengusulkan untuk ke Garahan, makan pecel. Sebelum ke Garahan tempat pecel-pecel itu berada, aku mengajakmu ke Gunung Gending tempat pemancar TVRI. Jalannya menanjak, sangat sepi. Selidik punya selidik tempat itu rawan pemalakan. Alhamdulilah kita selamat.  
Baluran

Apa kau masih ingat ketika kita berhenti di Arak-arak, memandangi lautan Jawa dari ketinggian sambil makan kripik singkong? Waktu itu kita petualangan pertama kita keluar kota, tujuan kita pasir putih Situbondo. Sebelum ke Situbondo, aku ingin mengenalkan pada mu soal sejarah. Oleh karena itu aku mengajakmu ke stasiun Bondowoso. Stasiun tua yang sudah tidak terpakai itu meninggalkan sejarah bisu tentang peristiwa Gerbong Maut. Apa kau masih ingat cerita gerbong maut yang pernah aku ceritakan, sayang?. Cerita itu berlanjut, aku pun mengajakamu ke Besuki, dimana Besuki pada masa kolonial sebagai kota yang cukup ramai dan berperan penting di keresidenan Besuki. Aku pun mengajakmu ke bangunan tua peninggalan Belanda di dekat polsek Besuki. Sesampainya di Situbondo, kita ke jalan tembus. Aku sengaja mengajakmu ketempat itu karena tempat itu begitu indah, tak berlebihan jika kau membayangakan tempat itu seperti bukit teletubies, memang tidak jauh berbeda bukan?
DPR RI


Setelah itu kita beristirahat sejenak sambil memandangi gunung Putri tidur. Oh ya, di Situbondo, aku mengajakmu untuk mencicipi kuliner kesukaanku yaitu Nasi Goreng Kutub Utara yang kebetulan pemiliknya temanku. Enak engga mie gorengnya? Enak bukan.
Beberapa minggu kemudian, kita merancanakan untuk kembali berpetualangan dengan menunggangi motor Revo merah itu. Motor itu memang motor yang akan menjadi sejarah dan saksi kebersamaan kita berdua ya!. Tujuan petualangan selanjutnya adalah Taman Nasional Baluran. Lelah sekali bukan waktu itu? Kita melewati hutan Baluran dan tikungan tajam Jurang Tangis yang terkenal banyak memakan korban. Cuaca pada waktu itu sangat panas, aku dan kamu sama-sama tidak mengenal medan di Baluran. akhirnya kita pun sampai di Bekol memandangi hutan Taman Nasional Baluran dari ketinggian. Angin benar-benar melenyapkan lelah, kita menikmati kesejukan diatas Bekol sambil menikmati ayam teriyaki yang kau masak untukku. Terima kasih sayang!.


Gunung Putri Tidur


 Pulangnya kita terus blusukan menuju Banyuwangi. Kali itu kita memang benar-benar berpetualangan, penuh tantangan. Ban si Revo meletus sebelum kita masuk gunung Gumitir, pada waktu itu jarum jam menunjukan angka 8. Alhmdulilah rasanya meski ada musuibah kita masih bisa menghela nafas syukur. Bagaimana jika meletusnya tepat diatas Gumitir yang gelap?. Waktu itu kau sangat lelah sekali, aku menuntuntumu terus untuk bisa berjalan. Ehm, kurang lebih kita berjalan 3km ya?. Kamu memang luar biasa untuk selalu menemani setiap petualanganku. Akhirnya titik cerah itu muncul juga, aku menemukan tambal ban. Selamatlah kita!

Trans Studio

Kita sempat melanjutkan petualangan dengan lebih menyenangkan. Kali ini, tujuan kita lebih luas lagi yaitu 3 Provinsi. Jakarta, Bandung, Jogja.  Petualangan kita lebih nyaman karena tidak menunggangi si merah tetapi naik bus AC executive bintang 3. Kebetulan pada waktu itu di kampus ada kegiatan studi lapangan di Jakarta ke MPR RI dan Mahkamah Pelayaran. Sebenarnya acaranya sungguh tidak berguna. Hanya hura-hura yang berkedok pendidikan tetapi peduli setan dengan semuanya, kami hanya ingin jalan-jalan, itu saja. Kita  lebih dekat dan lebih  nyaman pada waktu itu karena selama 5hari kita selalu bersama. Indah sekali bukan, nda? Apalagi ketika di Ciwalk ketika kau membelikanku sebotol Heineken, bercerita soal Bandung yang romantis. Aku berhasil membawa pasanganku ke kota yang penuh dengan cerita di masa laluku. Di Jogja pun, aku mengajakmu ketempat duduk pertamaku di Jogja ketika aku benar-benar pertama kalinya mengunjungi kota impian kita berdua untuk S2 nanti.

Setelah itu beberapa hari yang lalu, ketika semua orang sibuk meninggalkan Jember untuk menuju kampung halamannya masing-masing karena  Universitas Jember sedang libur pasca UAS, kita justru masih bertahan di kota pelajar yang sepi ditinggal penguhinya ini. Oleh karena itu kita merencanakan untuk mengisi liburan ini dengan petualangan baru yang penuh dengan cerita yang baru pula. Kita bersama kawan-kawan lainnya kali ini menunjungi Ijen dan berwisata di Banyuwangi. Aku sangat bangga dengan mu yang berhasil sampai di puncak Ijen, dimana ketinggian kawah Ijen berada di 2830 mdpl. Awalnya kau terengah-engah untuk sampai di puncak, kau sangat tak kuasa untuk bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak tetapi dengan penuh semangat, selangkah demi selangkan akhirnya langkahmu itu membawamu di kawah Ijen.memandangi kabut tipis bearoma belerang. Dibawah sana pun kita melihat kawah Ijen yang berwarna biru. Sungguh sangat indah bukan?. Pulangnya pun kita berhadapan dengan ketegangan, jalan yang kita lalui bukan lewat Bondowoso tetapi melalui Banyuwangi. Dimana jalannya begitu sepi, kita melewati hutan lindung yang tak ada satu rumahpun. Waktu itu jam setengah 6 sore, hujan gerimis dan jalan licin karena jalannya masih sangat bagus. Waw, begitu menegangkan apalagi kau menemukan pengalaman mistis disana.

Keindahan apalagi yang ingin kita ceritakan? Sebenarnya masih banyak lagi, ada Papuma, ada desa-desa di Jember yang kita kunjungi ketika jam jenuh melanda. Apalagi? Tentunya ada beberapa kisah yang sangat menarik untuk kita lanjutkan ceritanya. Aku hanya bisa berharap kalau kisah petualangan ini terus berlanjut. Dimana kita akan menceritakan kisah-kisah ini pada anak cucu kita. 

Terima kasih, Anggie Puspita Chris Agata, kau sudah menemani banyak petualanganku dan sudi untuk banyak berbagi dengaku. Ik Hou Van Jou,ladies  Supertr

Kawah Ijen





















Selasa, 22 Januari 2013

Di Lereng Bromo Cerita itu dikisahkan













Sungai Lahar Bromo

Berawal dari tugas kuliah hukum Tata Guna Tanah, kami sekelas pun melakukan studi empiris di gunung Bromo. Aku sih lebih sepakat perjalananku ini sebagai hura-hura yang berbasis edukasi daripada studi lapangan karena memang kami lebih banyak bermain-mainnya daripada belajarnya. Well, semuanya memang dikemas dengan menyenangkan, penuh kekeluargaan. Proses edukasinya memang tidak terlalu dominan tetapi aku rasa itu tidak terlalu penting sebab kami semua menjadi lebih dekat dengan teman-teman sekelas. Lumayanlah untuk bisa sekedar berbagi cerita dikemudian hari bukan?
Kukenal Bromo sudah sejak lama bahkan ketika aku masih berada di Garut, waktu itu aku hanya sebatas membayangkan bisa berada dipadang pasir gunung Bromo setelah menonton film ‘pasir berbisik’. Dimana dalam film itu settingnya berada dilautan pasir gunung Bromo. Sungguh indah bayanganku pada waktu itu. Oleh karena itu aku sangat antusias ketika ada tugas lapangan di Bromo. Pasti aku ikut. Sekali lagi tujuanku bukan untuk sekedar belajar saja tetapi aku ingin banyak mengabadikan pemandangan gunung Bromo di kamera DSLR D5100 NIKON. 

Bromo

Kebetulan aku memang sangat suka memotret landscape. Aku pun sedang belajar untuk bisa menghasilkan foto yang bagus, tidak perlu banyak mengedit fotonya. Niatku itu harus aku realisasikan apapun caranya. Awalnya aku mengajak kawanku untuk ke kawah Bromo tetapi mereka banyak yang menolak. Okelah tak apa, aku sendiri menyusuri lautan pasir itu sendiri. Tujuanku hanya satu yaitu bagaimana aku bisa mengaktualisasikan minatku pada fotografi dengan memotret pemandangan semaksimak mungkin.
Perjalanan ke kawah Bromo diawali dengan menanti matahari terbit. Aku bangun dari jam 4 pagi tetapi sayang sekali awan sedang tidak bersahabat, mendung terlalu berkuasa sehingga matahari tidak juga muncul. Okelah, sekali lagi tidak menjadi masalah. Kurang lebih jam 8 pagi aku mulai turun kebawah. Menyusuri setiap jengkal pasir Bromo. Ada ketenangan yang kurasa ketika berada ditengah-tengah lautan pasir Bromo, aku pun mengunjungi tempat syutingnya pasir berbisik dengan berjalan kaki, cukup jauh memang. Lalu aku melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo dari pasir berbisik tetapi ditengah-tengah jalan menuju kawah ada sungai sisa lahar dingin dari gunung Bromo. 

Bromo
Tujuan utamaku tetap kawan Bromo tetapi sesampainya di atas ada sedikit tragedi di lereng Bromo, aku terjatuh di sisi lereng sebelah luar ketika tripod dan tas lensaku jatuh di sisi luarnyanya tetapi ditengah derita itu masih saja ada untunyanya sebab aku masih bersyukur tidak jatuh disisi dalam kawah, bisa mati tidak berguna aku kalau jatuh kebawah. Bisa dibayangkan bagiaman jatuhku itu, aku terjatuh berguling-guling menyelamatkan dua benda itu, memang tidak terlalu sakit tetapi kakiku akhirnya kram dan tidak bisa digerakan. Orang-orang diatasku hanya bersorak kagum. Sial, aku jadi tontonan banyak orang, tak sedikit yang bertepuk tangan. Apa mereka pikir aku sedang atraksi sirkus ya? Bahkan ada beberapa yang memotretku “mas, aku foto ya untuk kenang-kenangan”kata salah seorang pengunjung. Aku sama sekali tidak mempedulikan mereka semua karena memang kaki sedang sakit-sakitnya. Tidak ada juga yang menolong karena medannya cukup sulit untuk diakses. Melihat banyak yang menonton aku harus segera berdiri dan menunujukan tampang biasa saja meski sebenarnya aku sedang menahan sakit dan malu. Niatku untuk memotret malah aku yang di foto-foto bak pemain sirikus konyol yang berguling-gulin g dilereng Bromo demi tripod dan tas lensa. Semua benda itu masih baik-baik saja, tidak ada kerusakan sediki pun.
Aku pun segara beranjak naik ke jalan para pengunjung tentunya dengan wajah biasa saja. Banyak orang yang datang menanyakan keadaanku “mas tidak ada yang luka kan?”tanya seorang ibu padaku “well bu, alhamdulilah tidak ada yang luka” jawabku dengan biasa saja. Pengalamanku jatuh dilereng Bromo memang memalukan pada waktu itu tetapi menjadi kisah yang menarik setalah aku berhasil melewati itu semua.
Aku pun tidak begitu saja menyerah untuk berburu banyak gambar. Ku lanjutkan perlajananku menyusuri sungai lahar dingin itu, aku tertarik menyusuri tempat itu karena tempat itu seperti grand canyon di Amerika, ngarai purba kikisan sungai Colorado. Sepertinya perjalanku memang sedang tidak berjodoh dengan kondisi kakiku yang semakin tidak membaik lalu aku pun bergegas naik ke lauatan pasir. Sial memang tak bisa ditolak, kakiku benar-benar tidak bisa menahan tubuhku, aku pun tersungkur jatuh ditengah lautan pasir, tak ada seorang pun ada disekitarku karena aku memang tidak berada dijalur pengunjung tetapi dijalur yang aku suka, dimana jalurku itu memang jauh dari tempat biasa pengunjung biasa lalu lalang menuju kawah Bromo.
Penunggang Kuda di Bromo
 Sekitar 30menit kaki kanan dan kiriku tak bisa digerakan, aku hanya bisa berdoa saja sambil berusaha menggerakan kaki, memijat-mijat kakiku. Alhamdulilah, ada tukang ojek yang datang menghampiriku. “ayo mas, numpak ae (ayo mas, naik ojek saja)” tukan ojek itu menawariku, sungguh bagai malaikat bapak ojek itu. “ oke mas” jawabku dengan semangat. Aku akhirnya diantar oleh bapak ojek itu sampai atas, memang masih terasa sakit kaki ini tetapi masih bisa digerakan. Sekali lagi, aku masih belum juga menyerah. Kumaksimalkan tenagaku, aku menjepret beberapa view Bromo dari kejauhan. Pikirku pada waktu itu, jangan sampai terjatuhku dari lereng Bromo menjadi sia-sia tanpa menghasilkan banyak gambar-gambar di  Bromo.
Setelah selasai hunting aku kembali ke penginapan, Bromo memang memberikan pengalaman yang sungguh sangat menarik dan sulit untuk dilupakan begitu saja. Ditengah lauatan pasir itu aku merasakan ketenangan, dianatara angin gunung  yang sepoi-sepoi. Selain itu lautan Pasir memang indah dan eksotis, nuansa petualangannya benar-benar terasa. Terima kasih Bromo di lerengmu, aku sempat menuliskan cerita yang tak akan pernah begitu saja kulupakan!
Gunung Batok


Aku sangat suka pada setiap perjalananku. meski dilalui dengan berbagi cara dan berbagai kesulitan. Semuanya begitu indah karena aku Supertramp

Senin, 21 Januari 2013

Pak Heru: Cintailah Proses, nak!

saya dan Pak Heru

Perjumpaan pertama kami terjadi pada tahun 2004, ketika itu ia membacakan puisi W.S Rendra “sajak sebatang Lisong”. Ia adalah seorang guru bahasa Indonesia, masih muda, revolusioner dan sangat energik. Awalnya sedikit berkerut dahiku melihat gaya mengajarnya yang aneh dan sedikit asing bagiku dan teman-teman sekelas. “belum juga kenalan, guru ini sudah langsung saja teriak-teriak baca puisi” pikirku. Pada waktu itu ia baru saja sebagai guru pengganti karena guru bahasa Indonesia yang sebelumnya pindah ke Bandung, kebetulan di SMP kami - SMP DAYA SUSILA- ,hanya 2 orang guru bahasa Indonesia karena memang  jumlah kelas d SMP DAYA SUSILA sedikit. Dari kelas 1 sampai kelas 3 hanya 6 kelas, maklum saja karena SMP Swasta yang mayoritasnya entis tionghoa. Tetapi dengan jumlah murid yang sedikit itu membuat siswa-siswi di SMP Daya Susila pada waktu itu lebih terperhatikan dan terkontrol baik di bidang akademiknya maupun mentalitas belajarnya. Tak sedikit dari kami yang pada akhirnya masuk di SMA-SMA unggulan, bahkan SMA unggulan di Bandung sebut saja SMA 3, 5 Bandung, SMA Aloysius, SMA Santa Angela. Bahkan beberapa dari kawanku ada yang sekolah di Amerika, Singapura dan Australia.
Soal guru aneh itu kembali berlanjut. Setiap selesai test mingguan, kami sekelas di ajak nonton film. Untuk pertama kalinya pula kami diperkenalkan dengan film-film yang aneh pula. Pada waktu itu kami sangat asing menonton film “Novel Tanpa Huruf R”. Hem, itu film yang terasa aneh bagi kami, yang pada waktu itu masih hijau memahami sastra, novel, puisi apalagi film. Ia lambat lain menjadi pembeda, menjadi pembaharu. Mencerahkan kami yang terbiasa dijejali oleh matematika, fisika yang memuakan. SMP kami pada waktu itu lebih menekankan bidang eksak daripada Humaniora.

Guru muda itu bernama Heru Haerudin, seorang guru bahasa Indonesia yang sudah khatam membaca sastra, filsafat dan budaya.  Ia memposisikan kami bukan sebagai objek didik  tetapi subjek didik. Kami diajak untuk mengenal pelajaran dengan menyelami langsung subjek bahasan. Sebagai contoh, ketika belajar puisi maka kami dibiasakan untuk membuat puisi dan membacakannya, ketika kami belajar drama maka kami pun harus bisa membuat naksah dan mementaskannya, bahkan lebih dari itu ia bercerita tentang banyak hal. Dikelas, ia membiasakan untuk berdiskusi dan memberikan kesempatan pada siswa untuk tidak sependapat dengannya. Dari proses belajar itu membuat kami lebih leluasa dalam menyerap ilmu dan mengenal guru muda itu tidak hanya dikelas tetapi juga diluar kelas, ia lebih cocok sebagai teman kami.

Pada waktu itu aku yang lebih banyak tidak sependapat denganya. Aku sering banyak bertanya soal novel-novel yang kebetulan aku sudah membacanya karya Pramoedya Ananta Toer dan Achdiaya Katamiharja. Kami sering beredebat soal novel itu sebab pada waktu itu tema bahasanya soal karya sastra. Dari proses belajar itu aku pada akhirnya dekat dengannya. Kebetulan pak Heru sebagai pengasuh radio sekolah dan aku sebagai penanggung jawab dari OSIS. Kami banyak berdiskusi di ruang siaran di sela-sela jeda siaran. Banyak yang kami perbincangkan dari mulai film, sastra, puisi dan perempuan. Ia sangat paham dengan cerita-ceritaku, benar-benar bukan guru yang  biasa.

Pak Heru pun sering meminjamkan buku padaku. Ada satu buku yang sangat luar biasa yang pernah aku baca. Buku bersampul merah fotocopy-an itu berisi pernyataan Perdana Menteri Soebandrio tentang peristiwa G30/S. Buku itu tidak dicetak secara luas, hanya kalangan tertentu saja yang mempunyai buku itu. Selain itu buku revolusi Oktober di Russia yang membuatku semakin tertarik membaca buku Marxis pada waktu itu.

Pak Heru pun mengajari aku soal puisi dan sastra lainnya. Ia sering menyuruhku membuat puisi dan menempelnya di mading. Ingat sekali aku pada waktu itu, judul puisi pertamaku “Inter Milan”, aku pun masih menyimpan puisi pertama itu. Dengan bahasa yang sangat sederhana dan cendurung bukan seperti puisi tetapi pak Heru terus mengajariku membuat dan menghayati puisi sampai pada akhirnya aku menjadi bagian dari kelompok puisi SMP Daya Susila untuk mengikuti lomba menulis dan antologi puisi Chairil Anwar. Itulah pengalaman pertamaku mengikuti lomba baca puisi dan menulis puisi.

Sejak saat itu aku sangat senang menulis puisi meski aku sendiri yakin bahwa puisiku masih sangat sederhana tetapi setidaknya aku jujur dengan puisiku, ada keterwakilan jiwaku dalam puisi yang kutulis.Keterwakilan itulah yang sering pak Heru katakan padaku ketika kami berdiskusi di ruang siaran.

Ketika aku kelas 3 SMP, pak Heru tidak mengajar dikelas kami lagi, digantikan oleh bu Lilis. Jelas, kami tidak terima dan meminta pak Heru sebagai guru bahasa Indonesianya, kelas 3B tidak menerima bu Lilis sebagai guru bahasa Indonesia kami karena gaya mengajarnya yang seperti guru-guru SMP negeri yang sangat apatis dan tidak menarik. Tidak ada proses diskusi, tidak ada nonton film, tidak ada perdebatan. Kemuakan itu semakin memuncak sehingga kami pun melakukan mogok belajar dan menolak bu Lilis masuk kelas. Singkatnya, kami menolak diajar oleh bu Lilis dan menutut tetap oleh Pak Heru.

 Diakhir masa studiku di SMP, aku bercerita pada pak Heru soal terpilihnya aku sebagai ketua GSNI cabang Garut. Pak Heru hanya berpesan “ketika kamu tidak suka dan merasa tidak srek, maka berhentilah” pesannya, ia pun menambahkan “cintailah proses fin, kamu akan mendapatkan hasil yang indah ketika kamu mencintai proses itu”. Pesan itu selalu aku ingat sampai saat ini, ketika waktu itu sudah beranjak menuju tahun yang sudah berganti.Dan benar, aku melalui banyak proses, menemui banyak cerita yang mematangkanku sebagai seorang laki-laki dewasa yang siap untuk meraih segala harapan yang dulu sempat aku ceritakan padamu, bapak guru.

 Pak Heru guru muda itu kini tidak lagi muda, ia sudah mempunyai anak perempuan yang lucu. Beberapa bulan lalu ketika aku pulang ke Garut aku menyempatkan berkunjung kerumahnya, tentu saja ia tidak berubah sedikit pun meski usianya semakin matang. Ia tetap pak Heru sebagai seorang guru yang kukenal, berjiwa muda, energik dan tetap revolusioner. Sebelum pulang ia pun memberiku buku “kaladhita karya Seno Gumira Adjidarma”. Pak Heru pun sangat senang ketika ia tahu kalau aku sekarang menjadi PU di persma di Universitas Jember. Lalu ia berpesan

“ fin, dulu bapak pernah bilang, cintailah proses. Apa kamu ingat itu?”. tanyanya
“Tentu saja pak”jawabku
“bapak akan sangat senang sekali ketika kamu pun bisa terlibat untuk mengajak generasi-generasimu untuk lebih menyukai budaya tulis daripada budaya lisan. Kenapa Eropa, Mesir atau kebudayaan lainnya terlihat lebih hebat dari kebudayaan di Indonesia.kamu tahu? Suaranya masih sangat berkarkter
“aku tahu pak, salah satunya karena kebudayaan kita tidak banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan tulisan yang bisa dibaca digenerasi berikutnya”jawabku padanya
“benar sekali. Mari, Ayo kita bersama-sama membudayakan budaya tulisan daripada budaya lisan”
Itulah pesan pak Heru sebelum aku pulang.

Itulah sekelumit romantika kami dengan Pak Heru, seringkali aku merindukan hari-hari berada dalam ruang kelas bersama Pak Heru, membicarakan soal puisi, sastra. Ia selalu mengingatkanku pada Gie, tentu aku yakin ia tidak seperti Gie yang lebih memilih mati muda atau terasing daripada tunduk kemunafikan. Ia adalah kesederhanaan seorang guru yang mengajari muridnya dengan semangat, dengan ide-ide gilanya. Ketika Andrea Hirata sangat mengagumi Bu Muslimah, gurunya di SD Muhamadiyah Gantong, aku punya seorang Guru yang memberikan kesan mendalam yang tak mungkin akan aku lupakan. Ia pernah menjadi spirit bagiku.
Hem, terlalu kelu aku menceritakannya. Aku terlalu melankolik ketika berbicara tentang orang-orang yang berarti dalam perjalanan hidupku. Sekali lagi, ia telah mengajariku banyak hal, mengeja kehidupan dengan posisinya sebagai seorang guru bahasa Indonesia yang progresif dan revolusioner, minimal pada waktu itu. Sampai hari ini, ia telah meninggalkan banyak kenangan dan pelajaran bagiku, termasuk pesannya " cintailah proses, fin"

Terima kasih, Pak Heru. Aku baru mengenal guru sebagai pahlawan tanda jasa semenjak bertemu denganmu dan itu ada dalam sosok mu. Kau tidak hanya sekedar guru dalam ruang kelas, namun juga kawan tempat berbagai cerita banyak hal dan mendengarkan ide-ide labilku
 Merdeka!!!. 

Minggu, 06 Januari 2013

Cerita dari Laguna (Pulau Sempu)

I'm Supertramp




Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur,” - Soe Hok Gie


sendang biru
Seolah lelah selama perjalanan 3 jam dari Batu menuju Sedang biru terbalaskan oleh pemandangan Sendang Biru dan sensasi pulau Sempu. Aku dan Mico, temanku dari Tegalboto yang juga sebagai fotografer professional, sudah tak sabar rasanya untuk berenang di laguna pulau Sempu. Laguna itu bernama Segara anakan. Laguna merupakan sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya.
Sendang Biru hanya sebagai pintu gerbang menuju surga dunia yang kami cari-cari selama ini. Tak berlebihan rasanya jika aku menyebut Sempu sebagai surga dunia yang Tuhan ciptakan dengan tersenyum, begitu indah (katanya). Kami berdua belum pernah menginjakan kaki di pulau Sempu dan hanya mendengar dari cerita dan tulisan-tulisan yang membahas soal Sempu sehingga kami masih menduga-duga. Cerita yang (katanya) indah itu harus segera kami buktikan oleh karena itu aku dan Mico segera membagi tugas, aku mencari kapal dan Mico mengurusi perijinan. Untuk masuk ke pulau sempu, terlebih dahulu meminta ijin pada BKSDA yang bertanggung jawab disana, tujuannya  untuk keamanan dan briefing-briefing kecil seputar pulau Sempu.
Sepertinya rencana kami tidak berjalan dengan baik, sebab aku terkejut ketika mendapat penjelasan calo kapal terkait harga sewa kapal. “ seratus ribu mas dan guide nya seratus juga” begitu penjelasan calo kapal “wah mahal banget pak” sergah ku. “ya sudah kalau mau lebih murah cari sepuluh orang, mas” calo itu mencoba memberikan solusi. Terus terang saja, aku sama sekali buta soal pulau Sempu dan  aku hanya bawa uang sangat pas sekitar 150rb, Mico pun sepertinya sama tak banyak membawa uang. Tak pernah kuduga sebelumnya kalau harus memakai guide dan membayar semahal itu. #aku merasa pasti calo kapal itu mencoba mempermainkanku. Brengsek!

tebing Segara Anakan
Ternyata kesialan itu tidak berlangsung lama dengan bermodalkan keramahan dan banyak tanya pada pengunjung Sendang biru untuk mencari siapa yang akan menyeberang ke Sempu akhirnya aku bertemu dengan rombongan anak SMA yang ingin menyebarang ke pulau sempu. Mereka anak-anak SMA Hang Tuah Surabaya yang ingin kepulau Sempu dengan style yang tidak tepat. “kau pikir Sempu itu Tunjungan Plaza dek” gurauku pada mereka. Jelas saja salah gaya, sebab gaya mereka tak ubahnya boyband-boyband yang biasa nyanyi lip sing. Peduli apa aku dengan gaya mereka, sekarang bagiamana aku bisa sampai di pulau Sempu.  Segera saja aku ajak mereka untuk join , mereka pun sama seperti kami yang sebelumnya belum pernah ke pulau Sempu tetapi aku bilang ke mereka kalau aku pernah ke pulau ini sebelumnya sehingga aku menjadi guide mereka. Sepertinya tawaranku cukup menarik bagi mereka sehingga tanpa berlama-lama mereka mengiyakan. Jelas kami tak perlu membayar mahal-mahal, aku dan miko hanya membayar  10.000 untuk berdua karena jumlah penumpangnya 11 orang Ok, Sempu aku datang meski datang dengan sedikit keoportunisan. hehe!
Segara Anakan




Terowongan masuknya Air laut



Pantai Segara Anakan





Laguna Segara Anakan
Setelah terkatung-katung hampir satu jam di Sendang biru, akhirnya kami berdua berangkat. Deru Suara mesin perahu meraung-raung keras ditambah bau solar yang mengudara di sekitar dek perahu menjadi kawan kami siang itu. Pulau Sempu yang katanya eksotis itu harus benar-benar disahihkan keeksotisannya dengan kami buktikan sendiri. Perjalanan menyeberang menuju pulau Sempu sekitar 15 menit. Lalu Kami harus melanjutkan perjalanan yang jaraknya kurang lebih sekitar 2 km. Medannya sangat becek, untung saja aku tadi menyewa sepatu yang khusus trek becek sehingga dengan leluasany aku berjalan bahkan berlari meski akhirnya harus terjatuh dlumpur. Sungguh menarik sekali perjalanan ini sebab kami harus melewati hutan cagar alam pulau Sempu dimana kaya akan keanekaragaman flora dan fauna. Selama perjalanan aku melihat sekelompok monyet, lutung dan beberapa burung yang aku tak tahu namanya.

Medan menuju Segara Anakan
 Sebelum kami berangkat penduduk sekitar memberitahu kami kalau perjalanan menuju lagunanya sekitar 4jam,  ternyata  4 jam itu bagi mereka yang banyak berisitirahat. Kami melewati hutan pulau Sempu tak lebih dari 50menit dengan medan yang becek dan licin karena memang kami tidak banyak membuang-buang waktu dan sedikit beristirahat. Memang cukup lelah perjalanan itu tetapi rasanya semua itu terbayarkan oleh kelembutan pasir putih Segara anakan dan segarnya air laut membentuk laguna. Semuanya kompak membentuk keindahan yang tak terbatahkan. Segera saja setelah melepas tas aku segera menerjang kesegaran air asin yang terpisah dari lautan itu. Benar-benar segar!
Cukup Becek

Sempu benar-benar mengingatkanku pada film The Beach produksi tahun 2000. Lokasi syuting film itu berada di Thailand tepatnya Hat Maya, Phi Phi Leh. Jika kubayangkan lagi, sepertinya Sempu tak jauh berbeda dengan pantai yang menjadi tempat syuting film The Beach. Mungkin terlalu berlebihan? Buktikan saja untuk datang ke Sempu. Sungguh indah panorama pantai Segara anakan bagai kolam renang raksasa sebab sekelilingnya dibatasi oleh terumbu karang besar. Air laut yang masuk ke Segara anakan melalui celah kecil serupa dengan terowongan, jika gelombang tinggi maka air laut akan masuk ke dalam Segara Anakan itu  sehingga membentuk laguna.

Suasana Pantai Segara Anakan dari atas tebing
Pada hari itu kebetulan sekali Segara anakan sedang ramai dan banyak tenda-tenda yang didirikan. Jikaku hitung-hitung ada sekitar 20 tenda-an. Suasana pulau Sempu benar-benar meriah pada hari itu tetapi sayiang sekali kemeriahan itu tidak dibarengi dengan kesadaran untuk menjaga kebersihan di Segara anakan atau pulau Sempu secara umum. Banyak pengunjung yang kemah disana dengan sengaja meninggalakan kotoran sisa-sisa keperluan mereka sehingga disisi yang lain Segara anakan terlihat kumuh dan tak teratur. Aku sangat prihatin melihat itu semua, aku pun mencoba mengajak Mico untuk membersihkannya dengan semampu kami tetapi memang sampah terlalu banyak seolah usaha kami dan beberapa teman-teman pecinta alam yang peduli dengan kebersihan pulau Sempu tidak banyak berguna karena di tempat yang tak jauh dari kami memunguti sampah, aku melihat orang-orang membuang bungkus makanannya begitu saja. Bajinganlah!


Shit! Garbage
 Memang sampah-sampah itu tidak merusak keindahan pulau Sempu dan Segara anakannya tetapi sampah-sampah itu tidak melengakapi keindahan yang ada. Seharusnya kita lebih menyadari kalau  sampah-sampah itu justru akan membuat Sempu menjadi tidak menjadi indah di kemudian hari. Uh semoga saja itu tidak terjadi. 

Sebut saja ini Sampah
Setelah 2 jam kami menikmati keindahan Segara anakan, segera kami bergegas untuk kembali ke  Sendang Biru dan kembali berjalan melewati medan yang becek dan licin seperti sebelumnya.  Sempu memang benar-benar indah, deburan ombang yang masuk melalui celah Segara anakan, dinginya air Laguna Segara anakanya dan pasir halusnya membuat kami terhibur dan sejenak melupakan segala lelah dan penat yang ada. 


Terima kasih Sempu. Pesanku kalau memang ingin ke Sempu tolong Sampahnya diperhatikan. Jangan membuang sampah Sembarangan, sebab Pulau Sempu saat ini kedudukannya bukan sebagai lokasi wisata tetapi sebagai cagar alam, dimana banyak keaneragaman hayati yang ada disana. Apabila kita membiarkan Sempu tercemar oleh kebodohan pengunjungnya maka resiko yang lebih besar menanti.
Selamat mengunjungi Pulau Sempu, kawan

Selagi kaki ini bisa melangkah, selagi tangan ini masih bisa menggengam, selagi semangat ini selalu membara. selama itu pula banyak petualangan yang akan kuceritakan

Kamis, 03 Januari 2013

Bahagia itu apa? (absurd)


Pernahkan kau berpikir  soal kebagaian yang sempat tertunda?. Kita mencarinya, mencari dibalik lemari, bantal atau sandal mungkin. Intinya kita akan senantiasa mencari kebahagian itu bukan? Lalu apakah kita pernah berpikir juga kalau kebahagiaan itu didapat dengan cara yang bkolerbeda-beda. Seseorang berbahagia dengan cara yang tidak membahagiakan bagi orang lain, contoh mudahnya kelompok orang-orang penganut masokis yang menemukan kebahagiaan dengan cara yang tidak lazim yaitu menyiksa diri sendiri atau bahkan seseorang bisa pula bahagia dibawah penderitaan orang lain. Apakah kita akan sepakat jika manusia hidup itu untuk mencari bahagia? Biasa kita dengan dalam doa-doa “semoga engaku berbahagia di dunia dan akhirat”. Selalu saja seperti itu, hanpir semua agama memang menawarkan kebahagiaan.  Tentunya cara memperoleh bahagia itu berbagai macam dan dengan caranya masing-masing.

Hari ini aku bertemu dengan dua orang yang berbeda. Pertama aku bertemu dengan seorang pengusaha yang cukup sukses di Jember. Mungkin kita sudah tahu House Music, pemiliknya bernama pak Agus Susanto. Ia bercerita padaku soal filosofi orang china yang terus mengejar harapan-harapan yang mereka miliki dari mulai sejak mereka mampu sampai mereka tidak mampu untuk mewujudkan mimpinya. Etnis tionghoa memang terkenal ulet dan gigih mengejar mimpinya, tak heran jika dengan mudah kita menemui banyak pengusaha yang keturunan etnis tionghoa. Kebahagian bagi mereka adalah dengan bekerja sebab bekerja adalah salah satu bentuk realisasi dari meraih mimpi. Sampai aku sempat bertanya pada pak Agus Susanto “lalu kapan mereka menikmati hasil dari bekerja itu pak? Kalau memang setiap saat mereka terus bekerja dan bekerja” tanyaku padanya. “ya aku sendiri tak pernah  bingung, kita merasakan kebahagian dengan cara bekerja. Mungkin kami menikmati kebahagian dan jerih payah kami ya dengan bekerja. Mungkin bagi kamu, aku (ethis Tionghoa) tidak menikmati hidup karena terus mengejar target ya memang benar.” Jawab pak Agus Susanto “ tetapi dengan mengejar mimpi itu lalu mendapatkan mimpi itu. Disitulah kami merasa bangga dan bahagia. Sebab yang diimpikan berhasil didapatkan”.
Dengan semangat yang tak pernah padam tak heran jika kawasan bisnis, hampir disetiap daerah di Indonesia ini selalu ada etnis tionghoa. Bahkan pada masa pemerintahan  Hindia Belanda dengan mengeluarkan aturan nomer>>>>>>> soal pemusatan etnis tionghoa yang kemudian hari kita kenal sebagai pecinan. Kembali soal semangat kerja etnis tionghoa tadi tidak datang begitu saja karena mereka memilik pemahaman itu berasal dari nenek moyang . kebiasaan itu tetap dipertahankan hingga saat ini. Semangat memang menentukan usaha kita untuk  maju atau tidak.

Lain dengan Pak Agus Susanto, lain pula dengan bapak montir vespa. Kebetulan pada waktu itu Vespaku sedang butuh perawatan. Disela-sela ia mengotak-atik mesin Vespaku, ia bercerita soal anak dan istrinya. Dari bengkel  ini ia mampu menghidupi keluarganya, jelas ia mengatakan itu dengan penuh rasa bangganya. Ketika aku Tanya soal berapa lama ia membuka bengkel ini “saya dari sejak tahun 1980, mas”jawabnya. Wow itu bukan waktu yang sebentar bukan? “apa dari dulu bapak membuka bengkel ditempat ini?”tanyaku padanya . “iya, saya ditempat ini dari dan kondisnya memang seperti ini”jawabnya dengan penuh bangga. Aku pun bertanya tentang waktu yang lama itu dan kenapa it tetap mempertahankan profesi sebagai montri Vespa  “soal totalitas dan kesenangan, mas.  Saya melakukan ini dengan tidak sembarang. Saya pun sempat belajar di bengkel resmi Vespa Piagio di Jakarta sana” jawabnya.  Tak lama dari obrolan itu ia masuk kedalam rumahnya dan menunjukan sertifikan kelulusan sebagi montir Vespa dari dealer resmi vespa di Indonesia. Bapak montir itu tidak banyak mencari mimpi-mimpi meski sebenarnya ia mampu membuat bengkelnya menjadi lebih besar dari keadaan sekarang  tetapi sepertinya ia menikmati kesederhanaan itu. Dari kesederhanaan itu ia  mampu memperoleh kebahagiaan. Jelas ada perbedaan yang mencolok soal bagaimana seseorang memperoleh kebahagiaan. Pak Agus Susanto tadi dengan cara terus bekerja dan mencari mimpi-mimpinya yang lain, sampai ia mengakui sendiri kalau kadang ia lupa menikmati hasil yang diperoleh tetapi memperoleh kebahagiaan ketika berhasil memperoleh mimpinya. Sedangkan bapak montir vespa  berbeda lagi ia dengan tekun dan total membangun bengkel vespanya atas dasar ia senang dan cinta terhadap scooter Vespa sehingga dengan bekerja menjadi montir ia sudah sangat bahagia. Dari bengkel sederhana itu pula ia mampu memberikan kebahagian bagi keluarganya, menyekolahkan anaknya sampai lulus kuliah.

Kebahagiaan memang absurd dan kadang tidak dapat dinalar. Aku merasa bahagia ketika aku duduk ditengah gelap dan melihat bintang yang begitu luas di alam raya ini. Itu kebahagiaan yang membuat batin menjadi tenang tetapi ada pula yang berbahagia dengan cara menyakiti orang yang disayanginya. Itu pun aku pernah rasakan ketika kebahagiaan yang ia dapat setelah berhasil membuatku resah. Ada pula orang yang berbahagia dengan cara berbohong “aku tidak pakai Blackberry Massanger” nyatanya ia berbahagia dengan itu meski ia telah membohongi orang lain. Aku sangat berbahagia ketika aku berkeliling tanah Jawa dan Indonesia yang luas meski aku harus tertidur di peron stasiun Lempuyangan, mandi di POm Bensin Blitar atau tidur dihotel remang-remang di Jakarta. Itu sungguh kebahagian yang tak terhingga. Aku bahagia ketika jatuh dari lereng gunung Bromo meski kakiku kram dan tak sembuh-sembuh. Memang kebahagian tak dapat diukur meski kebahagiaan itu membuat orang lain disekitar kita menjadi korbannya.

Ah,,,dari soal kekesalan saja aku membicarakan kebahagian. Padahal aku sedang sekesal-kesalnya karena aku merasa dibohongi oleh idealisme oleh orang yang selalu berkata bahwa dirinya special. #kaya martabak aja special.
Sudah..aku hanya bisa melawan lewat tulisan saja. kalau lewat telvon hanya buang-buang baterai dan enegeri karena pasti akan menimbulkan amarah.