![]() |
| Istimewa |
Teruntuk yang Semakin Menua
Tahun
1999, berawal dari perkenalan seorang kawan, aku tak begitu memperhatikan hanya
memastikan bahwa ada yang khas dari nya.
Namanya Dika, tetangga sebelah
rumah ku di Garut. Ia yang memperkenalkanya pada ku, sampai akhirnya, aku jatuh
hati sampai saat aku menulis tentangnya, saat ini. Dika sering mengajak ku bermain sepakbola, ia
pun sering bercerita layaknya anak-anak pada umumnya tentang idola-idola
mereka. Awalnya, aku acuh tak ingin menanggapinya. Namun, hampir setiap hari
kami bertemu, mengajari bermain sepak bola dan bermain pada umumnya anak-anak
komplek. Yang khas dari Dika, ia sering sekali memaki baju berwarna garis biru
dan hitam. Jersey Tim sepak bola Inter Milan. Tim yang kelas menjadi idolaku.
Entah sampai kapan.
***
Pada
9 Maret 1908 sampai 9 Maret 2016, merupakan perjalanan panjang dari sebuah cerita. Ada banyak sejarah yang tertulis.
Aku mengikutinya sejak tahun 2002 tepatnya meski embrio cinta itu ada sejak
tahun 1999. Tahun 1999, aku masih belum memahami sepak bola, saat itu hanya
masih kelas 3 SD sedangkan kawanku, Dika, ia empat tahun diatasku. Dika merupakan Interisti dan ia pun pemain
sepak bola di blok tempat kami tinggal. Seperti kebiasan anak komplek lainnya,
hampir setiap sore kami bermain sepak bola. Awalnya bertanding antar RW
kemudian antar blok. Saat itu, tahun 2000-an, di Perumahan Cempaka Indah Garut,
ruang terbuka untuk bermain anak-anak masih terlibang banyak. Saban sore
biasanya anak-anak komplek dari total 8 blok berkumpul di lapangan besar dekat
sekolah SD. Tidak hanya bermain sepak bola, ada yang bermain layang-layang atau sekedar nongkrong sehingga
suasanya begitu ramai. Di sisi yang
lain, ada anak-anak jagoan sepak bola yang bertanding antar blok mempertahankan
kewibaan bloknya. Aku tinggal di blok 4, lawan yang kami anggap tangguh waktu
itu blok 7 dan blok 6. Seru sekali, antusiasme sepak bola hari-hari itu sungguh
menarik. Kick off dimulai jam 3 sore dan peluit akhir pertandingan saatt adzan
magrib berbunyi, tidak ada rasa lelah. Kegiatan tersebut berlangsung setiap
hari. Masa kecil ku banyak dihabiskan di luar ruangan.
****
Kembali
pada Inter Milan. Setiap pulang kerja, ayah tidak jarang membawa Tabloid Bola.
Serie-A tahun-tahun itu sedang seru-serunya. Setelah kota Roma berpesta dua
tahun berturut-turut, Lazio tahun 1999 dan As Roma tahun 2000 menjadi juara. Aku
mulai membaca informasi soal Inter Milan, aku hanya mengenal sedikit nama dari
Inter Milan, tentu Ronaldo selain itu ada Ivan Zamorano, Peruzzi, Javier
Zanetti. Hanya itu saja. Kesukaan pada Inter Milan mulai tumbuh setelah aku
dibelikan oleh Mamah jersey Inter Milan, tepatnya aku memaksa meminta untuk
dibelikan, jersey bernama punggung Ronaldo, itu pun kekecilan.
Namun
aku masih belum menjadi Interisti yang taat. Masih belum intens menonton
pertandingan Inter Milan apalagi menambah pengetahun tentang siapa saja
punggawa Inter Milan. Perlu waktu selama tiga tahun untuk menyadari bahwa Inter
Milan merupakan tim sepak bola keren menurut versi ku. Hal tersebut berawal saat ayah membawa pulang
Tabloid Bola edisi hari Jum’at, hari Senin malam akan ada Big Match antara
Inter Milan Vs AS Roma. Rasa kagum pada Inter sudah semakin tumbuh dari tahun
1999. Inter kala itu di tangani oleh Pelatih Argentina yang sebelumnya sempat
membawa El Che , Valencia menjadi Runner-Up Liga Champions.
Musim
2001/2002 benar-benar tidak akan pernah bisa aku lupakan. Pertandingan itu
menjadi tonggak awal kecintaan aku pada Inter Milan. Menjadi lebih sungguh-sungguh
mengidolai Inter Milan. Pada pertandingan itu, Inter Milan menang 3-1. Recoba
memborong dua gol, tendagan bebasnya begitu indah. 1 gol tambahan Inter
disumbangkan oleh Christian Vieri. Gol hiburan As Roma disumbangkan oleh Totti. Pertandingan tersebut
begitu membekas, Jonathan Zebina mendapat kartu merah karena memukul Recoba. Aku
pun tidur dengan bahagia malam itu. Aku
pun mengingat dengan detail bagaimana pertandingan terakhir Inter Milan yang
mana pertandingan tersebut menjadi penentuan juara. Alih-alih menang, Inter
Milan justru dipecundangi oleh Lazio di laga terakahir. Gol Vieri dan Luigi
DiBagio dibayar kebodohan Gresko, Gresko blunder dua kali sehingga 2 gol Karel
Poborsky membobol gawang Toldo. Inter pun kalah, juara melayang Inter terlempar
diposisi tiga klasemen. Juventus di Stadion Fruilli menang lawan Udinese.
Trezeguet dan Del Piero menjadi mimpi buruk para Interisti. Pada pertandingan
terakhir itu, Ronaldo menangis atas kekalahan tersebut. Ribuan Kilometer dari
Italia, aku pun untuk pertama kalinya menangis karena alasan yang tidak ada
hubungannya dengan ku sama sekali, alasan tim sepak bola keakungan kalah.
Sejak
saat itu, Aku mulai mencari tahu tentang Inter Milan, mencarinya dengan detail.
Aku mulai membaca Tabloid Bola, setiap selesai Jum’atan aku ke loper korang.
Berjam-jam membaca berita tentang Inter Milan. Tidak jarang mendapat teguran
karena lebih sering membaca gratisan daripada membeli. Untuk beli Tabloid Bola
jelas uang jajanku tidak mencukup. Hanya sesekali saja kalau ayah yang membeli.
Aku tak kehabisan akal, maka cara yang terbaik untuk mendapatkan bacaan gratis,
aku melobi temanku, Felix namanya. Ia selalu berlangganan Tabloid Bola. Aku
membaca setelah ia membacanya. Setiap Minggu aku tidak ketinggalan tentang
Inter Milan. Felix merupakan Milanisti yang baik. Tentu, uang jajan yang
pas-pasan tidak akan sudi untuk dibagi hanya untuk koran, pikir aku waktu itu.
Jika ada yang bisa dimaksimalkan maka tidak ada salahnya untuk diefektifkan.
Hehe
****
Menjadi
Interisti tidak mudah. Sering sekali aku mendapat bully-an karena Inter Milan merupakan tim papan atas yang sulit
mendapatkan kemenangan. Dari tahun 1999 baru tahun 2009 aku bisa merasakan
kebahagiaan yang luar biasa menjadi Interisti. Kala itu, tahun 2009/2010, Inter
menjadi Treble Winners. Juara Serie-A, Coppa Italia dan Liga Champions. Aku
mengalami situasi bersejarah, setelah
tahun 60an Inter mengalami situasi bersejarah lainnya.
Namun
perkara menjadi Interisti bukanlah sebatas berapa banyak Trophy yang dipajang
di lemari koleksi Inter Milan. Bukan. Bukan hanya itu saja. Seiring waktu
berjalan, aku terus mencari dan menambahkan keyakinan bahwa Inter Milan
merupakan tim idola yang pantas untuk diidolai. Alasannya sederhana, aku ingin
memilih apa yang aku pilih tanpa buta alasan. Harus ada alasan logis untuk
setiap pilihan. Termasuk memilih untuk mengidolai Inter Milan, aku membaca
sejarah pendirian Inter Milan, pada awalnya embrio Inter Milan adalah Ac Milan
Cricket and Football. Namun kebijakan AC milan hanya untuk para pemain-pemain
yang berasal dari Negara Italia dan Inggris. Muncullah kelompok-kelompok
Internasionalis yang menginginkan siapapun bisa bergabung karena olaharga
merupakan kegiatan universal tanpa tapal batas negara. Kemelut itulah yang
melahirkan Inter Milan. Nama yang dipilih pun Internazionale Milano.
Internasionale, beraroma kiri seperti Internasionale yang didirikan oleh Karl
Marx. Selain itu, Inter Milan pun punya kepedulian sosial yang tinggi, tidak
hanya itu Inter Milan pun ideologis. Inter Milan mendukung secara tidak
langsung gerakan Anarko Zapatista di
Amerika Latin. Alasan-alasan itu lah yang menumbuh suburkan rasa kagum saya
pada Inter Milan. Kalah atau menang adalah dinamika, namun Tim Sepak Bola yang
mempunyai basis ideologis yang kuat bagi saya itu alasan yang kuat pula untuk
tetap bertahan mengidolai Inter, meksi posisi Inter saat ini di musim 2015/2016
berada di urutan 5.
***
Memilih
tim sepak bola tidak sepatas diehard fans tanpa alasan yang jelas. Perlu ada
alasan termasuk argumentasi yang jelas. Itu yang saya pahami. Dalam setiap
pilihan ada pencarian dan pengalaman, tim sepak bola yang dijadikan idola
dipilih atas dasar feel dan soul. Sama seperti memeluk agama, tidak
hanya alasan dogmatis, keturunn atau hanya menerima begitu saja namun ada
proses pencarian dan pengalaman untuk memperkuat iman. Mungkin agak terdengar
berlebihan, namun bagi ku itu adalah cara terbaik untuk bisa bertanggung jawab
pada setiap pilihan meskipun tim sepak bola yang kita idolai harus jatuh ke
Serie-C sekalipun.
Forza
Inter Milan!!!







Silakan kunjungi Prediksi Bola Rayo Vallecano vs Real Madrid 29 April 2019 dengan berupa prediksi terupdate bisa Hubungi +62-8122-222-995
BalasHapus