Sabtu, 12 Maret 2016

Kisah Cinta itu di mulai: Internazionale Milano



Istimewa


Teruntuk yang Semakin Menua

Tahun 1999, berawal dari perkenalan seorang kawan, aku tak begitu memperhatikan hanya memastikan bahwa ada yang khas dari nya.  Namanya Dika,  tetangga sebelah rumah ku di Garut. Ia yang memperkenalkanya pada ku, sampai akhirnya, aku jatuh hati sampai saat aku menulis tentangnya, saat ini.  Dika sering mengajak ku bermain sepakbola, ia pun sering bercerita layaknya anak-anak pada umumnya tentang idola-idola mereka. Awalnya, aku acuh tak ingin menanggapinya. Namun, hampir setiap hari kami bertemu, mengajari bermain sepak bola dan bermain pada umumnya anak-anak komplek. Yang khas dari Dika, ia sering sekali memaki baju berwarna garis biru dan hitam. Jersey Tim sepak bola Inter Milan. Tim yang kelas menjadi idolaku. Entah sampai kapan.

***
Pada 9 Maret 1908 sampai 9 Maret 2016, merupakan perjalanan panjang  dari sebuah cerita. Ada banyak sejarah yang tertulis. Aku mengikutinya sejak tahun 2002 tepatnya meski embrio cinta itu ada sejak tahun 1999. Tahun 1999, aku masih belum memahami sepak bola, saat itu hanya masih kelas 3 SD sedangkan kawanku, Dika, ia empat tahun diatasku.  Dika merupakan Interisti dan ia pun pemain sepak bola di blok tempat kami tinggal. Seperti kebiasan anak komplek lainnya, hampir setiap sore kami bermain sepak bola. Awalnya bertanding antar RW kemudian antar blok. Saat itu, tahun 2000-an, di Perumahan Cempaka Indah Garut, ruang terbuka untuk bermain anak-anak masih terlibang banyak. Saban sore biasanya anak-anak komplek dari total 8 blok berkumpul di lapangan besar dekat sekolah SD. Tidak hanya bermain sepak bola, ada yang bermain  layang-layang atau sekedar nongkrong sehingga suasanya begitu ramai.  Di sisi yang lain, ada anak-anak jagoan sepak bola yang bertanding antar blok mempertahankan kewibaan bloknya. Aku tinggal di blok 4, lawan yang kami anggap tangguh waktu itu blok 7 dan blok 6. Seru sekali, antusiasme sepak bola hari-hari itu sungguh menarik. Kick off dimulai jam 3 sore dan peluit akhir pertandingan saatt adzan magrib berbunyi, tidak ada rasa lelah. Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari. Masa kecil ku banyak dihabiskan di luar ruangan.
****
Kembali pada Inter Milan. Setiap pulang kerja, ayah tidak jarang membawa Tabloid Bola. Serie-A tahun-tahun itu sedang seru-serunya. Setelah kota Roma berpesta dua tahun berturut-turut, Lazio tahun 1999 dan As Roma tahun 2000 menjadi juara. Aku mulai membaca informasi soal Inter Milan, aku hanya mengenal sedikit nama dari Inter Milan, tentu Ronaldo selain itu ada Ivan Zamorano, Peruzzi, Javier Zanetti. Hanya itu saja. Kesukaan pada Inter Milan mulai tumbuh setelah aku dibelikan oleh Mamah jersey Inter Milan, tepatnya aku memaksa meminta untuk dibelikan, jersey bernama punggung Ronaldo, itu pun kekecilan.

Namun aku masih belum menjadi Interisti yang taat. Masih belum intens menonton pertandingan Inter Milan apalagi menambah pengetahun tentang siapa saja punggawa Inter Milan. Perlu waktu selama tiga tahun untuk menyadari bahwa Inter Milan merupakan tim sepak bola keren menurut versi ku.  Hal tersebut berawal saat ayah membawa pulang Tabloid Bola edisi hari Jum’at, hari Senin malam akan ada Big Match antara Inter Milan Vs AS Roma. Rasa kagum pada Inter sudah semakin tumbuh dari tahun 1999. Inter kala itu di tangani oleh Pelatih Argentina yang sebelumnya sempat membawa El Che , Valencia menjadi Runner-Up Liga Champions. 


Musim 2001/2002 benar-benar tidak akan pernah bisa aku lupakan. Pertandingan itu menjadi tonggak awal kecintaan aku pada Inter Milan. Menjadi lebih sungguh-sungguh mengidolai Inter Milan. Pada pertandingan itu, Inter Milan menang 3-1. Recoba memborong dua gol, tendagan bebasnya begitu indah. 1 gol tambahan Inter disumbangkan oleh Christian Vieri. Gol hiburan As Roma  disumbangkan oleh Totti. Pertandingan tersebut begitu membekas, Jonathan Zebina mendapat kartu merah karena memukul Recoba. Aku pun tidur dengan bahagia malam itu.  Aku pun mengingat dengan detail bagaimana pertandingan terakhir Inter Milan yang mana pertandingan tersebut menjadi penentuan juara. Alih-alih menang, Inter Milan justru dipecundangi oleh Lazio di laga terakahir. Gol Vieri dan Luigi DiBagio dibayar kebodohan Gresko, Gresko blunder dua kali sehingga 2 gol Karel Poborsky membobol gawang Toldo. Inter pun kalah, juara melayang Inter terlempar diposisi tiga klasemen. Juventus di Stadion Fruilli menang lawan Udinese. Trezeguet dan Del Piero menjadi mimpi buruk para Interisti. Pada pertandingan terakhir itu, Ronaldo menangis atas kekalahan tersebut. Ribuan Kilometer dari Italia, aku pun untuk pertama kalinya menangis karena alasan yang tidak ada hubungannya dengan ku sama sekali, alasan tim sepak bola keakungan kalah. 

Sejak saat itu, Aku mulai mencari tahu tentang Inter Milan, mencarinya dengan detail. Aku mulai membaca Tabloid Bola, setiap selesai Jum’atan aku ke loper korang. Berjam-jam membaca berita tentang Inter Milan. Tidak jarang mendapat teguran karena lebih sering membaca gratisan daripada membeli. Untuk beli Tabloid Bola jelas uang jajanku tidak mencukup. Hanya sesekali saja kalau ayah yang membeli. Aku tak kehabisan akal, maka cara yang terbaik untuk mendapatkan bacaan gratis, aku melobi temanku, Felix namanya. Ia selalu berlangganan Tabloid Bola. Aku membaca setelah ia membacanya. Setiap Minggu aku tidak ketinggalan tentang Inter Milan. Felix merupakan Milanisti yang baik. Tentu, uang jajan yang pas-pasan tidak akan sudi untuk dibagi hanya untuk koran, pikir aku waktu itu. Jika ada yang bisa dimaksimalkan maka tidak ada salahnya untuk diefektifkan. Hehe
****
Menjadi Interisti tidak mudah. Sering sekali aku mendapat bully-an karena Inter Milan merupakan tim papan atas yang sulit mendapatkan kemenangan. Dari tahun 1999 baru tahun 2009 aku bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa menjadi Interisti. Kala itu, tahun 2009/2010, Inter menjadi Treble Winners. Juara Serie-A, Coppa Italia dan Liga Champions. Aku mengalami situasi bersejarah, setelah  tahun 60an Inter mengalami situasi bersejarah lainnya. 

Namun perkara menjadi Interisti bukanlah sebatas berapa banyak Trophy yang dipajang di lemari koleksi Inter Milan. Bukan. Bukan hanya itu saja. Seiring waktu berjalan, aku terus mencari dan menambahkan keyakinan bahwa Inter Milan merupakan tim idola yang pantas untuk diidolai. Alasannya sederhana, aku ingin memilih apa yang aku pilih tanpa buta alasan. Harus ada alasan logis untuk setiap pilihan. Termasuk memilih untuk mengidolai Inter Milan, aku membaca sejarah pendirian Inter Milan, pada awalnya embrio Inter Milan adalah Ac Milan Cricket and Football. Namun kebijakan AC milan hanya untuk para pemain-pemain yang berasal dari Negara Italia dan Inggris. Muncullah kelompok-kelompok Internasionalis yang menginginkan siapapun bisa bergabung karena olaharga merupakan kegiatan universal tanpa tapal batas negara. Kemelut itulah yang melahirkan Inter Milan. Nama yang dipilih pun Internazionale Milano. Internasionale, beraroma kiri seperti Internasionale yang didirikan oleh Karl Marx. Selain itu, Inter Milan pun punya kepedulian sosial yang tinggi, tidak hanya itu Inter Milan pun ideologis. Inter Milan mendukung secara tidak langsung gerakan Anarko Zapatista  di Amerika Latin. Alasan-alasan itu lah yang menumbuh suburkan rasa kagum saya pada Inter Milan. Kalah atau menang adalah dinamika, namun Tim Sepak Bola yang mempunyai basis ideologis yang kuat bagi saya itu alasan yang kuat pula untuk tetap bertahan mengidolai Inter, meksi posisi Inter saat ini di musim 2015/2016 berada di urutan 5.

***
Memilih tim sepak bola tidak sepatas diehard fans tanpa alasan yang jelas. Perlu ada alasan termasuk argumentasi yang jelas. Itu yang saya pahami. Dalam setiap pilihan ada pencarian dan pengalaman, tim sepak bola yang dijadikan idola dipilih atas dasar feel dan soul. Sama seperti memeluk agama, tidak hanya alasan dogmatis, keturunn atau hanya menerima begitu saja namun ada proses pencarian dan pengalaman untuk memperkuat iman. Mungkin agak terdengar berlebihan, namun bagi ku itu adalah cara terbaik untuk bisa bertanggung jawab pada setiap pilihan meskipun tim sepak bola yang kita idolai harus jatuh ke Serie-C sekalipun. 

Forza Inter Milan!!!

1 komentar:

  1. Silakan kunjungi Prediksi Bola Rayo Vallecano vs Real Madrid 29 April 2019 dengan berupa prediksi terupdate bisa Hubungi +62-8122-222-995

    BalasHapus