Kamis, 24 Juli 2014

Teluk Ijo (bukan) Petualangan Terakhir di Jember




Aku dan Anggie atau sebut saja kita

Kita sangat menyukai perjalanan, pertualangan dan segala hal yang memacu adrenalin. Oleh karena itu, kita selalu menyisipkan waktu luang untuk sekedar membuat cerita yang tidak biasa. Waktu pacaran kita banyak dihabiskan dihutan, dipantai, digunung atau dikota-kota yang belum pernah kita kunjungi sesekali dalam sunyinya kamar.hehe Petualangan kami tidak semata mencuri waktu untuk bahagia, perjalanan kami tidak hanya untuk sekedar menikmati karunia Tuhan, perjalanan kami lebih pada petualangan untuk saling mengenenal satu sama lain, lebih dalam, lebih lengkap. 


Beberapa tempat telah kita kunjungi untuk menyempurkan cerita yang kelak akan diceritakan kembali. Petualangan kita juga merupakan perjalanan menabur ingatan dibanyak tempat.


Siang itu, seperti biasa aku mencoba mengajak Anggie jalan-jalan ke Teluk Ijo. kita menyepakati untuk berangkat esok hari dihari Sabtu. Setelah semuanya siap, aku coba mengajak teman, Haykal yang aku ajak. Haykal merupakan adik kelasku, angkatan 2011. Ia kader GmnI, sama seperti aku.


Tanpa banyak bermusyawarah Haykal pun menyetujui ajakan kami. Kami pun berangkat berempat, Haykal kebetulan mengajak   Ocha sahabat sekamarnya. 


Perjalanan Jember-Banyuwangi seperti biasanya melewati Gumitir lalu beristirahat sejenak untuk menyantap pecel Garahan yang terkenal leker dan murah. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan kearah Genteng, Banyuwangi lalu belok ke arah Jajak. Sebenarnya, kami semua tidak mengetahui dimana letak teluk Ijo itu. Waktu itu, aku yang mengambil inisitif dan mencoba menggunakan feeling bahwa Teluk Ijo diwilayah pesisir selatan Banyuwangi dan berada dalam komplek Taman Nasional Meru Betiri. Akhirnya aku mengarahkan perjalanan ini kerah Pulau Merah dan terus menuju penangkaran Penyu, SukaMade. Tidak terlalu salah ternyata analisisku meski beberapa kali harus nyasar. Benar saja, Teluk Ijo berada diwilayah selatan satu komplek pantai Rajek Wesi. Perjalanan menuju Teluk Ijo ini memakan waktu sekitar lima jam. Sekitar kurang dari 20 Km dari Teluk Ijo, motor yang aku naiki ternyata mendapat masalah, rantainya lepas. Hal ini diperparah kondisi jalan yang rusak cukup parah dan minimnya rumah penduduk. Karena kondisi yang tidak bersahabat itu,  aku memaksakan agar kita segara mencari tempat tambal ban untuk memperbaikinya. Alhamdulilah, kurang lebih tiga kilometer dengan motor yang rantainya kendur dan rentan lepas itu, akhirnya ada juga tukang tambal ban yang memperbaiki motor si merah, Revo.


Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya sampai juga. Kurang lebih sekitar  120Km jarak yang kami tempuh. Kami sampai tepat pukul

15.00WIB sehingga suasana sudah mulai sepi dan kami bisa menikmati suasana keindahan Teluk Ijo dengan lengkap tanpa ada kegaduhan yang merusak suasana.

Teluk Ijo Sudah Tidak Perawan

         
        Pantai Teluk Ijo lebarnya tidak lebih dari 500 meter. Letak pantainya yang terpencil karena kita harus berjalan sekitar 1,5 Km dan medannya pun cukup curam, membuat pantai ini awalnya tidak terjamah oleh banyak manusia. Namun, karena keindahan alammnya, lembutnya pasir putih, pohon-pohon besar, dan tebing yang semakin mempercantik Teluk Ijo membuat Teluk Ijo menjadi tujuan wisata baru. Apalagi kondisi pantai Rajek wesi yang pernah berjaya sekitar tahun 90anm kini sudah tidak seperti dahulu pasca Tsunami yang merusak keindahan pantai. 

        Seperti semut dan gula, begitu analogi yang tepat untuk menggabarkan Teluk ijo hari ini. Banyak orang yang memperbincangkan keindahan Teluk Ijo sehingga banyak pula menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke pantai yang awalnya sunyi dan damai tersebut.  Seperti biasa, dampak dari banyaknya wisatawan selain memberikan dampak ekonomi yang postif bagi masyarakat sekitar juga membuat berdampak pada lingkungan disekitaran Teluk Ijo, banyak sampah yang berceceran ditinggalkan tanpa tanggung jawab dan vandalisme norak yang membuat teluk Ijo perlahan kehilangan keperawananannya.

Teluk Ijo tetap Cantik dan eksotis


Dampak yang negatif dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Teluk Ijo ternyata disadari oleh masyarakat sekitar. Masyarakat yang mendapat penghasilan tambahanan seperti dari menjaga parkir, menjual makanan dan minuman atau menyewakan perahu memiliki inisiatif untuk tetap menjaga agar lingkungan Teluk Ijo tetap asri dan bersih. Secara bergilira dalam kelompok-kelompok kecil, masyarakat tersebut melakukan patroli memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan pengujung.


Mereka pun membuat aturan bagi para pengunjung Teluk Ijo untuk tidak berkemah dilokasi pantai, namun tetap mengijinkan berkemah namun dilokasi parkir, sekitar 1,5 Km dari pantai. Komitmen dari  masyarakat sekitar secara tidak langsung membuat Teluk Ijo tetap indah dan menarik untuk dikunjungi namun kita sebagai pengunjung Teluk Ijo harus sadar diri untuk menjaga agar lingkungan Teluk Ijo atau tempat wisata outdor lainnyaa agar tetap asri dan bersih.


Perjalanan yang semakin menantang


Matahari semakin tenggelam dan ingin segera beristirahat. Hampir dua jam kami menikmati alam Teluk Ijo.  kami pun segara bergegas untuk naik menyudahi percumbuan kami dengan alam. Jalan turunan pada waktu datang tadi berganti menjadi tanjakan, sepanjang hampir satu kilometer kami berjalanan menanjak. Anggie menunjukan raut kelelahan, beberapa kali kami menghela nafas. Kami pun sampai diparkiran pukul 17.30 WIB


        Didekat parkiran terdapat plang berwarna hijau yang menjadi petunjuk Gua Jepang. Aku coba menawarkan pada Haykal untuk masuk kedalam mencari gua Jepang.

“ bagaiman kalau kita ke tempat Gua Jepang, Kal?” ajakku


Lagi-lagi Haykal mengiyakan setelah sebelumnya Anggie dan Ocha juga menyetujui karena sudah tanggung dekat. Menurut penjaga parkir, jarak gua Jepang dari parkiran hanya sekitar satu kilometer.

“wah ga terlalu jauh” kata Anggie.


Kami semakin semangat melalui jalanan sempit penuh dengan semak belukar. Sepertinya jalan setepak itu sudah lama tidak dilalui orang sehingga daun-daunnya sangat rimbun dan semak belukarnya menutupi jalan. Karena terlalu semangat, ternyata kami tidak memikirkan kalau waktu sudah hampir magrib sedangkan kami berjalan sudah hampir 30 menit. Idealnya manusia berjalan normal 30 menit sudah menempuh 2,5 Km namun kami belum juga menemukan gua Jepang yang dicari. Hari sudah semakin gelap dan vegetasi hutan semakin rapat.

“sudah, kayanya kita perlu pulang lagi saja” saranku

“enggak mungkin melanjutkan perjalanan kedalam hutan dengan kondisi kalian yang capek, apalagi ada dua cewek gini” tambahku

Semuanya menyetujuinya.


Kami pun sampai lebih cepat dari berangkatnya karena berlari. Anggie dan Ocha sudah merasa ketakutan. Sepertinya mereka berhalusinasi melihat hal-hal yang aneh. Namun, suasana hutan yang rimbun memang membuat suasana terasa wingit. 


Kami pun pulang menuju Jember melewati hutan karet dalam gelap yang pekat. Hanya bintang yang menyebar. Lukisan Tuhan yang paling indah yang kami temui malam itu. Terlihat milky way sehingga suasana gelap dinikmati karena hadirnya bintang yang membentang dari bujur timur sampai bujur barat. Suasana takutpun lamat-lamat hilang berganti kekaguman pada kuasa Tuhan. Sayang sekali, aku tidak membawa DSLR.

Perjalanan melewati jalan yang rusak, hutan karet dan hutan Jati dilalui dengan lancar. Sampailah kami di Genteng. Kurang lebih pukul 21.00 WIB. Kondisi kami sudah berada di titik nadir. Kelelahan dan ngantuk membuat kami memilih untuk mencari penginapan di Genteng.



Tertulis tak akan pernah lupa


Teluk Ijo sepertinya menjadi telah menjadi cerita baru yang terekam dalam ingatan kita, aku dan Anggie. Setelah petualangan-petualangan lainnya. Perjalanan yang melelahkan memang menjadi risiko yang harus kami pilih namun kesan dan cerita riang dikemudian hari adalah hadiah yang indah ketika kami melalui hari tua bersama. Bahwa kita menyukai petualangan yang memacu adrenalin dan mengenal alam raya ini lebih intim. Aku ingin menuliskan kisah-kisah petualangan ini agar petualangan kita tetap hidup dan tumbuh subur dalam benak masing-masing.


Selamat berpetualang dihari yang lain. Setelah dari Teluk Ijo, aku harus bergegas menuju tanah harapan, mengapai cita-cita!!!!

Menapaki Jejak Langkah. Menebar ingatan di setiap tempat


Postscript: Perjalanan bukan tentang bagiamana kita menikmati apa yang kita pandang namun juga memahami apa yang kita pandang!

Kamis, 12 Juni 2014

Rokok (Tidak) Membunuhmu




Beberapa hari ini saya mendapat berita yang mengejutkan. Di Jember dan Lumajang sekitar 4900 karyawan Pabrik rokok Sampoerna di PHK dengan alasan penurunan penjualan. Saya tidak ingin membahas lebih rinci kasus yang membuat pagi saya tidak begitu indah tersebut. Ada hal yang membuat saya lebih ingin menuliskannya, tentang pihak-pihak yang kontra pada rokok, yang menganggap rokok sebagai pembunuh berbahaya atau rokok sebagai bom waktu dsb, pada intinya rokok sangat buruk bagi kesehatan sehingga jalan untuk tidak merokok adalah pilihan terbaik. 


Baiklah, pertama saya bukanlah perokok meski kadang pun merokok aktif. Saya paling tidak suka menghirup asap rokok apalagi di kendaraan umum. Rasanya sungguh memuakan dan membuat saya pusing. Alasan saya tidak merokok bukan karena alasan kesehatan tapi kebiasaan yang sedari kecil memang tidak suka pada rokok meski adik dan ayah saya sebagai perokok berat. 


Sudah sejak lama, ketika rokok semakin harinya semakin mendapat tempat dihati para pecinta rokok maka sejak saat itu pula lahir para pihak-pihak yang kontra pada keberadaan rokok. Banyak isu yang coba dihembuskan untuk menggembosi kenikmatan merokok dari mulai isu kesehatan, isu agama yang mengatakan bahwa rokok harap atau aturan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Dimana dalam Undang-Undang tersebut beberapa pasal yang merugikan pihak-pihak yang ada disekeliling ‘rokok’.  Beberapa diantaranya diajukan ke Mahkamah Konstitusi untuk pengujian undang-undang dan beberapa diantaranya dikabulkan oleh MK, salah satunya pasal 113 ayat (2), Pasal 114 beserta penjelasannya, dan Pasal 199 ayat (1) UU Kesehatan dinilai diskriminatif, tidak memberikan jaminan penghidupan yang layak, dan tidak memberikan kepastian hukum yang adil.


            Selain itu, terdapat pasal yang juga membatasi perokok yaitu Pasal 115 ayat 1, mengatur mengenai "Kawasan Tanpa Rokok, antara lain ; fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan." Dan pada Pasal 115 ayat 2, mengatakan bahwa "Pemerintah Daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya." Dalam putusan MK tersebut dijelaskan, setiap kawasan tanpa rokok, harus menyediakan tempat khusus untuk merokok atau perokok. Berdasarkan putusan tersebut, Komtek berkesimpulan, merokok merupakan hak konstitusional yang dilindungi oleh Undang-Undang (UU). Ada pula yang mengatakan bahwa merokok pun termasuk dalam Hak Asasi Manusia.  


Gerakan anti rokok memang bukan hal yang baru, pada tahun 1624, bererpedoman pada logika bahwa penggunaan tembakau dapat mengakibatkan bersin-bersin, Paus Urbanus VIII mengeluarkan larangan merokok di seluruh dunia dan mengancam akan mengucilkan para perokok dan penghisap tembakau di tempat-tempat suci. Seabad kemudian, Paus Benediktus XIII yang menyukai tembakau mencabut semua larangan merokok dan pada tahun 1779, Vatikan membuka pabrik tembakaunya. Beberapa Abad kemudian, pada tahun 1942El Fuhrer, Aldolf Hitler juga sebagai duta Anti Rokok. Ia menyebut tembakau sebagai "kemurkaan manusia merah terhadap manusia putih yang dendam karena telah diberi minuman keras." Ia juga mengarahkan salah satu kampanye antirokok yang paling agresif dalam sejarah, termasuk meberlakukan pajak berat dan larangan merokok di tempat umum. Dan di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa haram untuk merokok.

Terlepas dari kontroversi rokok yang katanya menggerogoti kesehatan, memberikan dampak buruk pada psikologis, membuat miskin dan banyak lainnya ada satu hal yang harus diingat bahwa dalam industri rokok telah melibatkan jutaan warga negara Indonesia, pekerja di sektor industri tembakau menyerap tenaga kerja sekitar 4,1 juta tenaga kerja. Dari jumlah itu 93,77% diserap kegiatan usaha pengolahan tembakau, seperti pabrik rokok. Sedangkan, penyerapan di sektor pertanian tembakau menyerap sekitar 6,23%. Lebih rincinya 1,25 juta orang telah menggantungkan hidupnya bekerja di ladang cengkeh dan tembakau, 10 juta orang terlibat langsung dalam industri rokok, dan 24,4 juta orang terlibat secara tidak langsung dalam industri rokok.[1]

Penerimaan pajak realisasi cukai terus mengepul. Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Ditjen Bea Cukai Susiwijono Moegiarso mengatakan, sepanjang 1 Januari-30 April 2014, realisasi penerimaan cukai sudah tembus Rp 37,49 triliun.
Data Ditjen Bea Cukai menunjukkan, dari total penerimaan Rp 37,49 triliun tersebut, sebanyak 95,99 persen atau Rp 36 triliun di antaranya berasal dari cukai rokok. Adapun 4 persen atau Rp 1,49 triliun lainnya berasal dari cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) dan etil alkohol (EA).[2] Sedangkan penerimaan negara dari sektor tembakau yang jauh lebih tingg disbanding penerimaan negara dari eksplotasi minyak. sementara total penerimaan negara dari tambang hanya sebesar Rp. 13,77 triliun pda 2011. Padahal investasi di sektor tambang telah menguras habis sumber daya mineral Indonesia dalam 20 tahun mendatang.[3]

Dari data diatas sudah jelas bahwa rokok di Indonesia ada dalam lingkaran industri besar yang menopang perekonomian bangsa. Baiklah, jika memang rokok menimbulkan efek negatif pada kesehatan dan banyak pihak yang menentangnya tentu si penentang sudah seharusnya punya alternatif harus dikemanakan puluhan juta warga negara Indonesia yang terlibat dalam industri tembakau jika industri tembakau di Indonesia hancur?. Apa dibiarkan saja petani-petani tembakau yang akhirnya tidak bisa makan karena tembakaunya tak laku dijual? Atau bagaimana nasib para buruh-buruh tembakau, cengkeh jika industri tembakau terus dikebiri oleh banyak pihak, termasuk pemerintah yang sebenarnya juga mengambil untung dari pemasukan cukai rokok. Saya rasa kita perlu lebih cermat dan bijak dalam melihat industri rokok di Indonesia, meski saya bukan perokok.

Kadang saya bertanya-tanya, jika memang rokok tersebut menimbulkan efek negatif lalu kenapa industri farmasi tidak memanfaatkan peluang untuk bisa mengembangkan industrinya. Toh ada manfaatnya juga bagi kemajuan perekonomian bangsa, sebab bisa memberikan solusi bagi perokok dan mendapatkan income dari penjualan produk farmasi tersebut, ya logika kapitalislah mencari keuntungan dalam setiap kesempatan. Sebab lebih dari 60 juta warga negara Indonesia menjadi perokok. Kenapa tidak membuat obat atau solusi kesehatan bagi perokok agar tetap sehat.

Permasalah rokok tidak hanya soal kesehatan saja, tetapi bagaimana rokok tersebut telah mengakar sampai kelapisan masyarakat yang paling bawah. Rokok telah menjadi semacam budaya bangsa, tentu kita tahu rokok kretek bukan? Dimana rokok kretek tersebut telah menjadi ciri khas utama bangsa Indonesia dalam mengekspresikan kebiasaanya ‘membakar tembakau’.

Coba cermati, saya menjadi curiga ketika industri rokok besar dunia mencoba menginvasi modalnya di Indonesia. Bagaimana akhirnya perusahaan rokok terbesar ketiga di Indonesia, Sampoerna akhirnya dibeli oleh Philip Morris atau Bentoel juga diakuisisi oleh BAT (British American Tobacco). Jika saya membiarkan kecurgiaan ini semakin liar, saya bisa menyimpulkan kalau memang ada skenario besar untuk menghancurkan industri rokok dalam negeri yang dikuasai oleh pihak dalam negeri. Pemodal asing dengan berbagai cara berusaha menggembosinya melalui kampanye anti asap rokok-lah, fatwa haram atau regulasi yang coba dipelintir sedemikian mungkin. Bodohnya, pemerintah yang juga menikmati kenyamanan dari pajak rokok justru memperkuat pengkerdilan itu melalui regulasi dengan mengatas namakan kesehatan.  Terbukti kalau rokok putih perlahan mencoba untuk menggerus rokok kretek khas Indonesia itu. Melebar sedikit, jika memang kesehatan sebagai alasan utama dan rokok menggerus kesehatan lalu kenapa banyak perokok yang berumur panjang? Saya pernah mengetahui dimedia kalau tidak salah di Kudus ada perokok aktif yang kini usianya sudah mencapai 120 tahun. Gila kan, yang tidak merokok saja belum tentu.

Oke, bicara soal pemerintah yang juga tak tahu malu. Disatu sisi mendapat bagian dari cukai tembakau, disisi lain pendapat dari cukai tembakau digunakan untuk membuat kampanye anti rokok. Lagi-lagi, Indonesia tidak mandiri dan percaya dengan kemapuan bangsanya. Hal yang paling penting, ketika memang negara mengeluarkan Undang-Undang kesehatan yang isinya banyak menyinggung soal rokok dan pelarangannya.  kenapa pemerintah juga tidaak melindungi petani tembakau, buruh tembakau atau industri tembakau? Pemerintah tidak adil, dan sekali lagi tidak tahu malu. 


Aturan hukum bagi perlindungan bagi industri tembakau menurut saya sangat penting. Alasannya sederhana saja, agar industri ini tetap berjalan dengan baik dan masyarakat yang anti tembakau tidak merasa semakin dilegitimasi untuk menghancurkan industri tembakau. Sekali lagi, karena dalam industri tembakau melibatkan jutaan nyawa yang menggantungkan hidupnya dalam lingkaran tembakau. sedangkan Alasan kesehatan tidak bisa dijadikan tolak ukur bahwa rokok begitu saja dikerdilkan dinegeri ini. Oleh karena itu perlu ada keberpihakan dari pemerintah disini. Pemerintah berperan dalam posisinya yang seimbang, artinya tidak melihat rokok sebatas permasalahan kesehatan saja namun juga dari aspek ekonomi yang menjadi gantungan banyak masyarakat petani tembakau.



[1] http://bisnis.liputan6.com/read/767684/jutaan-buruh-pabrik-rokok-kretek-terancam-phk
[2] http://www.jpnn.com/read/2014/05/07/232893/Cukai-Rokok-Terus-Mengepul-
[3] http://komunitaskretek.or.id/?p=2321
 

Postscript: Saya begitu geram dan heran dengan pemerintah yang membuat regulasi tentang rokok lalu manifestasi dari regulasi tersebut aturan tentang penambahan gambar atau kata-kata rokok dapat membunuhmu. rasanya aturan tersebut bukan bentuk preventtif agar tidak kecanduan rokok atau terkait pada kesehatan perokok tetapi lebih kebijkan tidak berlogika pemerintah, seolah-seolah mereka Tuhan saja yang menentukan perokok mudah mati atau tidak. Rasanya, uji klinis pun tidak perlu dipercaya-percaya amat ketika dibelakan itu semua penuh dengan konspirasi, terkahir, bagi perokok, tetap berdoa pada Allah agar dikarunai kesehatan dan umur panjang :D

Kamu, Iya Kamu



Aku butuh gelap
Dengan gelap kita akan mencari terang
Aku butuh senyummu
Senyum melahirkan damai
Aku butuh telingamu
aku akan bercerita tentang dunia yang menyenangkan
Aku butuh matamu
Ada keindahan yang ingin kutunjukan
Aku butuh tanganmu
Untuk aku gamit mengelilingi kemeriahan
Aku butuh jarimu
Ada cincin suci yang melingkarinya
Aku butuh cintamu
Untuk mengabadi dalam kebersamaan

Untuk Anggie
31 Mei 2014

Tentang Dulu dan kini kau yang membisu

Dulu, kau ajari aku soal perlawanan?
Kali ini aku yang mengajarimu tentang kepekaan
Dulu kau ajari aku perjuangan
Kini aku tikam kau dengan ketidak berdayaan
Dulu kau begitu berkuasa
Kini kau tak punya jiwa
Dulu kau marahi aku dengan cacian
Kini kau tinggal dalam kesunyian
Dulu dan kini kau tetap tanpa kepekaan


Jember, 27 November 2013

Postscript: untuk Ayahku yang tidak pernah berubah dengan ketidakpekaannya pada anak-anaknya