Aku dan Anggie atau
sebut saja kita
Kita sangat menyukai perjalanan,
pertualangan dan segala hal yang memacu adrenalin. Oleh karena itu, kita selalu
menyisipkan waktu luang untuk sekedar membuat cerita yang tidak biasa. Waktu
pacaran kita banyak dihabiskan dihutan, dipantai, digunung atau dikota-kota
yang belum pernah kita kunjungi sesekali dalam sunyinya kamar.hehe Petualangan
kami tidak semata mencuri waktu untuk bahagia, perjalanan kami tidak hanya untuk
sekedar menikmati karunia Tuhan, perjalanan kami lebih pada petualangan untuk
saling mengenenal satu sama lain, lebih dalam, lebih lengkap.
Beberapa tempat telah kita kunjungi
untuk menyempurkan cerita yang kelak akan diceritakan kembali. Petualangan kita
juga merupakan perjalanan menabur ingatan dibanyak tempat.
Siang itu, seperti biasa aku mencoba
mengajak Anggie jalan-jalan ke Teluk Ijo. kita menyepakati untuk berangkat esok
hari dihari Sabtu. Setelah semuanya siap, aku coba mengajak teman, Haykal yang
aku ajak. Haykal merupakan adik kelasku, angkatan 2011. Ia kader GmnI, sama
seperti aku.
Tanpa banyak bermusyawarah Haykal pun
menyetujui ajakan kami. Kami pun berangkat berempat, Haykal kebetulan
mengajak Ocha sahabat sekamarnya.
Perjalanan Jember-Banyuwangi seperti
biasanya melewati Gumitir lalu beristirahat sejenak untuk menyantap pecel
Garahan yang terkenal leker dan
murah. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan kearah Genteng,
Banyuwangi lalu belok ke arah Jajak. Sebenarnya, kami semua tidak mengetahui
dimana letak teluk Ijo itu. Waktu itu, aku yang mengambil inisitif dan mencoba
menggunakan feeling bahwa Teluk Ijo
diwilayah pesisir selatan Banyuwangi dan berada dalam komplek Taman Nasional
Meru Betiri. Akhirnya aku mengarahkan perjalanan ini kerah Pulau Merah dan
terus menuju penangkaran Penyu, SukaMade. Tidak terlalu salah ternyata
analisisku meski beberapa kali harus nyasar.
Benar saja, Teluk Ijo berada diwilayah selatan satu komplek pantai Rajek Wesi.
Perjalanan menuju Teluk Ijo ini memakan waktu sekitar lima jam. Sekitar kurang
dari 20 Km dari Teluk Ijo, motor yang aku naiki ternyata mendapat masalah,
rantainya lepas. Hal ini diperparah kondisi jalan yang rusak cukup parah dan
minimnya rumah penduduk. Karena kondisi yang tidak bersahabat itu, aku memaksakan agar kita segara mencari
tempat tambal ban untuk memperbaikinya. Alhamdulilah, kurang lebih tiga
kilometer dengan motor yang rantainya kendur dan rentan lepas itu, akhirnya ada
juga tukang tambal ban yang memperbaiki motor si merah, Revo.
Perjalanan yang melelahkan itu
akhirnya sampai juga. Kurang lebih sekitar
120Km jarak yang kami tempuh. Kami sampai tepat pukul
15.00WIB sehingga
suasana sudah mulai sepi dan kami bisa menikmati suasana keindahan Teluk Ijo
dengan lengkap tanpa ada kegaduhan yang merusak suasana.
Teluk Ijo Sudah Tidak
Perawan
Pantai Teluk Ijo lebarnya tidak lebih dari 500 meter. Letak
pantainya yang terpencil karena kita harus berjalan sekitar 1,5 Km dan medannya
pun cukup curam, membuat pantai ini awalnya tidak terjamah oleh banyak manusia.
Namun, karena keindahan alammnya, lembutnya pasir putih, pohon-pohon besar, dan
tebing yang semakin mempercantik Teluk Ijo membuat Teluk Ijo menjadi tujuan
wisata baru. Apalagi kondisi pantai Rajek wesi yang pernah berjaya sekitar
tahun 90anm kini sudah tidak seperti dahulu pasca Tsunami yang merusak
keindahan pantai.
Seperti semut dan gula, begitu analogi yang tepat untuk
menggabarkan Teluk ijo hari ini. Banyak orang yang memperbincangkan keindahan
Teluk Ijo sehingga banyak pula menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke
pantai yang awalnya sunyi dan damai tersebut.
Seperti biasa, dampak dari banyaknya wisatawan selain memberikan dampak
ekonomi yang postif bagi masyarakat sekitar juga membuat berdampak pada
lingkungan disekitaran Teluk Ijo, banyak sampah yang berceceran ditinggalkan
tanpa tanggung jawab dan vandalisme norak yang membuat teluk Ijo perlahan
kehilangan keperawananannya.
Teluk Ijo tetap Cantik dan eksotis
Dampak yang negatif dari banyaknya
wisatawan yang berkunjung ke Teluk Ijo ternyata disadari oleh masyarakat
sekitar. Masyarakat yang mendapat penghasilan tambahanan seperti dari menjaga
parkir, menjual makanan dan minuman atau menyewakan perahu memiliki inisiatif
untuk tetap menjaga agar lingkungan Teluk Ijo tetap asri dan bersih. Secara
bergilira dalam kelompok-kelompok kecil, masyarakat tersebut melakukan patroli
memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan pengujung.
Mereka pun membuat aturan bagi para
pengunjung Teluk Ijo untuk tidak berkemah dilokasi pantai, namun tetap
mengijinkan berkemah namun dilokasi parkir, sekitar 1,5 Km dari pantai.
Komitmen dari masyarakat sekitar secara
tidak langsung membuat Teluk Ijo tetap indah dan menarik untuk dikunjungi namun
kita sebagai pengunjung Teluk Ijo harus sadar diri untuk menjaga agar
lingkungan Teluk Ijo atau tempat wisata outdor lainnyaa agar tetap asri dan
bersih.
Perjalanan yang semakin
menantang
Matahari semakin tenggelam dan ingin
segera beristirahat. Hampir dua jam kami menikmati alam Teluk Ijo. kami pun segara bergegas untuk naik menyudahi
percumbuan kami dengan alam. Jalan turunan pada waktu datang tadi berganti
menjadi tanjakan, sepanjang hampir satu kilometer kami berjalanan menanjak.
Anggie menunjukan raut kelelahan, beberapa kali kami menghela nafas. Kami pun
sampai diparkiran pukul 17.30 WIB
Didekat parkiran terdapat plang berwarna hijau yang menjadi
petunjuk Gua Jepang. Aku coba menawarkan pada Haykal untuk masuk kedalam
mencari gua Jepang.
“ bagaiman kalau kita ke tempat Gua Jepang, Kal?” ajakku
Lagi-lagi Haykal mengiyakan setelah
sebelumnya Anggie dan Ocha juga menyetujui karena sudah tanggung dekat. Menurut
penjaga parkir, jarak gua Jepang dari parkiran hanya sekitar satu kilometer.
“wah ga terlalu jauh” kata Anggie.
Kami semakin semangat melalui jalanan
sempit penuh dengan semak belukar. Sepertinya jalan setepak itu sudah lama
tidak dilalui orang sehingga daun-daunnya sangat rimbun dan semak belukarnya
menutupi jalan. Karena terlalu semangat, ternyata kami tidak memikirkan kalau
waktu sudah hampir magrib sedangkan kami berjalan sudah hampir 30 menit.
Idealnya manusia berjalan normal 30 menit sudah menempuh 2,5 Km namun kami
belum juga menemukan gua Jepang yang dicari. Hari sudah semakin gelap dan
vegetasi hutan semakin rapat.
“sudah, kayanya kita perlu pulang lagi saja” saranku
“enggak mungkin melanjutkan perjalanan kedalam hutan dengan
kondisi kalian yang capek, apalagi ada dua cewek gini” tambahku
Semuanya menyetujuinya.
Kami pun sampai lebih cepat dari
berangkatnya karena berlari. Anggie dan Ocha sudah merasa ketakutan. Sepertinya
mereka berhalusinasi melihat hal-hal yang aneh. Namun, suasana hutan yang
rimbun memang membuat suasana terasa wingit.
Kami pun pulang menuju Jember
melewati hutan karet dalam gelap yang pekat. Hanya bintang yang menyebar.
Lukisan Tuhan yang paling indah yang kami temui malam itu. Terlihat milky way
sehingga suasana gelap dinikmati karena hadirnya bintang yang membentang dari
bujur timur sampai bujur barat. Suasana takutpun lamat-lamat hilang berganti
kekaguman pada kuasa Tuhan. Sayang sekali, aku tidak membawa DSLR.
Perjalanan melewati jalan yang rusak,
hutan karet dan hutan Jati dilalui dengan lancar. Sampailah kami di Genteng.
Kurang lebih pukul 21.00 WIB. Kondisi kami sudah berada di titik nadir.
Kelelahan dan ngantuk membuat kami memilih untuk mencari penginapan di Genteng.
Tertulis tak akan
pernah lupa
Teluk Ijo sepertinya menjadi telah
menjadi cerita baru yang terekam dalam ingatan kita, aku dan Anggie. Setelah
petualangan-petualangan lainnya. Perjalanan yang melelahkan memang menjadi
risiko yang harus kami pilih namun kesan dan cerita riang dikemudian hari
adalah hadiah yang indah ketika kami melalui hari tua bersama. Bahwa kita
menyukai petualangan yang memacu adrenalin dan mengenal alam raya ini lebih intim.
Aku ingin menuliskan kisah-kisah petualangan ini agar petualangan kita tetap
hidup dan tumbuh subur dalam benak masing-masing.
Selamat berpetualang dihari yang
lain. Setelah dari Teluk Ijo, aku harus bergegas menuju tanah harapan, mengapai
cita-cita!!!!
![]() |
| Menapaki Jejak Langkah. Menebar ingatan di setiap tempat |
Postscript: Perjalanan bukan tentang bagiamana kita menikmati apa yang kita pandang namun juga memahami apa yang kita pandang!










0 komentar:
Posting Komentar