Gulfino Guevarrato
Orang mengamuk adalah satria
bagi mereka, orang yang bersedia mati, dan melaksanakan keputusan untuk mati
tersebut – Tome Pires
Dalam perjalanannya menyusuri Nusantara, pada waktu
itu Alfred Russel Wallace sedang berada di Lombok. Sarapan paginya dikejuktan oleh teriakan penduduk desa bahwa telah terjadi‘amok’ didesa tersebut. Beberapa
waktu sebelumnya ia juga diceritakan, seorang mengamuk dan telah membunuh 17
orang, sebelum dapat dihentikan dengan cara dibunuh orang yang sedang melalukan
Amok.
Hasil
penelitian Wallace dalam bukunya “Kepulauan Nusantara”, menjelaskan bahwa
Makasar adalah tempat di kawasan timur yang paling banyak terjadi Amok.
Rata-rata satu atau dua kali ‘amok’ dalam sebulan. Sebanyak lima sampai
duapuluh orang terbunuh karena peristiwa tersebut. Ketika bangsa Romawi
menggunakan Pedang untuk bunuh diri, orang Jepang menusuk perutnya sebagai
bentuk Harikiri, Inggris menembak kepalanya dengan pistol, di Celebes ada cara
tersendiri untuk melakukan bunuh diri yaitu Amok. Amok dipilih untuk lari dari
kesulitan yang dihadapi masyarakat.
Seseorang yang berpikir bahwa
dirinya diperlakukan semena-mena oleh masyarakat, tidak menemukan cara untuk
mendapatkan kembali miliknya yang telah hilang dan kemudian menjadi putus asa
karena menolak keadaan tersebut, ia akan mencoba membalas dendam kepada
masyarakat dan mati seperti pahlawan. Setelah sesorang tersebut menusukan keris
atau senjata tajam kedalam perutnya, sambil berlumuran darah kemudian ia
berlari kekerumunan masyarakat sambil menghunuskan senjata yang dibawanya ke
setiap orang yang ditemuinya. Kemudian akan terdengar “amok!”amok” yang
menggema sepanjang jalan.
Amok telah menjadi pilihan yang absurd. Seolah Amok
membenarkan apa yang dikatakan oleh Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus,
bahwa ia menggambarkan dunia yang sama sekali absurd dan tanpa makna dan Amok
menegaskan keabsurdan tersebut.
Amok tidak hanya terjadi pada masa penjajahan saja.
Amok telah menurun dan sampai di era modern hari ini. Bagiamana masyarkat yang
awalnya duduk santai, ngopi atau main catur, tiba-tiba ketika mendengar terikan
maling secara spontan mengejar maling tersebut dan memukulinya sampai babak
belur bahkan sampai meninggal. Tak ada raut penyesalan diantara mereka. Amok
pun terjadi beberapa waktu yang lalu ketika masyarkat di Karawang yang menolak
penggusuran tanah mencoba melawan represi aparat keamanan meski lawan yang
dihadapi menggunakan persenjataan lengkap sedangkan rakyat hanya membawa
peralatan seadanya. Rakyat Bersatu!
Amok dalam dua sisi
Amok bisa dilihat dari dua sisi, pertama psikologi
dan yang kedua budaya bangsa. Menurut
Michael Mills, Ph.D melalui psychologytoday.com,
amok dalam definisi barat,
termasuk pula seringkali dijelaskan
sebagai suatu fenomena dimana seseorang kehilangan akal sehatnya dan kemudian
menggila dengan membunuh atau setidaknya melukai orang-orang lain yang pada
akhirnya, seringkali si pelaku melakukan bunuh diri. Amok hanya dipandang sebagai satu jenis
kegilaan, turunan dari psikotik.
Amok adalah kesatria
Apakah amok melulu soal ketidak warasan, kegilaan
atau penyakit psikologi? Tentu tidak!. Amok merupakan budaya banga ini.
Semangat amok diwujudkan dalam perlawanan rakyat Indonesia pada penjajah, melawan
pemerintah yang totaliter. Banyak pahlawan bangsa Indonesia yang mendapatkan
gelar kepahlawanannya karena semangat amok. Tak pernah takut untuk mati, tak
pernah ragu untuk melawan meski musuh lebih kuat demi harga diri dan prinsip
yang dipegang erat-erat.
Amok selalu
didahului oleh represi dalam jangka waktu yang lama. Seseorang atau masyarkayat
secara kolektif yang pada awalnya rapuh karena ketertindasan lambat laun
menyadari ketertindasanya akhirnya melahirkan semangat baru yaitu Amok, namun
Amok lebih ditekankan pada individu-invidunya. Semangat amok tersebut membuat
seseorang tersebut sangat tangguh karena batas rasional sudah ditanggalkan
sehingga tak ada rasa takut akibatnya musuh menjadi gentar menghadapi orang
yang sedang meng’amok’. Kisah pengorbanan macam ini masih
hidup di Bali. Dalam kisah Puputan (perang habishabisan) Klungkung tahun 1908,
demi mem pertahankan tanah airnya dari kolonialisme, rakyat Bali mulai dari
kaum pria, wanita, hingga anak-anak dengan persenjataan tradisional bahkan
tangan kosong turun menghadapi moncong senjata serdadu kolonial. Membela raja
mereka adalah tugas mulia. Citra amok merupakan
citra kesatria masyarakat melayu yang rela menumpah darahnya untuk sesuatu yang
menjadi prinsip hidupnya, Amok adalah nilai luhur yang tidak bisa dipahami oleh
peneliti barat. Sehingga tak heran ketika banyak peneliti barat memandang
negatif Amok. Jelas, karena Amok telah mempersulit mereka untuk menguasai
Negara ini di masa lalu. Meski tidak
salah juga menurut para pakar barat bahwa Amok merupakan salah satu bentuk
penyimpangan psikologis namun stereotip negatifnya terlalu dominan daripada
citra kesatria yang selama ini diyakini dan menjadi pegangan hidup masyarakat
melayu.
Meskipun akhirnya citra kesatria amok dipudarkan
oleh barbarisme fanatisme masyarakat pada peristiwa 1965 yang melahirkan
simpatisan-simpatisan anti PKI yang dengan rela dan sadar membantai simpatisan
PKI dengan bangganya. Ah sial. Amok telah disesatkan oleh masyarakat melayu itu
sendiri, Amok telah dilenyapkan citra kestrianya oleh tingkah dangkal aksi main
hakim sendiri, fundamentalisme agama dll.[]
Salam
Amok







0 komentar:
Posting Komentar