Kamis, 24 Juli 2014

Amok Tak Sekedar Mengamuk


                                                 
                                                    Gulfino Guevarrato


Orang mengamuk adalah satria bagi mereka, orang yang bersedia mati, dan melaksanakan keputusan untuk mati tersebutTome Pires


Dalam perjalanannya menyusuri Nusantara, pada waktu itu  Alfred Russel Wallace  sedang berada di Lombok.  Sarapan paginya dikejuktan oleh teriakan  penduduk desa bahwa  telah terjadi‘amok’ didesa tersebut. Beberapa waktu sebelumnya ia juga diceritakan, seorang mengamuk dan telah membunuh 17 orang, sebelum dapat dihentikan dengan cara dibunuh orang yang sedang melalukan Amok.
 Hasil penelitian Wallace dalam bukunya “Kepulauan Nusantara”, menjelaskan bahwa Makasar adalah tempat di kawasan timur yang paling banyak terjadi Amok. Rata-rata satu atau dua kali ‘amok’ dalam sebulan. Sebanyak lima sampai duapuluh orang terbunuh karena peristiwa tersebut. Ketika bangsa Romawi menggunakan Pedang untuk bunuh diri, orang Jepang menusuk perutnya sebagai bentuk Harikiri, Inggris menembak kepalanya dengan pistol, di Celebes ada cara tersendiri untuk melakukan bunuh diri yaitu Amok. Amok dipilih untuk lari dari kesulitan yang dihadapi masyarakat. 
            Seseorang yang berpikir bahwa dirinya diperlakukan semena-mena oleh masyarakat, tidak menemukan cara untuk mendapatkan kembali miliknya yang telah hilang dan kemudian menjadi putus asa karena menolak keadaan tersebut, ia akan mencoba membalas dendam kepada masyarakat dan mati seperti pahlawan. Setelah sesorang tersebut menusukan keris atau senjata tajam kedalam perutnya, sambil berlumuran darah kemudian ia berlari kekerumunan masyarakat sambil menghunuskan senjata yang dibawanya ke setiap orang yang ditemuinya. Kemudian akan terdengar “amok!”amok” yang menggema sepanjang jalan.
Amok telah menjadi pilihan yang absurd. Seolah Amok membenarkan apa yang dikatakan oleh Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus, bahwa ia menggambarkan dunia yang sama sekali absurd dan tanpa makna dan Amok menegaskan keabsurdan tersebut.
Amok tidak hanya terjadi pada masa penjajahan saja. Amok telah menurun dan sampai di era modern hari ini. Bagiamana masyarkat yang awalnya duduk santai, ngopi atau main catur, tiba-tiba ketika mendengar terikan maling secara spontan mengejar maling tersebut dan memukulinya sampai babak belur bahkan sampai meninggal. Tak ada raut penyesalan diantara mereka. Amok pun terjadi beberapa waktu yang lalu ketika masyarkat di Karawang yang menolak penggusuran tanah mencoba melawan represi aparat keamanan meski lawan yang dihadapi menggunakan persenjataan lengkap sedangkan rakyat hanya membawa peralatan seadanya. Rakyat Bersatu!
Amok dalam dua sisi
Amok bisa dilihat dari dua sisi, pertama psikologi dan yang kedua budaya bangsa. Menurut  Michael Mills, Ph.D melalui psychologytoday.com,  amok dalam definisi barat, termasuk pula seringkali  dijelaskan sebagai suatu fenomena dimana seseorang kehilangan akal sehatnya dan kemudian menggila dengan membunuh atau setidaknya melukai orang-orang lain yang pada akhirnya, seringkali si pelaku melakukan bunuh diri.  Amok hanya dipandang sebagai satu jenis kegilaan, turunan dari psikotik.
Amok adalah kesatria
Apakah amok melulu soal ketidak warasan, kegilaan atau penyakit psikologi? Tentu tidak!. Amok merupakan budaya banga ini. Semangat amok diwujudkan dalam perlawanan rakyat Indonesia pada penjajah, melawan pemerintah yang totaliter. Banyak pahlawan bangsa Indonesia yang mendapatkan gelar kepahlawanannya karena semangat amok. Tak pernah takut untuk mati, tak pernah ragu untuk melawan meski musuh lebih kuat demi harga diri dan prinsip yang dipegang erat-erat.
 Amok selalu didahului oleh represi dalam jangka waktu yang lama. Seseorang atau masyarkayat secara kolektif yang pada awalnya rapuh karena ketertindasan lambat laun menyadari ketertindasanya akhirnya melahirkan semangat baru yaitu Amok, namun Amok lebih ditekankan pada individu-invidunya. Semangat amok tersebut membuat seseorang tersebut sangat tangguh karena batas rasional sudah ditanggalkan sehingga tak ada rasa takut akibatnya musuh menjadi gentar menghadapi orang yang sedang meng’amok’.  Kisah pengorbanan macam ini masih hidup di Bali. Dalam kisah Puputan (perang habishabisan) Klungkung tahun 1908, demi mem pertahankan tanah airnya dari kolonialisme, rakyat Bali mulai dari kaum pria, wanita, hingga anak-anak dengan persenjataan tradisional bahkan tangan kosong turun menghadapi moncong senjata serdadu kolonial. Membela raja mereka adalah tugas mulia. Citra amok merupakan citra kesatria masyarakat melayu yang rela menumpah darahnya untuk sesuatu yang menjadi prinsip hidupnya, Amok adalah nilai luhur yang tidak bisa dipahami oleh peneliti barat. Sehingga tak heran ketika banyak peneliti barat memandang negatif Amok. Jelas, karena Amok telah mempersulit mereka untuk menguasai Negara ini di masa lalu.  Meski tidak salah juga menurut para pakar barat bahwa Amok merupakan salah satu bentuk penyimpangan psikologis namun stereotip negatifnya terlalu dominan daripada citra kesatria yang selama ini diyakini dan menjadi pegangan hidup masyarakat melayu.
Meskipun akhirnya citra kesatria amok dipudarkan oleh barbarisme fanatisme masyarakat pada peristiwa 1965 yang melahirkan simpatisan-simpatisan anti PKI yang dengan rela dan sadar membantai simpatisan PKI dengan bangganya. Ah sial. Amok telah disesatkan oleh masyarakat melayu itu sendiri, Amok telah dilenyapkan citra kestrianya oleh tingkah dangkal aksi main hakim sendiri, fundamentalisme agama dll.[]
Salam Amok

0 komentar:

Posting Komentar