Kamis, 24 Juli 2014

Amarah melahirkan Perubahan: Ketika ketertindasan memantik perlawanan

 "Happiness is to Struggle Against Oppression". (Karl Marx)
Matahari sedang berada tepat diatas benua Afrika yang kering. Tunisia pada tahun 2010, ketika itu, terik semakin memanaskan tensi politik dinegeri Tunisia. Ribuan orang turun kejalan untuk meneriakan dan meluapkan kemuakannya. Berbagai sudut kota dipenuhi oleh para demonstran. Mereka berkumpul dilapangan Tahrir, massa masih dalam kuasa keamanan setempat, demontrasi masih berlangsung damai dan tertib. Disudut yang lain, yang jauh dari keriuhan para demonstran seorang pemuda yang berdagang sayur, ia bernama Muhammad Bouazizi, berumur 26 tahun yang tertindas di wilayah Sidi Bouzid Sidi. Bouazizi yang tidak ikut demontrasi dan sedang melayani pembeli tiba-tiba didatangi oleh sekolompok polisi. Mereka menyita gerobak sayurnya dengan alasan bahwa ia berjualan tanpa izin. Bouazizi sudah coba membayar 10 dinar Tunisia, namun ia ditampar, diludahi, bahkan ayahnya yang sudah meninggal dihina.  
Bouazizi yang muntab mencoba melaporkan kejadian tersebut pada kantor polisi setempat, alih-alih mendapatkan perhatian, ia justru mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Ia lalu berbuat nekad dan membakar dirinya sendiri didepan umum. Kejadian tersebut  tidak hanya membakar Bouazizi seorang, justru peristiwa tersebut membakar semangat perlawan masyarakat Tunisia yang sudah muak dengan ketertindasan yang dialami  mereka. Presiden Jenderal Zine El Abidine Ben Alilah yang menjadi dalang dibalik itu semua. Kepemimpinannya yang otoriter akhirnya memuncakkan kenekatan masyarakat yang selama ini diam dalam ketertindasan.
Dilapangan Tahrir, demontran yang awalnya damai mendadak chaos setelah mendengar peristiwa Bouazizi. Revolusi pun meletuh, Tunisia pun memerah akibat peluru-peluru aparat yang mengenai para demonstran, huru hara terjadi disana sini. Tak ada kebab bakar ditengah revolusi. Akibat massivenya gerakan perlawan masyarakat, Ben Ali akhirnya diruntuhkan setelah memerintah selama 23 tahun
*****

Manusia memeluk kebebasan
Manusia adalah mahluk yang sedang berproses menjadi pribadi. Seorang pribadi, artinya ia mempunyai kemampuan untuk menentukan kehendaknya, ini berarti kebebasan. Dengan itu manusia mampu menentukan diri sendiri dan tindakannya. Akibat kehendak bebasnya, manusia dalam bertindak tidak tergantung pada dorongan-dorongan naluriah, melainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan karena menurut Sartre esensi kebebasan adalah memilih atas segala pilihan yang ada. Setiap tindakan bebas manusia merupakan realisasi dari kebebasan itu. Satre menegaskan bahwa manusia adalah kebebasan. Dengan mengatakan ini, Sartre mau memberikan sebuah penjelasan kepada manusia bahwa dirinya adalah kebebasan itu sendiri. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa manusia dapat didefinisikan sebagai kebebasan. Dengan mengatakan itu semua Sartre memberikan corak humanisme dalam pemikirannnya.[1] Sarte ingin menunjukan kalau manusia adalah pemegang kendali atas dirinya sendiri, tak ada hal apapun yang bisa menggurangi kekuasaan diri untuk menentukan kebebasan.
Namun kebebasan itu tentunya kebebasan yang dapat dipertanggung jawabkan, kebebasan positif begitu Franz Magnis Suseno menyebutnya, karena manusia akan senantiasa selalu berhubungan dengan manusia yang lainnya, yang  mana kebebasan itu akan berbenturan dengan kebebasan manusia yang lain. Tindakan bebas tidak bisa disamakan dengan kebebasan, memang setiap tindakan bebas merupakan realisasi dari kebebasan namun dapat pula sebaliknya yaitu pengkhianatan pada kebebasannya. Contohnya liberalisme yang mengedepankan ide-ide mengenai kebebasan manusia sebagai individu yang rasional berkembang pesat pada abad ke-17 hingga 19. Namun Domenico Losurdo dalam bukunya Liberalism: A Counter History, menyajikan sebuah versi lain dari sejarah liberalisme, yang ternyata sama sekali tidak mengandung nilai nilai kebebasan manusia, liberalism menciptakan perbudakan dan kolonialisme.



Amarah mengajarkan untuk melawan
Sejarah manusia penuh dengan pengalaman jatuh bangun, kemenangan dan kekalahan. Sejarah manusia adalah sejarah untuk menuju kebebasan yang sempurna.  Kadang kala manusia akan berhadapan dengan ketertindasan yang menciptakan penderitaan akibatnya manusia tidak mampu mencapai kekebasannya. Namun Kesadaran akan ketertindasan itulah yang menjadi kunci manusia untuk melawan, melampiaskan kemuakannya atau amarahnya untuk merebut kebebasan yang menjadi fitrah manusia. Kesadaran membuat manusia dapat mengatasi, mengatur, memilih dan memaknai dikarenakan kesadaran memiliki karakteristik intensionalitas, yakni terarah pada sesuatu. Saat kesadaran mengalami proses intensionalitas maka dititik itulah kesadaran membawa manusia menyadari sesuatu . “menyadari” adalah tahap awal dimana subjek dapat melakukan afirmasi dan negasi. Mudahnya, dalam proses ‘menyadari’ itu manusia akan memilih apakah akan tetap menerima atau menolak, dalam konteks yang saya maksud manusia apakah akan tetap memilih hidup dalam ketertindasan atau mencoba melawan ketertindasan itu. Kesadaran akan penderitaan itulah yang melahirkan kebebasan.
            Amarah menjadi mesiu dalam perlawanan manusia untuk mencari kebebasan yang terbelenggu. Sejarah mencatat, banyak manusia yang melakukan hal-hal diluar nalar dengan mengekspresikan amarahnya sebagai simbol perlawanan. Perlawanan masyarakat Tunisia menjadi bukti bahwa tindakan represif Negara, ketertindasan adalah bahasa awal yang mengajarkan masyarakat untuk melawan. Tidak ada  ketakutan yang selama ini membelenggu. Amarah dapat melahirkan perlawanan, tujuannya antara lain adalah kebebasan.
Ketika manusia dikekang, dibatasi gerak dan pikirannya banyak yang kemudian menempuh jalan perlawanan, perlawanan yang akan melahirkan perubahan. Maka tidak salah jika kemudian dikatakan bahwa keterindasan adalah bahasa awal perubahan. Freud menjelaskan bahwa, dorongan atau keinginan yang tidak memperoleh pelepasan, terdorong dan tersimpan dalam alam bawah sadar, yang pada suatu ketika akan
muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan, jadi meskipun serepresif apapun penguasa membungkan rakyatnya maka semakin besar pula ledakan amarah yang dilampiaskan karena adanya dorongan-dorongan yang pada dasarnya dorongan tersebut membutuhkna pemenuhan untuk dikeluarkan dikala ada kesempatan. Amarah tersebut meciptakan tindakan-tindakan yang irrasional,seolah tak peduli nyawa sebagai taruhannya. Ketika ketertindasan itu disadari sebagai pilihan hidup yang tidak tepat maka manusia akan mencari kebahagiannya itu dengan kebebasan, ketika kebebasan itu terkekang maka penindasan tersebut melahirkan kebenarian. ketika sesuatu tidak seperti yang diharapkan, mereka tidak menyalahkan keadaan tetapi berusaha berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan?”. Maka ketika penindasan terus terjadi mereka berpikir untuk mencari cara bagaimana mereka bias berusah lebih baik, akhirnya mereka memilih cara untuk berani  melawan. Jadi benar apa yang dikatan oleh Carrie Jones, bahwa rahasia kebahagiaan adalah kebebasan dan rahasia kebebasan adalah keberanian.[]



\


[1] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Knisius, 1980), hlm. 157

0 komentar:

Posting Komentar