"Happiness
is to Struggle
Against Oppression".
(Karl Marx)
Matahari sedang berada tepat diatas
benua Afrika yang kering. Tunisia pada tahun 2010, ketika itu, terik semakin
memanaskan tensi politik dinegeri Tunisia. Ribuan orang turun kejalan untuk
meneriakan dan meluapkan kemuakannya. Berbagai sudut kota dipenuhi oleh para
demonstran. Mereka berkumpul dilapangan Tahrir, massa masih dalam kuasa
keamanan setempat, demontrasi masih berlangsung damai dan tertib. Disudut yang
lain, yang jauh dari keriuhan para demonstran seorang pemuda yang berdagang
sayur, ia bernama Muhammad Bouazizi, berumur 26 tahun yang tertindas di
wilayah Sidi Bouzid Sidi.
Bouazizi yang tidak ikut demontrasi dan sedang melayani pembeli tiba-tiba
didatangi oleh sekolompok polisi. Mereka menyita gerobak sayurnya dengan
alasan bahwa ia berjualan tanpa izin. Bouazizi sudah coba membayar 10 dinar
Tunisia, namun ia ditampar, diludahi, bahkan ayahnya yang sudah meninggal
dihina.
Bouazizi yang muntab mencoba
melaporkan kejadian tersebut pada kantor polisi setempat, alih-alih mendapatkan
perhatian, ia justru mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Ia lalu
berbuat nekad dan membakar dirinya sendiri didepan umum. Kejadian tersebut tidak hanya membakar Bouazizi seorang, justru
peristiwa tersebut membakar semangat perlawan masyarakat Tunisia yang sudah
muak dengan ketertindasan yang dialami
mereka. Presiden Jenderal Zine El Abidine Ben Alilah yang menjadi dalang dibalik itu
semua. Kepemimpinannya yang otoriter akhirnya memuncakkan kenekatan masyarakat
yang selama ini diam dalam ketertindasan.
Dilapangan Tahrir, demontran yang
awalnya damai mendadak chaos setelah
mendengar peristiwa Bouazizi. Revolusi pun meletuh, Tunisia pun memerah akibat
peluru-peluru aparat yang mengenai para demonstran, huru hara terjadi disana
sini. Tak ada kebab bakar ditengah revolusi. Akibat massivenya gerakan perlawan masyarakat, Ben Ali akhirnya
diruntuhkan setelah memerintah selama 23 tahun
*****
Manusia memeluk
kebebasan
Manusia adalah mahluk yang sedang berproses
menjadi pribadi. Seorang pribadi, artinya ia mempunyai kemampuan untuk
menentukan kehendaknya, ini berarti kebebasan. Dengan itu manusia mampu
menentukan diri sendiri dan tindakannya. Akibat kehendak bebasnya, manusia dalam bertindak tidak tergantung
pada dorongan-dorongan naluriah, melainkan berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan karena menurut Sartre esensi kebebasan adalah memilih
atas segala pilihan yang ada. Setiap tindakan bebas manusia merupakan realisasi dari kebebasan
itu. Satre menegaskan bahwa manusia adalah kebebasan. Dengan mengatakan ini, Sartre
mau memberikan sebuah penjelasan kepada manusia bahwa dirinya adalah kebebasan
itu sendiri. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa manusia dapat didefinisikan
sebagai kebebasan. Dengan mengatakan itu semua Sartre memberikan corak
humanisme dalam pemikirannnya.[1] Sarte ingin
menunjukan kalau manusia adalah pemegang kendali atas dirinya sendiri, tak ada
hal apapun yang bisa menggurangi kekuasaan diri untuk menentukan kebebasan.
Namun
kebebasan itu tentunya kebebasan yang dapat dipertanggung jawabkan, kebebasan
positif begitu Franz Magnis Suseno menyebutnya, karena manusia akan senantiasa
selalu berhubungan dengan manusia yang lainnya, yang mana kebebasan itu akan berbenturan dengan
kebebasan manusia yang lain. Tindakan
bebas tidak bisa disamakan dengan kebebasan, memang setiap tindakan bebas
merupakan realisasi dari kebebasan namun dapat pula sebaliknya yaitu
pengkhianatan pada kebebasannya. Contohnya liberalisme yang
mengedepankan ide-ide mengenai kebebasan manusia sebagai individu yang rasional
berkembang pesat pada abad ke-17 hingga 19. Namun Domenico Losurdo dalam bukunya Liberalism: A Counter
History, menyajikan sebuah versi lain dari sejarah liberalisme, yang
ternyata sama sekali tidak mengandung nilai nilai kebebasan manusia, liberalism menciptakan perbudakan
dan kolonialisme.
Amarah mengajarkan
untuk melawan
Sejarah manusia penuh dengan
pengalaman jatuh bangun, kemenangan dan kekalahan. Sejarah manusia adalah
sejarah untuk menuju kebebasan yang sempurna.
Kadang kala manusia akan berhadapan dengan ketertindasan yang
menciptakan penderitaan akibatnya manusia tidak mampu mencapai kekebasannya.
Namun Kesadaran akan ketertindasan itulah yang menjadi kunci manusia
untuk melawan, melampiaskan kemuakannya atau amarahnya untuk merebut kebebasan
yang menjadi fitrah manusia. Kesadaran membuat manusia dapat mengatasi,
mengatur, memilih dan memaknai dikarenakan kesadaran memiliki karakteristik
intensionalitas, yakni terarah pada sesuatu. Saat kesadaran mengalami proses
intensionalitas maka dititik itulah kesadaran membawa manusia menyadari sesuatu
. “menyadari” adalah
tahap awal dimana subjek dapat melakukan afirmasi dan negasi. Mudahnya, dalam
proses ‘menyadari’ itu manusia akan memilih apakah akan tetap menerima atau menolak, dalam
konteks yang saya maksud manusia apakah akan tetap memilih hidup
dalam ketertindasan atau mencoba melawan ketertindasan itu. Kesadaran
akan penderitaan itulah yang melahirkan
kebebasan.
Amarah menjadi
mesiu dalam perlawanan manusia untuk mencari kebebasan yang terbelenggu.
Sejarah mencatat, banyak manusia yang melakukan hal-hal diluar nalar dengan mengekspresikan
amarahnya sebagai simbol perlawanan. Perlawanan masyarakat Tunisia menjadi bukti bahwa tindakan represif
Negara, ketertindasan adalah bahasa awal yang mengajarkan masyarakat untuk
melawan. Tidak ada ketakutan yang selama
ini membelenggu. Amarah dapat melahirkan perlawanan, tujuannya antara lain
adalah kebebasan.
Ketika
manusia dikekang, dibatasi gerak dan pikirannya banyak yang kemudian menempuh
jalan perlawanan, perlawanan yang akan melahirkan perubahan. Maka tidak salah
jika kemudian dikatakan bahwa keterindasan adalah bahasa awal perubahan. Freud menjelaskan bahwa, dorongan atau keinginan yang tidak
memperoleh pelepasan, terdorong
dan tersimpan dalam alam bawah sadar, yang pada suatu ketika akan
muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan, jadi meskipun serepresif apapun penguasa membungkan rakyatnya maka semakin besar pula ledakan amarah yang dilampiaskan karena adanya dorongan-dorongan yang pada dasarnya dorongan tersebut membutuhkna pemenuhan untuk dikeluarkan dikala ada kesempatan. Amarah tersebut meciptakan tindakan-tindakan yang irrasional,seolah tak peduli nyawa sebagai taruhannya. Ketika ketertindasan itu disadari sebagai pilihan hidup yang tidak tepat maka manusia akan mencari kebahagiannya itu dengan kebebasan, ketika kebebasan itu terkekang maka penindasan tersebut melahirkan kebenarian. ketika sesuatu tidak seperti yang diharapkan, mereka tidak menyalahkan keadaan tetapi berusaha berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan?”. Maka ketika penindasan terus terjadi mereka berpikir untuk mencari cara bagaimana mereka bias berusah lebih baik, akhirnya mereka memilih cara untuk berani melawan. Jadi benar apa yang dikatan oleh Carrie Jones, bahwa rahasia kebahagiaan adalah kebebasan dan rahasia kebebasan adalah keberanian.[]
muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan, jadi meskipun serepresif apapun penguasa membungkan rakyatnya maka semakin besar pula ledakan amarah yang dilampiaskan karena adanya dorongan-dorongan yang pada dasarnya dorongan tersebut membutuhkna pemenuhan untuk dikeluarkan dikala ada kesempatan. Amarah tersebut meciptakan tindakan-tindakan yang irrasional,seolah tak peduli nyawa sebagai taruhannya. Ketika ketertindasan itu disadari sebagai pilihan hidup yang tidak tepat maka manusia akan mencari kebahagiannya itu dengan kebebasan, ketika kebebasan itu terkekang maka penindasan tersebut melahirkan kebenarian. ketika sesuatu tidak seperti yang diharapkan, mereka tidak menyalahkan keadaan tetapi berusaha berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan?”. Maka ketika penindasan terus terjadi mereka berpikir untuk mencari cara bagaimana mereka bias berusah lebih baik, akhirnya mereka memilih cara untuk berani melawan. Jadi benar apa yang dikatan oleh Carrie Jones, bahwa rahasia kebahagiaan adalah kebebasan dan rahasia kebebasan adalah keberanian.[]
\






0 komentar:
Posting Komentar