Kamis, 24 Juli 2014

Terima Kasih Jember



Tentang perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu aku  harapkan namun tidak banyak alasan yang membuatku bisa bertahan ditempat ini lebih lama. Apalagi kalau tuntutan untuk segera mencari kehidupan yang baru agar eksistensi menjadi manusia tetap ada, begitu kata kebanyakan manusia modern. Bekerja! Bekerja dan Bekerja. Sebenarnya aku ingin bekerja sesuai dengan passion ku. Berada posisi tersebut sungguh sangat disyukuri. Namun sayang, hidup tak semudah berharap dan harapan akan tetap menjadi angan yang selalu hadir dalam mimpi ketika tidak pernah berani untuk direalisasikanya. Aku berangkat pergi!
                                                                        ****
Jember, 15 Mei 2014, Matahari masih belum genap bersinar, gelap menjadi pengantar perjalananku. Jember tidak sepertinya biasanya, dingin masih terlalu terasa, sesekali menusuk tulang ketika jaket tersibak angin subuh. Setelah sahur, aku masih asyik berselancar didunia maya mencari informasi tentang keriuhan dunia. Rasanya semakin muak aku dengan berita-berita yang beredar didunia maya, apalagi kalau bukan tentang Pilpres lalu quick count, kampanye hitam semunya hanya sampah yang menyebalkan.
Waktu masih menunjukan pukul 4.25 WIB, aku pun masih leha-leha bersandar didinding triplek yang menjadi sekat antara ruang diskusi dan ruang redaksi. Malam tadi aku sengaja tidur di sekretariat UKPM TegalBoto alasanya agar nanti ada yang mengantarku ke stasiun.
Keadaan mendadak diluar kendali, waktu sudah menunjukan pukul 4. 50 WIB hanya sepuluh menit lagi kereta yang membawaku ke Jogjakarta akan berangkat. Sontak aku blingsatan sesegera untuk prepare apa saja yang aku bawa. Cuci muka, ambil tas, pakai sepatu dan tancap gas menuju stasiun. Jember masih tetap dingin sekali, aku lihat di Accu weather, aplikasi cuaca di android suhu Jember mencapai 20 derajat.
Waktu yang injury time termaksimalkan dengan baik. Subuh itu aku diantar oleh Bill, adik organisasiku yang bergaya nyentrik.
***
Kereta pergi mengantar harapan
            Kereta berangkat meninggalkan stasiun Jember tepat pada pukul 05.00 WIB, sepertinya PT KAI ingin lebih tertib dari sebelumnya. Aku duduk sendiri meski harusnya duduk bersama perempuan manis. Aku sengaja memilih sendiri karena nanti tidak akan konsen jika aku tepat didepannya. Hemmm.
            Perjalanan meninggalkan Jember memang bukanlan kali pertama. Sudah berkali-kali aku pergi keluar Jember. Namun, kali ini akan lebih berbeda karena aku pergi meninggalkan Jember dan kemungkinan untuk kembali lagi ke Jember akan lebih sulit apalagi kalau bukan karena bekerja. Huft, benar dalam teori ekonomi kalau apa yang kita inginkan akan mengorbankan keinginan kita yang lain. Aku harus menahan rindu pada Jember.
Keputusanku untuk beranjak dari Jember memang keputusan yang sangat sulit dan aku menyadari segala konsekuensi yang harus dihadapi. Sekali lagi, aku punya cita-cita, menjadi pengacara besar tentu ada usaha keras yang harus dicapai. Meninggalkan Jember adalah salah satu pengorbanan dan konseskuensinya.
Kota melahirkan rindu
Sudah hampir lima tahun aku berada di Jember. Menempuh studi strata satu dan menjadi sarjana hukum. Kuselesaikan pendidikanku dalam waktu 4,5 tahun. Waktu yang tidak terlalu buruk bagi seorng mahasiswa yang juga aktif di beberapa organisasi –terkesan narsis-.
Jember kota yang sederhana tak terlalu banyak keriuhan hidup dikota ini. Penduduknya sederhana, pun ada beberapa yang tidak. Namun secara umum Jember kota yang tidak terlalu banyak keriuhan. Mungkin akan banyak yang setuju bahwa ketenangan merupakan hal yang penting dalam menjalani hidup ini karena kesederhanaannya membuat kota Jember lebih tenang. Aku bisa dengan tenang dalam melakukan berbagai aktivitas.
Baiklah, selama waktu tersebut banyak cerita yang aku lalui dari mulai dari hal yang paling susah sampai mudah. Banyak cerita yang telah aku tulis dikota itu. Ditambah aku mendapatkan banyak cinta di kota itu dan kali ini aku pun sedang mencintai sesorang yang dipertemukan dikota itu.
Cerita telah semakin banyak tertulis, kisah telah banyak diceritakan dan perasan ini semakin menyatu dengan kota Jember. Jember bukan sekedar tempat aku kuliah dan bercinta. Jember tempat aku belajar mengenap saripati kehidupan. Jember tempat aku belajar ditempa untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Karena kesan yang begitu mendalam pada Jember lahirlah cinta pada kota ini. Ketika berjarak maka lahirlah rindu pada kota yang juga telah menjadi saksi lahirnya diriku 23 tahun yang lalu. Ya, aku memang terlahir di Jember. Mungkin alasan itu pula yang membuat aku begitu berkesan pada Jember, selain karena banyak pengalaman yang aku dapat dari kota ini.

0 komentar:

Posting Komentar