Tentang perjalanan yang sebenarnya
tidak terlalu aku harapkan namun tidak
banyak alasan yang membuatku bisa bertahan ditempat ini lebih lama. Apalagi
kalau tuntutan untuk segera mencari kehidupan yang baru agar eksistensi menjadi
manusia tetap ada, begitu kata kebanyakan manusia modern. Bekerja! Bekerja dan
Bekerja. Sebenarnya aku ingin bekerja sesuai dengan passion ku. Berada posisi tersebut sungguh sangat disyukuri. Namun
sayang, hidup tak semudah berharap dan harapan akan tetap menjadi angan yang
selalu hadir dalam mimpi ketika tidak pernah berani untuk direalisasikanya. Aku
berangkat pergi!
****
Jember, 15 Mei 2014, Matahari masih
belum genap bersinar, gelap menjadi pengantar perjalananku. Jember tidak
sepertinya biasanya, dingin masih terlalu terasa, sesekali menusuk tulang
ketika jaket tersibak angin subuh. Setelah sahur, aku masih asyik berselancar
didunia maya mencari informasi tentang keriuhan dunia. Rasanya semakin muak aku
dengan berita-berita yang beredar didunia maya, apalagi kalau bukan tentang
Pilpres lalu quick count, kampanye hitam semunya hanya sampah yang menyebalkan.
Waktu masih menunjukan pukul 4.25
WIB, aku pun masih leha-leha bersandar didinding triplek yang menjadi sekat
antara ruang diskusi dan ruang redaksi. Malam tadi aku sengaja tidur di
sekretariat UKPM TegalBoto alasanya agar nanti ada yang mengantarku ke stasiun.
Keadaan mendadak diluar kendali,
waktu sudah menunjukan pukul 4. 50 WIB hanya sepuluh menit lagi kereta yang
membawaku ke Jogjakarta akan berangkat. Sontak aku blingsatan sesegera untuk prepare
apa saja yang aku bawa. Cuci muka, ambil tas, pakai sepatu dan tancap gas
menuju stasiun. Jember masih tetap dingin sekali, aku lihat di Accu weather, aplikasi cuaca di android
suhu Jember mencapai 20 derajat.
Waktu yang injury time termaksimalkan dengan baik. Subuh itu aku diantar oleh
Bill, adik organisasiku yang bergaya nyentrik.
***
Kereta pergi mengantar harapan
Kereta berangkat meninggalkan stasiun
Jember tepat pada pukul 05.00 WIB, sepertinya PT KAI ingin lebih tertib dari
sebelumnya. Aku duduk sendiri meski harusnya duduk bersama perempuan manis. Aku
sengaja memilih sendiri karena nanti tidak akan konsen jika aku tepat
didepannya. Hemmm.
Perjalanan
meninggalkan Jember memang bukanlan kali pertama. Sudah berkali-kali aku pergi
keluar Jember. Namun, kali ini akan lebih berbeda karena aku pergi meninggalkan
Jember dan kemungkinan untuk kembali lagi ke Jember akan lebih sulit apalagi
kalau bukan karena bekerja. Huft, benar dalam teori ekonomi kalau apa yang kita
inginkan akan mengorbankan keinginan kita yang lain. Aku harus menahan rindu
pada Jember.
Keputusanku untuk
beranjak dari Jember memang keputusan yang sangat sulit dan aku menyadari
segala konsekuensi yang harus dihadapi. Sekali lagi, aku punya cita-cita,
menjadi pengacara besar tentu ada usaha keras yang harus dicapai. Meninggalkan
Jember adalah salah satu pengorbanan dan konseskuensinya.
Kota melahirkan rindu
Sudah hampir lima tahun aku berada di
Jember. Menempuh studi strata satu dan menjadi sarjana hukum. Kuselesaikan
pendidikanku dalam waktu 4,5 tahun. Waktu yang tidak terlalu buruk bagi seorng
mahasiswa yang juga aktif di beberapa organisasi –terkesan narsis-.
Jember kota yang sederhana tak
terlalu banyak keriuhan hidup dikota ini. Penduduknya sederhana, pun ada
beberapa yang tidak. Namun secara umum Jember kota yang tidak terlalu banyak
keriuhan. Mungkin akan banyak yang setuju bahwa ketenangan merupakan hal yang
penting dalam menjalani hidup ini karena kesederhanaannya membuat kota Jember
lebih tenang. Aku bisa dengan tenang dalam melakukan berbagai aktivitas.
Baiklah, selama waktu tersebut banyak
cerita yang aku lalui dari mulai dari hal yang paling susah sampai mudah.
Banyak cerita yang telah aku tulis dikota itu. Ditambah aku mendapatkan banyak
cinta di kota itu dan kali ini aku pun sedang mencintai sesorang yang
dipertemukan dikota itu.
Cerita telah semakin banyak tertulis,
kisah telah banyak diceritakan dan perasan ini semakin menyatu dengan kota
Jember. Jember bukan sekedar tempat aku kuliah dan bercinta. Jember tempat aku
belajar mengenap saripati kehidupan. Jember tempat aku belajar ditempa untuk
menjadi manusia yang bermanfaat. Karena kesan yang begitu mendalam pada Jember
lahirlah cinta pada kota ini. Ketika berjarak maka lahirlah rindu pada kota
yang juga telah menjadi saksi lahirnya diriku 23 tahun yang lalu. Ya, aku
memang terlahir di Jember. Mungkin alasan itu pula yang membuat aku begitu
berkesan pada Jember, selain karena banyak pengalaman yang aku dapat dari kota
ini.






0 komentar:
Posting Komentar