Guruku adalah kesalahan
Pastinya saya tidak akan pernah melupakan tulisan dibawah ini, tulisan yang menurut orang aneh berkacamata di UKPKM Tegalboto sebagai tulisan yang tidak jelas. Namun, tulisan inilah yang membuat saya berada di Tegalboto dan memulai belajar untuk menulis lebih dalam sampai detik ini saya menulis tulisan ini. tulisan tersebut bisa dilihat di http://vinoguevarrato.blogspot.com/2014/07/kami-harap-kawan-mengerti-maksud-kami.html
Cerita dimulai dari ide konyol saya dan Tegar, Tegar merupakan senior saya di GmnI. Ia angkatan 2006 fakultas sastra Sejarah. Waktu itu, saya ngobrol ngalor-ngidul, membicarakan segala keabsurdan yang terjadi di fakultas masing-masing. akhirnya, sampailah pada suatu titik dimana ide kamu saling bertemu dan sesegara untuk dipraksiskan. Kami sepakat untuk membuat semacam kelompok disukusi yang tidak terjebak pada organisasi apapun. Pada waktu itu, sekitar tahun 2010, kami sering lagi gandrung-gandrungnya berdiskusi tentang Komunisme, sosialisme dan segala keheroisme-an lainnya. Kami ingin tampil sebagai mahasiswa yang liyan, hispter yang merasa keren ketika membawa buku Marx ke kampus dan berdiskusi panjang lebar di warung kopi soal Marx, PKI dan gerakan-gerakan kiri lainnya. Disepakatilah nama dari kelompok diskusi kami waktu itu adalah Parit Merah, kependekan dari Palu Arit Merah. Waw!
Hari berlanjut, sampailah bahwa ide revolusioner kita harus sesegara mungkin untuk dijewantahkan. Semangat revolusi kita tunjukan dengan membuat sticker berlogo PKI, saya sempat berpikiran untuk mengibarkan bendera PKI di antara bendera-bendera Unej di double Way. Percetakan yang bisa menjaga rahasia sudah saya cari dan saya akan segera mencetak bendera PKI. Namun tegar menolak ide itu, Ia khawatir kalau gerakan kami akan berhadapan dengan kekuatan hukum Indonesia yang masih phobia dengan komunisme dan sejeninya. Baiklah saya menurut waktu itu. Namun sticker tetap kami buat. Gerakan dibiayai dari dana patungan. Terkumpulah Rp.50.000 sebagai awal dana gerakan kita. Revolusi harus segera dilakukan, begitu pikirku waktu itu. Kami pun merencakan gerakan itu matang-matang, seolah kami petinggi partai Bolshevik yang siap menggulingkan Tsar II.disepakatilah tanggal 1 Mei 2010 sebagai langkah gerakan kita. Kami bersiap bergerilya dari kampus ke kampus untuk menyerbarkan selebaran dan sticeker sambil orasi kecil ditipa fakultas. Tidak ada rasa malu waktu itu, yang ada adalah rasa bangga dan revolusioner. Banyak mahasiswa yang memandangi kami, kami semakin semangat, meski dikemudian hari saya baru tahu kalau mereka memandangi kami sambil berpikir " ini orang gila dari mana, teriak-teriak ga jelas dan hanya dua orang pula"
Setiap fakultas dan setiap UKM kami datangi sambil mengajak sedikit diskusi tentang profil kelompok diskusi kami. Saya yang lebih banyak menjelaskan waktu itu, Tegar diam seolah ia benar-benar Lennin yang tidak banyak bicara. Sampailah saya menyebarkannya di UKM Universitas, sebelumnya memang saya mengetahui ada UKM yang katanya dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa galak dan gahar ketika disukusi, yaitu UKPKM Tegalboto. Kami pun tidak peduli, revolusi sudah berjalan dan yang merintangi adalah musuh revolusi. Saya benar-benar seperti sedang keblinger karena bacaan-bacaan kiri yang selalu saya baca. Setiap UKM Universitas sudah kami berikan selebaran dan sticker. Sampailah kami di UKPKM Tegalboto, Tegar tidak masuk karena ia pernah magang disana dan merasa tidan nyaman dengan orang-orang Tegalboto. Hem, saya tentu semakin bersemangat karena saya akan membungkam orang-orang Tegalboto yang membuat tidak nyaman revolusi saya, pikirku waktu itu. Benar Sinting!!!
Keputusan sulit harus dipilih
Saya masuk begitu saja ke Tegalboto. Hanya ada Didik, yang kemudian hari saya kenal sebagai PU Tegalboto. Ia orangnya pendiam dan lebih banyak mendengarkan ceracau saya. Sampai akhirnya muncullah laki-laki berkacama dari balik ruang yang disekat triplex, yang kemudian yang tahu sebagai ruang redaksi. Ia pun pendiam. Ia tidak memperkenal diri lalu membaca selebaran yang saya berikan pada Didik. Ia hanya berbicara ini tulisan yang absurd. Sontak, saya pun muntab. Kurang ajar, belum juga kenal sudah berani merendahkan revolusi yang kami bangun. Ia lalu mengajak berdiskusi sedikit saja. Ia bertanya dengan pertanyaan sederhana. saya lupa apa pertanyaannya. pertanyaan tersebut ternyata tidak bisa dijawab. Ia semakin menikam semangat revolusioner saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya semakin tidak berdaya. Ia memberikan pertanyaan dengan mimik muka yang datar, suara yang datar dan ekspresi yang dingin. Semangat itu hancur dalam hitungan menit. Orang aneh itu membuat saya keluar dari UKPKM Tegalboto dengan lesu. setan merah apa yang membuat saya keblinger. Saya menyadari kalau saya sedang bereuforia dengan istilah, ilmu yang baru dipelajari. Maklum saja, usia kuliah saya masih beberapa bulan saja. Oh ya, sebelum keluar dari UKPKM Tegalboto, saya diingatkan oleh Ia kalau tulisannya cobalah dirapikan tanda bacanya, fontnya, rata kanan dan rata kirinya agar tidak terkesan alay. kali itu saya sudah tidak bisa melawan. Saya hanya mengiyakan dan berpamitan pulang dengan menyebut mereka dengan "mas" sebelumnya tidak, panggil seenaknya. Songong sekali.
Saya pun pulang ke kost sambil merenung dalam-dalam. Kesongongan saya seolah dibiarkan di organisasi saya, GmnI. Setiap diskusi saya paling banyak bicara dan merasa paling pintar, mungkin karena saya suka membaca sehingga ketika ada yang melenceng dari grand idea maka saya sikat, saya bantai. Praktis yang mampu mengimbangi saya hanyalah senior-senior di GmnI, itu pun tidak semua. Semenjak kejadian itu, semuanya runtuh. Saya lebih banyak mendengar dan tidak mencoba untuk berargumen dengan sopan dan lugas. Sedangkan Parit Merah perlahan sudah saya lupakan. kelompok diskusi absurd. Mentalistas saya benar-benar rapuh waktu itu sehingga dengan mudah dihancurkan dalam tempo tidak lebih 15 menit. Saya lebih banyak belajar lagi, membaca lagi dan berharap bertemu dengan orang aneh yang berkacamata itu. Tujuannya jelas, membalas kekalahan yang menyakitkan itu.
Berebut Kuasa di Imparsial
Akhirnya saya harus bangkit dari keterpurukan ide tersebut. Saya pun nekat untuk mengikuti rekrutmen UKPKM Tegalboto. Kebetulan waktu itu saya sedang merintih kembali LPM Imparsial yang telah lama vakum. Di LPM Imparsial karena politik internal organisasi (pengaruh dari GmnI) membuat saya dibuang dari organisasi yan telah saya hidupkan. Saya berani mengklaim hidupnya Imparsial karena 15 orang anggota baru Imparsial, yang masih saya ingat namanya masuk ke Imparsial karena ajakan saya. Sampailah pada Isna yang menjadi PU disana, setelah sebelumnya saya terpilih secara de facto. Konflik pun berlanjut sampai di GmnI, saya menjadi resisten dengan pengurus GmnI angkatannya Wawan. Saya sering berbuat onar di GmnI namun tidak seperti dulu yang face to face, kini saya memainkan kader-kader GmnI dibawah saya, ada Agung dan Galang yang menjadi ujung tombak keonaran saya. Konflik pun tambah kacau. Wawan tidak pernah berkonflik secara langsung, saya lebih sering berkonflik dengan Etis dan demisioner-demisioner yang berada dibelakang kepengurusan Wawan. Akhirnya karena konflik tersebut, angkatan 2010, proses kaderisasinya tidak berjalan dengan baik, meski banyak faktor lainnya yang mempengaruhi.
UKPKM TegalBoto tempat mengasingkan diri
kondisi mental yang sudah jatuh dan konflik internal organisasi membuat saya semakin bulat untuk masuk dalam lingkaran sunyi UKPKM Tegalboto. Proses magang pun dilalui dengan ketetaran. Kenapa? karena saya harus beradaptasi ulang dengan situasi Tegalboto yang akademik, meski sarkas dalam bertutur. Saya selalu menanti hari dimana saya bisa bertemu dengan orang aneh berkacamata itu. Ia tidak pernah muncul diawal proses magang saya di Tegalboto. Ditengah proses magang akhirnya saya bertemu dengan orang yang menghancurkan mental saya. Ia bernama Arys Aditya. Niat balas dendam berubah menjadi kagum karena ia benar-benar hebat dalam beretorika dan memecahkan masalah. Idenya tidak pernah kering, ia pun ternyata cukup enak untuk diajak sharing meski sikap acuhnya tidak bisa dihilangkan. Saya pun ingin belajar pada dia. Tegalboto memang benar-benar melahirkan orang-orang hebat dan menakutkan, stigma itu semakin menancap dalam diri saya.
Magang berlanjut sampai hampir tujuh bulan. Saya belum juga merasakan kenyamanan di organisasi ini karena orang-orang yang ada disana mencurigai saya sebagai penyusup dari organisasi ekstra kampus. sekedar info saja bahwa di Tegalboto memegang prinsip bahwa anggota organisasi ekstra tidak bisa menjadi anggota tetap UKPKM Tegalboto, kecuali ia mengundurkan diri. Proses terus beranjut namun tetap, orang yang saya takuti di UKPKM Tegalboto hanyalah Mas Arys, ia tidak banyak bicara namun sekalinya bicara bisa merusak segalanya. Namun dari proses itu saya belajar untuk menguatkan mental, bertahan dalam tekanan. Proses magang yang cukup menekan karena pimred perempuan yang cerewet membuat saya semakin memahami bagaimana proses tempaan di organisasi yang diisi hanya oleh segelintir orang saja. Saya pesimis untuk bisa diangkat menjadi anggota tetap UKPKM Tegalboto karena jelas tidak mungkin saya melepaskan keanggotan GmnI saya, GmnI bagi saya sudah seperti darah, semerah darah saya. Keluarga saya dari Kakek baik dari Ayah maupun Mamah merupakan keluarga nasionalis. Keluar dari GmnI tentu seperti membuat saya pada diri yang berbeda.
Lobi pada pengurus coba saya gunakan dan berbagai usaha coba saya lakukan. Saya menegaskan kalau tujuan saya memang benar-benar ingin belajar jadi lebih baik. Meski saya belum merasakan kenyamanan di organisasi tersebut setidaknya ada alasan yang lebih penting dari kenyamanan yaitu proses belajar yang sebelumnya tidak saya temui di organisasi lainnya. Usaha yang saya lakukan tidak bisa menggioyahkan prinsip dari pimred Tegalboto yang pada waktu itu terkenal sadis, kejam, dan super cerewet. ia bernama Mbah Devi. Namun, ia pula yang mengajari saya soal rasa militan dan cinta pada Tegalboto.
Harapan itu Hidup
Suatu malam yang menegangkan sama meneganggkannya ketika saya menantikan kelulusan UN yaitu menanti surat keputusan penerimaan anggota tetap Tegalboto. Saya masih pesimis karena saya belum juga memberikan surat pengunduran diri dari GmnI. saya hanya bisa pasrah saja, kalaupun tidak lulus magang setidaknya saya pernah belajar dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda dari yang sebelumnya pernah saya temui. Pukul 21.30 WIB, waktu yang masih saya ingat betul, Mbak Devi mengirimkan pesan singkat " silahkan ambil suratnya di Loker". Tanpa pikir panjang, malam itu dengan perasaan dag-dig-dug saya langsung mengayuh sepeda menuju sekret Tegalboto. "alhamdulilah, saya menjadi bagian dari Red Carpet Community". Surat keteranga kelulusan tersebut masih saya simpan sebagai kenang-kenangan tentang bagaimana menghargai proses itu jauh lebih penting daripada hasil. Tegalboto telah mengajarkan saya untuk tidak reaksioner, ditempat itu pula saya belajar untuk lebih tenang, lebih cermat dan lebih berusaha untuk terus belajar. Anggota Tegalboto memang sedikit namun di tempat itu tempaan tidak hanya melulu soal bagiamana menulis bagus tapi juga mentalitas untuk bisa menghargai perubahan dan perbedaan. Tegalboto telah menjadi rumah baru saya dan saya nyaman berproses disana dengan menyingkirkan stigma bahwa anggota organisasi ekstra identik sebagai penyusup.
Kembalinya sang Anak hilang
Hampir depalan bulan saya tidak pernah ke sekret GmnI. Saya benar-benar ingin menghilang dari organisasi yang menyingkirkan saya. Namun, kekecewaan itu perlahan disikapi dengan lebih tenang. Saya pun kembali ke GmnI, mencoba membangun komunikasi dengan Wawan. Tentu dengan semangat yang tidak menggebu-gebu, sikap dewasa yang sebelumnya tidak nampak dari diri saya. Kawan-kawan pun menyambut positif masuknya saya di organisasi yang selama ini angker bagi anggota organisasi ekstra tersebut.
Proses belajar di Tegalboto coba saya terapkan di GmnI. Dalam berargumentasi tidak sekedar ngotot-ngototan namun mendasar dan sistematis. Varisasi gerakan tidak melulu aksi dijalan namun juga melalui tulisan. Beberapa kali saya mengisi materi jurnalistik di GmnI, meski sebenarya pada waktu itu saya belum paham betul. Namun saya tetap memberanikan diri untuk memberikan hal yang baru bagi kawan-kawan saya di GmnI agar tidak menjadi kader yang hanya jago dikandang namun juga siap bertarung dalam segala kondisi.
Pola kaderisasi baru ternyata tidak berjalan dengan mulus, kultur GmnI yang terlalu banyak beretorika tanpa banyak membaca tidak dengan mudah dihilangkan. Namun setidaknya kawan-kawan tidak seasal-asalan dulu ketika disukusi. Terjadi perubahan di GmnI, termasuk Imparial. Saya tetap berproses di Tegalboto sekaligus d GmnI.
Sampailah saya diposisi puncak organisasi, saya yang awalnya hanya menjadi anggota tetap saja sudah bersyukur, kala itu dihadapkan dengan keputusan Muyawarah Anggota Tegalboto yaitu menunjuk saya sebagai Pemimpin Umum. Sekali lagi, kondisi tersebut sangat berdampak pada saya, saya didewasakan melalui proses tersebut. Proses tersebut mengajarkan saya untuk lebih bijak dalam menentukan sikap. Memimpin organsisasi yang mempunyai sejarah yang panjang, awalnya menjadi beban bagi saya. Syukur alhamdulilah lambat laun saya berhasil keluar dari ketertekanan tersebut dan berusaha menciptakan kestabilan diorganisasi yang pada waktu itu diisi oleh mayoritas anggota baru.
Pelajar itu bernama 'Proses'
Meledak-ledak, berpikir reaksioner, songong, meremehkan orang lain, merasa paling pintar, emosional pernah saya rasakan. Kondisi menjadi musuh bagi kawan sendiri, menjadi ancaman bagi organisasi pernah pula saya alami. Dicaci maki dalam rapat, mencaci maki orang lain, diremehkan, memandang sebelah mata juga pernah saya lalui. Proses panjang menjadi mahasiswa membawa banyak cerita dari yang paling rendah dititik nazir sampai terhempas ke titik zenit pada waktu itu pun pernah saya rasakan. Semua dilalui atas naman proses. Dulu, saya yang reaksioner disadarkan oleh proses panjang yang dilalui, dicaci maki ketika berusaha semaksimal mungkin pun pernah. Geram tentu iya. Namun dari situ saya menyadari bahwa melalui proses yang sudah dilalui itulah saya diajarkan untuk belajar dewasa dalam bertindak, bertanggung jawab pada keputusan yang telah saya buat, tidak merendahkan orang lain karena kita pun belum tentu baik, menghargai orang lain dan coba untuk meredam emosi, kebersamaan sesama anggota. Sekali lagi, saya tidak mendapatkan itu diruang kelas ketika kuliah, justru saya mendapatkannya diruang diskusi yang bau tengik, karpet yang beraroma busuk, bantal yang bercampur antara iler dan kutu busuk, dimana lagi kalau bukan organisasi sebagai wadah kita belajar.
GmnI, organisasi yang mengajarkan saya untuk berani, lantang dalam keberpihakannya pada kelompok tertindas, (kami biasa menyebutnya kaum Marhaen, diajarkan untuk militan, kuat menghadapi tekanan dan kebersamaan yang dibangun dalam proses-prosenya. UKPKM Tegalboto, mengajarkan saya untuk belajar tidak reaksioner, sistematis dalam berpikir karena tulisan yang menarik adalah tulisan yang sistematis, membaca gelaja dari gejala, skeptis, bijak dalam membuat keputusan, bertanggung jawab, loyal pada organisasi, menuntut untuk belajar dan belajar.
Proses yang awalnya pahit dan sulit, disadari atau tidak akan membuahkan hasilnya. saya berterima kasih sedalam, sehormat dan sebaik-baiknya pada organisasi tersebut. Terima kasih. Terima Kasih!!!!!!!!
Postscript: GmnI dan UKPKM Tegalboto identik dengan warna merah dan kedua organisasi tersebut juga berkarpet merah. Keduanya organisasi Merah, organisasi yang bertaring, macan dengan pola gerakannya masing-masing. Saya belajar banyak mungkin lebih banyak daripada diruang kelas kampus. proses belajar di organisasi lebih berarti daripada sekedar ocehan dosen yang ringkih secara teoritis dan argumentasinya.






0 komentar:
Posting Komentar