Kamis, 24 Juli 2014

Belajar Menjadi Manusia

Bahagia itu mudah



18 Mei 2014, awak UKPM TegalBoto sedang didewasakan melalui cara yang liyan.  Minggu yang tidak bisa saya lupakan, mungkin begitu juga dengan awak lainnya Agus, Elya, Lidya, Arum, Bill, Toni, Ardhi. Kami semua terkejut namun tetap harus tenang dan tidak reaksioner dalam menganggapi permasalahan tersebut. 

Sebelumnya tanggal 16 Mei 2014, Lidya mengirimkan pesan melalui Whatsapp, “ Mas, kamu ikut engga ke Gunung Lamongan?” begitu pesan Lidya yang dikirim pukul 18.51 WIB. Saya baru menjawabya 20.55 “ Ok”. Saya mengajak Anggie, kebetulan kami berdua tidak melakukan apa-apa hari Minggu nanti. Saya menduga kalau acara itu tujuannya untuk bersenang-senang dan sebelumnya ke Ranu Klakah terlebih dahulu.  Kebetulan juga saya belum pernah ke Ranu Klakah. 

Pagi itu hari Minggu. Sekitar pukul 07.00 WIB, Bill dan Toni datang ke kost saya. saya masih baru bangun tidur. Mereka menyuruh saya untuk segera bergegas. Baiklah. Saya ingin memang agak lambat untuk segera mandi sampai akhirnya Arum mengirim pesan pendek dengan nada sinisnya, “ mas kami semua nunggu kamu”, hem Arum si kecil yang menyebalkan.

Sekitar pukul 09.00, kami lima motor berangkat dari Sekret menuju gunung Lamongan. Saya baru diberi tahu kalau  tujuan kami  untuk mencari lokasi uprgading dan wawancara magang Toni. Perjalanan dilalui dengan mudah, tak ada yang menjadi persoalan hanya saling tunggu saja. Perjalanan kami dilalui dengan riang. Karena  kita memang jalan-jalan untuk bersenang-senang sekaligus tujuang organisasi. Kebetulan kami mengajak beberapa anak magang.  Perjalanan Jember- Klakah ditempuh sekitar tiga jam. Saya mengajak Agus, Bill untuk mampir dulu ke Ranu Klakah. Namun mereka mengatakan kalau lebih baik ke rumah mbah Citro dulu. Baiklah, saya harus mengalah. 

Kurang lebih pukul 11.00 WIB, Kami pun sampai di Klakah di rumah mbah Citro, dukun sakti Pancasilais kejawen. Motor diparkir pada tempatnya, pada waktu itu diparkiran hanya ada beberapa motor diluar kami. Saya ingat ada motor Vixion dan beberapa pemuda yang duduk santai. 

Setelah  beristirahat sejenak, kami naik kerumah mbah Citro.  Elya sebagai pemandu perjalanan kami karena ia yang paham betul daerah gunung Lamongan. Hampir satu bulan, Elya tinggal di daerah gunung Lamongan karena penilitian skripsinya. Sejak dari awal Elya menjelaskan pada kami kalau daerah Klakah khususnya gunung Lamongan itu sangat rawan. Beberapa kali telah kejadian kehilangan motor. Peringatan Elya ada yang mendengarkan baik-baik dan ada pula yang menganggapnya angin lalu.  

Ketika dirumah mbah Citro saya menduga kalau Elya akan memperkenalkan dengan Mbah Citro namun ternyata Mbahk Citro bukan orang yang mudah untuk ditemui. Mungkin ia sedang bertapa. Kami pun hanya foto-foto. Saya jadi teringat pada Pram. Pramoedya pernah berujar dalam karya epicnya, Rumah Kaca “ Menulislah maka engkau tidak akan dilupakan oleh sejarah” dan  Jimmy Multazam, Frontman The Upstairs pernah membuat sebuah lagu,  “Terekam tak pernah mati”.  Sedangkan kami, “berfoto selfie maka abadi”. Oh Fucking shit!!!!

            Kami dirumah mbah Citro tak sampai setengah jam karena kontur yang bebatuan ditambah terik yang menyengat membuat suasana didaerah  sekitar rumah mbah Citro gersang dan panas. Kami pun memtuskan turun. Ketika kami turun, kami seperti “no where destination”.  “Kami mau kemana?” itu yang kami pikirkan. Lalu ada yang berinisiatif untuk naik ke pos penanaman bibit yang jarakanya kurang lebih sekitar 1,5 km. Perjalanan pun dilalui dengan tawa canda urakan, khas manusia hippies, tanpa beban. Kami berjalanan mengarah pada lereng gunung Lamongan. Jalan setapak yang gersang karena vegetasi disekitar gunung Lamongan dibabat habis oleh kuasa serakah manusia. Sedangkan manusia lainnya, yang Tuhan sebut sebagai Khilafah coba untuk mengembalikan keanggunan gunung Lamongan dengan menanam pohon-pohon, entah pohon buah atau pohon keras. Tujuan kami adalah pos tempat istirahat para manusia-manusia sadar tersebut, semacam sekret dari Laskar Hijau.
Saya coba melihat jam, arah jarum jam menunjukan pukul 13.30 WIB, perjalanan dari rumah mbah Citro ke pos Laskar Hijau kurang lebih 30menit. 

       Setelah kami sampai diatas, Elya mencoba mengingatkan kalau ia tidak enak meninggalkan motor-motor dibawah. Tidak sampai 10 menit Bill, Lidya, Agus, da Toni mencoba untuk turun. Saya masih ingin santai diatas. Awalnya saya ingin naik sampai Watu gede, Watu gede merupakan pos terakhir bagi para pendaki yang ingin naik ke Gunung Lamongan sebelum muncak. Namun, jelas waktu tidak akan cukup karena hari sudah siang mendekati sore. 

Kekhawatiran yang menjadi kenyataan

Elya, saya dan Anggie masih diatas. Kira-kira 20 menit setelah anak-anak turun, Lidya menelpone saya. Kebetulan saya pada waktu itu sedang berbincang dengan masyarakat sekitar, entah saya lupa namanya, ia bercerita tentang banyak hal kenapa gunung Lamongan gundul atau kenapa ada Laskar Hijau, termasuk soal kerawanan parkiran mbah Citro. Benar saja, ternyata telphone Lidya untuk mengabarkan pada saya kalau salah satu motor dari kami telah raib tak berbekas dan beberapa diantara motor yang terparkir yaitu motornya Ardhi kuncinya rusak.   Motor  hilang itu bermerek Honda Supra bernomer Polisi N 2243 TAQ dan berwarna merah hitam. Sontak saja, kami semua terkejut. Para pasukan Laskar Hijau segera turun menggunkan motornya, Elya dan Anggie dibonceng oleh anggota Laskar Hijau sedangkan saya berlari menuju lokasi.

Tepat pukul 14.00 WIB, kami semua panik. Elya terlihat tidak tenang, Lidya komat kamit karena Helm adik kostnya hilang, Arum dengan wajah Innocent, Ardhi dan Agus terlihat lebih serius sedangkan anak magang terlihat sangat panik dan bingun dan Toni dan Bill tertawa santai.

Waktu itu, beberapa angggota Laskar Hijau coba untuk menyebar memaksimalkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Mas Aak selaku tokoh masyarakat setempat sibuk dengan HP nya, Elya, Anggie, Arum, Lidya dan anak-anak magang sedang  mengobrol menceritakan ulang kejadian yang terjadi sambil sesekali menyesali “kenapa kita kok naik ya tadi”. Baiklah.

Sedangkan saya, Bill, Agus, Ardhi dan Toni mencoba untuk memperbaiki motor Ardhi yang kuncinya rusak karena dibobol oleh kunci T (kunci ajaib para pencuri motor). Namun, kami tidak bisa berbuat banyak karena terlalu sulit. Sampai akhirnya salah satu anggota Laskar Hijau yang masih tersisa di parkir Mbah Citro membantu kami. Done, selesai. Bisa meski motor Ardhi menjadi compang-camping. Setelah itu, kami coba untuk berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan. Tentang alternatif apa saja yang bisa kami lakukan. Oh ya, motor yang hilang itu merupakan motor dari Dieqy Hasbie, salah satu kawan dari LPMS IDEAS. Kebetulan ia menitipkan pada Bill karena Diky sedang ke Surabaya.

Pukul 15.00, mas Aak memberi kabar kalau ada kemungkinan motor tersebut oleh karena itu beberapa dari kami untuk mengikuti orang yang telah ditunjuk oleh mas Aak untuk mengantarkan ke lokasi yang dicuragai motor yang hilang tersebut. Kami berenak, Agus Ardhi, Bill, Toni, Yudis segera bergegas mengikuti orang tersebut. Namun ia melaju dengan kecepatan penuh dijalan yang rusak tersebut sehinnga kami cukup keteteran untuk mengikutinya. Sampai akhirnya kami yang menggunakan tiga motor harus berpencar. Saya yang berbocengan dengan Toni mengikuti anak buahnya mas Aak yang menggunakan motor GL Pro. Kami masuk ke daerah hutan tebu lalu lebih dalam ke kebun kopi dan sengon lalu masuk kerah hutan lagi dibalik gunung Lamongan disekitar perkebunan cokelat. Saya tak melihat jam pada waktu itu karena kondisi yang menegangkan dan tergesa-gesa.

Sekitar pukul 16.00, saya dan Toni masih perkebunan Cokelat. Jujur saja, pada waktu itu saya menaruh curiga pada orang-orang tersebut. Alasannya, ia seolah tidak berbuat banyak kami hanya mengikutinya saja sedangkan ketika kami bertanya mereka tak menjawab. Mereka pun tak menjelaskan keberadaan kami ada dimana. Akhirnya, pencarian kami tidak membuahkan hasil. Kami pun segera kembali ketempat semula karena saya menjadi khawatir pada perempuan-perempuan kami tinggal tanpa ada laki-laki yang menjaga. Dalam kondisi seperti ini, segala hal bisa terjadi apalagi orang yang baru dikenal dan bertingkah mencurigakan sehingga kami tetap harus waspada.

Pukul 16.30 WIB kami sampai tapi bukan diparkiran mbah Citro tempat kejadi perkara tersebut. Namun dirumah salah seorang Kasun yang saya lupa namanya. Menurut penjelasan Elya, si Kasun itu sembilan bulan lalu masih menjadi bajingan. Waw....

Kami dirumah pak Kasun itu berkumpul dengan beberapa anggota Laskar Hijau plus mas Aak. Mas Aak menjelaskan tentang motor yang tadi sempat dilihat namun karena kita tak mengetahui nomer polisi, anggota Laskar Hijau yang menemukan motor tersebut tidak berani berbuat lebih untuk memastikannya,
” anggota saya hanya memastikan agar motor itu tidak kemana-mana. Oleh karena itu, saya menyuruh kalian untuk langsung mengeceknya” mas Aak menjelaskan
“ coba kalau tadi ada STNK atau minimal foto STNK, kami bisa berbuat lebih” mas Aak menyesali keadaan.
Sebenarnya kami sudah berusaha untuk menghubungi Dieqy namun signal yang buruk dan  entah alasan lain apa STNK itu baru dikirimkan sekitar pukul 16.30 WIB itu pun melalui nomernya Saddam, kawan kami juga dari LPMS IDEAS.
“ kalau emang motornya ingin dicarikan oleh kami ya baiknya jangan dulu  lapor ke Polisi karena pengalaman sebelumnya kami bantukan cari dan si korban melaporkan kasus pencuriannya ke Polisi lalu kami tanya-tanya, koyo maling ae akhire awak dewe” kata Pak kasun

Terjadi banyak obrolan dipertemuan itu, pada intinya kami diberikan dua pilihan kalau lapor polisi penduduk sekitar yang digawangi oleh Pak Kasun tak bisa membantu mencarikan karena risiko yang harus dihadapi akan sulit dan pilihan kedua, kalau belum lapor polisi maka mereka akan berusaha untuk membantu.
Sekitar pukul 16.45 WIB, kami pamit pulang, Elya dan Lidya terpaksa naik bus dari Klakah.

Beberapa hari kami menunggu kabar baik namun tidak juga datang. Sampai Motor itu sampai detik ini tidak kunjung ada. Akhirnya, kami mencoba berinisiatif untuk berbuat sesuatu. Ada yang mengusulkan kalau masalah motor itu ganti ruginya pada Dieqy dibayar separoh oleh organisasi dan pihak yang meminjamkan.
Ada Pesan yang sebenarnya ingin disampaikan
  
Semua akan sepakat kalau waspada itu penting. Dan jauh lebih penting yaitu bagiamana kita mendengarkan omongan orang lain itu merupakan hal yang tidak bisa dikesampingkan. Banyak diantara kita yang yang terlalu bohemian namun konstruksi kita tidak kuat karena kita dibangun dari kebersamaan yang tumbuh dari proses yang dilalui bersama. Kejadian hilangnya motor Dieqy janganlah dianggap angin lalu yang berhembus begitu saja atau jangan dianggap terlalu dalam sehingga membebani. Tentu, kita punya tanggung jawab untuk mengantinya namun, kita sedang belajar soal kedewasaan dengan seharga motor itu. Kita pun sedang mempraksiskan konsep susah senang bersama, terbutkti mana yang sungguh-sungguh berikatan bersama atau hanya sekedar ‘abang-abang lambe’ saja.
  
Kedewasaan yang saya maksud adalah bagaimana kita perlu bertanggung jawab pada apa yang kita lakukan, bagimana kita tidak reaksioner menghadapi hal-hal yang diluar kita duga sebelumnya, dewasa dalam bersikap untuk tidak saling menyalahkan satu sama lain. Karena kita adalah bagian dari proses yang terlahir dari rahim karpet merah.[]


Postscript: kenapa kok saya menggunakan diksi ‘Kita’ bukan kamu, dia, atau kalian yaitu karena kita adalah bagian integral dalam kebersamaan. Semoga tidak luntur oleh apapun, tidak mengendap karena waktu yang berjalan atau mendadak lupa karena kepentingan yang sudah berbeda.

0 komentar:

Posting Komentar