18 Mei 2014, awak UKPM TegalBoto
sedang didewasakan melalui cara yang liyan.
Minggu yang tidak bisa saya lupakan, mungkin begitu juga dengan awak
lainnya Agus, Elya, Lidya, Arum, Bill, Toni, Ardhi. Kami semua terkejut namun
tetap harus tenang dan tidak reaksioner dalam menganggapi permasalahan
tersebut.
Sebelumnya tanggal 16 Mei 2014, Lidya
mengirimkan pesan melalui Whatsapp, “ Mas, kamu ikut engga ke Gunung Lamongan?”
begitu pesan Lidya yang dikirim pukul 18.51 WIB. Saya baru menjawabya 20.55 “
Ok”. Saya mengajak Anggie, kebetulan kami berdua tidak melakukan apa-apa hari
Minggu nanti. Saya menduga kalau acara itu tujuannya untuk bersenang-senang dan
sebelumnya ke Ranu Klakah terlebih dahulu.
Kebetulan juga saya belum pernah ke Ranu Klakah.
Pagi itu hari Minggu. Sekitar pukul
07.00 WIB, Bill dan Toni datang ke kost saya. saya masih baru bangun tidur.
Mereka menyuruh saya untuk segera bergegas. Baiklah. Saya ingin memang agak
lambat untuk segera mandi sampai akhirnya Arum mengirim pesan pendek dengan
nada sinisnya, “ mas kami semua nunggu kamu”, hem Arum si kecil yang
menyebalkan.
Sekitar pukul 09.00, kami lima motor
berangkat dari Sekret menuju gunung Lamongan. Saya baru diberi tahu kalau tujuan kami untuk mencari lokasi uprgading dan wawancara
magang Toni. Perjalanan dilalui dengan mudah, tak ada yang menjadi persoalan
hanya saling tunggu saja. Perjalanan kami dilalui dengan riang. Karena kita memang jalan-jalan untuk
bersenang-senang sekaligus tujuang organisasi. Kebetulan kami mengajak beberapa
anak magang. Perjalanan Jember- Klakah
ditempuh sekitar tiga jam. Saya mengajak Agus, Bill untuk mampir dulu ke Ranu
Klakah. Namun mereka mengatakan kalau lebih baik ke rumah mbah Citro dulu.
Baiklah, saya harus mengalah.
Kurang lebih pukul 11.00 WIB, Kami
pun sampai di Klakah di rumah mbah Citro, dukun sakti Pancasilais kejawen.
Motor diparkir pada tempatnya, pada waktu itu diparkiran hanya ada beberapa
motor diluar kami. Saya ingat ada motor Vixion dan beberapa pemuda yang duduk
santai.
Setelah beristirahat sejenak, kami naik kerumah mbah
Citro. Elya sebagai pemandu perjalanan
kami karena ia yang paham betul daerah gunung Lamongan. Hampir satu bulan, Elya
tinggal di daerah gunung Lamongan karena penilitian skripsinya. Sejak dari awal
Elya menjelaskan pada kami kalau daerah Klakah khususnya gunung Lamongan itu
sangat rawan. Beberapa kali telah kejadian kehilangan motor. Peringatan Elya
ada yang mendengarkan baik-baik dan ada pula yang menganggapnya angin lalu.
Ketika dirumah mbah Citro saya
menduga kalau Elya akan memperkenalkan dengan Mbah Citro namun ternyata Mbahk
Citro bukan orang yang mudah untuk ditemui. Mungkin ia sedang bertapa. Kami pun
hanya foto-foto. Saya jadi teringat pada Pram. Pramoedya pernah berujar dalam
karya epicnya, Rumah Kaca “ Menulislah maka engkau tidak akan dilupakan oleh
sejarah” dan Jimmy Multazam, Frontman The
Upstairs pernah membuat sebuah lagu, “Terekam
tak pernah mati”. Sedangkan kami,
“berfoto selfie maka abadi”. Oh Fucking shit!!!!
Kami dirumah
mbah Citro tak sampai setengah jam karena kontur yang bebatuan ditambah terik
yang menyengat membuat suasana didaerah
sekitar rumah mbah Citro gersang dan panas. Kami pun memtuskan turun.
Ketika kami turun, kami seperti “no where destination”. “Kami mau kemana?” itu yang kami pikirkan.
Lalu ada yang berinisiatif untuk naik ke pos penanaman bibit yang jarakanya kurang
lebih sekitar 1,5 km. Perjalanan pun dilalui dengan tawa canda urakan, khas
manusia hippies, tanpa beban. Kami berjalanan mengarah pada lereng gunung
Lamongan. Jalan setapak yang gersang karena vegetasi disekitar gunung Lamongan
dibabat habis oleh kuasa serakah manusia. Sedangkan manusia lainnya, yang Tuhan
sebut sebagai Khilafah coba untuk mengembalikan keanggunan gunung Lamongan
dengan menanam pohon-pohon, entah pohon buah atau pohon keras. Tujuan kami
adalah pos tempat istirahat para manusia-manusia sadar tersebut, semacam sekret
dari Laskar Hijau.
Saya coba melihat jam, arah jarum jam menunjukan pukul 13.30
WIB, perjalanan dari rumah mbah Citro ke pos Laskar Hijau kurang lebih 30menit.
Setelah kami sampai diatas, Elya mencoba mengingatkan kalau
ia tidak enak meninggalkan motor-motor dibawah. Tidak sampai 10 menit Bill,
Lidya, Agus, da Toni mencoba untuk turun. Saya masih ingin santai diatas. Awalnya
saya ingin naik sampai Watu gede, Watu gede merupakan pos terakhir bagi para
pendaki yang ingin naik ke Gunung Lamongan sebelum muncak. Namun, jelas waktu tidak akan cukup karena hari sudah siang
mendekati sore.
Kekhawatiran yang
menjadi kenyataan
Elya, saya dan Anggie masih diatas.
Kira-kira 20 menit setelah anak-anak turun, Lidya menelpone saya. Kebetulan
saya pada waktu itu sedang berbincang dengan masyarakat sekitar, entah saya
lupa namanya, ia bercerita tentang banyak hal kenapa gunung Lamongan gundul
atau kenapa ada Laskar Hijau, termasuk soal kerawanan parkiran mbah Citro.
Benar saja, ternyata telphone Lidya untuk mengabarkan pada saya kalau salah
satu motor dari kami telah raib tak berbekas dan beberapa diantara motor yang
terparkir yaitu motornya Ardhi kuncinya rusak. Motor
hilang itu bermerek Honda Supra bernomer Polisi N 2243 TAQ dan berwarna
merah hitam. Sontak saja, kami semua terkejut. Para pasukan Laskar Hijau segera
turun menggunkan motornya, Elya dan Anggie dibonceng oleh anggota Laskar Hijau
sedangkan saya berlari menuju lokasi.
Tepat pukul 14.00 WIB, kami semua
panik. Elya terlihat tidak tenang, Lidya komat kamit karena Helm adik kostnya
hilang, Arum dengan wajah Innocent,
Ardhi dan Agus terlihat lebih serius sedangkan anak magang terlihat sangat
panik dan bingun dan Toni dan Bill tertawa santai.
Waktu itu, beberapa angggota Laskar
Hijau coba untuk menyebar memaksimalkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Mas Aak selaku tokoh masyarakat setempat sibuk dengan HP nya, Elya, Anggie,
Arum, Lidya dan anak-anak magang sedang
mengobrol menceritakan ulang kejadian yang terjadi sambil sesekali
menyesali “kenapa kita kok naik ya tadi”. Baiklah.
Sedangkan saya, Bill, Agus, Ardhi dan
Toni mencoba untuk memperbaiki motor Ardhi yang kuncinya rusak karena dibobol
oleh kunci T (kunci ajaib para pencuri motor). Namun, kami tidak bisa berbuat
banyak karena terlalu sulit. Sampai akhirnya salah satu anggota Laskar Hijau
yang masih tersisa di parkir Mbah Citro membantu kami. Done, selesai. Bisa
meski motor Ardhi menjadi compang-camping. Setelah itu, kami coba untuk
berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan. Tentang alternatif apa saja yang
bisa kami lakukan. Oh ya, motor yang hilang itu merupakan motor dari Dieqy
Hasbie, salah satu kawan dari LPMS IDEAS. Kebetulan ia menitipkan pada Bill
karena Diky sedang ke Surabaya.
Pukul 15.00, mas Aak memberi kabar
kalau ada kemungkinan motor tersebut oleh karena itu beberapa dari kami untuk
mengikuti orang yang telah ditunjuk oleh mas Aak untuk mengantarkan ke lokasi
yang dicuragai motor yang hilang tersebut. Kami berenak, Agus Ardhi, Bill,
Toni, Yudis segera bergegas mengikuti orang tersebut. Namun ia melaju dengan
kecepatan penuh dijalan yang rusak tersebut sehinnga kami cukup keteteran untuk
mengikutinya. Sampai akhirnya kami yang menggunakan tiga motor harus berpencar.
Saya yang berbocengan dengan Toni mengikuti anak buahnya mas Aak yang
menggunakan motor GL Pro. Kami masuk ke daerah hutan tebu lalu lebih dalam ke
kebun kopi dan sengon lalu masuk kerah hutan lagi dibalik gunung Lamongan
disekitar perkebunan cokelat. Saya tak melihat jam pada waktu itu karena
kondisi yang menegangkan dan tergesa-gesa.
Sekitar pukul 16.00, saya dan Toni
masih perkebunan Cokelat. Jujur saja, pada waktu itu saya menaruh curiga pada
orang-orang tersebut. Alasannya, ia seolah tidak berbuat banyak kami hanya
mengikutinya saja sedangkan ketika kami bertanya mereka tak menjawab. Mereka
pun tak menjelaskan keberadaan kami ada dimana. Akhirnya, pencarian kami tidak
membuahkan hasil. Kami pun segera kembali ketempat semula karena saya menjadi
khawatir pada perempuan-perempuan kami tinggal tanpa ada laki-laki yang
menjaga. Dalam kondisi seperti ini, segala hal bisa terjadi apalagi orang yang
baru dikenal dan bertingkah mencurigakan sehingga kami tetap harus waspada.
Pukul 16.30 WIB kami sampai tapi bukan diparkiran
mbah Citro tempat kejadi perkara tersebut. Namun dirumah salah seorang Kasun
yang saya lupa namanya. Menurut penjelasan Elya, si Kasun itu sembilan bulan
lalu masih menjadi bajingan. Waw....
Kami dirumah pak Kasun itu berkumpul
dengan beberapa anggota Laskar Hijau plus mas Aak. Mas Aak menjelaskan tentang
motor yang tadi sempat dilihat namun karena kita tak mengetahui nomer polisi,
anggota Laskar Hijau yang menemukan motor tersebut tidak berani berbuat lebih
untuk memastikannya,
” anggota saya hanya memastikan agar motor itu tidak
kemana-mana. Oleh karena itu, saya menyuruh kalian untuk langsung mengeceknya”
mas Aak menjelaskan
“ coba kalau tadi ada STNK atau minimal foto STNK, kami bisa
berbuat lebih” mas Aak menyesali keadaan.
Sebenarnya kami sudah berusaha untuk menghubungi Dieqy namun
signal yang buruk dan entah alasan lain
apa STNK itu baru dikirimkan sekitar pukul 16.30 WIB itu pun melalui nomernya
Saddam, kawan kami juga dari LPMS IDEAS.
“ kalau emang motornya ingin dicarikan oleh kami ya baiknya
jangan dulu lapor ke Polisi karena
pengalaman sebelumnya kami bantukan cari dan si korban melaporkan kasus
pencuriannya ke Polisi lalu kami tanya-tanya, koyo maling ae akhire awak dewe”
kata Pak kasun
Terjadi banyak obrolan dipertemuan
itu, pada intinya kami diberikan dua pilihan kalau lapor polisi penduduk
sekitar yang digawangi oleh Pak Kasun tak bisa membantu mencarikan karena
risiko yang harus dihadapi akan sulit dan pilihan kedua, kalau belum lapor
polisi maka mereka akan berusaha untuk membantu.
Sekitar pukul 16.45 WIB, kami pamit pulang, Elya dan Lidya
terpaksa naik bus dari Klakah.
Beberapa hari kami menunggu kabar
baik namun tidak juga datang. Sampai Motor itu sampai detik ini tidak kunjung
ada. Akhirnya, kami mencoba berinisiatif untuk berbuat sesuatu. Ada yang
mengusulkan kalau masalah motor itu ganti ruginya pada Dieqy dibayar separoh
oleh organisasi dan pihak yang meminjamkan.
Ada Pesan yang sebenarnya ingin disampaikan
Semua akan sepakat kalau waspada itu penting.
Dan jauh lebih penting yaitu bagiamana kita mendengarkan omongan orang lain itu
merupakan hal yang tidak bisa dikesampingkan. Banyak diantara kita yang yang
terlalu bohemian namun konstruksi kita tidak kuat karena kita dibangun dari
kebersamaan yang tumbuh dari proses yang dilalui bersama. Kejadian hilangnya
motor Dieqy janganlah dianggap angin lalu yang berhembus begitu saja atau
jangan dianggap terlalu dalam sehingga membebani. Tentu, kita punya tanggung
jawab untuk mengantinya namun, kita sedang belajar soal kedewasaan dengan
seharga motor itu. Kita pun sedang mempraksiskan konsep susah senang bersama,
terbutkti mana yang sungguh-sungguh berikatan bersama atau hanya sekedar
‘abang-abang lambe’ saja.
Kedewasaan yang saya maksud adalah
bagaimana kita perlu bertanggung jawab pada apa yang kita lakukan, bagimana
kita tidak reaksioner menghadapi hal-hal yang diluar kita duga sebelumnya,
dewasa dalam bersikap untuk tidak saling menyalahkan satu sama lain. Karena
kita adalah bagian dari proses yang terlahir dari rahim karpet merah.[]







0 komentar:
Posting Komentar