Aku Bukan yang
Lain!!!!!!!!!!
Bair,biarkan aku terbang,,tanpa kau mengikuti ku..
Sekali berarti,,tak ada yang mampu membunuh
artiku...
Biar,,biar..aku melangkah tanpa mengikuti jejak
mu...
Sekarang aku bkan elang kecil,,
Ya,,meski aku elang liar,peluru-peluru pemburu
selalu mengintaiku
,aku akan tetap menegakan sumpahku,,,
Sumpah untuk semua kebahagiaan...
Bukan sumpah untuk tunduk pada kemunafikan...
Jika kau mau potonglah sayapku...POTONGLAH!!!!!!
Karena aku masih bisa lari untuk tetap pergi
mencari sumpahku...
Karena sekali berarti sudah itu mati!!!!!
Jangan Pernah remehkan aku!!!!!!!!!
Masih ingat dalam bayangku ketika hampir cukup lama tertekan dalam kondisi yang tidak pernah baik dengan Ayahku. Aku teringat dengan kata-kata Mas Nuran, "laki-laki yang beranjak dewasa akan bersitegang dengan Ayahnya,itu hal yang wajar". Ia pun dulu seperti itu dengan Ayah yang Ia sayangi dan sempat menyesal ketika Ayahnya harus menginggalkannya selama-lamanya, Ia belum sempat lulus.
Itu cerita mas Nuran, yang aku anggap sebagai kawan sharing soal banyak hal yang sangat menyenangkan. cerita ku tidak demikian. Sejak aku tumbuh menjadi manusia yang dewasa. Aku berhadapan dengan ketegangan dengan Ayahku, banyak hal yang membuat kita menjadi tidak cocok, selain karena watak kita yang sama-sama keras, aku memang bukan orang yang suka harus tunduk. Sedangkan Ayahku sangat otoriter, sampai pada suatu ketika, aku harus menuruti mintanya untuk kuliah di UJ (Universitas Jember) padahal aku sangat ingin kuliah di UGM, dan suatu malam itu, Ayahku memarahiku dengan kata-kata Sarkas yang membuatku sangat terkejut. Malam itu, aku hanya bisa terdiam dan mencoba untuk tertawa tanda perlawanan akan tetap berlanjut. Amarahku padanya benar-benar memuncak. Karena malam itu, Ayahku sama sekali tidak memberikan rasionalisasi kenapa aku harus menuruti pintanya.
Dalam amarah yang sulit padamnya dan aku sangat mengingat malam itu, aku mencoba memindahkan amarahku pada "semacam" puisi ini. Aku sangat menyesal mendegar kata-kata itu keluar dari mulut seorang yang sangat kuhargai sebelumnya, meski dari sejak dulu aku sering berbeda pendapat. Dan yang menjadi korbanya hanya mamahku yang menahan untuk bagaimana meredamkan keras kepala antara Anaknya dan Suaminya.
Sudah 4 Tahun kejadian itu berganti. Sudah tulisan ini ada. Sudah selama itu pula aku masih dalam kondisi yang sangat dingin dengan Ayahku. Beberapa kali aku mencoba untuk mencairkan suasana, dengan cara-cara aku sebagai anaknya tetapi tidak berdampak banyak. mungkin Ia sulit untuk mentransformasikan rasa sayangnya pada anaknya dalam bentuk tindakan, ya aku mencoba berpikir positif saja.
Aku tidak ingin menjadi Mas Nuran yang "menyesal" karena tidak sempat membahagiakan Ayahnya. itu saja yang ingin kukatan. Dengan cara sebaik baiknya dan sehormat-hormatnya, karena didarahku ada darahmu!!!
Itu cerita mas Nuran, yang aku anggap sebagai kawan sharing soal banyak hal yang sangat menyenangkan. cerita ku tidak demikian. Sejak aku tumbuh menjadi manusia yang dewasa. Aku berhadapan dengan ketegangan dengan Ayahku, banyak hal yang membuat kita menjadi tidak cocok, selain karena watak kita yang sama-sama keras, aku memang bukan orang yang suka harus tunduk. Sedangkan Ayahku sangat otoriter, sampai pada suatu ketika, aku harus menuruti mintanya untuk kuliah di UJ (Universitas Jember) padahal aku sangat ingin kuliah di UGM, dan suatu malam itu, Ayahku memarahiku dengan kata-kata Sarkas yang membuatku sangat terkejut. Malam itu, aku hanya bisa terdiam dan mencoba untuk tertawa tanda perlawanan akan tetap berlanjut. Amarahku padanya benar-benar memuncak. Karena malam itu, Ayahku sama sekali tidak memberikan rasionalisasi kenapa aku harus menuruti pintanya.
Dalam amarah yang sulit padamnya dan aku sangat mengingat malam itu, aku mencoba memindahkan amarahku pada "semacam" puisi ini. Aku sangat menyesal mendegar kata-kata itu keluar dari mulut seorang yang sangat kuhargai sebelumnya, meski dari sejak dulu aku sering berbeda pendapat. Dan yang menjadi korbanya hanya mamahku yang menahan untuk bagaimana meredamkan keras kepala antara Anaknya dan Suaminya.
Sudah 4 Tahun kejadian itu berganti. Sudah tulisan ini ada. Sudah selama itu pula aku masih dalam kondisi yang sangat dingin dengan Ayahku. Beberapa kali aku mencoba untuk mencairkan suasana, dengan cara-cara aku sebagai anaknya tetapi tidak berdampak banyak. mungkin Ia sulit untuk mentransformasikan rasa sayangnya pada anaknya dalam bentuk tindakan, ya aku mencoba berpikir positif saja.
Aku tidak ingin menjadi Mas Nuran yang "menyesal" karena tidak sempat membahagiakan Ayahnya. itu saja yang ingin kukatan. Dengan cara sebaik baiknya dan sehormat-hormatnya, karena didarahku ada darahmu!!!






0 komentar:
Posting Komentar