Telah
muncul juara baru dalam perhelatan Debat Mahkamah Konstiusi se Indonesia regional II, juara itu adalah
Universitas Jember. Tentunya sangat membanggakan karena Universitas Jember
mampu berbicara melalui prestasi di tingkatan nasional. Sukses itu tidak lepas
dari peran serta tiga mahasiswa perwakilan Universitas Jember yang kuliah di
fakultas hukum Universitas Jember.
Muhammad Indra Kusumayudha, Naila Rizqi Zakiah dan Gress Gustia Adrian
Pah, semuanya adalah mahasiswa semester 4 Fakultas Hukum Universitas Jember. Sebelumnya berbagai prestasi di tingkat
nasional juga telah mereka torehkan salah satunya Juara I Lomba Debat Hukum
Nasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Piala Bergilir Sri Soemantri dalam
rangkaian Padjadjaran Law Fair 2012.
Salah
satu dari tim juara itu bernama Naila Rizqi Zakiah, Nay- begitu aku biasa
memanggilnya- adalah Mahasiswa yang telah banyak mendapatkan prestasi, tak
berlebihan rasanya. Difakultas Hukum, kita akan biasa menemui Nay di ruang HTN
(Hukum Tata Negara). Benar saja, siang itu aku bertemu dengannya didepan ruang
HTN. Maka dengan gerak cepat aku “seret” dia ke tempat yang lebih enak untuk
ngobrol-ngobrol soal prestasi-prestasi yang selama ini Ia dapat.
Tentunya
tidak mudah mendapatkan semua itu, dari mulai Juara satu debat hukum nasional
UNPAD, Juara MCC MK regional Jawa Timur , Juara Debat MK regional II, juara 6 tingkat nasional dibawah UI, juara
English debate se kab Jember dan sempat
beberapa kali mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri dari mulai
Thailand, Malaysia, Jerman dan Austria. Diluar semua prestasinya itu tentu ada
usaha dan kerja keras yang selama ini Nay
lakukan. Nay aktif di UKM fakultas. Disana Ia menempa diri untuk bisa
berlatih debat, menulis karya tulis ilmiah dan berbagai macam kegiatan lainnya.
Pada masa-masa awal proses kuliahnya, Ia pun sempat kesulitan dalam melakukan
proses penempaan itu, Ia pun berusaha untuk melihat cara-cara yang dilakukan
oleh para senior-seniornya. Membaca, berlatih dengan sangat giat, tetapi gagal.
Nay merasa itu bukan cara yang tetap untuknya, akhirnya Ia memilih jalan
sendiri “I have own way, mas” begitu menurutnya. Dengan kesenangan itulah Ia
merasa lebih nyaman. Melakukan segala sesuatu dari hati (niatan) agar hasilnya
maksimal
aku
sempat terhenyak ketika perempuan berkacama itu mengatakan bahwa Ia tidak
pernah punya target untuk meraih prestasi-prestasi itu, tanpa target saja sudah
banyak ia dapat . Dengan tanpa target-target itu aku sendiri menjadi paham bahwa memang
tidak akan ada beban yang menganggu. Target atau tujuan yang dimaksud disini
adalah ambisi yang berlebihan. Ia
melakukan itu dengan kesenangan dan keikhlasan saja sehingga tidak ada
target-target yang membebani pada akhirnya. “let it flow“ begitu Nay
menambahkan. Ia tidak pernah berambisi untuk menjadi juara atau apapun itu. Ia
hanya sebatas melakukn itu secara maksimal dengan sedikit keberuntungan.
“keberhasilan memang tidak hanya bertumpu pada
factor luck aja. Orang yang pintar bisa kalah dengan orang yang
beruntung”. Tetapi bukan berarti
keburuntungan dicapai dengan mudah, dengan berusaha itu kita akan memperoleh
keburuntungan. Dan keberuntungan itu tidak dapat diprediksikan”. Memang benar,
keberuntungan didapat dengan usaha yang selama ini kita lakukan. Aku pun
teringat dengan mantra
Berbicara
bakatnya di debat, “Aku dasarnya bukan orang yang mudah sepakat dengan pendapat
orang. Aku puas ketika sesuatu yang orang tahu tidak tahu, sedangkan aku tahu.
Aku tertarik banget. Bukan berarti
tampil berbeda, tapi itu semua menjadi pemacuku untuk berusaha lebih baik dan
mencari hal-hal yang baru” dengan suara yang mengebu-gebu Nay mengambarkan
dirinya, khas seperti Ia sedang berdebat.
Nay
bercerita bahwa Ia diawal-awal Ia mengitu lomba ia kadang merasakan kesulitan
bekerja sama dengan tim, karena hampir beberapa Ia mengkitu lomba dengan
membentuk kelompok. “Pada awalnya aku suilit berkerja sama dengan timku.
Kesulitanku bekerja sama dengan orang lain karena aku tidak melepaskan sisi
egoisku. Aku merasa lebih bisa dari orang lain. Sejak Praktek Peradilan Semu Mahkamah Konstitusib
tahun 2011 lalu, aku mulai belajar bekerja sama dengan orang lain. Dari situ aku
mendapat pelajara bahwa berkeja sama dalam tim itu memang perlu usaha untuk
tidak memaksakan kehendak kita. Karena kebersamaan dalam tim itu lebih penting
daripada egoisme kita”
Matahari
semakin terik dan mahasiswa mulai banyak keluar kelas, pertanda jam kuliah
sudah habis, tetapi kita masih asik untuk melanjutkan perbincangan. Kali ini
aku bertanya soal pilihan kuliahnya di Jember ini. Meski Nay asli Jember, pada
awalnya Ia sama sekali tidak menempatkan Universitas Jember sebagai pilihan
untuk melanjutkan studinya. Nay lebih memilih Universitas Indonesia dan
Universitas Gajah Mada. Benar kata pepatah lama, Jodoh memang tidak akan lari
kemana. Setelah sempat beberapa kali ditolak untuk masuk Universitas idamannya
itu, akhirnya Nay memilih Jember , itupun setelah dibesarkan hatinya oleh
Ibunda Nay, yang selalu Ia ceritakan
sebagai obat yang paling mujarab dalam hidupnya.
Pilihan
kuliah di Universitas Jember pada awalnya memang sangat sulit, sempat beberapa
kali merasakan ketidaknyamannya, tetapi ia selalu berpegang teguh pada nasihat
orang tuanya “ mutiara akan tetap menjadi mutiara dimanapun itu berada”. Hal
itulah yang kemudia hari dirasakan olehnya bahwa pilihan di Universitas Jember
adalah pilihan yang tepat untuk menuntut ilmu. Sebab semua bergantung dari usaha
yang kita sendiri lakukan.
“no
matter where I life, I’m still pearl” dengan percaya diri
Nay meyakikan bahwa Universitas Jember adalah pilihannya yang tepat sekali dan
Ia bangga sudah menjadi bagian dari Universitas Jember, sedikit banyak memang
di Universitas Jemberlah, Ia ditempa menjadi mahasiswa yang berprestasi, diluar
bakat-bakat yang ia miliki.
Semua itu terbukti dan
Ia mampu membuktikan bahwa pilihannya adalah tepat. Nay berhasil membungkam UI
yang dulu menolaknya. Sebab Ia sempat ditawari oleh Pembantu Dekat Fakultas
Hukum UI untuk melanjutkan kuliah S2 di UI ketika juara 1 Lomba debat Mahkamah
Konstitusi. Satu hal yang membuat Nay selalu bersemangat dalam meraih
prestasi-presatsinya. Ia mengatakan padaku “bungkam itu mati gaya, teriak itu
kreasi”. “Sederhana itu biasa saja, tetapi akan menjadi luar biasa ketika kamu
bisa meracik kesederhanaanmu”.
Satu
hal yang tidak pernah aku lupakan dari percakapan siang itu, bahwa berproses
dalam kuliah itu tidak selamanya terjebak diruang-ruang kelas. Ruang kelas akan
hanya menjadi begitu usang, bangunan kosong tanpa isi ketika kita
kita larut dalam keadaan kelas itu, ketika kita tidak larut dalam kelas
itu maka proses dikelas itu akan menjadi atraktif dan ada proses dialektis yang
jelas manfaatnya dalam proses penempaan yang selama ini kita cari-cari sampai
ke bangku kuliah.
Obrolan
ini pun mencapi ujungnya. Nay dan aku harus kembali pada kesibukannya
masing-masing.
kalau ingin kenal dengannya silahkan masuk disini nay






0 komentar:
Posting Komentar