Rabu, 11 Juli 2012

Obrolanku dengan Naila Cerewet


Telah muncul juara baru dalam perhelatan Debat Mahkamah Konstiusi  se Indonesia regional II, juara itu adalah Universitas Jember. Tentunya sangat membanggakan karena Universitas Jember mampu berbicara melalui prestasi di tingkatan nasional. Sukses itu tidak lepas dari peran serta tiga mahasiswa perwakilan Universitas Jember yang kuliah di fakultas hukum Universitas Jember.  Muhammad Indra Kusumayudha, Naila Rizqi Zakiah dan Gress Gustia Adrian Pah, semuanya adalah mahasiswa semester 4 Fakultas Hukum Universitas Jember.  Sebelumnya berbagai prestasi di tingkat nasional juga telah mereka torehkan salah satunya Juara I Lomba Debat Hukum Nasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Piala Bergilir Sri Soemantri dalam rangkaian Padjadjaran Law Fair 2012.
Salah satu dari tim juara itu bernama Naila Rizqi Zakiah, Nay- begitu aku biasa memanggilnya- adalah Mahasiswa yang telah banyak mendapatkan prestasi, tak berlebihan rasanya. Difakultas Hukum, kita akan biasa menemui Nay di ruang HTN (Hukum Tata Negara). Benar saja, siang itu aku bertemu dengannya didepan ruang HTN. Maka dengan gerak cepat aku “seret” dia ke tempat yang lebih enak untuk ngobrol-ngobrol soal prestasi-prestasi yang selama ini Ia dapat.
Tentunya tidak mudah mendapatkan semua itu, dari mulai Juara satu debat hukum nasional UNPAD, Juara MCC MK regional Jawa Timur , Juara Debat MK regional II,  juara 6 tingkat nasional dibawah UI, juara English debate se kab Jember  dan sempat beberapa kali mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri dari mulai Thailand, Malaysia, Jerman dan Austria. Diluar semua prestasinya itu tentu ada usaha dan kerja keras yang selama ini Nay  lakukan. Nay aktif di UKM fakultas. Disana Ia menempa diri untuk bisa berlatih debat, menulis karya tulis ilmiah dan berbagai macam kegiatan lainnya. Pada masa-masa awal proses kuliahnya, Ia pun sempat kesulitan dalam melakukan proses penempaan itu, Ia pun berusaha untuk melihat cara-cara yang dilakukan oleh para senior-seniornya. Membaca, berlatih dengan sangat giat, tetapi gagal. Nay merasa itu bukan cara yang tetap untuknya, akhirnya Ia memilih jalan sendiri “I have own way, mas” begitu menurutnya. Dengan kesenangan itulah Ia merasa lebih nyaman. Melakukan segala sesuatu dari hati (niatan) agar hasilnya maksimal
aku sempat terhenyak ketika perempuan berkacama itu mengatakan bahwa Ia tidak pernah punya target untuk meraih prestasi-prestasi itu, tanpa target saja sudah banyak ia dapat . Dengan tanpa target-target  itu aku sendiri menjadi paham bahwa memang tidak akan ada beban yang menganggu. Target atau tujuan yang dimaksud disini adalah ambisi yang berlebihan.  Ia melakukan itu dengan kesenangan dan keikhlasan saja sehingga tidak ada target-target yang membebani pada akhirnya. “let it flow“ begitu Nay menambahkan. Ia tidak pernah berambisi untuk menjadi juara atau apapun itu. Ia hanya sebatas melakukn itu secara maksimal dengan sedikit keberuntungan.
 “keberhasilan memang tidak hanya bertumpu pada factor luck aja. Orang yang pintar bisa kalah dengan orang yang beruntung”.  Tetapi bukan berarti keburuntungan dicapai dengan mudah, dengan berusaha itu kita akan memperoleh keburuntungan. Dan keberuntungan itu tidak dapat diprediksikan”. Memang benar, keberuntungan didapat dengan usaha yang selama ini kita lakukan. Aku pun teringat dengan mantra
Berbicara bakatnya di debat, “Aku dasarnya bukan orang yang mudah sepakat dengan pendapat orang. Aku puas ketika sesuatu yang orang tahu tidak tahu, sedangkan aku tahu. Aku tertarik banget. Bukan  berarti tampil berbeda, tapi itu semua menjadi pemacuku untuk berusaha lebih baik dan mencari hal-hal yang baru” dengan suara yang mengebu-gebu Nay mengambarkan dirinya, khas seperti Ia sedang berdebat.
Nay bercerita bahwa Ia diawal-awal Ia mengitu lomba ia kadang merasakan kesulitan bekerja sama dengan tim, karena hampir beberapa Ia mengkitu lomba dengan membentuk kelompok. “Pada awalnya aku suilit berkerja sama dengan timku. Kesulitanku bekerja sama dengan orang lain karena aku tidak melepaskan sisi egoisku. Aku merasa lebih bisa dari orang lain. Sejak  Praktek Peradilan Semu Mahkamah Konstitusib tahun 2011 lalu,  aku mulai belajar  bekerja sama dengan orang lain. Dari situ aku mendapat pelajara bahwa berkeja sama dalam tim itu memang perlu usaha untuk tidak memaksakan kehendak kita. Karena kebersamaan dalam tim itu lebih penting daripada egoisme  kita”
Matahari semakin terik dan mahasiswa mulai banyak keluar kelas, pertanda jam kuliah sudah habis, tetapi kita masih asik untuk melanjutkan perbincangan. Kali ini aku bertanya soal pilihan kuliahnya di Jember ini. Meski Nay asli Jember, pada awalnya Ia sama sekali tidak menempatkan Universitas Jember sebagai pilihan untuk melanjutkan studinya. Nay lebih memilih Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada. Benar kata pepatah lama, Jodoh memang tidak akan lari kemana. Setelah sempat beberapa kali ditolak untuk masuk Universitas idamannya itu, akhirnya Nay memilih Jember , itupun setelah dibesarkan hatinya oleh Ibunda  Nay, yang selalu Ia ceritakan sebagai obat yang paling mujarab dalam hidupnya.
Pilihan kuliah di Universitas Jember pada awalnya memang sangat sulit, sempat beberapa kali merasakan ketidaknyamannya, tetapi ia selalu berpegang teguh pada nasihat orang tuanya “ mutiara akan tetap menjadi mutiara dimanapun itu berada”. Hal itulah yang kemudia hari dirasakan olehnya bahwa pilihan di Universitas Jember adalah pilihan yang tepat untuk menuntut ilmu. Sebab semua bergantung dari usaha yang kita sendiri lakukan.
“no matter  where I  life, I’m still pearl” dengan percaya diri Nay meyakikan bahwa Universitas Jember adalah pilihannya yang tepat sekali dan Ia bangga sudah menjadi bagian dari Universitas Jember, sedikit banyak memang di Universitas Jemberlah, Ia ditempa menjadi mahasiswa yang berprestasi, diluar bakat-bakat yang ia miliki.
Semua itu terbukti dan Ia mampu membuktikan bahwa pilihannya adalah tepat. Nay berhasil membungkam UI yang dulu menolaknya. Sebab Ia sempat ditawari oleh Pembantu Dekat Fakultas Hukum UI untuk melanjutkan kuliah S2 di UI ketika juara 1 Lomba debat Mahkamah Konstitusi. Satu hal yang membuat Nay selalu bersemangat dalam meraih prestasi-presatsinya. Ia mengatakan padaku “bungkam itu mati gaya, teriak itu kreasi”. “Sederhana itu biasa saja, tetapi akan menjadi luar biasa ketika kamu bisa meracik kesederhanaanmu”.
Satu hal yang tidak pernah aku lupakan dari percakapan siang itu, bahwa berproses dalam kuliah itu tidak selamanya terjebak diruang-ruang kelas. Ruang kelas akan hanya menjadi begitu usang, bangunan kosong tanpa isi  ketika kita  kita larut dalam keadaan kelas itu, ketika kita tidak larut dalam kelas itu maka proses dikelas itu akan menjadi atraktif dan ada proses dialektis yang jelas manfaatnya dalam proses penempaan yang selama ini kita cari-cari sampai ke bangku kuliah.
Obrolan ini pun mencapi ujungnya. Nay dan aku harus kembali pada kesibukannya masing-masing. 
kalau ingin kenal dengannya silahkan masuk disini nay

0 komentar:

Posting Komentar