Selasa, 10 Juli 2012

Rindu Swiss Van Java

Masjid Agung saat ini

Masjid Agung Tempo dulu







-->
Seharusnya aku menulis ini beberapa bulan yang lalu ketika aku merasakan moment ini lebih dekat dalam hal waktu, tapi tak apalah ada alasan yang akhrinya membangunkan ku untuk menulis. Entah kenapa dalam tidur yang cukup lelap, karena memang aku baru tidur 2jam  tiba-tiba aku terbangun dan terbayang-bayang oleh suasana ketika aku berada dalam kereta menuju Garut. Mungkin ini yang dinamakan rindu yang merasuk sampai mimpi. Entahlah aku tidak tau, tapi aku merasakan sangat jelas suasan pada waktu itu ketika kereta ekonomi Kahuripan, khas para mahasiswa berkantok cekak melaju menembus subuh diantara hawa dingin karena kereta melaju tepat dipunggung gunung-gunung di negeri parahiyangan itu. Pukul 00.00 WIB, kurang lebihnya waktu itu ketika kereta telah tiba di Stasiun Banjar. Indah sekali rasanya ketika para pedagang berkomunikasi dengan bahasa Sunda, bahasa daerah yang hampir 13tahun aku gunakan berkomunikasi dengan teman-teman sepermainanku. Aku pun mencoba menyapa dengan bahasa yang cukup lama tidak aku gunakan, kerena di Jember tak ada lawan bicaraku yang bisa menggunakan bahasa Sunda kecuali tukang Batagor dan Siomay di depan SMP 3 Jember itu. Bahasa Sundaku terlihat kaku, tanpa sadar lidahku keseleo mencampurnya dengan bahasa Jawa, sama seperti pertama aku di Jember me-mix bahasa Jawa dan Sunda. Berbicara bahasa daerah khususnya Sunda, ada semacam pertautan emosi. Karena aku biasa menggunakan itu dengan sahabat-sahabatku di Garut sehingga jelas ada potongan-potongan memori di masa lampau yang terbesit dalam ingatan ini. Kereta masih dengan tegarnya melaju melintasi kabupaten demi kabupaten. Banjar-Ciamis lalu Tasikmalaya.
kebun teh cikajang
Medengar stasiun Tasikmalaya semakin berdebar hatiku ini semakin dekat dengan kota lamaku, rindu sekali aku dengan kota itu. Satu tahun aku tidak pulang. Sejak hari itu, ketika aku bertengkar cukup hebat dengan Ayahku karena permaslahan yang sebenarnya hanya menonjolkan egoism belaka yang pada akhirnya aku muak, kecewa dan marah lalu aku memutusakan untuk tidak pulang ke Garut. Lebaran tahun 2010 pun aku lewatkan di Jember. Dan kini aku pulang mendekati lebaran pula di tahun 2011. Seiring berjalannya waktu kedewasaan pun bertambah oleh karena itu aku rasa tak ada gunanya menahan amarah, akhrinya aku pulang menemui keluargaku. Sudah pukul 03.00WIB.
Dari stasiun Tasikmalaya, peluit berbunyi nyaring menjadi pertanda kereta akan melanjutkan perjalanan menuju ke arah utara. Ya apalagi kalau bukan Garut, kota yang terkenal karena keindahan pemandangannya, mojang-mojangnya yang rupawan, kudapana berselera tinggi sampai-sampai orang Belanda ketika dulu menyebut Garut sebagai Swiss Van Java. Oh Garut memang luar biasa. Banyak kenangan yang kutinggalkan di kota itu. Aih, aku kelu jika harus mengingatnya. Apalagi satu nama itu yang menyita banyak pikiranku beberapa waktu lalu. Sudahlah.
Waktu itu aku masih saja duduk melamun memandangi kegelapan diluar jendela sana sambil membuka kembali memori-memori lama yang terekam. Garut, lama aku tak merasakan dingin kotamu itu. Kelibatan memori makin menjadi-jadi ketika aku merasakan hawa dingin yang khas dari kota Garut. Lalu aku keluar menuju pintu dekat kamar mandi memandangi lebih jelas kegelapan malam yang pada siang hari kita akan melihat daerah perbatasan Garut-Tasikmalaya yang juga jalan lintas selatan. Berkelok-kelok, dingin pula udaranya. Aku berada diketinggian, kereta tetap acuh dengan ketinggian yang curam. Hawa khas itu makin terasa ketika aku mencium kayu terbakar, wah khas sekali ini sudah sampai Cipeundeuy. Stasiun kecil d kecamatan Malangbong Garut. Meski stasiun itu kecil, kalau di Jember mungkin sama halnya seperti stasiun Tanggul tapi semua kereta berhenti disana sehingga kadang aku kalau naik kereta biasanya dari stasiun Cipeundeuy. Makin menjadilah perasaanku ketika aku membayangkan dulu Uwaku yang biasa aku panggil papah Edi mengantarkanku ke Stasiun itu lalu ditengah kembaliku yang cukup lama ini dia sudah tiada, dipanggil yang maha kuasa. Ah, aku banyak tertinggal cerita. Semoga kau bahagai di SANA, Pah.
kebun Teh di Garut
Ketika memasuki Garut maka kita akan tidak bosan-bosannya disuguhi pemandangan pegunungan yang indah, benar-benar indah. Tetapi karena kereta yang kutumpangi masuk Garut sekitar pukul 04.00 maka yang terlihat hanya gelap, tetapi kegelapan itu yang menambah syahdu suasana apalagi kegelapan itu dipercantik oleh kerlip lampu-lampu dari rumah-rumah dibawah kereta yang kutumpangi melaju. Indah sekali.
Kereta masih saja melaju kadang meniumkan klaksonnya. Pikirku, kenapa harus pakai klakson toh tidak ada yang menyebrang atau menghalang-halangi, tiba-tiba pikiranku itu buyar ketika kereta memasuki statiun Warung Bandrek. Sungguh sangat mendalam aku dengan stasiun itu. Stasiun yang lebih kecil dari Cipeundeuy itu meninggalkan kisah yang tidak pernah akan kulupakan. Kamis 27 Juli 2009 di stasiun kecil itu aku meningjakan kakiku selangkah demi selangkah untuk menginggalkan Garut. Tanpa ada teman yang mengantar, orang tua yang menemani karena memang aku melarangnya. Aku duduk di bangku peron yang sampai saat ini masih sama posisinya. Pikiranku waktu itu benar-benar tidak karuan. Suasana distasiun itu benar-benar beralasan untuk tidak menahan air yang keluar dari mataku. Putri, Mamah, Ayah, teman-teman, kenangan itu berkecamuk, beradu dengan cahaya terang dari Timur, mimpi-mimpi dari Jember. Waktu itu yang menemaniku hanya sepi, nyamuk-nyamuk gunung yang rasuk darah, dingin yang menyekap. Aku tak bisa berkata apa-apa selain mencoba menuliskan sepotong suasanaku padawaktu itu. Benar-benar berat meninggalkan cinta yang tak tuntas.itu saja.
Aih, aku terbawa pada kenangan yang melankolis dimasa lalu. Tapi kereta tak peduli dengan ke mellow an ku. Kereta tetap tegar menerjang kabut, tidak hentinya meniupkan klakson dan tidak pernah lelah untuk mengantar para penumpangnya ditujuannya. Kuda besi ini benar-benar bermanfaat.
Tepat 04.30WIB kereta sudah sampai distasiun Leles. Waw.waw indah sekali udara subuh itu. Dingin, banyak orang yang mengantri mencari angkutan ke Garut kota. Meski masih subuh sepertinya tidak sulit menemukan angkutan kota yang membawaku ke rumahku. Antara Leles dan Garut kota mungkin kurang lebihnya 20km. tetapi pemandangan yang disungukan  luar biasa indah. Kalau bukan pada waktu malam, kita akan dengan mudah menemukan restaurant-restauran yang dibuat khas ala pedesaan dengan nasi liwetnya, sambal, ikan asin dan berbagai macam kudapan ala pedesaan. Garut memang menjual suasana yang asri, sejuk, sehingga banyak pelancong-pelancong dari kota besar khususnya Bandung dan Jakarta ketika hari libur memadati Garut untuk merasakan keasrian kota yang dijuluki kota Intan ini.
Sebelum aku pulang. Aku menyempatkan melewati sekolahku dulu, karena sekolah SMA ku dekat dengan terminal Guntur (terminal utama di Garut). Aku ingin memandangi sekolah yang dulu menjadi saksi ku berseragam putih abu-abu. Dulu nama SMA ku, SMA 2 Tarogong Kidul, kini SMA ku berganti nama menjadi SMA 6 Garut. Diubah berdasarkan berdirinya, berarti yang ke 6 di Garut. SMAku memang luar biasa kini sudah banyak berganti rupa dan semakin menjadi SMA favorit. Sayangnya aku masih terlalu pagi untuk menemui penghuni SMAku itu.
Sepertinya rindu pada orang tuaku sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi maka dari itu aku mencari angkotan kota yang menuju perumahanku di Perumahan Bumi Cempaka Indah. Perumahan yang dibangun pada tahun 1995 ini luasnya bisa sampai 70hektar. Perumahanku terbilang istimewa, meski 5Km dari kota tetapi hanya satu-satunya perumahan yang memilik angkot di Garut, yang lebih istimewanya lagi, letak perumahan ku berada di kaki bukit Karacak sehingga kalau malam hari bisa melihat pemandangan lampu-lampu Garut kota. Benar-benar indah tempatnya, cuman dinginnya itu bagiku yang terbiasa dengan panas, kadang benar-benar menyiksa.
Pengkolan


Aku sampai dirumha tepat pukul 5.30 WIB sepertinya feeling mamahku tidak pernah meleset. Meski aku tidak mengabari tapi Ia sudah tahu dan menantiku. Karena pada waktu itu puasa mamah tidak membuatkanku susu. Susu yang hanya mamahku bisa membuatnya. Enak sekali rasanya.
#sudah aku mau tidur lagi. Ide ku muncul diwaktu yang tidak tepat.

0 komentar:

Posting Komentar