![]() | |
| Masjid Agung saat ini |
![]() | |
| Masjid Agung Tempo dulu |
-->
Seharusnya
aku menulis ini beberapa bulan yang lalu ketika aku merasakan moment ini lebih
dekat dalam hal waktu, tapi tak apalah ada alasan yang akhrinya membangunkan ku
untuk menulis. Entah kenapa dalam tidur yang cukup lelap, karena memang aku
baru tidur 2jam tiba-tiba aku terbangun
dan terbayang-bayang oleh suasana ketika aku berada dalam kereta menuju Garut.
Mungkin ini yang dinamakan rindu yang merasuk sampai mimpi. Entahlah aku tidak
tau, tapi aku merasakan sangat jelas suasan pada waktu itu ketika kereta
ekonomi Kahuripan, khas para mahasiswa berkantok cekak melaju menembus subuh
diantara hawa dingin karena kereta melaju tepat dipunggung gunung-gunung di
negeri parahiyangan itu. Pukul 00.00 WIB, kurang lebihnya waktu itu ketika
kereta telah tiba di Stasiun Banjar. Indah sekali rasanya ketika para pedagang
berkomunikasi dengan bahasa Sunda, bahasa daerah yang hampir 13tahun aku
gunakan berkomunikasi dengan teman-teman sepermainanku. Aku pun mencoba menyapa
dengan bahasa yang cukup lama tidak aku gunakan, kerena di Jember tak ada lawan
bicaraku yang bisa menggunakan bahasa Sunda kecuali tukang Batagor dan Siomay
di depan SMP 3 Jember itu. Bahasa Sundaku terlihat kaku, tanpa sadar lidahku
keseleo mencampurnya dengan bahasa Jawa, sama seperti pertama aku di Jember me-mix bahasa Jawa dan Sunda. Berbicara
bahasa daerah khususnya Sunda, ada semacam pertautan emosi. Karena aku biasa
menggunakan itu dengan sahabat-sahabatku di Garut sehingga jelas ada
potongan-potongan memori di masa lampau yang terbesit dalam ingatan ini. Kereta
masih dengan tegarnya melaju melintasi kabupaten demi kabupaten. Banjar-Ciamis
lalu Tasikmalaya.
![]() | |
| kebun teh cikajang |
Medengar
stasiun Tasikmalaya semakin berdebar hatiku ini semakin dekat dengan kota
lamaku, rindu sekali aku dengan kota itu. Satu tahun aku tidak pulang. Sejak
hari itu, ketika aku bertengkar cukup hebat dengan Ayahku karena permaslahan
yang sebenarnya hanya menonjolkan egoism belaka yang pada akhirnya aku muak,
kecewa dan marah lalu aku memutusakan untuk tidak pulang ke Garut. Lebaran tahun
2010 pun aku lewatkan di Jember. Dan kini aku pulang mendekati lebaran pula di
tahun 2011. Seiring berjalannya waktu kedewasaan pun bertambah oleh karena itu
aku rasa tak ada gunanya menahan amarah, akhrinya aku pulang menemui
keluargaku. Sudah pukul 03.00WIB.
Dari
stasiun Tasikmalaya, peluit berbunyi nyaring menjadi pertanda kereta akan
melanjutkan perjalanan menuju ke arah utara. Ya apalagi kalau bukan Garut, kota
yang terkenal karena keindahan pemandangannya, mojang-mojangnya yang rupawan,
kudapana berselera tinggi sampai-sampai orang Belanda ketika dulu menyebut
Garut sebagai Swiss Van Java. Oh Garut memang luar biasa. Banyak kenangan yang
kutinggalkan di kota itu. Aih, aku kelu jika harus mengingatnya. Apalagi satu
nama itu yang menyita banyak pikiranku beberapa waktu lalu. Sudahlah.
Waktu
itu aku masih saja duduk melamun memandangi kegelapan diluar jendela sana
sambil membuka kembali memori-memori lama yang terekam. Garut, lama aku tak
merasakan dingin kotamu itu. Kelibatan memori makin menjadi-jadi ketika aku
merasakan hawa dingin yang khas dari kota Garut. Lalu aku keluar menuju pintu
dekat kamar mandi memandangi lebih jelas kegelapan malam yang pada siang hari
kita akan melihat daerah perbatasan Garut-Tasikmalaya yang juga jalan lintas
selatan. Berkelok-kelok, dingin pula udaranya. Aku berada diketinggian, kereta
tetap acuh dengan ketinggian yang curam. Hawa khas itu makin terasa ketika aku
mencium kayu terbakar, wah khas sekali ini sudah sampai Cipeundeuy. Stasiun
kecil d kecamatan Malangbong Garut. Meski stasiun itu kecil, kalau di Jember
mungkin sama halnya seperti stasiun Tanggul tapi semua kereta berhenti disana
sehingga kadang aku kalau naik kereta biasanya dari stasiun Cipeundeuy. Makin
menjadilah perasaanku ketika aku membayangkan dulu Uwaku yang biasa aku panggil
papah Edi mengantarkanku ke Stasiun itu lalu ditengah kembaliku yang cukup lama
ini dia sudah tiada, dipanggil yang maha kuasa. Ah, aku banyak tertinggal
cerita. Semoga kau bahagai di SANA, Pah.
![]() | |
| kebun Teh di Garut |
Ketika
memasuki Garut maka kita akan tidak bosan-bosannya disuguhi pemandangan
pegunungan yang indah, benar-benar indah. Tetapi karena kereta yang kutumpangi
masuk Garut sekitar pukul 04.00 maka yang terlihat hanya gelap, tetapi
kegelapan itu yang menambah syahdu suasana apalagi kegelapan itu dipercantik
oleh kerlip lampu-lampu dari rumah-rumah dibawah kereta yang kutumpangi melaju.
Indah sekali.
Kereta
masih saja melaju kadang meniumkan klaksonnya. Pikirku, kenapa harus pakai
klakson toh tidak ada yang menyebrang atau menghalang-halangi, tiba-tiba
pikiranku itu buyar ketika kereta memasuki statiun Warung Bandrek. Sungguh
sangat mendalam aku dengan stasiun itu. Stasiun yang lebih kecil dari
Cipeundeuy itu meninggalkan kisah yang tidak pernah akan kulupakan. Kamis 27
Juli 2009 di stasiun kecil itu aku meningjakan kakiku selangkah demi selangkah
untuk menginggalkan Garut. Tanpa ada teman yang mengantar, orang tua yang
menemani karena memang aku melarangnya. Aku duduk di bangku peron yang sampai
saat ini masih sama posisinya. Pikiranku waktu itu benar-benar tidak karuan.
Suasana distasiun itu benar-benar beralasan untuk tidak menahan air yang keluar
dari mataku. Putri, Mamah, Ayah, teman-teman, kenangan itu berkecamuk, beradu
dengan cahaya terang dari Timur, mimpi-mimpi dari Jember. Waktu itu yang menemaniku
hanya sepi, nyamuk-nyamuk gunung yang rasuk darah, dingin yang menyekap. Aku
tak bisa berkata apa-apa selain mencoba menuliskan sepotong suasanaku padawaktu
itu. Benar-benar berat meninggalkan cinta yang tak tuntas.itu saja.
Aih,
aku terbawa pada kenangan yang melankolis dimasa lalu. Tapi kereta tak peduli
dengan ke mellow an ku. Kereta tetap tegar menerjang kabut, tidak hentinya
meniupkan klakson dan tidak pernah lelah untuk mengantar para penumpangnya
ditujuannya. Kuda besi ini benar-benar bermanfaat.
Tepat
04.30WIB kereta sudah sampai distasiun Leles. Waw.waw indah sekali udara subuh
itu. Dingin, banyak orang yang mengantri mencari angkutan ke Garut kota. Meski
masih subuh sepertinya tidak sulit menemukan angkutan kota yang membawaku ke
rumahku. Antara Leles dan Garut kota mungkin kurang lebihnya 20km. tetapi
pemandangan yang disungukan luar biasa
indah. Kalau bukan pada waktu malam, kita akan dengan mudah menemukan
restaurant-restauran yang dibuat khas ala pedesaan dengan nasi liwetnya,
sambal, ikan asin dan berbagai macam kudapan ala pedesaan. Garut memang menjual
suasana yang asri, sejuk, sehingga banyak pelancong-pelancong dari kota besar
khususnya Bandung dan Jakarta ketika hari libur memadati Garut untuk merasakan
keasrian kota yang dijuluki kota Intan ini.
Sebelum
aku pulang. Aku menyempatkan melewati sekolahku dulu, karena sekolah SMA ku
dekat dengan terminal Guntur (terminal utama di Garut). Aku ingin memandangi
sekolah yang dulu menjadi saksi ku berseragam putih abu-abu. Dulu nama SMA ku,
SMA 2 Tarogong Kidul, kini SMA ku berganti nama menjadi SMA 6 Garut. Diubah
berdasarkan berdirinya, berarti yang ke 6 di Garut. SMAku memang luar biasa
kini sudah banyak berganti rupa dan semakin menjadi SMA favorit. Sayangnya aku
masih terlalu pagi untuk menemui penghuni SMAku itu.
Sepertinya
rindu pada orang tuaku sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi maka dari itu aku
mencari angkotan kota yang menuju perumahanku di Perumahan Bumi Cempaka Indah.
Perumahan yang dibangun pada tahun 1995 ini luasnya bisa sampai 70hektar.
Perumahanku terbilang istimewa, meski 5Km dari kota tetapi hanya satu-satunya
perumahan yang memilik angkot di Garut, yang lebih istimewanya lagi, letak
perumahan ku berada di kaki bukit Karacak sehingga kalau malam hari bisa
melihat pemandangan lampu-lampu Garut kota. Benar-benar indah tempatnya, cuman
dinginnya itu bagiku yang terbiasa dengan panas, kadang benar-benar menyiksa.
![]() |
| Pengkolan |
Aku
sampai dirumha tepat pukul 5.30 WIB sepertinya feeling mamahku tidak pernah meleset. Meski aku tidak mengabari tapi
Ia sudah tahu dan menantiku. Karena pada waktu itu puasa mamah tidak
membuatkanku susu. Susu yang hanya mamahku bisa membuatnya. Enak sekali
rasanya.
#sudah
aku mau tidur lagi. Ide ku muncul diwaktu yang tidak tepat.











0 komentar:
Posting Komentar