Senin, 04 April 2016

Malam semakin lugu, kita yang menolak Bodoh



*memungut sisa ingatan diskusi antara saya dan Ikhsan




Malam semakin lingsir. Dinding kamar tampak kusam, cahaya neon 15 Watt tak mampu terlalu kuat melawan malam, kamar berukuran 3x3 tampak redup, sedikit panas namun ada harapan dari mata mulut jendela yang menganga membiarkan angin malam Jakarta masuk, mengganti udara bebal sisa-sisa lelah selepas bekerja. Malam itu, saya berkunjung ke Kost karib di Duren Tiga. Kawan karib yang berasal dari kubangan sama di Jember dulu. Iya Dulu. Seolah, waktu itu telah jauh beranjak meninggalkan semangat-semangat tulus untuk terus belajar dan berkarya. Ah sudahlah. Jakarta atau Jember hanya perkara ruang. Waktu dan semangat tetap sama, meski kadang direcoki oleh kepentingan-kepentingan untuk menjadi manusia modern, bekerja dan berdasi. Kami telah lebih dulu melepaskan embel-embel simbolik yang penuh kooptasi.

Malam itu, diawali dari obrolan kawan lama yang sudah sebulan tidak berjumpa, padahal kost saya dan ikhsan hanya selemparan batu saja, Superman yang melempar batunya. kesibukanlah yang membuat satu sama lain tidak bisa dengan serta merta berjumpa setiap saat. Di kost Ikhsan ada juga karib saya, Wishnu dan Adjie, pun keduanya berasal dari kubangan yang sama seperti Ikhsan dan saya.
Malam semakin membawa pada obrolan yang lebih serius, ketika Wishnu lebih memilih kencan dengan pacarnya sedangkan Adjie lebih memilih onani di kamarnya. Saya berada dalam obrolan sentimentil, diskusi dipinggiran kota Metropolis.

Saya bertanya pada Ikhsan soal hubungannya dengan perempuan yang selalu menantinya di Jember sana, panggil saja perempuan itu Kelincik (pakai K). Raut wajahnya nampak lebih serius, pandangannya lebih tajam memperhatikan kata-kata yang saya ucapkan. Ia sepertinya tidak ingin membicarakan hal tersebut lebih dalam. Sampailah muara diskusi ini pada yang sifatnya lebih aksiologis dan ontologis. Diskusi makin filosofis ketika, perkara perempuan coba diterjemahkan tidak bagaimana melakukan aneksasi, kolonialisasi pada kaum hawa. Tidak. Namun lebih reflektif,
“apa itu lelaki, fin? Bagaimana jika  kelamin (sebagai Pembeda) tidak ada? Lalu bagaimana kita menyebut diri sebagai lelaki? Tanyanya dengan penuh penekanan.


Tentang Kesatria yang Terlupakan
      “apa itu lelaki, fin? Bagaimana jika  kelamin (sebagai Pembeda) tidak ada? Lalu bagaimana kita menyebut diri sebagai lelaki? Tanyanya dengan penuh penekanan.
Diskusi tersebut coba membuka paradigma baru tentang kelelakian yang diyakin oleh masing-masing dari kami. 

      Pertanyaan itu yang diutarakan sebagai pemantik diskusi panjang. Kami mencoba mengurai makna lekaki itu apa? Kriteria menjadi lelaki itu adanya dititik mana dan apa?
“Kesatria, jiwa kesatria lah yang dapat menyimbolkan kami sebagai seorang lelaki” kata kunci yang coba kami urai pertama adalah kesatria. Namun bagaiaman kita menjadi kesatria? Apakah dengan menjadi sosok yang biasa ditulis di Hipwee “ 11 syarat menjadi lelaki sejati”. Hallah..
Diskusi mengalir, Ksatria seperti wujud dari capaian terbaik menjadi lelaki. Kemudian muncul pertanyaan,

 apakah seorang lelaki agar menjadi kesatria, dia harus kaya? Disukai banyak lawan jenisnya? Haibat dan segala megalomaniak lainnya?
Kami coba mengurainya kembali, lalu kestria apakah sebegitu tidak adilnya bagi orang-orang yang tidak ganteng, tidak kaya, tidak sempurna (kaum difabel)?
Apakah mereka tidak punya kesempatan menjadi kestria? 

Kembali pada esensi diawal, Kesatrian bukan lagi tentang hal-hal yang bersifat Ontologis, namun lebih aksiologis. Kesatria dalam pemaknaan Ontologis (penampakan) lebih pada ia ada sosok yang telah selesai pada makna Ksatria dalam pengertian yang lebih aksiologis (tentang nilai), kemudian menjadi being dan existence adalah konsekuensi ketika tahapan aksiologis telah paripurna dimaknai. Artinya Kesatria adalah sikap!
Kemudian, pertanyaan selanjutnya sikap apa yang membuat lelaki menjadi Kesatria? (sekali lagi, singkirkan jenis kelamin, singkirkan pembeda lainnya)

Pertama kali, kami menemukan bahwa lelaki yang berjiwa kesatria itu dibangun dari pondasi, ia bisa memilih bukan memutuskan. Memilih ialah kondisi ada lebih dari satu hal yang bisa menjadi pembandingnya sebelum ia menentukan pilihannya. Maksud dari diskusi tersebut, kondisinya bukan serta merta dalam memusutkan tanpa pilihan terlebih dahulu.

          Sebelumnya agar lelaki mendapatkan pilihan, ia harus melakukan penaklukan atau perjuangan. Pilihan yang didapat oleh lelaki tidak alih-alih datang dari langit tanpa perjuangan. Artinya, sifat lelaki adalah berjuang adalah step menuju lelaki sebagai Ksatria
Penaklukan tidak hanya perkara bagaiaman lelaki ‘menaklukan lawan jenisnya’. Karena lekaki kesatria tidak tersekat pada bagaimana ia menjadi existance ketika sebatas menjadi penakluk perempuan. Menaklukan dalam pengertian yang universal, melawan ego, melawan power will. Minimalnya ada 3 pilihan krusial dalam hidup lelaki untuk bisa dikatakan Ksatria.
1.      Pilihan untuk menentukan jalan hidup
2.      Pilihan untuk menentukan ruang dimana meraih kejayaan (harta dan tahta)
3.      Memilih untuk menentukan pasangan hidup untuk mereplikasi diri (mencari keturunan)

  Menurut Nietzche, bahwa hakikat tedalam dari ada (being) adalah kehendak untuk berkuasa (Power Will). Singkatnya, kehendak untuk berkuasa adalah hakikat dari dunia, hidup dan ada. Kehendak untuk berkuasa adalah hakikat dari segalanya. Lelaki (manusia) tidak jauh berbeda seperti binatang, keduanya memiliki kekuatan untuk menggapai Power Will-nya. Namun, dijelaskan oleh Nietzche bahwa yang membedakan lelaki (manusia) dengan binatang, manusia mempunyai potensi untuk mengatasi diri dan mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri. Ditahap tersebut seorang lelaki telah meningkatkan kualitas dirinya untuk menjadi sosok Ksatria. Sederhananya, mengelola ego dan hasrat agar tidak jauh menyerupai binatang.
Baiklah, Memilih saja tidak cukup karena memilih adalah lantai dasar dari beberapa lantai untuk meraih Jiwa Ksatria. Lelaki tidak selesai begitus aja dalam pemilihannya namun harus mengelola pilihannya tersebut. Kami menemukan tahap berikutnya untuk menjadi lelaki Ksatria, ada tiga hal yang menjadi modal penting. Dimana tiga hal tersebut  saling berkaitan dan tidak bisa dipilih salah satunya saja yaitu:

1.      Lelaki harus bertanggung jawab
Bertanggung jawab pada pilihan adalah sikap awal dari Ksatria. Pemaknaan bertanggung jawab tersebut bahwa lelaki sadar bahwa pilihannya memiliki konsekuensi, sehingga dalam memilih lelaki tidak seporadis. Misalnya dalam memilih pasangan hidup,  lelaki tidak hanya melihat perkara sexualitas lawan jenisnya saja namun adalah konsekuensi yang sudah tergambarkan dimasa yang akan datang. Sederhananya Lelaki diposisi yang bertanggung jawab seperti seorang sutradara membuat film, sang sutradara sudah memiliki gambaran-gambaran jalan cerita film tersebut kemudian mengelolanya dengan jenius. Konflik-konflik dalam hidup yang dilalui dikemudian hari adalah serangkaian pemanis cerita. Konsistensi dalam pilihan termasuk menjadi tanggung jawabny.

2.      Lelaki harus berani
Dalam posisi ini, Lelaki seperti Nahkoda ditengah Badai di samudera lepas. Sang Nahkoda harus berani dalam menentukan keputusan yang tepat, tidak tergesa-gesa dan tegas. Keberanian itulah yang membawa lelaki pada dua sisi yang harus siap ia hadapi, berani diluar zona nyaman atau berani dalam zona nyaman karena keduanya memiliki ruang uji yang sama-sama mengerikan. Lelaki pun memiliki keberanian dalam menentukan pilihan dan sikap, ia tidak akan menggantungkan pada sikap tanpa pilihan. Iya atau tidak. Tony Blair mantan Perdana Menteri Inggris pernah mengatakan, seni dalam kepemimpinan adalah berani memilih, memilih ‘ya atau tidak’. Tapi pemimpin harus siap dengan pilihan tidak. ‘Tidak’ dimaknai bukan hanya sebatas denial terhadap yang ia tidak suka namun juga penolakan yang ia suka. 

3.      Bijaksana adalah salah satu kunci menjadi Lelaki
Menjadi bijak tidak semata harus tampil seperti Dalai Lama atau memilih jalan Ahimsa Mahatma Gandhi. Menjadi bijak bukan berarti harus secerdas Einstein. Kami merasa itu tidak perlu. Seorang Jenghis Khan yang membantai seluruh penduduk desa di India pun tetap memiliki hak dan kesempatan menjadi bijak. Artinya menjadi bijak tidak harus menjadi siapa dan apa. Menjadi bijak adalah pilihan dan sikap dari penerimaan-penerimaan yang terdapat dalam kehidupan ini untuk kemudian menyikapinya dengan pilihan sikap yang dapat diterima sebagai pilihan paling baik meski tidak terasa menyenangkan. Lelaki yang menuju tahapan ksatria akan menapaki tahapan menjadi bijak. Bijak tidak membiarkan perempuannya menunggu atau bijak tidak menyikapi gejolak dalam kehiduapan keseharian.
     Kebijaksanaan dibangun dari prespektif yang Imparsial. Artinya melihat segala sesuatu secara menyeluruh, tidak tersekat-sekat pada egosentris kedirian, sebatas mempertahankan eksistensialismenya. Pondasi dari kebijaksanaan adalah sikap jujur, menahan diri agar ego tidak berkuasa dan prespektif yang tidak parsial.

Tahapan Nirwana
         Menjadi ksatria seperti manusia mencari surga. Tidak ada parameter yang pasti dan sahih sampai di surga mana kita akan berada. Tidak juga dengan manusia berbuat baik akan sampai pada surga yang diharapkan. Menjadi ksatria bukanla intrepretasi dari diri sendiri, tentunya hanya kental pada nuansa subjektifitas saja. Ksatria adalah tentang penilaian, mereka yang menilai bukan saya sebagai individu. Iya bukan saya. Semua serba imaterial, tidak berwujud namun dapat dirasakan, seperti oksigen. Kami sendiri pun menyepakai tahap ksatria adalah dimana posisi ego sebagai individu dapat ditaklukan oleh si lelaki itu sendiri. Artinya bukan seberapa banyak perempuan yang dapat ia tiduri atau sebera sering berganti pekerjaan atau seberapa banyak harta yang ditumpuk. Bukan. Namun semua itu seberapa berkuasa diri lelaki sebagai manusia pada egosentrisnya.
Diskusi terus berlanjut dan semakin dalam. Ikhsan bertanya,
apa cukup lelaki menjadi ksatria?

         Tentu tidak cukup. Apalah arti ksatria jika ia hanya dirundung akan penderitaan kesendirian yang tidak berkesudahan.  Ia harus menjadi manusia dalam pengertian yang paling esensial, ditemani dan mereplikasi diri. Berkerluarga dan melanjutkan keturunan. Ksatria harus menjadi raja.
Lelaki sebagai ksatria harus menjadi raja. Raja harus mempunyai istana dan mahkota. Oleh karena itu. Pernikahan adalah wujud paling logis sebagai seremonial sang lelaki untuk menjadi raja. Lebih tepatnya dinobatkan sebagai raja. Proses pernikahan didapat dari proses yang terdahulu. Menaklukan kemudian memilih setelah itu bertanggung jawab, berani dan bijaksana dalam pilihannya.
Lelaki akan pada tahap itu setelah ia sadar akan pilihannya dan menyematkan pada satu pilihan yang paling baik. Kali ini, pilihannya bukan perkara pekerjaan atau jalan hidup namun pilihan yang akan disematkan pada sosok lawan jenis mana yang akan mendampinginya. Dalam hal ini, kami bersepakat bahwa perempuan bukan lagi tulang rusuk yang berada di titik simetris lelaki.  Namun perempuan adalah mahkota lelaki. Mahkota sebagai manifestasi paling nyata dari kehormatan, kewibawaan dan kelayakan manusia  berjenis lelaki pantas disebut sebagai lelaki ksatria yang sahih menjadi raja.

        Kenapa perempuan adalah mahkota. Karena perempuan ‘didapat’ dari proses penaklukan eksternal dan internal si lelaki. Bagi perempuan feminis mungkin tidak sepakat, tidak apa. Sekali lagi ini hanya diskusi dari dua lelaki maskulin pemegang teguh sistem Patriarki. Perempuan adalah kerhomatan merupakan esensi paling dasar bahwa lelaki harus bisa bertanggung jawab pada pilihanya, pilihannya mempersunting perempuan tersebut menjadi mahkotanya, termasuk mengelola kerajaannya untuk bisa menjadi kerajaan yang berkembang dan maju. 
Survival dan Replikasi

        Dalam tahapan dari awal yaitu penaklukan sampai menjadi raja adal tool untuk ‘bertarung merebut nilai dari Ksatria. Menurut Freud, dua hal yang dialami manusia adalah replikasi yaitu melanjutkan keturunan dan survival bertahan hidup. Dua hal tersebut dibangun dari pondasi-pondasi yang kuat.
        Pemahaman replikasi bahwa manusia dihadapkan  pada pilihan  berpasangan agar memiliki kemampuan mempertahankan keturunan. Penyatuan lendir akan menghasilkan keturunan, begitu sederhananya. Namun tidak serta merta naluri kebinatangan tetap dipertahankan, seperti yang diterangkan oleh Nietzche diawal bahwa yang membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuan mengelola  keinginan. Ora ngasal lidig-lidig, enak! Begitu kalau kata kawan-kawan Lidig Mania

       Dalam replikasi harus memperhatikan bibit bobot dan bebet. Terdengar klasik namun itu parameter yang paling sederhana dari petuah tetua dulu. Baiklah. Si lelaki akan melirik perempuan yang secara seksualitas menarik, naluri kebinatangan manusia yang digunakan. Perempuan yang mencolok. Berdada besar, cantik, berbokong besar atau apalah itu sesuai kriteria masing-masing. salah, lepaskan salah dan benar. Namun yang pasti itu pilihan yang mendasar.

        Kemudian manusia akan pada tahapan survival. Beranak pinak saa tidak cukup namun juga perlu bertahan hidup untuk meraih kejayaan atau alasan-alasan lainnya. Oleh karena itu, mengapa kita perlu sehat, perlu cerdik dan perlu bekerja. Semua agar kita sebagai manusia bisa bertahan, kalau kata Makoto Shihio (tokoh dalam anime Samurai X) “ yang kuat akan bertahan, yang lemah akan musnah”. Terdengar agak fasis dan tidak humanis namun lihatlah lebih realistis. Bahwa hukum alam akan menyeleksi pihak-pihak yang lemah. Hukum evolusi pun demikian. Artinya yang bertahan dari kehidupan saat ini adalah hal-hal yang memenangkan pertarungan. Kita hidup dari sperma yang menang dari miliaran sperma yang kalah. Bahkan dari tahapan paling dasar sendiri kita sebagai manusia adalah penakluk.

          Kembali pada persoalan bahwa manusia harus bertahan. Tentu dalam bertahan harus dibarengi dengan tool, yang dimaknai sebagai bekal menjalani hidup.  Contoh yang paling sederhana, kenapa kita harus berpendidikan tinggi? Tidak serta merta pendidikan sampai S3 atau Profesor hanya untuk menambah nama kita yang terpahat di pusara kelak. Bukan. Namun pendidikan mempengaruhi prespektif. Tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan, kecerdasan merupakan poin dasar dari prespektif yang dimiliki manusia. Pendidikan membawa manusia pada memahami dan pemahaman. Mengerti dan memaknai. Bukan sekedar ‘hafal tanpa esensi’. Bangku kuliah mengajarkan manusia untuk melihat sesuatu tidak tersekat pada ketidak tahuan. Karena bekal dasar untuk bertahan hidup adalah melihat persoalan secara menyeluruh bukan tersekat-sekat.  Itulah kenapa lelaki yang akan menjadi ksatria harus berpendidikan, tidak terkecuali pasangannya.

            Begitu pula kenapa perlu menjadi sehat dan perlu memiliki kelayakan dalam hal materi semua menuju pada alat, sarana untuk mencapai tujuan hidup yang makmur, bahagia dan bla.bla..
Lebih penting dari itu, sebagai lelaki adalah untuk meraih makna jiwa ksatria.
Lain daripada itu, perempuan yang akan (kelak) menjadi mahkota lelaki adalah perempuan yang terseleksi dari proses perjuangan sang lelaki, artinya perempuan-perempuan yang layak diperjuangkan.

        Baiklah. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui atau menyamakan pandangan kawan-kawan pembaca terkait definisi lelaki. Makna lelaki yang terdifini sebagai ksatria merupakan kesimpulan dari diskusi kami malam itu. Bukan pula untuk merasa paling tahu, hanya sebatas merasionalisasikan  bagaiamana, tahapan seperti apa yang harus dilalui oleh sesorang lelaki untuk mendapatkan nirwananya. Kami rasa para feminis akan berkerut dahi. Anggap saja, kami sedang menjadi ideal dengan definisi pemaknaan tersebut.


huftt, tak terasa pagi terlampau cepat mengkhianati...
Tabik!!!





Senin, 14 Maret 2016

Senja Tanpa Dosa

Pantai Pangandaran


Langit mendapuk hitam/ sebagai wakilnya//
Anak langit mursal/ mengganti temaram purwakala//
Mengahapus mantra-mantra /putus asa//
Kidung berirama//
Iblis berdansa//
Manusia menderita//
Persetan!/
Sedangkan/ panji mulai terkirai/tanpa kuasa//
Ada nyanyian penyambut perang /tanpa irama//
Menziarahi setiap kebenaran/ yang  telah menjadi pusara//
Dunia telah kehabisan makna//
Selebihnya//
Hanya senja /tanpa pemuja /yang tetap memperdaya//
Meski terbenam diujung samudera//
Layung  tanpa berdosa//

Sabtu, 12 Maret 2016

Kisah Cinta itu di mulai: Internazionale Milano



Istimewa


Teruntuk yang Semakin Menua

Tahun 1999, berawal dari perkenalan seorang kawan, aku tak begitu memperhatikan hanya memastikan bahwa ada yang khas dari nya.  Namanya Dika,  tetangga sebelah rumah ku di Garut. Ia yang memperkenalkanya pada ku, sampai akhirnya, aku jatuh hati sampai saat aku menulis tentangnya, saat ini.  Dika sering mengajak ku bermain sepakbola, ia pun sering bercerita layaknya anak-anak pada umumnya tentang idola-idola mereka. Awalnya, aku acuh tak ingin menanggapinya. Namun, hampir setiap hari kami bertemu, mengajari bermain sepak bola dan bermain pada umumnya anak-anak komplek. Yang khas dari Dika, ia sering sekali memaki baju berwarna garis biru dan hitam. Jersey Tim sepak bola Inter Milan. Tim yang kelas menjadi idolaku. Entah sampai kapan.

***
Pada 9 Maret 1908 sampai 9 Maret 2016, merupakan perjalanan panjang  dari sebuah cerita. Ada banyak sejarah yang tertulis. Aku mengikutinya sejak tahun 2002 tepatnya meski embrio cinta itu ada sejak tahun 1999. Tahun 1999, aku masih belum memahami sepak bola, saat itu hanya masih kelas 3 SD sedangkan kawanku, Dika, ia empat tahun diatasku.  Dika merupakan Interisti dan ia pun pemain sepak bola di blok tempat kami tinggal. Seperti kebiasan anak komplek lainnya, hampir setiap sore kami bermain sepak bola. Awalnya bertanding antar RW kemudian antar blok. Saat itu, tahun 2000-an, di Perumahan Cempaka Indah Garut, ruang terbuka untuk bermain anak-anak masih terlibang banyak. Saban sore biasanya anak-anak komplek dari total 8 blok berkumpul di lapangan besar dekat sekolah SD. Tidak hanya bermain sepak bola, ada yang bermain  layang-layang atau sekedar nongkrong sehingga suasanya begitu ramai.  Di sisi yang lain, ada anak-anak jagoan sepak bola yang bertanding antar blok mempertahankan kewibaan bloknya. Aku tinggal di blok 4, lawan yang kami anggap tangguh waktu itu blok 7 dan blok 6. Seru sekali, antusiasme sepak bola hari-hari itu sungguh menarik. Kick off dimulai jam 3 sore dan peluit akhir pertandingan saatt adzan magrib berbunyi, tidak ada rasa lelah. Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari. Masa kecil ku banyak dihabiskan di luar ruangan.
****
Kembali pada Inter Milan. Setiap pulang kerja, ayah tidak jarang membawa Tabloid Bola. Serie-A tahun-tahun itu sedang seru-serunya. Setelah kota Roma berpesta dua tahun berturut-turut, Lazio tahun 1999 dan As Roma tahun 2000 menjadi juara. Aku mulai membaca informasi soal Inter Milan, aku hanya mengenal sedikit nama dari Inter Milan, tentu Ronaldo selain itu ada Ivan Zamorano, Peruzzi, Javier Zanetti. Hanya itu saja. Kesukaan pada Inter Milan mulai tumbuh setelah aku dibelikan oleh Mamah jersey Inter Milan, tepatnya aku memaksa meminta untuk dibelikan, jersey bernama punggung Ronaldo, itu pun kekecilan.

Namun aku masih belum menjadi Interisti yang taat. Masih belum intens menonton pertandingan Inter Milan apalagi menambah pengetahun tentang siapa saja punggawa Inter Milan. Perlu waktu selama tiga tahun untuk menyadari bahwa Inter Milan merupakan tim sepak bola keren menurut versi ku.  Hal tersebut berawal saat ayah membawa pulang Tabloid Bola edisi hari Jum’at, hari Senin malam akan ada Big Match antara Inter Milan Vs AS Roma. Rasa kagum pada Inter sudah semakin tumbuh dari tahun 1999. Inter kala itu di tangani oleh Pelatih Argentina yang sebelumnya sempat membawa El Che , Valencia menjadi Runner-Up Liga Champions. 


Musim 2001/2002 benar-benar tidak akan pernah bisa aku lupakan. Pertandingan itu menjadi tonggak awal kecintaan aku pada Inter Milan. Menjadi lebih sungguh-sungguh mengidolai Inter Milan. Pada pertandingan itu, Inter Milan menang 3-1. Recoba memborong dua gol, tendagan bebasnya begitu indah. 1 gol tambahan Inter disumbangkan oleh Christian Vieri. Gol hiburan As Roma  disumbangkan oleh Totti. Pertandingan tersebut begitu membekas, Jonathan Zebina mendapat kartu merah karena memukul Recoba. Aku pun tidur dengan bahagia malam itu.  Aku pun mengingat dengan detail bagaimana pertandingan terakhir Inter Milan yang mana pertandingan tersebut menjadi penentuan juara. Alih-alih menang, Inter Milan justru dipecundangi oleh Lazio di laga terakahir. Gol Vieri dan Luigi DiBagio dibayar kebodohan Gresko, Gresko blunder dua kali sehingga 2 gol Karel Poborsky membobol gawang Toldo. Inter pun kalah, juara melayang Inter terlempar diposisi tiga klasemen. Juventus di Stadion Fruilli menang lawan Udinese. Trezeguet dan Del Piero menjadi mimpi buruk para Interisti. Pada pertandingan terakhir itu, Ronaldo menangis atas kekalahan tersebut. Ribuan Kilometer dari Italia, aku pun untuk pertama kalinya menangis karena alasan yang tidak ada hubungannya dengan ku sama sekali, alasan tim sepak bola keakungan kalah. 

Sejak saat itu, Aku mulai mencari tahu tentang Inter Milan, mencarinya dengan detail. Aku mulai membaca Tabloid Bola, setiap selesai Jum’atan aku ke loper korang. Berjam-jam membaca berita tentang Inter Milan. Tidak jarang mendapat teguran karena lebih sering membaca gratisan daripada membeli. Untuk beli Tabloid Bola jelas uang jajanku tidak mencukup. Hanya sesekali saja kalau ayah yang membeli. Aku tak kehabisan akal, maka cara yang terbaik untuk mendapatkan bacaan gratis, aku melobi temanku, Felix namanya. Ia selalu berlangganan Tabloid Bola. Aku membaca setelah ia membacanya. Setiap Minggu aku tidak ketinggalan tentang Inter Milan. Felix merupakan Milanisti yang baik. Tentu, uang jajan yang pas-pasan tidak akan sudi untuk dibagi hanya untuk koran, pikir aku waktu itu. Jika ada yang bisa dimaksimalkan maka tidak ada salahnya untuk diefektifkan. Hehe
****
Menjadi Interisti tidak mudah. Sering sekali aku mendapat bully-an karena Inter Milan merupakan tim papan atas yang sulit mendapatkan kemenangan. Dari tahun 1999 baru tahun 2009 aku bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa menjadi Interisti. Kala itu, tahun 2009/2010, Inter menjadi Treble Winners. Juara Serie-A, Coppa Italia dan Liga Champions. Aku mengalami situasi bersejarah, setelah  tahun 60an Inter mengalami situasi bersejarah lainnya. 

Namun perkara menjadi Interisti bukanlah sebatas berapa banyak Trophy yang dipajang di lemari koleksi Inter Milan. Bukan. Bukan hanya itu saja. Seiring waktu berjalan, aku terus mencari dan menambahkan keyakinan bahwa Inter Milan merupakan tim idola yang pantas untuk diidolai. Alasannya sederhana, aku ingin memilih apa yang aku pilih tanpa buta alasan. Harus ada alasan logis untuk setiap pilihan. Termasuk memilih untuk mengidolai Inter Milan, aku membaca sejarah pendirian Inter Milan, pada awalnya embrio Inter Milan adalah Ac Milan Cricket and Football. Namun kebijakan AC milan hanya untuk para pemain-pemain yang berasal dari Negara Italia dan Inggris. Muncullah kelompok-kelompok Internasionalis yang menginginkan siapapun bisa bergabung karena olaharga merupakan kegiatan universal tanpa tapal batas negara. Kemelut itulah yang melahirkan Inter Milan. Nama yang dipilih pun Internazionale Milano. Internasionale, beraroma kiri seperti Internasionale yang didirikan oleh Karl Marx. Selain itu, Inter Milan pun punya kepedulian sosial yang tinggi, tidak hanya itu Inter Milan pun ideologis. Inter Milan mendukung secara tidak langsung gerakan Anarko Zapatista  di Amerika Latin. Alasan-alasan itu lah yang menumbuh suburkan rasa kagum saya pada Inter Milan. Kalah atau menang adalah dinamika, namun Tim Sepak Bola yang mempunyai basis ideologis yang kuat bagi saya itu alasan yang kuat pula untuk tetap bertahan mengidolai Inter, meksi posisi Inter saat ini di musim 2015/2016 berada di urutan 5.

***
Memilih tim sepak bola tidak sepatas diehard fans tanpa alasan yang jelas. Perlu ada alasan termasuk argumentasi yang jelas. Itu yang saya pahami. Dalam setiap pilihan ada pencarian dan pengalaman, tim sepak bola yang dijadikan idola dipilih atas dasar feel dan soul. Sama seperti memeluk agama, tidak hanya alasan dogmatis, keturunn atau hanya menerima begitu saja namun ada proses pencarian dan pengalaman untuk memperkuat iman. Mungkin agak terdengar berlebihan, namun bagi ku itu adalah cara terbaik untuk bisa bertanggung jawab pada setiap pilihan meskipun tim sepak bola yang kita idolai harus jatuh ke Serie-C sekalipun. 

Forza Inter Milan!!!

Muram Tanpa Kata




Langit Jakarta/ semakin muram//
Lampu tak semua dinyalakan//
Hujan/ tak lagi ciptakan//
Yang tersisa/ hanya umpatan ditengah kegaduhan//
yang terdengar/ derit cacian//
tanpa peduli pada kebenaran//
ah/Jakarta/ Persetan//

Ada angin pancaroba  jatuh tanpa di undang//
Hadir menggugat ingatan//
Penuh tanya// berharap jawaban//
Apakah ada peduli yang tersisa/
saat kebanalan/
Menemukan makna yang benar?// katamu menahan kesal//
Setelah seharian bertarung  mempertebal keyakinan//.
Atau jangan-jangan/ telah sirna tanpa kesepakatan//
Meski ada penantian/ dari sekedar sapa apalagi cinta//

apa daya aku lengah/ tanpa aksara apalagi kata/
membiarkanmu tersandera/ dalam ceracau buta//


*Untuk manisku, yang sempat muram dan tetap manja.
Lelaplah
Esok aku hadir, meski pagi terlampau berkhianat!

Kamis, 10 Maret 2016

Surat Terbuka Untuk Mas Bebe: Ketika Perjuangan Harus di Definisikan Ulang




Teruntuk Mas Bebe di tempat nun jauh di mato
Apakah sampean tetap ginuk-ginuk dan toeng-toeng? Aku harap samepan sdh tidak toeng-toeng lagi. Baiklah. Lama kita tidak berjumpa, terakhir kita berjumpa saat pasukan Jenderal Zod menghancurkan desa kita di Krypton, rumah Jor-El yang pertama hancur lalu sampean lari ke Planet Namex sedangkan aku harus pindah ke Bumi. Heumm, Bumi yang absurd.  Lama sekali, sudah hampir 100 tahun cahaya kita tidak bertemu.
Bagaiamana kabarmu Mas Beib? Apakah badanmu sudah semakin hijau, aku rasa jangan terlalu sering panas-panas.  Jarang terlalu sering bermain dengan Picolo mas, karena itu hanya akan menganggu ngopi sore mu.

Aku di bumi seperti ini, hidup di kota yang samar, teramat sama membedakan mana kebanalan dan mana kebenaran. Semuanya serba tidak pasti, sempat tidak nyaman meski selebihnya menyenangkan, bahwa hidup adalah proses memilih, sama seperti saat sampean tinggal di Namek, berkawan dengan Picolo lalu mencoba ingin menjadi Hulk karena hijau tak selalu PKB. #Hallahhh.
Begini mas Beib. Sengaja aku tulis semacam surat kepada sampean terkait pertanyaan sampean kemarin. Aku kemarin sedang sibuk. Biasalah mas, meng-konspirasi-kan sesuatu yang peuh konspirasi, biar agak serius hidup ini meski sesekali harus kita tertawakan.
Pertanyaan mu, menurutku menarik. Meskipun sebenarnya biasa aja dan bisa aku jawab lewat social media yang diciptakan manusia Yahud (tanpa i). Namun aku ingin lebih dramatis dan sentimentil. Kali-kali lah,  seperti Pramoedya yang membalas permintaan maaf Gus Dus melalui surat terbuka.

Yang Abadi hanya Keragu-raguan

Haduuh, aku kok dari tadi tidak to the point ya! Oke.oke mas. Jangan sembur aku!
Siang itu, kira-kira Pukul 14.19 waktu Bumi, sampean bertanya pada ku, diawali dari narasi logik kemudian sampai pada pertanyaan yang sejujurnya membuat ku merefleksikan ulang.
“Kita sama tau klo org2 politik, opo sing nang dpr, pemerintahan, hukum iku akeh sing teko ekstra. Ketika ini negara gak diurus dgn baik sama mereka, atau mereka ga kerja maksimal, apa gak ada smcm dorongan/tekanan moral dr lembaganya dulu supaya bisa back on track? Misal kamu, kpn hari cerita betapa org2 yg kamu sempet kagum trnyata ga sebaik kamu kira. Pdhl ada yg mas2 mbak2mu di GMNI. Apa yg bikin mrk benar2 berubah? Duit okelah, kuasa, wanita, oke. Tp itu urusan personal. Andai kegakbeneran ini dilakukan kolektif, apa yg sebenarnya terjadi itulo. Pdhl kamu, aku jg yakin, andai sama yakin sama ajaran bungkarno, ga mungkin gini kan?” Aku cmn kepikiran.

Aku akan menjawab dari secuil yang aku tahu mas.
Sejatinya, dalam dunia politik dan pemerintahan tidak di kooptasi hanya oleh Ekstra, tapi dari aktivis gerakan, iya. Yang rata-rata kubangan berproses kawan-kawan tersebut bisa mulai dari UKM, Lembaga Mahasiswa, Komunitas dan tentunya Organisasi Mahasiswa Ekstra. Kita persempit ruang lingkup Ormerk, rata-rata Ormerk punya basis ideologi. Yang berbau sok nasionalis ada GmnI, yang kecenderungan sok Islamis ada PMII, HMI, IPNU, KAMMI, HTI, dll. Ada pula yang sok Kristen ada PMKRI untuk agama Katolik dan GMKI untuk Protestan. Yang berbau sok ke-kiri-kiri-an ada SMID kemudian jadi LMND dll. Aku rasa semua dari kita sudah jamak mendengar itu.

Lalu pertanyaanya kenapa mereka banyak yang masuk dalam kubangan yang sama pasca lulus kuliah. Alasannya tidak jauh dari khitoh, dasar yang sudah dipilih selama berproses di dunia yang penuh romantika kampus. Gerakan akan melahirkan gerakan. Alasan lainnya kenapa kok ‘mereka’ banyak di dunia yan serba tak pasti, yang bernama Politik. Karena memang mahasiswa-mahasiswa yang pernah berkecimpung dalam dunia gerakan tidak akan terlalu terkejut melihat situasi politis yang serba rumit dan unik tersebut. Meski tidak menutup kemungkinan bagi yang diluar mahasiswa gerakan untuk masuk dalam dunia politik. Pada intinya, dunia gerakan –tidak melulu dari Ormerk- merupakan wadah belajar untuk terjun ke dunia politik praktis.

Kontrol tanpa Pengontrol

Pertanyaannya mas Beib adalah, bagaimana mekanisme kontrol organisasi ketika kader/alumninya keluar jalur dari filosofi gerakan? Saya ingat sekali, ketika Anas Urbaningrum di cokok KPK. Bahwa KAHMI pun beraksi, melalui Mahfud MD, "Anas itu adik saya, junior saya, sebab itu saya berempati dan bersimpati. Tetapi saya tegaskan urusan hukum Anas itu tetap harus jalan," ujar Mahfud. Artinya mekanisme kontrol itu akan selalu ada dikalangan alumni-alumni yang pada umumnya telah membentuk organisasi alumni sendiri. GmnI mendirikan Persatuan Alumni GmnI, HMI mendirikan KAHMI, PMII mendirikan organisasi IKA PMII, UKPKM Tegalboto punya Preman Tegalboto dedengkot hariannya, Romdhi “almighty” Fatkrur Rozi. Artinya yang ingin aku katakan, mekanisme kontrol itu tidak lagi melalui kader-kader aktif yang sedang ber-rodinda (romantika, dinamika dan dielektika) gerakan. Mekansime kontrol sudah diakuisisi oleh sesama alumni.
  
Politik adalah Seni, termasuk Air Seni

Pertanyaan selanjutnya, mengapa banyak kader-kader idealis ketika berproses dalam gerekan mahasiswa menjadi sontoloyo ketika sudah berpolitik praktis? Diawali dari adigium, tidak ada yang abadi dalam politik selain kepentingan. Adigium tersebut seolah menjadi penyahih bahwa perjuangan tidak harus lurus. Seringkali banyak diantara kawan-kawan perjuangan yang keblinger akan kuasa bukan kuasa personal namun juga kuasa kolektif. Bagaiamana kepentingan kelompok terlalu jauh dominan sehingga kompromis terlalu banyak dilakukan. Dari kekuasaan kolektif-tentunya dibalut dengan jargon-jargon puitis yang mengatas namakan rakyat- terjadi pendistribusian kekuasaan pada kader-kader lainnya. Begitu yang terjadi di Demokrat pada era SBY, akhirnya terjadilah korupsi berjamaah di tubuh partai tersebut. Ideologi sering kali tidak dijadikan sebagai marwah gerakan namun hanya sebatas teks ideologi yang nihil praksis.

Ideologi Bung Karno hanya dekorasi cantik untuk rumah yang bernama Partai. Parpol telah mengalami dekadensi tujuan. Jangan bandingkan pada Pemilu pertama Indonesia tahun 1955, ketika itu tujuan berpolitik adalah menjadi negarawan yang luhur, sesuai apa yang dikatakan oleh Socrates, Politik merupakan pekerjaan suci. Lain dulu lain sekarang lain guru lain pula lakunya, hari ini tujuan berpolitik bukanlah untuk menjadi pengabdi tapi...ah tentu pahamlah. Bukan pula untuk melahirkan negarawan-negarawan, menjadi pengusaha mungkin iya.
Aku menjadi sedikit sentimentil ketika membicarakan hal tersebut, karena hadangan terbesar untuk terjun ke dunia politik adalah menanggalkan  perasaan. Hitam dan putih bukanlah kepastian, para politisi sepertinya terlalu banyak belajar teori Relativitasnya Einstein. Sangat relatif.
Kalau soal pertanyaanmu tentang Ibu, aku tak ingin menjawabnya karena aku tak punya komptensi memahami itu mas.

***
Sampai disuatu titik tertentu, aku baru menyadari bahwa sampean bukan ingin menjadi Hulk mas, tapi kamu telah menjadi Avatar. Avatar pengedali ceret.
Selamat siang mas Beib, salam untuk ShenLong. Jangan berebut bola naga. Namek tak selamanya hijau. PKB juga seperti itu ;p