Selasa, 24 Juli 2012

Aku Bukan yang Lain


Aku Bukan yang Lain!!!!!!!!!!

Bair,biarkan aku terbang,,tanpa kau mengikuti ku..
Sekali berarti,,tak ada yang mampu membunuh artiku...
Biar,,biar..aku melangkah tanpa mengikuti jejak mu...
Sekarang aku bkan elang kecil,,
Ya,,meski aku elang liar,peluru-peluru pemburu selalu mengintaiku
,aku akan tetap menegakan sumpahku,,,
Sumpah untuk semua kebahagiaan...
Bukan sumpah untuk tunduk pada kemunafikan...

Jika kau mau potonglah sayapku...POTONGLAH!!!!!!
Karena aku masih bisa lari untuk tetap pergi mencari sumpahku...
Karena sekali berarti sudah itu mati!!!!!
Jangan Pernah remehkan aku!!!!!!!!!




Masih ingat dalam bayangku ketika hampir cukup lama tertekan dalam kondisi yang tidak pernah baik dengan Ayahku. Aku teringat dengan kata-kata Mas Nuran, "laki-laki yang beranjak dewasa akan bersitegang dengan Ayahnya,itu hal yang wajar". Ia pun dulu seperti itu dengan Ayah yang Ia sayangi dan sempat menyesal ketika Ayahnya harus menginggalkannya selama-lamanya, Ia belum sempat lulus.
Itu cerita mas Nuran, yang aku anggap sebagai kawan sharing soal banyak hal yang sangat menyenangkan. cerita ku tidak demikian. Sejak aku tumbuh menjadi manusia yang dewasa. Aku berhadapan dengan ketegangan dengan Ayahku, banyak hal yang membuat kita menjadi tidak cocok, selain karena watak kita yang sama-sama keras, aku memang bukan orang yang suka harus tunduk. Sedangkan Ayahku sangat otoriter, sampai pada suatu ketika, aku harus menuruti mintanya untuk kuliah di UJ (Universitas Jember) padahal aku sangat ingin kuliah di UGM, dan suatu malam itu, Ayahku memarahiku dengan kata-kata Sarkas yang membuatku sangat terkejut. Malam itu, aku hanya bisa terdiam dan mencoba untuk tertawa tanda perlawanan akan tetap berlanjut. Amarahku padanya benar-benar memuncak. Karena malam itu, Ayahku sama sekali tidak memberikan rasionalisasi kenapa aku harus menuruti pintanya.

Dalam amarah yang sulit padamnya dan aku sangat mengingat malam itu, aku mencoba memindahkan amarahku pada "semacam" puisi ini. Aku sangat menyesal mendegar kata-kata itu keluar dari mulut seorang yang sangat kuhargai sebelumnya, meski dari sejak dulu aku sering berbeda pendapat. Dan yang menjadi korbanya hanya mamahku yang menahan untuk bagaimana meredamkan keras kepala antara Anaknya dan Suaminya.

Sudah 4 Tahun kejadian itu berganti. Sudah tulisan ini ada. Sudah selama itu pula aku masih dalam kondisi yang sangat dingin dengan Ayahku. Beberapa kali aku mencoba untuk mencairkan suasana, dengan cara-cara aku sebagai anaknya tetapi tidak berdampak banyak. mungkin Ia sulit untuk mentransformasikan rasa sayangnya pada anaknya dalam bentuk tindakan, ya aku mencoba berpikir positif saja.

Aku tidak ingin menjadi Mas Nuran yang "menyesal" karena tidak sempat membahagiakan Ayahnya. itu saja yang ingin kukatan. Dengan cara sebaik baiknya dan sehormat-hormatnya, karena didarahku ada darahmu!!!

Aku Pun Ingin Beranjak, Tuhan!
















Baru saja lima hari puasa ini berlangsung tapi rasanya berat sekali. Banyak sekali godaan yang mengganggu, bukan soal makan atau minum, aku sudah biasa menahannya. biasanya pun makan hanya dua kali sehari. maklumlah penghematan sebagai anak kost, biasanya teman-temanku godaan yang paling tidak kuat itu rokok, jelas aku tidak sama sekali merasakan rokok sebagai hal yang terberat untuk menganggu puasa. lalu?
ehm, yang paling berat godaan puasa itu lihat cewek. Hadeh, itu berat sekali harus menahan nafsu birahi. hahha.

Menarik sekali perlawanannya. Harus menahan sampai ubun-ubun, tapi aku anggap itu semua sebagai bahan pembelajaran agar emosi dan nafsu duniawiku dapat terkontrol.

Satu hal yang sangat penting di bulan Ramadhan ini, aku ingin konsen untuk beribadah. Ya, kurang lebih 11 bulan aku banyak melakukan yang diluar jalurnya (baca dosa) _pastinya setiap manusia pasti akan senang berbuat dosa_ tapi untuk bulan Ramadhan ini aku ingin meninggkatkan iman dan taqwaku. Apakah aku terlalu berlebihan? terserah yang menilai. tetapi aku ingin mencapai ketengan batin, tanpa harus mengingat-ingat indahnya bercinta atau apapun itulah. Beberapa kali aku coba merenungkan itu semua dan yang tersisa sebatas penyelasan, penyesalan dalam arti yang masih sempit.

Bulan Ramadhan, yang katanya bulan suci atau kembali menjadi fitri dan berbagai macam sebutan lainnya. Dari bulan ini, aku ingin mencari momen menjadi manusia yang sadar akan  hadirnya Tuhan, setelah selama ini aku "tidak peduli' dengan perintahnya. Dan tentunya berharap akan berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Sungguh susah memang membangun konsistensi ini, aku hanya sebatas berusaha.

Sebelumnya aku sering melihat temanku yang rajin sekali beribadahnya dan itu semua berdampak pada tingkah lakunya yang santun. Aku pun mencoba menintrospeksi diri, kadang aku sangat liar dan banyak "bermain-main" dengan lawan jenisku. Sedangkan temanku begitu sopan dan benar-benar baik, meksi itu sebatas penglihatan. tapi aku yakin dia memang santun. Kondisi-kondisi seperti itulah, ketika aku banyak melewatkan waktu untuk beribadah dan mengingat Tuhan yang membuatku tidak tenang, terlalu mudah emosi. keadaan jiwa yang merasa tidak nyaman.

Beberapa waktu lalu aku memulai untuk beranjak. Mencari ketengan rohani, ya, konsekuensinya aku harus mengingat waktu, menjaga pandangan mata dan birahi. Yang terakhir itu yang sulit. Sial.

Diantara semua itu memang ada banyak tahapan yang harus dengan sabar kita lalui. Harapan terbesarku adalah bagaimana aku berusaha untuk terus meningkatkan religiusitasku tidak hanya sebatas ritual belaka, tetapi pemaknaan terhadap keyakinanku. Akan menjadi sia-sia jika aku menjalankan ritual tanpa oernah memahami hakikat utamanya. Dari semua itu aku benar-benar ingin mencari ketengan jiwa. Merasa damai jika aku "dekat" dengan penciptaku.

Perlu diketahui, aku selama ini belum khatam Al Qur,an, aku pun baca Qur'an tidak lancar, Sholat pun jarang sekali, kadang aku lupa bacaan Sholat. Bahkan aku hanya hafal beberapa surat-surat pendek. menyedihkan sekali. Ya Mudah-mudahan Tuhan baca ceracauku ini, semoga niatku ini tetap hidup sampai kapanpun. Amien.

Rabu, 11 Juli 2012

Obrolanku dengan Naila Cerewet


Telah muncul juara baru dalam perhelatan Debat Mahkamah Konstiusi  se Indonesia regional II, juara itu adalah Universitas Jember. Tentunya sangat membanggakan karena Universitas Jember mampu berbicara melalui prestasi di tingkatan nasional. Sukses itu tidak lepas dari peran serta tiga mahasiswa perwakilan Universitas Jember yang kuliah di fakultas hukum Universitas Jember.  Muhammad Indra Kusumayudha, Naila Rizqi Zakiah dan Gress Gustia Adrian Pah, semuanya adalah mahasiswa semester 4 Fakultas Hukum Universitas Jember.  Sebelumnya berbagai prestasi di tingkat nasional juga telah mereka torehkan salah satunya Juara I Lomba Debat Hukum Nasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Piala Bergilir Sri Soemantri dalam rangkaian Padjadjaran Law Fair 2012.
Salah satu dari tim juara itu bernama Naila Rizqi Zakiah, Nay- begitu aku biasa memanggilnya- adalah Mahasiswa yang telah banyak mendapatkan prestasi, tak berlebihan rasanya. Difakultas Hukum, kita akan biasa menemui Nay di ruang HTN (Hukum Tata Negara). Benar saja, siang itu aku bertemu dengannya didepan ruang HTN. Maka dengan gerak cepat aku “seret” dia ke tempat yang lebih enak untuk ngobrol-ngobrol soal prestasi-prestasi yang selama ini Ia dapat.
Tentunya tidak mudah mendapatkan semua itu, dari mulai Juara satu debat hukum nasional UNPAD, Juara MCC MK regional Jawa Timur , Juara Debat MK regional II,  juara 6 tingkat nasional dibawah UI, juara English debate se kab Jember  dan sempat beberapa kali mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri dari mulai Thailand, Malaysia, Jerman dan Austria. Diluar semua prestasinya itu tentu ada usaha dan kerja keras yang selama ini Nay  lakukan. Nay aktif di UKM fakultas. Disana Ia menempa diri untuk bisa berlatih debat, menulis karya tulis ilmiah dan berbagai macam kegiatan lainnya. Pada masa-masa awal proses kuliahnya, Ia pun sempat kesulitan dalam melakukan proses penempaan itu, Ia pun berusaha untuk melihat cara-cara yang dilakukan oleh para senior-seniornya. Membaca, berlatih dengan sangat giat, tetapi gagal. Nay merasa itu bukan cara yang tetap untuknya, akhirnya Ia memilih jalan sendiri “I have own way, mas” begitu menurutnya. Dengan kesenangan itulah Ia merasa lebih nyaman. Melakukan segala sesuatu dari hati (niatan) agar hasilnya maksimal
aku sempat terhenyak ketika perempuan berkacama itu mengatakan bahwa Ia tidak pernah punya target untuk meraih prestasi-prestasi itu, tanpa target saja sudah banyak ia dapat . Dengan tanpa target-target  itu aku sendiri menjadi paham bahwa memang tidak akan ada beban yang menganggu. Target atau tujuan yang dimaksud disini adalah ambisi yang berlebihan.  Ia melakukan itu dengan kesenangan dan keikhlasan saja sehingga tidak ada target-target yang membebani pada akhirnya. “let it flow“ begitu Nay menambahkan. Ia tidak pernah berambisi untuk menjadi juara atau apapun itu. Ia hanya sebatas melakukn itu secara maksimal dengan sedikit keberuntungan.
 “keberhasilan memang tidak hanya bertumpu pada factor luck aja. Orang yang pintar bisa kalah dengan orang yang beruntung”.  Tetapi bukan berarti keburuntungan dicapai dengan mudah, dengan berusaha itu kita akan memperoleh keburuntungan. Dan keberuntungan itu tidak dapat diprediksikan”. Memang benar, keberuntungan didapat dengan usaha yang selama ini kita lakukan. Aku pun teringat dengan mantra
Berbicara bakatnya di debat, “Aku dasarnya bukan orang yang mudah sepakat dengan pendapat orang. Aku puas ketika sesuatu yang orang tahu tidak tahu, sedangkan aku tahu. Aku tertarik banget. Bukan  berarti tampil berbeda, tapi itu semua menjadi pemacuku untuk berusaha lebih baik dan mencari hal-hal yang baru” dengan suara yang mengebu-gebu Nay mengambarkan dirinya, khas seperti Ia sedang berdebat.
Nay bercerita bahwa Ia diawal-awal Ia mengitu lomba ia kadang merasakan kesulitan bekerja sama dengan tim, karena hampir beberapa Ia mengkitu lomba dengan membentuk kelompok. “Pada awalnya aku suilit berkerja sama dengan timku. Kesulitanku bekerja sama dengan orang lain karena aku tidak melepaskan sisi egoisku. Aku merasa lebih bisa dari orang lain. Sejak  Praktek Peradilan Semu Mahkamah Konstitusib tahun 2011 lalu,  aku mulai belajar  bekerja sama dengan orang lain. Dari situ aku mendapat pelajara bahwa berkeja sama dalam tim itu memang perlu usaha untuk tidak memaksakan kehendak kita. Karena kebersamaan dalam tim itu lebih penting daripada egoisme  kita”
Matahari semakin terik dan mahasiswa mulai banyak keluar kelas, pertanda jam kuliah sudah habis, tetapi kita masih asik untuk melanjutkan perbincangan. Kali ini aku bertanya soal pilihan kuliahnya di Jember ini. Meski Nay asli Jember, pada awalnya Ia sama sekali tidak menempatkan Universitas Jember sebagai pilihan untuk melanjutkan studinya. Nay lebih memilih Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada. Benar kata pepatah lama, Jodoh memang tidak akan lari kemana. Setelah sempat beberapa kali ditolak untuk masuk Universitas idamannya itu, akhirnya Nay memilih Jember , itupun setelah dibesarkan hatinya oleh Ibunda  Nay, yang selalu Ia ceritakan sebagai obat yang paling mujarab dalam hidupnya.
Pilihan kuliah di Universitas Jember pada awalnya memang sangat sulit, sempat beberapa kali merasakan ketidaknyamannya, tetapi ia selalu berpegang teguh pada nasihat orang tuanya “ mutiara akan tetap menjadi mutiara dimanapun itu berada”. Hal itulah yang kemudia hari dirasakan olehnya bahwa pilihan di Universitas Jember adalah pilihan yang tepat untuk menuntut ilmu. Sebab semua bergantung dari usaha yang kita sendiri lakukan.
“no matter  where I  life, I’m still pearl” dengan percaya diri Nay meyakikan bahwa Universitas Jember adalah pilihannya yang tepat sekali dan Ia bangga sudah menjadi bagian dari Universitas Jember, sedikit banyak memang di Universitas Jemberlah, Ia ditempa menjadi mahasiswa yang berprestasi, diluar bakat-bakat yang ia miliki.
Semua itu terbukti dan Ia mampu membuktikan bahwa pilihannya adalah tepat. Nay berhasil membungkam UI yang dulu menolaknya. Sebab Ia sempat ditawari oleh Pembantu Dekat Fakultas Hukum UI untuk melanjutkan kuliah S2 di UI ketika juara 1 Lomba debat Mahkamah Konstitusi. Satu hal yang membuat Nay selalu bersemangat dalam meraih prestasi-presatsinya. Ia mengatakan padaku “bungkam itu mati gaya, teriak itu kreasi”. “Sederhana itu biasa saja, tetapi akan menjadi luar biasa ketika kamu bisa meracik kesederhanaanmu”.
Satu hal yang tidak pernah aku lupakan dari percakapan siang itu, bahwa berproses dalam kuliah itu tidak selamanya terjebak diruang-ruang kelas. Ruang kelas akan hanya menjadi begitu usang, bangunan kosong tanpa isi  ketika kita  kita larut dalam keadaan kelas itu, ketika kita tidak larut dalam kelas itu maka proses dikelas itu akan menjadi atraktif dan ada proses dialektis yang jelas manfaatnya dalam proses penempaan yang selama ini kita cari-cari sampai ke bangku kuliah.
Obrolan ini pun mencapi ujungnya. Nay dan aku harus kembali pada kesibukannya masing-masing. 
kalau ingin kenal dengannya silahkan masuk disini nay

Selasa, 10 Juli 2012

Sebatas Mencurahkan yang diketahui!


HABISI AKU JIKA KAU MAMPU  
# Di unduh dari Facebooku, Gulfino Che Guevarrato

Disekitar Senja
6 Juli 2012 pukul 20:52 ·



Dan sore Ini
ak hanya mencubit pipimu
tidak perlu berpelukan.
ingin rasanya bisa lebih dekat,
kepada hangat yang menentramkan

menyaksikan senja yg perlahan menyingsing
memandangi matahari bersalin lalu melahirkan gelap yang agak lain karena bintangnya

manisku,
harummu masih tersisa dibaju yg lama tak ku ganti ini
dan kau menghanyutkanku
sudah,
esok pagi kita harus memulai untuk saling menahan meski hanya beberapa waktu!
Setelah it bibirmu bsah kembali!

:D

Pengakuan bedebah
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 27 Juni 2012 pukul 23:44 ·
Dan Ia menjadi santapan amarah, membwanya dlm lembah yg dalam, kegelapan di bibirny tp hatinya tetap jadi peri kecil yg slalu hdp dlm stiap mite-mite kuno

aku, lelaki yg menandung dendam,
yg membwanya pd kesunyian
sampai tanpa sadar tawanya hlang,
air matanya bercucuran
lalu saling mengutuki waktu yg membwa pandangan mata menuju makian yg diperankan oleh kejijikan
maaf.manisku!

semua soal naluri yg saling di mengerti, tp malu untk sling mengungkapkan!
Dan smua hanya basa basi yg trlalu berlbhan untk skdar meyakinkan!
Kembalikan 'kejijikan' it lalu biarkan milky way menjadi saksi kta berjalan dalam gelap malam yg bsah!!!

Jember, 27 Juni, dlm kusut yg mencoba terurai'

#aku marah begitu sadar aku telah ditipu-rachel zadok


Sajak para "rebel"
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 11 Oktober 2011 pukul 6:01 ·

Bergeraklah robohkan kawan berduri..
Berteriaklah agar seantero bumi mendngar bhwa ada seorang messiah bru yg tak leleh dpanggang panasnya aspal.

Ini soal kesenangan, bkn soal perjuangan, krna bnyk d antara pejuang2 yg rebel,nanti ketika punggung tak bsa menegak harus dlupakan oleh seberapa sering dapur mengebul.
Biarkan.biarkan biarkan.
Semua soal kesenangan, bkn pula soal rakyat.
Rakyat hanya judul saja agar tak malu dkata agent of change.

Lalu Ini soal euforia, knpa pula harus berhenti berjuang ketika jadi sarjana, lalu malah duduk manis d dpn komputer, tak peduli dgn kegaduhan jaman, krna telah trhipnotis pkerjaan, meski lusa nanti kontraknya tak dperpanjang lalu melamar k dpr sbg pembwa amanat rakyat!shit!

Biarlah. Biarlah tak perlu d urusi,
penaku bsa meleleh terbkar panasnya aspal jika ku ikut2 kawan lamaku!

Celoteh Makan kerupuk d musim "kering''
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 10 Oktober 2011 pukul 16:12 ·

Hari ini memang langit sdh berseri. Meskipun tetap keras kepala tak mau memberi hujan pd kami. Sangat kering bhkan kering akan makna 'kepekaan'
Arrght
Sudahlah, ak tak ingin memaksa untk menuruti mauku, lbh baik ak makan kerupuk saja, krna harga beras mahal.
Sdangkan uang dr mamahku tak jua cukup.
Sudahlah tak perlu mengeluh pd pemerintah toh mereka tak tau apa artinya salah.
Apalgi marah pd Tuhan, krna memang ini sebuah ujian bg kami!
Tp
Kemarin, ak lhat PIZZA HUT buang limbah bkal cucian piring k sungai, ingn ku bkar rasanya warung mereka. Tak tau kalau kami harus mandi d sungai dan makan kerupuk krna dampak kekurangan air.
Sudahlah tak usah marah pd pemerintah, krna memamg mereka takut pd produk amerika it.apalg pd pizza hut, Meski kami berebut air comberan bkas mereka!

hari ini ak makan mewah dgn kerupuk rendang, tak ada daging sapi, krna sapi2 pd mati, ladang rumput sdh tdk ada berganti pabrik2 khas kota maju.
Sekali lg jgn marah pd pemerintah, marah saja pd hujan. Hujan tak memberikan kesemptan rumput hdp d tanah2 sekitaran pabrik yg dlu tmpt mayat buruh pabrik! Pemerintah bnr, meski kami harus d upah murah dan ketika kami tak mau tunduk harus dbunuh lalu dbuang d tanah leluhur kami!

Aih. Kenapa otakku selalu memprotes dan melawan, meski awalnya dr kering.kering krna kemarau, kering karena pemerintah tak pernh peka.
Ak tak brani menjawab krna mungkn makanku hnya kerupuk, harga nasi uduk sdh tak bsa ku beli dgn pemberian halal mamahku,entah kalo hasil korups ayahku!!!

Menantinya d stasiun Tugu
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 25 Juli 2011 pukul 21:29 ·
Kunanti kau dgn mata sayu.
D antara kursi2 peron yg sepi
pasti kau sangat lelah berdesak2n d antara ribuan penumpang!
Menantimu dstasiun tugu penuh harap.penuh cemas!
Tak kusangka kereta tak jg datang.
Mungkin lbh baik aku pulang dan melanjtkan mimpiku!
Biarkan qta akhri saja penantian menanti yg tak jg pasti.
Berhenti bercnda d antara kereta2 yg kusam.

Karena aku hrus melangkh trus ktimur!
D tempat yg menawarkan harapan!

Sajak Si Labil
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 23 Juli 2011 pukul 10:34 ·

Selalu saja tak pernah kuasa pda lembar2 sejarah
sejak langkahku terus bergerak. Sejak itu pula aku semakin lupa pada kesakralan sejarah!
Tp aku tetap tak kuasa menahan kelu jika harus membukanya kembali!
D antara kabut2 yg menyamarkan ku dalam ketiadaan,
aku selalu berharap matahari dan bulan menyatu dalam rima2 yg tidak labil membawa ku dalam indahnya malam.
Terbaring bersama sang tanda tanya menanti bintang jatuh.
Melukiskan kata dalam tindakan!
Tp entahlah, apa ku bsa seperti itu kontemplasi ku tentang sebuah makna tak pernah tuntas.meyakini cangkang2 busuk yg mudah pecah oleh senggolan tangan!
Smua terlalu abstark aku maknai.
Sampai2. Aku lupa bgaimana aku harus bercinta.
Sampai aku tau, aku telah menjadi manusia yg asing. Yg berjalan gontai dlm lorong pencarian yg sepi.senyap.pengap.gelap..hanya membuatku merenkönstruksi ulang'untk apa manusia hidup jika hanya menumpahkan darah sederajatnya?untk apa kita berTUHAN jika lupa sapa itTUHAN?
Untk apa.untk apa.untk apa?
Itulh knpa,?ak selalu ketakutan pd detak2 jantung yg mulai melambat sebelum ak menyentuhNYA

Pecahkan segala misteri waktu d antara bulan yg pucat!
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 18 Juli 2011 pukul 1:35 ·

Malam ini bulan tak begitu indah memancarkan warnanya!
Kulalui malam ku.duduk bersama teman2.menatapi indahnya sang luna yg mulai kelam d kuasai awan mendung!
Tanpa makna.hnya cnda tawa melepas keakraban dbalik rindunya kampung halaman. Sudah terlalu lama aku tak menyantap masakan mamahku.dan sejak saat it pula.ak lupa dinginnya kota ku!

Malam mulai bergegas lengser menuju pagi. Baru aku sadar. Kebiasaan ku merasakan dinginnya malam, menatap indahnya luna sdh lama aku tinggalkan pula. Wuh. Sdh bnyak berubah sepertinya aku ini. Menyamarkan diri dalam acuan sang tanda tanya!
Lalu mulai ku ingat dtk demi dtk memori d masa lalu ku.
Dan bru ku sadari pula. Beribu makna yg kusimpan hanya untuk merasakan nikmatnya menjadi anak manusia yg tdk lg ingusan!
Huft.malamku begitu padu dgn masalalu. Sang luna sdh hilang dr tatapan mataku tersingkirkan oleh kuasanya awan mendung. Betapa kelunya hati ini ketika aku menyadari tentang hubnganku dgn ayahku. Yg sampai skrng blm jg membaik. Memang aku terlambat. Terlambat bkn karna hubngan bilateral yg sdang membeku bgai Uni Soviet dan USA. Tp memang, misteri hdp yg slalu menyajikan tanda tanya yg membuatku tertahan-tahan untk dapat menikmati hangatnya teh hijau dkota intan!

Malam ku begitu syahdu.benar2 syahdu d antara lilin2 yg akan padam.d antara lantunan ayat2 Tuhan!

Sudah kurasai rindu mu d hati ni.mah!
ku rasai rindu ku pada hari2 d waktu lalu. Brsama2 untk tertawa dan menyibak misteri hati semua terangkum dalam malam yg bisu[]

mr.che

Pak tua yg absurd dan si muda yg gamang
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 13 Maret 2011 pukul 18:00 ·

Tentang pak tua dan si muda.
Sepi menyengat dalm benaknya.memutar blikan hdpnya yg melunta2 mencri arti hembus nafasnya.
Dan simuda yg berchaya dalam kulit2 kehitaman d gantng menjdi harga dirinya.yg panas tp tak pnh ingn dkata panas.

Semuanya.tentang pak tua dan si muda trlalu samar untk dgariskan dlm titik takdir.krn hdp ini soal hdp yg dhempas angin2 kemeleratan..
Ya.krna d antara tawa dan cnda.msh trbtasi olh tekstur otak yg tak pnh halus..
Pak tua dan si muda..
Bercerta tentng hdp yg tak pnh mati krna asanya tetap congkak dn melhat hembusan nafasnya dr sudut pandan batu berkilau.
Hahaha.

Kepada masa lalu
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 9 November 2010 pukul 23:32 ·

Teringat aku dngan nama2 kawanku yg trtlis d atas meja2 lusuh kelas qta.
Hari it sudah membias dgn waktu.
Berjalan maju dan pantang untk mundur!
Dan aku kini brada jauh dr pandangn mata masa remajaku!
Ku tinggalkanya dgn manis.meski tanpa ksah yg indah!
Merasakanya bkn lg bicara cinta antara aku dgn bnyk d antara dia.
Tp tentang memori2 yg mematri keindahan!
Aku brjalan menyusuri arah yg dberkn oleh tanda tanya.
Dan tdk pnh ingn kembli lg.
Karena ak sudah bhagia d hari yg menyatu kmbli!
Hentikan!
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 25 Oktober 2010 pukul 21:28 ·

Tak ada kuasa untk menahan.
Semua hanya kata2.ya jika kau memaknainya secra negatif!
Muntahkan tanya.tuding cerita palsu.
Dan kuberhenti menjawab.karena tdk ada lg kejujuran yg ku punya.
Semua teralih dr cinta menjd kepenatan!
Hentikan cerita.dan meminta hujan meski musim kemarau!
Ku tak tau lg.memulainya dr mana..
Dan tak mau ku akhri d tengah bdai yg msh jg menderu!
Cerita indah.hnya kepalsuan jika d pandangi oleh kecurigaan.
Maaf aku hanya binatang yg paling jalang.
Yg tak sanggup brkata benar.kta2 jujurku hnya kepalsuan yg semakn brjaya!
Akhrnya aku hanya bsa brharap.ini bkn malam terakhr qta!

DEMOKRASI DELIBERATIF


-->
Sepanjang masa kemerdekaannya, bangsa Indonesia telah mencoba menerapkan bermacam-macam demokrasi. Hingga tahun 1959, dijalankan suatu praktik demokrasi yang cenderung pada sistem demokrasi liberal, Sebagaimana berlaku di negara-negara Barat yang bersifat individualistik. Pada tahun 1959-1966 diterapkan demokrasi terpimpin, yang dalam praktiknya cenderung otoriter. Mulai tahun 1966 hingga berakhirnya masa Orde Baru pada tahun 1998 diterapkan demokrasi  ala rezim yang berkuasa yang belum bisa dikatakan sebagai demokrasi.  Sampai pada masa reformasi yang dianggap sebagai era titik terang dari demokrasi, setelah hampir 32 tahun demokrasi dibungkam oleh kepentingan penguasa ORBA. Wujud nyata demokrasi pada era reformasi adalah Pemilihan Umum secara langsung. Tidak hanya memilih Partai Politik, tetapi juga pemilihan presiden presiden dan kepala daerah.
Era refomasi merupakan  awal bagi pelaksanaan sistem demokrasi yang baik karena melibatkan rakyat dalam proses pelaksanaannya. Seperti contoh Pemilu, sejak pasca-kemerdekaan Indonesia masih mencari formulasi yang tepat untuk menjalankan metode sukses pemerintahan yang efektif , yang pada akhirnya diwujudkan pada tahun 2004 dengan pemilihan umum langsung. Proses demokrasi yang semakin baik itu akhirnya dilanjutkan melalui Pemilu Langsung di berbagai daerah di Indonesia mulai bulan Juni 2005 lalu di 226 daerah meliputi 11 propinsi serta 215 kabupaten dan kota, diadakan Pilkada untuk memilih para pemimpin daerahnya. Sehingga warga dapat menentukan peminpin daerahnya menurut hati nuraninya sendiri.

Dalam perkembangannya, pelaksanaan demokrasi banyak diktemukan pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan pemilu itu. Hampir pada semua praktik pemilu kita terbiasa mendengar politik uang (money politic), pencurian surat suara, mencuri start kampanye, bahkan dalam pelaksanaan pemilu Kepala daerah sering terjadi konflik-konflik horizontal antar sesama pendukung peserta pemilukada. Semua permasalahan itu hanya menciderai nilai-nilai demokrasi yang  sedang mulai dibangun.
In­donesia dewasa ini melakukan praktik demokrasi yang meng­gerus nilai-nilai kompre­hen­sivitas kehidupan bernegara. Elit pemerintah atau penguasa terpaku pada persoalan politik dan kekuasaan, sehingga de­mok­rasi dipahami sebagai demokrasi prosedural dan dalam imp­lementasi kehidupan politik juga tidak jauh dari “kepen­ti­ngan” oknum yang tidak ber­tanggungjawab terha­dap rak­yat. Masyarakat memaknai demokrasi hanya sebatas partisipasi prosedural, jadi jelas, pada akhirnya kita hanya memaknai demokrasi secara semu. Demokrasi semu (psudeo-democracy) karena pada hakekatnya yang menentukan kebijakan dalam negeri ini melulu para elite, sialnya rakyat hanya sebatas dijadikan kedok. kondisi rakyat tidak terlalu banyak dijadikan pertimbangan. 

Diskursus Praktis
kehidupan bersama kita secara politis dewasa ini yang ditandai oleh kemajemukan orientasi nilai dan kepentingan tidak lagi dapat diartikulasikan melalui konsep-konsep metafisis tradisional. Sebaliknya apa yang menarik perhatiannya adalah kenyataan bahwa di dalam masyarakat-masyarakat pasca-tradisional argumentasi tentang aturan-atura  politis bersama yang kontroversial memainkan peran yang semakin penting, dan pendasaran-akhir akal budi dan moral sesunggubnya hanya merupakan sebuah sumbangan yang mungkin bagi proses terbuka untuk mencapai consensus

Habermas mengarahkan perhatiannya kepada kondisikondisi komunikasi yangmemungkinkan sebuah praksis pencapaian consensus dapat dilakukan secara bebas dm fair, Ia mengembangkan teori diskursus (Diskurstheorie) Yang ingin ditunjukkan oleh teori diskursus bukanlak tujuan masyarakat, melainkan hanya cara atau prosedur (Vefahren) untuk mencapai tujuan itu. Karena itu teori ini sangat menekankan keharusan praksis komunikasi yang sudah terdapat di dalam masyarakat modern sendiri dalam berusaha meradikakan praksis komunikasi tersebut.

Interaksi sosial di dalam sebuah masyarakat tidak terjadi secara semena-mena, melainkan pada dasarnya bersifat rasional. Sifat rasional tindakan ini tampak –dan hal ini bagi Habermas mengandung pelajaran- dalam kenyataan bahwa para aktor mengorientasikan diri pada pencapaian pemahaman satu sama lain. Sifat rasional tindakan mengacu pada arti terakhir ini. Tindakan antarmanusia bersifat rasional, karena tindakan itu berorientasi pada konsensus[1] artinya setiap tindakan menjadi tindakan rasional yang berorientasi kepada kesepahaman, persetujuan dan rasa saling mengerti.  Dengan kata lain, tindakan yang mengarahkan diri pada consensus itu adalah tindakan komunikatif.. Rasio kornunikatif membimbing tindakan komunikatif untuk mencapai tujuannya, yaitu mengerti atau konsensus.  Tetapi interaksi sosial ini tidak hanya sebatas consensus yang dicapai secara rasional tetapi juga bebas dari paksaan dan kekerasan.

Konsensus semacam itu, bagi Habermas, hanya dapat dicapai melalui diskursus praktis yang tidak lain adalah prosedur komunikasi. Diskursus praktis adalah suatu prosedur (cara) masyarakat untuk saling berkomunikasi secara rasional dengan pemahaman intersubjektif. Dalam tipe diskursus ini anggota masyarakat mempersoalkan klaim ketepatan dari norma-norma yang mengatur tindakan mereka[2]. Masyarakat komunikatif menyampaikan kritik tidak melalui revolusi dengan kekerasan, namun melalui argumentasi dan tindakan rasional. Singkatnya, masyarakat komunikatif adalah masyarakat yang dewasa, terbuka oleh kritik, mampu berpikir dan bertindak secara rasional, punya referensi, punya kemampuan berargumentasi, dan menyadari dirinya sebagai bagian dari negara yang juga berpengaruh terhadap kemajuan atau kemunduran negaranya (baik secara ekonomi maupun politik).

Demokrasi Delibaratif
Ajaran demokrasi klasik tentang bagaiman membesar-besarkan jargon “rakyat harus berdaulat” tetapi ketika demokrasi teori klasik itu dirumuskan masyarakat tidak sekomplek sekarang. Kanton swiss yang menjadi acuan Rousseau dalam ajaran demokrasinya atau Polis Yunani tempat Ariestoteles tinggal bukanlah masyarakat-masyarakat dengan populasi besar seperti jaman sekarang. Untuk mewujudkan teori klasik soal demokrasi itu Habermas coba menghubungkannya dengan kondisi empiris masyarakat-masyarakat yang komples pada hari ini.
Habermas menilai bahwa model demokrasi deliberatif mampu menjelaskan dinamika komunikasi politis dalam negara hukum demokrasi yang ada. Model demokrasi deliberatif ini menekankan pada pentinya prosedur komunikasi untuk meraih legitimasi hukum didalam sebuah proses pertukaran yang dinamis antara system politik dengan ruang publik yang dimobilitasi secara kultural[3]. Demokrasi delibatif, dengan meminjam istilah Lyotard dalam kondisi postmodern, yang bisa menjadi jalan keluar kejengahan manusia modern dalam kapitalisme-renta adalah komunikasi yang mengemansipasikan manusia.

Komunikasi yang bukan tuan-budak, tapi setara-sejajar; bebas dari dominasi menjadi landasan demokrasi deliberatif. Kemudian ia mengkrongkitkan komunikasi kemanusiaan itu dalam konsep ruang publik (public sphere). Demokrasi deliberatif ditandai dengan adanya ruang untuk curhat, usul, atau kritik bagi seluruh elemen masyarakat, tanpa pandang bulu, agar segala sisi kemanusiaan dapat diserap sistem politik-ekonomi atau ekonomi-politik. Sehingga apa yang dicita-citakan Habermas, kekuasaan komunikatif melalui jaring-jaring komunikasi publik masyarakat sipil tercipta. Kebijakan tidak lagi dimonopoli oleh kaum elitis, baik itu negara atau bahkan pemilik modal, diskursus-diskursus “liar” yang terjadi dalam masyarakat dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan publik. 

Kata deliberatif berasal dari kata Latin deliberatio atau deliberasi (Indonesia) yang artinya konsultasi, musyawarah, atau menimbang-nimbang. Demokrasi bersifat deliberatif jika proses pemberian alasan atas suatu kandidat kebijakan publik diuji lebih dahulu lewat konsultasi publik, atau diskursus publik. Demokrasi deliberatif ingin meningkatkan intensitas partisipasi warga negara dalam proses pebentukan aspirasi dan opini agar kebijakan-kebijakan dan undang-undang yang dihasilkan oleh pihak yang memerintah semakin mendekati harapan pihak yang diperintah. Intensifikasi proses deliberasi lewat diskursus publik ini merupakan jalan untuk merealisasikan konsep demokrasi, Regierung der Regierten (pemerintahan oleh yang diperintah)[4].  Sabagai sebuah konsep dalam teori diskursus, istilah ‘demokrasi delibaratif’ sduah tersirat dalam diskursus praktis. Teori demokrasi deliberatif it sendiri tidak menekankan pada penyusunan daftar aturan-aturan tertentu yang menunjukan apa yang seharusnya dilakukan oleh warga negaranya melainkan pada prosesdur untuk menghasilkan putusan-putusan tersebut, jadi yang lebih menjadi fokus utamanya adalah bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut tercipta melalui proses “mengkonstultasikannya” dengan publik tujuannya jelas agar bagaimana warga negaranya dapat mematuhi aturan-aturan itu tanpa paksaan dan keputusannya bersifat sahih.

Dalam demokrasi deliberatif, keputusan mayoritas dapat dikontrol melalui kedaulatan rakyat. Masyarakat dapat mengkritisi keputusan-keputusan yang dibuat oleh para pemegang mandat. Jika masyarakat sudah berani mengkritisi kebijakan pemerintah, maka secara tidak langsung mereka sudah menjadi masyarakat rasional, bukan lagi masyarakat irasional. Opini publik atau aspirasi berfungsi untuk mengendalikan politik formal atau kebijakan-kebijakan politik. Jika tidak ada keberanian untuk mengkritik kebijakan politik, maka masyarakat sudah tunduk patuh terhadap system.

Peran Ruang publik
Habermas menegaskan bahwa ruang publik memberikan peran yang penting dalam proses demokrasi. Ruang publik merupakan ruang demokratis atau wahana diskursus masyarakat, yang mana warga negara dapat menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan mereka secara diskursif. Harus. Sifat otonom, tanpa intervensi dari pemerintah merupakan syarat dari ruang publik karena  sarana warga berkomunikasi, berdiskusi, berargumen, dan menyatakan sikap terhadap problematika politik,sehingga publik mampu mengorganisir dirinya untuk membentuk sebuah pendapat umum.. Ruang publik tidak hanya sebagai institusi atau organisasi yang legal, melainkan adalah komunikasi antar warga itu sendiri.
Habermas membagi-bagi ruang publik, tempat para aktor-aktor masyarakat warga membangun ruang publik, sebagai pluralitas (keluarga, kelompok-kelompok informal, organisasi-organisasi sukarela, dst.), publisitas (media massa, institusi-institusi kultural, dst.), keprivatan (wilayah perkembangan individu dan moral), dan legalitas (struktur-struktur hukum umum dan hak-hak dasar). Dengan demikian, maka ruang publik begitu banyak terdapat ditengah-tengah masyarakat warga. Ruang publik tidak dapat dibatasi. Dimana ada masyarakat yang berkomunikasi, berdiskusi tentang tema-tema yang relevan, maka disitulah akan hadir ruang publik. Ruang publik berifat bebas dan tidak terbatas. Ia tidak terikat dengan kepentingan-kepentingan pasar ataupun kepentingan-kepentingan politik.
Konsep ruang publik memainkan peran penting dan khusus yang berfungsi secara politis. Ruang publik merupakan domain kehidupan sosial di mana pendapat publik dapat dibentuk dan akses untuk semua warga negara terjamin. Individu-individu pribadi dapat berkumpul, berbicara, dan membentuk sebuah badan publik yang di dalamnya tidak berperilaku sebagai pengusaha atau professional yang sedang melakukan bisnis pribadinya dan juga tidak berperilaku sebagai pejabat dari birokrasi negara. Sebagai badan publik semua individu dijamin untuk memiliki kebebasan berkumpul, berorganisasi, berekspresi atau mempublikasikan pandangannya tentang kepentingan umum. Dalam konteks ini dibutuhkan sebuah sarana komunikasi untuk mengirim informasi dan mempengaruhi masyarakat. Oleh karena itu, surat kabar dan majalah, radio dan televisi menjadi media yang efektif untuk ruang publik ini.
Dalam kaitan ini otoritas negara merupakan eksekutor terhadap ruang publik politik tetapi bukan merupakan bagian dari ruang publik tersebut. Namun kadang juga otoritas negara ini dianggap sebagai otoritas publik tetapi tugasnya adalah untuk memelihara kepentingan umum bagi seluruh warga negara, ruang publik sebagai mediator antara masyarakat dan negara[5]. Ruang publik menyediakan sebuah arena untuk rekonsiliasi kepentingan privat dan negara dengan bertindak sebagai tempat di mana opini publik dihasilkan dan didistribusikan. Dalam konsep Habermas yang ideal, mandat ruang publik meliputi: wacana kritis-rasional, publik inklusif; pengabaian untuk tingkatan; dan tempat yang dilepaskan dari kontrol negara. Demokrasi liberatif membutuhkan sejumlah persyaratan seperti penguasaan dan keterampilan menggunakan berbagai teknik partisipasi. Metode yang digunakan harus benar-benar dapat dipahami dan dijangkau oleh grass-root, dengan prinsip-prinsip pada kreativitas, produktifitas dan pemberdayaan. Dalam membangun ruang publik : taman untuk publik dan taman baca, multipihak harus dilibatkan. Proses yang deliberatif membutuhkan sikap terbuka, di mana negara dan pasar harus melibatkan komponen masyarakat (LSM) dan lembaga professional lainnya (perencana, policy analyst, konsultan pembangunan, arsitek dan para aktivis komunitas HAM dan lingkungan) untuk berdiskusi dan merumuskan perencanaan ruang publik yang insklusif.
Perkembangan demokrasi di Indonesia yang menuju pada arah positif ini tidak lepas dar celah-celah yang dapat menciderai nilai-nilai demokrasi. Mengutip pendapatnya Mr. Hanief salah satu dosen di Fakultas Hukum “Indonesia berdemokrasi baru sekitar 1 dekade lalu, tp sebagian besar masyarakat sdh menikmati proses demokrasi itu meskipun disisi lain juga banyak kelemahan. Jadi  memang inilah anomali dlm proses demokrasi ketika banyak celah-celah dalam pelaksanaan demokrasi. Tidak ada dalam sejarah satu negara yg berhasil membangun demokrasi dengan jalan pintas”. Jika merujuk pada demokrasi deliberatif maka demokrasi delibarif dapat menjadi ‘penambal’ celah-celah dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Karena Indonesia sudah mempunyai pondasi kuat jika berbicara demokrasi yaitu demokrasi pancasila yang berdasarkan kepribadian bangsa ini, tetapi demokrasi Pancasila masih dimaknai sebatas dalam tataran ide bukan bagaimana menjadikannya lebih praksis.
Latar locus pemikiran Habermas ini adalah kapitalisme-renta Eropa Timur atau Amerika. Namun tidak berarti dasar pemikirannya tidak berlaku untuk konteks ke-Indonesia-an. Apalagi (katanya) Indonesia memiliki pancasila sebagai landasan demokrasinya. Demokrasi pancasila mengutamakan musyawarah mufakat, dengan demikian memiliki kesamaan point dengan demokrasi deliberatifnya Habermas.
Demokrasi deliberatif mengutamakan penggunaan tata cara pengambilan keputusan yang menekankan musyawarah dan penggalian masalah melalui dialog dan tukar pengalaman di antara para pihak dan warganegara (bukan hegemoni elit). Demokrasi deliberatif berbeda dengan demokrasi perwakilan, yang hari ini berlaku di Indonesia yang malah menjadi demokrasi prosedural semata.  Sehingga dalam pelaksanaan demokrasi delibarif ini tidak saja menciptakan demokrasi yang baik, dimana keterlibatan rakyat tidak hanya sekedar prosedural seperti yang dijelaskan diatas tetapi juga bagaimana masyarakat keterlibatannya mampu mengkonsultasikan permasalahan-permasalahan bersama yang akan meciptakan kesepehaman bersama. Tidak hanya berhenti sampai disitu, pendidikan politik sebagai penunjang dalam pelaksanaan demokrasi juga akan tercipta secara natural diruang-ruang publik informal karena semakin sering masyarakat menkonsultasikan permasalahan-permasalahnnya maka secara tidak langsung akan menciptakan kesadaran-kesadaran dalam bernegara.
Demokrasi yang deliberatif diperlukan untuk menyatukan multi-kepentingan yang muncul dalam masyarakat Indonesia yang heterogen. Jadi setiap kebijakan publik hendaknya lahir dari musyawarah bukan dipaksakan oleh sekelompok elit saja.
Sudah saatnya Indonesia harus mampu mewujudkan suatu sistem politik dan pemerintahan yang memberi ruang bebas kepada warga negara untuk beraspirasi melalui organ-organ publik di ruang publik. Ruang publik yang bersifat bebas, terbuka, mudah diakses oleh semua orang, transparan dan otonom. Tak ada pihak lain (negara/pemodal) yang mengintervensi ruang ini. Diskusi-diskusi publik harus segera mendapat tempat dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga kebijakan publik yang hadir adalah benar-benar hasil demokrasi deliberatif.
Dengan demikian menjadi keharusan untuk melakukan proses demokrasi yang penuh dengan pertimbangan dan konsultasi. Partisipasi masyarakat harus dilibatkan secara penuh, dan apabila ini ditinggalkan, maka legimitas akan tidak mendapatkan bentuknya dengan baik, sehingga kemudian lahirlah kebijakan kebijakan politik yang jauh dari proses kesadaran masyarakat. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, kebijakan yang katanya untuk rakyat, kemudian hanya menjadi sumber kekuatan bagi kelompok politik untuk mempertahankan kekuasaannya saja.






[1] F. Budi Hardiman, Teori Diskursus dan Demokrasi, (makalah), STF Driyarkara: Diskursus.com, 2008, Hlm. 10.
[2] F. Budi Hardiman, Etika Politik Habermas, (Makalah), Jakarta: Salihara, 2010, Hlm. 5.
[3] F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hal126
[4] F. Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, Yogyakarta: Kansius, 2007, Hlm. 126
[5] media dan ruang publik dalam pandangan jürgen habermas ditulis oleh Ditulis oleh Nurdin Laugu