Selasa, 10 Juli 2012

DEMOKRASI DELIBERATIF


-->
Sepanjang masa kemerdekaannya, bangsa Indonesia telah mencoba menerapkan bermacam-macam demokrasi. Hingga tahun 1959, dijalankan suatu praktik demokrasi yang cenderung pada sistem demokrasi liberal, Sebagaimana berlaku di negara-negara Barat yang bersifat individualistik. Pada tahun 1959-1966 diterapkan demokrasi terpimpin, yang dalam praktiknya cenderung otoriter. Mulai tahun 1966 hingga berakhirnya masa Orde Baru pada tahun 1998 diterapkan demokrasi  ala rezim yang berkuasa yang belum bisa dikatakan sebagai demokrasi.  Sampai pada masa reformasi yang dianggap sebagai era titik terang dari demokrasi, setelah hampir 32 tahun demokrasi dibungkam oleh kepentingan penguasa ORBA. Wujud nyata demokrasi pada era reformasi adalah Pemilihan Umum secara langsung. Tidak hanya memilih Partai Politik, tetapi juga pemilihan presiden presiden dan kepala daerah.
Era refomasi merupakan  awal bagi pelaksanaan sistem demokrasi yang baik karena melibatkan rakyat dalam proses pelaksanaannya. Seperti contoh Pemilu, sejak pasca-kemerdekaan Indonesia masih mencari formulasi yang tepat untuk menjalankan metode sukses pemerintahan yang efektif , yang pada akhirnya diwujudkan pada tahun 2004 dengan pemilihan umum langsung. Proses demokrasi yang semakin baik itu akhirnya dilanjutkan melalui Pemilu Langsung di berbagai daerah di Indonesia mulai bulan Juni 2005 lalu di 226 daerah meliputi 11 propinsi serta 215 kabupaten dan kota, diadakan Pilkada untuk memilih para pemimpin daerahnya. Sehingga warga dapat menentukan peminpin daerahnya menurut hati nuraninya sendiri.

Dalam perkembangannya, pelaksanaan demokrasi banyak diktemukan pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan pemilu itu. Hampir pada semua praktik pemilu kita terbiasa mendengar politik uang (money politic), pencurian surat suara, mencuri start kampanye, bahkan dalam pelaksanaan pemilu Kepala daerah sering terjadi konflik-konflik horizontal antar sesama pendukung peserta pemilukada. Semua permasalahan itu hanya menciderai nilai-nilai demokrasi yang  sedang mulai dibangun.
In­donesia dewasa ini melakukan praktik demokrasi yang meng­gerus nilai-nilai kompre­hen­sivitas kehidupan bernegara. Elit pemerintah atau penguasa terpaku pada persoalan politik dan kekuasaan, sehingga de­mok­rasi dipahami sebagai demokrasi prosedural dan dalam imp­lementasi kehidupan politik juga tidak jauh dari “kepen­ti­ngan” oknum yang tidak ber­tanggungjawab terha­dap rak­yat. Masyarakat memaknai demokrasi hanya sebatas partisipasi prosedural, jadi jelas, pada akhirnya kita hanya memaknai demokrasi secara semu. Demokrasi semu (psudeo-democracy) karena pada hakekatnya yang menentukan kebijakan dalam negeri ini melulu para elite, sialnya rakyat hanya sebatas dijadikan kedok. kondisi rakyat tidak terlalu banyak dijadikan pertimbangan. 

Diskursus Praktis
kehidupan bersama kita secara politis dewasa ini yang ditandai oleh kemajemukan orientasi nilai dan kepentingan tidak lagi dapat diartikulasikan melalui konsep-konsep metafisis tradisional. Sebaliknya apa yang menarik perhatiannya adalah kenyataan bahwa di dalam masyarakat-masyarakat pasca-tradisional argumentasi tentang aturan-atura  politis bersama yang kontroversial memainkan peran yang semakin penting, dan pendasaran-akhir akal budi dan moral sesunggubnya hanya merupakan sebuah sumbangan yang mungkin bagi proses terbuka untuk mencapai consensus

Habermas mengarahkan perhatiannya kepada kondisikondisi komunikasi yangmemungkinkan sebuah praksis pencapaian consensus dapat dilakukan secara bebas dm fair, Ia mengembangkan teori diskursus (Diskurstheorie) Yang ingin ditunjukkan oleh teori diskursus bukanlak tujuan masyarakat, melainkan hanya cara atau prosedur (Vefahren) untuk mencapai tujuan itu. Karena itu teori ini sangat menekankan keharusan praksis komunikasi yang sudah terdapat di dalam masyarakat modern sendiri dalam berusaha meradikakan praksis komunikasi tersebut.

Interaksi sosial di dalam sebuah masyarakat tidak terjadi secara semena-mena, melainkan pada dasarnya bersifat rasional. Sifat rasional tindakan ini tampak –dan hal ini bagi Habermas mengandung pelajaran- dalam kenyataan bahwa para aktor mengorientasikan diri pada pencapaian pemahaman satu sama lain. Sifat rasional tindakan mengacu pada arti terakhir ini. Tindakan antarmanusia bersifat rasional, karena tindakan itu berorientasi pada konsensus[1] artinya setiap tindakan menjadi tindakan rasional yang berorientasi kepada kesepahaman, persetujuan dan rasa saling mengerti.  Dengan kata lain, tindakan yang mengarahkan diri pada consensus itu adalah tindakan komunikatif.. Rasio kornunikatif membimbing tindakan komunikatif untuk mencapai tujuannya, yaitu mengerti atau konsensus.  Tetapi interaksi sosial ini tidak hanya sebatas consensus yang dicapai secara rasional tetapi juga bebas dari paksaan dan kekerasan.

Konsensus semacam itu, bagi Habermas, hanya dapat dicapai melalui diskursus praktis yang tidak lain adalah prosedur komunikasi. Diskursus praktis adalah suatu prosedur (cara) masyarakat untuk saling berkomunikasi secara rasional dengan pemahaman intersubjektif. Dalam tipe diskursus ini anggota masyarakat mempersoalkan klaim ketepatan dari norma-norma yang mengatur tindakan mereka[2]. Masyarakat komunikatif menyampaikan kritik tidak melalui revolusi dengan kekerasan, namun melalui argumentasi dan tindakan rasional. Singkatnya, masyarakat komunikatif adalah masyarakat yang dewasa, terbuka oleh kritik, mampu berpikir dan bertindak secara rasional, punya referensi, punya kemampuan berargumentasi, dan menyadari dirinya sebagai bagian dari negara yang juga berpengaruh terhadap kemajuan atau kemunduran negaranya (baik secara ekonomi maupun politik).

Demokrasi Delibaratif
Ajaran demokrasi klasik tentang bagaiman membesar-besarkan jargon “rakyat harus berdaulat” tetapi ketika demokrasi teori klasik itu dirumuskan masyarakat tidak sekomplek sekarang. Kanton swiss yang menjadi acuan Rousseau dalam ajaran demokrasinya atau Polis Yunani tempat Ariestoteles tinggal bukanlah masyarakat-masyarakat dengan populasi besar seperti jaman sekarang. Untuk mewujudkan teori klasik soal demokrasi itu Habermas coba menghubungkannya dengan kondisi empiris masyarakat-masyarakat yang komples pada hari ini.
Habermas menilai bahwa model demokrasi deliberatif mampu menjelaskan dinamika komunikasi politis dalam negara hukum demokrasi yang ada. Model demokrasi deliberatif ini menekankan pada pentinya prosedur komunikasi untuk meraih legitimasi hukum didalam sebuah proses pertukaran yang dinamis antara system politik dengan ruang publik yang dimobilitasi secara kultural[3]. Demokrasi delibatif, dengan meminjam istilah Lyotard dalam kondisi postmodern, yang bisa menjadi jalan keluar kejengahan manusia modern dalam kapitalisme-renta adalah komunikasi yang mengemansipasikan manusia.

Komunikasi yang bukan tuan-budak, tapi setara-sejajar; bebas dari dominasi menjadi landasan demokrasi deliberatif. Kemudian ia mengkrongkitkan komunikasi kemanusiaan itu dalam konsep ruang publik (public sphere). Demokrasi deliberatif ditandai dengan adanya ruang untuk curhat, usul, atau kritik bagi seluruh elemen masyarakat, tanpa pandang bulu, agar segala sisi kemanusiaan dapat diserap sistem politik-ekonomi atau ekonomi-politik. Sehingga apa yang dicita-citakan Habermas, kekuasaan komunikatif melalui jaring-jaring komunikasi publik masyarakat sipil tercipta. Kebijakan tidak lagi dimonopoli oleh kaum elitis, baik itu negara atau bahkan pemilik modal, diskursus-diskursus “liar” yang terjadi dalam masyarakat dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan publik. 

Kata deliberatif berasal dari kata Latin deliberatio atau deliberasi (Indonesia) yang artinya konsultasi, musyawarah, atau menimbang-nimbang. Demokrasi bersifat deliberatif jika proses pemberian alasan atas suatu kandidat kebijakan publik diuji lebih dahulu lewat konsultasi publik, atau diskursus publik. Demokrasi deliberatif ingin meningkatkan intensitas partisipasi warga negara dalam proses pebentukan aspirasi dan opini agar kebijakan-kebijakan dan undang-undang yang dihasilkan oleh pihak yang memerintah semakin mendekati harapan pihak yang diperintah. Intensifikasi proses deliberasi lewat diskursus publik ini merupakan jalan untuk merealisasikan konsep demokrasi, Regierung der Regierten (pemerintahan oleh yang diperintah)[4].  Sabagai sebuah konsep dalam teori diskursus, istilah ‘demokrasi delibaratif’ sduah tersirat dalam diskursus praktis. Teori demokrasi deliberatif it sendiri tidak menekankan pada penyusunan daftar aturan-aturan tertentu yang menunjukan apa yang seharusnya dilakukan oleh warga negaranya melainkan pada prosesdur untuk menghasilkan putusan-putusan tersebut, jadi yang lebih menjadi fokus utamanya adalah bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut tercipta melalui proses “mengkonstultasikannya” dengan publik tujuannya jelas agar bagaimana warga negaranya dapat mematuhi aturan-aturan itu tanpa paksaan dan keputusannya bersifat sahih.

Dalam demokrasi deliberatif, keputusan mayoritas dapat dikontrol melalui kedaulatan rakyat. Masyarakat dapat mengkritisi keputusan-keputusan yang dibuat oleh para pemegang mandat. Jika masyarakat sudah berani mengkritisi kebijakan pemerintah, maka secara tidak langsung mereka sudah menjadi masyarakat rasional, bukan lagi masyarakat irasional. Opini publik atau aspirasi berfungsi untuk mengendalikan politik formal atau kebijakan-kebijakan politik. Jika tidak ada keberanian untuk mengkritik kebijakan politik, maka masyarakat sudah tunduk patuh terhadap system.

Peran Ruang publik
Habermas menegaskan bahwa ruang publik memberikan peran yang penting dalam proses demokrasi. Ruang publik merupakan ruang demokratis atau wahana diskursus masyarakat, yang mana warga negara dapat menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan mereka secara diskursif. Harus. Sifat otonom, tanpa intervensi dari pemerintah merupakan syarat dari ruang publik karena  sarana warga berkomunikasi, berdiskusi, berargumen, dan menyatakan sikap terhadap problematika politik,sehingga publik mampu mengorganisir dirinya untuk membentuk sebuah pendapat umum.. Ruang publik tidak hanya sebagai institusi atau organisasi yang legal, melainkan adalah komunikasi antar warga itu sendiri.
Habermas membagi-bagi ruang publik, tempat para aktor-aktor masyarakat warga membangun ruang publik, sebagai pluralitas (keluarga, kelompok-kelompok informal, organisasi-organisasi sukarela, dst.), publisitas (media massa, institusi-institusi kultural, dst.), keprivatan (wilayah perkembangan individu dan moral), dan legalitas (struktur-struktur hukum umum dan hak-hak dasar). Dengan demikian, maka ruang publik begitu banyak terdapat ditengah-tengah masyarakat warga. Ruang publik tidak dapat dibatasi. Dimana ada masyarakat yang berkomunikasi, berdiskusi tentang tema-tema yang relevan, maka disitulah akan hadir ruang publik. Ruang publik berifat bebas dan tidak terbatas. Ia tidak terikat dengan kepentingan-kepentingan pasar ataupun kepentingan-kepentingan politik.
Konsep ruang publik memainkan peran penting dan khusus yang berfungsi secara politis. Ruang publik merupakan domain kehidupan sosial di mana pendapat publik dapat dibentuk dan akses untuk semua warga negara terjamin. Individu-individu pribadi dapat berkumpul, berbicara, dan membentuk sebuah badan publik yang di dalamnya tidak berperilaku sebagai pengusaha atau professional yang sedang melakukan bisnis pribadinya dan juga tidak berperilaku sebagai pejabat dari birokrasi negara. Sebagai badan publik semua individu dijamin untuk memiliki kebebasan berkumpul, berorganisasi, berekspresi atau mempublikasikan pandangannya tentang kepentingan umum. Dalam konteks ini dibutuhkan sebuah sarana komunikasi untuk mengirim informasi dan mempengaruhi masyarakat. Oleh karena itu, surat kabar dan majalah, radio dan televisi menjadi media yang efektif untuk ruang publik ini.
Dalam kaitan ini otoritas negara merupakan eksekutor terhadap ruang publik politik tetapi bukan merupakan bagian dari ruang publik tersebut. Namun kadang juga otoritas negara ini dianggap sebagai otoritas publik tetapi tugasnya adalah untuk memelihara kepentingan umum bagi seluruh warga negara, ruang publik sebagai mediator antara masyarakat dan negara[5]. Ruang publik menyediakan sebuah arena untuk rekonsiliasi kepentingan privat dan negara dengan bertindak sebagai tempat di mana opini publik dihasilkan dan didistribusikan. Dalam konsep Habermas yang ideal, mandat ruang publik meliputi: wacana kritis-rasional, publik inklusif; pengabaian untuk tingkatan; dan tempat yang dilepaskan dari kontrol negara. Demokrasi liberatif membutuhkan sejumlah persyaratan seperti penguasaan dan keterampilan menggunakan berbagai teknik partisipasi. Metode yang digunakan harus benar-benar dapat dipahami dan dijangkau oleh grass-root, dengan prinsip-prinsip pada kreativitas, produktifitas dan pemberdayaan. Dalam membangun ruang publik : taman untuk publik dan taman baca, multipihak harus dilibatkan. Proses yang deliberatif membutuhkan sikap terbuka, di mana negara dan pasar harus melibatkan komponen masyarakat (LSM) dan lembaga professional lainnya (perencana, policy analyst, konsultan pembangunan, arsitek dan para aktivis komunitas HAM dan lingkungan) untuk berdiskusi dan merumuskan perencanaan ruang publik yang insklusif.
Perkembangan demokrasi di Indonesia yang menuju pada arah positif ini tidak lepas dar celah-celah yang dapat menciderai nilai-nilai demokrasi. Mengutip pendapatnya Mr. Hanief salah satu dosen di Fakultas Hukum “Indonesia berdemokrasi baru sekitar 1 dekade lalu, tp sebagian besar masyarakat sdh menikmati proses demokrasi itu meskipun disisi lain juga banyak kelemahan. Jadi  memang inilah anomali dlm proses demokrasi ketika banyak celah-celah dalam pelaksanaan demokrasi. Tidak ada dalam sejarah satu negara yg berhasil membangun demokrasi dengan jalan pintas”. Jika merujuk pada demokrasi deliberatif maka demokrasi delibarif dapat menjadi ‘penambal’ celah-celah dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Karena Indonesia sudah mempunyai pondasi kuat jika berbicara demokrasi yaitu demokrasi pancasila yang berdasarkan kepribadian bangsa ini, tetapi demokrasi Pancasila masih dimaknai sebatas dalam tataran ide bukan bagaimana menjadikannya lebih praksis.
Latar locus pemikiran Habermas ini adalah kapitalisme-renta Eropa Timur atau Amerika. Namun tidak berarti dasar pemikirannya tidak berlaku untuk konteks ke-Indonesia-an. Apalagi (katanya) Indonesia memiliki pancasila sebagai landasan demokrasinya. Demokrasi pancasila mengutamakan musyawarah mufakat, dengan demikian memiliki kesamaan point dengan demokrasi deliberatifnya Habermas.
Demokrasi deliberatif mengutamakan penggunaan tata cara pengambilan keputusan yang menekankan musyawarah dan penggalian masalah melalui dialog dan tukar pengalaman di antara para pihak dan warganegara (bukan hegemoni elit). Demokrasi deliberatif berbeda dengan demokrasi perwakilan, yang hari ini berlaku di Indonesia yang malah menjadi demokrasi prosedural semata.  Sehingga dalam pelaksanaan demokrasi delibarif ini tidak saja menciptakan demokrasi yang baik, dimana keterlibatan rakyat tidak hanya sekedar prosedural seperti yang dijelaskan diatas tetapi juga bagaimana masyarakat keterlibatannya mampu mengkonsultasikan permasalahan-permasalahan bersama yang akan meciptakan kesepehaman bersama. Tidak hanya berhenti sampai disitu, pendidikan politik sebagai penunjang dalam pelaksanaan demokrasi juga akan tercipta secara natural diruang-ruang publik informal karena semakin sering masyarakat menkonsultasikan permasalahan-permasalahnnya maka secara tidak langsung akan menciptakan kesadaran-kesadaran dalam bernegara.
Demokrasi yang deliberatif diperlukan untuk menyatukan multi-kepentingan yang muncul dalam masyarakat Indonesia yang heterogen. Jadi setiap kebijakan publik hendaknya lahir dari musyawarah bukan dipaksakan oleh sekelompok elit saja.
Sudah saatnya Indonesia harus mampu mewujudkan suatu sistem politik dan pemerintahan yang memberi ruang bebas kepada warga negara untuk beraspirasi melalui organ-organ publik di ruang publik. Ruang publik yang bersifat bebas, terbuka, mudah diakses oleh semua orang, transparan dan otonom. Tak ada pihak lain (negara/pemodal) yang mengintervensi ruang ini. Diskusi-diskusi publik harus segera mendapat tempat dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga kebijakan publik yang hadir adalah benar-benar hasil demokrasi deliberatif.
Dengan demikian menjadi keharusan untuk melakukan proses demokrasi yang penuh dengan pertimbangan dan konsultasi. Partisipasi masyarakat harus dilibatkan secara penuh, dan apabila ini ditinggalkan, maka legimitas akan tidak mendapatkan bentuknya dengan baik, sehingga kemudian lahirlah kebijakan kebijakan politik yang jauh dari proses kesadaran masyarakat. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, kebijakan yang katanya untuk rakyat, kemudian hanya menjadi sumber kekuatan bagi kelompok politik untuk mempertahankan kekuasaannya saja.






[1] F. Budi Hardiman, Teori Diskursus dan Demokrasi, (makalah), STF Driyarkara: Diskursus.com, 2008, Hlm. 10.
[2] F. Budi Hardiman, Etika Politik Habermas, (Makalah), Jakarta: Salihara, 2010, Hlm. 5.
[3] F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hal126
[4] F. Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, Yogyakarta: Kansius, 2007, Hlm. 126
[5] media dan ruang publik dalam pandangan jürgen habermas ditulis oleh Ditulis oleh Nurdin Laugu   


Rindu Swiss Van Java

Masjid Agung saat ini

Masjid Agung Tempo dulu







-->
Seharusnya aku menulis ini beberapa bulan yang lalu ketika aku merasakan moment ini lebih dekat dalam hal waktu, tapi tak apalah ada alasan yang akhrinya membangunkan ku untuk menulis. Entah kenapa dalam tidur yang cukup lelap, karena memang aku baru tidur 2jam  tiba-tiba aku terbangun dan terbayang-bayang oleh suasana ketika aku berada dalam kereta menuju Garut. Mungkin ini yang dinamakan rindu yang merasuk sampai mimpi. Entahlah aku tidak tau, tapi aku merasakan sangat jelas suasan pada waktu itu ketika kereta ekonomi Kahuripan, khas para mahasiswa berkantok cekak melaju menembus subuh diantara hawa dingin karena kereta melaju tepat dipunggung gunung-gunung di negeri parahiyangan itu. Pukul 00.00 WIB, kurang lebihnya waktu itu ketika kereta telah tiba di Stasiun Banjar. Indah sekali rasanya ketika para pedagang berkomunikasi dengan bahasa Sunda, bahasa daerah yang hampir 13tahun aku gunakan berkomunikasi dengan teman-teman sepermainanku. Aku pun mencoba menyapa dengan bahasa yang cukup lama tidak aku gunakan, kerena di Jember tak ada lawan bicaraku yang bisa menggunakan bahasa Sunda kecuali tukang Batagor dan Siomay di depan SMP 3 Jember itu. Bahasa Sundaku terlihat kaku, tanpa sadar lidahku keseleo mencampurnya dengan bahasa Jawa, sama seperti pertama aku di Jember me-mix bahasa Jawa dan Sunda. Berbicara bahasa daerah khususnya Sunda, ada semacam pertautan emosi. Karena aku biasa menggunakan itu dengan sahabat-sahabatku di Garut sehingga jelas ada potongan-potongan memori di masa lampau yang terbesit dalam ingatan ini. Kereta masih dengan tegarnya melaju melintasi kabupaten demi kabupaten. Banjar-Ciamis lalu Tasikmalaya.
kebun teh cikajang
Medengar stasiun Tasikmalaya semakin berdebar hatiku ini semakin dekat dengan kota lamaku, rindu sekali aku dengan kota itu. Satu tahun aku tidak pulang. Sejak hari itu, ketika aku bertengkar cukup hebat dengan Ayahku karena permaslahan yang sebenarnya hanya menonjolkan egoism belaka yang pada akhirnya aku muak, kecewa dan marah lalu aku memutusakan untuk tidak pulang ke Garut. Lebaran tahun 2010 pun aku lewatkan di Jember. Dan kini aku pulang mendekati lebaran pula di tahun 2011. Seiring berjalannya waktu kedewasaan pun bertambah oleh karena itu aku rasa tak ada gunanya menahan amarah, akhrinya aku pulang menemui keluargaku. Sudah pukul 03.00WIB.
Dari stasiun Tasikmalaya, peluit berbunyi nyaring menjadi pertanda kereta akan melanjutkan perjalanan menuju ke arah utara. Ya apalagi kalau bukan Garut, kota yang terkenal karena keindahan pemandangannya, mojang-mojangnya yang rupawan, kudapana berselera tinggi sampai-sampai orang Belanda ketika dulu menyebut Garut sebagai Swiss Van Java. Oh Garut memang luar biasa. Banyak kenangan yang kutinggalkan di kota itu. Aih, aku kelu jika harus mengingatnya. Apalagi satu nama itu yang menyita banyak pikiranku beberapa waktu lalu. Sudahlah.
Waktu itu aku masih saja duduk melamun memandangi kegelapan diluar jendela sana sambil membuka kembali memori-memori lama yang terekam. Garut, lama aku tak merasakan dingin kotamu itu. Kelibatan memori makin menjadi-jadi ketika aku merasakan hawa dingin yang khas dari kota Garut. Lalu aku keluar menuju pintu dekat kamar mandi memandangi lebih jelas kegelapan malam yang pada siang hari kita akan melihat daerah perbatasan Garut-Tasikmalaya yang juga jalan lintas selatan. Berkelok-kelok, dingin pula udaranya. Aku berada diketinggian, kereta tetap acuh dengan ketinggian yang curam. Hawa khas itu makin terasa ketika aku mencium kayu terbakar, wah khas sekali ini sudah sampai Cipeundeuy. Stasiun kecil d kecamatan Malangbong Garut. Meski stasiun itu kecil, kalau di Jember mungkin sama halnya seperti stasiun Tanggul tapi semua kereta berhenti disana sehingga kadang aku kalau naik kereta biasanya dari stasiun Cipeundeuy. Makin menjadilah perasaanku ketika aku membayangkan dulu Uwaku yang biasa aku panggil papah Edi mengantarkanku ke Stasiun itu lalu ditengah kembaliku yang cukup lama ini dia sudah tiada, dipanggil yang maha kuasa. Ah, aku banyak tertinggal cerita. Semoga kau bahagai di SANA, Pah.
kebun Teh di Garut
Ketika memasuki Garut maka kita akan tidak bosan-bosannya disuguhi pemandangan pegunungan yang indah, benar-benar indah. Tetapi karena kereta yang kutumpangi masuk Garut sekitar pukul 04.00 maka yang terlihat hanya gelap, tetapi kegelapan itu yang menambah syahdu suasana apalagi kegelapan itu dipercantik oleh kerlip lampu-lampu dari rumah-rumah dibawah kereta yang kutumpangi melaju. Indah sekali.
Kereta masih saja melaju kadang meniumkan klaksonnya. Pikirku, kenapa harus pakai klakson toh tidak ada yang menyebrang atau menghalang-halangi, tiba-tiba pikiranku itu buyar ketika kereta memasuki statiun Warung Bandrek. Sungguh sangat mendalam aku dengan stasiun itu. Stasiun yang lebih kecil dari Cipeundeuy itu meninggalkan kisah yang tidak pernah akan kulupakan. Kamis 27 Juli 2009 di stasiun kecil itu aku meningjakan kakiku selangkah demi selangkah untuk menginggalkan Garut. Tanpa ada teman yang mengantar, orang tua yang menemani karena memang aku melarangnya. Aku duduk di bangku peron yang sampai saat ini masih sama posisinya. Pikiranku waktu itu benar-benar tidak karuan. Suasana distasiun itu benar-benar beralasan untuk tidak menahan air yang keluar dari mataku. Putri, Mamah, Ayah, teman-teman, kenangan itu berkecamuk, beradu dengan cahaya terang dari Timur, mimpi-mimpi dari Jember. Waktu itu yang menemaniku hanya sepi, nyamuk-nyamuk gunung yang rasuk darah, dingin yang menyekap. Aku tak bisa berkata apa-apa selain mencoba menuliskan sepotong suasanaku padawaktu itu. Benar-benar berat meninggalkan cinta yang tak tuntas.itu saja.
Aih, aku terbawa pada kenangan yang melankolis dimasa lalu. Tapi kereta tak peduli dengan ke mellow an ku. Kereta tetap tegar menerjang kabut, tidak hentinya meniupkan klakson dan tidak pernah lelah untuk mengantar para penumpangnya ditujuannya. Kuda besi ini benar-benar bermanfaat.
Tepat 04.30WIB kereta sudah sampai distasiun Leles. Waw.waw indah sekali udara subuh itu. Dingin, banyak orang yang mengantri mencari angkutan ke Garut kota. Meski masih subuh sepertinya tidak sulit menemukan angkutan kota yang membawaku ke rumahku. Antara Leles dan Garut kota mungkin kurang lebihnya 20km. tetapi pemandangan yang disungukan  luar biasa indah. Kalau bukan pada waktu malam, kita akan dengan mudah menemukan restaurant-restauran yang dibuat khas ala pedesaan dengan nasi liwetnya, sambal, ikan asin dan berbagai macam kudapan ala pedesaan. Garut memang menjual suasana yang asri, sejuk, sehingga banyak pelancong-pelancong dari kota besar khususnya Bandung dan Jakarta ketika hari libur memadati Garut untuk merasakan keasrian kota yang dijuluki kota Intan ini.
Sebelum aku pulang. Aku menyempatkan melewati sekolahku dulu, karena sekolah SMA ku dekat dengan terminal Guntur (terminal utama di Garut). Aku ingin memandangi sekolah yang dulu menjadi saksi ku berseragam putih abu-abu. Dulu nama SMA ku, SMA 2 Tarogong Kidul, kini SMA ku berganti nama menjadi SMA 6 Garut. Diubah berdasarkan berdirinya, berarti yang ke 6 di Garut. SMAku memang luar biasa kini sudah banyak berganti rupa dan semakin menjadi SMA favorit. Sayangnya aku masih terlalu pagi untuk menemui penghuni SMAku itu.
Sepertinya rindu pada orang tuaku sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi maka dari itu aku mencari angkotan kota yang menuju perumahanku di Perumahan Bumi Cempaka Indah. Perumahan yang dibangun pada tahun 1995 ini luasnya bisa sampai 70hektar. Perumahanku terbilang istimewa, meski 5Km dari kota tetapi hanya satu-satunya perumahan yang memilik angkot di Garut, yang lebih istimewanya lagi, letak perumahan ku berada di kaki bukit Karacak sehingga kalau malam hari bisa melihat pemandangan lampu-lampu Garut kota. Benar-benar indah tempatnya, cuman dinginnya itu bagiku yang terbiasa dengan panas, kadang benar-benar menyiksa.
Pengkolan


Aku sampai dirumha tepat pukul 5.30 WIB sepertinya feeling mamahku tidak pernah meleset. Meski aku tidak mengabari tapi Ia sudah tahu dan menantiku. Karena pada waktu itu puasa mamah tidak membuatkanku susu. Susu yang hanya mamahku bisa membuatnya. Enak sekali rasanya.
#sudah aku mau tidur lagi. Ide ku muncul diwaktu yang tidak tepat.

Senin, 25 Juni 2012

bangun kembali

setelah beberapa bulan menahan nafas, lebih tepatnya tertatahan nafas ini untuk mengisi Blog, karena berbagai alasan. salah satunya hilang password dan modem tidak ada pulsanya. maklum bulan lalu, benar-benar bulang yang menguturas kocek. sampai-sampai modem ga aku kasih "makan". kini semuanya sudah mulai membaik, password berhasil ditemukan setelah melalui mimpi. # ini beneran. Dalam mimpi itu, aku di ingatkan kalau password Blog ku "itu". dan ternyata aku coba benar. welll

Rabu, 02 Mei 2012

Arigato, sensei!


-->
Aku hanya ingin belajar. Dimulai dari cacian pun tak jadi masalah. Ah bodohnya aku ketika mas Nuran tanya link Blogku, padahal aku tidak ingin orang lain tahu. Aku memang masih minder dengan tulisan tuliasnku yang selalu identik dengan cacian tanpa ada proses untuk membangun. Hadeh, awalnya memang sangat drop  sekali ketika dia mempublish blogku, apalagi dia menaandai orang-orang yang sudah pengalaman soal menulis. Sial, malapetaka apa yang bakal menimpaku esok hari. Sudah lah aku tak banyak bicara.
Mas Nuran memang bebal dan sial. Dia memang benar-benar pembohong ulung yang aku tak ubahnya anak TK yang dengan mudah di iming-imingi lollipop. Awalnya memang aku Tanya soal bagaimana membuat tulisan romantic untuk perempuan yang disuka. Aku rasa, dia orang yang tepat untuk aku ajak soal-soal itu. Dan dimulailah dia membodohiku, jancuk.
“hasyu, pertanyaanmu gak berkembang dari dulu”
Aku tidak sadar kata-kata itu yang akhirnya membuatku untuk banyak bercerita. Mulailah dia berbagi cerita soal tulisan-tulisan yang bagus dan semuanya memang butuh proses. Jelas aku sepakat dengan gal itu, aku memang masih belajar, aku belajar menulis memang diwaktu yang telat, ketika aku bosan dengan dunia gerakan ekstra yang banyak berbicara perubahan tetapi tidak melakukan apapun, akhirnya pilihanku  lah yang membawa ke UKPKM TegalBoto.
“kudu puas dimaki2 dulu 2 tahun :))  kamu udah pernah dimaki belum?”
Lalu dia bilang seperti itu. Jelas, aku tidak takut dicaci maki, apapun itu jika memang untuk kemajuan, yang paling aku tidak suka, ketika orang mencaci maki tetapi tidak pernah ada masukan yang berarti hanya menilai tanpa memberikan solusi. Hal itulah yang membuatku malas untuk menunjukan tulisanku pada orang lain khususnya anak-anak Tegalboto, karena aku pikir sudah jauh lebih baik dari aku yang masih anak bawang ini.
“mana linknya? yeee, blog ngapain disembunyikan? dikasih tau laaah”
Masih saja aku tidak mudah memberikan wilayah otonomi menulisku yang bebas dari caci maki yang menghancurkan itu. Sekali lagi, aku memang bukan orang yang percaya diri dalam hal menulis
 “ namanya proses pembelajaran cuk gak usah minder taek2an ah kalo mau maju kalo mau stuck, ya udah simpen aja tulisanmu sampe busuk. Gak ada orang yang baca dan gak ada orang yang tau kalo kau nulis. Sekarang mana linknya?
Ok. Aku beri tahu mas,,mulai gelagat mencurigakan muncul. dia bilang jangan dulu off. Dan muncul di noticifation. Mas Nuran menandai ku, pikirku tulisannya romantisnya. Ternyata dia memang sedang memberikan malapetaka, ya awalnya malapetaka. Aku benar-benar lemes. Banyak orang ditandai di Wallnya mas Nuran. Asyem, bakal jadi bulan-bulannan sepertinya aku ini oleh mereka-mereka yang paham. Sungguh sial hari ini, setelah tidur di taman kampus karena dikerjain teman-teman, eh ketika membuka laptop untuk Online mas nuran menambah perkara.
“blogmu itu warnanya jangan norak cuuukkk. Jangan terlalu banyak maen warna”
Dia tidak tahu aku ngeedit html template itu semalaman, dari pada harus pakai yang umum lebih baik aku pakai hasil editanku sendiri, meski katanya itu norak. Tapi karena aku sedang tersihir oleh katanyanya yang sarkas namun sebenernya lembut itu. Ya sudah, mungkin aku akan mengeditnya lagi. Tapi lain waktu saja fuk.
Dia semakin menjadi sepertinya dia tidak hanya menandai anggota-anggota TegalBoto, tetapi juga alumni-alumni Tegalboto yang kalau aku lihat di group Preman TegalBoto, seolah hanya mengenal kata-kata salah dan tidak ada benarnya terkait dengan perkembangan organisasi pers mahasiswa ini, huhf serem.
“jancuk mental tahu”
Sepertinya dia sedang mengigau, padahal tahu itu makanan bergizi ya?sudahlah, dia tidak sedang memuji. Dia masih saja meracau. Aku tidak sakit hati, dia biasa mencaciku, yang aku takuykan hanya “mereka-mereka’ yang ditandai itu. Dan memang aku sepertinya saat ini sedang bermental cemen.
Sampai pada akhirnya mas Nuran, mencoba sedikit seperti Mario Teguh, memberi motivasi ditengah keterpurukan #tidak selebay itu kok
  “kamu pikir pram gak pernah dibilang tulisannya jelek? tulisan pram itu dibilang mencret pas awal2 keluar”
Aku ingat itu mas, masih sangat ingat video Pram itu.
 “kamu pernah dibilang tulisanmu kayak mencret?”
“belum pernah kan? walau tulisanmu memang nyaris kayak mencret sekarang, hahaha. Tapi yang penting prosesnya cuk”
  “ojo rewel wae koen iku. Sinau, moco, nulis. Aku yakin kamu bisa jadi penulis yang hebat. Aku percaya itu”
Entahlah apa yang dia bicarakan itu serius atau bohong. Aku tidak peduli. Yang jelas, dia mengingatkanku soal Pram yang dicaci maki ketika pertama kali bertemu dengan idolanya. Entah, aku lupa siapa namanya. Tapi memang benar, apa yang dilakukan mas Nuran memang benar. Seolah semuanya dibalikan oleh mas Nuran dengan kalimat yang membawa-bawa nama Pramoedya  Ananta Toer, salah satu tokoh dalam karyanya menjadi insiparisku untuk berbelok arus dari mahasiswa yang suka demo menjadi mahasiswa yang belajar menulis.
Ya, silahkan semua mencaciku, dengan senang hati aku mendengarnya. Dia memang senior yang bajingan, entah kenapa, aku jadi teringat kata-kata Lao Tzu “perjalanan beribu mil berawal dari satu langkah”. Dan ini langkah pertamaku, entah itu dengan caci maki atau apapun. Tak jadi soal. Menjadi lebih penting jika caci maki itu membawa perubahan untuk lebih baik.dari awal menghancurkan percaya diriku, menjadi menumbuhkan semangat menulisku. Benar, mau sampai kapan Mbak Devi terus mencaci tulisanku, mau kapan mas Arys mengacuhkan tulisanku. Sudahlah, mungkin aku terlalu banyak meniru gaya menulis orang lain yang justru tidak membuatku berkembang hanya meniru. Iya, sampai pernah aku mengambil beberapa kata milik mas Halim hanya untuk menulis romantis. Maaf mas,,hha
Sepertinya sudah jam 6 pagi, aku masih belum tidur. Dan mahasiswa sudah banyak yang datang. Dari taman kampus Fakultas hukum ini, aku akan mengingat kata-katamu, mas. Seperti apa yang dikatakan oleh Mas Romdhi, soal Butterfly effect, berharap saja hal itu memang ada. Sudah. Aku harus kuliah dulu.
Terima kasih Fuk Nuran!!!

03/04/2012







Lesung Pipi itu yang membuatku tidak bisa tidur

-->
Menuju pagi yang banyak menahan rindunya. Semalam, malam sedikit berbeda dari malam-malam yang lalu, sedikit berbaur dengan harum rambutmu, sedikit tercampur oleh tingkahmu yang lucu. Aih. Anak siapa sih ini? Kok lucu sekali.
 Sampai sampai selarut ini mataku tidak ingin beranjak dari kegelapan. Aku masih ingin membayangkan tangaku mengelus pipi lembutmu. Malam sudah sampai pada ujungnya membawa pada keceriaan pagi. Dan aku masih saja ingin mengabadikan kebersamaan denganmu tadi malam.
Senja yang baru saja khatam beranjak pada malam. Kita berdua  sempat bersama menyambut malam, meski hanya sekitar satu jam bersama. Tapi ada yang tidak bisa diungkapkan oleh kata, kebersamaan itu. ketika kita berdua hanya aku yg bisa bertanya mungkinkah “kau tahu jawabnya”

Malam jadi saksinya kita berdua di antara kata yang tak terucap berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban atau mencoba mata yang bisa mengartikan sandi-sandi dalam setiap tatapannya “masihkan kau tidak paham?”. Sudahlah, jangan terlalu dalam memahami karena tentu kau tak ingin tersibukan dengan itu.
Kita berbicara apa malam itu? Banyak sekali sepertinya, dari mulai berbicara soal senyummu yang manis sampai puisimu yang indah. Yang jelas aku  masih ingat bagaimana dada terasa terhantam godam. Berdebar keras sekali Dan mata mencoba memandangi mu tiada hentinya sampai kadang kau bertanya “kenapa sih mas lihatin aku seperti itu?” aku hanya menjawab ala kadarnya saja. Tetapi jika kau tau, aku sedang menahan kelu, cantikku. Kau begitu manis sekali. Apalagi senyummu dengan lesung pipinya yang renyah bagai biscuit legit.
Malam semakin redup Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus berdetak. Waktu  seolah tak pernah paham bahwa aku menikmati setiap detiknya bersama perempuan berlesung pipi ini. Tangaku sepertinya sedang lancang untuk menyubit pipinya dan kau hanya tersipu. Benar-benar cantik sekali kau malam itu dan aku yakin jelitamu tidak habis sebatas malam.
Sepertinya kita harus pulang,,
Besok kita bertemu lagi, Jelitaku!
  

Sabtu, 28 April 2012

Surat Untuk Mu(antara amarah, cinta dan kepalsuan)




Kita yang sempat berjumpa, kita yang sempat tertawa, kita yang sempat berbicara cinta. Dan kita yang akhirnya berpisah. Ini pilihanmu, bukan pilihan yang ku inginkan. Kau membaur dalam cinta yang lebih dekat. Alasan yang sungguh tidak masuk akal. Kau marah jika ku bilang kau bagian dari kepalsuan, tapi itu nyatanya. Kau selalu berkelit “aku tak bisa mengungkpkan isi hatiku” ah, bohong sekali.
Kau bisa melakukan itu, permasalahannya kau tak segan saja.

Wajar saja jika pada akhirnya aku menduga-duga liar atas sikapmu yang tidak lagi lugu itu. Seharusnya kau pun menyadari itu. Bukan sekedar mencaci waktu, mencaci diri lalu menghilang seolah kau pantas untuk selalu ku perjuangkan. Kadang, kau memang datang dengan cinta yang kucari, tapi kadang kau pun tak pernah sadar, kau bermain-main dengan perasaan. Tak ada yang bisa kau tunjukan jika memang kau tidak palsu? “soal jarak”. Tak laku lagi soal alasan klise itu.

Sekarang kau terlalu sombong. Sangat sombong. Kau campakan semua yang kubangun bertahun-tahun. Hanya atas dasar kau marah? Kau sepertinya yang kekanak-kanakan.
Sudahlah. Aku benar-benar kecewa denganmu, kau tetap tak pernah bisa menghargai cinta, kau tetap seperti  empat tahun yang lalu.

Jika memang ada yang terbaik untuk mu bersenang-senanglah dengannya. Aku tak ingin rindu selalu membebani hidupku. biarkan aku pun ingin melupak tentang mu seperti kau yang memulai.
Aku harap dia memang yang terbaik, tak ada tangis, tak ada amarah lagi. Karena aku akan benar-benar tidak peduli denganmu.

Biarkan, waktu yang sombong dan kaku ini menunjukan siapa yang terbaik dan bersungguh-sungguh!!!!


Sampai Jumpa

Kau tinggalkan aku dalam sunyi
Hanya Melepasmu dalam kebisuan.
Tanpa ada Tanya, apalagi kecup dikeningmu.
tak ada percakapan denganmu, tak ada
tegur sapa atau sebagainya. kukira
begitulah baiknya


Cinta memang tak perlu berbalas, dan  aku memang tak mau mau memelas.
Aku hanya bisa  merayu waktu untuk mengendapkan rindu, selamanya
Biarkan!
 agar rindu tak lagi membebani hidup
sampai jumpa

cinta kita terjebak pada kefanaan, yang hilang, mati dihujam waktu yang sombong
lalu kau menghambur, menolak mengingat dan berkelindan dengan kepalsuan.
Mungkin hanya dimasa lalu saja kita saling memadu kasih?
Sampai  jumpa

#Minggu, 29 April 2012, ditempat yang sunyi dan sepi.