Kamis, 11 Oktober 2012

Sekitar Lima Jam saja untuk kota impian





Langit belum genap menghatamkan sinarnya. Langkahku masih saja terus menelusuri ramainya hiruk pikuk manusia. Benar kata  Aristoteles, manusia memang tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Mereka selalu saja ingin berkomunikasi dan menjalin ikatan dengan sesamanya. Seolah aku memang tenggelam dalam keramaian, tidak ada yang kukenal. Terlampau banyak wajah asing yang kupandangi dan terlalu banyak kekaguman yang kutahan.
Semua soal kemeriahan yang kunanti. Kemeriahan yang membuatku kecanduan. Semua soal kota yang penuh dengan semangat berbudaya. Kota ini Ngayogyakarto Hadiningrat. Tempat raja Mataram bersinggsana yang melambangkan keagungan tradisi lokalitas yang sampai saat ini tetap dipertahankan. Sempat beberapa saat singgah dikota yang sudah sejak lama menjadi impian tinggalku dimasa depan itu, karena kereta yang kutumpangi harus berganti dan menanti sekitar lima di Jogja. Waktu yang cukup lama jika dihabiskan hanya sebatas menunggu di peron stasiun.
Kusempatkan untuk sekedar mencari hal-hal yang menarik dipusat wisata jogja, apalagi kalau bukan Malioboro. Disana banyak sekali ditemukan kemeriahan yang membuatku sangat tertarik. Tidak perlulah kiranya aku sebutkan satu persatu kan?. Satu hal yang membuatku sangat tertarik ketika berkunjung ketempat wisata itu yaitu bagaimana aku dapat berkomunikasi dengan wisatawan dari mancanegara. Kebetulan saja pada waktu itu memang ada dua orang pasangan dari Spanyol yang tiba-tiba datang menghampiriku untuk bertanya tentang Jogja. Waw, ini kesempatanku untuk melatih bahasa Inggrisku yang masih terbata-bata. Ya meski sempat beberapa diselingi oleh bahasa tarzan atau bahasa tangan, obrolan itu berjalan cukup lancar dan saling memahami. Bule itu berasal dari Barcelona, yang kuingat dari mereka hanya Paula, perempuan seksi itu.
Jogja memang tidak pernah berhenti memberikan kilaunya. Ada saja yang menyejukan mata atau sekedar membuat pandangan mata ini berpetualang menikmatinya. Salah satunya ketika bagaimana para pengamen Jogja yang selalu mengemas penampilannya dengan sangat menarik. Sebenarnya aku sudah sering melihat itu semua, tetapi bagiku ada saja yang berbeda. Entahlah, mungkin aku terlalu mencintai Jogja sehingga yang ada dalam benakku selalu saja identik dengan keindahan.
Waktu itu jarum jam menunjukan angka lima, berarti aku sudah hampir satu jam ada dikota ini, tetapi tujuaan utamaku untuk membeli oleh-oleh penganan khas Jogja, apalagi kalau bukan Gudeg tetapi belum juga tercapai. Temanku dari Garut memintaku untuk membawakan Gudeg kendil. Tentu saja aku sulit menolak, sebab orang tuanya yang meminta. Tujuanku adalah Wijilan. “Jika berjalan kaki dari Lempuyangan cukup jauh ya?.” Tetapi selangkah demi selangkah memang membawa kita pada tujuan. Aku memang terpaksa jalan kaki selain karena ingin melihat banyak hal di Maliobro, juga  karena berhemat. Sepertinya alasan kedua yang sangat rasional.  Malioboro bukan tempat yang baru aku kunjungi, tetapi tidak sudi ketika aku harus naik becak atau dokar.
Wijilan, seorang teman di Jogja yang menunjukanku pada tempat itu. Mereka mengatakan, disana sebagai sentra gudeg dan Mas Nuran yang menspesifikan tujuanku di Wijilan itu, yaitu ke kedainya  Yu Djum. Gudeg buatan Yu Djum katanya sih luar biasa, membuat lidah tidak bisa melupakan cita rasanya. Awalnya aku sempat tidak percaya, tetapi setelah dicoba. Aku terpaksa mempercayai itu sebagai kebenaran yang mutlak. Yu Djum memang luar biasa. Apalagi telurnya  rebusnya, yang digodok sampai kenyal sehingga mampu menghilangkan rasa hambar dan enek dari telur itu karena memang bumbunya sudah merasuk jauh sampai kuning telurnya. Jangan lupakan juga ayam kampungnya yang benar-benar membuat lidah tidak bisa berbohong kalau rasanya memang mak nyus.  Gudeg  Yu Djum di godok selama 24 jam sehingga pantas jika bumbunya sangat meresap. Tak  heran memang ketika banyak orang ketika berbicara Gudeg menunjuk gudeg Yu Djum. Tidak hanya terkenal karena cita rasanya, Gudeg Yu Djum juga sudah menjadi legenda hidup Gudeg itu sendiri karena memang sudah berdiri cukup lama.
Setelah selesai menghabiskan satu porsi gudeg, aku membeli dua kendil gudeg dan satu besek. Ya memang harganya sedikit tidak umum bagi kantong mahasiswa cekak seperti aku ini. Tetapi tidak perlu merugi merogoh kocek sedikit dalam untuk cita rasa yang legendaris.  
Dari perjalananku yang hanya lima jam di Jogja, Gudeg Yu Djum membuatku ingin selalu kembali lagi ke Jogja. Akhrinya aku kembali ke Stasiun Lempuyangan, sekedar untuk melepaskan lelah dan mengambil Carrierku yang kutitipkan di toiet stasiun. Aku pun duduk menanti detik demi detik harumnya kabut gunung Halimun dan merasakan dinginnya udara Parahiyangan[].

Kamis, 02 Agustus 2012

Aku yang Tak bisa bertanya!!



Oleh: Gulfino Che Guevarrato


Hari ini ada yang tidak biasa di Fakultas Hukum. Ada hal yang sangat menarik tentunya. Ketika dua orang calon-calon pemimpin masa depan Fakulatas Hukum “retorika” soal visi dan misinya. Bagiku itu semua sungguh luar biasa. Mereka memaparkannya dengan begitu elegan. Setidaknya dari kata-katanya yang begitu meyakinkan.
Beberapa kali aku mencoba untuk bertanya, tapi moderator masih juga tidak peduli. Mementingkan yang lain. Tak jadi masalah, aku tak bisa bertanya. Kuputuskan untuk keluar ruangan yang sudah terlihat diskriminatif itu. Mengapa demikian? Moderator lebih mementingkan dosen daripada mahasiswa, meski aku sudah mengacungkan jariku terlebih dahulu. Sekali lagi tidak jadi masalah, kerena aku masih bisa mengekspresikan pertanyaan-pertanyaanku lewat tulisan ini.
Kembali pada pembicaraan pemaparan visi dan misi calon dekan. Ada banyak hal yang menggelitik untuk inginku “kejar” pertanyaannya. Yang pertama soal KKM dan KKN, dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satu poinnya membicarakan pengabdian pada masyarakat. Dalam pengabdian pada masyarkat itu dapat diartikan diartiakan dalam rangka penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dikembangkan di perguruan tinggi, khususnya sebagi hasil dari berbagai penelitian.Pengabdian pada masyarakat merupakan serangkaian aktivitas dalam rangka kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat yang bersiafat konkrit dan langsung dirasakan manfaatnya dalam waktu yang relatif pendek. Aktivitas ini dapat dilakukan atas inisiatif individu atau kelompok anggota civitas akademika perguruan tinggi terhadap masyarakat maupun terhadap inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan yang bersifat nonprofit(Tidak mencari keuntungan). Dengan aktivitas ini diharapkan adanya umpan balik dari masyarakat ke perguruan tinggi, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut.
Jelas, membicarakan pengabdian pada masyarakat tidak hanya sebatas bagiamana membuat WC umum, membangun tugu, mengadakan sunat masal, tetapi juga bagaimana ilmu yang kita miliki selama belajar di Fakultas Hukum mampu diterapakan dalam ranah yang lebih praksis. Sebagai contoh konkrit yang saya pernah alami. Pada suatu ketika, ketika saya bersama kawan-kawan seorganisasi melalukan advokasi di desa Panti, mungkin pernah dengan Rahamtullah. Disana banyak masyarkat yang sangat awam akan permasalahan-permasalahn hukum. Dampaknya banyak masyarakat yagn tidak paham dan dibodohi oleh pengegak hukum. Warga masyarakat Panti bahkan takut untuk mengikuti persidangan di Pengadilan Jember, karena adanya intimidasi dari polisi pada waktu itu. Sampai pada akhirnya kami mencoba untuk memberikan pemahaman akan permasalahan-permasalahan hukum itu agar lebih mudah dipahami. Sungguh luar biasa dampaknya mereka berani bersuara pada ketidak adilan yang selama ini mereka dapat. Kalau aku boleh meminjam istilah dari Bung Karno “ machtvorming” atau penguatan pada masyarakat ada semacam usaha develomentalisasi sehingga menjadi masyarkat menjadi lebih sadar akan ketidak adilan yang selama ini didapat. Itu contoh mudahnya. Jelas pula ada proses peninggkatan kualitas dan tentunya pengalaman, tidak hanya sebatas (umumnya) menjadi petugas fotocopy, atau datang duduk diam, dan mengunggu pekerjaan ada ketika kita magang di instansi atau kantor-kantor yang menerpakan kerja-kerja yang “kaku”. Sebab bagi aku, entah yang lain. Menjadi seorang penegak hukum tidak sebatas memiliki etos Profesional tetapi juga memiliki etos cultural, yang akhirnya mampu menjadi seorang penegak hukum tersebut berjiaw humanis. Tapi sebatas argumentasi aku saja,” seorang mahasiswa yang belum lulus”.
Kita(mahasiswa) katanya sebagai Agent Of Change  merujuk pada stigama-stigma yang ada  tentunya kita jelas memilik tanggung jawab untuk siap melakukan perubahan. Perubahan disini dimaknai pada proses bagaimana kita tidak hanya terjebak pada ruang-ruang postivistik. Tetapi juga mampu memberikan manfaat pada sekitar kita (baca masyarakat dan penegakan hukum). Mahasiswa yang hanya sebatas berkutat dalam ruang-ruang semu yang bernama ruang kelas itu hanya akan menjadikan mahasiswa-mahasiswa yang elitis, egois yang akhirnya menjadikan kampus sebagai menara gading pendidikan. berlebihan kah aku? Silahkan anda yang menilai. Tapi   cobalah jujur pada realitas yang ada. Oleh karena itu ada usaha untuk mengkonkritkan ”ide-ide” mahsiswa dalam bentuk yang lebih konkrit lagi. Seorang budayawan, lulusan STF Driyakara pernah mengatakan “praksis itu adalah perbarengannya antara diskursus dan tindakan” intinya apa yang kita miliki (potensi) mampu ditumbuhkan dan dikembangkan dalam bentuk tindakan. Untuk aplikasinya silahkan tanya saja pada dekan yang terpilih nanti. Aku hanya ingin melontarkan pertanyaan yang mencari konktitisasinya.
Menyoal pada hal yang lain yang juga menggiliti bagiku adalah BEM. Saya sepakat tidak sepakat dengan BEM. Bukan soal trauma politik atau apapun itu. Tapi saya ragu apakah benar BEM ini mampu menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan semestinya. Atau jangan-jangan BEM hanya digunakan tak ubahnya panitia-panitia “PKK” di kampus. Yang hanya menjadi EO (event organizer) program-program kampus. Atau sebatas mengadakan lomba-lomba. Memang bagus dan keren, tapi jika dikonsetrasikan pada hal-hal tersebut maka lebih baik BEM itu tidak usah saja, karena justru akan mencetak kader-kader birokratis yang jelas-jelas itu membodohi #birokrasi yang berbelit-belit bagi ku adalah semacam pembodohan yang dibenarkan oleh sistem. Satire! Oleh karena itu perlu ada obrolan panjang dulu untuk membulatkan suara dari mahasiswa-mahasiswa. Oh ya, soal birokrasi itu aku dan banyak kawankku banyak menjadi korban dari birokrasi di Fakultas Hukum yang tidak mempermudah mahasiswanya, dari mulai masalah ujian susulan sampai minta tanda tangan yang harus mengemis-ngemis seoalah kita memang sangat bergantu. Mohon pak untuk menjadi lebih baik penataan birokrasi Fakultas Hukum.
Berbicara pada hal lain. Satu hal yang bagi ku jg penting dan sepertinya banyak mahasiswa yang akan sepakat. Ketersediaan ruang publik dikampus. Jika merujuk pada apa yang dikatakan oleh Jurgen Habermas, filsuf mahzab Frankfrut bahwa ruang publik adalah ruang dimana orang-orang mencapai konsensus rasioanal tanpa ada intimidasi atau campur tangan pasar dan negara. Dalam konteks ini adalah jelas bukan yang aku maksud, tapi bagaimana mahasiswa mampu berdialektika dengan bebas, tidak hanya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan hukum sehingga menciptakan ide-ide yang “liar”. Selain itu keberadaan ruang publik juga mampu menjebatani komunikasi dengan dosen yang tidak terlihat di Fakultas Hukum, berbeda dengan di kampus lain dan Universitas lain yang pernah aku kunjungi. Disana dosen bisa bertukar pemikiran dengan mahasiswa yang mana akan menciptakan komunikasi yang hangat dan tidak kaku.
Sebagai penutup ceracauku yang sempat “dibungkam” karena tidak boleh bertanya itu. Hehhe.
Aku hanya ingin mengatakan pada bapak-bapak yang terhormat yang juga menjadi calon dekan Fakultas Hukum. Tanpa maksud lebih pintar atau menggurui tentunya. Jika aku kembali membaca buku salah seorang sastrawan Inggris, Thomas Fuller “sumpah yang terucap dsaat badai menerjang akan mudah dilailaikan kala keadaan tenang” dan aku tidak pernah berharap bapak melupakan janji-janji yang akan sangat brilliant itu. Satu hal lagi, ketika tadi salah seorang calon menyampaikan visi misi dengan begitu heroik, aku jadi teringat dengan apa yang dikatan oleh Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris “Seni kepemimpinan berani mengatakan “tidak”, bukan “ya”. Karena akan sangat mudah mengatakan “ya”. Tentunya bapak semua paham maksudnya bukan.

Dan kita semua mahasiswa Fakultas Hukum akan melihat seberapa benar dan tepat janji-janji yang dikatan oleh calon-calon Dekan itu. Semoga hasil akhirnya yang menyenangkan dan membuat kita bangga akan pilihan yang sudah ditentukan itu.
Mohon maaf bila ada salah kata, tapi biarkan aku berekspresi tanpa harus tidak diberi kesempatan lagi untuk bertanya. Karena itu sudah cukup membungkam aku.
Terima kasih!
Merdeka!!



Selasa, 24 Juli 2012

Aku Bukan yang Lain


Aku Bukan yang Lain!!!!!!!!!!

Bair,biarkan aku terbang,,tanpa kau mengikuti ku..
Sekali berarti,,tak ada yang mampu membunuh artiku...
Biar,,biar..aku melangkah tanpa mengikuti jejak mu...
Sekarang aku bkan elang kecil,,
Ya,,meski aku elang liar,peluru-peluru pemburu selalu mengintaiku
,aku akan tetap menegakan sumpahku,,,
Sumpah untuk semua kebahagiaan...
Bukan sumpah untuk tunduk pada kemunafikan...

Jika kau mau potonglah sayapku...POTONGLAH!!!!!!
Karena aku masih bisa lari untuk tetap pergi mencari sumpahku...
Karena sekali berarti sudah itu mati!!!!!
Jangan Pernah remehkan aku!!!!!!!!!




Masih ingat dalam bayangku ketika hampir cukup lama tertekan dalam kondisi yang tidak pernah baik dengan Ayahku. Aku teringat dengan kata-kata Mas Nuran, "laki-laki yang beranjak dewasa akan bersitegang dengan Ayahnya,itu hal yang wajar". Ia pun dulu seperti itu dengan Ayah yang Ia sayangi dan sempat menyesal ketika Ayahnya harus menginggalkannya selama-lamanya, Ia belum sempat lulus.
Itu cerita mas Nuran, yang aku anggap sebagai kawan sharing soal banyak hal yang sangat menyenangkan. cerita ku tidak demikian. Sejak aku tumbuh menjadi manusia yang dewasa. Aku berhadapan dengan ketegangan dengan Ayahku, banyak hal yang membuat kita menjadi tidak cocok, selain karena watak kita yang sama-sama keras, aku memang bukan orang yang suka harus tunduk. Sedangkan Ayahku sangat otoriter, sampai pada suatu ketika, aku harus menuruti mintanya untuk kuliah di UJ (Universitas Jember) padahal aku sangat ingin kuliah di UGM, dan suatu malam itu, Ayahku memarahiku dengan kata-kata Sarkas yang membuatku sangat terkejut. Malam itu, aku hanya bisa terdiam dan mencoba untuk tertawa tanda perlawanan akan tetap berlanjut. Amarahku padanya benar-benar memuncak. Karena malam itu, Ayahku sama sekali tidak memberikan rasionalisasi kenapa aku harus menuruti pintanya.

Dalam amarah yang sulit padamnya dan aku sangat mengingat malam itu, aku mencoba memindahkan amarahku pada "semacam" puisi ini. Aku sangat menyesal mendegar kata-kata itu keluar dari mulut seorang yang sangat kuhargai sebelumnya, meski dari sejak dulu aku sering berbeda pendapat. Dan yang menjadi korbanya hanya mamahku yang menahan untuk bagaimana meredamkan keras kepala antara Anaknya dan Suaminya.

Sudah 4 Tahun kejadian itu berganti. Sudah tulisan ini ada. Sudah selama itu pula aku masih dalam kondisi yang sangat dingin dengan Ayahku. Beberapa kali aku mencoba untuk mencairkan suasana, dengan cara-cara aku sebagai anaknya tetapi tidak berdampak banyak. mungkin Ia sulit untuk mentransformasikan rasa sayangnya pada anaknya dalam bentuk tindakan, ya aku mencoba berpikir positif saja.

Aku tidak ingin menjadi Mas Nuran yang "menyesal" karena tidak sempat membahagiakan Ayahnya. itu saja yang ingin kukatan. Dengan cara sebaik baiknya dan sehormat-hormatnya, karena didarahku ada darahmu!!!

Aku Pun Ingin Beranjak, Tuhan!
















Baru saja lima hari puasa ini berlangsung tapi rasanya berat sekali. Banyak sekali godaan yang mengganggu, bukan soal makan atau minum, aku sudah biasa menahannya. biasanya pun makan hanya dua kali sehari. maklumlah penghematan sebagai anak kost, biasanya teman-temanku godaan yang paling tidak kuat itu rokok, jelas aku tidak sama sekali merasakan rokok sebagai hal yang terberat untuk menganggu puasa. lalu?
ehm, yang paling berat godaan puasa itu lihat cewek. Hadeh, itu berat sekali harus menahan nafsu birahi. hahha.

Menarik sekali perlawanannya. Harus menahan sampai ubun-ubun, tapi aku anggap itu semua sebagai bahan pembelajaran agar emosi dan nafsu duniawiku dapat terkontrol.

Satu hal yang sangat penting di bulan Ramadhan ini, aku ingin konsen untuk beribadah. Ya, kurang lebih 11 bulan aku banyak melakukan yang diluar jalurnya (baca dosa) _pastinya setiap manusia pasti akan senang berbuat dosa_ tapi untuk bulan Ramadhan ini aku ingin meninggkatkan iman dan taqwaku. Apakah aku terlalu berlebihan? terserah yang menilai. tetapi aku ingin mencapai ketengan batin, tanpa harus mengingat-ingat indahnya bercinta atau apapun itulah. Beberapa kali aku coba merenungkan itu semua dan yang tersisa sebatas penyelasan, penyesalan dalam arti yang masih sempit.

Bulan Ramadhan, yang katanya bulan suci atau kembali menjadi fitri dan berbagai macam sebutan lainnya. Dari bulan ini, aku ingin mencari momen menjadi manusia yang sadar akan  hadirnya Tuhan, setelah selama ini aku "tidak peduli' dengan perintahnya. Dan tentunya berharap akan berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Sungguh susah memang membangun konsistensi ini, aku hanya sebatas berusaha.

Sebelumnya aku sering melihat temanku yang rajin sekali beribadahnya dan itu semua berdampak pada tingkah lakunya yang santun. Aku pun mencoba menintrospeksi diri, kadang aku sangat liar dan banyak "bermain-main" dengan lawan jenisku. Sedangkan temanku begitu sopan dan benar-benar baik, meksi itu sebatas penglihatan. tapi aku yakin dia memang santun. Kondisi-kondisi seperti itulah, ketika aku banyak melewatkan waktu untuk beribadah dan mengingat Tuhan yang membuatku tidak tenang, terlalu mudah emosi. keadaan jiwa yang merasa tidak nyaman.

Beberapa waktu lalu aku memulai untuk beranjak. Mencari ketengan rohani, ya, konsekuensinya aku harus mengingat waktu, menjaga pandangan mata dan birahi. Yang terakhir itu yang sulit. Sial.

Diantara semua itu memang ada banyak tahapan yang harus dengan sabar kita lalui. Harapan terbesarku adalah bagaimana aku berusaha untuk terus meningkatkan religiusitasku tidak hanya sebatas ritual belaka, tetapi pemaknaan terhadap keyakinanku. Akan menjadi sia-sia jika aku menjalankan ritual tanpa oernah memahami hakikat utamanya. Dari semua itu aku benar-benar ingin mencari ketengan jiwa. Merasa damai jika aku "dekat" dengan penciptaku.

Perlu diketahui, aku selama ini belum khatam Al Qur,an, aku pun baca Qur'an tidak lancar, Sholat pun jarang sekali, kadang aku lupa bacaan Sholat. Bahkan aku hanya hafal beberapa surat-surat pendek. menyedihkan sekali. Ya Mudah-mudahan Tuhan baca ceracauku ini, semoga niatku ini tetap hidup sampai kapanpun. Amien.

Rabu, 11 Juli 2012

Obrolanku dengan Naila Cerewet


Telah muncul juara baru dalam perhelatan Debat Mahkamah Konstiusi  se Indonesia regional II, juara itu adalah Universitas Jember. Tentunya sangat membanggakan karena Universitas Jember mampu berbicara melalui prestasi di tingkatan nasional. Sukses itu tidak lepas dari peran serta tiga mahasiswa perwakilan Universitas Jember yang kuliah di fakultas hukum Universitas Jember.  Muhammad Indra Kusumayudha, Naila Rizqi Zakiah dan Gress Gustia Adrian Pah, semuanya adalah mahasiswa semester 4 Fakultas Hukum Universitas Jember.  Sebelumnya berbagai prestasi di tingkat nasional juga telah mereka torehkan salah satunya Juara I Lomba Debat Hukum Nasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Piala Bergilir Sri Soemantri dalam rangkaian Padjadjaran Law Fair 2012.
Salah satu dari tim juara itu bernama Naila Rizqi Zakiah, Nay- begitu aku biasa memanggilnya- adalah Mahasiswa yang telah banyak mendapatkan prestasi, tak berlebihan rasanya. Difakultas Hukum, kita akan biasa menemui Nay di ruang HTN (Hukum Tata Negara). Benar saja, siang itu aku bertemu dengannya didepan ruang HTN. Maka dengan gerak cepat aku “seret” dia ke tempat yang lebih enak untuk ngobrol-ngobrol soal prestasi-prestasi yang selama ini Ia dapat.
Tentunya tidak mudah mendapatkan semua itu, dari mulai Juara satu debat hukum nasional UNPAD, Juara MCC MK regional Jawa Timur , Juara Debat MK regional II,  juara 6 tingkat nasional dibawah UI, juara English debate se kab Jember  dan sempat beberapa kali mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri dari mulai Thailand, Malaysia, Jerman dan Austria. Diluar semua prestasinya itu tentu ada usaha dan kerja keras yang selama ini Nay  lakukan. Nay aktif di UKM fakultas. Disana Ia menempa diri untuk bisa berlatih debat, menulis karya tulis ilmiah dan berbagai macam kegiatan lainnya. Pada masa-masa awal proses kuliahnya, Ia pun sempat kesulitan dalam melakukan proses penempaan itu, Ia pun berusaha untuk melihat cara-cara yang dilakukan oleh para senior-seniornya. Membaca, berlatih dengan sangat giat, tetapi gagal. Nay merasa itu bukan cara yang tetap untuknya, akhirnya Ia memilih jalan sendiri “I have own way, mas” begitu menurutnya. Dengan kesenangan itulah Ia merasa lebih nyaman. Melakukan segala sesuatu dari hati (niatan) agar hasilnya maksimal
aku sempat terhenyak ketika perempuan berkacama itu mengatakan bahwa Ia tidak pernah punya target untuk meraih prestasi-prestasi itu, tanpa target saja sudah banyak ia dapat . Dengan tanpa target-target  itu aku sendiri menjadi paham bahwa memang tidak akan ada beban yang menganggu. Target atau tujuan yang dimaksud disini adalah ambisi yang berlebihan.  Ia melakukan itu dengan kesenangan dan keikhlasan saja sehingga tidak ada target-target yang membebani pada akhirnya. “let it flow“ begitu Nay menambahkan. Ia tidak pernah berambisi untuk menjadi juara atau apapun itu. Ia hanya sebatas melakukn itu secara maksimal dengan sedikit keberuntungan.
 “keberhasilan memang tidak hanya bertumpu pada factor luck aja. Orang yang pintar bisa kalah dengan orang yang beruntung”.  Tetapi bukan berarti keburuntungan dicapai dengan mudah, dengan berusaha itu kita akan memperoleh keburuntungan. Dan keberuntungan itu tidak dapat diprediksikan”. Memang benar, keberuntungan didapat dengan usaha yang selama ini kita lakukan. Aku pun teringat dengan mantra
Berbicara bakatnya di debat, “Aku dasarnya bukan orang yang mudah sepakat dengan pendapat orang. Aku puas ketika sesuatu yang orang tahu tidak tahu, sedangkan aku tahu. Aku tertarik banget. Bukan  berarti tampil berbeda, tapi itu semua menjadi pemacuku untuk berusaha lebih baik dan mencari hal-hal yang baru” dengan suara yang mengebu-gebu Nay mengambarkan dirinya, khas seperti Ia sedang berdebat.
Nay bercerita bahwa Ia diawal-awal Ia mengitu lomba ia kadang merasakan kesulitan bekerja sama dengan tim, karena hampir beberapa Ia mengkitu lomba dengan membentuk kelompok. “Pada awalnya aku suilit berkerja sama dengan timku. Kesulitanku bekerja sama dengan orang lain karena aku tidak melepaskan sisi egoisku. Aku merasa lebih bisa dari orang lain. Sejak  Praktek Peradilan Semu Mahkamah Konstitusib tahun 2011 lalu,  aku mulai belajar  bekerja sama dengan orang lain. Dari situ aku mendapat pelajara bahwa berkeja sama dalam tim itu memang perlu usaha untuk tidak memaksakan kehendak kita. Karena kebersamaan dalam tim itu lebih penting daripada egoisme  kita”
Matahari semakin terik dan mahasiswa mulai banyak keluar kelas, pertanda jam kuliah sudah habis, tetapi kita masih asik untuk melanjutkan perbincangan. Kali ini aku bertanya soal pilihan kuliahnya di Jember ini. Meski Nay asli Jember, pada awalnya Ia sama sekali tidak menempatkan Universitas Jember sebagai pilihan untuk melanjutkan studinya. Nay lebih memilih Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada. Benar kata pepatah lama, Jodoh memang tidak akan lari kemana. Setelah sempat beberapa kali ditolak untuk masuk Universitas idamannya itu, akhirnya Nay memilih Jember , itupun setelah dibesarkan hatinya oleh Ibunda  Nay, yang selalu Ia ceritakan sebagai obat yang paling mujarab dalam hidupnya.
Pilihan kuliah di Universitas Jember pada awalnya memang sangat sulit, sempat beberapa kali merasakan ketidaknyamannya, tetapi ia selalu berpegang teguh pada nasihat orang tuanya “ mutiara akan tetap menjadi mutiara dimanapun itu berada”. Hal itulah yang kemudia hari dirasakan olehnya bahwa pilihan di Universitas Jember adalah pilihan yang tepat untuk menuntut ilmu. Sebab semua bergantung dari usaha yang kita sendiri lakukan.
“no matter  where I  life, I’m still pearl” dengan percaya diri Nay meyakikan bahwa Universitas Jember adalah pilihannya yang tepat sekali dan Ia bangga sudah menjadi bagian dari Universitas Jember, sedikit banyak memang di Universitas Jemberlah, Ia ditempa menjadi mahasiswa yang berprestasi, diluar bakat-bakat yang ia miliki.
Semua itu terbukti dan Ia mampu membuktikan bahwa pilihannya adalah tepat. Nay berhasil membungkam UI yang dulu menolaknya. Sebab Ia sempat ditawari oleh Pembantu Dekat Fakultas Hukum UI untuk melanjutkan kuliah S2 di UI ketika juara 1 Lomba debat Mahkamah Konstitusi. Satu hal yang membuat Nay selalu bersemangat dalam meraih prestasi-presatsinya. Ia mengatakan padaku “bungkam itu mati gaya, teriak itu kreasi”. “Sederhana itu biasa saja, tetapi akan menjadi luar biasa ketika kamu bisa meracik kesederhanaanmu”.
Satu hal yang tidak pernah aku lupakan dari percakapan siang itu, bahwa berproses dalam kuliah itu tidak selamanya terjebak diruang-ruang kelas. Ruang kelas akan hanya menjadi begitu usang, bangunan kosong tanpa isi  ketika kita  kita larut dalam keadaan kelas itu, ketika kita tidak larut dalam kelas itu maka proses dikelas itu akan menjadi atraktif dan ada proses dialektis yang jelas manfaatnya dalam proses penempaan yang selama ini kita cari-cari sampai ke bangku kuliah.
Obrolan ini pun mencapi ujungnya. Nay dan aku harus kembali pada kesibukannya masing-masing. 
kalau ingin kenal dengannya silahkan masuk disini nay

Selasa, 10 Juli 2012

Sebatas Mencurahkan yang diketahui!


HABISI AKU JIKA KAU MAMPU  
# Di unduh dari Facebooku, Gulfino Che Guevarrato

Disekitar Senja
6 Juli 2012 pukul 20:52 ·



Dan sore Ini
ak hanya mencubit pipimu
tidak perlu berpelukan.
ingin rasanya bisa lebih dekat,
kepada hangat yang menentramkan

menyaksikan senja yg perlahan menyingsing
memandangi matahari bersalin lalu melahirkan gelap yang agak lain karena bintangnya

manisku,
harummu masih tersisa dibaju yg lama tak ku ganti ini
dan kau menghanyutkanku
sudah,
esok pagi kita harus memulai untuk saling menahan meski hanya beberapa waktu!
Setelah it bibirmu bsah kembali!

:D

Pengakuan bedebah
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 27 Juni 2012 pukul 23:44 ·
Dan Ia menjadi santapan amarah, membwanya dlm lembah yg dalam, kegelapan di bibirny tp hatinya tetap jadi peri kecil yg slalu hdp dlm stiap mite-mite kuno

aku, lelaki yg menandung dendam,
yg membwanya pd kesunyian
sampai tanpa sadar tawanya hlang,
air matanya bercucuran
lalu saling mengutuki waktu yg membwa pandangan mata menuju makian yg diperankan oleh kejijikan
maaf.manisku!

semua soal naluri yg saling di mengerti, tp malu untk sling mengungkapkan!
Dan smua hanya basa basi yg trlalu berlbhan untk skdar meyakinkan!
Kembalikan 'kejijikan' it lalu biarkan milky way menjadi saksi kta berjalan dalam gelap malam yg bsah!!!

Jember, 27 Juni, dlm kusut yg mencoba terurai'

#aku marah begitu sadar aku telah ditipu-rachel zadok


Sajak para "rebel"
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 11 Oktober 2011 pukul 6:01 ·

Bergeraklah robohkan kawan berduri..
Berteriaklah agar seantero bumi mendngar bhwa ada seorang messiah bru yg tak leleh dpanggang panasnya aspal.

Ini soal kesenangan, bkn soal perjuangan, krna bnyk d antara pejuang2 yg rebel,nanti ketika punggung tak bsa menegak harus dlupakan oleh seberapa sering dapur mengebul.
Biarkan.biarkan biarkan.
Semua soal kesenangan, bkn pula soal rakyat.
Rakyat hanya judul saja agar tak malu dkata agent of change.

Lalu Ini soal euforia, knpa pula harus berhenti berjuang ketika jadi sarjana, lalu malah duduk manis d dpn komputer, tak peduli dgn kegaduhan jaman, krna telah trhipnotis pkerjaan, meski lusa nanti kontraknya tak dperpanjang lalu melamar k dpr sbg pembwa amanat rakyat!shit!

Biarlah. Biarlah tak perlu d urusi,
penaku bsa meleleh terbkar panasnya aspal jika ku ikut2 kawan lamaku!

Celoteh Makan kerupuk d musim "kering''
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 10 Oktober 2011 pukul 16:12 ·

Hari ini memang langit sdh berseri. Meskipun tetap keras kepala tak mau memberi hujan pd kami. Sangat kering bhkan kering akan makna 'kepekaan'
Arrght
Sudahlah, ak tak ingin memaksa untk menuruti mauku, lbh baik ak makan kerupuk saja, krna harga beras mahal.
Sdangkan uang dr mamahku tak jua cukup.
Sudahlah tak perlu mengeluh pd pemerintah toh mereka tak tau apa artinya salah.
Apalgi marah pd Tuhan, krna memang ini sebuah ujian bg kami!
Tp
Kemarin, ak lhat PIZZA HUT buang limbah bkal cucian piring k sungai, ingn ku bkar rasanya warung mereka. Tak tau kalau kami harus mandi d sungai dan makan kerupuk krna dampak kekurangan air.
Sudahlah tak usah marah pd pemerintah, krna memamg mereka takut pd produk amerika it.apalg pd pizza hut, Meski kami berebut air comberan bkas mereka!

hari ini ak makan mewah dgn kerupuk rendang, tak ada daging sapi, krna sapi2 pd mati, ladang rumput sdh tdk ada berganti pabrik2 khas kota maju.
Sekali lg jgn marah pd pemerintah, marah saja pd hujan. Hujan tak memberikan kesemptan rumput hdp d tanah2 sekitaran pabrik yg dlu tmpt mayat buruh pabrik! Pemerintah bnr, meski kami harus d upah murah dan ketika kami tak mau tunduk harus dbunuh lalu dbuang d tanah leluhur kami!

Aih. Kenapa otakku selalu memprotes dan melawan, meski awalnya dr kering.kering krna kemarau, kering karena pemerintah tak pernh peka.
Ak tak brani menjawab krna mungkn makanku hnya kerupuk, harga nasi uduk sdh tak bsa ku beli dgn pemberian halal mamahku,entah kalo hasil korups ayahku!!!

Menantinya d stasiun Tugu
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 25 Juli 2011 pukul 21:29 ·
Kunanti kau dgn mata sayu.
D antara kursi2 peron yg sepi
pasti kau sangat lelah berdesak2n d antara ribuan penumpang!
Menantimu dstasiun tugu penuh harap.penuh cemas!
Tak kusangka kereta tak jg datang.
Mungkin lbh baik aku pulang dan melanjtkan mimpiku!
Biarkan qta akhri saja penantian menanti yg tak jg pasti.
Berhenti bercnda d antara kereta2 yg kusam.

Karena aku hrus melangkh trus ktimur!
D tempat yg menawarkan harapan!

Sajak Si Labil
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 23 Juli 2011 pukul 10:34 ·

Selalu saja tak pernah kuasa pda lembar2 sejarah
sejak langkahku terus bergerak. Sejak itu pula aku semakin lupa pada kesakralan sejarah!
Tp aku tetap tak kuasa menahan kelu jika harus membukanya kembali!
D antara kabut2 yg menyamarkan ku dalam ketiadaan,
aku selalu berharap matahari dan bulan menyatu dalam rima2 yg tidak labil membawa ku dalam indahnya malam.
Terbaring bersama sang tanda tanya menanti bintang jatuh.
Melukiskan kata dalam tindakan!
Tp entahlah, apa ku bsa seperti itu kontemplasi ku tentang sebuah makna tak pernah tuntas.meyakini cangkang2 busuk yg mudah pecah oleh senggolan tangan!
Smua terlalu abstark aku maknai.
Sampai2. Aku lupa bgaimana aku harus bercinta.
Sampai aku tau, aku telah menjadi manusia yg asing. Yg berjalan gontai dlm lorong pencarian yg sepi.senyap.pengap.gelap..hanya membuatku merenkönstruksi ulang'untk apa manusia hidup jika hanya menumpahkan darah sederajatnya?untk apa kita berTUHAN jika lupa sapa itTUHAN?
Untk apa.untk apa.untk apa?
Itulh knpa,?ak selalu ketakutan pd detak2 jantung yg mulai melambat sebelum ak menyentuhNYA

Pecahkan segala misteri waktu d antara bulan yg pucat!
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 18 Juli 2011 pukul 1:35 ·

Malam ini bulan tak begitu indah memancarkan warnanya!
Kulalui malam ku.duduk bersama teman2.menatapi indahnya sang luna yg mulai kelam d kuasai awan mendung!
Tanpa makna.hnya cnda tawa melepas keakraban dbalik rindunya kampung halaman. Sudah terlalu lama aku tak menyantap masakan mamahku.dan sejak saat it pula.ak lupa dinginnya kota ku!

Malam mulai bergegas lengser menuju pagi. Baru aku sadar. Kebiasaan ku merasakan dinginnya malam, menatap indahnya luna sdh lama aku tinggalkan pula. Wuh. Sdh bnyak berubah sepertinya aku ini. Menyamarkan diri dalam acuan sang tanda tanya!
Lalu mulai ku ingat dtk demi dtk memori d masa lalu ku.
Dan bru ku sadari pula. Beribu makna yg kusimpan hanya untuk merasakan nikmatnya menjadi anak manusia yg tdk lg ingusan!
Huft.malamku begitu padu dgn masalalu. Sang luna sdh hilang dr tatapan mataku tersingkirkan oleh kuasanya awan mendung. Betapa kelunya hati ini ketika aku menyadari tentang hubnganku dgn ayahku. Yg sampai skrng blm jg membaik. Memang aku terlambat. Terlambat bkn karna hubngan bilateral yg sdang membeku bgai Uni Soviet dan USA. Tp memang, misteri hdp yg slalu menyajikan tanda tanya yg membuatku tertahan-tahan untk dapat menikmati hangatnya teh hijau dkota intan!

Malam ku begitu syahdu.benar2 syahdu d antara lilin2 yg akan padam.d antara lantunan ayat2 Tuhan!

Sudah kurasai rindu mu d hati ni.mah!
ku rasai rindu ku pada hari2 d waktu lalu. Brsama2 untk tertawa dan menyibak misteri hati semua terangkum dalam malam yg bisu[]

mr.che

Pak tua yg absurd dan si muda yg gamang
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 13 Maret 2011 pukul 18:00 ·

Tentang pak tua dan si muda.
Sepi menyengat dalm benaknya.memutar blikan hdpnya yg melunta2 mencri arti hembus nafasnya.
Dan simuda yg berchaya dalam kulit2 kehitaman d gantng menjdi harga dirinya.yg panas tp tak pnh ingn dkata panas.

Semuanya.tentang pak tua dan si muda trlalu samar untk dgariskan dlm titik takdir.krn hdp ini soal hdp yg dhempas angin2 kemeleratan..
Ya.krna d antara tawa dan cnda.msh trbtasi olh tekstur otak yg tak pnh halus..
Pak tua dan si muda..
Bercerta tentng hdp yg tak pnh mati krna asanya tetap congkak dn melhat hembusan nafasnya dr sudut pandan batu berkilau.
Hahaha.

Kepada masa lalu
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 9 November 2010 pukul 23:32 ·

Teringat aku dngan nama2 kawanku yg trtlis d atas meja2 lusuh kelas qta.
Hari it sudah membias dgn waktu.
Berjalan maju dan pantang untk mundur!
Dan aku kini brada jauh dr pandangn mata masa remajaku!
Ku tinggalkanya dgn manis.meski tanpa ksah yg indah!
Merasakanya bkn lg bicara cinta antara aku dgn bnyk d antara dia.
Tp tentang memori2 yg mematri keindahan!
Aku brjalan menyusuri arah yg dberkn oleh tanda tanya.
Dan tdk pnh ingn kembli lg.
Karena ak sudah bhagia d hari yg menyatu kmbli!
Hentikan!
oleh Gulfino Che Guevarrato pada 25 Oktober 2010 pukul 21:28 ·

Tak ada kuasa untk menahan.
Semua hanya kata2.ya jika kau memaknainya secra negatif!
Muntahkan tanya.tuding cerita palsu.
Dan kuberhenti menjawab.karena tdk ada lg kejujuran yg ku punya.
Semua teralih dr cinta menjd kepenatan!
Hentikan cerita.dan meminta hujan meski musim kemarau!
Ku tak tau lg.memulainya dr mana..
Dan tak mau ku akhri d tengah bdai yg msh jg menderu!
Cerita indah.hnya kepalsuan jika d pandangi oleh kecurigaan.
Maaf aku hanya binatang yg paling jalang.
Yg tak sanggup brkata benar.kta2 jujurku hnya kepalsuan yg semakn brjaya!
Akhrnya aku hanya bsa brharap.ini bkn malam terakhr qta!