Selasa, 26 Februari 2013

sebatas celoteh

Hari ini, entah hari keberapa kita dalam kerikuhan untuk saling berbicara. Seolah memilih untuk tidak saling mengenal adalah jalan pilihan yang paling baik. Setidaknya paling baik untukmu?. Terlau banyak waktu yang tersita oleh amarah dan sedikit dendam. Itu memang yang sering kita bicarakan selama ini. Selama itu pula rasanya tak ada senyum manis, sapa lembut atau kelembutan lainnya yang membuat kita bisa saling mengenal satu sama lain, bukan menjadi musuh tentunya. Sudah banyak yang ku upayakan  tetapi hasilnya pun sama. Lagi-lagi, keras kepalalah yang membuat semuanya hancur.
Matahari masih belum terlalu terik, aku sengaja ingin memulainya lagi pembicaraan yang selama ini selalu terhenti. Entah pikiran apa yang membuatnya menjadi sangat kaku dan kasar. Seolah ia tertutupi oleh kebenaran . kebeneran yang hanya menjadi keyakinannya, kebenaran yang banal karena sungguh mengesampingkan sisi kelembutan.
“kita bukanlah musuh” itulah yang selalu aku katakan tetapi ketulian menutupi semuanya. Ah, sudahlah, aku hanya ingin berteman saja tak lebih. Toh tak ada pikiran untuk membuat segalanya lebih baik, tetapi setidaknya kita pernah begitu intim sangat intim. Hal bodoh semacam ini seharusnya tidak perlu terjadi jika ada keikhlasan.
Ketika memang keadaan ini tidak bisa diperbaiki, ya sudah toh aku semuanya akan baik-baik saja.

Sabtu, 02 Februari 2013

Semangat Perlawanan Perkebunan Kopi Rakyat Pakis


Pohon Kopi yang diKelola oleh  Masyarakat Pakis


Bicara tentang kopi, tidak sedikit orang yang menyukai minuman pahit ini. Dari anak muda hingga orang tua. Kedai kopi pun telah menjamur dan bisa kita temui di pinggir jalan maupun di mall. Kedai kopi telah menjadi trend dan tempat berkumpulnya suatu komunitas untuk sekedar bersilaturahmi hingga urusan bisnis.

Dalam Simposium Nasional Ekonomi Kopi bertema”meningkatkan Daya Saing Kopi Indonesia” di aula lantai 3 gedung rektorar Universitas Jember, Drs. Moh. Hasan, MSc., PhD  ketika membuka acara itu melontarkan kalimat “ketika Kopi yang dibicarakan, maka Jember yang terpikirkan”. Jember merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia, dimana hasil kopinya pun merupakan kopi unggulan.

Kualitas kopi Jember pun diakui di berbagai daerah, pada suatu hari saya mampir ke kedai kopi di Bandung. Kedai kopi itu sudah cukup tua berdiri sejak tahun 1928, ketika itu saya bertanya pada seorang nenek tua keturunan Tionghoa yang menjadi keturunan ke 4 pengelola kedai kopi itu. Saya bertanya darimana kopi di kedai ini dipasok. Ia menjawab sudah sejak jaman kakeknya kopi di kedainya salah satunya berasal dari Jember, Jawa Timur.
Jember sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas, dimana pengembangan produksi kopi di Jember rata-rata dikuasai oleh rakyat, maksudnya adalah masyakat yang bukan menjadi bagian PT Perkebunan Nusantara, mengelola kebun kopinya secara mandiri untuk kesejahtraan pribadi mereka dan dalam sistem pengelolaan kebun kopinya pun tidak ada sistem yang biasa diterapkan di perkebunan seperti mandor, sinder dll. Sehingga masyarakat benar-benar leluasa untuk mengelola tanahnya yang ditanami kopi.

 Produksi kopi yang dikelola masyarkata umum atau perkebunan rakyat di Jember dalam setahun mencapai 100-200 ton. Bila digabung dengan produksi PT Perkebunan Nusantara XII, maka hasil kopi Jember mencapai 800-1000 ton per tahun. Jember memang telah memiliki akar perkembangan kopi sudah sejak jaman kolonial Belanda. Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Jember, Joni Murti Mulyo Aji, mengatakan sekitar 96 persen dari total luas kebun kopi di Indonesia, yakni 1,254 juta hektare, dikelola oleh rakyat atau petani. Sedangkan yang dikelola BUMN dan swasta hanyalah sisanya, sekitar 4,10 persen .

Banyak contoh perkebunan kopi di Jember, salah satunya yang berhasil adalah desa Sidomulyo Jember, dimana petani kopi di desa itu yang tergabung dalam koperasi sudah berhasil mengembangkan produksinya tidak hanya sebatas biji kopi saja tetapi juga bubuk kopi. Bahkan perkebunanan kopi rakyat ini, produktifitasnya bisa melebihi PTPN.
Kebun Kopi

Diantara banyaknya pengelolaan kopi oleh rakyat di Jember ada yang membuat saya tertarik yaitu perkebunan kopi rakyat di kecamatan Panti. Alasan utama ketertarikan itu adalah menjadi kopi rakyat bagi mereka sebagai simbol perlawanan atas perebutan tanah yang sempat mereka lakukan sejak tahun 1962, pada waktu itu masyarkat diusir dari desa Widodaren setelah itu tanah didesa Widodaren dikuasai ole PDP (Perusahan Daerah Perkebunan) . Pada tahun 1967 rakyat diberikan hak lagi untuk mengelola tanah tetapi dengan sistem sewa lalu dua tahun kemudian terjadi perebutan tanah lagi oleh perhutani. Sudah terjadi dua kali pengusiran yang dilakukan baik oleh Perhutani maiupun PDP.

Proses sengeketa tanah itu terus berlanjut dan rakyat tidak dapat mengelola kopi dengan tenang. Sampailah pada tahun 2000, dimana Perhutani dan masyarakat mencoba untuk berkerja sama mengelola Hutan dalam bentuk PHBM (pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). Alasan dibentuknya PHBM adalah sering terjadinya pencurian kayu di hutan sehingga  merugikan Perhutani. Perhutani tidak memiliki Sumber Daya Manusia yang banyak sehingga harus melibatkan masyarakat untuk mengelola hutan. Masyarakat diberikan hak untuk mengelola tanah untuk ditanami kopi kembali setelah beberapa kali kopi-kopi yang ditanam harus di tebasi oleh pihak Perhutani karena berbagai alasan yang intinya menunjukan soal legalitas ijin pengelolaan tanah oleh masyarakat.

Sejak dibentuknya perjanjian PHBM, masyarakat mampu mengelola kopinya dengan lebih optimal meski belum maksimal karena memang perjanjian PHBM itu hanya dilaksanakan oleh satu pihak saja yaitu masyarakat sedangkan Perhutani beberapa kali melakukan wanprestasi sehingga konflik-konflik kecil itu masih sering terjadi seperti kasus penangkapan karena masyarkat dianggap meruskan hutan meskipun yang dilakukan oleh masyarakat itu sudah diatur di perjanjian PHBM seperti Perjarangan pohon Mahoni.

Kopi Robusta merupakan varietas kopi yang c ditanam di perkebunan rakyat Pakis kecamatan Panti. Pada awalnya masyarakat mendapatkan benih kopi tidak dengan membeli atau melakukan pembenihan sendiri tetapi sisa-sisa kopi perkebunan yang tumbuh liar dan kadang masyarakat ‘mengambilnya’ dari pekerbunan secara diam-diam. Hal ini dilakukan karena keadaan ekonomi masyarkat pada awal-awal penanaman kopi masih sangat minim, "jangankan untuk membeli benih kopi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih sangat sulit" kata pak Munaji salah satu pemilik lahan perkebunan kopi rakyat.
sistem enten

Setelah pohon kopi tumbuh besar, agar hasil kopinya maksimal maka petani kopi melakukan teknik enten dengan menyambungkan dahan dari kualiatas kopi yang baik dengan pohon kopi yang mereka tanam. Untuk mendapatkan dahan-dahan kopi itu, pada awal-awal penanaman mereka pun melakukan hal yang sama dengan memotong pohon-pohon kopi dari perkebunan tetapi pada saat ini kebiasaan itu sudah tidak dilakukan kerena keadaan ekonomi masyarakat sudah meningkat karena hasil dari tanaman kopi. Kopi telah merubah keadaan ekonomi dan sosial masyarakat desa Pakis kecamatan Panti.

Ketika beberapa tahun yang lalu banyak tenanga-tenaga produktif di desa itu yang pergi keluar negeri menjadi TKI karena sulitnya mencari pekerjaan di desa itu maka pada saat ini tidak hanya menyerap tenaga kerja tetapi juga kualitas pendidikan di desa itu meningkat. Tidak sedikit dari penduduk desa yang menguliahkan anak-anaknya. Peningkatan kualitas ekonomi ini tidak dibarengi oleh pola pikir masyarakat. Hasil kopi seharusnya lebih maksimal tetapi masyarakat yang masih bereuforia dengan keberlimpahan pada akhirnya tidak mampu memaksimalkan penjualan kopi. Pada masa pra produksi masyarakat bisa dikatakan berhasil mengelola kopi tetapi pada pasca produksi kekuatan pemodal masih berkuasa. Masyarkat masih belum memiliki kemapuan negoisasi untuk menentukan harga jual kopi.

Produksi kopi selama sekali panen bisa mencapai hampir 600 ton dengan harga jual kisaran Rp.17.500 – Rp. 22.000. sering kali produktivitas kopi yang dikelola oleh masyarkat jika dibandingkan dengan perkebunan daerah tidak sebanding, Masyarakat lebih unggul dalam hal produksi. Dari segi kualitas dan produtivitas sering kali PDP Widodaren meminta pasokan tambahan kopi pada masyarakat. Pengelolaan kopi masyarakat pada akhirnya menimbulkan semangat perlawanan untuk ‘merebut’ kembali tanah-tanah yang sebelumnya dikuasai oleh masyakat tetapi karena kekuasaan  rezim pada akhirnya mereka menjadi korban.

Semangat itu muncul karena masyarakat semakin teredukasi dan sadar akan alienasi ekonomi selama ini, keterasingan  menimbulkan kemiskinan ditengah-tengah tanah sebagai faktor produkis yang luas. Cukup lama masyarakat hidup dalam kemiskinan dan ketertindasan. Semangat itu terus di dijaga oleh para masyarakat pengelola kopi yang sudah sejak lama tergabung dalam kelompok-kelompok tani.

Perkebunan kopi yang dikelola rakyat, khususnya didaerah kecamatan Panti, desa Pakis tidak saja meningkatkan kualitas ekonomi tetapi juga menggugah semangat perlawanan rakyat yang sudah cukup lama hidup dalam ketertindasan sistem penguasaan tanah, dimana selama ini rakyatlah yang melulu menjadi korbannya.[]

Merdeka!

Jumat, 01 Februari 2013

Akhirnya Menjadi Asing

dalam malam yang benar-benar getir
ada cahaya yang mencari gelap
ada pula gelap yang bersembunyi diantara lorong panjang
kemana cahaya itu?
kucari dalam lipatan-lipatan kisah lama pun tak ada
ada yang benar-benar terasing dalam bayangnya sendiri
sampai-sampai ia menjadi ketakutannya sendiri

lalu dimana terang itu?
harus kah terus berjalan menyusuri langkah dalam liku lorong yang panjang?
atau berdiam diri sambil mendengarkan hardikan caci maki
jika itu membuatnya puas, lakukanlah,. lakukanlah
selagi gelap itu menutupi matanya
biarkan ia terpuruk dalam penyesalan yang sama gelapnya dengan bayangnnya sekarang.
lalu cahaya itu datang menyibakkan kebenaran

semua akan dimulai kembali
saat mata yang biasa saling memandang
bibir yang biasa saling membasahi
dan paha yang saling bertelungkup
sama-sama tidak saling mengenal


Minggu, 27 Januari 2013

Biarkan kamu Cum Laude di mata Tuhan



Mungkin itulah kegetiran? Mungkin itu kegagalan? Atau mungkin juga itu kekalahan yang membuahkan penyesalan dan kekecewaan?. Semunya memang serba mungkin, hanya diri kita yang merasakan tentang semua yang terjadi. Termasuk tentang Cum Laude, ada yang bermimpi mendapatkan predikat itu, ada pula yang acuh karena itu tidak begitu penting tetapi predikat itu memang begitu membanggakan. Apalagi jika kita berhasil menunjukannya pada orang tua yang kita sayangi. Sadarlah, sekarang pun tidak sedikit diantara kita yang mendapatkan predikat sebagai cum lauder tetapi mendapatkannya dengan cara yang tidak elegan sama sekali. Menampilkan wajah memelas, sok pintar dengan kekesongan atau apapun lah. Intinya cum laude bukanlah segalanya yang bisa membuat kita menjadi lemah. Aku rasa orang tua kita akan lebih bangga ketika anaknya setelah lulus bisa bekerja dengan manfaat dan mampu menghidupi keluarganya. Jelas itu lebih ‘prestasi’ dari pada  cum laude yang sebats statistik saja.

Cum laude tak lagi istimewa!
Sengaja aku menulis ini untukmu, kawanku. Kesedihanmu memang beralasan karena  belum berhasil membahagiakan orang tuamu, melihat pancaran kebanggan orang tuamu ketika kau lulus dengan predikta cum laude, tapi ingatlah itu bukan segalanya yang membuatmu menjadi patah arang lalu meratapi keadaan ini dan tak bisa beranjak. Aku tahu betul kapasitasmu seperti apa? Tentu saja, selama kita menjadi saling mengenal kau cerdas dan terampil itu sudah menjadi modal penting hanya saja keberuntungan atau mungkin kebaikan masih melindungimu sebab tidak sedikit yang mendapat predikat cumlaude dikampus kita bermain curang dengan menjadi pelacur intelektual, ya anggap saja pelacur intelektual bagi mereka yang suka mengemis nilai, mencari muka didepan dosen dengan menutupi kebopengannya. Tak perlu risau, matahari masih terus menyinari, selama itu pula kau harus sadar bahwa semangat itu harus tetap membara. Cum laude atau tidak cum laude bukan hal yang penting lagi sebab  kau masih lebih layak mendapatkan itu semua meski tidak disahihkan dalam angka dan patung cinderamata tanda cum laude. Semua memang serba simbol saja.

Sedih bukan alasan dominan.
Sekarang bukan saatnya memikirkan cum laude atau tidak. Kebahagian orang tuamu tidak ditentukan sebatas itu saja bukan? Sebab seperti yang sudah ku bilang tadi selagi matahari masih terus bersinar selama itu pula kemungkinannya semakin besar untuk membuat keluargamu bahagia. Sedangkan cum laude hanya cangkang-cangkang kecil yang sudah harus kau lalui, percuma juga kita cum laude tetapi pada akhirnya menjadi pengangguran terdidik. Sungguh sayang bukan? Atau pecuma juga mendapat predikta cum laude  lalu berkerja di perusahaan besar tetapi tidak menjadi manfaat bagi sekitarnya.

Kawanku yang ku sayang, aku pernah bercerita soal filosofi china tidak? Ada yin dan yang, dimana dalam lingkarang terdapat warna putih dan hitam, tentu kau tau bukan kalau itu semua soal keseimbangan? . keseimbangan dalam kehidupan ini, mungkin saja kau tidak mendapatkan predikat itu pada hari ini karena Tuhan ingin menyeimbangkan kehidupanmu di masa yang akan datang. Ketika manusia hidup selalu bahagia tanpa pernah merasakan getir itu namanya bukan manusia yang sejati bukan?. Ayolah, sudah jangan  biarkan dirimu menjadi lemah karena tujuang yang tak sempat kau capai. Kebahagian itu bagai oksigen yang terbang bebas diudara, ada disekitar kita, tinggal bagiamana kita menjaringnya untuk diri kita.

Aku selalu ingat tentang cita-citamu, tujuan hidupmu setelah kita berkenalan banyak hal yang kita lakukan untuk saling mengedukasi diri. Dari proses dialektis itu, pada akhrinya menghadirkan dirimu yang tidak ‘itu-itu saja’. Semua yang kau dapat dihari ini adalah usaha murnimu, yang tak berlebihan ketika aku bilang bahwa nilai-nilai yang kau dapat suci dari proses belajarmu sebagai mahasiswa. Bukanlah hasil merendahkan idealismemu untuk sebatas simbol-simbol angkat atau huruf yang tak mempunyai bobot atau lebih sederhananya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Untuk kawanku, yang sempat menjadi pendamping revolusi hidupku. Sudah bukan saatnya ratapan itu terus kau biarkan menggoresmu dalam penyesalan. Ingat, waktu kita sudah mendekati akhir. Kebersamaan sudah mendekati batasnya. Oleh karena itu siapakan diri kita untuk masuk dalam rimba kehidupan yang  lebih kejam dari kehidupan kampus, yang intrik-intriknya paling keras soal pemilihan dekan, paling umum soal pelacuran pada nilai, yang paling mungkin sekarang adalah memperbesar kemungkinan yang ada tengah kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Dirimba kehidupan nanti, pasti kita akan bertemu dengan kebopengan-bopengan yang lebih tragis dari yang pernah kita temui di kampus. IPK mu yang kau dapatkan  sekarang ini sudah sangat membuat ku puas, minimal aku sebagai ‘teman’mu. Itu saja. Selamat malam. 

Jumat, 25 Januari 2013

LEBIH DARI SEKEDAR TEMAN BERPETUALANG


Toko Kopi Lama di Bandung

LEBIH DARI SEKEDAR TEMAN PETUALANGAN

Kita itu adalah aku dan kamu, bukan lagi aku atau kamu. Kita adalah satu yang tidak dipisah oleh ke-aku-an. Kita adalah bagian dari kisah yang sempat diceritakan melalui hujan, dingin, gelap, lembah, kabut, lelah, damai dan kasih yang tak terpisahkan oleh alasan apapun, itu harapan terbesarku!.

Pantai Bande Alit


Kita adalah bagian dari petualangan-petualangan yang penuh peluh, lelah, tawa, ceria dan kadang kesal. Sudah banyak cerita yang sempat kita buat untuk petualangan-petualangan itu. Petualangan yang tidak hanya sekedar memandangi keindahan saja, ada kegetiran, ada nestapa yang terlihat oleh kedua bola mata ini. Semuanya memang bercampur aduk menciptakan kisah yang lebih indah ketika diendapkan jaman lalu menceritakan kembali dikemudian hari ketika kita sudah sahih, ya bagai nikmatnya rum yang disimpan selama puluhan tahun.

Petualangan itu dimulai dari i Bande alit, dimana kita berdua terjebak hujan deras ditengah hutan Meru betiri sampai terjatuh karena licin batu-batu koral sebagai alas jalan satu-satunya yang bisa diakses menujut Bandealit. Kita pun pernah tersesat dihutan karet ketika menuju Rawa Cangak. Kau ingat? Untung saja waktu itu ada  pencari rumput yang berbaik hati menunjukan arah yang benar. Pulangnya pun kita melewati jembatan bambu ala indiana Jones, melewati hutan jati dan bertemu orang tua yang bercerita soal Siwil , mahluk kerdil di hutan Meru Betiri. Tidak berhenti disitu, petualangan terus berlanjut dari mulai yang direncanakan sebelumnya sampai tidak direncanakan. Kita berpetualang karena alasan kejenuhan di kota Jember. Pada waktu kita sedang kelaparan tetapi tidak ingin makan disekitaran Jember kota.  Lalu aku mengusulkan untuk ke Garahan, makan pecel. Sebelum ke Garahan tempat pecel-pecel itu berada, aku mengajakmu ke Gunung Gending tempat pemancar TVRI. Jalannya menanjak, sangat sepi. Selidik punya selidik tempat itu rawan pemalakan. Alhamdulilah kita selamat.  
Baluran

Apa kau masih ingat ketika kita berhenti di Arak-arak, memandangi lautan Jawa dari ketinggian sambil makan kripik singkong? Waktu itu kita petualangan pertama kita keluar kota, tujuan kita pasir putih Situbondo. Sebelum ke Situbondo, aku ingin mengenalkan pada mu soal sejarah. Oleh karena itu aku mengajakmu ke stasiun Bondowoso. Stasiun tua yang sudah tidak terpakai itu meninggalkan sejarah bisu tentang peristiwa Gerbong Maut. Apa kau masih ingat cerita gerbong maut yang pernah aku ceritakan, sayang?. Cerita itu berlanjut, aku pun mengajakamu ke Besuki, dimana Besuki pada masa kolonial sebagai kota yang cukup ramai dan berperan penting di keresidenan Besuki. Aku pun mengajakmu ke bangunan tua peninggalan Belanda di dekat polsek Besuki. Sesampainya di Situbondo, kita ke jalan tembus. Aku sengaja mengajakmu ketempat itu karena tempat itu begitu indah, tak berlebihan jika kau membayangakan tempat itu seperti bukit teletubies, memang tidak jauh berbeda bukan?
DPR RI


Setelah itu kita beristirahat sejenak sambil memandangi gunung Putri tidur. Oh ya, di Situbondo, aku mengajakmu untuk mencicipi kuliner kesukaanku yaitu Nasi Goreng Kutub Utara yang kebetulan pemiliknya temanku. Enak engga mie gorengnya? Enak bukan.
Beberapa minggu kemudian, kita merancanakan untuk kembali berpetualangan dengan menunggangi motor Revo merah itu. Motor itu memang motor yang akan menjadi sejarah dan saksi kebersamaan kita berdua ya!. Tujuan petualangan selanjutnya adalah Taman Nasional Baluran. Lelah sekali bukan waktu itu? Kita melewati hutan Baluran dan tikungan tajam Jurang Tangis yang terkenal banyak memakan korban. Cuaca pada waktu itu sangat panas, aku dan kamu sama-sama tidak mengenal medan di Baluran. akhirnya kita pun sampai di Bekol memandangi hutan Taman Nasional Baluran dari ketinggian. Angin benar-benar melenyapkan lelah, kita menikmati kesejukan diatas Bekol sambil menikmati ayam teriyaki yang kau masak untukku. Terima kasih sayang!.


Gunung Putri Tidur


 Pulangnya kita terus blusukan menuju Banyuwangi. Kali itu kita memang benar-benar berpetualangan, penuh tantangan. Ban si Revo meletus sebelum kita masuk gunung Gumitir, pada waktu itu jarum jam menunjukan angka 8. Alhmdulilah rasanya meski ada musuibah kita masih bisa menghela nafas syukur. Bagaimana jika meletusnya tepat diatas Gumitir yang gelap?. Waktu itu kau sangat lelah sekali, aku menuntuntumu terus untuk bisa berjalan. Ehm, kurang lebih kita berjalan 3km ya?. Kamu memang luar biasa untuk selalu menemani setiap petualanganku. Akhirnya titik cerah itu muncul juga, aku menemukan tambal ban. Selamatlah kita!

Trans Studio

Kita sempat melanjutkan petualangan dengan lebih menyenangkan. Kali ini, tujuan kita lebih luas lagi yaitu 3 Provinsi. Jakarta, Bandung, Jogja.  Petualangan kita lebih nyaman karena tidak menunggangi si merah tetapi naik bus AC executive bintang 3. Kebetulan pada waktu itu di kampus ada kegiatan studi lapangan di Jakarta ke MPR RI dan Mahkamah Pelayaran. Sebenarnya acaranya sungguh tidak berguna. Hanya hura-hura yang berkedok pendidikan tetapi peduli setan dengan semuanya, kami hanya ingin jalan-jalan, itu saja. Kita  lebih dekat dan lebih  nyaman pada waktu itu karena selama 5hari kita selalu bersama. Indah sekali bukan, nda? Apalagi ketika di Ciwalk ketika kau membelikanku sebotol Heineken, bercerita soal Bandung yang romantis. Aku berhasil membawa pasanganku ke kota yang penuh dengan cerita di masa laluku. Di Jogja pun, aku mengajakmu ketempat duduk pertamaku di Jogja ketika aku benar-benar pertama kalinya mengunjungi kota impian kita berdua untuk S2 nanti.

Setelah itu beberapa hari yang lalu, ketika semua orang sibuk meninggalkan Jember untuk menuju kampung halamannya masing-masing karena  Universitas Jember sedang libur pasca UAS, kita justru masih bertahan di kota pelajar yang sepi ditinggal penguhinya ini. Oleh karena itu kita merencanakan untuk mengisi liburan ini dengan petualangan baru yang penuh dengan cerita yang baru pula. Kita bersama kawan-kawan lainnya kali ini menunjungi Ijen dan berwisata di Banyuwangi. Aku sangat bangga dengan mu yang berhasil sampai di puncak Ijen, dimana ketinggian kawah Ijen berada di 2830 mdpl. Awalnya kau terengah-engah untuk sampai di puncak, kau sangat tak kuasa untuk bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak tetapi dengan penuh semangat, selangkah demi selangkan akhirnya langkahmu itu membawamu di kawah Ijen.memandangi kabut tipis bearoma belerang. Dibawah sana pun kita melihat kawah Ijen yang berwarna biru. Sungguh sangat indah bukan?. Pulangnya pun kita berhadapan dengan ketegangan, jalan yang kita lalui bukan lewat Bondowoso tetapi melalui Banyuwangi. Dimana jalannya begitu sepi, kita melewati hutan lindung yang tak ada satu rumahpun. Waktu itu jam setengah 6 sore, hujan gerimis dan jalan licin karena jalannya masih sangat bagus. Waw, begitu menegangkan apalagi kau menemukan pengalaman mistis disana.

Keindahan apalagi yang ingin kita ceritakan? Sebenarnya masih banyak lagi, ada Papuma, ada desa-desa di Jember yang kita kunjungi ketika jam jenuh melanda. Apalagi? Tentunya ada beberapa kisah yang sangat menarik untuk kita lanjutkan ceritanya. Aku hanya bisa berharap kalau kisah petualangan ini terus berlanjut. Dimana kita akan menceritakan kisah-kisah ini pada anak cucu kita. 

Terima kasih, Anggie Puspita Chris Agata, kau sudah menemani banyak petualanganku dan sudi untuk banyak berbagi dengaku. Ik Hou Van Jou,ladies  Supertr

Kawah Ijen





















Selasa, 22 Januari 2013

Di Lereng Bromo Cerita itu dikisahkan













Sungai Lahar Bromo

Berawal dari tugas kuliah hukum Tata Guna Tanah, kami sekelas pun melakukan studi empiris di gunung Bromo. Aku sih lebih sepakat perjalananku ini sebagai hura-hura yang berbasis edukasi daripada studi lapangan karena memang kami lebih banyak bermain-mainnya daripada belajarnya. Well, semuanya memang dikemas dengan menyenangkan, penuh kekeluargaan. Proses edukasinya memang tidak terlalu dominan tetapi aku rasa itu tidak terlalu penting sebab kami semua menjadi lebih dekat dengan teman-teman sekelas. Lumayanlah untuk bisa sekedar berbagi cerita dikemudian hari bukan?
Kukenal Bromo sudah sejak lama bahkan ketika aku masih berada di Garut, waktu itu aku hanya sebatas membayangkan bisa berada dipadang pasir gunung Bromo setelah menonton film ‘pasir berbisik’. Dimana dalam film itu settingnya berada dilautan pasir gunung Bromo. Sungguh indah bayanganku pada waktu itu. Oleh karena itu aku sangat antusias ketika ada tugas lapangan di Bromo. Pasti aku ikut. Sekali lagi tujuanku bukan untuk sekedar belajar saja tetapi aku ingin banyak mengabadikan pemandangan gunung Bromo di kamera DSLR D5100 NIKON. 

Bromo

Kebetulan aku memang sangat suka memotret landscape. Aku pun sedang belajar untuk bisa menghasilkan foto yang bagus, tidak perlu banyak mengedit fotonya. Niatku itu harus aku realisasikan apapun caranya. Awalnya aku mengajak kawanku untuk ke kawah Bromo tetapi mereka banyak yang menolak. Okelah tak apa, aku sendiri menyusuri lautan pasir itu sendiri. Tujuanku hanya satu yaitu bagaimana aku bisa mengaktualisasikan minatku pada fotografi dengan memotret pemandangan semaksimak mungkin.
Perjalanan ke kawah Bromo diawali dengan menanti matahari terbit. Aku bangun dari jam 4 pagi tetapi sayang sekali awan sedang tidak bersahabat, mendung terlalu berkuasa sehingga matahari tidak juga muncul. Okelah, sekali lagi tidak menjadi masalah. Kurang lebih jam 8 pagi aku mulai turun kebawah. Menyusuri setiap jengkal pasir Bromo. Ada ketenangan yang kurasa ketika berada ditengah-tengah lautan pasir Bromo, aku pun mengunjungi tempat syutingnya pasir berbisik dengan berjalan kaki, cukup jauh memang. Lalu aku melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo dari pasir berbisik tetapi ditengah-tengah jalan menuju kawah ada sungai sisa lahar dingin dari gunung Bromo. 

Bromo
Tujuan utamaku tetap kawan Bromo tetapi sesampainya di atas ada sedikit tragedi di lereng Bromo, aku terjatuh di sisi lereng sebelah luar ketika tripod dan tas lensaku jatuh di sisi luarnyanya tetapi ditengah derita itu masih saja ada untunyanya sebab aku masih bersyukur tidak jatuh disisi dalam kawah, bisa mati tidak berguna aku kalau jatuh kebawah. Bisa dibayangkan bagiaman jatuhku itu, aku terjatuh berguling-guling menyelamatkan dua benda itu, memang tidak terlalu sakit tetapi kakiku akhirnya kram dan tidak bisa digerakan. Orang-orang diatasku hanya bersorak kagum. Sial, aku jadi tontonan banyak orang, tak sedikit yang bertepuk tangan. Apa mereka pikir aku sedang atraksi sirkus ya? Bahkan ada beberapa yang memotretku “mas, aku foto ya untuk kenang-kenangan”kata salah seorang pengunjung. Aku sama sekali tidak mempedulikan mereka semua karena memang kaki sedang sakit-sakitnya. Tidak ada juga yang menolong karena medannya cukup sulit untuk diakses. Melihat banyak yang menonton aku harus segera berdiri dan menunujukan tampang biasa saja meski sebenarnya aku sedang menahan sakit dan malu. Niatku untuk memotret malah aku yang di foto-foto bak pemain sirikus konyol yang berguling-gulin g dilereng Bromo demi tripod dan tas lensa. Semua benda itu masih baik-baik saja, tidak ada kerusakan sediki pun.
Aku pun segara beranjak naik ke jalan para pengunjung tentunya dengan wajah biasa saja. Banyak orang yang datang menanyakan keadaanku “mas tidak ada yang luka kan?”tanya seorang ibu padaku “well bu, alhamdulilah tidak ada yang luka” jawabku dengan biasa saja. Pengalamanku jatuh dilereng Bromo memang memalukan pada waktu itu tetapi menjadi kisah yang menarik setalah aku berhasil melewati itu semua.
Aku pun tidak begitu saja menyerah untuk berburu banyak gambar. Ku lanjutkan perlajananku menyusuri sungai lahar dingin itu, aku tertarik menyusuri tempat itu karena tempat itu seperti grand canyon di Amerika, ngarai purba kikisan sungai Colorado. Sepertinya perjalanku memang sedang tidak berjodoh dengan kondisi kakiku yang semakin tidak membaik lalu aku pun bergegas naik ke lauatan pasir. Sial memang tak bisa ditolak, kakiku benar-benar tidak bisa menahan tubuhku, aku pun tersungkur jatuh ditengah lautan pasir, tak ada seorang pun ada disekitarku karena aku memang tidak berada dijalur pengunjung tetapi dijalur yang aku suka, dimana jalurku itu memang jauh dari tempat biasa pengunjung biasa lalu lalang menuju kawah Bromo.
Penunggang Kuda di Bromo
 Sekitar 30menit kaki kanan dan kiriku tak bisa digerakan, aku hanya bisa berdoa saja sambil berusaha menggerakan kaki, memijat-mijat kakiku. Alhamdulilah, ada tukang ojek yang datang menghampiriku. “ayo mas, numpak ae (ayo mas, naik ojek saja)” tukan ojek itu menawariku, sungguh bagai malaikat bapak ojek itu. “ oke mas” jawabku dengan semangat. Aku akhirnya diantar oleh bapak ojek itu sampai atas, memang masih terasa sakit kaki ini tetapi masih bisa digerakan. Sekali lagi, aku masih belum juga menyerah. Kumaksimalkan tenagaku, aku menjepret beberapa view Bromo dari kejauhan. Pikirku pada waktu itu, jangan sampai terjatuhku dari lereng Bromo menjadi sia-sia tanpa menghasilkan banyak gambar-gambar di  Bromo.
Setelah selasai hunting aku kembali ke penginapan, Bromo memang memberikan pengalaman yang sungguh sangat menarik dan sulit untuk dilupakan begitu saja. Ditengah lauatan pasir itu aku merasakan ketenangan, dianatara angin gunung  yang sepoi-sepoi. Selain itu lautan Pasir memang indah dan eksotis, nuansa petualangannya benar-benar terasa. Terima kasih Bromo di lerengmu, aku sempat menuliskan cerita yang tak akan pernah begitu saja kulupakan!
Gunung Batok


Aku sangat suka pada setiap perjalananku. meski dilalui dengan berbagi cara dan berbagai kesulitan. Semuanya begitu indah karena aku Supertramp

Senin, 21 Januari 2013

Pak Heru: Cintailah Proses, nak!

saya dan Pak Heru

Perjumpaan pertama kami terjadi pada tahun 2004, ketika itu ia membacakan puisi W.S Rendra “sajak sebatang Lisong”. Ia adalah seorang guru bahasa Indonesia, masih muda, revolusioner dan sangat energik. Awalnya sedikit berkerut dahiku melihat gaya mengajarnya yang aneh dan sedikit asing bagiku dan teman-teman sekelas. “belum juga kenalan, guru ini sudah langsung saja teriak-teriak baca puisi” pikirku. Pada waktu itu ia baru saja sebagai guru pengganti karena guru bahasa Indonesia yang sebelumnya pindah ke Bandung, kebetulan di SMP kami - SMP DAYA SUSILA- ,hanya 2 orang guru bahasa Indonesia karena memang  jumlah kelas d SMP DAYA SUSILA sedikit. Dari kelas 1 sampai kelas 3 hanya 6 kelas, maklum saja karena SMP Swasta yang mayoritasnya entis tionghoa. Tetapi dengan jumlah murid yang sedikit itu membuat siswa-siswi di SMP Daya Susila pada waktu itu lebih terperhatikan dan terkontrol baik di bidang akademiknya maupun mentalitas belajarnya. Tak sedikit dari kami yang pada akhirnya masuk di SMA-SMA unggulan, bahkan SMA unggulan di Bandung sebut saja SMA 3, 5 Bandung, SMA Aloysius, SMA Santa Angela. Bahkan beberapa dari kawanku ada yang sekolah di Amerika, Singapura dan Australia.
Soal guru aneh itu kembali berlanjut. Setiap selesai test mingguan, kami sekelas di ajak nonton film. Untuk pertama kalinya pula kami diperkenalkan dengan film-film yang aneh pula. Pada waktu itu kami sangat asing menonton film “Novel Tanpa Huruf R”. Hem, itu film yang terasa aneh bagi kami, yang pada waktu itu masih hijau memahami sastra, novel, puisi apalagi film. Ia lambat lain menjadi pembeda, menjadi pembaharu. Mencerahkan kami yang terbiasa dijejali oleh matematika, fisika yang memuakan. SMP kami pada waktu itu lebih menekankan bidang eksak daripada Humaniora.

Guru muda itu bernama Heru Haerudin, seorang guru bahasa Indonesia yang sudah khatam membaca sastra, filsafat dan budaya.  Ia memposisikan kami bukan sebagai objek didik  tetapi subjek didik. Kami diajak untuk mengenal pelajaran dengan menyelami langsung subjek bahasan. Sebagai contoh, ketika belajar puisi maka kami dibiasakan untuk membuat puisi dan membacakannya, ketika kami belajar drama maka kami pun harus bisa membuat naksah dan mementaskannya, bahkan lebih dari itu ia bercerita tentang banyak hal. Dikelas, ia membiasakan untuk berdiskusi dan memberikan kesempatan pada siswa untuk tidak sependapat dengannya. Dari proses belajar itu membuat kami lebih leluasa dalam menyerap ilmu dan mengenal guru muda itu tidak hanya dikelas tetapi juga diluar kelas, ia lebih cocok sebagai teman kami.

Pada waktu itu aku yang lebih banyak tidak sependapat denganya. Aku sering banyak bertanya soal novel-novel yang kebetulan aku sudah membacanya karya Pramoedya Ananta Toer dan Achdiaya Katamiharja. Kami sering beredebat soal novel itu sebab pada waktu itu tema bahasanya soal karya sastra. Dari proses belajar itu aku pada akhirnya dekat dengannya. Kebetulan pak Heru sebagai pengasuh radio sekolah dan aku sebagai penanggung jawab dari OSIS. Kami banyak berdiskusi di ruang siaran di sela-sela jeda siaran. Banyak yang kami perbincangkan dari mulai film, sastra, puisi dan perempuan. Ia sangat paham dengan cerita-ceritaku, benar-benar bukan guru yang  biasa.

Pak Heru pun sering meminjamkan buku padaku. Ada satu buku yang sangat luar biasa yang pernah aku baca. Buku bersampul merah fotocopy-an itu berisi pernyataan Perdana Menteri Soebandrio tentang peristiwa G30/S. Buku itu tidak dicetak secara luas, hanya kalangan tertentu saja yang mempunyai buku itu. Selain itu buku revolusi Oktober di Russia yang membuatku semakin tertarik membaca buku Marxis pada waktu itu.

Pak Heru pun mengajari aku soal puisi dan sastra lainnya. Ia sering menyuruhku membuat puisi dan menempelnya di mading. Ingat sekali aku pada waktu itu, judul puisi pertamaku “Inter Milan”, aku pun masih menyimpan puisi pertama itu. Dengan bahasa yang sangat sederhana dan cendurung bukan seperti puisi tetapi pak Heru terus mengajariku membuat dan menghayati puisi sampai pada akhirnya aku menjadi bagian dari kelompok puisi SMP Daya Susila untuk mengikuti lomba menulis dan antologi puisi Chairil Anwar. Itulah pengalaman pertamaku mengikuti lomba baca puisi dan menulis puisi.

Sejak saat itu aku sangat senang menulis puisi meski aku sendiri yakin bahwa puisiku masih sangat sederhana tetapi setidaknya aku jujur dengan puisiku, ada keterwakilan jiwaku dalam puisi yang kutulis.Keterwakilan itulah yang sering pak Heru katakan padaku ketika kami berdiskusi di ruang siaran.

Ketika aku kelas 3 SMP, pak Heru tidak mengajar dikelas kami lagi, digantikan oleh bu Lilis. Jelas, kami tidak terima dan meminta pak Heru sebagai guru bahasa Indonesianya, kelas 3B tidak menerima bu Lilis sebagai guru bahasa Indonesia kami karena gaya mengajarnya yang seperti guru-guru SMP negeri yang sangat apatis dan tidak menarik. Tidak ada proses diskusi, tidak ada nonton film, tidak ada perdebatan. Kemuakan itu semakin memuncak sehingga kami pun melakukan mogok belajar dan menolak bu Lilis masuk kelas. Singkatnya, kami menolak diajar oleh bu Lilis dan menutut tetap oleh Pak Heru.

 Diakhir masa studiku di SMP, aku bercerita pada pak Heru soal terpilihnya aku sebagai ketua GSNI cabang Garut. Pak Heru hanya berpesan “ketika kamu tidak suka dan merasa tidak srek, maka berhentilah” pesannya, ia pun menambahkan “cintailah proses fin, kamu akan mendapatkan hasil yang indah ketika kamu mencintai proses itu”. Pesan itu selalu aku ingat sampai saat ini, ketika waktu itu sudah beranjak menuju tahun yang sudah berganti.Dan benar, aku melalui banyak proses, menemui banyak cerita yang mematangkanku sebagai seorang laki-laki dewasa yang siap untuk meraih segala harapan yang dulu sempat aku ceritakan padamu, bapak guru.

 Pak Heru guru muda itu kini tidak lagi muda, ia sudah mempunyai anak perempuan yang lucu. Beberapa bulan lalu ketika aku pulang ke Garut aku menyempatkan berkunjung kerumahnya, tentu saja ia tidak berubah sedikit pun meski usianya semakin matang. Ia tetap pak Heru sebagai seorang guru yang kukenal, berjiwa muda, energik dan tetap revolusioner. Sebelum pulang ia pun memberiku buku “kaladhita karya Seno Gumira Adjidarma”. Pak Heru pun sangat senang ketika ia tahu kalau aku sekarang menjadi PU di persma di Universitas Jember. Lalu ia berpesan

“ fin, dulu bapak pernah bilang, cintailah proses. Apa kamu ingat itu?”. tanyanya
“Tentu saja pak”jawabku
“bapak akan sangat senang sekali ketika kamu pun bisa terlibat untuk mengajak generasi-generasimu untuk lebih menyukai budaya tulis daripada budaya lisan. Kenapa Eropa, Mesir atau kebudayaan lainnya terlihat lebih hebat dari kebudayaan di Indonesia.kamu tahu? Suaranya masih sangat berkarkter
“aku tahu pak, salah satunya karena kebudayaan kita tidak banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan tulisan yang bisa dibaca digenerasi berikutnya”jawabku padanya
“benar sekali. Mari, Ayo kita bersama-sama membudayakan budaya tulisan daripada budaya lisan”
Itulah pesan pak Heru sebelum aku pulang.

Itulah sekelumit romantika kami dengan Pak Heru, seringkali aku merindukan hari-hari berada dalam ruang kelas bersama Pak Heru, membicarakan soal puisi, sastra. Ia selalu mengingatkanku pada Gie, tentu aku yakin ia tidak seperti Gie yang lebih memilih mati muda atau terasing daripada tunduk kemunafikan. Ia adalah kesederhanaan seorang guru yang mengajari muridnya dengan semangat, dengan ide-ide gilanya. Ketika Andrea Hirata sangat mengagumi Bu Muslimah, gurunya di SD Muhamadiyah Gantong, aku punya seorang Guru yang memberikan kesan mendalam yang tak mungkin akan aku lupakan. Ia pernah menjadi spirit bagiku.
Hem, terlalu kelu aku menceritakannya. Aku terlalu melankolik ketika berbicara tentang orang-orang yang berarti dalam perjalanan hidupku. Sekali lagi, ia telah mengajariku banyak hal, mengeja kehidupan dengan posisinya sebagai seorang guru bahasa Indonesia yang progresif dan revolusioner, minimal pada waktu itu. Sampai hari ini, ia telah meninggalkan banyak kenangan dan pelajaran bagiku, termasuk pesannya " cintailah proses, fin"

Terima kasih, Pak Heru. Aku baru mengenal guru sebagai pahlawan tanda jasa semenjak bertemu denganmu dan itu ada dalam sosok mu. Kau tidak hanya sekedar guru dalam ruang kelas, namun juga kawan tempat berbagai cerita banyak hal dan mendengarkan ide-ide labilku
 Merdeka!!!.