Sabtu, 08 Maret 2014

Kemana AKU, diriku?

Aku melihat diriku..
Diantara pena yang meleleh terbakar terik revolusi
Aku menemukan diriku
Bersama tumpukan-tumpakan ingatan yang larut dicerca hujan
Aku mencari diriku diantara air mata yang tergenang dalam keresahan
Tapi aku tak menemukan AKU?
Aku terus mencari AKU
Diantara jalanan yang menjadi saksi peluh kemenangan
Tapi aku menjadi asing pada diriku
akhirnya
Ada AKU diantara kertas-kertas lusuh tanda cinta yang tak sempat kau baca
Ada AKU diantara bunga kering yang kau buang ditempat sampah
Tapi diriku tak mengenal AKU lagi
diriku mencari AKU setelah malam mencurinya dari ku
ku menemukannya meski aku asing padaku
menyisakan kenangan lalat yang rindu pada luka.
Rindu yang tak bisa lepas dari kepedihan.
Aku bukanlah diriku lagi.
karena AKU telah sirna bersamaan dengan runtuhnya tembok itu.

Senja yang Berbeda

Ia adalah sunyi yang meminta hingar
Kadang mengendap dalam langkah yang malu-malu
Mencari belaian lembut yang mebuai
Akhirnya
mendapati
Tentang sore yang tak lagi bersenja
Hilang termakan mega
Entahlah, kadang rindu itu menantinya. Ditemani sepi yang asing

Menulis adalah Sebuah Keberanian

Tentang menulis yang ingin aku ceritakan.
     Beberapa waktu yang lalu, aku bersama kawan-kawan GmnI bersama-sama mendiskusikan untuk menerbitkan media alternatif GmnI. Media ini harapannya menjadi manifestasi ide-ide segar kawan-kawan.
Dimulai dari penggodokan tema tulisan berlanjut pada pembentukan outline tulisan sampai upgrading sederhana tentang proses reportase lalu selanjutnya penerjunan reportase. Dari hasil diskusi didapatkanlah tema besar tentang cara pandang GmnI pada perubahan-perubahan yang terjadi di Universitas Jember.  Sedikit pengetahuan jurnalistikku didapat melalui proses di organisasi pers kampus, UKPKM Tegalboto. Disana aku mendapat banyak ilmu tentang banyak hal tentunya, namun khususnya memang jurnalistik. Melalui apa yang kumiliki itu, aku ingin membagikannya pada kawan-kawanku di GmnI. Karena dengan menulis sebenarnya tujuan dari gerakan kita bisa lebih efektif untuk tersampaikan. Menulis lebih sederhana dari sekedar teriak-teriak dalam peluh dan terik. Menulis lebih gahar dari sekedar membakar ban, menulis lebih merepotkan dari sekedar baku hantam dan chaos. Pemahaman itu yang sebenarnya harus mulai ditanamkan pada kader-kader GmnI. Artinya, gerakan GmnI tidak hanya sekedar berteriak lalu mengepalkan tanggan namun juga ada upaya-upaya intelektual yang lebih terkoordinir dan masif. Maksudku, tidak semua harus menjadi kapten, tidak semua harus menjadi beringin,  tidak semua harus menjadi sama sehingga GmnI ini memiliki kader yang memiliki banyak potensi.

Gerakan menulis ada bentuk dari keberanian itu sendiri. Aku ingin membiasakan kawan-kawan untuk berani mengadu gagasan intelektualnya dengan sistematis dan mengena pada sasaran. Salah satu bentuk perlawanan itu melalu buletin TIRTA. Melalui buletin ini, harapannya kawan-kawan berani bergagasan, membangun daya nalar dan kritis tetapi tetap rasional. Meski terkesan santun tetap tidak meninggalkan kesan gaharnya.  Konsep buletinnya diunggah melalui blog sehingga proses penyebarannya lebih luas dan harapannya bisa lebih masif dari sekedar dicetak beberapa eksemplar. Menulis bukan hal yang sulit, begitu kata banyak orang. Namun yang tersulit dari menulis ada memulainya lalu akhirnya membiasakan untuk menulis. Banyak kader-kader GmnI yang merasa apriori dengan kemampuan menulisnya sendiri. Namun kawan, menulislah, apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. suatu saat pasti berguna begitu kata Pramoedya Ananta Toer.

Menulis membuat kita lebih leluasa untuk berceracau. Melalui tulisan kita bisa mengungkapkan kegilaan apapun karena Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian. “Writing, at its best, is a lonely life. kata Ernest Hemingway ketika menyampaikan pidato dalam penghargaan Nobel Sastra yang ia terima. Ya, Menulis adalah kesendirian dan seharusnya tidak diributkan oleh orang lain. Menulis penuh kesunyian dari proses kontemplatif itu kita bisa masuk dalam dunia yang menjelaskan tentang segalanya, termasuk renungan tentang siapa diri ini. *ya intinya, proses kontemplatif dapat (banyak) menjelaskan keterwakilan sipenulis pada tulisannya.

Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian
Melawan pada yang berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.  Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" begitu kata Pramoedya A. Toer. Apa kita ingin dihilangkan sejarah? Hal yang paling sederhana dari menulis yaitu tulisan-tulisan yang kita buat akan menjadi dokumentasi berharga yang kemudian kelak akan menjadi pelajaran pada generasi setelah kita. aku coba mengambil contoh, mengapa bangsa Yunani, Mesir atau China bisa lebih maju dari kita? salah satunya karena peradaban Indonesia dibangun oleh tradisi lisan dan sedikit sekali tradisi tulis.
Harapannya dengan menulis kawan-kawan juga akan memulai untuk membaca lalu berdiskusi sehingga argumentasi-argumentasi kita tidak hanya asal bunyi yang hanya baca selembar sudah merasa membaca sampai khatam sehingga memberikan kesimpulan yang menyesatkan bahkan membodohi.

Selain itu, kita pun tidak mudah reaksioner karena menulis membiasakan kita untuk menganalisis terlebih dahulu. Menulis menerapkan prinsip keseimbangan. Sederhananya ketika kita mengkritik maka ada alasan rasional mengapa kita mengkritik lalu dibalik kritikan ada solusi. Kesan “urakan” menjadi tereliminasi oleh ketenangan dalam merangkai kata-kata. Karena kalau kata Jean Marais, "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Apalagi kita, yang katanya sebagai kader nasionalis, dengan menulis maka kita akan mempelajari pula bahasa sehingga kita akan pula mempelajari bangsa ini. Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri.

Menulis akan melahirkan keberanian untuk menjadi kita. GmnI akan melahirkan kader-kader intelektual. Sehingga pejuang-pemikir pemikir pejuang bukanlah sekedar motto yang selalu kita teriak-teriakan ketika KTD saja. Ada penjewatahan, sekali lagi untuk menjadi lebih berani. Berani untuk memulai, berani untuk tidak terbodohi oleh petuah-petuah usang tentang gerakan yang masih absurd. Kita tidak mungkin bisa hidup bebas begini kalau bukan karena melawan. Soekarno, Hatta, Syahrir, mereka semua berani memberontak dan melawan

Kawan, gerakan kita adalah gerakan pengulangan yang diwariskan oleh generasi yang lapuk dimakan waktu. Dimana dalam pengulangan itu, kadang tidak pernah mencoba untuk mengujinya dengan waktu, sering kali kita memakan mentah-mentah segala hal yang usang itu. tentu kawan semua pahamkan maksudku. Tentang pengulangan menurut Albert Camus dalam bukunya Mite Sisifus kalau hidup ini adalah pengulangan, mengerjakan apa yang sudah dikerjakan kemarin dan akan diulangi lagi keesokan harinya; begitu seterusnya, untuk selamanya, apa perlu hingga habis keabadian?  Tidak ada salahnya kita berani untuk memilih pola yang lain bukan?  melalui menulis mari kita belajar untuk menjadi berani, tidak hanya dalam gerakan-gerakan organisasi yang masih dalam tataran ocehan namun juga berani untuk merubah pola lama yang usang dengan pembaharuan yang lebih kekinian. Rasanya reformasi gerakan memang perlu dalam tubuh organisasi ini. Menulis ada jalur menuju kearah sana lalu mari kita memulainya.[]

TABIK.
Merdeka

Postscript: terdapat beberapa quote yang aku ambil dari omongan Soe Hok Gie dan Pramoedya Ananta Toer.

Tidak Perlu Judul

Selamat malam. Sudah cukup lama saya tidak ngerumat blog ini. Kalau diibaratkan rumah mungkin sudah penuh dengan sarang laba-laba, debu dan hampir melapuk ditinggalkan waktu. Malam menjelang pagi ini, saya kembali tersadar akan rutinitas yang hilang, entah karena alasan apa saya melupakan blog ini. Skripsi? Tidak juga namun cukup berpengaruh akan kealphaan ku menulis. Pastinya ada banyak hal yang membuat saya melupakan dan meninggalkan kebiasaan menulis. Biasanya dalam sepekan minimal ada beberapa tulisan yang saya buat. Tujuannya untuk melatih menulis saja. Dari awal passion saya bukan untuk menulis, namun saya teringat oleh Pramoedya Ananta Toer, menulislah, apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. suatu saat pasti berguna. Oleh karena itu, saya membiasakan meski tulisan sederhana juga agar tidak dilupakan oleh sejarah. 
 
Tulisan saya tidak untuk dikonsumsi oleh orang lain hanya untuk kesenangan saya saja. Sampai beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan Mas Nuran, ia menyarankan saya untuk mengikuti perlombaaan atau sayembara menulis. Tujuannya untuk mengukur kualitas tulisan. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Mas Nuran, namun pada waktu itu semangat untuk menulis belum juga timbul. Terakhir aku mengupdatenya sekitar bulan November, itu pun tidak jelas menulis apa (rasanya memang tidak ada yang jelas). Setelah itu kembai lagi hilang.
 
Malam semakin senyap dan Pagi semakin mendekat. Ditemani teh anget dan dimeja yang sama seperti terakhir saya  menulis beberapa bulan lalu. Saya coba untuk memulainya kembali. Memulai dari hal sederhana dan mencoba untuk menghidupkan kembali blog yang selama ini menjadi tempat menyimpan cerita yang tersimpan melalui bait-bait kata. Setelah itu, biarkan aku kembali lagi dalam rutinitas yang lama aku idamkan. Menulis sampai larut, menyelsaikan buku-buku yang aku beli tapi belum terjamah sama sekali. Sial sekali, saya serasa kolektor buku, berlagak sok intelek dengan buku-buku tebal namun tidak terbaca. Bukan mungkin, namun harus pasti kalau saya untuk kembali membaca, menikmati malam dan menulis. Jika saya mengingatnya, sungguh menyenangkan suasana tersebut. Syahdu, senyap dan penuh ketenangan yang mencandu. Suasana yang penuh rindu, membuat saya juga lebih tenang dalam menjalani keseharian.
 
Waktu telah membawa pada suasana yang berbeda. Jika sebelumnya saya menikmati malam diantara buku-buku lalu beronani melalui tulisan dimana waktu itu saya masih bergulat dengan ruang-ruang kelas sebagai mahasiswa. Kini saya berada didepan pintu gerbang untuk keluar dalam kehidupan yang lebih menarik dan nyata daripada sekedar ocehan-ocehan teori yang selama ini saya dapat dikelas.
Semoga saja, kebiasaan menulis untuk mencari kontemplasi sehingga menemukan ketenangan ini menjadi teman dikala sepi dan senyap, seperti malam ini.

Salam hangat



Minggu, 10 November 2013

Ceracau Kemuakan

Ocehan berbusa melampirkan kemunafikan yang tak kunjung usai.
Menyesatkan yang hidup, membuat tertawa penghuni neraka.semua penuh ilusi
Tidak ada sudut-sudut yang tidak digenangi darah, sebelum semuanya berakhir di jalur Gaza, di hantam pasukan setan yang bermetamorfosis zionis.
Semua memaki topeng-topeng hak asasi manusia. Dan anarkisme menjadi jawaban yang tidak pernah tuntas karena semua pahlawan telah mati di monopoli kapitalis.
Oh betapa indahnya dunia ini yang tidak pernah menemukan tujuan dan hanya memperlihatkan berhala-berhala dunia yang telah menjadi Tuhan yang akhirnya mati di mata Nietzche.
Dunia kembali memerah ditangan para komunis yang suka beronani disamping palu dan arit yang berkarat.
Tidak ada kemungkinan kepala yang tidak mampu terpisah dari leher karena takdir telah dikuasasi kapitalis-kapitalis yang berseragam birokrat. 
Dan Tuhan pun hanya menjadi mainan para ulama yang beriman sekarat.
Dan kitab suci pun menjadi komiditi yang menjanjikan pundi-pundi keparat.
Khotbah semakin semburat
Maka pada saat itulah sejarah dunia akan mencapai puncaknya dan berbicara memalui ujung-ujung senapan yang dibeli dari uang rakyat
Para aktivis hanya menjadi gerombolan manusia yang tidak pernah mandi yang mencari idealisme di tong-tong sampah busuk, bersama mimpi bejat.
Pesta demokrsi hanya menjadi opera sabun para pengusaha.
Kini mata kita harus kembali di tutup.
Menutup untuk tidak menyaksikan Mario ozawa dan misonaris bersengama di pinggir jalan mengikuti trend moderinsme. Jadilah modern,,jadilah modern. Persetan dengan moralitas
Persetan dengan perdamaian
Persetan dengan Tuhan
Dunia terjungkal dalam perebutan kuasa yang tidak pernah tuntas untuk memahaminya.
 Keadilan hanya milik para sarjana hukum yang sibuk mencari kerja.
Yang ketika kuliah menjadi pemburu IPK
Setelah sebelumnya, Teroris berbaju FPI menobrak-abrik kemasiatan.
Mereka menenteng senjata, mereka menembaki, lalu sembunyi di balik kesucian Tuhan.
Mereka membunuh, mereka membakar lalu bersembunyi di balik firman Tuhan.
Roh kudus menjadi tumbal manusia yang tidak pernah paham mengkaji jengkal demi jengkal kehidupan yang akhirnya murahan.
Dan trotoar di kotori oleh baliho para calon penguasa yang berselingkuh dengan pengusaha
Anak muda merangkul nafsu dalam buaian cinta dan menyelsaikannya dalam kondom import.
Aku tak paham dengan dunia yang darahnya mulai mengering.
Aku tidak paham dengan kekuasaan yang rela memisahkan setiap kepala dari leher manusia tak berdosa.
Aku tidak pernah paham dengan kapitalisme yang melanjutkan tradisi holocaust.
Aku katakan pada matahari yang tidak pernah mampu mengkhianati Tuhan.
Aku katakan perihal kesucian Tuhan yang tertukar oleh silau emas.
Surga dan Neraka hanya menjadi komoditi dagang para ulama yang muncul di setiap bulan puasa.
Moralitas hanya terlihat dari selangkangan dan lubang anus

Aku katakan semuanya pada para martir perubahan yang lemah syahwat ditikam valas
Aku katakan pada lucifer tentang dunia dan kehancuran yang semakin kolaps
Aku katakan semuanya pada roh-roh suci pembawa damai yang berkedok Guy Fawkes
Dan aku katakan ini pada bayi-bayi yang berteriak sendu mencari tetek ibunya
Inilah dunia yang yang membuat Bung Karno menangis
Membuat Tan Malaka terus berteriak dari liang kuburnya.
Dan Mengharuskan Isa segera di turunkan kembali ke Bumi
Hay, kalian martir kitab suci, sarjana muda pembawa pesan perubahan, demontran musuh polisi dan politikus berkumis tikus masih kah kau berbicara soal kiasan Tuhan, Nasionalisme norak alas Cintailah Produk Dalam Negeri, Ganyang Kapitalisme sambil makan siang di Pizza Hut atau bereritak Allah Akbar, Hallujah sambil meneteskan darah penindasan.
Ah,,,Dunia tak pernah mampu didefinisikan,
Setelah darah mengering, setelah nanahdan anggur menyatu
Setelah itu kita sadar, tak ada waktu untuk bersatu

Sabtu, 19 Oktober 2013

(Ketidak)Pedulian =Kebusukan Sekret

Bau busuk kaos kaki bercampur dengan pesing kecing cecurut, ditambah kasur sisa tidur semalam yang tidak dirapikan, koran yang berserakan tak karuan dan piring sisa makan yang digeletakan begitu saja telah menjadi pemandangan yang sulit dipisahkan dari sekret UKPKM Tegalboto, sudah dibersihkan berkali-kali namun tetap sama, selalu saja ada orang-orang yang tak bisa memahami nikmatnya bersih.  Kumuh dan tak beraturan. Belum lagi diruang redaksi, tumpukan baju busuk, entah  siapa saja yang punya pun menampah berantakan sekret ini. Selama beberapa hari ini, Tegalboto, hanya saya, Bill, Elya, kadang Ardi  yang biasanya standbye di sekret kadang tidur disana, sisanya yang lain entah kemana. Entah sedang sibuk mengerjakan tulisan majalah atau mencoba untuk menenangkan pikiran karena tekanan deadline majalah yang semakin memburu. Akhirnya, atas keadaan yang menyiksa itu saya mencoba untuk mengajak crew Tegalboto untuk bersih-bersih sekret. Namun, sayang sekali hanya ‘yang itu-itu saja” yang datang. sudah dua kali ini aku mengajaknya namun tetap sama dengan hari yang sebelumnya. Lalu dimanakah pengurus, anggota yang lainnya? entahlah, ketika diberi kabar melalu sms ada yang balas dan ada yang hilang sama sekali.

Keadaan ini membuat saya sangat jengah. Kemana saja, kawan-kawan ini? Sekret sudah kumuh seperti ini tetap saja dibiarkan kumuh tak aturan, padahal kita semua tahu kalau Tegalboto sedang menggarap majalah, dimana intensitas komunikasinya dan koordinasi di sekret perlu ditingkatkan, bagaimana akan membicarakan ide-ide segar jika mata dan hidung kita terganggu oleh keadaan yang busuk macam sekret Tegalboto sekarang ini. Sungguh, bagi mereka yang tiap hari tidur di sekret pasti akan merasakan hal yang sangat menggangu, apalagi tidur bareng dengan cecurut yang lewat diatas kepala kita, melewati bantal yang biasanya sering diperbutkan oleh kita semua. Salah-salah, bisa terkena penyakit Pes kita nanti.

Oleh karena itu, kepada kawan-kawan pengurus ataupun anggota magang UKPKM Tegalboto, dengan hormat saya menggundang semuanya untuk hadir besok, hari Minggu tanggal 20 Oktober 2013 untuk bersih-bersih Sekret UKPKM Tegalboto.  Ketika sms tidak dihiraukan, diberi kabar berkali-kali diacuhkan maka saya mencoba menulis seruan ini. Terima kasih atas perhatiannya!
 
Salam bersih-bersih

Jumat, 04 Oktober 2013

Malam membawaku pada Hari itu!

Selamat malam.
Hening, berteman dengan syahdu, sepertinya memang selalu begitu tak pernah berubah. Aku bilang “syahdu itu mencandu”. Malam ini, kutemui temaran yang main layu, tak bersemangat memberi warna yang perlahan menjadi sedikit gelap tapi tak berharap gelap menguasai segalanya. Hanya Jangkrik yang tak bosan membuat gaduh, sedangkan dari kejauhan sayup-sayup berkumandang orang mengaji, malam makin syahdu. Syahdu lagi-lagi berkawan denganku dalam suasana putik kontemplatif seperti malam ini.Malam membawaku ke hari itu.

Baru saja aku tinggalkan kemeriahan malam, berkelekar tentang lelucon-lelucon, sambil kadang  menertawakan hidup yang terlalu itu-itu saja. Malam, selalu saja menjadi tempat sampah, apalagi jika hening memeluk ingatan-ingatan yang lama diendapkan waktu, yang kini mulai melapuk.
Sementara, kemeriahan yang kutinggalkan itu masih menyisakan tawa meski keceriaan itu hanya sementara. Ketika langit makin menua, waktu  menghadirkan kantuk yang tak kuasa ditahan maka semua akan kembali dalam kehangatannya masing-masing. Dikala itulah, dikala hening datang, damai datang, ada ingatan yang yang mengendap-endap merasuk. Sama seperti malam ini yang kurasakan.

Malam membawaku pada hari yang lalu, ketika aku masih mengeja kepastian. Belajar berdiri sambil tertatih-tatih untuk tetap bisa tegap ditanah perantauan. Tak terasa, hari itu sudah beranjak  4 tahun lebih. Dimana kini aku sedang menghadapi tugas akhir meski masih aku biarkan tak tergarap, karena ketika terlalu cepat lulus aku tak ingin dipermainkan oleh keresahan “akan kerja dimana aku?”. Pertanyaan yang akan sulit terpecahkan oleh generasi-generasi limbung macam aku ini. Hari itu sudah semakin berlalu, meyisakan tawa-tawa yang ditertawakan dalam suasana seperti malam ini. Kenangan itu hadir.

Hari itu, aku tak ingat pasti. Dimana langkah kakiku berjalan setapak demi setapak meninggalkan rumah, menyisakan tetesan air mata dari Mamah dan adik-adik. Kala itu, aku masih hijau, berbebekal semangat akan kebaharuan yang cukup lama aku idam-idamkan, mencari hal baru ditempat yang baru. Semangat itu meruntuhkan kesedihan akan perpisahan. Kereta menuju timur membawaku pergi ke tempat yang penuh asa, Jember. Begitu bersemangat menyambutnya, sedangkan yang ditinggalkan menahan sesak, salah satu keluarganya, anaknya harus meninggalkan rumah untuk pertama kalinya dan tak akan kembali hidup bersama dalam kerjaan kecil keluarga Sugandhi.

Berlalulah hari itu, kemudian setelah seragam putih dan abu-abu aku tanggalkan berganti ke perguruan tinggi. Dimana aku bergumul dengan suasana pendidikan yang baru, di fakultas Hukum Universitas Jember. Bertemu dengan kawan baru, budaya baru, suasana baru dan semangat yang lebih baru. Meski awalnya aku menginginkan UGM sebagai tujuanku. “Tak apalah, dimanapun aku berada” pikirku waktu itu, karena aku sudah terlalu bosan dan muak dengan suasana di rumah, lingkungan di Garut. Bagiku, hari-hari yang kulalui begitu monton, tak ada yang menarik.

Sudah  tahun 4 tahun berganti. Banyak cerita yang tertulis, banyak kisah yang diceritakan oleh siang, senja, malam, kemarau, hujan. Banyak hari yang kulalui dengan pengalaman –pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja. Meninggalkan kesan yang mendalam, meyimpan kenangan yang tak terlupkan. Kisah itu manis, syahdu, satir berpadu dalam buku besar yang kuberi nama “keberanjakan waktu”. Kutemui impian yang selama ini hanya angan-angan, kutemui idola-idola yang selama ini kucari dan kudapatkan kehangatan yang selama ini kubayangkan. Jember, telah memberi kesan yang mendalam. Ketika diawal aku hadir disini, ketidak betahan selalu menghantuiku, kini aku cinta kota ini. Kota yang sebelumnya telah menjadi saksi aku dilaharikan dimuka bumi ini dan kini kota ini pun menjadi saksi awal langkahku menuju keberanjakan pada dunia yang lebih baru dan menarik untuk aku lalui.

Kini, ketika semuanya sudah dijalani sampailah pada senjakala. Senja yang biasa aku nikmati di Gumuk kerang itu akan berganti senja yang aku nikmati dilain tempat, lain suasana. Siklus itu berulang dan berganti waktu, sama mencari kemeriahannya. Namun, kini aku tak pergi dengan sendiri. Seorang perempuan telah menjadi alasanku untuk tetap kembali meski telah berlayar jauh. Ia ibarat pulau idaman bagi seoerang bajak laut, meski berkelana dalam samudra luas, tersesat senyap kabut samudera, dihantam badai laut selatan atau karam di luatan artic, sang bajak laut itu akan kembali ke pulau impiannya. Menikmati kebersamaan  yang mentramkan, berbicara tentang kucing dan anjing yang hidup rukun, memandangi anak-anak hasil buah cinta yang  bertingkah lucu. Ya aku selalu berharap Tuhan memeluk mimpi kita.

Sampailah pada hari yang kunanti sekaligus kubenci karena aku benci perpisahan, dengan apapun. Dimana hari ini, aku tak lagi sehijau dulu. Setelah mengalami banyak cerita dan pengalaman  yang membawa aku pada hari-hari yang mulai mempakan lembayung, terjadi gradasi antara kebosanan dan kemeriahan yang masih tersisa menciptakan keindahan tentunya akan berbeda di hari dan tempat yang lain.

Kini, waktu ku banyak dinikmati di ruang-ruang diskusi, bukan lagi sebagai pendengar  atau penonton  seperti dulu. Kini aku yang banyak bercuap-cuap sambil didengarkan oleh mereka yang hijau. Kini pun, waktuku banyak dihabiskan di warung kopi sambil menuntaskan keresahan dengan bercerita dengan sejawat yang sama-sama melahirkan kreativitas untuk mensahihkan kalau aku itu manusia yang tak sekedar hidup lalu hanya makan dan minum, tidak, aku pun ingin berkarya dengan caraku.

Begitulah hari itu semakin hari terus beranjak. Seperti yang pernah kukatakan dulu, waktu itu sungguh arogan tak ingin berhenti barang sejenak, menikmati keceriaan sejenak. Waktu terus berganti meski perlahan namun menghipnotis, tiba-tiba sudah jauh keberanjakan itu. Dari sini, aku bisa ingin menyimpan hari-hari yang membuat kelu ketika diingat dikemudian hari itu, tentunya melalui tulisan ini. Ada kesan yang tak rela dari aku jika membiarkan  meninggalkan kenyamanan yang selama ini bersama ku. Namun, hidup ini terus berputar. Aku seorang supertramp yang terus akan mencari tempat baru sambil merasakan sensasi petualangannya sampai kebosanan terlalu berkuasa, baru aku akan menikmati kebersamaan yang hangat itu bersama keheningan yang cintai.

Semakin melapuknya malam mendekati pergantian hari dari tengah malam menuju dini hari, aku hanya ingin ketika catatan ini kubaca dikemudian hari oleh siapapun bahwa hidup ini adalah siklus yang terus berulang. Meninggalkan kisah yang lucu dan indah jika dikenang dikemudian hari. Bersama kisah itu aku lebih beranjak dari hari yang lalu begitu seterusnya sampai akhirnya harus berkalang tanah. Namun biarkan kisah itu tetap hidup meski raga ini tak bisa lagi berkata-kata, tak bisa lagi menjauhkan langkah atau tak bisa lagi menjelajahi eksotisme hari-hari baru.

Orang-orang sepertiku tak pantas menikamti hidup melulu dari balik meja sambil menghabiskan susu kaleng. Orang-orang sepertiku harus merasakan kenikmatan indahnya kebebesan, agar lebih menghargai kalau hidup sekali dan kita hidup bukan untuk dinikmati secara monoton.

Seperti malam sebelumnya, ada ceracau yang kacau tapi aku hanya ingin menitipkan kisah ini. Selamat malam. Setidaknya malam kembali lagi membawaku pada hari ITU, hari yang membawaku pada keresahan 4 tahun yang lalu.