Minggu, 31 Agustus 2014

Kepergian Pertama

Tentangmu, Jude. Aku ingin memelukmu lebih erat, melepaskan tawa yang tertahan oleh jarak. Hari-hari terakhir kita selalu diisi oleh perdebatan soal jarak, rindu dan keresahan yang sulit diendapkan. Kita dalam rimba kesendirian, mencari pijar dan pijakan setelah semuanya terpaksa dipisahkan oleh pilihan yang katanya sebagai bagian dari modernisasi manusia, bekerja lalu mendapat uang. 

Akhirnya, kita yang menjadi bagian konsekuensinya. Rasanya aku pun sampai samar bagaimana merasakan pelukmu, lupa harum tubuhmu atau suara renyahmu dipagi hari. Sekali lagi, jarak tidak sedang berdamai dengan hubungan kita. 

Jarak dan Rindu adalah resah yang baru

Tepat pukul 05.00 WIB, kereta mengantarkanku pada belahan yang lain. Katanya, membawa mimpiku ditempat terbaik. Aku tidak terlalu percaya, hanya sekedar mengikuti arus saja. Subuh itu, kau mengantarku dengan nafas yang tertahan didada, mata yang mulai menggelinang dan tangan yang menggamit keras. Aku tahu, kau tak rela melepaskan kebersamaan yang dibangun selama dua tahun terakhir ini. Selama waktu itu, rasanya hampir setiap saat kita bersama. Melawati banyak cerita, semuanya terangkum dalam album kebersamaan yang pada subuh itu akan bersambung. Tak ada jalan-jalan blusukan ketempat-tempat yang asing, tidak ada makan malam bersama, tidak ada memasak bersama. Detik itu, segalanya terhenti, meminta untuk diputar kebelakang beberapa tahun yang lalu, saat hari hangat pertemuan pertama kita. Dimana, kau dan aku masih malu-malu untuk menyapa apalagi berpelukan. Hari itu, kita serasa lugu untuk mengatakan cinta satu sama lain. Sayangnya, yang paling angkuh dan keras dari segalanya adalah waktu. Waktu terus beranjak detik demi detik meninggalkan segala rindu. Tak peduli rindu besarnya se Himalaya, tak peduli resah menghujam perasaan, tak peduli aku ditikam rindu. Waktu yang lambat itu benar-benar meninggalkan keriangan dan melahirkan kesedihan yang baru. Meski satu sama lain sadar, kepergian ini bukanlah kepergian tanpa kepulanganga. Meski kita pun sadar, tangis ini akan diganti oleh tawa yang tak bisa dilupakan oleh apapun. Tetap saja, kita terlanjur ringkih oleh jarak. Jarak terlampu sadis, sesadis waktu yang kaku dan angkuh.

Belajar Berjarak

Entah hari keberapa, tak ada yang peduli. Kita terlanjur melacurkan diri pada rindu. Rindu semakin congkak menikam disetiap hembusan nafas. Tak peduli dunia semaju apapun, tak peduli Whatsaap, tak peduli Line, Skype, atau apaun itu. Rindu tetaplah rindu, apalagi rinduku terlalu manja, banyak mintanya. Hanya pertemuan yang mampu mengeliminasinya. 

Dalam keteraniayaan tersebut, kita belajar tentang menjadi manusia yang tak selamanya indah. Kita belajar menghargai pertemuan yang tak selalu bertatap muka. Belajar mengeja jarak agar tidak terlalu dibodohi sehingga terjerembab pada kemelankolisan yang tak kunjung usai. Kadang, aku menikmatinya namun aku masih banyak kalahnya, apalagi kalau bukan oleh.... ah tentu kau tau bukan?

Seperti pagi ini, ketika ada waktu yang tak banyak aku menyepatkan diri untuk menuliskan keresahanku ini, yang tertulis maka abadi. Begitulah. aku ingin mengabadikannya.





Selasa, 12 Agustus 2014

Cak Wang dan Ingatan yang Menolak Lapuk



Rasanya tidak pernah merasa bosan untuk menceritakan Jember, lebih dalam dan lebih lengkap. Jember tak hanya sekedar kata yang dirangkai dalam dua huruf vokal atau sekedar kota yang berada hampir diujung pulau Jawa. Bukan. Jember lebih dari sekedar bahasa, Jember adalah untaian cerita yang layak diceritakan sebagai pengantar tidur. Jember adalah kesemestaan cerita!





***

 Jember semakin dingin. Kemarau menghembuskan udara dinginnya. Jember semakin sepi ditinggalkan penghuninya, banyak diantaranya yang berebut untuk menikmati ritus suci Idul Fitri. Namun, Jember tetap tidak kehilangan ceritanya. Disudut yang tak terlalu ramai, beberapa penghuni yang tersisa di kota Jember menikmati kemeriahan malam bersama canda tawa, perjumpaaan hangat setelah terpisah, cerita penuh semangat atau sekedar suara lamat-lamat karena bercerita sedikit pribadi. Diantara semua kehangatan itu, ada kepulan asap rokok, asbak yang penuh dengan puntung-puntung rokok dan tentunya sahabat setia dari setiap kehangatan tersebut, Kopi. Yap, kopi adalah bagian dari identitas yang berkembang bak jamur. Hampir setiap sudut kota Jember berdiri warung-warung kopi. Dari mulai yang kelas kaki lima sampai hotel bintang lima. Semua tempat berlomba memberikan sajian kopi terbaiknya. 

Warung kopi telah menjadi rumah kedua bagi pecinta ‘ngopi’. Dari segala golongan, bersatu dalam kebersamaan yang sederhana, menikmati kopi dan ngobrol ngalor-ngidul. Warung kopi telah menjadi identitas baru di Jember. Ruang publik yang menceritakan banyak hal. Tidak ada si Kaya atau si Miskin. Semuanya sama, merujuk pada pemikiran dari Habermas tentang konsep ruang publik yang menekankan bahwa Ruang publik yang bebas dari campur tangan pemerintah dan pasar—di mana semua warga terlibat secara adil dalam perdebatan rasional mengenai kebaikan bersama dalam rangka mencapai konsesus dan tindakan yang demokratis.  

Dalam konsep ruang publik, masyarakat datang ke warung kopi awalnya untuk sekedar menikmati kopi disempurnakan melalui obrolan. Berawal dari obrolan tentang musik, seni lalu beranjak pada obrolan sengit tentang politik atau ekonomi. Semua  terjadi kesetaraan rasional tanpa hierarki. Obrolan-obrolan tersebut tersedia melalui pengamatan, penglihatan pada kondisi lingkungan yang tersebar memalui banyak sarana, media massa, sosial media dan banyak lainnya. Perdebatan, obrolan tersebut melahirkan pemahaman baru, menciptakan kesadaran baru. Warung kopi pada akhirnya bisa menjadi media untuk mengomunikasikan informasi dan juga pandangan. Dalam keadaan masyarakat bertemu dan berdebat akan sesuatu secara kritis maka akan terbentuk apa yang disebut dengan masyarakat madani. Secara sederhana masyarakat madani bisa dipahami sebagai masyarakat yang berbagi minat, tujuan, dan nilai tanpa paksaan—yang dalam teori dipertentangkan dengan konsep negara yang bersifat memaksa.

Memang dalam perkembangannya konsep ruang publik tidak hanya sebatas ruang fisik, namun juga ruang-ruang lainnya sebagai tempat diamana arus informasi berada. Sosial media bisa menjadi salah satu contohnya. Konsep ruang publik dalam bentuk virtual tersebut justru melahirkan esensi yang berbeda dalam konteks komunikasi komunal. Satu sama lain tidak bisa bertemu, tak bisa bertatap muka. Hal inilah yang menurut John Horgan, The End of Science sebagai salah satu bentuk kematian, kematian sosial. Warung kopi sebagai nadi baru yang menghidupakan lagi proses-proses yang kultural cum mengaksikan ini.

****
Kenyataan itu disadari oleh banyak masyarakat khususnya di Jember. Banyak diantara saya dan penggemar warung kopi lainnya akhirnya lebih memilih untuk hahahihi bersama diwarung kopi, bersama kopi dan obrolan-obrolan hangat lainnya. Saya biasa menghabiskan waktu hangat tersebut diwarung Kopi Cak Wang. Warung kopi yang menurut saya lebih epic dari tempat lainnya yang biasa menjadi tempat nongkrong saya. Di Cak wang saya mengenal lebih akrab kawan-kawan, sebut saja Whisnu, Arik, Rizal, Adjie, Ikhsan. Kawan se warung kopi. Dari tempat ini pula, karena obrolan yang begitu bebas akhirnya melahirkan ide-ide liar  yang justru mencipta kreativitas.

Bicara soal warung kopi  Cak wang, ada hal yang istimewa ditempat ini yaitu di Cakwang warung kopi yang buka selama 24 jam dan tujuh hari non stop. Ditempat ini, benar-benar menghadirkan suasana yang bebas, saya bisa berjam-jam disini dengan tanpa tahu malu hanya memesan segelas kopi hanya untuk sekedar membunuh waktu dengan menulis, Wifi-an. Seperti saat saya menulis tulisan ini, saya menulisnya di  Cakwang sejak pagi tadi.

Sungguh, ditempat ini dengan suasana kekeluargaan pegawainya membuat saya benar-benar betah meski menunya pun hanya itu-itu saja. Tidak penting. Saya sangat membutuhkan suasana yang menciptakan kenyamanan. Itu poin pentingnya dari hal lainnya.

Di Cak Wang pula tempatnya luas dan menyediakan jaringan wifi yang cukup bersaing diantara warung kopi atau cafe yang ada di Jember. Alasan-alasan tersebutlah yang membuat saya begitu jatuh hati pada ruang publik yang bernama warung kopi Cak wang. Saya menjadi penggemar warung kopi Cak wang semenjak warung kopi ini berada dilingkungan kampus, tepatnya didalam kampus FISIP. Setahun yang lalu, saya dan tentu para penggemar Warung Kopi Cakwang yang biasa diseput Cak Wang Ranger sempat bersedih karena warung kopi ini terpaksa ditutup karena kontraknya yang sudah habis. Kesedihan itu hanya bertahan selama dua bulan saja sebab tak lama setelah itu Warung Kopi Cak Wang dibuka kembali. Bahkan dibuka di tiga tempat yang berbeda. Namun saya terlanjur jatuh hati pada warung kopi Cak Wang yang berada di jalan Mastrip.  


Namun, romantisme saya bersama Cak Wang  beberapa waktu yang akan datang akan terganggu. Saya tidak bisa lagi ngopi dan berproses kreatif disini karena saya harus beranjak mencari hal yang baru di tempat yang lain. Saya akan bekerja di Jakarta secara otomatis saya pun berpisah dengan Jember, cak wang dan segala ceritanya yang sempat tertulis dengan indah dalam ingatan saya. Huft...

Apa boleh buat. Cerita tentang Cak wang dan warung kopi yang lainnya adalah cerita yang tidak bisa dilenyapkan dari Jember. Warung kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pecinta Jember. Warung kopi telah menjadi nadi baru dalam metamorfosis silaturahmi masyarakat Jember dan warung kopi adalah ruang kelas yang lebih nyaman dari kelas pada waktu kuliah. Warung kopi pun telah menjadi basecamp bagi perubahan-perubahan yang terjadi di Jember. Cerita indah saya tentang warung kopi lahir dari Cakwang.


Sam Arik dan Hal-hal Lain yang Tersembunyi


Foto Songong sebelum Kekalahan Catur dengan Telak dan pantas diingat sampai kapanpun 


Catur adalah biang keladi

“Fin, dimana?” Whatsapp saya berdering, pertanda ada pesan masuk. Pesan itu berasal dari salah seorang teman.
“aku lagi download film, sam” balasku
“ah ga penting. Lebih penting kita main catur dan aku mengalahkan kamu.  Mempermalukan mu didepan penghuni Cakwang” balasnya dengan congkak.
Baiklah, begitu permulaannya kisah ini dimulai. Pesan tadi berasal dari seorang kawan yang bernama Arik. Ia adalah penabuh drum dari band Black Dog, band yang pernah tampil di Cafe Hard Rock, Bali. Band yang beranggotan Dion, Awan dan Arik. Semuanya berkacamata namun sepertinya hanya Dion sang Vokalis saja yang baik dan normal. Lainnya? Silahkan cari tau sendiri.  Arik bertato di lengannnya dan berkacamata yang tak terlalu tebal. Hobinya mendesign logo. Bakat dan hobinya pernah membuat dia hidup dalam keberlimpahan materi. Namun kali ini dia sedang berjuang ulang, benar, bahwa hidup adalah roda yang sedang berputar.

Gayanya khas anak band yang ngerasa sok asik, celana skinny kumel, sepatu sneakers, dan tentu tato sebagai tanda yang menyahihkan ke-anak band-nya. Namun, jangan biarkan fantasi anda berlebihan membayangkan sosok Arik ini. Ia tak seperti penabuh drum lainnya, jangan bayangkan seperi Travis, Eno, atau siapa lagi ya?yang biasanya keren, pendiam dan cool. Tidak. Tatonya tak lebih sebatas tanda lahir yang kebesaran dan ia lebih sering cerobohnya daripada cool-nya, ia lebih banyak dibully nya daripada dipuja-puja dan ia lebih sering kalah main caturnya daripada menangnya.

Arik memang misterius diantara kawan-kawan sekopian lainnya. Ia katanya berasal dari Surabaya namun ia tidak pernah pulang kampung. Sudah dua kali lebaran ia tidak juga pulang. Entah ia berasal dari mana, dari keluarga apa. Mungkin dia berasal dari batu yang terkurung dalam gua terbebas setelah orang baik menolongnya. Ia tetap misterius sampai detik ini saya berteman dengannya.

Saya biasa memanggilnya dengan sebutan sam, jika dibalik jadi Mas. Ngomong-ngomong soal ceroboh, ia adalah ahlinya, ia ceroboh dalam segala hal, termasuk dalam berbicara saja kadang suka salah menyebutnya, sering melipir contohnya: bahasa jawanya kedengaran adalah kerungu namun ia tetap keukeuh menyebutnya keringi, alasannya karena itu bahasa Surabaya. Oke. Baiklah. Kecerobohan lainnya yaitu suatu sore yang ceria, ia pernah datang ke Cak Wang dengan membanggakan dirinya telah menemukan celana denim murah dan berkualitas  yang ia beli di Babebo (Bukan Bukan Bos, semacam baju-baju bekas impor). Namun kami mencurigainya karena celana denim tersebut elastis dan tidak ada sakunya, selidik punya selidik akhirnya celana tersebut merupakan leging celana hamil. Tidak berhenti sampai disitu saja, ia pun pernah salah membeli CD (celana dalam), yang ternyata merupakan lingerie. Ah sial kali cerobohnya.
Tentu banyak sekali kecerobohan yang hendak saya dustakan. Demi menjaga nama baiknya sebagai anak band calon terkenal dan mendunia itu.

Baiklah, cukup rasanya saya memperkenalkan kawan saya yang terkenal absurd dan ceroboh tersebut. Setelah pesan singkatnya tersebut saya meladeni tantangannya, ia terus banyak bicara dan bercakap-cakap seolah ia adalah grandmaster catur kelas wahid yang pasti menang melawan siapapun dalam sekejap. Benar saja, dalam sekejap skor pertandingan sudah 2-0, dua untuk saya.

Ia tidak juga berhenti berceracau dan mencari-cari alasan untuk kekalahannya. Hem, loser memang selalu seperti itu. Bicara soal ceroboh, ia pun menyepatkan diri untuk melakukan kecerobohan ditengah kekalahannya. Ia dengan percaya diri memainkan bidak catur hitam yang pada posisi waktu itu ia bermain untuk bidak berwarna putih. Kejadian tersebut berlangsung beberapa kali. Alamak!

 Arik dalam sisi yang lain
Setelah kekalahan itu, Arik tidak juga bergeming untuk mengakui kelalahan-kekalahan sebelumnya, total sudah 6-2 dia kalah. Pernah suatu ketika, ia menantangku untuk bermain catur ketika aku berada diluar kota. Tentu saja aku menolak namun mulut besarnya tetap juga tidak bisa direm. Sampai  aku pulang, ia juga tak hentinya berceracau  sampai akhirnya aku layani tantangannya. Hasilnya? Tentu tau bukan? ia kalah lagi. Sebelum kekalahan telak itu, diawal pertandingan pertama, ia panik lalu mengatakan “ Ini main dua kali ya?”. Tanda dia insecure. Tidak berlaku pepatah mengatakan “kata-kata adalah senjata”. Di depan Arik, “kata-kata adalah kalah main catur”

Arik tetaplah arik, dibalik ia yang ceroboh, absurd dan kadang freak, ia merupakan kawan yang baik. Pendengar yang baik, penghibur yang garing, pembribik yang sering gagalnya daripada berhasilnya. Tidak, ia adalah kawan yang penyabar, bahkan sangat sabar. Ia percaya bahwa orang sabar berpantat lebar. Oleh karena itu, ia memilih untuk sabar agar pantatnya lebar.

Disisi yang mengenaskan, Arik kawan yang penuh percaya diri, Ia setia pada kawan. Memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, memberikan saran yang baik kepada kawannya yang sedang kekusahan. Sampai saya berpikir, jangan-jangan sikap ceroboh dan anehnya adalah cara dia untuk menghibur kawannya. Ia seperti sosok penebus dosa kawan-kawannya. Arik lebih senang dibully daripada dipuji. Arik lebih senang terlihat konyol daripada terlihat cool. Dengan tampilan yang seperti itu maka ia mampu menjadi warna yang berbeda diantara kawan-kawan yang lainnya. Ia bijak, seperti guru Splinter, Gurunya Kura-kura ninja, ia bijak seperti Splinter, si tikus itu. Artinya ia tikus dong? Bisa jadi.
  
Apapun itu, Arik adalah kawan baik kami. Tanpa ia hidup ini hampa, ia pelengkap yang sengaja Tuhan hadirkan. Ia sungguh pembeda. Oh ya, jika kalian ingin melihat Arik terlihat seperti bintang datanglah ketika Black Dog main. Ketika bermain ia serasa (merasa) seperti laki-laki keren, bersuara berat seperti Christian Bale, pemeran Batman. Berbebadan kekar seperti Dywane Johnson. Tentu para wanita akan mastrubasi ditempat melihat penampilannya yang datang 100 purnama sekali tersebut. Ruar Biasa.
Salam Hangat untuk Sam Arik!!!!


Postscript: Arik merupakan kawan yang baik dan ia sedang berjuang untuk mengembalikan mimpi besarnya dan hidup untuk mimpinya. Ia rela keluar kerja karena ia mengimani Passion hidupnya, ngeband dan cari uang dari design! Selamat berjuang kawan

Kamis, 24 Juli 2014

KAMI HARAP, KAWAN MENGERTI MAKSUD KAMI!! ( Sejarah itu dimulai dari Tulisan absurd ini)



Logo Kelompok Disukusi Parit Merah




BICARA SOSIALISME DI TENGAH MAHASISWA PADA HARI INI APAKAH TETAP TABU???TIDAK…TIDAK….TIDAK,,HANYA BAGI MEREKA YANG PEDULI,,BAGI MEREKA YANG SUKA TANTANGAN UNTUK MELAWAN PADA KETABUAN YANG DI CIPTAKAN OLEH SEJARAH YANG DI PERMAINKAN OLEH KEKUASAAN,,,,
SOSIALISME BUKANLAH HANTU YANG MENAKUTKAN, BUKAN PULA IDE-IDE YANG IDENTIK DENGAN KUMPULAN PARA BAJINGAN. ADALAH PEMBODOHAN SEJARAH DALAM MENILAI DAN MENDESKRIDITKAN SOSIALISME/KOMUNISME DI NEGARA INI. DAN APAKAH PADA HARI INI KITA MASIH DUDUK TERDIAM, DAN HANYA BERMIMPI UNTUK MELURUSKAN SEJARAH INI???….BUKAN WAKTUNYA LAGI UNTUK ITU….SEJARAH TELAH MEMBODOHI KITA…WARISAN ORDE BARU TELAH MENOREHKAN SEJARAH DENGAN KEBODOHAN AKAN KEBENERAN YANG DI TUTUPI. KAMI HARAP KAWAN-KAWAN TIDAK HANYA DIAM DALAM KEBODOHAN INI…
MAKA DALAM TEKAD KEBERSAMAAN…KITA BELAJAR UNTUK MELURUSKAN SEJARAH….BELAJAR PEDULI TERHADAP PENDERITAAN SESAMA YANG TELAH MENJADI KORBAN PENGUASA YANG TIDAK PEDULI PADA KAUM YANG HINA…DAN KAUM YANG LAPAR….
DALAM SEMANGAT KEBERSAMAAN..SEMANGAT SAMA RATA SAMA RASA,,KAMI MENCOBA MEMBANGUN KOMUNITAS DISKUSI “PARIT MERAH DI LADANG ILMU”. MENGAJAK KAWAN-KAWAN SEBANGSA UNTUK BERSATU PADU DALAM SEMANGAT KEBERSAMAAN. DALAM BERDIALEKTIKA. BERPIKIR TENTANG REALITA KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKA. KARAKTERISTIK MAHASISWA DI MASA KINI. SEMUA ITU TAK LAIN DEMI TERCIPTANYA HIDUP YANG BERMANFAAT DI HARI INI DAN HARI ESOK.
INDONESIA ADALAH NEGARA SOSIALIS DAN DENGAN SEMANGAT SOSIALIS-SOSIALIS MUDA KITA AKAN KEMBALIKAN SEMANGAT SOSIALISME ALA INDONESIA YANG TERCANTUM DALAM PANCASILA. ATAS RASA KEBERSAMAAN,,KAMI MENGAJAK,,BUKAN MEMERINTAH ATAU MENYARANKAN, KARENA KAMU ADALAH AKU,AKU ADALAH KAMU.
DI ANTARA SEJUTA MANUSIA YANG TIDAK PEDULI..YANG BENCI,,,YANG TAKUT,,,,PASTI ADA SATU MANUSIA YANG PEDULI,,,YANG BERANI,,YANG SETIA UNTUK BERJUANG BERSAMA KAMI,,,dan ITU ORANG ITU YANG DI BUTUHKAN BANGSA KITA!!!!
INDONESIA BUTUH PEMUDA-PEMUDA YANG BERANI,, BUKAN HANYA PINTAR,,,BUKAN HANYA KAYA, KEBERANIAN AKAN MENCIPTAKAN CAKRAWALA KEBENARAN, JANGAN TAKUT MENCOBA KAWAN-KAWAN SEBANGSA KU,,,,
Che:085723473888
Fadli:085749476647
 
“DUNIA SUDAH BERGANTI RUPA UNTUK KEMENAGAN KITA








PostScript: Tulisan ini merupakan selebaran yang saya sebarkan bersama Mas Tegar di Tahun 2010 lalu. Tulisan ini niatnya sebagai bagian dari propaganda untuk memberikan penyadaran pada Mahasiswa Universitas Jember agar berani mendiskusikan tentang hal-hal yang berbau Kiri. Tulisan ini dibuat ketika saya masih sangat hijau dan masih belajar berproses sebagai mahasiswa

Belajar Di Dua Kutub Merah: Antara Teriakan Demonstran dan Kesunyian Pena

       
 Guruku adalah kesalahan  
      Pastinya saya tidak akan pernah melupakan tulisan dibawah ini, tulisan yang menurut orang aneh berkacamata di UKPKM Tegalboto sebagai tulisan yang tidak jelas.  Namun, tulisan inilah yang membuat saya berada di Tegalboto dan memulai belajar untuk menulis lebih dalam sampai detik ini saya menulis tulisan ini.  tulisan tersebut bisa dilihat di http://vinoguevarrato.blogspot.com/2014/07/kami-harap-kawan-mengerti-maksud-kami.html
     
       Cerita dimulai dari ide konyol saya dan Tegar, Tegar merupakan senior saya di GmnI. Ia angkatan 2006 fakultas sastra Sejarah. Waktu itu, saya ngobrol ngalor-ngidul, membicarakan segala keabsurdan yang terjadi di fakultas masing-masing. akhirnya, sampailah pada suatu titik dimana ide kamu saling bertemu dan sesegara untuk dipraksiskan. Kami sepakat untuk membuat semacam kelompok disukusi yang tidak terjebak pada organisasi apapun. Pada waktu itu, sekitar tahun 2010, kami sering lagi gandrung-gandrungnya berdiskusi tentang Komunisme, sosialisme dan segala keheroisme-an lainnya. Kami ingin tampil sebagai mahasiswa yang liyan, hispter yang merasa keren ketika membawa buku Marx ke kampus dan berdiskusi panjang lebar di warung kopi soal Marx, PKI dan gerakan-gerakan kiri lainnya. Disepakatilah nama dari kelompok diskusi kami waktu itu adalah Parit Merah, kependekan dari Palu Arit Merah. Waw!

       Hari berlanjut, sampailah bahwa ide revolusioner kita harus sesegara mungkin untuk dijewantahkan. Semangat  revolusi kita tunjukan dengan membuat sticker berlogo PKI, saya sempat berpikiran untuk mengibarkan bendera PKI di antara bendera-bendera Unej di double Way. Percetakan yang bisa menjaga rahasia sudah saya cari dan saya akan segera mencetak bendera PKI. Namun tegar menolak ide itu, Ia khawatir kalau gerakan kami akan berhadapan dengan kekuatan hukum Indonesia yang masih phobia dengan komunisme dan sejeninya. Baiklah saya menurut waktu itu. Namun sticker tetap kami buat. Gerakan dibiayai dari dana patungan. Terkumpulah Rp.50.000 sebagai awal dana gerakan kita. Revolusi harus segera dilakukan, begitu pikirku waktu itu. Kami pun merencakan gerakan itu matang-matang, seolah kami petinggi partai Bolshevik yang siap menggulingkan Tsar II.disepakatilah tanggal 1 Mei 2010 sebagai langkah gerakan kita. Kami bersiap bergerilya dari kampus ke kampus untuk menyerbarkan selebaran dan sticeker sambil orasi kecil ditipa fakultas. Tidak ada rasa malu waktu itu, yang ada adalah rasa bangga dan revolusioner. Banyak mahasiswa yang memandangi kami, kami semakin semangat, meski dikemudian hari saya baru tahu kalau mereka memandangi kami sambil berpikir " ini orang gila dari mana, teriak-teriak ga jelas dan hanya dua orang pula"

        Setiap fakultas dan setiap UKM kami datangi sambil mengajak sedikit diskusi tentang profil kelompok diskusi kami. Saya yang lebih banyak menjelaskan waktu itu, Tegar diam seolah ia benar-benar Lennin yang tidak banyak bicara. Sampailah saya menyebarkannya di UKM Universitas, sebelumnya memang saya mengetahui ada UKM yang katanya dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa galak dan gahar ketika disukusi, yaitu UKPKM Tegalboto. Kami pun tidak peduli, revolusi sudah berjalan dan yang merintangi adalah musuh revolusi. Saya benar-benar seperti sedang keblinger karena bacaan-bacaan kiri yang selalu saya baca. Setiap UKM Universitas sudah kami berikan selebaran dan sticker. Sampailah kami di UKPKM Tegalboto, Tegar tidak masuk karena ia pernah magang disana dan merasa tidan nyaman dengan orang-orang Tegalboto. Hem, saya tentu semakin bersemangat karena saya akan membungkam orang-orang Tegalboto yang membuat tidak nyaman revolusi saya, pikirku waktu itu. Benar Sinting!!!

Keputusan sulit harus dipilih
       Saya masuk begitu saja ke Tegalboto. Hanya ada Didik, yang kemudian hari saya kenal sebagai PU Tegalboto. Ia orangnya pendiam dan lebih banyak mendengarkan ceracau saya. Sampai akhirnya muncullah laki-laki berkacama dari balik ruang yang disekat triplex, yang kemudian yang tahu sebagai ruang redaksi. Ia pun pendiam. Ia tidak memperkenal diri lalu membaca selebaran yang saya berikan pada Didik. Ia hanya berbicara ini tulisan yang absurd. Sontak, saya pun muntab. Kurang ajar, belum juga kenal sudah berani merendahkan revolusi yang kami bangun. Ia lalu mengajak berdiskusi sedikit saja. Ia bertanya dengan pertanyaan sederhana. saya lupa apa pertanyaannya. pertanyaan tersebut ternyata tidak bisa dijawab. Ia semakin menikam semangat revolusioner saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya semakin tidak berdaya. Ia memberikan pertanyaan dengan mimik muka yang datar, suara yang datar dan ekspresi yang dingin. Semangat itu hancur dalam hitungan menit. Orang aneh itu membuat saya keluar dari UKPKM Tegalboto dengan lesu. setan merah apa yang membuat saya keblinger. Saya menyadari kalau saya sedang bereuforia dengan istilah, ilmu yang baru dipelajari. Maklum saja, usia kuliah saya masih beberapa bulan saja.  Oh ya, sebelum keluar dari UKPKM Tegalboto, saya diingatkan oleh Ia kalau tulisannya cobalah dirapikan tanda bacanya, fontnya, rata kanan dan rata kirinya agar tidak terkesan alay. kali itu saya sudah  tidak bisa melawan. Saya hanya mengiyakan dan berpamitan pulang dengan menyebut mereka dengan "mas" sebelumnya tidak, panggil seenaknya. Songong sekali.

       Saya pun pulang ke kost sambil merenung dalam-dalam. Kesongongan saya seolah dibiarkan di organisasi saya, GmnI. Setiap diskusi saya paling banyak bicara dan merasa paling pintar, mungkin karena saya suka membaca sehingga ketika ada yang melenceng dari grand idea maka saya sikat, saya bantai. Praktis yang mampu mengimbangi saya hanyalah senior-senior di GmnI, itu pun tidak semua. Semenjak kejadian itu, semuanya runtuh. Saya lebih banyak mendengar dan tidak mencoba untuk berargumen dengan sopan dan lugas. Sedangkan Parit Merah perlahan sudah saya lupakan. kelompok diskusi absurd. Mentalistas saya benar-benar rapuh waktu itu sehingga dengan mudah dihancurkan dalam tempo tidak lebih 15 menit. Saya lebih banyak belajar lagi, membaca lagi dan berharap bertemu dengan orang aneh yang berkacamata itu. Tujuannya jelas, membalas kekalahan yang menyakitkan itu.

Berebut Kuasa di Imparsial

       Akhirnya saya harus bangkit dari keterpurukan ide tersebut. Saya pun nekat untuk mengikuti rekrutmen UKPKM Tegalboto. Kebetulan waktu itu saya sedang merintih kembali LPM Imparsial yang telah lama vakum. Di LPM Imparsial karena politik internal organisasi (pengaruh dari GmnI) membuat saya dibuang dari organisasi yan telah saya hidupkan. Saya berani mengklaim hidupnya Imparsial karena 15 orang anggota baru Imparsial, yang masih saya ingat namanya masuk ke Imparsial karena ajakan saya. Sampailah pada Isna yang menjadi PU disana, setelah sebelumnya saya terpilih secara de facto. Konflik pun berlanjut sampai di GmnI, saya menjadi resisten dengan pengurus GmnI angkatannya Wawan. Saya sering berbuat onar di GmnI namun tidak seperti dulu yang face to face, kini saya memainkan kader-kader GmnI dibawah saya, ada Agung dan Galang yang menjadi ujung tombak keonaran saya. Konflik pun tambah kacau. Wawan tidak pernah berkonflik secara langsung, saya lebih sering berkonflik dengan Etis dan demisioner-demisioner yang berada dibelakang kepengurusan Wawan. Akhirnya karena konflik tersebut, angkatan 2010, proses kaderisasinya tidak berjalan dengan baik, meski banyak faktor lainnya yang mempengaruhi.

UKPKM TegalBoto tempat mengasingkan diri
 kondisi mental yang sudah jatuh dan konflik internal organisasi membuat  saya semakin bulat untuk masuk dalam lingkaran sunyi UKPKM Tegalboto. Proses magang pun dilalui dengan ketetaran. Kenapa? karena saya harus beradaptasi ulang dengan situasi Tegalboto yang akademik, meski sarkas dalam bertutur. Saya selalu menanti hari dimana saya bisa bertemu dengan orang aneh berkacamata itu. Ia tidak pernah muncul diawal proses magang saya di Tegalboto. Ditengah proses magang akhirnya saya bertemu dengan orang yang menghancurkan mental saya. Ia bernama Arys Aditya. Niat balas dendam berubah menjadi kagum karena ia benar-benar hebat dalam beretorika dan memecahkan masalah. Idenya tidak pernah kering, ia pun ternyata cukup enak untuk diajak sharing meski sikap acuhnya tidak bisa dihilangkan. Saya pun ingin belajar pada dia. Tegalboto memang benar-benar melahirkan orang-orang hebat dan menakutkan, stigma itu semakin menancap dalam diri saya.

      Magang berlanjut sampai hampir tujuh bulan. Saya belum juga merasakan kenyamanan di organisasi ini karena orang-orang yang ada disana mencurigai saya sebagai penyusup dari organisasi ekstra kampus. sekedar info saja bahwa di Tegalboto memegang prinsip bahwa anggota organisasi ekstra tidak bisa menjadi anggota tetap UKPKM Tegalboto, kecuali ia mengundurkan diri. Proses terus beranjut   namun tetap, orang yang saya takuti di UKPKM Tegalboto hanyalah Mas Arys, ia tidak banyak bicara namun sekalinya bicara bisa merusak segalanya. Namun dari proses itu saya belajar untuk menguatkan mental, bertahan dalam tekanan. Proses magang yang cukup menekan karena pimred perempuan yang cerewet membuat saya semakin memahami bagaimana proses tempaan di organisasi yang diisi hanya oleh segelintir orang saja. Saya pesimis  untuk bisa diangkat menjadi anggota tetap UKPKM Tegalboto karena jelas tidak mungkin saya melepaskan keanggotan GmnI saya, GmnI bagi saya sudah seperti darah, semerah darah saya. Keluarga saya dari Kakek baik dari Ayah maupun Mamah merupakan keluarga nasionalis. Keluar dari GmnI tentu seperti membuat saya pada diri yang berbeda. 

       Lobi pada pengurus coba saya gunakan dan berbagai usaha coba saya lakukan. Saya menegaskan kalau tujuan saya memang benar-benar ingin belajar jadi lebih baik. Meski saya belum merasakan kenyamanan di organisasi tersebut setidaknya ada alasan yang lebih penting dari kenyamanan yaitu proses belajar yang sebelumnya tidak saya temui di organisasi lainnya. Usaha yang saya lakukan tidak bisa menggioyahkan prinsip dari pimred Tegalboto yang pada waktu itu terkenal sadis, kejam, dan super cerewet. ia bernama Mbah Devi. Namun, ia pula yang mengajari saya soal rasa militan dan cinta pada Tegalboto.

 Harapan itu Hidup
         Suatu malam yang menegangkan sama meneganggkannya ketika saya menantikan kelulusan UN yaitu menanti surat keputusan penerimaan anggota tetap Tegalboto. Saya masih pesimis karena saya belum juga memberikan surat pengunduran diri dari GmnI. saya hanya bisa pasrah saja, kalaupun tidak lulus magang setidaknya saya pernah belajar dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda dari yang sebelumnya pernah saya temui. Pukul 21.30 WIB, waktu yang masih saya ingat betul, Mbak Devi mengirimkan pesan singkat " silahkan ambil suratnya di Loker". Tanpa pikir panjang, malam itu dengan perasaan dag-dig-dug saya langsung mengayuh sepeda menuju sekret Tegalboto. "alhamdulilah, saya menjadi bagian dari Red Carpet Community". Surat keteranga kelulusan tersebut masih saya simpan sebagai kenang-kenangan tentang bagaimana menghargai proses itu jauh lebih penting daripada hasil. Tegalboto telah mengajarkan saya untuk tidak reaksioner, ditempat itu pula saya belajar untuk lebih tenang, lebih cermat dan lebih berusaha untuk terus belajar. Anggota Tegalboto memang sedikit namun di tempat itu tempaan tidak hanya melulu soal bagiamana menulis bagus tapi juga mentalitas untuk bisa menghargai perubahan dan perbedaan. Tegalboto telah menjadi rumah baru saya dan saya nyaman berproses disana dengan menyingkirkan stigma bahwa anggota organisasi ekstra identik sebagai penyusup.

 Kembalinya sang Anak hilang
          Hampir depalan bulan saya tidak pernah ke sekret GmnI. Saya benar-benar ingin menghilang dari organisasi yang menyingkirkan saya. Namun, kekecewaan itu perlahan disikapi dengan lebih tenang. Saya pun kembali ke GmnI, mencoba membangun komunikasi dengan Wawan. Tentu dengan semangat yang tidak menggebu-gebu, sikap dewasa yang sebelumnya tidak nampak dari diri saya. Kawan-kawan pun menyambut positif masuknya saya di organisasi yang selama ini angker bagi anggota organisasi ekstra tersebut. 

         Proses belajar di Tegalboto coba saya terapkan di GmnI. Dalam berargumentasi tidak sekedar ngotot-ngototan namun mendasar dan sistematis. Varisasi gerakan tidak melulu aksi dijalan namun juga melalui tulisan. Beberapa kali saya mengisi materi jurnalistik di GmnI, meski sebenarya pada waktu itu saya belum paham betul. Namun saya tetap memberanikan diri untuk memberikan hal yang baru bagi kawan-kawan saya di GmnI agar tidak menjadi kader yang hanya jago dikandang namun juga siap bertarung dalam segala kondisi. 

         Pola kaderisasi baru ternyata tidak berjalan dengan mulus, kultur GmnI yang terlalu banyak beretorika tanpa banyak membaca tidak dengan  mudah dihilangkan. Namun setidaknya kawan-kawan tidak seasal-asalan dulu ketika disukusi. Terjadi perubahan di GmnI, termasuk Imparial. Saya tetap berproses di Tegalboto sekaligus d GmnI. 

       Sampailah saya diposisi puncak organisasi, saya yang awalnya hanya menjadi anggota tetap saja sudah bersyukur, kala itu  dihadapkan dengan keputusan Muyawarah Anggota Tegalboto yaitu menunjuk saya sebagai Pemimpin Umum. Sekali lagi, kondisi tersebut sangat berdampak pada saya, saya didewasakan melalui proses tersebut. Proses tersebut mengajarkan saya untuk lebih bijak dalam menentukan sikap. Memimpin organsisasi yang mempunyai sejarah yang panjang, awalnya menjadi beban bagi saya. Syukur alhamdulilah lambat laun saya berhasil keluar dari ketertekanan tersebut dan berusaha menciptakan kestabilan diorganisasi yang pada waktu itu diisi oleh mayoritas anggota baru.

Pelajar itu bernama 'Proses'
        Meledak-ledak, berpikir reaksioner, songong, meremehkan orang lain, merasa paling pintar, emosional pernah saya rasakan. Kondisi menjadi musuh bagi kawan sendiri, menjadi ancaman bagi organisasi pernah pula saya alami. Dicaci maki dalam rapat, mencaci maki orang lain, diremehkan, memandang sebelah mata juga pernah saya lalui. Proses panjang menjadi mahasiswa membawa banyak cerita dari yang paling rendah dititik nazir sampai terhempas ke titik zenit pada waktu itu pun pernah saya rasakan. Semua dilalui atas naman proses. Dulu, saya yang reaksioner disadarkan oleh proses panjang yang dilalui, dicaci maki ketika berusaha semaksimal mungkin pun pernah. Geram tentu iya. Namun dari situ saya menyadari bahwa melalui proses yang sudah dilalui itulah saya diajarkan untuk belajar dewasa dalam bertindak, bertanggung jawab pada keputusan yang telah saya buat, tidak merendahkan orang lain karena kita pun belum tentu baik, menghargai orang lain dan coba untuk meredam emosi, kebersamaan sesama anggota. Sekali lagi, saya tidak mendapatkan itu diruang kelas ketika kuliah, justru saya mendapatkannya diruang diskusi yang bau tengik, karpet yang beraroma busuk, bantal   yang bercampur antara iler dan kutu busuk, dimana lagi kalau bukan organisasi sebagai wadah kita belajar. 
          
        GmnI, organisasi yang mengajarkan saya untuk berani, lantang dalam keberpihakannya pada kelompok tertindas, (kami biasa menyebutnya kaum Marhaen, diajarkan untuk militan, kuat menghadapi tekanan dan kebersamaan yang dibangun dalam proses-prosenya. UKPKM Tegalboto, mengajarkan saya untuk belajar tidak reaksioner, sistematis dalam berpikir karena tulisan yang menarik adalah tulisan yang sistematis, membaca gelaja dari gejala, skeptis, bijak dalam membuat keputusan, bertanggung jawab, loyal pada organisasi, menuntut untuk belajar dan belajar.

        Proses yang awalnya pahit dan sulit, disadari atau tidak akan membuahkan hasilnya. saya berterima kasih sedalam, sehormat dan sebaik-baiknya pada organisasi tersebut. Terima kasih. Terima Kasih!!!!!!!!



Postscript: GmnI dan UKPKM Tegalboto identik dengan warna merah dan kedua organisasi tersebut juga berkarpet merah. Keduanya organisasi Merah, organisasi yang bertaring, macan dengan pola gerakannya masing-masing. Saya belajar banyak mungkin lebih banyak daripada diruang kelas kampus. proses belajar di organisasi lebih berarti daripada sekedar ocehan dosen yang ringkih secara teoritis dan argumentasinya.