Kamis, 24 Juli 2014

KAMI HARAP, KAWAN MENGERTI MAKSUD KAMI!! ( Sejarah itu dimulai dari Tulisan absurd ini)



Logo Kelompok Disukusi Parit Merah




BICARA SOSIALISME DI TENGAH MAHASISWA PADA HARI INI APAKAH TETAP TABU???TIDAK…TIDAK….TIDAK,,HANYA BAGI MEREKA YANG PEDULI,,BAGI MEREKA YANG SUKA TANTANGAN UNTUK MELAWAN PADA KETABUAN YANG DI CIPTAKAN OLEH SEJARAH YANG DI PERMAINKAN OLEH KEKUASAAN,,,,
SOSIALISME BUKANLAH HANTU YANG MENAKUTKAN, BUKAN PULA IDE-IDE YANG IDENTIK DENGAN KUMPULAN PARA BAJINGAN. ADALAH PEMBODOHAN SEJARAH DALAM MENILAI DAN MENDESKRIDITKAN SOSIALISME/KOMUNISME DI NEGARA INI. DAN APAKAH PADA HARI INI KITA MASIH DUDUK TERDIAM, DAN HANYA BERMIMPI UNTUK MELURUSKAN SEJARAH INI???….BUKAN WAKTUNYA LAGI UNTUK ITU….SEJARAH TELAH MEMBODOHI KITA…WARISAN ORDE BARU TELAH MENOREHKAN SEJARAH DENGAN KEBODOHAN AKAN KEBENERAN YANG DI TUTUPI. KAMI HARAP KAWAN-KAWAN TIDAK HANYA DIAM DALAM KEBODOHAN INI…
MAKA DALAM TEKAD KEBERSAMAAN…KITA BELAJAR UNTUK MELURUSKAN SEJARAH….BELAJAR PEDULI TERHADAP PENDERITAAN SESAMA YANG TELAH MENJADI KORBAN PENGUASA YANG TIDAK PEDULI PADA KAUM YANG HINA…DAN KAUM YANG LAPAR….
DALAM SEMANGAT KEBERSAMAAN..SEMANGAT SAMA RATA SAMA RASA,,KAMI MENCOBA MEMBANGUN KOMUNITAS DISKUSI “PARIT MERAH DI LADANG ILMU”. MENGAJAK KAWAN-KAWAN SEBANGSA UNTUK BERSATU PADU DALAM SEMANGAT KEBERSAMAAN. DALAM BERDIALEKTIKA. BERPIKIR TENTANG REALITA KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKA. KARAKTERISTIK MAHASISWA DI MASA KINI. SEMUA ITU TAK LAIN DEMI TERCIPTANYA HIDUP YANG BERMANFAAT DI HARI INI DAN HARI ESOK.
INDONESIA ADALAH NEGARA SOSIALIS DAN DENGAN SEMANGAT SOSIALIS-SOSIALIS MUDA KITA AKAN KEMBALIKAN SEMANGAT SOSIALISME ALA INDONESIA YANG TERCANTUM DALAM PANCASILA. ATAS RASA KEBERSAMAAN,,KAMI MENGAJAK,,BUKAN MEMERINTAH ATAU MENYARANKAN, KARENA KAMU ADALAH AKU,AKU ADALAH KAMU.
DI ANTARA SEJUTA MANUSIA YANG TIDAK PEDULI..YANG BENCI,,,YANG TAKUT,,,,PASTI ADA SATU MANUSIA YANG PEDULI,,,YANG BERANI,,YANG SETIA UNTUK BERJUANG BERSAMA KAMI,,,dan ITU ORANG ITU YANG DI BUTUHKAN BANGSA KITA!!!!
INDONESIA BUTUH PEMUDA-PEMUDA YANG BERANI,, BUKAN HANYA PINTAR,,,BUKAN HANYA KAYA, KEBERANIAN AKAN MENCIPTAKAN CAKRAWALA KEBENARAN, JANGAN TAKUT MENCOBA KAWAN-KAWAN SEBANGSA KU,,,,
Che:085723473888
Fadli:085749476647
 
“DUNIA SUDAH BERGANTI RUPA UNTUK KEMENAGAN KITA








PostScript: Tulisan ini merupakan selebaran yang saya sebarkan bersama Mas Tegar di Tahun 2010 lalu. Tulisan ini niatnya sebagai bagian dari propaganda untuk memberikan penyadaran pada Mahasiswa Universitas Jember agar berani mendiskusikan tentang hal-hal yang berbau Kiri. Tulisan ini dibuat ketika saya masih sangat hijau dan masih belajar berproses sebagai mahasiswa

Belajar Di Dua Kutub Merah: Antara Teriakan Demonstran dan Kesunyian Pena

       
 Guruku adalah kesalahan  
      Pastinya saya tidak akan pernah melupakan tulisan dibawah ini, tulisan yang menurut orang aneh berkacamata di UKPKM Tegalboto sebagai tulisan yang tidak jelas.  Namun, tulisan inilah yang membuat saya berada di Tegalboto dan memulai belajar untuk menulis lebih dalam sampai detik ini saya menulis tulisan ini.  tulisan tersebut bisa dilihat di http://vinoguevarrato.blogspot.com/2014/07/kami-harap-kawan-mengerti-maksud-kami.html
     
       Cerita dimulai dari ide konyol saya dan Tegar, Tegar merupakan senior saya di GmnI. Ia angkatan 2006 fakultas sastra Sejarah. Waktu itu, saya ngobrol ngalor-ngidul, membicarakan segala keabsurdan yang terjadi di fakultas masing-masing. akhirnya, sampailah pada suatu titik dimana ide kamu saling bertemu dan sesegara untuk dipraksiskan. Kami sepakat untuk membuat semacam kelompok disukusi yang tidak terjebak pada organisasi apapun. Pada waktu itu, sekitar tahun 2010, kami sering lagi gandrung-gandrungnya berdiskusi tentang Komunisme, sosialisme dan segala keheroisme-an lainnya. Kami ingin tampil sebagai mahasiswa yang liyan, hispter yang merasa keren ketika membawa buku Marx ke kampus dan berdiskusi panjang lebar di warung kopi soal Marx, PKI dan gerakan-gerakan kiri lainnya. Disepakatilah nama dari kelompok diskusi kami waktu itu adalah Parit Merah, kependekan dari Palu Arit Merah. Waw!

       Hari berlanjut, sampailah bahwa ide revolusioner kita harus sesegara mungkin untuk dijewantahkan. Semangat  revolusi kita tunjukan dengan membuat sticker berlogo PKI, saya sempat berpikiran untuk mengibarkan bendera PKI di antara bendera-bendera Unej di double Way. Percetakan yang bisa menjaga rahasia sudah saya cari dan saya akan segera mencetak bendera PKI. Namun tegar menolak ide itu, Ia khawatir kalau gerakan kami akan berhadapan dengan kekuatan hukum Indonesia yang masih phobia dengan komunisme dan sejeninya. Baiklah saya menurut waktu itu. Namun sticker tetap kami buat. Gerakan dibiayai dari dana patungan. Terkumpulah Rp.50.000 sebagai awal dana gerakan kita. Revolusi harus segera dilakukan, begitu pikirku waktu itu. Kami pun merencakan gerakan itu matang-matang, seolah kami petinggi partai Bolshevik yang siap menggulingkan Tsar II.disepakatilah tanggal 1 Mei 2010 sebagai langkah gerakan kita. Kami bersiap bergerilya dari kampus ke kampus untuk menyerbarkan selebaran dan sticeker sambil orasi kecil ditipa fakultas. Tidak ada rasa malu waktu itu, yang ada adalah rasa bangga dan revolusioner. Banyak mahasiswa yang memandangi kami, kami semakin semangat, meski dikemudian hari saya baru tahu kalau mereka memandangi kami sambil berpikir " ini orang gila dari mana, teriak-teriak ga jelas dan hanya dua orang pula"

        Setiap fakultas dan setiap UKM kami datangi sambil mengajak sedikit diskusi tentang profil kelompok diskusi kami. Saya yang lebih banyak menjelaskan waktu itu, Tegar diam seolah ia benar-benar Lennin yang tidak banyak bicara. Sampailah saya menyebarkannya di UKM Universitas, sebelumnya memang saya mengetahui ada UKM yang katanya dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa galak dan gahar ketika disukusi, yaitu UKPKM Tegalboto. Kami pun tidak peduli, revolusi sudah berjalan dan yang merintangi adalah musuh revolusi. Saya benar-benar seperti sedang keblinger karena bacaan-bacaan kiri yang selalu saya baca. Setiap UKM Universitas sudah kami berikan selebaran dan sticker. Sampailah kami di UKPKM Tegalboto, Tegar tidak masuk karena ia pernah magang disana dan merasa tidan nyaman dengan orang-orang Tegalboto. Hem, saya tentu semakin bersemangat karena saya akan membungkam orang-orang Tegalboto yang membuat tidak nyaman revolusi saya, pikirku waktu itu. Benar Sinting!!!

Keputusan sulit harus dipilih
       Saya masuk begitu saja ke Tegalboto. Hanya ada Didik, yang kemudian hari saya kenal sebagai PU Tegalboto. Ia orangnya pendiam dan lebih banyak mendengarkan ceracau saya. Sampai akhirnya muncullah laki-laki berkacama dari balik ruang yang disekat triplex, yang kemudian yang tahu sebagai ruang redaksi. Ia pun pendiam. Ia tidak memperkenal diri lalu membaca selebaran yang saya berikan pada Didik. Ia hanya berbicara ini tulisan yang absurd. Sontak, saya pun muntab. Kurang ajar, belum juga kenal sudah berani merendahkan revolusi yang kami bangun. Ia lalu mengajak berdiskusi sedikit saja. Ia bertanya dengan pertanyaan sederhana. saya lupa apa pertanyaannya. pertanyaan tersebut ternyata tidak bisa dijawab. Ia semakin menikam semangat revolusioner saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya semakin tidak berdaya. Ia memberikan pertanyaan dengan mimik muka yang datar, suara yang datar dan ekspresi yang dingin. Semangat itu hancur dalam hitungan menit. Orang aneh itu membuat saya keluar dari UKPKM Tegalboto dengan lesu. setan merah apa yang membuat saya keblinger. Saya menyadari kalau saya sedang bereuforia dengan istilah, ilmu yang baru dipelajari. Maklum saja, usia kuliah saya masih beberapa bulan saja.  Oh ya, sebelum keluar dari UKPKM Tegalboto, saya diingatkan oleh Ia kalau tulisannya cobalah dirapikan tanda bacanya, fontnya, rata kanan dan rata kirinya agar tidak terkesan alay. kali itu saya sudah  tidak bisa melawan. Saya hanya mengiyakan dan berpamitan pulang dengan menyebut mereka dengan "mas" sebelumnya tidak, panggil seenaknya. Songong sekali.

       Saya pun pulang ke kost sambil merenung dalam-dalam. Kesongongan saya seolah dibiarkan di organisasi saya, GmnI. Setiap diskusi saya paling banyak bicara dan merasa paling pintar, mungkin karena saya suka membaca sehingga ketika ada yang melenceng dari grand idea maka saya sikat, saya bantai. Praktis yang mampu mengimbangi saya hanyalah senior-senior di GmnI, itu pun tidak semua. Semenjak kejadian itu, semuanya runtuh. Saya lebih banyak mendengar dan tidak mencoba untuk berargumen dengan sopan dan lugas. Sedangkan Parit Merah perlahan sudah saya lupakan. kelompok diskusi absurd. Mentalistas saya benar-benar rapuh waktu itu sehingga dengan mudah dihancurkan dalam tempo tidak lebih 15 menit. Saya lebih banyak belajar lagi, membaca lagi dan berharap bertemu dengan orang aneh yang berkacamata itu. Tujuannya jelas, membalas kekalahan yang menyakitkan itu.

Berebut Kuasa di Imparsial

       Akhirnya saya harus bangkit dari keterpurukan ide tersebut. Saya pun nekat untuk mengikuti rekrutmen UKPKM Tegalboto. Kebetulan waktu itu saya sedang merintih kembali LPM Imparsial yang telah lama vakum. Di LPM Imparsial karena politik internal organisasi (pengaruh dari GmnI) membuat saya dibuang dari organisasi yan telah saya hidupkan. Saya berani mengklaim hidupnya Imparsial karena 15 orang anggota baru Imparsial, yang masih saya ingat namanya masuk ke Imparsial karena ajakan saya. Sampailah pada Isna yang menjadi PU disana, setelah sebelumnya saya terpilih secara de facto. Konflik pun berlanjut sampai di GmnI, saya menjadi resisten dengan pengurus GmnI angkatannya Wawan. Saya sering berbuat onar di GmnI namun tidak seperti dulu yang face to face, kini saya memainkan kader-kader GmnI dibawah saya, ada Agung dan Galang yang menjadi ujung tombak keonaran saya. Konflik pun tambah kacau. Wawan tidak pernah berkonflik secara langsung, saya lebih sering berkonflik dengan Etis dan demisioner-demisioner yang berada dibelakang kepengurusan Wawan. Akhirnya karena konflik tersebut, angkatan 2010, proses kaderisasinya tidak berjalan dengan baik, meski banyak faktor lainnya yang mempengaruhi.

UKPKM TegalBoto tempat mengasingkan diri
 kondisi mental yang sudah jatuh dan konflik internal organisasi membuat  saya semakin bulat untuk masuk dalam lingkaran sunyi UKPKM Tegalboto. Proses magang pun dilalui dengan ketetaran. Kenapa? karena saya harus beradaptasi ulang dengan situasi Tegalboto yang akademik, meski sarkas dalam bertutur. Saya selalu menanti hari dimana saya bisa bertemu dengan orang aneh berkacamata itu. Ia tidak pernah muncul diawal proses magang saya di Tegalboto. Ditengah proses magang akhirnya saya bertemu dengan orang yang menghancurkan mental saya. Ia bernama Arys Aditya. Niat balas dendam berubah menjadi kagum karena ia benar-benar hebat dalam beretorika dan memecahkan masalah. Idenya tidak pernah kering, ia pun ternyata cukup enak untuk diajak sharing meski sikap acuhnya tidak bisa dihilangkan. Saya pun ingin belajar pada dia. Tegalboto memang benar-benar melahirkan orang-orang hebat dan menakutkan, stigma itu semakin menancap dalam diri saya.

      Magang berlanjut sampai hampir tujuh bulan. Saya belum juga merasakan kenyamanan di organisasi ini karena orang-orang yang ada disana mencurigai saya sebagai penyusup dari organisasi ekstra kampus. sekedar info saja bahwa di Tegalboto memegang prinsip bahwa anggota organisasi ekstra tidak bisa menjadi anggota tetap UKPKM Tegalboto, kecuali ia mengundurkan diri. Proses terus beranjut   namun tetap, orang yang saya takuti di UKPKM Tegalboto hanyalah Mas Arys, ia tidak banyak bicara namun sekalinya bicara bisa merusak segalanya. Namun dari proses itu saya belajar untuk menguatkan mental, bertahan dalam tekanan. Proses magang yang cukup menekan karena pimred perempuan yang cerewet membuat saya semakin memahami bagaimana proses tempaan di organisasi yang diisi hanya oleh segelintir orang saja. Saya pesimis  untuk bisa diangkat menjadi anggota tetap UKPKM Tegalboto karena jelas tidak mungkin saya melepaskan keanggotan GmnI saya, GmnI bagi saya sudah seperti darah, semerah darah saya. Keluarga saya dari Kakek baik dari Ayah maupun Mamah merupakan keluarga nasionalis. Keluar dari GmnI tentu seperti membuat saya pada diri yang berbeda. 

       Lobi pada pengurus coba saya gunakan dan berbagai usaha coba saya lakukan. Saya menegaskan kalau tujuan saya memang benar-benar ingin belajar jadi lebih baik. Meski saya belum merasakan kenyamanan di organisasi tersebut setidaknya ada alasan yang lebih penting dari kenyamanan yaitu proses belajar yang sebelumnya tidak saya temui di organisasi lainnya. Usaha yang saya lakukan tidak bisa menggioyahkan prinsip dari pimred Tegalboto yang pada waktu itu terkenal sadis, kejam, dan super cerewet. ia bernama Mbah Devi. Namun, ia pula yang mengajari saya soal rasa militan dan cinta pada Tegalboto.

 Harapan itu Hidup
         Suatu malam yang menegangkan sama meneganggkannya ketika saya menantikan kelulusan UN yaitu menanti surat keputusan penerimaan anggota tetap Tegalboto. Saya masih pesimis karena saya belum juga memberikan surat pengunduran diri dari GmnI. saya hanya bisa pasrah saja, kalaupun tidak lulus magang setidaknya saya pernah belajar dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda dari yang sebelumnya pernah saya temui. Pukul 21.30 WIB, waktu yang masih saya ingat betul, Mbak Devi mengirimkan pesan singkat " silahkan ambil suratnya di Loker". Tanpa pikir panjang, malam itu dengan perasaan dag-dig-dug saya langsung mengayuh sepeda menuju sekret Tegalboto. "alhamdulilah, saya menjadi bagian dari Red Carpet Community". Surat keteranga kelulusan tersebut masih saya simpan sebagai kenang-kenangan tentang bagaimana menghargai proses itu jauh lebih penting daripada hasil. Tegalboto telah mengajarkan saya untuk tidak reaksioner, ditempat itu pula saya belajar untuk lebih tenang, lebih cermat dan lebih berusaha untuk terus belajar. Anggota Tegalboto memang sedikit namun di tempat itu tempaan tidak hanya melulu soal bagiamana menulis bagus tapi juga mentalitas untuk bisa menghargai perubahan dan perbedaan. Tegalboto telah menjadi rumah baru saya dan saya nyaman berproses disana dengan menyingkirkan stigma bahwa anggota organisasi ekstra identik sebagai penyusup.

 Kembalinya sang Anak hilang
          Hampir depalan bulan saya tidak pernah ke sekret GmnI. Saya benar-benar ingin menghilang dari organisasi yang menyingkirkan saya. Namun, kekecewaan itu perlahan disikapi dengan lebih tenang. Saya pun kembali ke GmnI, mencoba membangun komunikasi dengan Wawan. Tentu dengan semangat yang tidak menggebu-gebu, sikap dewasa yang sebelumnya tidak nampak dari diri saya. Kawan-kawan pun menyambut positif masuknya saya di organisasi yang selama ini angker bagi anggota organisasi ekstra tersebut. 

         Proses belajar di Tegalboto coba saya terapkan di GmnI. Dalam berargumentasi tidak sekedar ngotot-ngototan namun mendasar dan sistematis. Varisasi gerakan tidak melulu aksi dijalan namun juga melalui tulisan. Beberapa kali saya mengisi materi jurnalistik di GmnI, meski sebenarya pada waktu itu saya belum paham betul. Namun saya tetap memberanikan diri untuk memberikan hal yang baru bagi kawan-kawan saya di GmnI agar tidak menjadi kader yang hanya jago dikandang namun juga siap bertarung dalam segala kondisi. 

         Pola kaderisasi baru ternyata tidak berjalan dengan mulus, kultur GmnI yang terlalu banyak beretorika tanpa banyak membaca tidak dengan  mudah dihilangkan. Namun setidaknya kawan-kawan tidak seasal-asalan dulu ketika disukusi. Terjadi perubahan di GmnI, termasuk Imparial. Saya tetap berproses di Tegalboto sekaligus d GmnI. 

       Sampailah saya diposisi puncak organisasi, saya yang awalnya hanya menjadi anggota tetap saja sudah bersyukur, kala itu  dihadapkan dengan keputusan Muyawarah Anggota Tegalboto yaitu menunjuk saya sebagai Pemimpin Umum. Sekali lagi, kondisi tersebut sangat berdampak pada saya, saya didewasakan melalui proses tersebut. Proses tersebut mengajarkan saya untuk lebih bijak dalam menentukan sikap. Memimpin organsisasi yang mempunyai sejarah yang panjang, awalnya menjadi beban bagi saya. Syukur alhamdulilah lambat laun saya berhasil keluar dari ketertekanan tersebut dan berusaha menciptakan kestabilan diorganisasi yang pada waktu itu diisi oleh mayoritas anggota baru.

Pelajar itu bernama 'Proses'
        Meledak-ledak, berpikir reaksioner, songong, meremehkan orang lain, merasa paling pintar, emosional pernah saya rasakan. Kondisi menjadi musuh bagi kawan sendiri, menjadi ancaman bagi organisasi pernah pula saya alami. Dicaci maki dalam rapat, mencaci maki orang lain, diremehkan, memandang sebelah mata juga pernah saya lalui. Proses panjang menjadi mahasiswa membawa banyak cerita dari yang paling rendah dititik nazir sampai terhempas ke titik zenit pada waktu itu pun pernah saya rasakan. Semua dilalui atas naman proses. Dulu, saya yang reaksioner disadarkan oleh proses panjang yang dilalui, dicaci maki ketika berusaha semaksimal mungkin pun pernah. Geram tentu iya. Namun dari situ saya menyadari bahwa melalui proses yang sudah dilalui itulah saya diajarkan untuk belajar dewasa dalam bertindak, bertanggung jawab pada keputusan yang telah saya buat, tidak merendahkan orang lain karena kita pun belum tentu baik, menghargai orang lain dan coba untuk meredam emosi, kebersamaan sesama anggota. Sekali lagi, saya tidak mendapatkan itu diruang kelas ketika kuliah, justru saya mendapatkannya diruang diskusi yang bau tengik, karpet yang beraroma busuk, bantal   yang bercampur antara iler dan kutu busuk, dimana lagi kalau bukan organisasi sebagai wadah kita belajar. 
          
        GmnI, organisasi yang mengajarkan saya untuk berani, lantang dalam keberpihakannya pada kelompok tertindas, (kami biasa menyebutnya kaum Marhaen, diajarkan untuk militan, kuat menghadapi tekanan dan kebersamaan yang dibangun dalam proses-prosenya. UKPKM Tegalboto, mengajarkan saya untuk belajar tidak reaksioner, sistematis dalam berpikir karena tulisan yang menarik adalah tulisan yang sistematis, membaca gelaja dari gejala, skeptis, bijak dalam membuat keputusan, bertanggung jawab, loyal pada organisasi, menuntut untuk belajar dan belajar.

        Proses yang awalnya pahit dan sulit, disadari atau tidak akan membuahkan hasilnya. saya berterima kasih sedalam, sehormat dan sebaik-baiknya pada organisasi tersebut. Terima kasih. Terima Kasih!!!!!!!!



Postscript: GmnI dan UKPKM Tegalboto identik dengan warna merah dan kedua organisasi tersebut juga berkarpet merah. Keduanya organisasi Merah, organisasi yang bertaring, macan dengan pola gerakannya masing-masing. Saya belajar banyak mungkin lebih banyak daripada diruang kelas kampus. proses belajar di organisasi lebih berarti daripada sekedar ocehan dosen yang ringkih secara teoritis dan argumentasinya.
    
         

Amarah melahirkan Perubahan: Ketika ketertindasan memantik perlawanan

 "Happiness is to Struggle Against Oppression". (Karl Marx)
Matahari sedang berada tepat diatas benua Afrika yang kering. Tunisia pada tahun 2010, ketika itu, terik semakin memanaskan tensi politik dinegeri Tunisia. Ribuan orang turun kejalan untuk meneriakan dan meluapkan kemuakannya. Berbagai sudut kota dipenuhi oleh para demonstran. Mereka berkumpul dilapangan Tahrir, massa masih dalam kuasa keamanan setempat, demontrasi masih berlangsung damai dan tertib. Disudut yang lain, yang jauh dari keriuhan para demonstran seorang pemuda yang berdagang sayur, ia bernama Muhammad Bouazizi, berumur 26 tahun yang tertindas di wilayah Sidi Bouzid Sidi. Bouazizi yang tidak ikut demontrasi dan sedang melayani pembeli tiba-tiba didatangi oleh sekolompok polisi. Mereka menyita gerobak sayurnya dengan alasan bahwa ia berjualan tanpa izin. Bouazizi sudah coba membayar 10 dinar Tunisia, namun ia ditampar, diludahi, bahkan ayahnya yang sudah meninggal dihina.  
Bouazizi yang muntab mencoba melaporkan kejadian tersebut pada kantor polisi setempat, alih-alih mendapatkan perhatian, ia justru mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Ia lalu berbuat nekad dan membakar dirinya sendiri didepan umum. Kejadian tersebut  tidak hanya membakar Bouazizi seorang, justru peristiwa tersebut membakar semangat perlawan masyarakat Tunisia yang sudah muak dengan ketertindasan yang dialami  mereka. Presiden Jenderal Zine El Abidine Ben Alilah yang menjadi dalang dibalik itu semua. Kepemimpinannya yang otoriter akhirnya memuncakkan kenekatan masyarakat yang selama ini diam dalam ketertindasan.
Dilapangan Tahrir, demontran yang awalnya damai mendadak chaos setelah mendengar peristiwa Bouazizi. Revolusi pun meletuh, Tunisia pun memerah akibat peluru-peluru aparat yang mengenai para demonstran, huru hara terjadi disana sini. Tak ada kebab bakar ditengah revolusi. Akibat massivenya gerakan perlawan masyarakat, Ben Ali akhirnya diruntuhkan setelah memerintah selama 23 tahun
*****

Manusia memeluk kebebasan
Manusia adalah mahluk yang sedang berproses menjadi pribadi. Seorang pribadi, artinya ia mempunyai kemampuan untuk menentukan kehendaknya, ini berarti kebebasan. Dengan itu manusia mampu menentukan diri sendiri dan tindakannya. Akibat kehendak bebasnya, manusia dalam bertindak tidak tergantung pada dorongan-dorongan naluriah, melainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan karena menurut Sartre esensi kebebasan adalah memilih atas segala pilihan yang ada. Setiap tindakan bebas manusia merupakan realisasi dari kebebasan itu. Satre menegaskan bahwa manusia adalah kebebasan. Dengan mengatakan ini, Sartre mau memberikan sebuah penjelasan kepada manusia bahwa dirinya adalah kebebasan itu sendiri. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa manusia dapat didefinisikan sebagai kebebasan. Dengan mengatakan itu semua Sartre memberikan corak humanisme dalam pemikirannnya.[1] Sarte ingin menunjukan kalau manusia adalah pemegang kendali atas dirinya sendiri, tak ada hal apapun yang bisa menggurangi kekuasaan diri untuk menentukan kebebasan.
Namun kebebasan itu tentunya kebebasan yang dapat dipertanggung jawabkan, kebebasan positif begitu Franz Magnis Suseno menyebutnya, karena manusia akan senantiasa selalu berhubungan dengan manusia yang lainnya, yang  mana kebebasan itu akan berbenturan dengan kebebasan manusia yang lain. Tindakan bebas tidak bisa disamakan dengan kebebasan, memang setiap tindakan bebas merupakan realisasi dari kebebasan namun dapat pula sebaliknya yaitu pengkhianatan pada kebebasannya. Contohnya liberalisme yang mengedepankan ide-ide mengenai kebebasan manusia sebagai individu yang rasional berkembang pesat pada abad ke-17 hingga 19. Namun Domenico Losurdo dalam bukunya Liberalism: A Counter History, menyajikan sebuah versi lain dari sejarah liberalisme, yang ternyata sama sekali tidak mengandung nilai nilai kebebasan manusia, liberalism menciptakan perbudakan dan kolonialisme.



Amarah mengajarkan untuk melawan
Sejarah manusia penuh dengan pengalaman jatuh bangun, kemenangan dan kekalahan. Sejarah manusia adalah sejarah untuk menuju kebebasan yang sempurna.  Kadang kala manusia akan berhadapan dengan ketertindasan yang menciptakan penderitaan akibatnya manusia tidak mampu mencapai kekebasannya. Namun Kesadaran akan ketertindasan itulah yang menjadi kunci manusia untuk melawan, melampiaskan kemuakannya atau amarahnya untuk merebut kebebasan yang menjadi fitrah manusia. Kesadaran membuat manusia dapat mengatasi, mengatur, memilih dan memaknai dikarenakan kesadaran memiliki karakteristik intensionalitas, yakni terarah pada sesuatu. Saat kesadaran mengalami proses intensionalitas maka dititik itulah kesadaran membawa manusia menyadari sesuatu . “menyadari” adalah tahap awal dimana subjek dapat melakukan afirmasi dan negasi. Mudahnya, dalam proses ‘menyadari’ itu manusia akan memilih apakah akan tetap menerima atau menolak, dalam konteks yang saya maksud manusia apakah akan tetap memilih hidup dalam ketertindasan atau mencoba melawan ketertindasan itu. Kesadaran akan penderitaan itulah yang melahirkan kebebasan.
            Amarah menjadi mesiu dalam perlawanan manusia untuk mencari kebebasan yang terbelenggu. Sejarah mencatat, banyak manusia yang melakukan hal-hal diluar nalar dengan mengekspresikan amarahnya sebagai simbol perlawanan. Perlawanan masyarakat Tunisia menjadi bukti bahwa tindakan represif Negara, ketertindasan adalah bahasa awal yang mengajarkan masyarakat untuk melawan. Tidak ada  ketakutan yang selama ini membelenggu. Amarah dapat melahirkan perlawanan, tujuannya antara lain adalah kebebasan.
Ketika manusia dikekang, dibatasi gerak dan pikirannya banyak yang kemudian menempuh jalan perlawanan, perlawanan yang akan melahirkan perubahan. Maka tidak salah jika kemudian dikatakan bahwa keterindasan adalah bahasa awal perubahan. Freud menjelaskan bahwa, dorongan atau keinginan yang tidak memperoleh pelepasan, terdorong dan tersimpan dalam alam bawah sadar, yang pada suatu ketika akan
muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan, jadi meskipun serepresif apapun penguasa membungkan rakyatnya maka semakin besar pula ledakan amarah yang dilampiaskan karena adanya dorongan-dorongan yang pada dasarnya dorongan tersebut membutuhkna pemenuhan untuk dikeluarkan dikala ada kesempatan. Amarah tersebut meciptakan tindakan-tindakan yang irrasional,seolah tak peduli nyawa sebagai taruhannya. Ketika ketertindasan itu disadari sebagai pilihan hidup yang tidak tepat maka manusia akan mencari kebahagiannya itu dengan kebebasan, ketika kebebasan itu terkekang maka penindasan tersebut melahirkan kebenarian. ketika sesuatu tidak seperti yang diharapkan, mereka tidak menyalahkan keadaan tetapi berusaha berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan?”. Maka ketika penindasan terus terjadi mereka berpikir untuk mencari cara bagaimana mereka bias berusah lebih baik, akhirnya mereka memilih cara untuk berani  melawan. Jadi benar apa yang dikatan oleh Carrie Jones, bahwa rahasia kebahagiaan adalah kebebasan dan rahasia kebebasan adalah keberanian.[]



\


[1] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Knisius, 1980), hlm. 157

Terima Kasih Jember



Tentang perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu aku  harapkan namun tidak banyak alasan yang membuatku bisa bertahan ditempat ini lebih lama. Apalagi kalau tuntutan untuk segera mencari kehidupan yang baru agar eksistensi menjadi manusia tetap ada, begitu kata kebanyakan manusia modern. Bekerja! Bekerja dan Bekerja. Sebenarnya aku ingin bekerja sesuai dengan passion ku. Berada posisi tersebut sungguh sangat disyukuri. Namun sayang, hidup tak semudah berharap dan harapan akan tetap menjadi angan yang selalu hadir dalam mimpi ketika tidak pernah berani untuk direalisasikanya. Aku berangkat pergi!
                                                                        ****
Jember, 15 Mei 2014, Matahari masih belum genap bersinar, gelap menjadi pengantar perjalananku. Jember tidak sepertinya biasanya, dingin masih terlalu terasa, sesekali menusuk tulang ketika jaket tersibak angin subuh. Setelah sahur, aku masih asyik berselancar didunia maya mencari informasi tentang keriuhan dunia. Rasanya semakin muak aku dengan berita-berita yang beredar didunia maya, apalagi kalau bukan tentang Pilpres lalu quick count, kampanye hitam semunya hanya sampah yang menyebalkan.
Waktu masih menunjukan pukul 4.25 WIB, aku pun masih leha-leha bersandar didinding triplek yang menjadi sekat antara ruang diskusi dan ruang redaksi. Malam tadi aku sengaja tidur di sekretariat UKPM TegalBoto alasanya agar nanti ada yang mengantarku ke stasiun.
Keadaan mendadak diluar kendali, waktu sudah menunjukan pukul 4. 50 WIB hanya sepuluh menit lagi kereta yang membawaku ke Jogjakarta akan berangkat. Sontak aku blingsatan sesegera untuk prepare apa saja yang aku bawa. Cuci muka, ambil tas, pakai sepatu dan tancap gas menuju stasiun. Jember masih tetap dingin sekali, aku lihat di Accu weather, aplikasi cuaca di android suhu Jember mencapai 20 derajat.
Waktu yang injury time termaksimalkan dengan baik. Subuh itu aku diantar oleh Bill, adik organisasiku yang bergaya nyentrik.
***
Kereta pergi mengantar harapan
            Kereta berangkat meninggalkan stasiun Jember tepat pada pukul 05.00 WIB, sepertinya PT KAI ingin lebih tertib dari sebelumnya. Aku duduk sendiri meski harusnya duduk bersama perempuan manis. Aku sengaja memilih sendiri karena nanti tidak akan konsen jika aku tepat didepannya. Hemmm.
            Perjalanan meninggalkan Jember memang bukanlan kali pertama. Sudah berkali-kali aku pergi keluar Jember. Namun, kali ini akan lebih berbeda karena aku pergi meninggalkan Jember dan kemungkinan untuk kembali lagi ke Jember akan lebih sulit apalagi kalau bukan karena bekerja. Huft, benar dalam teori ekonomi kalau apa yang kita inginkan akan mengorbankan keinginan kita yang lain. Aku harus menahan rindu pada Jember.
Keputusanku untuk beranjak dari Jember memang keputusan yang sangat sulit dan aku menyadari segala konsekuensi yang harus dihadapi. Sekali lagi, aku punya cita-cita, menjadi pengacara besar tentu ada usaha keras yang harus dicapai. Meninggalkan Jember adalah salah satu pengorbanan dan konseskuensinya.
Kota melahirkan rindu
Sudah hampir lima tahun aku berada di Jember. Menempuh studi strata satu dan menjadi sarjana hukum. Kuselesaikan pendidikanku dalam waktu 4,5 tahun. Waktu yang tidak terlalu buruk bagi seorng mahasiswa yang juga aktif di beberapa organisasi –terkesan narsis-.
Jember kota yang sederhana tak terlalu banyak keriuhan hidup dikota ini. Penduduknya sederhana, pun ada beberapa yang tidak. Namun secara umum Jember kota yang tidak terlalu banyak keriuhan. Mungkin akan banyak yang setuju bahwa ketenangan merupakan hal yang penting dalam menjalani hidup ini karena kesederhanaannya membuat kota Jember lebih tenang. Aku bisa dengan tenang dalam melakukan berbagai aktivitas.
Baiklah, selama waktu tersebut banyak cerita yang aku lalui dari mulai dari hal yang paling susah sampai mudah. Banyak cerita yang telah aku tulis dikota itu. Ditambah aku mendapatkan banyak cinta di kota itu dan kali ini aku pun sedang mencintai sesorang yang dipertemukan dikota itu.
Cerita telah semakin banyak tertulis, kisah telah banyak diceritakan dan perasan ini semakin menyatu dengan kota Jember. Jember bukan sekedar tempat aku kuliah dan bercinta. Jember tempat aku belajar mengenap saripati kehidupan. Jember tempat aku belajar ditempa untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Karena kesan yang begitu mendalam pada Jember lahirlah cinta pada kota ini. Ketika berjarak maka lahirlah rindu pada kota yang juga telah menjadi saksi lahirnya diriku 23 tahun yang lalu. Ya, aku memang terlahir di Jember. Mungkin alasan itu pula yang membuat aku begitu berkesan pada Jember, selain karena banyak pengalaman yang aku dapat dari kota ini.