Minggu, 12 Mei 2013

Mempertanyakan Ulang Praktikum di Fakultas Hukum UNEJ

Oleh Gulfino Guevarrato

Hampir setiap malam kampus fakultas Hukum selalu ramai dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai angakatan. Rata-rata kepentingan mereka sama yaitu mengerjakan tugas-tugas kuliah yang bejibun, kerja kelompok atau sekedar mengisi waktu dengan browsing memanfaatkan Wifi kampus. Beberapa waktu terakhir ini fakultas Hukum memang sedang gencar-gencarnya memperbaiki diri entah itu secara fisik atau dari pondasi pendidikan. Ada yang menarik dengan perubahan dalam sistem pendidikan yang ada di fakultas Hukum yaitu dalam proses belajar yang memberikan ruang lebih banyak kepada mahasiswa untuk belajar secara perorangan (indivudually learning) dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman (learning experiencing).  Maka tak heran, mahasiswa akan lebih banyak disibukan oleh kegiatan-kegiatan akedemik diluar jam kuliah karena hampir setiap mata kuliah selalu menyepilkan praktikum yang mana pelaksanaannya biasanya diluar waktu kuliah. Praktikum idealnya semacam pengaplikasian ilmu yang telah diajarkan sehingga tak heran kampus selalu ramai seperti pasar malam.

Pelaksanaan praktikum pun ada alokasi dananya tersendiri yang tentunya diambil dari mahasiswa meskipun transaparasinya perlu dipertanyakan ulang. Ada bermacam-macam praktikum itu, salah satunyanya adalah studi banding. Namun, pelaksanaan praktikum benar-benar lepas dari hakikatnya artinya pelaksanaanya sebatas dilakukan sebatas formalitas belaka. Sering kali mahasiswa ‘diharuskan’ untuk ikut praktikum dalam bentuk studi banding. Entah itu ke Jogja, Jakarta, Malang atau Bali. Rata-rata tujuannya tempat-tempat yang menarik dan banyak tempat wisatanya. Karena harus saya akui kalau tujuan dari studi banding itu hanyalah hura-hura yang dibalut dengan tujuan akademis.

Saya pernah ikut studi banding tujuaanya MPR RI dan Mahkamah Pelalayaran. Dalam pelaksanaanya porsi untuk studi bandingnya sepertinya tidak seimbang jika dibandingkan dengan kegiatan bersenang-senangnya, seperti ke Bandung dan Jogja. Pelaksanaan studi banding sepertinya memang tidak mengenai sasaran.  Kegiatan itu bukan satu-satunya, masih banyak kegiatan-kegiatan lainnya yang menghabiskan banyak uang dalam kamuflase pendidikan tetapi sebenarnya adalah liburan. Sungguh ironis.

Kegiatan studi banding itu dijadikan semacam trend karena ada hampir di setiap mata kuliah dari tiga jurusan di fakultas Hukum. Pelaksanaan praktikum pun harus kita akui bersama luput dari sasarannya dan perlu di evaluasi ulang. Ya, saya memang harus mengakui pula pelaksanaan praktikum dalam bentuk studi banding itu memang bermanfaat, bermanfaat untuk refreshing ditengah kepenatan kegiatan kuliah tetapi kalau memang tujuannya untuk berlibur rasanya tak perlulah harus menggunakan istilah studi banding atau apalah itu yang ada dalam ruang lingkup akademis.semacam anomali lah.

Saya yakin sekali bahwa perubahan kurikulum atau perubahan sistem pendidikan yang ada di fakultas Hukum memiliki tujuan yang baik dan membangun. Saya pun jadi teringat pada Jhon Dewey, salah seorang pemikir berkebangsaan Amerika. Pemikirannya yang terkenal yaitu pendidikan progresif. Menurutnya Pendidikan bukan hanya proses pemberian pengetahuan yang bersifat statis. Keterampilan dan pengetahuan mahasiswa dari proses belajar harus diintegrasikan sepenuhnya ke dalam kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan dalam dunia nyata. Jika dihubungakn dengan praktikum kurang lebih tujuaanya tidak jauh dari situ yaitu memperoleh keterampilan melalui proses belajar yang diintergrasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kontek fakultas hukum sepertinya memang tidak jauh berbeda dengan pemikirannya Jhon Dewey yaitu mengarahkan mahasiswa untuk mencari pengalaman-pengalaman belajar karena pengalaman belajar akan berpengaruh dalam penjelajahan dan introduksi ide-ide baru yang revolusioner.
Filsafat instrumentalisme Dewey sendiri dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman yang bergerak dan bergerak kembali menuju pengalaman, untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan yang tidak menentu kearah keadaan tertentu.

Apapun itu, dalam pelaksanaan proses pendidikan yang terjadi di fakultas Hukum tujuanya jelas yaitu bagaimana menghasilkan kader-kader lulusan fakultas Hukum yang terdidik dan berguna karena Pendidikan merupakan komponen penting dalam perubahan sosial. Namun sayang sekali, hal itu kadang dilupakan oleh banyak pihak (secarta khusus civitas akademik). Pendidikan masih belum mampu untuk mempengaruhi tatanan dan perubahan sosial. Pendidikan hanya mencerminkan tatanan sosial dalam arti: siapa yang berpendidikan, ia memiliki hak prerogatif untuk mendominasi kelas ekonomi dan pendidikan dijadikan salah satu barometer status sosial.
Jika berkaca pada realita yang ada jangalah dulu kita bermuluk-muluk soal pendidikan sebagai sarana pembebasan seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire. Pendidikan sekarang ini memiliki kecenderungan mengalienasi peserta didiknya. Mahasiswa akan sangat disibukan oleh tugas, praktikum, sehingga sering kali harus melupakan realitas yang terjadi disekitanya. Tujuanya jelas, yaitu mendapatkan nilai sesempurna mungkin dan lulus cepat. Sistem pendidikan pun masih belum menemukan bentuk terbaiknnya seperti yang sudah saya ceritakan diatas. Sekali lagi, Praktikum pun akhirnya mengalieanis mahasiswa ketika memang pelaksanaanya tidak terarah.

Perlu kita ketahui kalau diluar sana, banyak sesama kita yang perlu diperjuangkan bersama. Karena dengan cara membaur dengan realita,  sesungguhnya pendidikan itu tidak akan statis karena besentuhan dengan realitas dan terus menciptakan dialektika-dialektikan baru yang akan mengedukasi kita. Sehingga istilah praktikum, studi banding abal-abal itu hanyalah omong kosong yang tidak pernah menemukan praksisnya dan tetap membiarkan kita dalam menara gading pendidikan yang sama sekali tidak mencerdaskan. oleh karena itu perlu usaha untuk mengevaluasi sistem yang katanya berpihak pada perubahan nyatanya malah terdiam dalam kebisuan.

Jumat, 10 Mei 2013

Untuk Perempuan Berlesung Pipi (bag 2)


Kali ini aku ingin menahan nafasku untuk beberapa saat lalu mengingat dirimu yang mungkin sudah terlelap.  Sudah banyak cerita yang sering diceritakan oleh angin, oleh hujan, oleh terik dan oleh kita dikala senja belum benar-benar tenggelam. Setiap hari kita bertemu muka, saling menyapa, membelai, memuji atau bahkan saling bertengkar. Kemarin kau baru saja menggigit tanganku,sakit sekali.
Kita biasa melewatkan hari dengan tidur-tiduran di kostku sambil bercerita banyak hal. Rasanya selalu ada saja cerita-cerita yang keluar dari mulut kita. Ketika memang bosan ‘ngaplo’, kadang kita memasak hal-hal yang belum pernah kita makan sampai-sampai berat badanku naik sekarang ini gara-gara kau selalu mengajakku makan. Hem, tapi itu hanya sementara lusa perutku sudah kembali rata, ndut.aih, aku sedang rindu kau, selalu rindu. Entahlah aku sendiri pun tak mempunyai alasan yang jelas.

Belakang ini aku jarang ajak kamu jalan-jalan, ehm terakhir k pulau Kucur, Puger. Kamu tahu sendiri belakangan ini aku sedang banyak kegiatan, selain itu rasanya sudah tidak ada tempat yang menarik yang belum pernah kita kunjungi. Semua pernah kamu datangi, sepertinya hampir di Kabupaten Karesdienan Besuki   kita pernah datangi. Sampai-sampai hanya untuk sekedar beli rujak saja kita cari di Rambipuji, makan pecel ke Ngarahan atau makan Ayam goreng yang sangat kita suka harus ke Banyuwangi. Oh ya, satu lagi yang aku lupa, untuk makan Mie Goreng yang kesukaan kita, kita sampai harus ke Situbondo. Hadeh, memang repot ya, tetapi itulah menariknya. Selalu ada saja ingatan-ingatan yang kita tanam lalu dipetik dikemudian hari untuk diceritakan ketika kita sudah tua nanti.

Beberapa akhir ini kau sering kali marah. Marah karena cemburu oleh orang yang ada di masa laluku. Sudahlah, jangan kau biarkan dirimu dalam kesia-siaan karena tidaklah ada alasan apapun yang sepadan untuk menginggalkanmu. Kau tau sendiri, bagaimana kualitas hubunganku dulu dengan dia dan kualitas hubunganku dengan kau. Mulai sekarang janganlah pernah takut oleh alasan-alasan yang tak beralasan itu. Ketika dia menggangu hubungan kita, biarkan saja. Aku pun enggan berurusan dengan hal-hal yang  sia-sia.
Senang sekali jika kita terus berusaha untuk saling membangun diri dan menciptakan kualitas hubungan yang positif. Terima kasih aku padamu karena telah mengajarkanku untuk menjadi sabar, setelah sebelumnya aku sangat emosional, menjadi tenang,  mengajariku mandi pagi dan berpakaian rapi, membiasakan berdoa sebelum makan, dll. aku masih ingat dan sangat senang ketika awal pertama magang, kau datang k kostku pagi sekali hanya untuk mengajari aku berpakaian rapi. Pada waktu itu, kau ajari aku sertika lalu merapihkan letak leher kemejaku yang tidak rapi. Begitu telatennya kamu, ngie. Setelah itu kau memasakan nasi goreng kesukaanku. Terima kasih sayang.

Kamu semakin hari semakin lucu, goyunan-goyunanmu kadang membuatku terpingkal-pingkal. Kita memang sering bergeje ria, tapi dari kondisi itulah aku sadar kalau kita sedang membangun ikatan kasih yang lebih baik.

Tak terasa kita sudah mengijak usia hubungan setahun lebih, masih sangat muda tentunya. Dari kebersamaan kita yang terus berlanjut ini, aku selalu berharap kalau kita saling melengkapi. Apa adanya kamu adalah pelengkap dalam hidupku. Saling menggamit lalu melangkah menemukan cakrawala kehidupan bersama. Amin..

Love U, Anggie Puspita.....
Hem, aku menulis ketika mataku sduah tak kuat untuk melek.


Selasa, 07 Mei 2013

Terlahir Untuk Menjadi Berlian



Jember selalu tak pernah ingin berhenti melahirkan karyanya melalui anak-anak muda yang mengekspresikan bakatnya, salah satunya melalui seni. Sagavo band yang bergenre Alternatif/Rock itu  berdiri sejak 21 Juni 2007 itu mencoba merilis kumpulan lagu-lagunya dalam bentuk Extended Play (EP) yang berjudul Anthem For The Glory"  pada tanggal 13 Mei 2013 di gedung Yabina, Jember. “ini merupakan EP pertama dari kami” kata Rian, salah satu personil Sagavo. “ EP ini sempat tertunda launchingya karena masalah internal kami yaitu hengkangnya Inyok sebagi penggebuk drum Sagavo” tambah Rian disela-sela obrolan ketika sedang ngopi di Cak Wang.

EP ini berisikan enam lagu, dimana lagu yang As hard As Diamond menjadi singel pertamanya. Kesan pertama dari EP ini adalah semangat, pesan sosial dan cinta yang dibahasakan dengan tidak menye-menye. Enam lagu itu akan mengajak kita sebagai pendengar untuk terus jingkrak-jingkrak dan Headbangs, Hell yeah!!.

Sebagai awalan “Anthem For Glory” dan “As hard As Diamond”  terdengar lebih gahar dengan paduan screm Jendik dan clean vokal Rian. Suara vokal Jendik yang khas dengan Screamnya itu seolah mengingatkan saya pada Danny Worsnop, vokalinya Asking Alexandria. Ehm, memang jelas berbeda tetapi ada karakter khas yang tidak jauh berbeda.  Menurut saya, kedua lagu itu sebagai pergambaran semangat Sagavo untuk tetap terus berkarya dan mewarnai dunia musik, tidak hanya di Jember tapi scene Indie secara umum, tentunya dengan karya yang orisinil. “Kita tak Akan mati” kalimat yang menurutku sama garangnya seperti kata-kata Chairil Anwar “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Saya pun sepertinya jatuh hati pada pendengaran pertama pada lagu “ As hard as diamond”, apalagi reffnya karena dalam reff itu Sagavo ‘ngotot’ untuk tetap berkomitmen agar tetap bisa eksis dengan karya-karyanya. Sesuai dengan judul lagunya As hard As Diamnond, semangat mereka  sekeras batu berlian. Oh Fu*kinDamn, Dude!haha

“sampai nanti sampai akhir
sampai ku tak bangun lagi
semua tetap berdiri (siksamu takkan berarti)
sampai nanti sampai akhir
sampai ku tak bangun lagi
semua tetap berdiri”

Lagu lainnya seperti “12 Mei 1998” yang didedikasikan untuk semangat perjuangan mahasiswa 1998, dimana dalam tragedi Trisakti itu ada empat korban yang tewas karena tertembak.
“Tak terbayangkan
jiwa melayang dan berjatuhan
oleh TEMBAKAN”
Sementara, “Cheer dan Move” dan Bangun Dan Bertahanlah” tidak banyak menampilkan perbedaan yang berarti. Keduanya tetap dengan tema semangat melawan, perjuangan dalam arti yang sangat luas. Meski dalam lirik “Bangun dan Bertahanlah” seolah ada ketidak konsistenan makna yaitu “hanya untuk bertahan, hanya untuk melawan”. Disatu sisi betahan tetapi disisi lain melawan. Ketidak sinkronan ini bisa dilihat dikalimat sebelumnya “tersadarlah bahwa perjuangan kita tak kan terhenti karena kita akan bertahan”. Saya paham maksudnya tetepi sepertinya penggunaan diksinya saja yang kurang tepat. Jadi artinya bahwa mereka melawan tetapi dengan bertahan.

Mungkin musik dari Sagavo mungkin tidak akan menjadi hits yang terdengar disetiap 10 meter ditengah keramaian. Namun musik Sagavo akan tetap bisa didengar kapanpun oleh pendengar-pendengar yang ingin mengedukasi telinganya dengan musik-musik yang bermutu. Musik Sagavo pun bukan musik yang terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan komersialisasi pasar.

Semenjak saya pertama kali mendengar Sagavo pada tanggal 12 Desember 2009 di malam inagurasi Fakulatas Hukum sampai saat ini, Sagavo telah menunjukan kematangannya sebagai band yang bergerak di jalur Indie.  Tidak saja soal musik tetapi juga perwajahan yang menjadi identias band, seperti video clip, profil band yang mulai menampakan karakternya, sepertinya mereka tidak main-main dalam bermusik.
Ya, saya yakin mereka benar-benar sedang menuju jalan panjang untuk menjadi lebih baik. “Long way To Be Better” akan terus mereka titi dengan menyingkirkan segala penghalang dan hambatan, sekali lagi untuk menjadi lebih baik dan lebih matang.
Cheers and Move!!!


Pers Mahasiswa Sebagai Ruang Dialektis

Salam Persma!!!

Sejak awal pergerakan melawan penjajah, kaum pergerakan sadar akan arti penting bacaan dalam meningkatkan kesadaran rakyat anti penindasan sekaligus meluaskan semangat perlawanan. Disinilah peran pers mulai tampak untuk membela rakyat yang terjajah dan menyatukan cita-cita bersama untuk mentang penjajahan. Kesadaran ini pun diambil Tirto Adhi Soeryo dengan mendirikan koran Medan Prijaji (1910-1912) yang bermotto: "Organ boeat bangsa jang terperenta tempat akan memboeka swaranja anak-Hindia". 
Pendikotomian pers ini dimulai pada tahun 1950an antara pers umum dan pers mahasiswa, dimana pada periode ini Indonesia memasuki fase kesinambungan sejarah perjuangan kemerdekaan dari tiga periode sejarah yakni periode Pergerakan Kebangsaan, periode Pendudukan Jepang, dan periode Revolusi Fisik 1945-1949 sampai dengan Pengakuan Kedaulatan di tahun 1950. Puncaknya kembalinya Indonesia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada masa ini juga sekaligus menandai dimulainya demokrasi parlementer, dimana kekuasaan berada ditangan partai politik. Partai politik menancapkan pengaruhnya sampai pada tataran akar rumput, salah satunya kampus dan media. Tidak sedikit partai politik yang mempunyai media sendiri atau media yang berafiliasi dengan partai politik untuk menjadi corong dari program dan propaganda partai politik, sebut saja Harian Rakyat yang pro pada PKI. Pun dengan kampus, partai politik begitu leluasa memasuki kampus, Partai Sosialis Indonesia (PSI) mendirikan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS), Partai Nasional Indonesia(PNI)  mendirikan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Masyumi mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Partai Komunis Indonesia mendirikan Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan partai-partai lain pun menancapkan kakinya di dalam kampus.

Sejarah gerakan mahasiswa terus berlanjut dari semenjak Boedi Oetomo, gerakan mulai terkonsentrai di kampus-kampus, tidak terkecuali pers. Hal itu ditandai dengan berdirinya Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada tahun 1955 tetapi berakhir para tahun 1980an karena kebijakan dari kepentingan penguasa untuk mengebiri aktifitas mahasiswa yang dijejalkan dalam sistem pendidikan dengan nama NKK/BKK. Baru pada tahun 1992 muncul kembali wadah pers mahasiswa yang bernama Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), dimana pada waktu itu tidak diperbolehkan menggunakan nama pers mahasiswa.
Waktu terus berputar, sejarah tetap ditulis dan perjuangan tidak pernah berakhir, Persma mulai tumbuh sebagai wadah pergerakan bagi mahasiswa untuk mengakutalisasikan aspirasinya melalui tulisan dan foto. Persma  lebih menekankan pada pengodokan isu-isu yang berkembang di kampus, meski tidak jarang ikut terlibat dalam proses proganda isu-isu nasional. Akibatnya pun persma dibredel karena tidak sesuai dengan kehendak penguasa waktu itu, sebut saja di Jember Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sastra UNEJ- SAS- yang pada tahun 1994 di bredel oleh dekanatnya setelah mengangkat hasil wawancara Pramoedya Ananta Toer yang mengkritik pemerintah Orde Bar dan militer.
Pada era ini meski sama-sama pers, pers umum dan pers mahasiswa mengalami perbedaan dalam segi gerakannya. Jurang pemisah itu ditandai dengan runtuhnya semangat perjuangan dan profesionalitas dari pers umum yang kini telah terinfeksi oleh pemodal sehingga sekarang ini, pers umum lebih mengedepankan penaikkan oplah serta pemberitaan yang bombastis dan tendensius. Menuju pencerahan masyarakat sepertinya harus ditanggalkan terlebih dahulu jika berbicara keuntungan. Sedangkan persma, yang terdiri dari mahasiswa masih sedikit lebih aman dari kontaminasi kepentingan para pemodal sehingga persma bisa dikatakan lebih ‘jujur dan ceplas-ceplos’ dalam memberitakan atau menganlisis suatu permasalahan, halangan paling kuat ketika tulisannya terlalu keras mengkritik mungkin sebatas rektorat atau dekanat dan tentu permasalahan klasik soal kaderisasi atau regenerasi. Kerja-kerja persma pun tidak senjelimet pers umum yang kadang diawasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. awak persma lebih banyak cangruk (berkomunal), ‘ngopi’ meski sesekali konsilidasi untuk menguatkan kinerja, kerja-kerja persma sifatnya bukan ‘berkerja’ mencari keutungan tetapi lebih pada proses belajar (nonprofit), tentu belajar secara kultural. Warung kopi menjadi tempat favorit, jika merujuk pemikiran Habermas, warung kopi merupakan salah satu ruang publik yang bebas dari kontaminasi pasar dan pemerintah, sehingga mampu menciptakan konsensus rasional. Mungkin kita akan setuju kalau tempat macam warung kopi itu merupakan salah satu ruang kontemplasi dan dialetika sekaligus meningkatkan jaringan kerja antar LPM.
Nyatanya hasil-hasil pemikiran dari awak persma yang dituangkan dalam karyanya tidak sederhana rutinitasnya. Pengerjaan media yang lebih mendalam dan terkesan hati-hati, karena mengatasnamakan proses belajar. Maka kadang analisisnya atau pemberitaanya lebih menarik dan jernih dari pers umum.  Isu-isu menarik tetapi tidak dilirik oleh pers umum karena dianggap tidak menguntungkan kadang dilahap oleh persma, sebut saja tema majalah tahun 2011 LPM Ekpresi UNY “jalan berliku sastra anak”. Di media itu dikupas habis soal peran yang siginfikan sastra anak. Namun, keberadaanya masih dianggap tidak penting. Termasuk isu-isu sensitif macam pertambangan yang dkupas habis oleh LPM Ecpose UNEJ dimajalahnya tahun 2009 soal mitos kesejahtraan pertambangan emas di Tumpang Pitu, Banyuwangi. begitu pula dengan LPM Natas, Sanatadharma yang mengktisi permasalahan pertambangan di selatan Yogyakarta. Belum lagi permasalahan isu-isu lokal kampus masing-masing yang kadang membuat pihak-pihak terkait macam rektorat atau dekanat kebakaran jenggot menanggapinya.
Kejernihan dan keseterilan dari kontaminasi-kontaminsai yang dapat merusak idealisme pers akan yang tetap dikawal oleh mahasiswa sehingga pers mahasiswa, sekali lagi meskipun mahasiswa tidak bisa dianggap sebelah mata. Persma dapat mengawal isu yang menyangkut permasalahan bersama, karena  sesungguhnya pers tidak akan pernah bisa objektif, kalaupun ada keobjektifan kita hanya satu. Yaitu keperpihakan kepada rakyat, keperpihakan kepada yang tertindas. Hal itu dituangkan dalam satu point kode etik persma. Arti penting persma, khususnya dalam ruang lingkup kampus dapat kita lihat bagaimana LPM-LPM menelurkan kader-kader berbakat, kita pernah mendengar Ahmad Wahib, Muhidin M Dahlan, Dahlan Iskhan yang merupakan jebolan dari Persma.
Ada yang sedikit membuat dahi berkerut ketika melihat perkembangan persma pada saat ini, beberapa tahun belakangan ini. Persma seolah kehilangan tajinya, lemah syahwat dalam menanggapi isu-isu yang terkait dengan keberpihakan persma kepada yang tertindas. Jangan terlalu jauh membicarakan yang tertindas, dalam hal kaderisasipun beberapa persma yang pada akhirnya harus termegap-megap melewatinya, di Jember saja ada beberapa LPM yang pada akhirnya harus mati suri meski pada akhirnya  dengan kerja sama dan ke eratan antar sesama LPM yang tergabung dalam PPMI kota Jember bisa memberikan semangat untuk tetap berproses. Kemunduran itu dikarenakan, ya salah satunya kerena perkembangan jaman. Sepertinya pun tidak adil jika menyalahkan hanya pada jaman yang terus berubah karena itu konsekuensi logis. Alasan lainnya adalah minat mahasiswa yang saat ini memang menurun tetapi pun minat pun tidak ada bisa ditunjuk sebagai biang keladi menunduran persma karena masih ada sistem pendidikan dan paradigma ketika kuliah harus lulus cepat sehingga hanya mahasiswa-mahasiswa pemberani saja yang rela meluangkan waktunya untuk memilih aktif di persma atau di organisasi lainnya, lain dari itu mahasiswa-mahasiswa yang akan menjadi skrup-skrup kapitalis yang terserap oleh kepentingan pasar lebih memilih asyik untuk kuliah lalu pulang. Ah, sepertinya pun tidak bisa menyalahkan sistem. Intinya, kemunduran gerakan dari persma memang melibatkan banyak faktor dan alasan. Sehingga kita antar sesama awak persma perlu sama-sama memikirkan bagaimana keberlangsungan proses kaderisasi yang merupakan tiang penyangga gerakan persma agar tetap terjaga, salah satunya melalui penguatan jaringan kerja antar sesama LPM, penguatan jaringan kerja ini semacam penyatuan permasalahan yang dibahas secara bersama oleh sesama LPM. Sebagai contoh bagaimana arti penting jaringan kerja, LPM Ekspresi UNY dan UKPKM Tegalboto UNEJ. Dua LPM yang berkerabat sudah cukup lama, mungkin dimulai sejak dekade 2002an. Hubungan kekerabatan itu memberikan dampak positif bagi kemanjuan intern LPM,  entah itu sharing soal narasumber, pemateri, permasalahan internal khususnya terkait kaderisasi atau sharing soal percetakan. Kekerabatan itu bahkan tidak hanya dalam tataran organisasi tetapi juga sampai ranah personal. Hubungan semacam ini yang sifatnya kultural itulah yang justru diharapkan dapat memberikan pemecahan baru terkait permasalahan di internal masing-masing organisasi.
Persma bukan sebatas ruang untuk sekedar menulis, me-lay out, atau fotografi tetapi ruang dimana kita ditempa dan terus untuk mengedukasi diri agar menjadi kader-kader bangsa yang sama berpihaknya seperti dalam kode etik persma yaitu keberpihakan pada kaum yang tertindas.[]
Tabik!!

Jumat, 19 April 2013

BANGKIT DARI DEKADENSI

Oleh Gulfino Che Guevarrato*

Hampir dari tahun 2004 sejarah kami terhenti di titik nol, tanpa karya, tanpa anggota dan tanpa semangat. Kami gagal menuliskan sejarah dan hanya terdiam dalam kevakuman. Seolah hidup tak mampu dan mati pun segan, dekandensi ini terus menggerus organisasi yang pada dekade 90an sempat menjadi media pers mahasiswa (persma) yang sangat disegani, bahkan sejarah dimasa lalu mencatat kalau kami salah satu dari lima LPM yang membidani lahirnya UKPKM yang kelak kita kenal sebagai UKPKM Tegalboto, persma di tingkat universitas. Sejarah hanyalah sejarah yang tak bisa mungkin diulang dan akan sangat naif jika hanya sebatas membaggakannya tanpa berbuat sesuatu untuk menuliskan kembali cerita yang baru.
Imparsial, begitu nama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari fakultas Hukum Unej. Arti Imparsial sendiri adalah tidak memihak. Dengan semangat itu kami berusaha menjadi awak-awak persma yang mengaktualisasikan semangat berproses kami dengan tidak memihak pada siapapun, meski secara subjektif akan selalu memihak pada kaum yang tertindas. Keberpihakan pada kaum tertindas ditandaskan dalam kode etik persma.

Imparsial bukanlah organisasi yang terus menerus hanya menampangkan papan namanya dan mempunyai sekertariat tetapi tidak ada nyamanya. Seolah hanya jasad-jasad yang tidak bisa berkarya.  Oleh karena itu dengan semangat yang terbangun kembali dari mati suri yang mebelenggu kami pada keterpurukan itulah yang akhirnya mendorong kami yang pada saat ini hanya terdiri dari 5 orang untuk bangkit dari liang jahanam yang bernama “hidup tanpa gerakan”. Imparsial mencoba  bangun kembali, mengemasi sisa-sisa kejayaan masa lalu sebagai bekal di masa depan, tentu dengan semangat pembaharuan, dengan perlawanan tanpa banyak bicara. Melalui pena, lensa, dan kertas kami akan berbicara banyak.meraung-raung dikala keadilan ini dibiarkan dan menerkam melalui tulisan dikala semuanya sudah semakin parah.

Maka dari itu, kami segera berbenah untuk mempersiapkan dialektika-dialektika baru, meramaikan semangat berproses yang membara di antara UKM-UKM fakultas Hukum. Perjuangan kami bukanlah perjuangan dirimba-rimba yang kelam tetapi teralienasi dari realitas, perjuangan kami bukan juga beretorika tentang teori –teori kuno tetapi nol tanpa praksis. Perjuangan kami pun bukan perjuangan yang berkoar-koar melalui megaphone tetapi mempagari diri dalam menara gading pendidikan. Perjuangan kami hanyalah perjuangan anak-anak ingusan yang baru saja belajar menuliskan realitas dalam kertas-kertas buram dan perjuangan kami sebatas memindahkan  keindahan melalui lensa-lensa usang. Sebatas itu saja.

Oleh karena itu kami mengundang kawan-kawan yang berani meluangkan waktunya untuk berproses dalam absurditas pendidikan informal untuk menuju pada pencerahan khalayak. Sekali lagi, kami hanya mengundang kawan-kawan yang berani bergabung dengan LPM IMPARSIAL untuk berproses, mempertajam analisis, membicarakan filsafat yang absurd, mempercantik karya memalui foto dan menelurkannya dalam majalah, buletin lalu mengoyangkan tirani yang arogan.
Salam perubahan!!!
Ragu-ragu harap diyakinkan!!!





*Saya menulis ini karena melihat kawan-kawan baru LPM Imparsial yang sangat bersemangat untuk memulai membangun Imparsial kembali. Tahun 2009-2010, kebetulan saya pernah merasakan bagiamana sulitnya membangunkan tidur Imparsial, sampai setelah Imparsial terkumpul beberapa anggota, saya terpaksa didepak dari Imparsial karena pertentangan saya soal keterlibatan ekstra di Imparsial, meskipun saya seorang GmnI sekalipun. Sejak saat itu, saya menyebrang ke UKPKM TegalBoto dan menjadi pengurus puncak disana. Sekali lagi, tulisan ini hanyalah sebentuk dukungan moril bagi kawan-kawan Imparsial, apapun Imparsial merupakan tempat dimana saya benar-benar memulai belajar menulis jadi sudah sepantasnya untuk tetap mendukung setiap kemajuan dari Persma. Dan tulisan ini tidak mengurangi rasa cinta saya pada UKPKM Tegalboto yang telah memberikan kepercayaanya pada saya untuk memimpin organisasi ini setahun kedepan.
Mantan Anggota Imparsial yang sekarang hijrah ke UKPKM Tegalboto UNEJ

Selasa, 16 April 2013

You’ll Never Walk Alone, bro!!!


Mata belum juga tertutup untuk sekedar meletakan kepala dibantal lalu terbang menuju alam mimpi. Malam tadi, aku terbangun sekitar pukul 00.30 WIB tujuanku untuk membaca dan menulis. Rutinitas itu aku biasa lakukan ketika  memang merasa bahwa aku ingin menulis atau membaca. Ada kewajiban tulisan untuk kawan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) dari Yogjakarta dan sedikit menutup ending tulisan untuk refleksi Tegalboto Pos. Sampai pukul 07.00WIB semuanya baru beres. Beginilah ketika memang semangat menulis sedang tinggi-tingginya, setelah beberapa hari berada di titik nol. Kini aku ingin menulis, menceritakan tentang seorang kawan yang sering berdialektika bersamaku diruang-ruang yang lunak untuk mencurahkan segala keresahan dan kegundahan ketika melewati kehidupan ini.
Siang yang panas tetapi kami masih sangat enggan untuk menghentikan aktivitas yang menghibur itu. Aku, Ainul, Agus dan Yuri sedang tidak bisa diganggu karena kami sedang menrusuhi Libbi, kawan kami ditempat magang. Tujuannya sederhana agar dia marah, dan melatih dia sabar. Tujuan itu sebenarnya hanya kamuflase belaka. Ketika ia hampir naik pitam, Ainul dengan tampang alim yang sebenarnya adalah topeng yang paling berhasil mengelabui orang, berkata pada Libbie “bie, tujuan awak dewe ngudoi awakmu itu ben awakmu sabar. Ben ga nesuan” mimik muka persis seperti  Aa Gym ketika ceramah. Shit :P tetapi ia pun kawan yang baik dan pantas, pantas untuk di antemi.
 Mendengar ocehan Ainul, Libbie kembali tenang dan kami memulai lagi. Guyonan, ehm sepertinya  Bully-an lebih tepat. Dimulai dari apapun yang Libbie kerjakan dan katakan. Contonya ketika ia mencoba menangkis ejekanku “ah kon iku vin, dasar manusia kata-kata”sergahnya. Aku hanya membalas, “lah awakmu bi, lanang omahan” jawabku santai. Ia pun diam seribu bahasa dan semua terbahak-bahak. Kejadian itu berlangsung ketika magang. Dari semenjak 13 Maret sampa sekarang ini. Bisa dibayangkan bagaimana ia tertekan dengan guyonan sarkas kami. Libbie memang bukan orang yang sabar, ia laki-laki yang terlihat tangguh tetap nyatanya ia rapuh. Semua itu memang terjadi di beberapa waktu lalu, ketika ia belum berkumpul dengan mahasiswa-mahasiwa absurd dan begundal macam kami, termasuk  Ainul yang mantan ketua organisasi kerohanian di kampus. Kami memang ingin menjadi apa adanya, tidak ada sok keren di depan sesama kami, kecuali Libbie #kenek maneh bie.
 Setelah berselang hampir satu bulan, kita memulai kebersamaan dari pukul 08.00WIB sampai 13.00WIB, dari situ kebersamaan yang sesungghunya itu dibangun, kerapuhan diperbaiki, amarah diredam jadi kesabaran. Kini ia bukan lagi laki-laki pemalu yang beberapa semester lalu hanya untuk datang ke kampus saja harus malu-malu atau lelaki minder yang tidak bisa bersikap jika ditekan atau laki-laki yang hobinya banting HP ketika amarah membutakan logika. Ia jauh lebih baik dari yang kawan-kawan kenal sebelumnya. Bukan karena kami atau karena dia berteman dengan kami tetapi karena memang ia sudah saatnya beranjak dari titik nol. Ia tidak ingin terus menerus berada di titik nol.
 Ketika pada awal-awal magang, ia kadang marah atau ngambul, dengan tiba-tiba diam dan tak ingin bicara, ya ngambul khas ala perempuan-perempuan labil itu. Kini ia sudah jauh lebih baik. Beberapa kali kita bertukar pemikiran, mencoba lebih tenang dan elegan menghadapi suatu permasalahan. Ada banyak kata yang kuingat selain manusia kata-kata yang ia lontarkan untukku,-oh ya, manusia kata-kata yang ia maksud karena aku selalu beretorika ketika berbicara sehingga membuat orang yang mencari masalah denganku kadang dibuat kebingungan, begitu menurutnya- ia pun pernah mengatakan kalau ia merupakan orang yang ditinggal sendiri oleh kawan yang dekat dengannya selama ini ketika ia ditimpa suatu permasalahan yang menurutku itu permasalahan yang keren dan laki-laki banget, kenapa keren? Karena ia berhasil menyelesaikan masalah itu dengan diam-diam tanpa bantuan orang lain dan ia tidak gentar dengan presepsi orang lain yang memandang sebelah mata padanya. Iku jenenge koncoku!!, begitu kata libbie dan aku ingin katakan kata-kata itu padanya.
Sebulan kita bersama-sama, banyak bercerita entah itu cerita suka, duka cerita tentang kehidupan yang satire. Dari cerita-cerita itu kami saling mengenal satu sama lain. Memaknai perkawanan tidak hanya secara luas. Kini, laki-laki yang dulu aku kenal bermulut besar dan terkesan arogan ditambah individualis, kini adalah kawanku sendiri, yang sangat merendah, tenang dan tidak pemarah. Ia pun sering memberikan masukan yang memang pantas untuk didenagar, beberapa kali aku mencoba menganalisa kepribadiannya dan mengkritiknya dan beberapa kali pula ia menganalisa dang mengkritikku. Kita sama-sama saling membangun diri dalam hubungan perkawanan ini. 
Ia selalu berkata kepada kami, entah pada aku Ainul, Yuri, Agus atau Aku. “aku pingen weroh awakmu 10 tahun engkas jadi opo, jek tak ileng raimu seng megeli iku” ocehnya dengan nada kesal, sekarang ia hanya bisa mengoceh dan tersenyum. Kemarin da yang pengalaman menarik. ketika itu ada sesosok laki-laki paruh baya yang membuat Libbie di uji ketenangannya. Ia dihampiri lalu disalami oleh laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu Ayah dari mantanya Libbie, sontak saja seluruh pegawai Pemda mengetahui semuanya dan bisa dibayangkan Libbie dibuat salah tingkah dan tidak banyak bicara, lagi ia diam seribu bahasa. “lah pak, iki onok mantan mantune” itu kata-kata yang aku ingat dari ibu-ibu groupies Pemda. Kali ini ia cukup tenang meski di gojloki sekantor. Menurutnya ia lebih bersyukur karena dalam kejadian itu aku belum datang karena sedang menyelsaikan urusan di rektorat UNEJ. Aku masih beruntung untuk tidak melewatkan momen membahagiakan itu, karena laki-laki itu masih ada ketika aku sudah datang, jadi aku masih bisa “menghabisinya” ketika laki-laki itu salaman pulang dengan Libbie.
Ah ada-ada saja cerita dari Magang ini. Satu hal yang ingin aku ajak padanya. Aku ingin menegaskan padanya kalau jalanan benar-benar Indah dan penuh pengalaman. Meski ia tahu akan hal itu tetapi kadang ia enggan untuk mencoba menikmatinya. 
Kalau ada masalah, jangan pendam sendiri, bro. Karena kamu tidak akan pernah berjalan sendirian[]
Jember, 17 April 2013


Minggu, 14 April 2013

Kawah Candradimuka


Dalam subuh ini, kau datang kembali
Membawaku mengingat lembah dan  hijaunya hutanmu
Bersama tetes embun..
Aku rindu..
Sungguh rindu,,
Berteriak lantang
Dengan tangan terkepal
Menjadikan Kapitalis ada musuh yang harus denyahkan, mungkin usang
mungkin juga tidak.
Hanya dihutanmu,yang membawaku pada rindu yang semakin tak tertahan
tak berhasil diendapkan waktu
meski ingatan semakin melapuk
aku tetap rindu
Untukmu..rumahku, rumah kita
Hanya itu yang kutahu,
Selebihnya rindu ini menusukku perlahan
Membuat kelu
Tak bicara
Sempolan selalu hijau,,
Sunyi
Damai, meski teriakan-teriakan itu memecahkan semuanya namun kau tetap anggun dalam temaram yang menyahihkan syahdu..