Kamis, 24 Juli 2014

Terima Kasih Jember



Tentang perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu aku  harapkan namun tidak banyak alasan yang membuatku bisa bertahan ditempat ini lebih lama. Apalagi kalau tuntutan untuk segera mencari kehidupan yang baru agar eksistensi menjadi manusia tetap ada, begitu kata kebanyakan manusia modern. Bekerja! Bekerja dan Bekerja. Sebenarnya aku ingin bekerja sesuai dengan passion ku. Berada posisi tersebut sungguh sangat disyukuri. Namun sayang, hidup tak semudah berharap dan harapan akan tetap menjadi angan yang selalu hadir dalam mimpi ketika tidak pernah berani untuk direalisasikanya. Aku berangkat pergi!
                                                                        ****
Jember, 15 Mei 2014, Matahari masih belum genap bersinar, gelap menjadi pengantar perjalananku. Jember tidak sepertinya biasanya, dingin masih terlalu terasa, sesekali menusuk tulang ketika jaket tersibak angin subuh. Setelah sahur, aku masih asyik berselancar didunia maya mencari informasi tentang keriuhan dunia. Rasanya semakin muak aku dengan berita-berita yang beredar didunia maya, apalagi kalau bukan tentang Pilpres lalu quick count, kampanye hitam semunya hanya sampah yang menyebalkan.
Waktu masih menunjukan pukul 4.25 WIB, aku pun masih leha-leha bersandar didinding triplek yang menjadi sekat antara ruang diskusi dan ruang redaksi. Malam tadi aku sengaja tidur di sekretariat UKPM TegalBoto alasanya agar nanti ada yang mengantarku ke stasiun.
Keadaan mendadak diluar kendali, waktu sudah menunjukan pukul 4. 50 WIB hanya sepuluh menit lagi kereta yang membawaku ke Jogjakarta akan berangkat. Sontak aku blingsatan sesegera untuk prepare apa saja yang aku bawa. Cuci muka, ambil tas, pakai sepatu dan tancap gas menuju stasiun. Jember masih tetap dingin sekali, aku lihat di Accu weather, aplikasi cuaca di android suhu Jember mencapai 20 derajat.
Waktu yang injury time termaksimalkan dengan baik. Subuh itu aku diantar oleh Bill, adik organisasiku yang bergaya nyentrik.
***
Kereta pergi mengantar harapan
            Kereta berangkat meninggalkan stasiun Jember tepat pada pukul 05.00 WIB, sepertinya PT KAI ingin lebih tertib dari sebelumnya. Aku duduk sendiri meski harusnya duduk bersama perempuan manis. Aku sengaja memilih sendiri karena nanti tidak akan konsen jika aku tepat didepannya. Hemmm.
            Perjalanan meninggalkan Jember memang bukanlan kali pertama. Sudah berkali-kali aku pergi keluar Jember. Namun, kali ini akan lebih berbeda karena aku pergi meninggalkan Jember dan kemungkinan untuk kembali lagi ke Jember akan lebih sulit apalagi kalau bukan karena bekerja. Huft, benar dalam teori ekonomi kalau apa yang kita inginkan akan mengorbankan keinginan kita yang lain. Aku harus menahan rindu pada Jember.
Keputusanku untuk beranjak dari Jember memang keputusan yang sangat sulit dan aku menyadari segala konsekuensi yang harus dihadapi. Sekali lagi, aku punya cita-cita, menjadi pengacara besar tentu ada usaha keras yang harus dicapai. Meninggalkan Jember adalah salah satu pengorbanan dan konseskuensinya.
Kota melahirkan rindu
Sudah hampir lima tahun aku berada di Jember. Menempuh studi strata satu dan menjadi sarjana hukum. Kuselesaikan pendidikanku dalam waktu 4,5 tahun. Waktu yang tidak terlalu buruk bagi seorng mahasiswa yang juga aktif di beberapa organisasi –terkesan narsis-.
Jember kota yang sederhana tak terlalu banyak keriuhan hidup dikota ini. Penduduknya sederhana, pun ada beberapa yang tidak. Namun secara umum Jember kota yang tidak terlalu banyak keriuhan. Mungkin akan banyak yang setuju bahwa ketenangan merupakan hal yang penting dalam menjalani hidup ini karena kesederhanaannya membuat kota Jember lebih tenang. Aku bisa dengan tenang dalam melakukan berbagai aktivitas.
Baiklah, selama waktu tersebut banyak cerita yang aku lalui dari mulai dari hal yang paling susah sampai mudah. Banyak cerita yang telah aku tulis dikota itu. Ditambah aku mendapatkan banyak cinta di kota itu dan kali ini aku pun sedang mencintai sesorang yang dipertemukan dikota itu.
Cerita telah semakin banyak tertulis, kisah telah banyak diceritakan dan perasan ini semakin menyatu dengan kota Jember. Jember bukan sekedar tempat aku kuliah dan bercinta. Jember tempat aku belajar mengenap saripati kehidupan. Jember tempat aku belajar ditempa untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Karena kesan yang begitu mendalam pada Jember lahirlah cinta pada kota ini. Ketika berjarak maka lahirlah rindu pada kota yang juga telah menjadi saksi lahirnya diriku 23 tahun yang lalu. Ya, aku memang terlahir di Jember. Mungkin alasan itu pula yang membuat aku begitu berkesan pada Jember, selain karena banyak pengalaman yang aku dapat dari kota ini.

Belajar Menjadi Manusia

Bahagia itu mudah



18 Mei 2014, awak UKPM TegalBoto sedang didewasakan melalui cara yang liyan.  Minggu yang tidak bisa saya lupakan, mungkin begitu juga dengan awak lainnya Agus, Elya, Lidya, Arum, Bill, Toni, Ardhi. Kami semua terkejut namun tetap harus tenang dan tidak reaksioner dalam menganggapi permasalahan tersebut. 

Sebelumnya tanggal 16 Mei 2014, Lidya mengirimkan pesan melalui Whatsapp, “ Mas, kamu ikut engga ke Gunung Lamongan?” begitu pesan Lidya yang dikirim pukul 18.51 WIB. Saya baru menjawabya 20.55 “ Ok”. Saya mengajak Anggie, kebetulan kami berdua tidak melakukan apa-apa hari Minggu nanti. Saya menduga kalau acara itu tujuannya untuk bersenang-senang dan sebelumnya ke Ranu Klakah terlebih dahulu.  Kebetulan juga saya belum pernah ke Ranu Klakah. 

Pagi itu hari Minggu. Sekitar pukul 07.00 WIB, Bill dan Toni datang ke kost saya. saya masih baru bangun tidur. Mereka menyuruh saya untuk segera bergegas. Baiklah. Saya ingin memang agak lambat untuk segera mandi sampai akhirnya Arum mengirim pesan pendek dengan nada sinisnya, “ mas kami semua nunggu kamu”, hem Arum si kecil yang menyebalkan.

Sekitar pukul 09.00, kami lima motor berangkat dari Sekret menuju gunung Lamongan. Saya baru diberi tahu kalau  tujuan kami  untuk mencari lokasi uprgading dan wawancara magang Toni. Perjalanan dilalui dengan mudah, tak ada yang menjadi persoalan hanya saling tunggu saja. Perjalanan kami dilalui dengan riang. Karena  kita memang jalan-jalan untuk bersenang-senang sekaligus tujuang organisasi. Kebetulan kami mengajak beberapa anak magang.  Perjalanan Jember- Klakah ditempuh sekitar tiga jam. Saya mengajak Agus, Bill untuk mampir dulu ke Ranu Klakah. Namun mereka mengatakan kalau lebih baik ke rumah mbah Citro dulu. Baiklah, saya harus mengalah. 

Kurang lebih pukul 11.00 WIB, Kami pun sampai di Klakah di rumah mbah Citro, dukun sakti Pancasilais kejawen. Motor diparkir pada tempatnya, pada waktu itu diparkiran hanya ada beberapa motor diluar kami. Saya ingat ada motor Vixion dan beberapa pemuda yang duduk santai. 

Setelah  beristirahat sejenak, kami naik kerumah mbah Citro.  Elya sebagai pemandu perjalanan kami karena ia yang paham betul daerah gunung Lamongan. Hampir satu bulan, Elya tinggal di daerah gunung Lamongan karena penilitian skripsinya. Sejak dari awal Elya menjelaskan pada kami kalau daerah Klakah khususnya gunung Lamongan itu sangat rawan. Beberapa kali telah kejadian kehilangan motor. Peringatan Elya ada yang mendengarkan baik-baik dan ada pula yang menganggapnya angin lalu.  

Ketika dirumah mbah Citro saya menduga kalau Elya akan memperkenalkan dengan Mbah Citro namun ternyata Mbahk Citro bukan orang yang mudah untuk ditemui. Mungkin ia sedang bertapa. Kami pun hanya foto-foto. Saya jadi teringat pada Pram. Pramoedya pernah berujar dalam karya epicnya, Rumah Kaca “ Menulislah maka engkau tidak akan dilupakan oleh sejarah” dan  Jimmy Multazam, Frontman The Upstairs pernah membuat sebuah lagu,  “Terekam tak pernah mati”.  Sedangkan kami, “berfoto selfie maka abadi”. Oh Fucking shit!!!!

            Kami dirumah mbah Citro tak sampai setengah jam karena kontur yang bebatuan ditambah terik yang menyengat membuat suasana didaerah  sekitar rumah mbah Citro gersang dan panas. Kami pun memtuskan turun. Ketika kami turun, kami seperti “no where destination”.  “Kami mau kemana?” itu yang kami pikirkan. Lalu ada yang berinisiatif untuk naik ke pos penanaman bibit yang jarakanya kurang lebih sekitar 1,5 km. Perjalanan pun dilalui dengan tawa canda urakan, khas manusia hippies, tanpa beban. Kami berjalanan mengarah pada lereng gunung Lamongan. Jalan setapak yang gersang karena vegetasi disekitar gunung Lamongan dibabat habis oleh kuasa serakah manusia. Sedangkan manusia lainnya, yang Tuhan sebut sebagai Khilafah coba untuk mengembalikan keanggunan gunung Lamongan dengan menanam pohon-pohon, entah pohon buah atau pohon keras. Tujuan kami adalah pos tempat istirahat para manusia-manusia sadar tersebut, semacam sekret dari Laskar Hijau.
Saya coba melihat jam, arah jarum jam menunjukan pukul 13.30 WIB, perjalanan dari rumah mbah Citro ke pos Laskar Hijau kurang lebih 30menit. 

       Setelah kami sampai diatas, Elya mencoba mengingatkan kalau ia tidak enak meninggalkan motor-motor dibawah. Tidak sampai 10 menit Bill, Lidya, Agus, da Toni mencoba untuk turun. Saya masih ingin santai diatas. Awalnya saya ingin naik sampai Watu gede, Watu gede merupakan pos terakhir bagi para pendaki yang ingin naik ke Gunung Lamongan sebelum muncak. Namun, jelas waktu tidak akan cukup karena hari sudah siang mendekati sore. 

Kekhawatiran yang menjadi kenyataan

Elya, saya dan Anggie masih diatas. Kira-kira 20 menit setelah anak-anak turun, Lidya menelpone saya. Kebetulan saya pada waktu itu sedang berbincang dengan masyarakat sekitar, entah saya lupa namanya, ia bercerita tentang banyak hal kenapa gunung Lamongan gundul atau kenapa ada Laskar Hijau, termasuk soal kerawanan parkiran mbah Citro. Benar saja, ternyata telphone Lidya untuk mengabarkan pada saya kalau salah satu motor dari kami telah raib tak berbekas dan beberapa diantara motor yang terparkir yaitu motornya Ardhi kuncinya rusak.   Motor  hilang itu bermerek Honda Supra bernomer Polisi N 2243 TAQ dan berwarna merah hitam. Sontak saja, kami semua terkejut. Para pasukan Laskar Hijau segera turun menggunkan motornya, Elya dan Anggie dibonceng oleh anggota Laskar Hijau sedangkan saya berlari menuju lokasi.

Tepat pukul 14.00 WIB, kami semua panik. Elya terlihat tidak tenang, Lidya komat kamit karena Helm adik kostnya hilang, Arum dengan wajah Innocent, Ardhi dan Agus terlihat lebih serius sedangkan anak magang terlihat sangat panik dan bingun dan Toni dan Bill tertawa santai.

Waktu itu, beberapa angggota Laskar Hijau coba untuk menyebar memaksimalkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Mas Aak selaku tokoh masyarakat setempat sibuk dengan HP nya, Elya, Anggie, Arum, Lidya dan anak-anak magang sedang  mengobrol menceritakan ulang kejadian yang terjadi sambil sesekali menyesali “kenapa kita kok naik ya tadi”. Baiklah.

Sedangkan saya, Bill, Agus, Ardhi dan Toni mencoba untuk memperbaiki motor Ardhi yang kuncinya rusak karena dibobol oleh kunci T (kunci ajaib para pencuri motor). Namun, kami tidak bisa berbuat banyak karena terlalu sulit. Sampai akhirnya salah satu anggota Laskar Hijau yang masih tersisa di parkir Mbah Citro membantu kami. Done, selesai. Bisa meski motor Ardhi menjadi compang-camping. Setelah itu, kami coba untuk berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan. Tentang alternatif apa saja yang bisa kami lakukan. Oh ya, motor yang hilang itu merupakan motor dari Dieqy Hasbie, salah satu kawan dari LPMS IDEAS. Kebetulan ia menitipkan pada Bill karena Diky sedang ke Surabaya.

Pukul 15.00, mas Aak memberi kabar kalau ada kemungkinan motor tersebut oleh karena itu beberapa dari kami untuk mengikuti orang yang telah ditunjuk oleh mas Aak untuk mengantarkan ke lokasi yang dicuragai motor yang hilang tersebut. Kami berenak, Agus Ardhi, Bill, Toni, Yudis segera bergegas mengikuti orang tersebut. Namun ia melaju dengan kecepatan penuh dijalan yang rusak tersebut sehinnga kami cukup keteteran untuk mengikutinya. Sampai akhirnya kami yang menggunakan tiga motor harus berpencar. Saya yang berbocengan dengan Toni mengikuti anak buahnya mas Aak yang menggunakan motor GL Pro. Kami masuk ke daerah hutan tebu lalu lebih dalam ke kebun kopi dan sengon lalu masuk kerah hutan lagi dibalik gunung Lamongan disekitar perkebunan cokelat. Saya tak melihat jam pada waktu itu karena kondisi yang menegangkan dan tergesa-gesa.

Sekitar pukul 16.00, saya dan Toni masih perkebunan Cokelat. Jujur saja, pada waktu itu saya menaruh curiga pada orang-orang tersebut. Alasannya, ia seolah tidak berbuat banyak kami hanya mengikutinya saja sedangkan ketika kami bertanya mereka tak menjawab. Mereka pun tak menjelaskan keberadaan kami ada dimana. Akhirnya, pencarian kami tidak membuahkan hasil. Kami pun segera kembali ketempat semula karena saya menjadi khawatir pada perempuan-perempuan kami tinggal tanpa ada laki-laki yang menjaga. Dalam kondisi seperti ini, segala hal bisa terjadi apalagi orang yang baru dikenal dan bertingkah mencurigakan sehingga kami tetap harus waspada.

Pukul 16.30 WIB kami sampai tapi bukan diparkiran mbah Citro tempat kejadi perkara tersebut. Namun dirumah salah seorang Kasun yang saya lupa namanya. Menurut penjelasan Elya, si Kasun itu sembilan bulan lalu masih menjadi bajingan. Waw....

Kami dirumah pak Kasun itu berkumpul dengan beberapa anggota Laskar Hijau plus mas Aak. Mas Aak menjelaskan tentang motor yang tadi sempat dilihat namun karena kita tak mengetahui nomer polisi, anggota Laskar Hijau yang menemukan motor tersebut tidak berani berbuat lebih untuk memastikannya,
” anggota saya hanya memastikan agar motor itu tidak kemana-mana. Oleh karena itu, saya menyuruh kalian untuk langsung mengeceknya” mas Aak menjelaskan
“ coba kalau tadi ada STNK atau minimal foto STNK, kami bisa berbuat lebih” mas Aak menyesali keadaan.
Sebenarnya kami sudah berusaha untuk menghubungi Dieqy namun signal yang buruk dan  entah alasan lain apa STNK itu baru dikirimkan sekitar pukul 16.30 WIB itu pun melalui nomernya Saddam, kawan kami juga dari LPMS IDEAS.
“ kalau emang motornya ingin dicarikan oleh kami ya baiknya jangan dulu  lapor ke Polisi karena pengalaman sebelumnya kami bantukan cari dan si korban melaporkan kasus pencuriannya ke Polisi lalu kami tanya-tanya, koyo maling ae akhire awak dewe” kata Pak kasun

Terjadi banyak obrolan dipertemuan itu, pada intinya kami diberikan dua pilihan kalau lapor polisi penduduk sekitar yang digawangi oleh Pak Kasun tak bisa membantu mencarikan karena risiko yang harus dihadapi akan sulit dan pilihan kedua, kalau belum lapor polisi maka mereka akan berusaha untuk membantu.
Sekitar pukul 16.45 WIB, kami pamit pulang, Elya dan Lidya terpaksa naik bus dari Klakah.

Beberapa hari kami menunggu kabar baik namun tidak juga datang. Sampai Motor itu sampai detik ini tidak kunjung ada. Akhirnya, kami mencoba berinisiatif untuk berbuat sesuatu. Ada yang mengusulkan kalau masalah motor itu ganti ruginya pada Dieqy dibayar separoh oleh organisasi dan pihak yang meminjamkan.
Ada Pesan yang sebenarnya ingin disampaikan
  
Semua akan sepakat kalau waspada itu penting. Dan jauh lebih penting yaitu bagiamana kita mendengarkan omongan orang lain itu merupakan hal yang tidak bisa dikesampingkan. Banyak diantara kita yang yang terlalu bohemian namun konstruksi kita tidak kuat karena kita dibangun dari kebersamaan yang tumbuh dari proses yang dilalui bersama. Kejadian hilangnya motor Dieqy janganlah dianggap angin lalu yang berhembus begitu saja atau jangan dianggap terlalu dalam sehingga membebani. Tentu, kita punya tanggung jawab untuk mengantinya namun, kita sedang belajar soal kedewasaan dengan seharga motor itu. Kita pun sedang mempraksiskan konsep susah senang bersama, terbutkti mana yang sungguh-sungguh berikatan bersama atau hanya sekedar ‘abang-abang lambe’ saja.
  
Kedewasaan yang saya maksud adalah bagaimana kita perlu bertanggung jawab pada apa yang kita lakukan, bagimana kita tidak reaksioner menghadapi hal-hal yang diluar kita duga sebelumnya, dewasa dalam bersikap untuk tidak saling menyalahkan satu sama lain. Karena kita adalah bagian dari proses yang terlahir dari rahim karpet merah.[]


Postscript: kenapa kok saya menggunakan diksi ‘Kita’ bukan kamu, dia, atau kalian yaitu karena kita adalah bagian integral dalam kebersamaan. Semoga tidak luntur oleh apapun, tidak mengendap karena waktu yang berjalan atau mendadak lupa karena kepentingan yang sudah berbeda.

Amok Tak Sekedar Mengamuk


                                                 
                                                    Gulfino Guevarrato


Orang mengamuk adalah satria bagi mereka, orang yang bersedia mati, dan melaksanakan keputusan untuk mati tersebut – Tome Pires


Dalam perjalanannya menyusuri Nusantara, pada waktu itu  Alfred Russel Wallace  sedang berada di Lombok.  Sarapan paginya dikejuktan oleh teriakan  penduduk desa bahwa  telah terjadi‘amok’ didesa tersebut. Beberapa waktu sebelumnya ia juga diceritakan, seorang mengamuk dan telah membunuh 17 orang, sebelum dapat dihentikan dengan cara dibunuh orang yang sedang melalukan Amok.
 Hasil penelitian Wallace dalam bukunya “Kepulauan Nusantara”, menjelaskan bahwa Makasar adalah tempat di kawasan timur yang paling banyak terjadi Amok. Rata-rata satu atau dua kali ‘amok’ dalam sebulan. Sebanyak lima sampai duapuluh orang terbunuh karena peristiwa tersebut. Ketika bangsa Romawi menggunakan Pedang untuk bunuh diri, orang Jepang menusuk perutnya sebagai bentuk Harikiri, Inggris menembak kepalanya dengan pistol, di Celebes ada cara tersendiri untuk melakukan bunuh diri yaitu Amok. Amok dipilih untuk lari dari kesulitan yang dihadapi masyarakat. 
            Seseorang yang berpikir bahwa dirinya diperlakukan semena-mena oleh masyarakat, tidak menemukan cara untuk mendapatkan kembali miliknya yang telah hilang dan kemudian menjadi putus asa karena menolak keadaan tersebut, ia akan mencoba membalas dendam kepada masyarakat dan mati seperti pahlawan. Setelah sesorang tersebut menusukan keris atau senjata tajam kedalam perutnya, sambil berlumuran darah kemudian ia berlari kekerumunan masyarakat sambil menghunuskan senjata yang dibawanya ke setiap orang yang ditemuinya. Kemudian akan terdengar “amok!”amok” yang menggema sepanjang jalan.
Amok telah menjadi pilihan yang absurd. Seolah Amok membenarkan apa yang dikatakan oleh Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus, bahwa ia menggambarkan dunia yang sama sekali absurd dan tanpa makna dan Amok menegaskan keabsurdan tersebut.
Amok tidak hanya terjadi pada masa penjajahan saja. Amok telah menurun dan sampai di era modern hari ini. Bagiamana masyarkat yang awalnya duduk santai, ngopi atau main catur, tiba-tiba ketika mendengar terikan maling secara spontan mengejar maling tersebut dan memukulinya sampai babak belur bahkan sampai meninggal. Tak ada raut penyesalan diantara mereka. Amok pun terjadi beberapa waktu yang lalu ketika masyarkat di Karawang yang menolak penggusuran tanah mencoba melawan represi aparat keamanan meski lawan yang dihadapi menggunakan persenjataan lengkap sedangkan rakyat hanya membawa peralatan seadanya. Rakyat Bersatu!
Amok dalam dua sisi
Amok bisa dilihat dari dua sisi, pertama psikologi dan yang kedua budaya bangsa. Menurut  Michael Mills, Ph.D melalui psychologytoday.com,  amok dalam definisi barat, termasuk pula seringkali  dijelaskan sebagai suatu fenomena dimana seseorang kehilangan akal sehatnya dan kemudian menggila dengan membunuh atau setidaknya melukai orang-orang lain yang pada akhirnya, seringkali si pelaku melakukan bunuh diri.  Amok hanya dipandang sebagai satu jenis kegilaan, turunan dari psikotik.
Amok adalah kesatria
Apakah amok melulu soal ketidak warasan, kegilaan atau penyakit psikologi? Tentu tidak!. Amok merupakan budaya banga ini. Semangat amok diwujudkan dalam perlawanan rakyat Indonesia pada penjajah, melawan pemerintah yang totaliter. Banyak pahlawan bangsa Indonesia yang mendapatkan gelar kepahlawanannya karena semangat amok. Tak pernah takut untuk mati, tak pernah ragu untuk melawan meski musuh lebih kuat demi harga diri dan prinsip yang dipegang erat-erat.
 Amok selalu didahului oleh represi dalam jangka waktu yang lama. Seseorang atau masyarkayat secara kolektif yang pada awalnya rapuh karena ketertindasan lambat laun menyadari ketertindasanya akhirnya melahirkan semangat baru yaitu Amok, namun Amok lebih ditekankan pada individu-invidunya. Semangat amok tersebut membuat seseorang tersebut sangat tangguh karena batas rasional sudah ditanggalkan sehingga tak ada rasa takut akibatnya musuh menjadi gentar menghadapi orang yang sedang meng’amok’.  Kisah pengorbanan macam ini masih hidup di Bali. Dalam kisah Puputan (perang habishabisan) Klungkung tahun 1908, demi mem pertahankan tanah airnya dari kolonialisme, rakyat Bali mulai dari kaum pria, wanita, hingga anak-anak dengan persenjataan tradisional bahkan tangan kosong turun menghadapi moncong senjata serdadu kolonial. Membela raja mereka adalah tugas mulia. Citra amok merupakan citra kesatria masyarakat melayu yang rela menumpah darahnya untuk sesuatu yang menjadi prinsip hidupnya, Amok adalah nilai luhur yang tidak bisa dipahami oleh peneliti barat. Sehingga tak heran ketika banyak peneliti barat memandang negatif Amok. Jelas, karena Amok telah mempersulit mereka untuk menguasai Negara ini di masa lalu.  Meski tidak salah juga menurut para pakar barat bahwa Amok merupakan salah satu bentuk penyimpangan psikologis namun stereotip negatifnya terlalu dominan daripada citra kesatria yang selama ini diyakini dan menjadi pegangan hidup masyarakat melayu.
Meskipun akhirnya citra kesatria amok dipudarkan oleh barbarisme fanatisme masyarakat pada peristiwa 1965 yang melahirkan simpatisan-simpatisan anti PKI yang dengan rela dan sadar membantai simpatisan PKI dengan bangganya. Ah sial. Amok telah disesatkan oleh masyarakat melayu itu sendiri, Amok telah dilenyapkan citra kestrianya oleh tingkah dangkal aksi main hakim sendiri, fundamentalisme agama dll.[]
Salam Amok

Teluk Ijo (bukan) Petualangan Terakhir di Jember




Aku dan Anggie atau sebut saja kita

Kita sangat menyukai perjalanan, pertualangan dan segala hal yang memacu adrenalin. Oleh karena itu, kita selalu menyisipkan waktu luang untuk sekedar membuat cerita yang tidak biasa. Waktu pacaran kita banyak dihabiskan dihutan, dipantai, digunung atau dikota-kota yang belum pernah kita kunjungi sesekali dalam sunyinya kamar.hehe Petualangan kami tidak semata mencuri waktu untuk bahagia, perjalanan kami tidak hanya untuk sekedar menikmati karunia Tuhan, perjalanan kami lebih pada petualangan untuk saling mengenenal satu sama lain, lebih dalam, lebih lengkap. 


Beberapa tempat telah kita kunjungi untuk menyempurkan cerita yang kelak akan diceritakan kembali. Petualangan kita juga merupakan perjalanan menabur ingatan dibanyak tempat.


Siang itu, seperti biasa aku mencoba mengajak Anggie jalan-jalan ke Teluk Ijo. kita menyepakati untuk berangkat esok hari dihari Sabtu. Setelah semuanya siap, aku coba mengajak teman, Haykal yang aku ajak. Haykal merupakan adik kelasku, angkatan 2011. Ia kader GmnI, sama seperti aku.


Tanpa banyak bermusyawarah Haykal pun menyetujui ajakan kami. Kami pun berangkat berempat, Haykal kebetulan mengajak   Ocha sahabat sekamarnya. 


Perjalanan Jember-Banyuwangi seperti biasanya melewati Gumitir lalu beristirahat sejenak untuk menyantap pecel Garahan yang terkenal leker dan murah. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan kearah Genteng, Banyuwangi lalu belok ke arah Jajak. Sebenarnya, kami semua tidak mengetahui dimana letak teluk Ijo itu. Waktu itu, aku yang mengambil inisitif dan mencoba menggunakan feeling bahwa Teluk Ijo diwilayah pesisir selatan Banyuwangi dan berada dalam komplek Taman Nasional Meru Betiri. Akhirnya aku mengarahkan perjalanan ini kerah Pulau Merah dan terus menuju penangkaran Penyu, SukaMade. Tidak terlalu salah ternyata analisisku meski beberapa kali harus nyasar. Benar saja, Teluk Ijo berada diwilayah selatan satu komplek pantai Rajek Wesi. Perjalanan menuju Teluk Ijo ini memakan waktu sekitar lima jam. Sekitar kurang dari 20 Km dari Teluk Ijo, motor yang aku naiki ternyata mendapat masalah, rantainya lepas. Hal ini diperparah kondisi jalan yang rusak cukup parah dan minimnya rumah penduduk. Karena kondisi yang tidak bersahabat itu,  aku memaksakan agar kita segara mencari tempat tambal ban untuk memperbaikinya. Alhamdulilah, kurang lebih tiga kilometer dengan motor yang rantainya kendur dan rentan lepas itu, akhirnya ada juga tukang tambal ban yang memperbaiki motor si merah, Revo.


Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya sampai juga. Kurang lebih sekitar  120Km jarak yang kami tempuh. Kami sampai tepat pukul

15.00WIB sehingga suasana sudah mulai sepi dan kami bisa menikmati suasana keindahan Teluk Ijo dengan lengkap tanpa ada kegaduhan yang merusak suasana.

Teluk Ijo Sudah Tidak Perawan

         
        Pantai Teluk Ijo lebarnya tidak lebih dari 500 meter. Letak pantainya yang terpencil karena kita harus berjalan sekitar 1,5 Km dan medannya pun cukup curam, membuat pantai ini awalnya tidak terjamah oleh banyak manusia. Namun, karena keindahan alammnya, lembutnya pasir putih, pohon-pohon besar, dan tebing yang semakin mempercantik Teluk Ijo membuat Teluk Ijo menjadi tujuan wisata baru. Apalagi kondisi pantai Rajek wesi yang pernah berjaya sekitar tahun 90anm kini sudah tidak seperti dahulu pasca Tsunami yang merusak keindahan pantai. 

        Seperti semut dan gula, begitu analogi yang tepat untuk menggabarkan Teluk ijo hari ini. Banyak orang yang memperbincangkan keindahan Teluk Ijo sehingga banyak pula menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke pantai yang awalnya sunyi dan damai tersebut.  Seperti biasa, dampak dari banyaknya wisatawan selain memberikan dampak ekonomi yang postif bagi masyarakat sekitar juga membuat berdampak pada lingkungan disekitaran Teluk Ijo, banyak sampah yang berceceran ditinggalkan tanpa tanggung jawab dan vandalisme norak yang membuat teluk Ijo perlahan kehilangan keperawananannya.

Teluk Ijo tetap Cantik dan eksotis


Dampak yang negatif dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Teluk Ijo ternyata disadari oleh masyarakat sekitar. Masyarakat yang mendapat penghasilan tambahanan seperti dari menjaga parkir, menjual makanan dan minuman atau menyewakan perahu memiliki inisiatif untuk tetap menjaga agar lingkungan Teluk Ijo tetap asri dan bersih. Secara bergilira dalam kelompok-kelompok kecil, masyarakat tersebut melakukan patroli memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan pengujung.


Mereka pun membuat aturan bagi para pengunjung Teluk Ijo untuk tidak berkemah dilokasi pantai, namun tetap mengijinkan berkemah namun dilokasi parkir, sekitar 1,5 Km dari pantai. Komitmen dari  masyarakat sekitar secara tidak langsung membuat Teluk Ijo tetap indah dan menarik untuk dikunjungi namun kita sebagai pengunjung Teluk Ijo harus sadar diri untuk menjaga agar lingkungan Teluk Ijo atau tempat wisata outdor lainnyaa agar tetap asri dan bersih.


Perjalanan yang semakin menantang


Matahari semakin tenggelam dan ingin segera beristirahat. Hampir dua jam kami menikmati alam Teluk Ijo.  kami pun segara bergegas untuk naik menyudahi percumbuan kami dengan alam. Jalan turunan pada waktu datang tadi berganti menjadi tanjakan, sepanjang hampir satu kilometer kami berjalanan menanjak. Anggie menunjukan raut kelelahan, beberapa kali kami menghela nafas. Kami pun sampai diparkiran pukul 17.30 WIB


        Didekat parkiran terdapat plang berwarna hijau yang menjadi petunjuk Gua Jepang. Aku coba menawarkan pada Haykal untuk masuk kedalam mencari gua Jepang.

“ bagaiman kalau kita ke tempat Gua Jepang, Kal?” ajakku


Lagi-lagi Haykal mengiyakan setelah sebelumnya Anggie dan Ocha juga menyetujui karena sudah tanggung dekat. Menurut penjaga parkir, jarak gua Jepang dari parkiran hanya sekitar satu kilometer.

“wah ga terlalu jauh” kata Anggie.


Kami semakin semangat melalui jalanan sempit penuh dengan semak belukar. Sepertinya jalan setepak itu sudah lama tidak dilalui orang sehingga daun-daunnya sangat rimbun dan semak belukarnya menutupi jalan. Karena terlalu semangat, ternyata kami tidak memikirkan kalau waktu sudah hampir magrib sedangkan kami berjalan sudah hampir 30 menit. Idealnya manusia berjalan normal 30 menit sudah menempuh 2,5 Km namun kami belum juga menemukan gua Jepang yang dicari. Hari sudah semakin gelap dan vegetasi hutan semakin rapat.

“sudah, kayanya kita perlu pulang lagi saja” saranku

“enggak mungkin melanjutkan perjalanan kedalam hutan dengan kondisi kalian yang capek, apalagi ada dua cewek gini” tambahku

Semuanya menyetujuinya.


Kami pun sampai lebih cepat dari berangkatnya karena berlari. Anggie dan Ocha sudah merasa ketakutan. Sepertinya mereka berhalusinasi melihat hal-hal yang aneh. Namun, suasana hutan yang rimbun memang membuat suasana terasa wingit. 


Kami pun pulang menuju Jember melewati hutan karet dalam gelap yang pekat. Hanya bintang yang menyebar. Lukisan Tuhan yang paling indah yang kami temui malam itu. Terlihat milky way sehingga suasana gelap dinikmati karena hadirnya bintang yang membentang dari bujur timur sampai bujur barat. Suasana takutpun lamat-lamat hilang berganti kekaguman pada kuasa Tuhan. Sayang sekali, aku tidak membawa DSLR.

Perjalanan melewati jalan yang rusak, hutan karet dan hutan Jati dilalui dengan lancar. Sampailah kami di Genteng. Kurang lebih pukul 21.00 WIB. Kondisi kami sudah berada di titik nadir. Kelelahan dan ngantuk membuat kami memilih untuk mencari penginapan di Genteng.



Tertulis tak akan pernah lupa


Teluk Ijo sepertinya menjadi telah menjadi cerita baru yang terekam dalam ingatan kita, aku dan Anggie. Setelah petualangan-petualangan lainnya. Perjalanan yang melelahkan memang menjadi risiko yang harus kami pilih namun kesan dan cerita riang dikemudian hari adalah hadiah yang indah ketika kami melalui hari tua bersama. Bahwa kita menyukai petualangan yang memacu adrenalin dan mengenal alam raya ini lebih intim. Aku ingin menuliskan kisah-kisah petualangan ini agar petualangan kita tetap hidup dan tumbuh subur dalam benak masing-masing.


Selamat berpetualang dihari yang lain. Setelah dari Teluk Ijo, aku harus bergegas menuju tanah harapan, mengapai cita-cita!!!!

Menapaki Jejak Langkah. Menebar ingatan di setiap tempat


Postscript: Perjalanan bukan tentang bagiamana kita menikmati apa yang kita pandang namun juga memahami apa yang kita pandang!