Malam ini, entah
kenapa aku rindun dengan lebatnya hutan Sempolan. Rindu mbah tien, rindu dimana
kita dibentaki oleh Mas Corong yang dulu jadi Korlap kita. Rindu kawan-kawan
yang dulu bersama-sama bermandi pelu, kesal. Dan rindu suara yang tak bisa
berkata-kata karena kita terus dipaksa berteriak. Aku rindu itu. Tak terasa sudah hampir tiga tahun
semua itu berlalu meninggalkan kenangan yang begitu membuat kelu jika mengingat
hari-hari itu. Enathlah, apakah kawan-kawan yang lain seperti itu juga? Tapi jika
memang hari-hari pada waktu itu memberikan kesan, aku yakin kita pun akan
menahan risau jika kerinduan ini memuncak.
Sempolan yang
biru. Benar-benar biru. Bukan biru gerau yang kehitam-hitaman, bukan biru
benhur seperti air laut. Tapi Sempolan benar-benar biru dan membiru bagai
langit dikala fajar terbit. Dimana harapan kita muncul tanpa kerancauan yang
menganggu. Aku rindu sempolan.
Sempolan
Yang Biru
Masihkah kita mengingat kunang-kunang yang menjadi teman
dikegelapan malam
Atau dengan Tonggeret-Tonggeret yang mengiringi irama malam? memandangi hutan-hutan sempolan yang damai.
Aku sangat ingat malam-malam itu…
Ditempat itu!
Dimana kita bermandi benci, amarah, lelah. Namun
pada akhirnya kita mengenang semua itu dengan tawa malu-malu, keharuan yang
merasuk dalam relung hati.
Aku pun masih ingat, ketika subuh menjelang kita menyatu
dalam sumpah setia yang menjadi jawaban untuk sebuah komitmen.
Kini kita telah berlari-lari menangkapi titik-titik cahaya
yang membentangkan harapan. kini kita akan beranjak!
Biskit Sempolan
Di Chandradimukamu, keyakinan kita ditempa..
Di Biskit Sempolan kita menahan kelu..
Biskit Sempolan,
kisah-kisah kami terekam dibalik lebatnya pinus-pinus yang bisu. Sungai yang
biru ketika ingatan membawa kami dalam kerinduan yang mengharu!
Ku rindu kau, Hutan-hutan yang basah..
Ku rindu kau Sempolan yang syahdu..
Kini, satu persatu dari kami beranjak meninggalkan
mu,,,melanjutkan setapak demi setapak mimpi-mimpi yang pernah kau dengarkan
ketika kami masih buta membaca hidup..kita memang akan kembali pada hari yang biasa, berdiri mencari jawaban atas kehidupan ini, kawan!
ingatlah kawan, Di balik bisunya hutan-hutan Sempolan kita pernah menjadi bagian dari pejuang-pemikir!
Awalnya tak ada
yang kukenal darinya, hanya memandanginya dari kejauhan. “Siapa perempuan itu? hadir
di acara seminar yang biasanya diisi oleh orang-orang pergerakan?” gumamku
dalam hati. Kuberanikan diriku untuk mendekati kursi disebelahnya. aku jelas
masih mengingat bagaimana dada terasa terhantam godam. Berdebar keras sekali. Seperti
menanti saat yang tepat untuk mengangkat tanganku lalu berkenalan. Kau seperti
tak tahu debar itu. Kau terus saja mengulum senyum, sambil sesekali menebar
tawa yang renyah. Ah, tanganku sampai dingin ketika menjabat erat tangannya. Dengan
ragu-ragu dan kikuk aku menatap matanya,
takutnya dia mengira orang iseng dari mana ini? Tapi Ku pandangi wajahnya yang penuh
tanya melihat orang asing yang berambut gondrong, acak-acakan pula. Benar-benar
kontras dengan pipimu yang tirus itu, meningkahi rambutmu yang panjang berombak
tergerai mungkin ini keindahan yang nyata itu. Tapi Tuhan memang adil, setiap
usaha dibalas dengan hasil yang mengembirakan.
Siang itu kami
habiskan untuk berbicara. Sekedar memindahkan waktu, dimana sang pintu takdir
terbuka, tapi kami enggan untuk memasukinya.
Dimana aku seakan segan menjabat tanganmu, apalagi menatap matamu.Tak banyak
yang aku bicarakan pada waktu itu hanya sebatas hal-hal biasa, karena memang
tak pantas rasanya jika baru berkenalan sudah bertanya macam-macam, ah dikira
sedang introgasi saja nanti. Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus
berdetak. Sementara aku juga terus memaki pembicara didepan yang terus saja meraungkan suara di speaker aktif
mereka. Sangat mengganggu. Aku sedang mengembalikan ketenanganku yang tadi
hilang setelah jabat tangan itu. Lalu detak jam benar-benar memisahkan
pertemuan singakt itu, kerahmahannya itu sungguh membuatku menyesali waktu yang kaku, tidak bisa mentolenransi keadaan. Setelah itu, aku kelu untuk berkata-kata. Wajahnya perlahan
tapi pasti masuk pada sel-sel otak. Ah efek apa ini!
Tak perlu
kusebut namanya sapa, tak perlu juga dia berasal dari mana. biarkan dia menjadi misteri dari siang itu. Pertemuan yang
begitu singkat itu mengubah hari yang pada awalnya biasa menjadi luar biasa. Sejak saat itu
pula aku mencoba mencari tahu siapa perempuan kesayangan mentari itu. Maka
akhirnya aku berusaha keras untuk menelusuri tiap jengkal rumah reyot bernama
ingatan. Berusaha mengingat lagi apa yang harus aku perbuat untuk kenal lebih
jauh dengan nya.mencari cara yang tepat. Sampai pada akhirnya seorang sahabatku ternyata kenal dengannya. Aih, sekali lagi Tuhan berperan dalam kemudahan ini.
Lantas sesuatu
bernama kimia kapan mempertemukan kami kembali. Bukan, aku tidak berbicara
mengenai pelajaran kimia, dimana sang mantan guruku adalah seorang perempuan
dewasa yang matang, yang bisa membuat aku pergi ke WC hanya untuk sekedar
menghabiskan isi lotion. Kimia itu adalah sesuatu yang dinamakan hubungan
kimia. Orang barat menyebutnya chemistry.
Setidaknya membicarakan
yang jauh lebih panjang dari pertemuan pertama. Tapi asa ku tidak terlalu besar
pada pertemuan itu. Jelas, diminta nomer HP
nya saja dia menolak dengan begitu anggunnya. Sepertinya memang caraku yang
terlihat sangat bodoh sehingga pantas untuk tidak diberi nomer itu.
Tak ada maksud
apa-apa?, bohong rasanya jika naluriku sebagai anak Adam yang bertemu Hawa
tidak bergejolak. Tapi Aku sepertinya
harus menahan diri, karena dia sudah berpunya. Ah, tak apalah segala yang
bersungguh-sungguh memang akan berwujud. Tuhan punya cerita yang berbeda, biarkan takdir saja yang menuntunku.
Sial, sepertinya
lagu “When You Love Somenone” dari Endah N Rhesa sedang mengejekku berkompromi
dengan malam yang bertebaran bintang. Tidak, tidak. Aku hanya ingin berbicara
banyak dengannya dengan tendensi yang lebih nyaman tidak terjebak rasa-rasa
yang bikin aku meracau. Biarkan malam yang memberi kabar baik itu. Mengajariku untuk
besabar.
Ketika aku
menulis catatan ini mungkin kau sedang
tidur terlelap menjejaki setiap mimpi. Jika memang tulisan ini bisa terhubung
dengan mimpimu aku hanya ingin mengatakan “siang tak pernah seindah siang itu”
“When You someone just be brave to say”, suara
Endah benar-benar sedang mengejekku tapi aku tidak bergeminng menghiraukan
syair-syair syahdu itu. Aku tidak ingin menyebut rasa itu dengan nama cinta, aku hanya ingin mengatakan
tentang keindahan yang nyata itu, tentang perempuan yang aku yakin kesayangan
dari mentari. Selamat pagi semoga kau suka
baca tulisan yangku ini. Jika kau suka, kirim message difacebooku.:D
Dulu ada tugas di SMA kelas satu suruh buat cerpen. Ini belajar pertama dan terakhir kalinya aku nulis cerpen. Meski jelek, aku melihatnya ini sebagai proses aku belajar!!
TUGAS BAHASA
INDONESIA
-->
SMAN 2 TAROGONG GARUT
Cerpen:
as: X
“akan Ku tunggu ayah sampai kapan pun”
Karya:Gulfino Guevarrato
”Ibu Firman ingin sekolah!!!” rengek Firman sambil
bermanja-manja.
“iya…nanti kalau Firman sudah
cukup umur, Firman pasti sekolah”jawab sang ibu dengan penuh kasih saying.
“Ibu,ibu kenapa sih banyak yang
sekolah ?”
”Ibu sekolah penting enggak ?”
“kalau enggak sekolah gimana
kalau tidak sekolah?”
“Ibu Firman sering lihat di TV,
kalau katanya sekolah itu mahal, bener tidak bu ?”
Rentetan pertanyaan itu tak bisa
ibu firman jawab. Ibu Firman hanya bisa berkata “Iya,iya,iya, sudah sayang
jangan banyak nanyak ibukan lagi masak nanti masakanya gosong. Sana kamu main,
tuh temen-temen kamu lagi main di luar”
Dengan wajah yang cemberut karena
pertanyaan-pertanyaannya diacuhkan Firman pergi keluar untuk bermain
bersama-sama dengan teman sebayanya.
Firman adalah anak berusia 4,5
tahun yang memiliki rasa penuh ingin tahu, dan dia anak yang ceria.
“Assalamualaikum”
“walaikum salam” teriak Firman
sambil berlari ingin di gendong ayahnmya
“Ayah capek ya ?” tabya Firman
denga manjanya
“Iya, ayah capek banget”
“Ayah mau Firman
pijit ?”
“Boleh, tapi Firman enggak
keberatan kan ?”
“Firman, ayahmu sedang capek”
kata ibu
” Mas mau minum kopi atau teh
?”tawar sang istri dengan penuh
kasih saying
“teh yang manis”jawab ayah
Ayah Firman bernama Karim dia
adalah kepala kariyawan pabrik tekstil yang selalu bertindak bijaksana terhadap
kariyawan-kariyawannya sehingga dia disenangi kariyawan, selain sebagai
kariawan Karim pun berprofesi sebagai penyair puisi. Sedangkan ibu Firman ,
seorang ibu rumah tangga. Dia bernama Sujiati. Keluarga ini, keluarga yang
sangat bahagia dengan anak yang pintar dan soleh.
“Bu, besok kita ajak Firman
rekreasi ke Parangtritis”
“boleh yah, kasihan dia sudah
lama tidak diajak kemana-mana”
“Yah bahkan akhir-akhir ini
Firman minta ingin sekolah tapi keunagan kita tak mencukuopi untuk
menyekolahkan Firman ke TK”cerita sang ibu sambil mengelus-elus rambut anaknya
yang tertidur lelap
keesokan harinya
“asik!!!!!! Hore!!!!!!!!!! aku
rekreasi ke Parangtritis”
“Ibu cepetan, Ayah sudah siap
nih.
Tiba-tiba Hand phone karmin berbunyi
“Halo, ada apa Bud, kok dengaren nelpon!!??”
“Mas, kami semua membutuhkan mas Karmin. Di Jakarta sedang
genting. Semenjak kematian Marsinah , teman-teman buruh akan melakukan aksi
solidaritas tapi kami kurang mengerti susuanan strategi yang baik. Teman-teman
aktifis buruh yang lain menganjurkan mas Karmin untuk ambil bagian. Kami sangat
mohon agar mas Karmin bisa datang. Kami p[un sudah mengundang organisasi buruh
seluruh Indonesia. Nah kalau saya tunggu mas Karmin besok ?” Papar Budi sahabat
karib Karmin.
“Tapi Bud saya masih banyak pekerjaan,dan………..” “sudahlah mas jangan
pikirkan yang lain-lain, nanti Hardo yang akan menjaga keluarga mas, dia bisa
diandalkan kok mas”potong Budi. “baiklah besok atau lusa saya akan berangkat ke
Jakarta”
“ok. Saya tunggu kedatangan mas Karmin, MERDEKA, salamuallaikum!!!”
karena telpon dari Budi acara rekreasi ke pantai Parangtritis terpaksa
di batalkan karena Karmin akan menghubungi teman-temanya yang lain untuk diajak
ke Jakarta. “Firman, tadi ayah dapat telpon dari penjaga pantai, katanya di
Parangtitis sedang terjadi badai jadi acara rekreasi ke parangtrtitis terpaksa
dibatalkan” papar ayah dengan penuh perasaan bersalah
“Ayah bohong, mana buktinya sekarang kan ternag gini man mungkin
terjadi badai, ayah selalu bohong pada Firman, Firman benci pad ayah” jawab
Firman sambil menangis tersedu-sedu
“ayah tidak bohong Firman, kalau kita memaksakan ke sana, di sananya
pun tidak nyaman karena terjadi badai, dan dari bantul ke parangtritis kan jauh
jadi cuaca di sini dengan disana berbeda” papar sang ibu dengan penuh
bijaksana.
“Bu, ayah berangkat dulu ya, jaga Firman dengan sebaik-baiknya, ayah
mungkin hanya 2 mingguan, nanti kalau ada apa panggil saja Hardo, kalau
kekurangan uang minta saja pada dia.”
“Fiman, Firman masih marah pada ayah?”
Firman masih saja diam
“nanti kalau ayah sudah pulang dari Jakarta, ayah akan bawa uang yang
banyak, nah nanti Firman boleh minta apa saja dan nanti Firman akan ayah
sekolahkan< Firman maukan sekolah ?”
“Iya, Firman ingin sekolah, bener ayah enggak berbohong ?”
“bener ayah enggak bohonh, ayah janji”
“Sujiwati istri ku jaga baik-baik dirimu, doakan suami mu ini agar
selalu dilindungi oleh ALLAh”
“Iya mas, hati-hati jag baik-baik dirimu
“Firman anakku jangan kamu buat susah ibumu, kamu sekarang sudah besar,
tunjukan pada ayahmu ini kalau kamu bisa menjaga Ibumu dengan baik”
“iya ayah Firman janji,. Firman akan menjaga ibu dengan baik” janji
Firman dengan penuh percaya diri
“Nah ini putra ayah” “sudah Suji jangan menangis, kereta sudah mau
berangkat, ayah berangkat dulu ya”
Pada suatu malam dengan rintik gerimis menemani keheningan malam.
Terdengar suara mobil Jeep memecah keheningan malam. Mobil itu terparkir di
depan rumah Karmin. Dari mobil itu keluar beberapa orang berbadan besar
menggunkan jaket kulit berwarana hitam.” Heh keluar yang ada di rumah ini!!!!!”
teriak salah seornag dari mereka. “sapa ya, tunggu sebentar ??” teriak suji
denagn penuh ketakutan.
“Mana Karmin ???, kami butuh dia. Cepat katakan dia kemana???!!!” Tanya
salah satu dari jaket hitam itu
“maaf sebelumnya dari mana ya bapak-bapak ini ??” Tanya suji dengan
sopan
“sudahlah jangan banyak tanya, sekarang mana si Karmin itu???!!!. Kalau
kamu dan anak kamu mau selamat cepat katakana kemana si Karmin bersembunyi
!!!!??” ancamnya
“baik, baik dia berada di rumah temanya di RT sebelah, bentar saya
panggilkan dia, bapak-bapak ini tunggu sebentar di sini. Silahkan duduk Pak”
dengan penuh ketakutan. “sudah cepetan panggil si Karmin”
Denhgan menggendong Firman yang menanggis Sujiwti pergi meminta Bantuan
pada Hardo yang rumahnya tidak jauh dari rumah Sujiwati.
“Do, Hardo, ini mbak Suji, do buka pintunya” teriak Suji dengan penuh
histeris “Ada apa mbak, ayo masuk dulu”
tanya Hardo dengan mata yang memerah karena baru bangu tidur ”Do tolong mbak,
di rumah ada banyak preman yang menanyakan mas Karmin, mereka mengancam akan
membuuh kami” papar suji dengan menagis tersedu-sedu. “sudah mbak jangan takut
mari kita panggil penduduk untuk mengusir mereka”.
Lalu dengan puluhan penduduk dengan dilengkapi golok yang di pimpin
oleh Pak RT menuju ke rumah Suji. Namun ketika penduduk itu tiba di rumah Suji
preman-preman itu sudah tidak ada yang ada hanya rumah yang berantakan dan
kaca-kaca yang pecah. Beberapa karya-karya Karmin yang dirampas.
“Hardo apa sebenarnya yang telah dilakukan masmu, apa dia seorang
perampok atau ……,” tanya suji dengan penasaran. ”tidak mbak, mas Karmin orang
yang baik, dia juga bukan perampok. Dia sebenarnya adalah seorang aktifis buruh
yang terkenal sangat vocal , tapi mbak jangan kuwatir sebab dibelakang
mas Karmin ribuann ornag yang selalu mendukungnya “jelas Hardo.
Sejak kejadian itu suji tinggal di rumah Hardo menunggu suaminya
pulang, tetapi setelah tiga minggu Karmin tak juga pulang, Karmin pun tak
pernah memberikan kabar, hal itu membuat rasa ketakutan Suji semakin menjadi,
Firman pun tak henti-hentinya menaakan ayahnya yang dia sangat sayangi. “Ibu,
ayah kemana sih bu, kok tidak pulang-pulang, apa ayah benci pada kita ?” tanya
Firman dengan muka yang sedih karena ayahnya tidak pulang-pulang. Sejak ayahnya
belum pulang Firman yang biasanya ceria kini menjadi murung terus, Firman tidak
seceria dulu.
Pada suatu hari, Pak Pos datang ke rumah Karmin membawa surat, tak
disangka-sangka ternyata surat itu berasal dari Karmin. Dalam surat itu
“ istri ku Sujiati, apa kabar ? bagaimana kabar
buah hati kita, jangan pernah buat dia bersedih karena aku tak ingin dia
bersedih utuk ke dua kalinya. Suji sekarang aku berada di Jakarta. Aku belum
bisa pulang karena aku sekarang sedang di cari-cari oleh tentara, karena dalam
aksi kemarin, aksi yang aku pimpin, pada awalnya berjalan sesuai dengan rencana
tetapi tiba-tiba suasana tidak terkendali sehingga menjadi rusuh dan
mengakibatkan 5 nyawa polisi tewa tertusuk bamboo runcing kawan-kawan
demonstran, sebenarnya masalahnya bukan di situ saja, aku di incar tentara
karena sebelumnya kaum buruh yang dipimpin oleh ku berhasill membongkar kasus
pelecehan seksual yang dilakukan tentara pada Icih salah satu buruh tekstil di
Tangerang pada kasus Tanjung Priok. Para tentara dendam pada ku sehingga kamu
lah yang harus menerima akibatnya. Jangalah kamu terlau memikirkan ku, jagalah
dirimu baik-baik
Tunggu lah aku
Istriku aku
mencari cahaya kebebasan yang kita dambakan
Istriku janganlah
kau menjadi benci pada suami yang belum sanggup menyenangkan keluarga
Jagalah buah hati
kita, jagalah untuk ku, buatlah dia menjadi pahlawan, pahlawan kita.
Istriku tunggu aku
karena aku pasti akan pulang menjeput
kalian untuk pindah ke istana kebahagian yang belum pernah kalian lihat
Sejak surat pertama dan terakhir, Karmin tak ada kabarnya lagi
te,man-temanya pun tidak tahu keberadaanya. Karmin menghilang bersama 3 temanya
yang lain.
“BU, ayah kemana, ayah kapan pulang ? Firman kangen ayah” rengek Firman
yang semakin hari badanya semakin kurus karena
tak mau makan memikirkan ayahnya. ”ayah,Firman akan menunggu ayah sampai
kapan pun”
Patah hati itu memang menyakitkan. merobek-robek sunyi menjadi semakin tragis.
aku pernah merasakan itu. Tak perlu tahu kapan itu. tapi rasanya sungguh terasa sampai sekarang.
akhirnya, di antara malam yang semakin sunyi kutulis sajak patah hatiku. Patah hati juga indah ternyata...Jika jatuh cinta itu biasa saja, maka patah hatipun akan biasa saja. Tidak dengan kisah ku yang ini!
Melankolia
sembuhkan luka yang menganga
disejukan oleh kata yang sering kau ucap
hingga kurasa aku benar-benar ingin menyatu dengan Mu, disaksikan malam yang bisu.
dan kini.
tak ada kehangatan itu, membawaku pada ruang sempit lalu mengahabisiku secara perlahan
membawa asa yang sebenarnya palsu dalam gelapnya tawa
disandingkan dengan mimpi-mimpi yang tak pernah hidup
kau hancurkan tawa dan candaku
mengatur aliran nadiku
memuntahkan omong kosong
tak ada arti
hanya kebutaan...
membawaku pada ketersesatan!
lalu kita tidak saling mengenal,
merasakan keasingan meski dulu kita sering menyatu.
sunyi mengebiriku, membawaku pada langit yang mendung!
Benar kata
banyak orang. Masa SMA masa yang paling indah. Penyanyi legendaries Crisye
dalam lagunya pernah menulis “Tiada masa
paling indah... Masa-masa disekolah
Tiada kisah paling indah... Kisah-kasih disekolah”. Kita masih bisa
seenaknya untuk bermain-main. Mempermainkan guru. Masih ingatkah kita dengan
pak guru bahasa Indonesia itu? Yang mukanya mirip comedian Doyok atau Pak Iyus
yang mengejar-ngejar kita sewaktu dipergoki merokok dibelakang ruang MMC? Atau membuat
rancau bu Ida Sejara sampai-sampai tas kita dibawa ke Kantor hanya gara-gara
kita tidak masuk kelas Sejarah pada waktu itu. Atau ketika kita menghabiskan
waktu tidak ada guru di tangga depan kelas, entah membicarakan film yang
terbaru, lawan jenis yang sedang ditaksir atau absurd dengan kegiatannya
sendiri. Semua benar-benar terekam dalam pikiranku. Aku ingat dengan apa yang
dikatakan Jimmy Multazam, laki-laki eksentrik lulusan IKJ yang juga vokalisnya
The Upstair yang tuangkan dalam judul
lagu “Terekam Tak Akan Pernah Mati”.
Kapan
terakhir kali kita berkumpul? Bersama dalam suasana yang akrab. Tentunya denga
pakaian putih abu-abu yang lusuh dibasahi keringat-keringat riang. Kita terlalu
banyak mengahabiskan waktu untuk bersua dalam suasana yang hangat. Duduk ditangga
dekat pintu kelas, disana kita biasa berbagi cerita. Banyak kisah yang terucap
dihari-hari yang saat ini pada akhirnya akan kita kenang. Bercerita dalam
hembusan angin-angin genit, sungguh indah siang-siang yang kita lalui dalam
keriangan itu. Meski para guru geram melihat tingkah kita pada waktu itu. “kalian
sudah kelas 3 sekarang. Dimohon untuk keseriusannya untuk belajar” “bentar lagi
akan menhadapai Ujian Nasional” begitulah Bu Len, wali kelas kita selalu tidak
bosan-bosannya mengingatkan kita. Hem, apakabarnya Bu Len sekarang ya? Beberapa
waktu lalu, ketika aku pulang ke Garut, aku dan Reza bersilaturahmi ke rumahnya
dan tetap saja ibu guru itu tetap baik dan tidak bosan-bosanya memberikan
wejangan pada kami berdua. Aku akan mengingat jasa-jasa Mu. Bu.
Aku baru
menyadari. Hari-hari itu sudah terlalu lama. 3 tahun kita telah meninggalkan
jejak-jajak lama itu. Pergi mencari mimpi-mimpi yang bertebaran di Perguruan
Tinggi kita melanjutkan jenjang pendidikan. aku merasakan perpiasahan itu sejak bulan
Januari 2009 setelah itu bulan-bulan selanjutnya kita dibisukan oleh
ujian-ujian yang menurutku hanya sebatas sandiwara yang biasa kita lihat di TV.
Bulan-bulan yang pada akhirnya menuntun kita pada senjakala kebersamaan.
Aku sempat
bersajak pada waktu itu.
Apa kita masih
ingat hari-hari itu, mengingat kita yang menghabiskan waktu belajar untuk
bermain sepak bola atau mencari-cari alasan untuk tidur di UKS. Tidak hanya
itu, apa kita masih ingat dengan wali kelas kita yang begitu sabar? Sampai-sampai
bosan, tak banyak bicara ketika harus menghadapi anak-anak IPS 3 yang
nakal-nakal itu. Setiap jam pelajaran berkeliaran entah kemana rimbanya. Ketika
masuk kelas badan basah oleh keringat. Sungguh indah hari itu kawan. Kita semua
masih begitu polos, tak ada beban seperti sekarang ini. Mungkin bagi mereka
yang kerja, beban perkerjaan yang menyita pikirannya. Bagi mereka yang menempuh
D3 sedang sibuk-sibuknya bercumbu dengan tugas-tugas akhir. Sedangkan aku
terlalu sibuk dengan duniaku yang tentu kawan-kawan semua tau apa yang
kulakukan karena sejak SMA kalian sudah menduganya. Semua telah berubah. Berubah
dan berubah karena itu hukum alam yang pastia akan terjadi. Kita manusia yang
dinamis, tetapi sejarah telah mencatat itu semua.
Apakaha Okim
masih seceria dahulu? Memberikan umpatan sarkasnya yang khas? Bekoy yang diam
tapi berbahaya? Renghek yang sukanya tebar pesona?atau teman-temanku
lainnya?apakah kalian masih seperti dulu? Memahami arti kebersamaan dengan
begitu tulus tanpa tendensi yang memisahkan arti perkawanan. Meski kita saling
mengumpat dan menghina, kini semua hal itu menjadi bunga-bunga masa lalu yang
indah untuk dilihat-lihat kembali.
Kita terbiasanya
untuk bercanda dalam kesatiran dan tentunya sedikit sarkas tapi sekali lagi itu
indah. Sungguh indah dihari itu. Bernyanyi dikelas yang penuh dengan wajah Bengal,
tidak laki tidak jg perempuannya semua begitu kompak dalam kebengalannya. Atau menemukan
cinta yang pada akhirnya membuat kelu sampai malam-malam sudah banyak berganti,
ya seperti aku ini :D. (aku tidak ingin membahas itu ditulisanku yang ini)
Malam ini,
langit begitu cerah dan bulan sabit terlihat begitu manis mengintip dibalik
jendela kamarku. Sepertinya malam bersekongkol dengan suasana yang semakin
hening ditambah-tambah suara syahdu dari Paul McCartney vokalis sekaligus basit
The Beatles dalam lagu “And I lover” semakin menambah kelu kata untuk ditulis. Tiga tahun telah berlalu, meja kelas, papan,
lantai dan semuanya yang dulu menjadi saksi bisu kisah kita tentunya telah
berganti dengan yang baru. Kini tak ada canda tawa yang khas dari penghuni
kelas IPS 3. Aku dengar dari bapak ibu guru, jaman kita memang yang lebih
istimewa. Istimewa nakalnya. Biarlah waktu
mengendap dan biarkan rindu itu lepas tanpa membebani hari-hari kita. Dalam setiap
jejak langkah yang kita pijak, aku berharap kebersamaan itu tidak akan pernah
luntur.
Malam semakin
melarut, aku besok ada ujian Praktik Pidana. Aku sudahi dulu tulisan pelepas
rindu untuk kawan-kawanku di IPS 3 dan seorang yang tak lagi ingin ku kenal dan
mengenalku. Selamat malam. Semoga kasih Tuhan bersama dalams setiap hembusan
nafas kita
ketika jarum jam semakin bergerak cepat maka semakin besar pula makna yang kita dapat dalam setiap perjumpaan yang pantas untuk dikenang. Meksi kadang itu menyakitkan jika kita melewatinya dengan tidak tuntas untuk dibicarakan dan dikisahkan
Subuh tekah kembali menyapa. Meski aku jarang sholat tetapi
aku suka dengan suasana subuh begitu tenang dan syahdu. Tetapi yang pasti aku
belum juga tidur. Belakang ini terlalu suka kau begadang. Entah apa saja yang
aku kerjakan dari mulai main game, kadang membaca, kadang menulis kadang
berdiskusi di sekertariat-sekertariatku, kadang pula ngopi dengan kawan-kawan
di Bulek. Banyak hak yang ini kunikamti disetiap malam-malam yang larut.
Mungkin karena aku suka dengan ketenangan. Aku bisa membayangkan masa-masa yang
telah berlalu.
Pukul 03.37 WIB dengan lagu Tamasya menemani malam yang
telah larut. Kadang aku rindu dengan Mamah dan Ayahku. Bagaimana keadaannya
dirumah? Bagiaman Kopinya apakah sudah memberikan harapan-harapan? Tapi
belakang aku kecewa dengan Ayahku yang tak mengingat kelahiranku. Entah apa
alasannya karena itu pula aku mempunyai alasan untuk sementara waktu tidak
berkomunikasi dengan keluargaku di Garut. Sebentar lagi adikku Krishna akan
melanjutkan fase kehidupannya, dia bentar lagi akan kuliah, entah kemana,
tetapi aku harapakan ke Jogja, lebih
baik di Jember saja. Itu jauhlebih baik karena di Jember pun baik kualitasnya. Entahlah,
biarkan dia mandiri dan menentukan pilihan hidupnya, sudah waktunya adikku menginjakan
kakinya dengan kesadarannya sendiri tanpa orang lain yang mengaturnya.
Malam telah semakin pekat bentar
lagi langit membiru. Sudah tidak terasa aku hampir empat tahun di Jember. Di
kota yang dulu telah menjadi saksi kelahiranku. Semakin suka aku dengan Jember. Di Jember aku dilahirkan. Jember dengan sejuta
sejarahnya. Kalimat itulah yang pas aku sematkan pada Jember, karena di kota
yang banyak orang tidak mengenalnya, aku memulai awal sejarahku. Dari mulai aku
yang tidak mengenal banyak hal soal bagaimana sulitnya hidup diluar rumah itu
sampai saat ini aku sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kota Pandalungan ini.
Sudah banyak yang kukenal dari kota ini, banyak daerah yang sudah aku jelajahi. Kampus fakultas hukum telah
menjadi saksi bisu bagaimana aku berkemang dari "anak manusia" menjadi "manusia" yang seutuhnya. Meski sampai saat ini aku masih belum bisa mandiri soal uang
dan tetap menjadi beban orang tua. Sungguh hal itu sangat tidak menyenangkan
dan menjadi beban pikiran. Pastilah, aku anak laki-laki yang pertama, aku punya
adik-adik yang juga perlu dibiayai. Jika Ayahku membiayaiku terus sungguh aku
tidak kuasa membayangkannya. Dia sudah cukup tua untuk bekerja keras. Sedang
aku di usai yang sudah cukup matang masih saja meminta uang dari orang tua.
Memang solusinya jelas, yaitu bekerja untuk menghasilkan uang, tetapi
pertanyaan pertama yang harus dijawab kerja apa?
Saat ini saja kau masih sibuk
dengan proses penempaan yang sangat luar biasa untuk bekalku menghadapi
kehidupan yang katanya kejam itu. Di gelap yang mendekati terang ini. Aku hanya
ingin berdoa pada TUHAN.”ya Allah, tolonglah berikan kesehatan pada Ayah dan
Mamahku. Berikan kemudahan bagi adik-adikku untuk menggapai mimpi-mimpinya,
lindungilah mereka dengan kasih MU, dengan kuasaMU yang tiada tara. Ya Allah,
maafkan aku selama ini jika aku tidak berada dalam ridha mu. Maafkan atas semua
khilafku pada Mu ya Allah. Memang Engkau selalu ada untuk umat manusia. Kadang
aku melupkakan itu, entah aku tak punya alasan yang jelas pula YA ALLAH. Ya
Allah berikan hambamu ini kelancaran dalam membahagiakan orang tua hamba. Orang
tua hamba telah memberikan pengorbanan yang tiada tara bagi anaknya ini, meski
anaknya sendiri sering membuatnya sakit hati. “ya Allah tunjukan rahmat MU
untuk kedua orang tuaku”amien