Senin, 02 April 2012

Sempolan Yang Biru


-->
Malam ini, entah kenapa aku rindun dengan lebatnya hutan Sempolan. Rindu mbah tien, rindu dimana kita dibentaki oleh Mas Corong yang dulu jadi Korlap kita. Rindu kawan-kawan yang dulu bersama-sama bermandi pelu, kesal. Dan rindu suara yang tak bisa berkata-kata karena kita terus dipaksa berteriak. Aku  rindu itu. Tak terasa sudah hampir tiga tahun semua itu berlalu meninggalkan kenangan yang begitu membuat kelu jika mengingat hari-hari itu. Enathlah, apakah kawan-kawan yang lain seperti itu juga? Tapi jika memang hari-hari pada waktu itu memberikan kesan, aku yakin kita pun akan menahan risau jika kerinduan ini memuncak.
Sempolan yang biru. Benar-benar biru. Bukan biru gerau yang kehitam-hitaman, bukan biru benhur seperti air laut. Tapi Sempolan benar-benar biru dan membiru bagai langit dikala fajar terbit. Dimana harapan kita muncul tanpa kerancauan yang menganggu. Aku rindu sempolan.

Sempolan Yang Biru
Masihkah kita mengingat kunang-kunang yang menjadi teman dikegelapan malam
Atau dengan Tonggeret-Tonggeret yang mengiringi irama malam? memandangi hutan-hutan sempolan yang damai.
Aku sangat ingat malam-malam itu…
Ditempat itu!
Dimana kita bermandi benci, amarah, lelah. Namun pada akhirnya kita mengenang semua itu dengan tawa malu-malu, keharuan yang merasuk dalam relung hati.
Aku pun masih ingat, ketika subuh menjelang kita menyatu dalam sumpah setia yang menjadi jawaban untuk sebuah komitmen.
Kini kita telah berlari-lari menangkapi titik-titik cahaya yang membentangkan harapan. kini kita akan beranjak!
Biskit Sempolan
Di Chandradimukamu, keyakinan kita ditempa..
Di Biskit Sempolan kita menahan kelu..
Biskit  Sempolan, kisah-kisah kami terekam dibalik lebatnya pinus-pinus yang bisu. Sungai yang biru ketika ingatan membawa kami dalam kerinduan yang mengharu!
Ku rindu kau, Hutan-hutan yang basah..
Ku rindu kau Sempolan yang syahdu..
Kini, satu persatu dari kami beranjak meninggalkan mu,,,melanjutkan setapak demi setapak mimpi-mimpi yang pernah kau dengarkan ketika kami masih buta membaca hidup..kita memang akan kembali pada hari yang biasa, berdiri mencari jawaban atas kehidupan ini, kawan!

ingatlah kawan, Di balik bisunya hutan-hutan Sempolan kita pernah menjadi bagian dari pejuang-pemikir!









Kamis, 29 Maret 2012

Kukenal kau diwaktu yang cuman 15 menit


-->
Kukenal kau diwaktu yang cuman 15 menit

Awalnya tak ada yang kukenal darinya, hanya memandanginya dari kejauhan. “Siapa perempuan itu? hadir di acara seminar yang biasanya diisi oleh orang-orang pergerakan?” gumamku dalam hati. Kuberanikan diriku untuk mendekati kursi disebelahnya. aku jelas masih mengingat bagaimana dada terasa terhantam godam. Berdebar keras sekali. Seperti menanti saat yang tepat untuk mengangkat tanganku lalu berkenalan. Kau seperti tak tahu debar itu. Kau terus saja mengulum senyum, sambil sesekali menebar tawa yang renyah. Ah, tanganku sampai dingin ketika menjabat erat tangannya. Dengan ragu-ragu dan kikuk  aku menatap matanya, takutnya dia mengira orang iseng dari mana ini? Tapi Ku pandangi wajahnya yang penuh tanya melihat orang asing yang berambut gondrong, acak-acakan pula. Benar-benar kontras dengan pipimu yang tirus itu, meningkahi rambutmu yang panjang berombak tergerai mungkin ini keindahan yang nyata itu. Tapi Tuhan memang adil, setiap usaha dibalas dengan hasil yang mengembirakan.
Siang itu kami habiskan untuk berbicara. Sekedar memindahkan waktu, dimana sang pintu takdir terbuka, tapi kami enggan untuk memasukinya. Dimana aku seakan segan menjabat tanganmu, apalagi menatap matamu.Tak banyak yang aku bicarakan pada waktu itu hanya sebatas hal-hal biasa, karena memang tak pantas rasanya jika baru berkenalan sudah bertanya macam-macam, ah dikira sedang introgasi saja nanti. Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus berdetak. Sementara aku juga terus memaki pembicara didepan yang terus  saja meraungkan suara di speaker aktif mereka. Sangat mengganggu. Aku sedang mengembalikan ketenanganku yang tadi hilang setelah jabat tangan itu. Lalu detak jam benar-benar memisahkan pertemuan singakt itu, kerahmahannya itu sungguh membuatku menyesali waktu yang kaku, tidak bisa mentolenransi keadaan. Setelah itu, aku kelu untuk berkata-kata. Wajahnya perlahan tapi pasti masuk pada sel-sel otak. Ah efek apa ini!
Tak perlu kusebut namanya sapa, tak perlu juga dia berasal dari mana. biarkan dia menjadi misteri dari siang itu. Pertemuan yang begitu singkat itu mengubah hari yang pada awalnya biasa menjadi luar biasa. Sejak saat itu pula aku mencoba mencari tahu siapa perempuan kesayangan mentari itu. Maka akhirnya aku berusaha keras untuk menelusuri tiap jengkal rumah reyot bernama ingatan. Berusaha mengingat lagi apa yang harus aku perbuat untuk kenal lebih jauh dengan nya.mencari cara yang tepat. Sampai pada akhirnya seorang sahabatku ternyata kenal dengannya. Aih, sekali lagi Tuhan berperan dalam kemudahan ini.
Lantas sesuatu bernama kimia kapan mempertemukan kami kembali. Bukan, aku tidak berbicara mengenai pelajaran kimia, dimana sang mantan guruku adalah seorang perempuan dewasa yang matang, yang bisa membuat aku pergi ke WC hanya untuk sekedar menghabiskan isi lotion. Kimia itu adalah sesuatu yang dinamakan hubungan kimia. Orang barat menyebutnya chemistry. 
Setidaknya membicarakan yang jauh lebih panjang dari pertemuan pertama. Tapi asa ku tidak terlalu besar pada pertemuan itu. Jelas, diminta nomer HP nya saja dia menolak dengan begitu anggunnya. Sepertinya memang caraku yang terlihat sangat bodoh sehingga pantas untuk tidak diberi nomer itu.
Tak ada maksud apa-apa?, bohong rasanya jika naluriku sebagai anak Adam yang bertemu Hawa tidak bergejolak. Tapi  Aku sepertinya harus menahan diri, karena dia sudah berpunya. Ah, tak apalah segala yang bersungguh-sungguh memang akan berwujud. Tuhan punya cerita yang berbeda, biarkan takdir saja yang menuntunku.
Sial, sepertinya lagu “When You Love Somenone” dari Endah N Rhesa sedang mengejekku berkompromi dengan malam yang bertebaran bintang. Tidak, tidak. Aku hanya ingin berbicara banyak dengannya dengan tendensi yang lebih nyaman tidak terjebak rasa-rasa yang bikin aku meracau. Biarkan malam yang memberi kabar baik itu. Mengajariku untuk besabar.
Ketika aku menulis catatan  ini mungkin kau sedang tidur terlelap menjejaki setiap mimpi. Jika memang tulisan ini bisa terhubung dengan mimpimu aku hanya ingin mengatakan “siang tak pernah seindah siang itu”
“When You someone just be brave to say”, suara Endah benar-benar sedang mengejekku tapi aku tidak bergeminng menghiraukan syair-syair syahdu itu. Aku tidak ingin menyebut rasa itu dengan nama cinta, aku hanya ingin mengatakan tentang keindahan yang nyata itu, tentang perempuan yang aku yakin kesayangan dari mentari.  Selamat pagi semoga kau suka baca tulisan yangku ini. Jika kau suka, kirim message difacebooku.:D

Minggu, 25 Maret 2012

Dulu ada tugas di SMA kelas satu suruh buat cerpen. Ini belajar pertama dan terakhir kalinya aku nulis cerpen. Meski jelek, aku melihatnya ini sebagai proses aku belajar!!



TUGAS BAHASA INDONESIA

-->
 SMAN 2 TAROGONG GARUT
Cerpen:
as: X
“akan Ku tunggu ayah sampai kapan pun”

Karya:Gulfino Guevarrato




”Ibu Firman ingin sekolah!!!” rengek Firman sambil bermanja-manja.
“iya…nanti kalau Firman sudah cukup umur, Firman pasti sekolah”jawab sang ibu dengan penuh kasih saying.
“Ibu,ibu kenapa sih banyak yang sekolah ?”
”Ibu sekolah penting enggak ?”
“kalau enggak sekolah gimana kalau tidak sekolah?”
“Ibu Firman sering lihat di TV, kalau katanya sekolah itu mahal, bener tidak bu ?”
Rentetan pertanyaan itu tak bisa ibu firman jawab. Ibu Firman hanya bisa berkata “Iya,iya,iya, sudah sayang jangan banyak nanyak ibukan lagi masak nanti masakanya gosong. Sana kamu main, tuh temen-temen kamu lagi main di luar”
Dengan wajah yang cemberut karena pertanyaan-pertanyaannya diacuhkan Firman pergi keluar untuk bermain bersama-sama dengan teman sebayanya.
Firman adalah anak berusia 4,5 tahun yang memiliki rasa penuh ingin tahu, dan dia anak yang ceria.

“Assalamualaikum”
“walaikum salam” teriak Firman sambil berlari ingin di gendong ayahnmya
“Ayah capek ya ?” tabya Firman denga manjanya
“Iya, ayah capek banget”
“Ayah mau Firman pijit ?”
“Boleh, tapi Firman enggak keberatan kan ?”
“Firman, ayahmu sedang capek” kata ibu
” Mas mau minum kopi atau teh ?”tawar sang istri         dengan penuh kasih saying
“teh yang manis”jawab ayah
Ayah Firman bernama Karim dia adalah kepala kariyawan pabrik tekstil yang selalu bertindak bijaksana terhadap kariyawan-kariyawannya sehingga dia disenangi kariyawan, selain sebagai kariawan Karim pun berprofesi sebagai penyair puisi. Sedangkan ibu Firman , seorang ibu rumah tangga. Dia bernama Sujiati. Keluarga ini, keluarga yang sangat bahagia dengan anak yang pintar dan soleh.

“Bu, besok kita ajak Firman rekreasi ke Parangtritis”
“boleh yah, kasihan dia sudah lama tidak diajak kemana-mana”
“Yah bahkan akhir-akhir ini Firman minta ingin sekolah tapi keunagan kita tak mencukuopi untuk menyekolahkan Firman ke TK”cerita sang ibu sambil mengelus-elus rambut anaknya yang tertidur lelap
keesokan harinya
“asik!!!!!! Hore!!!!!!!!!! aku rekreasi ke Parangtritis”
“Ibu cepetan, Ayah sudah siap nih.
Tiba-tiba Hand phone  karmin berbunyi
“Halo, ada apa Bud, kok dengaren nelpon!!??”
“Mas, kami semua membutuhkan mas Karmin. Di Jakarta sedang genting. Semenjak kematian Marsinah , teman-teman buruh akan melakukan aksi solidaritas tapi kami kurang mengerti susuanan strategi yang baik. Teman-teman aktifis buruh yang lain menganjurkan mas Karmin untuk ambil bagian. Kami sangat mohon agar mas Karmin bisa datang. Kami p[un sudah mengundang organisasi buruh seluruh Indonesia. Nah kalau saya tunggu mas Karmin besok ?” Papar Budi sahabat karib Karmin.
“Tapi Bud saya masih banyak pekerjaan,dan………..” “sudahlah mas jangan pikirkan yang lain-lain, nanti Hardo yang akan menjaga keluarga mas, dia bisa diandalkan kok mas”potong Budi. “baiklah besok atau lusa saya akan berangkat ke Jakarta”
“ok. Saya tunggu kedatangan mas Karmin, MERDEKA, salamuallaikum!!!”
karena telpon dari Budi acara rekreasi ke pantai Parangtritis terpaksa di batalkan karena Karmin akan menghubungi teman-temanya yang lain untuk diajak ke Jakarta. “Firman, tadi ayah dapat telpon dari penjaga pantai, katanya di Parangtitis sedang terjadi badai jadi acara rekreasi ke parangtrtitis terpaksa dibatalkan” papar ayah dengan penuh perasaan bersalah
“Ayah bohong, mana buktinya sekarang kan ternag gini man mungkin terjadi badai, ayah selalu bohong pada Firman, Firman benci pad ayah” jawab Firman sambil menangis tersedu-sedu
“ayah tidak bohong Firman, kalau kita memaksakan ke sana, di sananya pun tidak nyaman karena terjadi badai, dan dari bantul ke parangtritis kan jauh jadi cuaca di sini dengan disana berbeda” papar sang ibu dengan penuh bijaksana.

“Bu, ayah berangkat dulu ya, jaga Firman dengan sebaik-baiknya, ayah mungkin hanya 2 mingguan, nanti kalau ada apa panggil saja Hardo, kalau kekurangan uang minta saja pada dia.”
“Fiman, Firman masih marah pada ayah?”
Firman masih saja diam
“nanti kalau ayah sudah pulang dari Jakarta, ayah akan bawa uang yang banyak, nah nanti Firman boleh minta apa saja dan nanti Firman akan ayah sekolahkan< Firman maukan sekolah ?”
“Iya, Firman ingin sekolah, bener ayah enggak berbohong ?”
“bener ayah enggak bohonh, ayah janji”
“Sujiwati istri ku jaga baik-baik dirimu, doakan suami mu ini agar selalu dilindungi oleh ALLAh”
“Iya mas, hati-hati jag baik-baik dirimu
“Firman anakku jangan kamu buat susah ibumu, kamu sekarang sudah besar, tunjukan pada ayahmu ini kalau kamu bisa menjaga Ibumu dengan baik”
“iya ayah Firman janji,. Firman akan menjaga ibu dengan baik” janji Firman dengan penuh percaya diri
“Nah ini putra ayah” “sudah Suji jangan menangis, kereta sudah mau berangkat, ayah berangkat dulu ya”

Pada suatu malam dengan rintik gerimis menemani keheningan malam. Terdengar suara mobil Jeep memecah keheningan malam. Mobil itu terparkir di depan rumah Karmin. Dari mobil itu keluar beberapa orang berbadan besar menggunkan jaket kulit berwarana hitam.” Heh keluar yang ada di rumah ini!!!!!” teriak salah seornag dari mereka. “sapa ya, tunggu sebentar ??” teriak suji denagn penuh ketakutan.
“Mana Karmin ???, kami butuh dia. Cepat katakan dia kemana???!!!” Tanya salah satu dari jaket hitam itu
“maaf sebelumnya dari mana ya bapak-bapak ini ??” Tanya suji dengan sopan
“sudahlah jangan banyak tanya, sekarang mana si Karmin itu???!!!. Kalau kamu dan anak kamu mau selamat cepat katakana kemana si Karmin bersembunyi !!!!??” ancamnya
“baik, baik dia berada di rumah temanya di RT sebelah, bentar saya panggilkan dia, bapak-bapak ini tunggu sebentar di sini. Silahkan duduk Pak” dengan penuh ketakutan. “sudah cepetan panggil si Karmin”
Denhgan menggendong Firman yang menanggis Sujiwti pergi meminta Bantuan pada Hardo yang rumahnya tidak jauh dari rumah Sujiwati.
“Do, Hardo, ini mbak Suji, do buka pintunya” teriak Suji dengan penuh histeris  “Ada apa mbak, ayo masuk dulu” tanya Hardo dengan mata yang memerah karena baru bangu tidur ”Do tolong mbak, di rumah ada banyak preman yang menanyakan mas Karmin, mereka mengancam akan membuuh kami” papar suji dengan menagis tersedu-sedu. “sudah mbak jangan takut mari kita panggil penduduk untuk mengusir mereka”.

Lalu dengan puluhan penduduk dengan dilengkapi golok yang di pimpin oleh Pak RT menuju ke rumah Suji. Namun ketika penduduk itu tiba di rumah Suji preman-preman itu sudah tidak ada yang ada hanya rumah yang berantakan dan kaca-kaca yang pecah. Beberapa karya-karya Karmin yang dirampas.
“Hardo apa sebenarnya yang telah dilakukan masmu, apa dia seorang perampok atau ……,” tanya suji dengan penasaran. ”tidak mbak, mas Karmin orang yang baik, dia juga bukan perampok. Dia sebenarnya adalah seorang aktifis buruh yang terkenal sangat vocal , tapi mbak jangan kuwatir sebab dibelakang mas Karmin ribuann ornag yang selalu mendukungnya “jelas Hardo.

Sejak kejadian itu suji tinggal di rumah Hardo menunggu suaminya pulang, tetapi setelah tiga minggu Karmin tak juga pulang, Karmin pun tak pernah memberikan kabar, hal itu membuat rasa ketakutan Suji semakin menjadi, Firman pun tak henti-hentinya menaakan ayahnya yang dia sangat sayangi. “Ibu, ayah kemana sih bu, kok tidak pulang-pulang, apa ayah benci pada kita ?” tanya Firman dengan muka yang sedih karena ayahnya tidak pulang-pulang. Sejak ayahnya belum pulang Firman yang biasanya ceria kini menjadi murung terus, Firman tidak seceria dulu.

Pada suatu hari, Pak Pos datang ke rumah Karmin membawa surat, tak disangka-sangka ternyata surat itu berasal dari Karmin. Dalam surat itu
“ istri ku Sujiati, apa kabar ? bagaimana kabar buah hati kita, jangan pernah buat dia bersedih karena aku tak ingin dia bersedih utuk ke dua kalinya. Suji sekarang aku berada di Jakarta. Aku belum bisa pulang karena aku sekarang sedang di cari-cari oleh tentara, karena dalam aksi kemarin, aksi yang aku pimpin, pada awalnya berjalan sesuai dengan rencana tetapi tiba-tiba suasana tidak terkendali sehingga menjadi rusuh dan mengakibatkan 5 nyawa polisi tewa tertusuk bamboo runcing kawan-kawan demonstran, sebenarnya masalahnya bukan di situ saja, aku di incar tentara karena sebelumnya kaum buruh yang dipimpin oleh ku berhasill membongkar kasus pelecehan seksual yang dilakukan tentara pada Icih salah satu buruh tekstil di Tangerang pada kasus Tanjung Priok. Para tentara dendam pada ku sehingga kamu lah yang harus menerima akibatnya. Jangalah kamu terlau memikirkan ku, jagalah dirimu baik-baik 

Tunggu lah aku
Istriku aku mencari cahaya kebebasan yang kita dambakan
Istriku janganlah kau menjadi benci pada suami yang belum sanggup menyenangkan keluarga
Jagalah buah hati kita, jagalah untuk ku, buatlah dia menjadi pahlawan, pahlawan kita.
Istriku tunggu aku karena aku  pasti akan pulang menjeput kalian untuk pindah ke istana kebahagian yang belum pernah kalian lihat

Sejak surat pertama dan terakhir, Karmin tak ada kabarnya lagi te,man-temanya pun tidak tahu keberadaanya. Karmin menghilang bersama 3 temanya yang lain.
“BU, ayah kemana, ayah kapan pulang ? Firman kangen ayah” rengek Firman yang semakin hari badanya semakin kurus karena  tak mau makan memikirkan ayahnya. ”ayah,Firman akan menunggu ayah sampai kapan pun”

















Melankolia

Patah hati itu memang menyakitkan. merobek-robek sunyi  menjadi semakin tragis.
aku pernah merasakan itu. Tak perlu tahu kapan itu. tapi rasanya sungguh terasa sampai sekarang.
akhirnya, di antara malam yang semakin sunyi kutulis sajak patah hatiku. Patah hati juga indah ternyata...Jika jatuh cinta itu biasa saja, maka patah hatipun akan biasa saja. Tidak dengan kisah ku yang ini!

Melankolia
sembuhkan luka yang menganga
disejukan oleh kata yang sering kau ucap
hingga kurasa aku benar-benar ingin menyatu dengan Mu, disaksikan malam yang bisu.

dan kini.
tak ada kehangatan itu, membawaku pada ruang sempit lalu mengahabisiku secara perlahan
membawa asa yang sebenarnya palsu dalam gelapnya tawa
disandingkan dengan mimpi-mimpi yang tak pernah hidup

kau hancurkan tawa dan candaku
mengatur aliran nadiku
memuntahkan omong kosong
tak ada arti
hanya kebutaan...
membawaku pada ketersesatan!

lalu kita tidak saling mengenal,
merasakan keasingan meski dulu kita sering menyatu.

sunyi mengebiriku, membawaku pada langit yang mendung!


11 Maret 2010


Dulu hari kita bersama, tapi kini kita punya hari-harinya masing-masing


-->
Benar kata banyak orang. Masa SMA masa yang paling indah. Penyanyi legendaries Crisye dalam lagunya pernah menulis “Tiada masa paling indah... Masa-masa disekolah
Tiada kisah paling indah... Kisah-kasih disekolah”.
Kita masih bisa seenaknya untuk bermain-main. Mempermainkan guru. Masih ingatkah kita dengan pak guru bahasa Indonesia itu? Yang mukanya mirip comedian Doyok atau Pak Iyus yang mengejar-ngejar kita sewaktu dipergoki merokok dibelakang ruang MMC? Atau membuat rancau bu Ida Sejara sampai-sampai tas kita dibawa ke Kantor hanya gara-gara kita tidak masuk kelas Sejarah pada waktu itu. Atau ketika kita menghabiskan waktu tidak ada guru di tangga depan kelas, entah membicarakan film yang terbaru, lawan jenis yang sedang ditaksir atau absurd dengan kegiatannya sendiri. Semua benar-benar terekam dalam pikiranku. Aku ingat dengan apa yang dikatakan Jimmy Multazam, laki-laki eksentrik lulusan IKJ yang juga vokalisnya The Upstair  yang tuangkan dalam judul lagu “Terekam Tak Akan Pernah Mati”.
 Kapan terakhir kali kita berkumpul? Bersama dalam suasana yang akrab. Tentunya denga pakaian putih abu-abu yang lusuh dibasahi keringat-keringat riang. Kita terlalu banyak mengahabiskan waktu untuk bersua dalam suasana yang hangat. Duduk ditangga dekat pintu kelas, disana kita biasa berbagi cerita. Banyak kisah yang terucap dihari-hari yang saat ini pada akhirnya akan kita kenang. Bercerita dalam hembusan angin-angin genit, sungguh indah siang-siang yang kita lalui dalam keriangan itu. Meski para guru geram melihat tingkah kita pada waktu itu. “kalian sudah kelas 3 sekarang. Dimohon untuk keseriusannya untuk belajar” “bentar lagi akan menhadapai Ujian Nasional” begitulah Bu Len, wali kelas kita selalu tidak bosan-bosannya mengingatkan kita. Hem, apakabarnya Bu Len sekarang ya? Beberapa waktu lalu, ketika aku pulang ke Garut, aku dan Reza bersilaturahmi ke rumahnya dan tetap saja ibu guru itu tetap baik dan tidak bosan-bosanya memberikan wejangan pada kami berdua. Aku akan mengingat jasa-jasa Mu. Bu.
Aku baru menyadari. Hari-hari itu sudah terlalu lama. 3 tahun kita telah meninggalkan jejak-jajak lama itu. Pergi mencari mimpi-mimpi yang bertebaran di Perguruan Tinggi kita melanjutkan jenjang pendidikan.  aku merasakan perpiasahan itu sejak bulan Januari 2009 setelah itu bulan-bulan selanjutnya kita dibisukan oleh ujian-ujian yang menurutku hanya sebatas sandiwara yang biasa kita lihat di TV. Bulan-bulan yang pada akhirnya menuntun kita pada senjakala kebersamaan.

Aku sempat bersajak pada waktu itu.

Apa kita masih ingat hari-hari itu, mengingat kita yang menghabiskan waktu belajar untuk bermain sepak bola atau mencari-cari alasan untuk tidur di UKS. Tidak hanya itu, apa kita masih ingat dengan wali kelas kita yang begitu sabar? Sampai-sampai bosan, tak banyak bicara ketika harus menghadapi anak-anak IPS 3 yang nakal-nakal itu. Setiap jam pelajaran berkeliaran entah kemana rimbanya. Ketika masuk kelas badan basah oleh keringat. Sungguh indah hari itu kawan. Kita semua masih begitu polos, tak ada beban seperti sekarang ini. Mungkin bagi mereka yang kerja, beban perkerjaan yang menyita pikirannya. Bagi mereka yang menempuh D3 sedang sibuk-sibuknya bercumbu dengan tugas-tugas akhir. Sedangkan aku terlalu sibuk dengan duniaku yang tentu kawan-kawan semua tau apa yang kulakukan karena sejak SMA kalian sudah menduganya. Semua telah berubah. Berubah dan berubah karena itu hukum alam yang pastia akan terjadi. Kita manusia yang dinamis, tetapi sejarah telah mencatat itu semua.
Apakaha Okim masih seceria dahulu? Memberikan umpatan sarkasnya yang khas? Bekoy yang diam tapi berbahaya? Renghek yang sukanya tebar pesona?atau teman-temanku lainnya?apakah kalian masih seperti dulu? Memahami arti kebersamaan dengan begitu tulus tanpa tendensi yang memisahkan arti perkawanan. Meski kita saling mengumpat dan menghina, kini semua hal itu menjadi bunga-bunga masa lalu yang indah untuk dilihat-lihat kembali.
Kita terbiasanya untuk bercanda dalam kesatiran dan tentunya sedikit sarkas tapi sekali lagi itu indah. Sungguh indah dihari itu. Bernyanyi dikelas yang penuh dengan wajah Bengal, tidak laki tidak jg perempuannya semua begitu kompak dalam kebengalannya. Atau menemukan cinta yang pada akhirnya membuat kelu sampai malam-malam sudah banyak berganti, ya seperti aku ini :D. (aku tidak ingin membahas itu ditulisanku yang ini)
Malam ini, langit begitu cerah dan bulan sabit terlihat begitu manis mengintip dibalik jendela kamarku. Sepertinya malam bersekongkol dengan suasana yang semakin hening ditambah-tambah suara syahdu dari Paul McCartney vokalis sekaligus basit The Beatles dalam lagu “And I lover” semakin menambah kelu kata untuk ditulis.  Tiga tahun telah berlalu, meja kelas, papan, lantai dan semuanya yang dulu menjadi saksi bisu kisah kita tentunya telah berganti dengan yang baru. Kini tak ada canda tawa yang khas dari penghuni kelas IPS 3. Aku dengar dari bapak ibu guru, jaman kita memang yang lebih istimewa. Istimewa nakalnya.  Biarlah waktu mengendap dan biarkan rindu itu lepas tanpa membebani hari-hari kita. Dalam setiap jejak langkah yang kita pijak, aku berharap kebersamaan itu tidak akan pernah luntur.  
Malam semakin melarut, aku besok ada ujian Praktik Pidana. Aku sudahi dulu tulisan pelepas rindu untuk kawan-kawanku di IPS 3 dan seorang yang tak lagi ingin ku kenal dan mengenalku. Selamat malam. Semoga kasih Tuhan bersama dalams setiap hembusan nafas kita
 ketika jarum jam semakin bergerak cepat maka semakin besar pula makna yang kita dapat dalam setiap perjumpaan yang pantas untuk dikenang. Meksi kadang itu menyakitkan jika kita melewatinya dengan tidak tuntas untuk dibicarakan dan dikisahkan

Untuk Amelindaku!


-->
Aku yang berharap dapat bernyanyi  bersamamu dalam sair-sair keindahan malam
Aku yang berharap bisa bersanding dengan mu, tidak dalam bayang-bayang mimpi
Aku yang terus berharap ddan meratap, tak bisa banyak bicara ketika anak kesayangan mentari sudi bersanding dengan ku dalam singgasana malam,,,,
 
Tertawa dalam kebisuan
Menangis dalam bahagia
Dan marah dalam tawa,
Menjadi bait-bait baru
Kisah-kisah yang dulu mati kini hidup kembali

Aku dan kamu tak lagi bermimpi soal  masa depan
Aku dan kamu tidak lagi memuja kesempitan
Aku dan kamu bersanding dalam altar suci
Menyatu dan menyatu,,,
Bicara ddan bicara
Dan berjanji dalam kisah yang lebih suci dari malam-malam sebelumya
Untuk menyambutku dalam istana hati mu

Dan berkata;ah aku pada sang tanda tanya,,,
Karena jawaban telah kusematkan,,,,
Bersama bulan dan bintang ya g tak lagi meredup,,,,
Di malam aku teringat pada mu,,,kecil ku,,,,





*di buat di tengah gelap malam,,untuk dia yng tidak merasa sempurna, tapi INDAH bagi ku....Amelinda Nur Rahmah

Di Subuh, aku bercerita

-->
Subuh tekah kembali menyapa. Meski aku jarang sholat tetapi aku suka dengan suasana subuh begitu tenang dan syahdu. Tetapi yang pasti aku belum juga tidur. Belakang ini terlalu suka kau begadang. Entah apa saja yang aku kerjakan dari mulai main game, kadang membaca, kadang menulis kadang berdiskusi di sekertariat-sekertariatku, kadang pula ngopi dengan kawan-kawan di Bulek. Banyak hak yang ini kunikamti disetiap malam-malam yang larut. Mungkin karena aku suka dengan ketenangan. Aku bisa membayangkan masa-masa yang telah berlalu.
Pukul 03.37 WIB dengan lagu Tamasya menemani malam yang telah larut. Kadang aku rindu dengan Mamah dan Ayahku. Bagaimana keadaannya dirumah? Bagiaman Kopinya apakah sudah memberikan harapan-harapan? Tapi belakang aku kecewa dengan Ayahku yang tak mengingat kelahiranku. Entah apa alasannya karena itu pula aku mempunyai alasan untuk sementara waktu tidak berkomunikasi dengan keluargaku di Garut. Sebentar lagi adikku Krishna akan melanjutkan fase kehidupannya, dia bentar lagi akan kuliah, entah kemana, tetapi aku harapakan ke Jogja, lebih baik di Jember saja. Itu jauhlebih baik karena di Jember pun baik kualitasnya. Entahlah, biarkan dia mandiri dan menentukan pilihan hidupnya, sudah waktunya adikku menginjakan kakinya dengan kesadarannya sendiri tanpa orang lain yang mengaturnya.
Malam telah semakin pekat bentar lagi langit membiru. Sudah tidak terasa aku hampir empat tahun di Jember. Di kota yang dulu telah menjadi saksi kelahiranku. Semakin suka aku dengan Jember. Di  Jember aku dilahirkan. Jember dengan sejuta sejarahnya. Kalimat itulah yang pas aku sematkan pada Jember, karena di kota yang banyak orang tidak mengenalnya, aku memulai awal sejarahku. Dari mulai aku yang tidak mengenal banyak hal soal bagaimana sulitnya hidup diluar rumah itu sampai saat ini aku sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kota Pandalungan ini.
Sudah banyak yang kukenal dari kota ini, banyak daerah yang sudah aku jelajahi. Kampus fakultas hukum telah menjadi saksi bisu bagaimana aku berkemang dari "anak manusia" menjadi "manusia" yang seutuhnya. Meski sampai saat ini aku masih belum bisa mandiri soal uang dan tetap menjadi beban orang tua. Sungguh hal itu sangat tidak menyenangkan dan menjadi beban pikiran. Pastilah, aku anak laki-laki yang pertama, aku punya adik-adik yang juga perlu dibiayai. Jika Ayahku membiayaiku terus sungguh aku tidak kuasa membayangkannya. Dia sudah cukup tua untuk bekerja keras. Sedang aku di usai yang sudah cukup matang masih saja meminta uang dari orang tua. Memang solusinya jelas, yaitu bekerja untuk menghasilkan uang, tetapi pertanyaan pertama yang harus dijawab kerja apa?
Saat ini saja kau masih sibuk dengan proses penempaan yang sangat luar biasa untuk bekalku menghadapi kehidupan yang katanya kejam itu. Di gelap yang mendekati terang ini. Aku hanya ingin berdoa pada TUHAN.”ya Allah, tolonglah berikan kesehatan pada Ayah dan Mamahku. Berikan kemudahan bagi adik-adikku untuk menggapai mimpi-mimpinya, lindungilah mereka dengan kasih MU, dengan kuasaMU yang tiada tara. Ya Allah, maafkan aku selama ini jika aku tidak berada dalam ridha mu. Maafkan atas semua khilafku pada Mu ya Allah. Memang Engkau selalu ada untuk umat manusia. Kadang aku melupkakan itu, entah aku tak punya alasan yang jelas pula YA ALLAH. Ya Allah berikan hambamu ini kelancaran dalam membahagiakan orang tua hamba. Orang tua hamba telah memberikan pengorbanan yang tiada tara bagi anaknya ini, meski anaknya sendiri sering membuatnya sakit hati. “ya Allah tunjukan rahmat MU untuk kedua orang tuaku”amien