Jumat, 24 Juni 2016

Surat Untuk Adikku, Pram.



Saya selalu percaya bahwa memilih adalah bentuk kebebasan yang paling dasar. Apapun pilihan itu, jika memang dilandasi oleh nurani dan logika maka pantas untuk dihargai.

Sejak kecil kami berada dalam jarak yang berbeda. Aku anak pertama, didikan nenek yang segala sesuatu dituruti. Kecilku menjadi anak yang egois, tidak ingin berbagi. Kemudian lahirlah adikku pertama, Pramoedya Krishna, selisihnya hanya tiga tahun denganku. ia lebih banyak mamah dan ayah yang mendidiknya. Tentunya, masa kecil kami berada dalam satu waktu yang tak jauh berbeda. Ketika aku sedang asyik dengan mainan bongkar pasang, miniatur tentara, mobil-mobilan dan lainnya, adikku pun sama. Namun aku tidak ingin berbagi dengannya. Masa kecilku tidak adil untuknya. 

Berpuluh tahun kemudian ketika aku merefleksikan diri setiap malam, menyesal rasanya melakukan itu. Tentu kamu masih ingat bukan, ketika kamu harus menangis karena tidak kuberi pinjam mainan?
Kemudian kita tumbuh besar. Banyak ketidak adilan yang aku lakukan padamu. Aku bahkan sampai lupa apa saja. Kemudian aku cukup menyadari bahwa kamu mengambil jarak padaku. Dari hal kecil, aku Interisti, kamu lebih memilih menjadi penggemar Juventus. Entah siapa yang mengenalkanmu. Kita pernah berseteru saling merobek poster atau aku yang memonopoli apapun dirumah. Disaat itu, aku tak juga begitu sadar. 

Hari semakin beranjak. Kita tumbuh menjadi dewasa. Kamu tumbuh dengan karaktermu yang pendiam dan tenang sedangkan aku tumbuh dengan karakterku yang selalu bersemangat. Masa-masa itu, kita mulai jarang berkomunikasi namun peduli satu sama lain, peduli yang malu-malu. Apa kamu ingat, ketika aku menantang Dinas Pendidikan Garut  soal Ujian Nasional kemudian aku diancam akan dianulir hasil ujiannya. Ketika itu, kamu masih SMP, sebelum berangkat sekolah kamu menyempatkan demo bersama kawan-kawan GmnI di Gedung DPRD Garut. Kamu masih bocah waktu itu namun kamu berani melempar telur ke gedung DPRD, kemudian berdiri diatas meja pimpinan sambil orasi. Saat itu, aku merasa kamu adalah sungguh-sungguh adikku yang tak terima kakaknya terancam. Sekecil itu. Kita memang berbeda dalam segala hal. Namun kita selalu dipertemukan dalam satu ruang. Dari SD sampai kuliah kita satu sekolah. Berbeda dengan Rama. Kalau soal sama-sama GmnI, aku rasa anak Agus Sugandhi akan memilih berproses di GmnI, termasuk Rama.  

Tentang Tujuan Hidup
Soe Hok Gie pernah menuliskan dalam puisinya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu. Ya. Kita berada dalam lingkungan kuliah yang sama. Namun berbeda dalam ruang berproses. Aku memilih berproses di dunia tulis menulis dan literasi. Kamu memilih belajar Teater. Masa kuliah ada waktu dimana persaudaraan biologis kita begitu sumir. Kita sering berjumpa  dilingkungan PKM namun sudah seperti layaknya kawan biasa. Aku tidak merasa kamu adalah adikku, kamu kawanku.
Sampai dititik tertentu, aku mulai khawatir padamu. Pada kuliahmu lebih tepatnya. Kekhawatiran yang diam-diam. Meski tak jarang aku memberikan ceramah panjang padamu, tentunya kamu menanggapinya dengan sangat dingin. Prespektif soal kuliah semakin mempertegas kalau kita berbeda pandangan. Aku meski tidak peduli-peduli amat masih memiliki antusias untuk berprestasi dijalur akademik, sedangkan kamu aku merasanya terlampau santai-santai saja. Hal itu yang seringkali membuatku gusar. Sampai kamu pun jengah dengan ‘kecerewetan yang keterlaluan’. Kamu pun pindah kost. Keadaan tersebut semakin membuat kita jarang bertemu. Satu kampus, satu lingkungan PKM namun bisa tiga bulan sekali bertemunya. Tentu karena aktifitas dan kecuekan satu sama lainnya. Seringkali aku meminta Anggie untuk mengecek keberadaanmu, mencari tau bagaiamana kuliahmu, makanmu bagaiamana. Sekali lagi, aku peduli padamu secara diam-diam. Anggie adalah perantara kedinginan hubungan persaudaraan kita. kamu lebih banyak cerita pada Anggie daripada aku.

Saat aku pergi dari Jember, jika kamu masih ingat kita ngopi terakhir di Cak Wang jam 3 pagi, dua jam sebelum kereta Logawa membawaku meninggalkan Jember. Itulah moment dimana kita bicara lagi dengan kualitas obrolan yang liyan. Aku memposisikanmu sebagai adikku yang telah dewasa dan berhak memilih tujuan hidupnya sendiri. Harus aku akui, selama ini aku terlihat memaksakan kebenaran dari sudut pandangku, sifat memonopoli kebenaran itu masih ada saja. Subuh itu, kuyakinkan diriku, kuluruhkan egoisku padamu. Kita adalah lelaki dewasa.
Subuh itu, aku sungguh-sungguh mempercayakan padamu bahwa kita bicara sebagai dua orang lelaki dewasa yang telah menentukan jalan hidupnya masing-masing. aku meninggalkan Jember untuk meraih passionku dan kamu bertahan di Jember untu belajar seni peran dengan sungguh-sungguh. Benar, tak ada satu setan pun tau akan menjadi apa kelak kita. Dasar itulah yang membuatku harus sadar diri bahwa memang sudah waktunya aku harus percaya padamu, pada adikku yang telah tumbuh dewasa dan merdeka. 

Menjadi Anti Thesis?
 Aku selalu ingin memperbaiki kesalahan masalaluku padamu-seperti yang kutulis diawal: dengan memberikan kepercayaan yang sungguh-sungguh.  Menjadi apapun adalah kebebasan. Namun aku tidak pernah merasa kamu menjadi anti thesisku, kamu berkembang bukan karena kamu menjadi liyan daripada aku, karena memang itu pilihanmu yang dipilih secara logis dan sesuai nuranimu. Kamu telah tumbuh menjadi lelaki, usiamu sudah 22 tahun bukan? Sudah bukan lagi  bocah SMP yang ikut demo digedung DPRD bukan? Tentu, kamu tau apa yang seharusnya kamu lakukan untuk dirimu sendiri dan kebahagian bersama. Keluarga kita adalah keluarga sederhana namun mengajarkan hal luar biasa. Meski ayah bukanlah orang yang demokratis, namun Mamah adalah penyeimbangnya. Ayah mengajarkan kita tentang ketegasan dalam memilih. Pilihan ayah untuk berada di akar rumput gerakan sampai usia matangnya, jika dilihat secara lebih dalam adalah pilihan yang mulia meski kita begitu gusar karena seringkali kita terbaikan. Namun banggalah pada Ayah, ia tetap memilih berada di tengah masyarakat pedesaan, membangun kesadaran komunal, membentuk koperasi kemudian dari desa yang awalnya sebatas menghasilkan pengangguran dan TKI kita desanya tumbuh. Para anak muda bangga menjadi petani, itu ayah kita yang lakukan. Begitu pula mamah, ia menjadi ibu yang lembut. Kamu ingat Tokoh Bunda, Ibu Pramoedya dan Nyi  Ontosoroh di Novel Pramoedya, nah Mamah perpaduaanya. Perempuan Jawa yang kental dengan pesan-pesan dan nilai-nilai Jawa, sabar mendengarkan kekalutan anaknya. Telaten memberikan kasih sayang yang tak berujung namun ia tegas bahwa anak-anaknya tidak boleh menjadi anak yang lemah, harus maju dan berkembang. Itulah orang tua kita. Jika kamu akhirnya menjadi apapun itu, tentu ada pertanggung jawaban, tidak hanya untuk kamu namun untuk Mamah dan Ayah. Bertanggung jawab padanya dan yakinkan mereka. 

Mamah Mencarimu
Mamah selalu khawatir padamu, tentu soal kuliah dan pilihan-pilihan yang kamu pilih. Aku selalu meyakinkan pada mamah, bahwa kamu telah menjadi anak yang dewasa yang berani dan bertanggung jawab atas pilihannya. Kemarin mamah khawatir karena beberapa waktu yang cukup lama kamu sulit dihubungi. Sampai aku harus meminta tolong Anggie lagi untuk mencari tau keberadaanmu dimana. Dalam obrolan keresahan seorang ibu yang sayang pada anaknya, ia bertanya padaku “ apakah adikkmu sudah tepat pilihan (hidupnya)?” “apakah dia ingin lulus kuliah?” “apakah Krishna hidup teratur di Jember? Ketika mamah masak, mamah suka sedih jika inget Krishna. Apa Krihsna sudah makan atau belum. Badannya kurus, rambutnya gondrong. Mamah minta untuk potong rambut, mamah ga berani takut membuat Krishan tidak nyaman, takut merasa diatur-atur ” dan pertanyaan-pertanyaan yang bernuansa peduli yang mendalam. Aku coba mengurai keresahannya,
“Mah, tentu mamah melihat Krishna dari sudut pandang pembanding Aku dan Rama. Itu kesalahannya. Mamah melihat aku sekarang yang sudah bekerja yang mana tentu hidupku jauh lebih teratur daripada ketika kuliah dulu. Sedangkan Rama, tentu karena ia memang punya keinginan kuat yang mana mamah setiap hari melihatnya, sehingga ia pantas masuk UGM dengan tanpa test. Mamah tidak tahu bahwa bagaimaan proses yang dilakukan Krishana di Jember seperti apa, dia akseleratif, menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Persoalan baju yang lusuh, rambut gondrong adalah soal waktu. Aku pun dulu kaya gitu, ga keurus. Kucel ga jelas, terbantu karena aku punya pacar ada yang mengingatkan. Lah Krishna memilih untuk tidak pacaran. Ya sudah. Persoalannya sama aja bukan?
 Dia sudah dewasa dan sudah paham akan pilihannya. Setiap orang punya definisi bahagia yang berbeda-beda. Krishna tentu tidak akan nyaman jika bekerja seperti aku kelak. Karena memang dunianya berbeda begitu pula sebaliknya, aku tidak nyaman jika mengerjakan apa yang Krishna biasa lakukan. Karena apa? Karena sedari awal mamah memberikan kami kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. Konsekuensinya adalah kita harus percaya dan mengkontrolnya saja. Yang paling penting adalah ia bahagia, ia menjadi diri sendiri dan ia merdeka tanpa melepaskan tanggung jawabnya pada diri sendiri dan pada orang-orang yang ia sayang. Kalau soal Kuliah, tentu Krishna ingin kuliah S2, ingin menjadi dosen yang artinya kewajibannya sebagai mahasiswa S1 harus selesai dulu. Persoalannya mengapa mamah khawatir  karena mamah tidak tau dengan detail perkembangannya, karena ia anak yang pendiam. Sedangkan aku tanpa mamah minta cerita aku akan cerita dengan sendirinya. Maka dari itu mah, Berlaku adil sejak dalam pikiran itu sungguh teramat penting. Percayalah ia akan meraih kehebatan yang dia inginkan. Tinggal soal waktu dan keseriusan mernggapainya”
“Mamah lebih tenang. Kalau kamu bilang seperti itu”katanya lebih bersemangat. 

Begitulah Mamah, Krish. Seorang ibu yang sangat wajar jika khawatir. Ia selalu khawatir pada semua anaknya. Tidak saja padamu, padaku pun demikian. Mamah Khawatir ketika aku dua hari tidak mengabarinya. Tidak hanya Mamah, Rama pun menghubungi aku, “mas, Mas Krish kemana ya kok susah sekali dihubungi?” aku bilang hpmu rusak (mungkin) tentu kamu hidup bukan di era perundagian dan berburu bukan? Hubungilah orang dirumah agar lebih teduh. Jika memang bisa sempatkanlah pulang kerumah untuk lebaran atau setelah lebaran. Sebentar lagi rumah akan terasa sepi, hanya ada Mamah dan Ayah. Rama akan pindah ke Jogja pada bulan Juli ini. Tentu, rumah yang dulu riuh, gaduh. Meributkan hal paling konyol seperti berebut bantal, remote Tv, berebut kamar mandi hanya menjadi kenangan kelu Mamah dan Ayah dirumah. Orang tua kita sudah tidak muda lagi, selagi sempat buatlah mereka bahagia. Menceritakan capaian-capaianmu di Jember adalah kebahagiaan yang teramat besar bagi mamah dan ayah. 

Sebelum aku mengakhiri surat terbuka ini, aku ingin meminta maaf padamu atas masa lalu yang tak baik itu. Sungguh aku menyesal. Mamah selalu bilang, harta terbesarnya adalah anak-anaknya. Gulfino Guevarrato, Pramoedya Ardhi Krishna Murti, dan Parasurama Ardhi Tri Pamungkas. Ketiganya telah memilih jalannya masing-masing namun menjadi guyub adalah keharusan karena kewajiban kita membuat mamah dan ayah selalu tersenyum bahagia.

Selamat berproses dan berjuang, adikku. Merdeka!!!

Senin, 30 Mei 2016

Rindu, itu saja!

       Suatu pagi, aku terbangun dengan tidak biasa. Langit Jakarta begitu muram. Aku terkapar  penuh tanya. Apa yang terjadi? Terbangun dengan kondisi sangat lelah. Padahal aku sudah tidur cukup lama, tidak seperti biasanya. Angin musim hujan berhembus, menyelinap melalui Jendela yang sengaja tak tertutup, sejuk sekali. Padahal  Jakarta tak ramah untuk kesejukan, pagi begitu segar. Tetap aku tak berdaya, persendian begitu ngilu, hanya mengedipkan mata sambil sesekali berusaha untuk menggerakan badan. Tetap saja, aku tak kuasa. Kali ini, perutku begitu sakit, melilit seperti ada Pyton yang ingin menerkamku. Melahap diam-diam. Tidak hanya itu saja, kesakitanku pun bertambah parah. Mataku menjadi nanar, lindap melihat cahaya.  Mulutku tak bersuara, lidahku kelu. Ada apa ini? Tidak biasanya aku semenderita ini.
Di pagi yang temaram, tubuhku lunglai tak berdaya. Dihantam pertanyaan yang belum terjawab. Namun aku terus mencari setiap kemungkinan yang bisa memberi jawaban. Coba menenangkan diri. Selang beberapa menit kemudian, mataku mulai bisa melihat dan tanganku mulai bisa digerakan. Kugapai sesegera mungkin Handphone, aku menghubungi Anggie kemudian semuanya kembali menjadi seperti sedia kala. Seperti itulah kiranya metafora ditikam rindu yang datang disaat pagi begitu senyap untuk dikhianati. Rindu harus dikhatamkan kemudian merangkainya kembali, kemudian terjebak pada absruditas ala Sisifus. Disiksa membawa batu ke atas bukit kemudian menggelindingkannya, terus demikian. Sejatinya, Rindu Perkara sederhana namun menjadi rumit jika tak ada cara ampuh menyederhanakannya.

Perkara Rindu Perlu disederhanakan.
Menyederhanakan rindu adalah perkara gampang-gampang sulit. Sesulit bangun pagi dan semudah memasak indomie goreng. Rindu begitu sederhana jika rindu dituntaskan dalam pertemuan, pertemuan memegat rindu yang kronis. Namun menjadi rumit jika bicara waktu dan kesempatan. Selalu ada saja yang menghalangi untuk bertemu, kemudian rindu menjadi liar dan lupa diri.
Beberapa hari ini, aku benar-benar rindu keberadaanmu. Merindukan hari yang begitu biasa di kota kita bersama, Jember. Menikmati suasana Jember setelah hujan, secercah cahaya matahari pertama setelah dibayangi mendung. Menggunakan Vespa tua berwarna Maron, kita menyusuri kota. Bercerita tentang halaman rumah yang dipenuhi bunga dan kucing, menekuri kebersamaan dan sore menjadi  khatam. Selalu demikian.
Aku pun rindu, kita berburu bahan masakan di Pasar Tanjung, kamu tangkas sekali menawar dan memilih bumbu-bumbu. Tanganmu awas menimbang-nimbang kentang mana yang lebih besar, memilih ayam yang masih segar sedangkan aku tak peduli soal hal-hal seperti itu. kemudian kita bereksperimen rasa. Masih ingat masakan pertamamu untukku? Kita memasak udang goreng yang sengaja dibeli dari Puger. Hanya untuk udang saja kita harus membuang banyak waktu ke Puger bukan? Saat itu, kita tak peduli meski panas begitu keji. Sekarang, panas yang begitu keji itu berkecambah menjadi rindu yang bercabang.
Apakah kamu masih mengingatnya juga? Ketika  Aku pernah membuatkan perkedel kentang. Sayang sekali, terlalu lembek dan asin. Sekarang aku sudah lebih jago memasak daripada dulu. Tidak hanya papahmu yang akan jago memasak. Sekarang, aku pun bisa beradu.hehe
Ada 30 tempat yang pernah kita kunjungi selama dua tahun kebersamaan di Jember, seluruh wilayah Tapal Kuda paripurna kita nikmati. Menikmati senja di belakang Gumuk Kerang dan pantai di Situbondo. Air terjun di Tanggul dan Watu Ondo. Tersesat saat menuju Pantai Selatan Jember. Kemalaman dan ban bocor di Gumitir. Terjebak hujan deras di Bande Alit. Kelelahan di Baluran. Kebersamaan kita di Jember begitu sederhana. Petualang kita yang luar biasa.
Kebersamaan di Jember bersamamu membawa ingatanku pada hari-hari itu. Beberapa waktu lalu aku benar-benar seperti sakaw. Tetiba saja, aku ingin kamu hadir disampingku. Menungguku terbangun kemudian menyuguhkan kopi hangat. Tetiba saja, aku ingin dielus-elus kepalaku untuk menenangkan amarahku. Tetiba saja, aku ingin kau menciumku menghentikan segala ceracau, meneduhkanku. Melupakan penat menyadarkan bahwa hanya ada kamu yang selalu menemaniku. Tetiba saja, pagi itu aku menjadi serindu-rindunya padamu. Disiksa rindu memang tak pernah menyenangkan.

Rindu untukmu, Perempuan Revolusionerku*


Selasa, 03 Mei 2016

Kelak, Pagi di 1 Mei




Ada nyanyian di saat pagi belum genap menyatu
Serombongan kemenangan berhasil dicuri
Kemerdekaan itu indah, Tu(h)an.
Muda mudi melepaskan pasungan kuasa lapuk
Saling bercumbu, bertukar warna.
Kita saling mengepal
Berada rapat dalam barisan long march
Menyanyikan pekik revolusi
Si tetua telah ditumbangkan
Untuk mencari hidup dan kemenangan
Sebagai sebuah keniscayaan
Para tetua pulang ke liang kubur
Tak perlu diingat
Apalagi disanjung
Kita berbeda!
Anak-anak yang lahir diatas penderitaan
Kini lupa dan asyik bernyanyi

Perjuangan penghabisan,
bersatu berlawan!
Internasionale,
pastilah di dunia![1]

Tanpa dendam apalagi curiga
Meski memar masih terasa
Kini, tiada kesangsian untuk sebuah harapan:
Kemenangan dan kemerdekaan
Pastilah di dunia
Merdeka


[1] Lirik Internasionale
#30 April 2016, Papandayan yang menggigil

Jumat, 08 April 2016

Panama Paper Tak Butuh Tax Amnesty

Kemelut Tak Pernah Usai
     Terbongkarnya dokumen Panama Papers secara internasional membuktikan bahwa keinginan warga masyarakat untuk menghindari pajak tinggi.  Seperti diketahui Panama Papers adalah sebutan terkait bocornya data ribuan klien perusahaan pengelola investasi asal Panama, Mossack Fonseca. Jutaan dokumen itu memuat mengenai individu dan entitas bisnis yang memanfaatkan perusahaan offshore untuk menghindari pajak dan melakukan pencucian uang.

     Terdapat banyak nama dari Indonesia yang masuk di Panama Paper. Rata-rata Pengusaha dan Politisi. Nama yang cukup bikin tercengang adalah tercatutnya Nama Rini Soemarno. Sebab ia merupakan Menteri BUMN yang notabene merupakan bagian dari Pemerintahan saat ini.

      Respon Pemerintah untuk saat ini masih bertindak secara pasif. Jika melihat negara lain, di Islandia, perdana Menterinya langsung mundur dari jabatannya sebagai bentuk pertanggung jawabannya. Di Inggris, pemerintahan negara tersebut membentuk tim khusus untuk menyelidiki persoalan Panama Paper. Di Panama, telah membentuk komisi Independen untuk mengevaluasi sistem transparansi dan hukum negara tersebut. Sedangkan di Prancis,  memasukan Panama sebagai daftar hitam negara pengemplang pajak.  Di Belahan lain,  Negara Amerika Serikat, mengeluarkan aturan untuk memaksa Bank mencari identitas orang yang bertanggung jawab pada perusahaan palsu (sheel Company) yang menjadi mengatas namakan dokumen di Panama Paper. Artinya pemerintah di banyak negara merespon cepat dengan membuat kebijakan-kebijakan strategis untuk menangani kasus bocornya dokumen Panama Paper. Sedangkan di Indonesia, DPR-RI justru meresponnya dengan langkah lain yang cenderung tidak masuk akal, yaitu mempercepat pembahasan RUU Tax Amnesty. Jelas. Hal tersebut merupakan dua hal yang berbeda. Para pihak yang terlibat dalam Panama Paper merupakan pihak-pihak pendosa negara, pengemplang pajak. negara mengalami kerugian pada tindakannya. Sedangkan Tax Amnesty tak lebih dari karpet merah yang memposisikan pendosa negara sebagai penyelamat negara. Logika macam apa yang coba dihadirkan?

Pandangan Pribadi
       Pertama, Pembasahan Tax Amnesty bukan jalan tengah yang bijak. Seharusnya pemerintah lebih mawas diri. Melihat sistem perpajakan di negara ini telah seberapa efektif dalam menjaga agar tidak melahirkan pengemplang pajak baru. Misalnya koreksi pada sistem perpajakan saat ini, mengapa  ada 2.961 nama dari Indonesia di Panama Paper, yang terindikasi melakukan pengemplangan pajak dan transaksi keuangan ilegal? Oleh karena itu, pembangunan sistem adminsitrasi perpajakan adalah langkah yang lebih konkrit daripada kembali membicarakan Tax Amnesty, ketika Pemerintah dan DPR RI ingin membahas kembali Tax Amnesty, maka seperti dalam peribahasa bagai Anjing mengulangi bangkai, mengulangi lagi perbuatan yang tak patut.

      Kedua, Retooling Kelembagaan Keuangana adalah bentuk konkrit, dalam hal ini Kementrian keuangan sebagai lembaga pengelolaan keuangan di negara ini. Retooling atau melengkapi kembali dalam konteks penguatan kelembagaan, seperti mengganti perundang-undangan yang melemahkan posisi tawar pada wajib pajak, meropisisi sistem pemungutan pajak di negara ini. Jika selama ini Self-assesment dianggap justru memicu potensi pengemplangan pajak. Mengapa tidak membuat kebijakan yang lebih force dalam pemungutan pajak, tentu hal tersebut merupakan kewenangan dari pemerintah, dalam hal ini adalah kemenkeu. Selain itu, Yurisdiksi Perpajakan di Indonesia menjadi kuasa KemenKeu.

        Ketiga, negara Indonesia adalah negara yang memiliki wibawa sebagai pemerintahan dan entitas bangsa. Dalam kaitannya dengan Panama Paper, jika memang ada ‘orang dalam’ Jokowi yang terlibat maka Presiden harus bertindak tegas. Seperti yang jamak diberitakan bahwa Menteri Rini Soemarno merupakan salah satu orang dari 2.961 yang namanya termuat di Panama Paper. Oleh karena itu, akan menjadi gentle man apabila Presiden bisa memberikan sikap dan ketegasannya untuk melakukan membersihkan Kabinet dari menteri-menteri yang tidak bersih.  Apabila Presiden tetap mempertahankn Rini Soemarno maka hal tersebut bukan merupakan tindakan yang bijak dari seorang Presiden. jika Jokowi tetap bersikukuh mempertahankan Rini meski skandal Panama Papers melibatkan Menteri BUMN tersebut, artinya Presiden telah mengorbankan nurani, rakyat, bangsa dan negara?
         Keempat, seharusnya yang bereaksi bukan para politisi di DPR-RI yang reaksioner menganggap Tax Amnesty sebagai jalan keluar. Jika memang pihak-pihak yang terlibat dengan Panama Paper merupakan bagian dari pendosa Pajak negara ini, maka jelas bahwa konsekuensinya adalah hukuman. Oleh karena itu, lembaga penegakan hukum lah yang seharusnya meresponnya dengan cepat. KPK, Kejaksaan dan Kepolisianlah yang seharusnya menangani persoalan tersebut. Karena tidak hanya terindikasi pengemplangan pajak namun juga tindak pidana pencucian uang atau Economy Underground atau kegiatan ekonomi ilegal seperti bisnis terlarang.

      Negara Indonesia terus diterpa prahara, dari mulai hal yang tidak penting, setidak penting rombongan genit yang berfoto kemayu di bawah bunga Sakura dan para rombongan kakap pengemplang pajak yang tak tau malu namanya termuat di Panama Paper. Sikap kita sebagai warga negara yang (merasa) baik tentunya harus melihat persoalan tersebut sebagai proses pendewasaan berbangsa dan bertanah air.

      Semoga kita menjadi warga negara yang tidak reaksioner menyikap persoalan kebangsaan yang banal dan degil tersebut.
Merdeka!!!

Rabu, 06 April 2016

Jember adalah makna bukan kata



         
      Mengapa saya kuliah di Jember? Pertanyaan itu semacam penolakan diri saya ketika menyadari bahwa Universitas Jember (UNEJ) menerima lamaran pendidikan yang saya ajukan melalui program PMDK. Sebelumnya saya ingin masuk UGM atau paling tidak UNDIP. Semuanya sama, memilih fakultas Hukum sebagai pilihan pertama dan Hubungan Internasional sebagai pilihan kedua.

Suatu pagi di tahun 2009, saya menerima kabar dari Guru BK bahwa berkas saya lolos PMDK di Unej. Unej bukanlah tempat yang asing bagi saya, apalagi fakultas Hukumnya. Saya lahir di Jember, tepatnya di klinik Margirahayu, dekat TK Bayangkara.  Ayah pernah kuliah disana periode tahun 1981-1988an. Sampai saat ini ijasahanya tidak juga diambil. Hem,lupakan. saya tidak sedang membicarakan ayah dalam tulisan kali ini.

Saya memikirkan, kenapa saya harus kuliah di Unej? Sempat ada penolakan yang cukup lama, karena setelah tahu saya mendapat PMDK di Jember, pintu menuju UGM di tutup oleh Ayah. Saya tidak mendapat ijin untuk ikut UM UGM, Universitas harapan, sampai detik saya menulis. Hubungan saya dan ayah pun tidak baik. Sangat tidak baik, karena saya menyimpan bara amarah.

 Saya pun berangkat ke Jember untuk daftar ulang. Sekedar mengingatkan, bahwa PMDK jalur tanpa test hanya mengandalkan prestasi dan nilai rapot. PMDK pun tidak menyahihkan bahwa saya berprestasi, saya lebih suka menyebutnya sebagai keberuntungan karena saya tidak perlu sibuk ikut SMPTN dan keribetan ujian lainnya. Keberuntungan itu baru saya sadari beberapa tahun setelah hari penuh kemurungan. 

Jember bukanlah kota pilihan. Sepi, aneh, dan agak norak. Apalah kota itu, pikir seorang bocah waktu itu. Tak ada daya tarik yang membuat saya memilih Jember sebagai alasan yang mutlak, kalau bukan karena saya yang  tidak diberi kesempatan bertarung di UGM. Tidak ada alasan lain selain itu. Hem, 2009 telah melampaui batas waktu yang liyan.

Tentang Jember dan rindu yang tak bisa dibagi

Tahun 2009 dan segala penolakan pada Jember telah lingsir, menjauh sampai dititik saat ini saya menulis diruang kosong, hanya meja, kursi dan pendingin ruangan, tidak lagi di Jember namun di Jakarta.  Dulu, hampir tiga bulan sekali saya pulang ke Garut dan merasa bahwa Jember bukanlah tempat saya berada. Saya ingin ke UGM. Itu pikiran keruh yang akhirnya berdampak pada hasil ujian saya sangat buruk. Disemester pertama, dua mata kuliah tidak bisa ikut ujian. Mata kuliah Bahasa Belanda dan Pengantar Sosiologi Hukum. IPK 2,14 menjadi konsekuensi paling logis. Enam bulan saya berkutat dengan rasa amarah pada ayah. Kenapa saya tidak diberi ijin untuk mencoba ke UGM, urusan tidak lolos, tak jadi soal. Lebih penting saya bisa merasakan pertarungan untuk memperebutkan satu kursi di Fakultas Hukum UGM, pikir saya waktu itu. Kalaupun berangkat sendiri, saya tak punya cukup logistik. Uang jajan saya terlalu pas-pasan sebagai bekal nekad saya ke Jogjakarta. Alasan lainnya, mamah selalu menahan amarah saya dan memberikan wejangan bijak. Periode 2009 sampai 2010 saya masih belum menyadari bahwa Jember adalah satu keberuntungan bagi saya. 

         Tahun 2016, dimana banyak proses telah saya lewatkan dari kota itu. Penolakan saya pada Jember telah kalis begitu saja dimakan aktifitas. Lebih tepatnya aktifitas di Organisasi, GmnI dan UKPKM Tegalboto adalah rumah saya waktu itu. Saya berproses menemukan natalitas untuk kedua kalinya dan dibaptis di sungai Bedadung, sampai penolakan pada Jember menjadi cecar rindu yang entah sampai kapan harus ditahan. Saya benar-benar menyukai Jember, sesederhana saya mencintai kebebasan. 

Jember bukan perkara kota di hampir ujuang timur pulau Jawa. Jember bagi saya bukan sebatas geospasial. Sekali lagi, Jember adalah penemukan ‘aku’ yang tak sempat saya temukan di kota tempat saya tinggal, Garut. Saya bertemu dengan perebutan nalar, kuasa sampai pemaknaan. Sederhananya, saya belajar banyak dari kota Jember. Belajar tidak hanya bunyi Pasal-pasal da azas di fakultas Hukum, saya menemukan makna di Jember.

Tak heran, hampir tiga bulan sekali saya berkunjung ke Jember, meski saat ini tempat saya berproses ada di Jakarta. Jakarta-Jember hanya batasan ruang saja namun harapan saya kelak, saya ingin kembali ke kota itu. Entah kapan, entah berapa banyak rambut putih yang menghiasai kepala, entah seberapa lantang saya berteriak, entah seberapa lemah saya berjalan. Pusara saya ingin damai di Jember. 

Jember adalah batas tipis saya dan rindu, dimana saya menemukan rindu pada hal yang absurd. Akan jelas ketika saya rindu Anggie, ia pasangan saya. Namun rindu saya pada Jember seperti ke-absurd-an yang mencandu. Saya rindu jalanan berlubang di Jalan menuju Antirogo, mayang, Tanggul, Panti, Puger, Jenggawah, Kencong dll, saya rindu suasana sehabis hujan di Jember, saya rindu harum udara Jember, saya rindu celetukan dan logat unik dari penduduk Jember, saya rindu pada yang tak terdefinisi oleh inderawi. Sekali lagi, karena saya rindu pada Jember sebisa-bisanya dan sehormat-hormatnya karena “Jember adalah makna bukan kata”. Mungkin saya bukanlah yang pertama atau satu-satunya . banyak kawan yang seperti saya.

Oleh karena itu, biarkan aku merindukan Jember dengan sederhana, sederhana aku menulis rindu pada Jember.
Titip rindu untuk langit Jember.