Kamis, 29 Maret 2012

Kukenal kau diwaktu yang cuman 15 menit


-->
Kukenal kau diwaktu yang cuman 15 menit

Awalnya tak ada yang kukenal darinya, hanya memandanginya dari kejauhan. “Siapa perempuan itu? hadir di acara seminar yang biasanya diisi oleh orang-orang pergerakan?” gumamku dalam hati. Kuberanikan diriku untuk mendekati kursi disebelahnya. aku jelas masih mengingat bagaimana dada terasa terhantam godam. Berdebar keras sekali. Seperti menanti saat yang tepat untuk mengangkat tanganku lalu berkenalan. Kau seperti tak tahu debar itu. Kau terus saja mengulum senyum, sambil sesekali menebar tawa yang renyah. Ah, tanganku sampai dingin ketika menjabat erat tangannya. Dengan ragu-ragu dan kikuk  aku menatap matanya, takutnya dia mengira orang iseng dari mana ini? Tapi Ku pandangi wajahnya yang penuh tanya melihat orang asing yang berambut gondrong, acak-acakan pula. Benar-benar kontras dengan pipimu yang tirus itu, meningkahi rambutmu yang panjang berombak tergerai mungkin ini keindahan yang nyata itu. Tapi Tuhan memang adil, setiap usaha dibalas dengan hasil yang mengembirakan.
Siang itu kami habiskan untuk berbicara. Sekedar memindahkan waktu, dimana sang pintu takdir terbuka, tapi kami enggan untuk memasukinya. Dimana aku seakan segan menjabat tanganmu, apalagi menatap matamu.Tak banyak yang aku bicarakan pada waktu itu hanya sebatas hal-hal biasa, karena memang tak pantas rasanya jika baru berkenalan sudah bertanya macam-macam, ah dikira sedang introgasi saja nanti. Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus berdetak. Sementara aku juga terus memaki pembicara didepan yang terus  saja meraungkan suara di speaker aktif mereka. Sangat mengganggu. Aku sedang mengembalikan ketenanganku yang tadi hilang setelah jabat tangan itu. Lalu detak jam benar-benar memisahkan pertemuan singakt itu, kerahmahannya itu sungguh membuatku menyesali waktu yang kaku, tidak bisa mentolenransi keadaan. Setelah itu, aku kelu untuk berkata-kata. Wajahnya perlahan tapi pasti masuk pada sel-sel otak. Ah efek apa ini!
Tak perlu kusebut namanya sapa, tak perlu juga dia berasal dari mana. biarkan dia menjadi misteri dari siang itu. Pertemuan yang begitu singkat itu mengubah hari yang pada awalnya biasa menjadi luar biasa. Sejak saat itu pula aku mencoba mencari tahu siapa perempuan kesayangan mentari itu. Maka akhirnya aku berusaha keras untuk menelusuri tiap jengkal rumah reyot bernama ingatan. Berusaha mengingat lagi apa yang harus aku perbuat untuk kenal lebih jauh dengan nya.mencari cara yang tepat. Sampai pada akhirnya seorang sahabatku ternyata kenal dengannya. Aih, sekali lagi Tuhan berperan dalam kemudahan ini.
Lantas sesuatu bernama kimia kapan mempertemukan kami kembali. Bukan, aku tidak berbicara mengenai pelajaran kimia, dimana sang mantan guruku adalah seorang perempuan dewasa yang matang, yang bisa membuat aku pergi ke WC hanya untuk sekedar menghabiskan isi lotion. Kimia itu adalah sesuatu yang dinamakan hubungan kimia. Orang barat menyebutnya chemistry. 
Setidaknya membicarakan yang jauh lebih panjang dari pertemuan pertama. Tapi asa ku tidak terlalu besar pada pertemuan itu. Jelas, diminta nomer HP nya saja dia menolak dengan begitu anggunnya. Sepertinya memang caraku yang terlihat sangat bodoh sehingga pantas untuk tidak diberi nomer itu.
Tak ada maksud apa-apa?, bohong rasanya jika naluriku sebagai anak Adam yang bertemu Hawa tidak bergejolak. Tapi  Aku sepertinya harus menahan diri, karena dia sudah berpunya. Ah, tak apalah segala yang bersungguh-sungguh memang akan berwujud. Tuhan punya cerita yang berbeda, biarkan takdir saja yang menuntunku.
Sial, sepertinya lagu “When You Love Somenone” dari Endah N Rhesa sedang mengejekku berkompromi dengan malam yang bertebaran bintang. Tidak, tidak. Aku hanya ingin berbicara banyak dengannya dengan tendensi yang lebih nyaman tidak terjebak rasa-rasa yang bikin aku meracau. Biarkan malam yang memberi kabar baik itu. Mengajariku untuk besabar.
Ketika aku menulis catatan  ini mungkin kau sedang tidur terlelap menjejaki setiap mimpi. Jika memang tulisan ini bisa terhubung dengan mimpimu aku hanya ingin mengatakan “siang tak pernah seindah siang itu”
“When You someone just be brave to say”, suara Endah benar-benar sedang mengejekku tapi aku tidak bergeminng menghiraukan syair-syair syahdu itu. Aku tidak ingin menyebut rasa itu dengan nama cinta, aku hanya ingin mengatakan tentang keindahan yang nyata itu, tentang perempuan yang aku yakin kesayangan dari mentari.  Selamat pagi semoga kau suka baca tulisan yangku ini. Jika kau suka, kirim message difacebooku.:D

Minggu, 25 Maret 2012

Dulu ada tugas di SMA kelas satu suruh buat cerpen. Ini belajar pertama dan terakhir kalinya aku nulis cerpen. Meski jelek, aku melihatnya ini sebagai proses aku belajar!!



TUGAS BAHASA INDONESIA

-->
 SMAN 2 TAROGONG GARUT
Cerpen:
as: X
“akan Ku tunggu ayah sampai kapan pun

Karya:Gulfino Guevarrato




”Ibu Firman ingin sekolah!!!” rengek Firman sambil bermanja-manja.
“iya…nanti kalau Firman sudah cukup umur, Firman pasti sekolah”jawab sang ibu dengan penuh kasih saying.
“Ibu,ibu kenapa sih banyak yang sekolah ?”
”Ibu sekolah penting enggak ?”
“kalau enggak sekolah gimana kalau tidak sekolah?”
“Ibu Firman sering lihat di TV, kalau katanya sekolah itu mahal, bener tidak bu ?”
Rentetan pertanyaan itu tak bisa ibu firman jawab. Ibu Firman hanya bisa berkata “Iya,iya,iya, sudah sayang jangan banyak nanyak ibukan lagi masak nanti masakanya gosong. Sana kamu main, tuh temen-temen kamu lagi main di luar”
Dengan wajah yang cemberut karena pertanyaan-pertanyaannya diacuhkan Firman pergi keluar untuk bermain bersama-sama dengan teman sebayanya.
Firman adalah anak berusia 4,5 tahun yang memiliki rasa penuh ingin tahu, dan dia anak yang ceria.

“Assalamualaikum”
“walaikum salam” teriak Firman sambil berlari ingin di gendong ayahnmya
“Ayah capek ya ?” tabya Firman denga manjanya
“Iya, ayah capek banget”
“Ayah mau Firman pijit ?”
“Boleh, tapi Firman enggak keberatan kan ?”
“Firman, ayahmu sedang capek” kata ibu
” Mas mau minum kopi atau teh ?”tawar sang istri         dengan penuh kasih saying
“teh yang manis”jawab ayah
Ayah Firman bernama Karim dia adalah kepala kariyawan pabrik tekstil yang selalu bertindak bijaksana terhadap kariyawan-kariyawannya sehingga dia disenangi kariyawan, selain sebagai kariawan Karim pun berprofesi sebagai penyair puisi. Sedangkan ibu Firman , seorang ibu rumah tangga. Dia bernama Sujiati. Keluarga ini, keluarga yang sangat bahagia dengan anak yang pintar dan soleh.

“Bu, besok kita ajak Firman rekreasi ke Parangtritis”
“boleh yah, kasihan dia sudah lama tidak diajak kemana-mana”
“Yah bahkan akhir-akhir ini Firman minta ingin sekolah tapi keunagan kita tak mencukuopi untuk menyekolahkan Firman ke TK”cerita sang ibu sambil mengelus-elus rambut anaknya yang tertidur lelap
keesokan harinya
“asik!!!!!! Hore!!!!!!!!!! aku rekreasi ke Parangtritis”
“Ibu cepetan, Ayah sudah siap nih.
Tiba-tiba Hand phone  karmin berbunyi
“Halo, ada apa Bud, kok dengaren nelpon!!??”
“Mas, kami semua membutuhkan mas Karmin. Di Jakarta sedang genting. Semenjak kematian Marsinah , teman-teman buruh akan melakukan aksi solidaritas tapi kami kurang mengerti susuanan strategi yang baik. Teman-teman aktifis buruh yang lain menganjurkan mas Karmin untuk ambil bagian. Kami sangat mohon agar mas Karmin bisa datang. Kami p[un sudah mengundang organisasi buruh seluruh Indonesia. Nah kalau saya tunggu mas Karmin besok ?” Papar Budi sahabat karib Karmin.
“Tapi Bud saya masih banyak pekerjaan,dan………..” “sudahlah mas jangan pikirkan yang lain-lain, nanti Hardo yang akan menjaga keluarga mas, dia bisa diandalkan kok mas”potong Budi. “baiklah besok atau lusa saya akan berangkat ke Jakarta”
“ok. Saya tunggu kedatangan mas Karmin, MERDEKA, salamuallaikum!!!”
karena telpon dari Budi acara rekreasi ke pantai Parangtritis terpaksa di batalkan karena Karmin akan menghubungi teman-temanya yang lain untuk diajak ke Jakarta. “Firman, tadi ayah dapat telpon dari penjaga pantai, katanya di Parangtitis sedang terjadi badai jadi acara rekreasi ke parangtrtitis terpaksa dibatalkan” papar ayah dengan penuh perasaan bersalah
“Ayah bohong, mana buktinya sekarang kan ternag gini man mungkin terjadi badai, ayah selalu bohong pada Firman, Firman benci pad ayah” jawab Firman sambil menangis tersedu-sedu
“ayah tidak bohong Firman, kalau kita memaksakan ke sana, di sananya pun tidak nyaman karena terjadi badai, dan dari bantul ke parangtritis kan jauh jadi cuaca di sini dengan disana berbeda” papar sang ibu dengan penuh bijaksana.

“Bu, ayah berangkat dulu ya, jaga Firman dengan sebaik-baiknya, ayah mungkin hanya 2 mingguan, nanti kalau ada apa panggil saja Hardo, kalau kekurangan uang minta saja pada dia.”
“Fiman, Firman masih marah pada ayah?”
Firman masih saja diam
“nanti kalau ayah sudah pulang dari Jakarta, ayah akan bawa uang yang banyak, nah nanti Firman boleh minta apa saja dan nanti Firman akan ayah sekolahkan< Firman maukan sekolah ?”
“Iya, Firman ingin sekolah, bener ayah enggak berbohong ?”
“bener ayah enggak bohonh, ayah janji”
“Sujiwati istri ku jaga baik-baik dirimu, doakan suami mu ini agar selalu dilindungi oleh ALLAh”
“Iya mas, hati-hati jag baik-baik dirimu
“Firman anakku jangan kamu buat susah ibumu, kamu sekarang sudah besar, tunjukan pada ayahmu ini kalau kamu bisa menjaga Ibumu dengan baik”
“iya ayah Firman janji,. Firman akan menjaga ibu dengan baik” janji Firman dengan penuh percaya diri
“Nah ini putra ayah” “sudah Suji jangan menangis, kereta sudah mau berangkat, ayah berangkat dulu ya”

Pada suatu malam dengan rintik gerimis menemani keheningan malam. Terdengar suara mobil Jeep memecah keheningan malam. Mobil itu terparkir di depan rumah Karmin. Dari mobil itu keluar beberapa orang berbadan besar menggunkan jaket kulit berwarana hitam.” Heh keluar yang ada di rumah ini!!!!!” teriak salah seornag dari mereka. “sapa ya, tunggu sebentar ??” teriak suji denagn penuh ketakutan.
“Mana Karmin ???, kami butuh dia. Cepat katakan dia kemana???!!!” Tanya salah satu dari jaket hitam itu
“maaf sebelumnya dari mana ya bapak-bapak ini ??” Tanya suji dengan sopan
“sudahlah jangan banyak tanya, sekarang mana si Karmin itu???!!!. Kalau kamu dan anak kamu mau selamat cepat katakana kemana si Karmin bersembunyi !!!!??” ancamnya
“baik, baik dia berada di rumah temanya di RT sebelah, bentar saya panggilkan dia, bapak-bapak ini tunggu sebentar di sini. Silahkan duduk Pak” dengan penuh ketakutan. “sudah cepetan panggil si Karmin”
Denhgan menggendong Firman yang menanggis Sujiwti pergi meminta Bantuan pada Hardo yang rumahnya tidak jauh dari rumah Sujiwati.
“Do, Hardo, ini mbak Suji, do buka pintunya” teriak Suji dengan penuh histeris  “Ada apa mbak, ayo masuk dulu” tanya Hardo dengan mata yang memerah karena baru bangu tidur ”Do tolong mbak, di rumah ada banyak preman yang menanyakan mas Karmin, mereka mengancam akan membuuh kami” papar suji dengan menagis tersedu-sedu. “sudah mbak jangan takut mari kita panggil penduduk untuk mengusir mereka”.

Lalu dengan puluhan penduduk dengan dilengkapi golok yang di pimpin oleh Pak RT menuju ke rumah Suji. Namun ketika penduduk itu tiba di rumah Suji preman-preman itu sudah tidak ada yang ada hanya rumah yang berantakan dan kaca-kaca yang pecah. Beberapa karya-karya Karmin yang dirampas.
“Hardo apa sebenarnya yang telah dilakukan masmu, apa dia seorang perampok atau ……,” tanya suji dengan penasaran. ”tidak mbak, mas Karmin orang yang baik, dia juga bukan perampok. Dia sebenarnya adalah seorang aktifis buruh yang terkenal sangat vocal , tapi mbak jangan kuwatir sebab dibelakang mas Karmin ribuann ornag yang selalu mendukungnya “jelas Hardo.

Sejak kejadian itu suji tinggal di rumah Hardo menunggu suaminya pulang, tetapi setelah tiga minggu Karmin tak juga pulang, Karmin pun tak pernah memberikan kabar, hal itu membuat rasa ketakutan Suji semakin menjadi, Firman pun tak henti-hentinya menaakan ayahnya yang dia sangat sayangi. “Ibu, ayah kemana sih bu, kok tidak pulang-pulang, apa ayah benci pada kita ?” tanya Firman dengan muka yang sedih karena ayahnya tidak pulang-pulang. Sejak ayahnya belum pulang Firman yang biasanya ceria kini menjadi murung terus, Firman tidak seceria dulu.

Pada suatu hari, Pak Pos datang ke rumah Karmin membawa surat, tak disangka-sangka ternyata surat itu berasal dari Karmin. Dalam surat itu
“ istri ku Sujiati, apa kabar ? bagaimana kabar buah hati kita, jangan pernah buat dia bersedih karena aku tak ingin dia bersedih utuk ke dua kalinya. Suji sekarang aku berada di Jakarta. Aku belum bisa pulang karena aku sekarang sedang di cari-cari oleh tentara, karena dalam aksi kemarin, aksi yang aku pimpin, pada awalnya berjalan sesuai dengan rencana tetapi tiba-tiba suasana tidak terkendali sehingga menjadi rusuh dan mengakibatkan 5 nyawa polisi tewa tertusuk bamboo runcing kawan-kawan demonstran, sebenarnya masalahnya bukan di situ saja, aku di incar tentara karena sebelumnya kaum buruh yang dipimpin oleh ku berhasill membongkar kasus pelecehan seksual yang dilakukan tentara pada Icih salah satu buruh tekstil di Tangerang pada kasus Tanjung Priok. Para tentara dendam pada ku sehingga kamu lah yang harus menerima akibatnya. Jangalah kamu terlau memikirkan ku, jagalah dirimu baik-baik 

Tunggu lah aku
Istriku aku mencari cahaya kebebasan yang kita dambakan
Istriku janganlah kau menjadi benci pada suami yang belum sanggup menyenangkan keluarga
Jagalah buah hati kita, jagalah untuk ku, buatlah dia menjadi pahlawan, pahlawan kita.
Istriku tunggu aku karena aku  pasti akan pulang menjeput kalian untuk pindah ke istana kebahagian yang belum pernah kalian lihat

Sejak surat pertama dan terakhir, Karmin tak ada kabarnya lagi te,man-temanya pun tidak tahu keberadaanya. Karmin menghilang bersama 3 temanya yang lain.
“BU, ayah kemana, ayah kapan pulang ? Firman kangen ayah” rengek Firman yang semakin hari badanya semakin kurus karena  tak mau makan memikirkan ayahnya. ”ayah,Firman akan menunggu ayah sampai kapan pun”

















Melankolia

Patah hati itu memang menyakitkan. merobek-robek sunyi  menjadi semakin tragis.
aku pernah merasakan itu. Tak perlu tahu kapan itu. tapi rasanya sungguh terasa sampai sekarang.
akhirnya, di antara malam yang semakin sunyi kutulis sajak patah hatiku. Patah hati juga indah ternyata...Jika jatuh cinta itu biasa saja, maka patah hatipun akan biasa saja. Tidak dengan kisah ku yang ini!

Melankolia
sembuhkan luka yang menganga
disejukan oleh kata yang sering kau ucap
hingga kurasa aku benar-benar ingin menyatu dengan Mu, disaksikan malam yang bisu.

dan kini.
tak ada kehangatan itu, membawaku pada ruang sempit lalu mengahabisiku secara perlahan
membawa asa yang sebenarnya palsu dalam gelapnya tawa
disandingkan dengan mimpi-mimpi yang tak pernah hidup

kau hancurkan tawa dan candaku
mengatur aliran nadiku
memuntahkan omong kosong
tak ada arti
hanya kebutaan...
membawaku pada ketersesatan!

lalu kita tidak saling mengenal,
merasakan keasingan meski dulu kita sering menyatu.

sunyi mengebiriku, membawaku pada langit yang mendung!


11 Maret 2010


Dulu hari kita bersama, tapi kini kita punya hari-harinya masing-masing


-->
Benar kata banyak orang. Masa SMA masa yang paling indah. Penyanyi legendaries Crisye dalam lagunya pernah menulis “Tiada masa paling indah... Masa-masa disekolah
Tiada kisah paling indah... Kisah-kasih disekolah”.
Kita masih bisa seenaknya untuk bermain-main. Mempermainkan guru. Masih ingatkah kita dengan pak guru bahasa Indonesia itu? Yang mukanya mirip comedian Doyok atau Pak Iyus yang mengejar-ngejar kita sewaktu dipergoki merokok dibelakang ruang MMC? Atau membuat rancau bu Ida Sejara sampai-sampai tas kita dibawa ke Kantor hanya gara-gara kita tidak masuk kelas Sejarah pada waktu itu. Atau ketika kita menghabiskan waktu tidak ada guru di tangga depan kelas, entah membicarakan film yang terbaru, lawan jenis yang sedang ditaksir atau absurd dengan kegiatannya sendiri. Semua benar-benar terekam dalam pikiranku. Aku ingat dengan apa yang dikatakan Jimmy Multazam, laki-laki eksentrik lulusan IKJ yang juga vokalisnya The Upstair  yang tuangkan dalam judul lagu “Terekam Tak Akan Pernah Mati”.
 Kapan terakhir kali kita berkumpul? Bersama dalam suasana yang akrab. Tentunya denga pakaian putih abu-abu yang lusuh dibasahi keringat-keringat riang. Kita terlalu banyak mengahabiskan waktu untuk bersua dalam suasana yang hangat. Duduk ditangga dekat pintu kelas, disana kita biasa berbagi cerita. Banyak kisah yang terucap dihari-hari yang saat ini pada akhirnya akan kita kenang. Bercerita dalam hembusan angin-angin genit, sungguh indah siang-siang yang kita lalui dalam keriangan itu. Meski para guru geram melihat tingkah kita pada waktu itu. “kalian sudah kelas 3 sekarang. Dimohon untuk keseriusannya untuk belajar” “bentar lagi akan menhadapai Ujian Nasional” begitulah Bu Len, wali kelas kita selalu tidak bosan-bosannya mengingatkan kita. Hem, apakabarnya Bu Len sekarang ya? Beberapa waktu lalu, ketika aku pulang ke Garut, aku dan Reza bersilaturahmi ke rumahnya dan tetap saja ibu guru itu tetap baik dan tidak bosan-bosanya memberikan wejangan pada kami berdua. Aku akan mengingat jasa-jasa Mu. Bu.
Aku baru menyadari. Hari-hari itu sudah terlalu lama. 3 tahun kita telah meninggalkan jejak-jajak lama itu. Pergi mencari mimpi-mimpi yang bertebaran di Perguruan Tinggi kita melanjutkan jenjang pendidikan.  aku merasakan perpiasahan itu sejak bulan Januari 2009 setelah itu bulan-bulan selanjutnya kita dibisukan oleh ujian-ujian yang menurutku hanya sebatas sandiwara yang biasa kita lihat di TV. Bulan-bulan yang pada akhirnya menuntun kita pada senjakala kebersamaan.

Aku sempat bersajak pada waktu itu.

Apa kita masih ingat hari-hari itu, mengingat kita yang menghabiskan waktu belajar untuk bermain sepak bola atau mencari-cari alasan untuk tidur di UKS. Tidak hanya itu, apa kita masih ingat dengan wali kelas kita yang begitu sabar? Sampai-sampai bosan, tak banyak bicara ketika harus menghadapi anak-anak IPS 3 yang nakal-nakal itu. Setiap jam pelajaran berkeliaran entah kemana rimbanya. Ketika masuk kelas badan basah oleh keringat. Sungguh indah hari itu kawan. Kita semua masih begitu polos, tak ada beban seperti sekarang ini. Mungkin bagi mereka yang kerja, beban perkerjaan yang menyita pikirannya. Bagi mereka yang menempuh D3 sedang sibuk-sibuknya bercumbu dengan tugas-tugas akhir. Sedangkan aku terlalu sibuk dengan duniaku yang tentu kawan-kawan semua tau apa yang kulakukan karena sejak SMA kalian sudah menduganya. Semua telah berubah. Berubah dan berubah karena itu hukum alam yang pastia akan terjadi. Kita manusia yang dinamis, tetapi sejarah telah mencatat itu semua.
Apakaha Okim masih seceria dahulu? Memberikan umpatan sarkasnya yang khas? Bekoy yang diam tapi berbahaya? Renghek yang sukanya tebar pesona?atau teman-temanku lainnya?apakah kalian masih seperti dulu? Memahami arti kebersamaan dengan begitu tulus tanpa tendensi yang memisahkan arti perkawanan. Meski kita saling mengumpat dan menghina, kini semua hal itu menjadi bunga-bunga masa lalu yang indah untuk dilihat-lihat kembali.
Kita terbiasanya untuk bercanda dalam kesatiran dan tentunya sedikit sarkas tapi sekali lagi itu indah. Sungguh indah dihari itu. Bernyanyi dikelas yang penuh dengan wajah Bengal, tidak laki tidak jg perempuannya semua begitu kompak dalam kebengalannya. Atau menemukan cinta yang pada akhirnya membuat kelu sampai malam-malam sudah banyak berganti, ya seperti aku ini :D. (aku tidak ingin membahas itu ditulisanku yang ini)
Malam ini, langit begitu cerah dan bulan sabit terlihat begitu manis mengintip dibalik jendela kamarku. Sepertinya malam bersekongkol dengan suasana yang semakin hening ditambah-tambah suara syahdu dari Paul McCartney vokalis sekaligus basit The Beatles dalam lagu “And I lover” semakin menambah kelu kata untuk ditulis.  Tiga tahun telah berlalu, meja kelas, papan, lantai dan semuanya yang dulu menjadi saksi bisu kisah kita tentunya telah berganti dengan yang baru. Kini tak ada canda tawa yang khas dari penghuni kelas IPS 3. Aku dengar dari bapak ibu guru, jaman kita memang yang lebih istimewa. Istimewa nakalnya.  Biarlah waktu mengendap dan biarkan rindu itu lepas tanpa membebani hari-hari kita. Dalam setiap jejak langkah yang kita pijak, aku berharap kebersamaan itu tidak akan pernah luntur.  
Malam semakin melarut, aku besok ada ujian Praktik Pidana. Aku sudahi dulu tulisan pelepas rindu untuk kawan-kawanku di IPS 3 dan seorang yang tak lagi ingin ku kenal dan mengenalku. Selamat malam. Semoga kasih Tuhan bersama dalams setiap hembusan nafas kita
 ketika jarum jam semakin bergerak cepat maka semakin besar pula makna yang kita dapat dalam setiap perjumpaan yang pantas untuk dikenang. Meksi kadang itu menyakitkan jika kita melewatinya dengan tidak tuntas untuk dibicarakan dan dikisahkan

Untuk Amelindaku!


-->
Aku yang berharap dapat bernyanyi  bersamamu dalam sair-sair keindahan malam
Aku yang berharap bisa bersanding dengan mu, tidak dalam bayang-bayang mimpi
Aku yang terus berharap ddan meratap, tak bisa banyak bicara ketika anak kesayangan mentari sudi bersanding dengan ku dalam singgasana malam,,,,
 
Tertawa dalam kebisuan
Menangis dalam bahagia
Dan marah dalam tawa,
Menjadi bait-bait baru
Kisah-kisah yang dulu mati kini hidup kembali

Aku dan kamu tak lagi bermimpi soal  masa depan
Aku dan kamu tidak lagi memuja kesempitan
Aku dan kamu bersanding dalam altar suci
Menyatu dan menyatu,,,
Bicara ddan bicara
Dan berjanji dalam kisah yang lebih suci dari malam-malam sebelumya
Untuk menyambutku dalam istana hati mu

Dan berkata;ah aku pada sang tanda tanya,,,
Karena jawaban telah kusematkan,,,,
Bersama bulan dan bintang ya g tak lagi meredup,,,,
Di malam aku teringat pada mu,,,kecil ku,,,,





*di buat di tengah gelap malam,,untuk dia yng tidak merasa sempurna, tapi INDAH bagi ku....Amelinda Nur Rahmah

Di Subuh, aku bercerita

-->
Subuh tekah kembali menyapa. Meski aku jarang sholat tetapi aku suka dengan suasana subuh begitu tenang dan syahdu. Tetapi yang pasti aku belum juga tidur. Belakang ini terlalu suka kau begadang. Entah apa saja yang aku kerjakan dari mulai main game, kadang membaca, kadang menulis kadang berdiskusi di sekertariat-sekertariatku, kadang pula ngopi dengan kawan-kawan di Bulek. Banyak hak yang ini kunikamti disetiap malam-malam yang larut. Mungkin karena aku suka dengan ketenangan. Aku bisa membayangkan masa-masa yang telah berlalu.
Pukul 03.37 WIB dengan lagu Tamasya menemani malam yang telah larut. Kadang aku rindu dengan Mamah dan Ayahku. Bagaimana keadaannya dirumah? Bagiaman Kopinya apakah sudah memberikan harapan-harapan? Tapi belakang aku kecewa dengan Ayahku yang tak mengingat kelahiranku. Entah apa alasannya karena itu pula aku mempunyai alasan untuk sementara waktu tidak berkomunikasi dengan keluargaku di Garut. Sebentar lagi adikku Krishna akan melanjutkan fase kehidupannya, dia bentar lagi akan kuliah, entah kemana, tetapi aku harapakan ke Jogja, lebih baik di Jember saja. Itu jauhlebih baik karena di Jember pun baik kualitasnya. Entahlah, biarkan dia mandiri dan menentukan pilihan hidupnya, sudah waktunya adikku menginjakan kakinya dengan kesadarannya sendiri tanpa orang lain yang mengaturnya.
Malam telah semakin pekat bentar lagi langit membiru. Sudah tidak terasa aku hampir empat tahun di Jember. Di kota yang dulu telah menjadi saksi kelahiranku. Semakin suka aku dengan Jember. Di  Jember aku dilahirkan. Jember dengan sejuta sejarahnya. Kalimat itulah yang pas aku sematkan pada Jember, karena di kota yang banyak orang tidak mengenalnya, aku memulai awal sejarahku. Dari mulai aku yang tidak mengenal banyak hal soal bagaimana sulitnya hidup diluar rumah itu sampai saat ini aku sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kota Pandalungan ini.
Sudah banyak yang kukenal dari kota ini, banyak daerah yang sudah aku jelajahi. Kampus fakultas hukum telah menjadi saksi bisu bagaimana aku berkemang dari "anak manusia" menjadi "manusia" yang seutuhnya. Meski sampai saat ini aku masih belum bisa mandiri soal uang dan tetap menjadi beban orang tua. Sungguh hal itu sangat tidak menyenangkan dan menjadi beban pikiran. Pastilah, aku anak laki-laki yang pertama, aku punya adik-adik yang juga perlu dibiayai. Jika Ayahku membiayaiku terus sungguh aku tidak kuasa membayangkannya. Dia sudah cukup tua untuk bekerja keras. Sedang aku di usai yang sudah cukup matang masih saja meminta uang dari orang tua. Memang solusinya jelas, yaitu bekerja untuk menghasilkan uang, tetapi pertanyaan pertama yang harus dijawab kerja apa?
Saat ini saja kau masih sibuk dengan proses penempaan yang sangat luar biasa untuk bekalku menghadapi kehidupan yang katanya kejam itu. Di gelap yang mendekati terang ini. Aku hanya ingin berdoa pada TUHAN.”ya Allah, tolonglah berikan kesehatan pada Ayah dan Mamahku. Berikan kemudahan bagi adik-adikku untuk menggapai mimpi-mimpinya, lindungilah mereka dengan kasih MU, dengan kuasaMU yang tiada tara. Ya Allah, maafkan aku selama ini jika aku tidak berada dalam ridha mu. Maafkan atas semua khilafku pada Mu ya Allah. Memang Engkau selalu ada untuk umat manusia. Kadang aku melupkakan itu, entah aku tak punya alasan yang jelas pula YA ALLAH. Ya Allah berikan hambamu ini kelancaran dalam membahagiakan orang tua hamba. Orang tua hamba telah memberikan pengorbanan yang tiada tara bagi anaknya ini, meski anaknya sendiri sering membuatnya sakit hati. “ya Allah tunjukan rahmat MU untuk kedua orang tuaku”amien

Surat Cinta Untuk Para Pejuang Pemikir*


-->
Surat Cinta Untuk Para Pejuang Pemikir*
*Gulfino Che Guevarrato


Dear love, Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Ketika semuanya akan mengarah pada ujung senja kala. Ketika semuanya harus meninggalkan keseharian yang selama ini biasa kita lalui bersama, ketika canda dan tawa kita tak lagi bersama. Maka semuanya harus mempersiapkan diri. Kita semua harus membereskan sampah-sampah sehabis kita bermain, tertawa, berdiskusi. Jangan kita seperti Adam yang mewarisi dosa pada penerusnya, jangan pula kita seperti pendaulu kita yang meninggalkan masalah tanpa ada penyelsaian. Memberikan beban pada kita yang pada waktu itu masih belajar untuk berjalan. Tertai-taih pada akhirnya, menyesot bahkan karena kita masih belum bisa untuk berlari. Jangan biarkan hal itu kita biarkan dan kita biasakan pada genarasi-generasi pejuang pemikir untuk melanjutkan perjuangan di etape selanjutnya. Biarkan generasi baru Pejuang Pemikir menulis semua kisah romantika, dialektikanya dengan cerita mereka sendiri.
Lalu, apakah kita pernah berbuat untuk member pijakan pada mereka bagimana indahnya menulis cerita mereka sendiri dalam alur gerakan GmnI yang saat ini kehilangan kelaminnya? Aku rasa kita sama seperti pendahulu kita yang telah medelagasikan kita ke medan perjuangan tanpa amunisi yang kuat. Pada akhirnya komisariat kita tanpa kita sadari tak lebih baik dari sekedar warung kopi, losmen-losmen muarahan yang gunanya sebagai tempat tidur. Bernyenyak-nyenyak ria sambil berbangga diri sebagai agen rakyat. Haha. Ironis, ketika melihat banyak rakyat diluar sana menangis mencari para pejuangnya, Ya. Pejuangnya aku sedang tidak berpuisi atau beromantis ria. Ini nyata. Kita sebagai mahasiswa adalah bagian yang tak akan terpisahkan dari penderitaan rakyat (idealnya seperti itu). Tapi kita malah menjadikan diri kita sebagai kader-kader asocial. Kader-kader yang pandai mengumpat tapi tidak pernah memahami esensi gerakan itu apa. Aih. Betapa mirisnya keadaan disenja kala ini. Kurang lebih hampir  sampai  tahun kita berproses dengan mengatas namakan rakyat sebgai OBJEK utama kita untuk berjuang. Rakyat hanya sebagai objek pada akhirnya kawan. Sadarlah.
Kini ketika hari semakin cepat berganti maka semakin cepat berganti pula nahkoda komisariat hukum. Aku tak ingin nahkodanya kali ini sebatas mereka-mereka yang hanya berlayar untuk ueforia sesaat lalu hilang ditelan omak gerakan yag kejam. Maka kita perlu membangun pola pikir, memberikan jam terbang, menempa mental. Jika di ajak ke Sumber Jambe atau ke Pakis lalu mengeluh capek apalagi merengek-rengek. Berhentilah berharap untuk jadi pemimpin tangguh. Lebih baik ambil pisau dapur lalu bunuh diri atau aku yang akan mengajarkannya. Karena sudah terlalu muak aku melihat dan mendengar “kecengengan” dalam gerakan GmnI komisariat hukum sehingga kita menjadi generasi-generasi mandul yang pada akhirmnya memperjuangkan nilai-nilai saja di kampus. Secara sebagai seorang kader GmnI dan kebetulan banyak dosen yang alumni. Tak ingin hal itu terjadi.
Selain itu pula. Sebelum kita beranjak pada loncatan batu selanjutnya maka alangkah indah dan bijaknya jika kita tidak hanya sekedar meninggalkan genarasi siap tempur saja. Perlu ada penguatan ideologi, wacana. Hal itu sangat penting. Kader GmnI dikenal sebagai aktifis TOA a.k.a Megaphone. Apabila itu dibiarkan maka kita tak jauh berbeda seperti tukang jual barang pecah belah yang berjualan keliling perumahan dengan megaphone. Itu sangat penting kawan sekali lagi sangat penting. Maka juga generasi-generasi mudanya pun harus sadar diri dan siap untuk ditempa. Perku keseriusan, meski santai jika kita ingin total di gerakan GmnI tetapi juga kita harus melangkah untuk melanjutkan fase hidup
Dengan tulisan yang absurd ini, aku berharap ada kesiapan bagi kawan-kawan baru dan kawan-kawan yang telah terlebih dahulu berproses di GmnI untuk membangun sebuah komitmen demi perubahan GmnI. GmnI sudah perlu berpikir global. Jangan hanya berkutat di komisariat saja. Menyebarkan spora-spora perjuangan disetiap kita berpijak. Jangan terlalu sulit memahaminya,cukup kita bisa membangun basis-basis masa, basis gerakan yang konkrit. Mengembangkan kader-kader yang berguna. Kader yang juga tidak kosong pemahammnya. Tidak hanya pintar main catur atau pandai menuangkan air kedamaian di tengah terik matahari atau menjadi rayap aspal sebagai pejuang rakyat yang banyak mikir. Kita perlu berpindah kawan. Ketika perubahan masih dirasa sulit maka kita perlu berpindah dari posisi yang tak berguna menjadi lebih berguna. Mari kita renungkan, jika memang istilah gerakan sebagai adigium kita. Maka gerakan yang seperti apa yang pernah kita lakukan yang menghasilkan perubahan? Turun ke jalan lalu membuat macet? Membagi-bagikan bunga kertas yang pada akhirnya jadi sampah? Diskusi tanpa wacana yang kuat? Menulis di bulletin TIRTA yang tidak terbit-terbit? Membangun jaringan ke alumni yang ujung-ujungnya duit? Membuat sekolah rakyat yang pada akhirnya “masuk angin”. Bedah buku. Bedah film? Semua yang kita lakukan tidak ada gunanya kawan (maaf jika kata-kata ku sedikit satir). Itulah fakta yang menampar kita? Tidak ada kader yang benar-benar sebagai pejuang pemikir atau setidaknya mendekatilah kecuali kader-kader malas yang sukanya tidur. Atau kader-kader yang suka berpolitik tapi gagap dalam berstrategi, bukan maksudku untuk lebih pintar, sok hebat ditengah kawan-kawan seidelogiku. Tapi aku memandang dari sudut orang lain yang melihat.
Kita semua telah terjebak pada fatamorgana gerakan. Kadang seorang komisaris perlu bersikap dan bertindak otoriter. Jangan dijadikan alasan ketakutan kehilangan kader. Justru kita akan lihat seberapa banyak kader-kader yang serius berproses itu dengan kondisi GmnI pada fitrahnya itu. Ingat, kita adalah generasi yang meninggalkan bekas maka kita sebaiknya meninggalkan kebaikan. Bukan meninggalkan ketakutan-ketakutan yang memperlemah posisi GmnI. Memang, kita punya pengalaman pahit, ketika kawan-kawan seperjuangan kita gugur dengan tidak hormat. Owob, Chandra, Rizky harus mati rasa terlebih dahulu pada GmnI. Tetapi sudahlah jangan biarkan mimpi buruk itu memberati gerakan kita. Pada bagian ini, aku ingin menyampaikannya pada kawan baikku Wawan. “sudahlah wan, jangan kamu terlihat seperti Tabies yang akhirnya memilik dualisme kelamin shingga tidak jelas. Jika kita tidak pernah tegas, maka untuk selanjutnya kita juga tidak akan membiaskan diri untuk tegas pada kader-kader GmnI. Biarkan proses seleksi alam itu berjalan jika kita memang kita telah menjalankan prosesur dalam bergerakan di GmnI. Tak perlu takut, dibalik sejuta kebencia masih ada satu cinta yang itu tak akan pernah hilang selagi darh kader-kader GmnI merah. Kita semua telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi seorang kader GmnI, kader Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang. Tuhan telah mempertegas hal itu dengan membuktikannya lewat darah kita yang merah, bukan biru, bukam kuning apalagi hijau”.
Demikian surat cintaku pada GmnI aku tulis. Hari sudah berganti saat ini Jumat. Tepatnya pukul 03.01 WIB. Disubuh yang dingin ini aku menulis dengan semangat yang membakar dingin berharap semangatku ini menular pada kawan-kawan yang pada jam yang sama sedang tertidur pula. Berharap ketika aku, Wawan, Isna, etis, Indra, Reza, anti, Sandy (meski anak itu tidak pernah berbuat apa-apa untuk GmnI, Ainul (meski dia adalah penghkianat yang paling keji, tetapi kawan terbaikku), Bryan (meski otak yang digunakan untuk berpikir sedikit dari pada tingkahnya yang menyebalkan, tetapi dia adalah kawan yang tahan banting ditengah gempuran yang dulu dialami) ketika nanti meninggalkan GmnI dengan menyerahkan etape organisasi pada Haykal, Andik, Hisyam, Ocha, Firda, Budi, Denny, Yanuar, Atris, Puji, Icha, Citra, Noki dan banyak lagi untuk melanjutkan GmnI dengan lebih baik dan lebih PROGRESIF REVOLUTIONER. Ada beberapa waktu yang cukup untuk kita, belajar bersama dengan kawan-kawan baru, bukan mengajarkan, tetapi berbagi pengalaman-pengalaman baru yang sudah kita dapat sebelumnya. Berharap jika sudah waktunya datang kawan-kawan baru tidak gagap, tidak mudah “masuk angin” dan yang lebih penting tidak banyak mikir daripada bergeraknya. Ada pengalaman yang sangat memilukan kawan. Sungguh tidak enak dan menjadi beban pikiran ketika kawan-kawan ditangisi oleh rakyat di depan mata kepala kita sendiri sedangkan banyak diantara kita yang enak-enakan tidur nyenyak. Ketika suratku itu menyinggung kawan-kawan semua, aku berterima kasih dan senang.[]
Salam cinta dan pelukku untuk kalian semua
Merdeka
GmnI Jaya
Marhaen Menang*
(*Semua itu hanya Yel-yel saja kok)
Panasnya Aspal membuat Penaku meleleh, lebih baik aku menulis. Karena dengan menulis, aku tidak bisa dibungkam. Tulisan tidak bisa dibungkam karena tak punya mulut!!!






Kenyataan dalam Fatamorgana


Terbentuk dari sel-sel yang bekerja untuk Nya.
Ketika mata kiri dan kananku tak mampu melihat keindahan yang nyata
Ku hanya bisa berharap pada kunang-kunang yang sedang mecari mangsa
Bernyanyi mengiringi langkah menuju ruang hampa. Dimana tak ada lagi gravitasi yang membatasi langkah untuk terbang.
Sadarilah, Gelap dan terang hanya sebuah sisi yang abadi yang tak bisa dibedakan dari bentuk yang alami.
Dengarkan dekap jantungku yang mulai berdetak lamban, melemah menuju tanpa arti lalu
hanya berharap pada hujan di musim kering. Pengharapan yang palsu karena itu arti yang sesungguhnya yang ingin kusampaikan.
Terang, sadarkanlah gelap.