Jumat, 29 Maret 2013

Kemungkinan Sekarang adalah Memperbesar Kemungkinan

“Kemana aku harus bertanya? Seolah pertanyaan ku membentur dinding-dinging kebebalan, dihadang oleh kemalasan dan diacuhkan oleh ketidak pedulian. Harus berapa kali aku berceracau, memaki  atau bahkan memberi sanjungan setinggi langit untuk kawan-kawanku itu tetapi mereka terlampau membatu untuk sekedar bisa dikata “sadar” dan Loyal”. Itu tadi gumamku yang berpadu dengan amarah dan kesedihan. Baru saja, sebelum Jumatan, seorang kawan datang ke kostku bercerita soal masa-masa suram di Komisariat GmnI. Obrolannya seolah membukan ingatanku akan kemuntaban yang terhatankan. Dan sekarang waktunya untuk melampiaskan segala yang menyesakan dada.
Beberapa waktu lalu, aku menyempatkan diri untuk sekedar bermain-main kesana. Ya, lebih tepatnya membunuh waktu luangku dan ingin mengobrol dengan kawan-kawan “seperjuanganku” (istilah ini sedikit lebay memang:P) dulu, tentu datang kesana dengan harapan agar bisa bertemu wajah-wajah baru yang lebih segar daripada wajah-wajah lama yang ‘memuakan’, sebut saja Wawan, Indra, Reza atau orang-orang langka yang seharusnya diawetkan di museum sebut saja Udin atau Hendri. Naas memang, aku tak menemukannya hanya cengar cengir Wawan, ketambunan Indra dan ceplas-ceplosnya Reza. Huhft, kita hanya bisa bernostalgia saja kalau seperti ini, tidak lebih karena tak etis rasanya menanyakan kondisi (gerakan) komisariat ke mereka sebab mereka sudah satu tahun ini menjadi demisioner dan tentu pengurus yang lebih berhak menjelaskan semua keingin tahuanku.
“Kemana pengurus yang lain wan?” tanyaku pada Wawan.
“emboh vin, onok sibuk semua” jawabnya seolah biasa, ia begitu datar menjawabnya. Berbeda denganku yang aneh mendengarnya.
“lhoh kok iso sibuk ga jelas ngono wan?” tanyaku semakin ingin tahu.
“lha kui, aku dewe ga habis pikir, mungkin mereka sedang dalam proses mencari diri paling” Wawan berseloroh.
Waktu itu kebutulan aku bawa sebotol “Bintang” dan kami menikmatinya sampai tetes terakhir. Lalu aku pulang begitu saja denga kekecewaan, pikirku aku bisa berdiskusi panjang lebar sampai pagi seperti dulu sambil menyelipkan kata-kata sarkas agar agumentasi kita lebih bernas tetapi sayang kejidian itu hanya kisah klasik dimasa lampau tidak ada kisah ulangannya dimasa pengurusan sekarang.  Siapa yang salah? Ah sudahlah, tanganku menunjuk hidungku karena aku gagal menjadi Korlap dan lebih memilih meninggalkan kegiatan harian di GmnI untuk lebih berkonsentrasi di organisasi lain. Aku rasa itu lebih baik dari pada saling tunjuk dan tidak menyelsaikan masalah.
Beberapa hari kemudian aku datang kembali ke Komisariat tentu dengan harapan yang tak jauh beda seperti beberapa waktu sebelumnya. “aku ingin bertemu dengan kader-kader baru yang bertaji. Membicarakan Idelogi sampai berbusa-busa dan membaca banyak buku”. Sial, kali harapanku di tundukan oleh keadaan yang lebih parah, Komisariat sepi tak ada orang. Tak ubahnya kontrakan yang ditinggal penghuninya ketika  mudik lebaran. Ilalang tumbuh liar, koran-koran berhamburan acak-acakan seolah baru saja disantroni maling. Meteran listrik berbunyi karena pulsanya sudah mulai habis. Huft, tragis memang. Rasanya malu kalau terus kosong seperti ini. Dengan sedikit iseng dan satire, aku membalikan dan melepaskan semua logo-logo GmnI yang terpasang. Ya, apa yang kulakukan sebagai simbol saja kalau kita benar-benar memalukan karena memfungsikan komisariat yang dulu dianggap sebagai sentral gerakan kini hanya sebatas kontrakan untuk tidur dan ngerumpi atau mabuk lah.
Jaman Sudah berganti
setelah melihat komisarit yang sunyi, aku sms Deni, Komisaris komisariat Hukum. “Den, dimana?”
“aku di DPRD mas, lagi ngopi dengan mas Reza”jawabnya cepat
“kader-kader yang lain kemana aja?”tanyaku
“Andik ke Kediri mas, Haykal ada bapaknya, Hisyam ke Tanggul, Ocha ada adiknya, Budi sibuk resepsi, dan kader lainnya pulang kerumah masing-masing”jawabnya
“Huhft, bersabarlah, Den. Jadi pemimpin memang akan merasakan kesepian. Tetap semangat kawan muda” kataku
Kasian sekali Deni, ditinggal kader dan pengurusnya. Pantas saja GmnI komisariat Hukum yang pada tahun 2009 sampai 2011 begitu garang, kini tak ubahnya seperti paguyuban yang menampung orang-orang sakit karena mencoba sadar akan ketidak sadarannya tetapi tidak melakukan apapun.  Kawan-kawan yang lebih aktif sekarang lebih senang untuk memilih pacaran sambil beralasan “sek mas, aku nganterin dulu” padahal berkeliling kota suka riang atau bergalau ria di jejaring sosial dengan lirik-lirik sendu Keris Patih, Jancuklah. Ada pula yang sok mempunyai prinsip dengan begitu keras dan sok sangar tetapi hatinya rapuh dan lapuk. Diberi masukan sedikit saja langsung sakit hati dan reaksioner. Ada pula yang sukanya hilang menghilang dengan mengatas namakan alasan-alasan yang tak bisa dibantah tetapi malah sibuk dengan hal-hal yang gj (gak jelas) buktinya “aku tidur mas di kontrakan temen”, asulah, hidup kok cuman untuk tidur. Ada pula yang hobinya pinjem buku tetapi dibaca Cuma dua lembar langsung merasa sok paling tahu dengan mengajari kader-kader dibawahnya sambil petantang petenteng “kalian itu harus suka baca” sembari mengeluarkan buku yang itu-itu saja dan halaman yang dibaca itu-itu saja pula. Berbagai macam ‘varietas’ manusia yang bergumul di ruang absurd itu.
Hal semacam itu hanyalah ketidakmampuan kita mencari apa yang ada di organsisasi ini, dimanapun organisasinya ketika kita selalu mencoba untuk menghindar maka jadinya hanyalah menjadi kader-kader yang lebih memilih mengundurkan diri sebut saja Citra dan Firda. Mereka adalah orang-orang disorentasi yang tak bisa ejakulasi sehingga pusing dan stres, kasian!
Mungkin ini generasi yang berbeda dengan generasi yang dulu. Rasanya sudah banyak kata yang terucap dari kawan-kawan demisioner, dari mulai memberi saran, mengajak untuk bergerak bersama, bahkan mengadakan kegiatan sendiri yang diatur semuanya oleh kawan-kawan demisioner tetapi itu kurang memberi arti apapun dan merubah keadaan. Para pengurus harian Komisariat tetap bebal dan membatu malah sibuk dengan aktivitas privatnya. Rasanya  sangat sulit berkorban untuk kepentingan komunal sehingga menjadi individualis-individualis dalam ruang komunal, buktinya ketika ada masalah lebih baik lari seperti Cherry Belle yang lagi “ngambek”, holyshit.
Sampai hal yang sangat parah, setidaknya bagiku terkait dengan pembayaran uang kontrakan. Dimana kawan-kawan yang seharusnya memiliki tanggung jawab, justru lelet dalam bertindak sehingga para demisioner yang sibuk “mengemis kesana kemari” untuk menutupi dana yang kurang. Haduh lalu timbul pertanyaan? Siapa yang pengurus dan siapa yang demisioner? Sebenernya semua itu tak jadi soal tetapi pertanyaanya lagi, dimana kepekaan kawan-kawan pengurus? Meski pada akhirnya ikut bergerak.
Ketika ditanya tentang permasalahan yang ada, banyak diantara mereka yang menjawab dengan alasan yagn seragam “aku binggung mas harus ngapain?”. What The Fuck. Binggung kok terus-terusan, akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan selain bergulat dengan kebingungan itu sendiri. Kawan-kawan pengurus tidak ingin mencoba dan senantiasa merendahkan diri sendiri dengan kebingungan itu. Mereka beralibi kenapa kita selalu disalahkan tanpa pernah berkaca “apa yang pernah kita lakukan?” seolah-olah menyalahkannya kawan-kawan demisioner hanyalah cuap-cuap yang menjatuhkan tanpa maksud untuk saling membangun. Kalau pola pikir itu masih ada sepertinya kawan-kawan pengurus perlu menyelsaikannya di tataran diri sendiri dulu karena terlalu banyak memainkan unsur subjektifitas. Perlu kita ketahui bahwa, organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang bersatu dalam wadah yang teratur dan terorganisir, dimana permasalahan-permasalahan yang ada di jawab secara komunal atau bersama-sama, dalam proses dialektika itu tidak selamanya harus dengan sanjungan atau kelembutan. Ketika kebebalan lebih dominan adakalanya dengan caci maki agar kita lebih bermental dan mengendurkan urat-urat kaku penyebab bebal. Sejutu?
Ayolah, bukan waktunya terus kawan-kawan itu seperti anak burung elang yang terus diberi makan oleh induknya. Kawan-kawan sudah waktunya menjadi elang yang ganas dan siap bertempur. Ingat? Banyak permasalahan yang perlu dikaji dan perlu kesensitifan gerakan organisasi ini, TURBA itu indah loh. GmnI bukan sebatas organisasi yang bisanya beronani wacana dalam diskursus-dikursus mengawang. Kita perlu membumi, berjabat erat dengan ketertindasan, beromatika dalam terik yang penuh peluh, bercumbu dengan orasi-orasi pembebasan, berkasih-kasih ria dalam debat panjang revolusi sosialis Indonesia atau bergandengan tangan dalam kerjaran polisi. Kita harus mengingat kembali pada sejarah masa lampau, dimana generasi-generasi terdahulu kita dengan segala keterbatasannya masih bisa meneriakan “Merdeka” untuk merobohkan tiran. Kita masih ingat bukan, ketika perlawanan GmnI pada kasus tanah Sukorejo di balas oleh peluru-peluru yang dibeli dari uang rakyat atau kita masih ingat bukan ketika pendahulu kita tetap tegar berbicara pembebasan meski kepalanya ditodongkan  senapan di KODIM sana atau kita masih ingat tidak ketika kawan-kawan GmnI mencoba merebut RRI lalu dibalas oleh pentungan dari pasukan berkendaraan Trail atau apakah kita masih ingat turun kejalan sampai dini hari ketika penolakan kenaikan BBM, masih ingatkah tidak dengan aksi penolakan Widodo sebagai Dekan? Ketika kita masih mengingat jelas cerita itu, entah karena mengalami langsung atau cerita titipan masa lalu, setidaknya kita sadar bahwa sejarah harus menginspirasi kita untuk lebih baik. Ketika dalam ruang onani wacana kita selalu bilang “Bung Karno selalu bialng Jangan Melupakan Sejarah (JAS MERAH)” seharusnya kita paham dan kita sadar kalau sejarah harus menginspirasi kita, generasi GmnI diera dimana Fakultas Hukum akan diadakan program ke Notariatan.
Janganlah Mengeluh
Mengeluh terus akan membuat kita menjadi kader-kader yang penakut dan memalukan karena orang dihargai karena usahanya sedangkan ketakutan membuat kita menjadi kerdil dan tak berarti digilas oleh perubahan, mati karena takut mencoba. Kawan-kawan terlalu banyak mengeluh tanpa pernah mencoba nikmatnya ber RODINDA dalam proses. Kekalutan, kegundahan, dan ketakutan kita dihari ini akan menjadi semacam kisah manis ketika kita bisa melampui masa-masa berproses ini. Tentu pada akhirnya kita akan menjadi kader-kader yang bermental lebih baik di waktu yang sudah menunggu nanti.
Kita bukan bagian dari generasi gagal yang dicatat dalam sejarah kelam GmnI sekelam ketika pada tahun 1981, GmnI harus di pecah menjadi dua. Bukan, bukan kita bukan dari bagian kekelaman itu, kawan.
Sejak pertama kali kita “digodok” di kawah candradimuka Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, di Sempolan maka sejak saat itulah kita akan terlahir sebagai generasi pejuang pemikir-pemikir pejuang. Dimana ketakutan hanyalah omong kosong untuk menidurkan bayi ketika susah tidur. Orang-orang seperti kita tidak layak mati di tempat tidur!!!!
Merdeka!!!!

Kamis, 28 Maret 2013

Cerita Dari Rakyat Sidomulyo

Awalan
Suasana hijau pohon Pinus dan segarnya udara pegunungan begitu terasa ketika akan memasuki wilayah desa Sidomulyo. Pintu masuk menuju desa ini berada di sisi jalan antara Jember dan Banyuwangi, tepatnya di daerah Ngarahan. Dimana daerah itu berada di kaki gunung Gumitir. Sidomulyo yang merupakan bagian dari wilayah kecamatan Silo, Jember terkenal sebagai salah satu sentra penghasil  kopi di Kabupaten Jember.  Desa ini terletak pada ketinggian 560 m dari permukaan laut, sehingga sangat cocok untuk ditanami kopi khususnya varietas kopi Robusta. Pada saat ini sebaran luas areal kopi rakyat di kecamatan Silo kisaran (2.192,23 ha).



Setelah memasuki desa Sidomulyo, saya merasakan aroma sangaraian kopi sehingga semakin menyahihkan kalau desa ini sebagai penghasil kopi. Kopi yang menjadi komoditas utama desa itu dikelola bukan oleh perusahan baik itu PT Perkebunan Nusantara atau Perusahan Daerah Perkebunan tetapi oleh masyarakat desa itu sendiri. Kopi rakyat, begitu para penduduk desa menyebutnya. Sebutan kopi rakyat merupakan pengusahaan kopi yang dilakukan oleh rakyat, artinya masyarakat setempat yang mengusahakan industri kopi dari daerah Sidomulyo.


Kopi rakyat ini sudah diusahakan sejak jaman Belanda. Kopi rakyat di desa Sidomulyo merupakan akibat dari adanya Perusahan Perkebunan Besar milik Pemerintah Belanda. Pada waktu itu para pekerja perkebunan mencoba menanam kopi di lahan-lahan milik pribadi yang berada di sekitar lokasi Perusahan Perkebunan Besar milik Belanda. kebiasaan itu berlangsung lama bahkan sampai pada hari ini sehingga menciptakan kemandirian pada masyarakat untuk mengelola kopinya sendiri bagi kepentingannya sendiri.
Pembinaan dan Pengembagan kopi rakyat oleh Pemerintah dimulai sejak tahhun 1980 an yaitu melalui Program Pemerintah Pusat yang disebut dengan Proyek Rehabilitasi dan Tanaman Ekspor (PRTE), dengan adanya program ini perkembangan areal kopi rakyat meningkat begitu pesat. Perkembangan itu mengingkatkan geliat ekonomi masyarkat sehingga kopi dapat dijadikan penompang ekonomi masyarakat.


Koperasi sebagai wadah perjuangan

Koperasi Kopi merupakan tujuan utama saya pada waktu itu. Koperasi Kopi di Desa Sidomulyo merupakan salah satu simbol dari kebangkitan masyarakat dan menjadikan kopi sebagai senjata utamanya. Pada awalnya kopi rakyat yang berada di Desa Sidomulyo diusahakan oleh individu-individu tetapi hasil panen tidak mampu menghasilkan hasil yang maksimal karena tidak hanya kurangnya informasi dan pengembangan, selain itu juga atas dasar keterdesakan ekonomi, banyak masyarkat yang tidak dapat memaksimalkan harga jual kopi karena kopi dipetik pada waktu masih hijau. Maka atas dasar itulah di Desa Sidomulyo dibentuklah Koperasi pada tahun 2007.

Koperasi ini bertujuan untuk memfasilitasi para petani kopi baik bagi mereka yang menjadi anggota koperasi ataupun yang bukan menjadi anggota Koperasi. Keberadaan Koperasi kopi itu menambah geliat pertumbuhan ekonomi desa Sidomulyo. “koperasi tidak saja sebatas sebagai wadah untuk tujuan ekonomi tetapi masyarkat diajak untuk belajar bersama, saling menguatkan dalam kerja-kerja kolektif kolegial, dimana hasilnya pun dapat maksimal bagi kesejahtraan masyakatat” tambah Pak Joko Suyono, salah satu dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Jember yang menjadi pendamping di desa Sidomulyo. Sedangkan menurut penjelasan ketua Koperasi Buah Ketakiasi, pak  Swarno kalau produksi kopi di desa Sidomulyo yang dikelola oleh Koperasi sekitar 600 ton dengan rata-rata tiap anggota 1 ton per tahun. Harga jualnya pun cukup tinggi sekitar 25000 per liter karena nilai tambah dari kopi dari Sidomulyo proses pengelolaanya yang berbeda.

Keberhasilan masyarakat desa mengelola kopi secara mandiri itu berhasil menarik minat berbagai pihak untuk berkerja sama, salah satunya adalah perusahan  eksportir kopi yang membeli kopi hasil olahan kering masyarakat Sidomulyo. Selain itu untuk terus meningkatkan kualitas kopi dan kualitas sumber daya manusianya, desa Sidomulyo bekerja sama dengan Universitas Jember dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Hasilnya adalah pabrik pengelolaan basah. Konsep dasar dari metode pengelolaan basah kopi yaitu penghilangan lapisan lendir dari buah. Senyawa gula yang terkandung di dalam lendir mempunyai sifat menyerap air dari lingkungan (higroskopis). Permukaan biji kopi cenderung lembab sehingga menghalangi proses pengeringan. Senyawa gula merupakan media tumbuh bakteri yang sangat baik sehingga dapat merusak mutu biji kopi.

Pengelolaan dan manajemen yang baik berdampak pada peningkatan kualitas ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat Desa Sidomulyo. “Sebelum kopi dikelola secara maksimal banyak penduduk desa yang bekerja keluar desa tetapi sekarang masyarakat desa sini bekerja disini” kata pak Suryadi, salah satu pengurus koperasi. Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu Bank Indonesia melalui program CSR (Cost Responsibelity) membangun saluran air bersih bagi masyarakat desa Sidomulyo. Selain itu kualitas pendidikan masyarakat Sidomulyo pun mengingkat. Hal ini dipertegas dengan pernyataan salah seorang pengurus koperasi “sekarang penduduk desa sini tidak hanya sampai SMA tetapi bisa sampai kuliah juga. Kesadaran akan arti penting pendidikan mulai tumbuh sejak kopi di desa Sidomulyo mulai dikembangkan dengan maksimal” kata pak Suryadi menunjukan kalau pengelolaan kopi rakyat berhasil memperbaiki kesejahtraan dan kesadaran sosial masyarakat.

Dampak pengelolaan Kopi Rakyat
Hal yang menarik yang saya tangkap dari pengelolaan kopi rakyat di desa Sidomulyo yaitu tidak adanya sistem mandor atau pola-pola yang biasa ad di perkebunan-perkebunan yang bukan dikelola oleh rakyat. Sehingga pola yang tercipta sangat kekeluargaan salah satu bentuknya setiap tahun penduduk desa bergotong royong untuk bergiliran membersihkan kebun milik sesama petani. Kegiatan itu dilakukan oleh seluruh penduduk desa sehingga suasana gotong royongnya begitu kental terasa. Selain itu kebiasaan masyarakat untuk bergotong royong juga terlihat ketika salah satu warga desa ada yang membangun rumah maka dengan serempak warga desa yang lain membantu untuk menyelsaikan rumah tersebut. Mereka melakukan itu dengan sukarela.

Ketika saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa pengurus koperasi, salah satu pengurus koperasi menunjukan hasil olahan kopi bubuk yang diproduksi oleh koperasi. Koperasi Kopi telah berhasil mengembangkan produknya tidak hanya sebatas biji kopi tetapi sampai pada bubuk dan siap konsumsi. Produksi bubuk kopi itu dilakukan di desa Sidomulyo juga, dimana pada awalnya didampingi oleh dosen dan Mahasiswa dari fakultas Pertanian Universitas Jember. Kopi bubuk desa Sidomulyo pada bulan Agustus 2010 berhasil memperoleh penghargaan sebagai kemasan kopi terbaik tingkat Nasional di Bali.
Pengelolaan kopi oleh masyarakat atau bahasa lainnya kopi rakyat ternyata jika dikelola secara tepat mampu mengahasilkan kualitas kopi yang tak kalah baiknya dengan kopi yang dikelola oleh PT PN atau PDP. Justru PT PN seringkali meminta pasokan tambahan kopi pada desa Sidomulyo apabila produksi PT PN tidak mencukupi permintaan pasar.

Kalau saya melihat, pengelolaan kopi oleh masyarakat sebenarnya sesuai dengan pemikiran besar Bung Karno soal BERDIKARI dibidang ekonomi. Masyarakat mampu memberbaiki kualiatas hidupnya oleh usaha yang dilakukan secara mandiri, meskipun, terkait dengan pengelolaan kopi di desa Sidomulyo saya masih belum bisa mengatakan kalau mereka mengelolanya benar-benar secara mandiri karena masih ada bantuan dari berbagai pihak untuk memandirikan masyarkat Sidomulyo agar mampu memberdayakan potensi baik itu potensi alam atau potensi SDM yang ada didesa itu sendiri tetapi usaha untuk menjadikan masyarakat mengusahakan penghidupannya secara mandiri adalah suatu bentuk tindakan yang cukup menarik untuk dicontoh. Satu hal yang tak bisa saya elakan dan menarik perhatian saya setelah mengobrol panjang dengan beberapa pengurus Koperasi dan warga desa Sidomulyo yaitu semangat mereka untuk berkembang dan mengembangkan diri.
Obrolan panjang saya dengan beberapa pengurus koperasi di akhiri dengan seruputan kopi Sidomulyo yang semakin menambah kehangatan dari pengurus koperasi.




.

.

Senin, 18 Maret 2013

Inter Milan dan Kesederhanaan Zanetti






Terlalu banyak idola di dunia ini, terlalu banyak pula yang berprestasi tetapi, rasanya hanya satu yang benar-benar aku kagumi. Bukan soal keberhasilannya membawa banyak piala atau memasukan banyak gol ke gawang lawan. Tidak, itu terlalu sempit bagiku untuk mengagumi sepak bola, meskipun alasan tadi memang rasional. Setiap orang pasti mempunyai idolanya, apapun itu. Tidak terkecuali dalam hal sepak bola.
Adalah soal kecintaanku pada Internazionale Milano, klub Sepak Bola yang saat ini dan selamanya berkecimpung dikancah tertinggi sepak Bola Italia, Serie-A.  Klub ini menjadi satu-satunya yang belum pernah turun kasta ke divisi yang lebih rendah dari Serie-A. Sekali lagi, bukan itu alasanku mengangumi klub yang berkostum Biru-Hitam ini.

Aku tidak tidak terlalu ingat dengan persis tapi sekitar tahun 1998 pada waktu itu aku masih kelas 2 SD. ketika itu tetangga sebelah rumahku, kalau tidak salah namanya Dika, aku biasa memanggil aa Dika. Ia lebih tua 5 tahun dariku, ia sering kali menggunakan kaos sepak bola, kostum Inter Milan dengan nama Ronaldo di punggungnya. Pada waktu itu aku tidak tahu sepak bola di Eropa sana, yang aku tahu hanya sekedar bermain bola, posisiku waktu itu sebagai kiper. Tidak tahu siapa itu Ronaldo, apa itu Inter Milan atau Juven*us, atau A* Milan. Benar-benar tidak tahu.
Tiba-tiba saja, aku minta ke mamah untuk membelikan kostum sepak bola yang sama seperti Aa Dika. Ingat sekali aku waktu itu, hari itu juga mamahku sore-sore setelah Sholat Asyar pergi untuk membelikan kostum berwarna Biru Hitam itu dan bernomor punggung 9. Keren sekali rasanya, meski aku masih belum tahu kostum klub apa yang aku pakai, hanya atas dasar ikut-ikutan saja.


Beberapa hari kemudian, kalau tidak salah hari Jum’at dini hari, aku tak sengaja menghidupkan TV kebetulan sekali pada waktu itu final Piala UEFA yang kini bergani nama Liga Eropa, antara Internazionale Milan dan Parma, kalau tidak salah Inter Milan menang 3-0 pada waktu itu. Wow, itu momen yang sulit dilupakan olehku. Maka sejak hari itu, aku benar-benar mulai belajar mengenal lebih jauh klub idola pertamaku itu. Aku sering mencari berita tentang Inter Milan, dulu masih belum ada internet, informasi yang ada hanya melalui Tabloid BOLA dan GO, itupun aku tidak bisa beli sendiri karena uang jajanku harus aku kumpulan 4hari untuk bisa beli Tabloid olahraga itu, kalau tidak salah harga Tabloid BOLA masih Rp.4000 dan GO Rp 3500, aku samar-samar mengingatnya.
Kecintaanku semakin bertambah bak orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, hampir setiap akhir pekan ketika pertandingan Inter Milan ditayangkan di stasiun TV aku selalu bangun di dini hari. Kebiasaan baruku itu membuat mamah dan ayahku bertanya-tanya, sebab kadang aku teriak-teriak sendiri di kamar karena gregetan bola yang ditendang tidak masuk, sampai akhirnya mamahku tahu dan memarahiku karena berteriak-teriak sendiri. Aku tak patah arang, ketika mamah menyuruh mematikan TV, aku mematikannya tetapi aku hidupkan kembali setelah mamah masuk pergi dari kamark, kali ini suaranya aku kecilkan dan kamarku aku kunci rapat-rapat agar teriakanku tidak terdengar dengan jelas.well. berhasil. Aku mulai menjadi menggandrungi sepak bola dan tentunya Inter Milan, hampir tiap 3 bulan sekali sepatuku rusak karena setiap kali pulang sekolah aku menyempatkan bermain sepak bola dulu dilapangan sebelah SD ku, waktu itu posisiku masih menjadi kiper. Kebiasaanku itu membuat Mamahku gusar karena hampir setiap hari Mamah mencuci bajuku, karena basah oleh peluh. Nakal sekali memang aku pada waktu itu.

Sampailah pada momen lainnya yang juga tak bisa kulupakan, sampai-sampai aku masih ingat tanggalnya. Tanggal 24 Maret 2002,  ketika itu Inter Milan tanding melawan AS Roma di Guesepe Meazza. Inter Milan menang 3-1 melawan Roma, pada waktu itu 2 gol Alvaro Recoba dan 1 gol Christian Vieri membenamkan As Roma dan mengagalkan AS Roma untuk mempertahankan Scudetto. Aku masih cukup ingat, gol itu tendangan bebas yang begitu cantik dari  Alvaro Recoba pada menit 71  menjadi golnya yang ke 5 pada 12 laga yang telah ia lakoni pada musim itu. AS Roma pada waktu itu masih diperkuat bek tangguh Christian Panucci, Montella, Delvenchio, Cafu, kiper Antonioli dan jangkar asal Prancis yang dikartu merah karena memukul Alvaro Recoba Jonathan Zebina. Sedangkan Inter Milan masih ditangani oleh Hector Raul Cuper, allenatoer berambut putih yang mendapat julukan Mr. Runner-up, sedangkan Stikernya sudah di isi oleh pemain termahal Italian, Christian “BoBo” Vieri, sergio Concencao,stephane Dalmat, Ivan Cordoba, Clerence Serdorf dll. Sungguh luar biasa malam itu, aku bebas berteriak-teriak karena Ayah dan adik-adikku ikut menonton juga. Alvaro Recoba jelas menjadi man of the match tetapi perhatianku justru tertarik pada sosok kapten berambut belah samping ala Giancito Faccheti, yang juga mantan kapten Inter Milan yang kemudian menjadi presiden tetapi meninggal pada tahun 2004. Sosok itu bernama Javier Zanetti, pemain yang berposisi sebagai full back ini baru saja 3 tahun mengenakan ban kapten sejak tanggal 29 August 1999, mengantikan Gueseppe Bergomi yang baru saja pensiun.

Idola baru

Pada waktu itu ia adalah sosok bek yang tangguh, berlari dengan cepat, cekatan menghalau serangan lawan, membuat frustasi pada penyerang lawan, dan cepat dalam menyerang. Pemain Argentina itulah yang menjadi sosok legenda hidup Inter Milan pada hari ini. Kini ia telah melakoni laga yang ke-600 bersama Inter Milan, sungguh rekor yang luar biasa setara dengan Paolo Maldini legenda Ac Milan, sampai-sampai tentangga sebelah itu harus mengistirahkan nomer punggung 3.
Pemain yang bernama lengkap Javier Adelmar Zanetti sebelumnya pernah bermain untuk klub lainnya di Argentina, Banfield dan Talleres, sebelum ia pindah ke Italia untuk merintis kariernya sebagai seorang legenda.


Pemain yang pernah mendapat kartu pertamanya di Serie-A pada laga kontra Udinese pada tanggal 2011 kemarin juga terlibat dalam beberapa misi sosial salah satunya kedekatannya dengan kelompok pemberontak Zapatista. Ia sungguh pemain sepak Bola teladan baik didalam lapangan dan diluar lapangan. Rasanya tak pernah aku mendengar Zanetti berkeliaran ditengah malam, keluar masuk club malam atau bergonta ganti pasangan.
Kata Zanetti
“Saat kau memutuskan untuk hidup sebagai pesepakbola, kau harus mampu menjadi seorang pesepakbola berkelas. Pesepakbola yang mengutamakan prestasi dan behavior dibandingkan sensasi, karena sadar atau tidak sadar, dunia sedang melihatmu. Mungkin kau bukan seorang pesepakbola, tapi belajarlah pada Maldini yang tidak pernah tertangkap media menghabiskan malam-malamnya dengan berpindah dari satu klub malam ke klub malam lain atau Inzaghi yang mengisi waktu luangnya dengan menonton rekaman pertandingan Serie C atau mungkin si garang Gattuso, yang selalu hadir di tempat latihan empat puluh lima menit sebelum latihan dimulai”

Dari kecintaanku pada Inter Milan dan kekagumanku pada sosok Zanetti, aku sadar bahwa sepak bola memang tidak sekedar kalah atau menang. Bukan seberapa banyak mengalahkan atau dikalahkan meski semuanya faktor-faktor yang mempengaruhi kecintaan dan kekaguman. Rasanya penggemar sejati Juventus tidak akan bergeming untuk beralih klub lainnya meski Juventus harus terdegradasi ke Serie-B dimana Inter Milan belum pernah merasakan atau seorang tifosi tidak akan  membiarkan klub kesayangannya bangkrut sehingga mereka bahu membahu mengumpulkan dana untuk membeli saham klub kesayangannya, hal itu pernah dilakukan oleh tifosi dari klub besar macam Barcelona dan Real Madrid. Hal itu dilakukan agar klub kesayangannya tidak sampai runtuh karena krisis keuangan.

Atau tidak mungkin suporte Barcelona harus melempar kepala Babi kepada Luis Figo ketika Figo pindah ke Madrid kalau bukan karena alasan kecintaanya pada klub dan idolahnya atau pendukung Fiorentina yang marah ketika Gabriel Batistuta pindah ke As Roma sehingga membakar patung perunggu Batistuta di Firenze. Hal tak logis selalu terjadi di sepak bola, sekali lagi alasan kekalahan atau kemenangan bukan lagi alasan utamanya. Lihat saja, pada tahun 2007 ketika itu Siena degradasi ke serie-B tetapi para penggemarnya justru senang karena tak tega melihat klub kesayangannya kalah terus di Serie-A.
Sebelum aku menutup tulisan ini, aku akan menambahkan kata-kata  Zanetti “Pembicaraan seperti ini membuatku sadar kalau kebahagiaan dalam sepakbola tidak melulu soal bagaimana kau bertanding di lapangan hijau, tidak melulu soal enam ratus pertandingan, tidak melulu soal ban kapten yang melingkar di lenganku sejak 29 Agustus 1999”

Benar, il Pupi, Sepak Bola selalu saja menawarkan sisi menariknya. Meski musim ini Inter Milan tidak begitu membanggakan tetapi tetap memberikan kebahagiaan bagiku ketika aku menyaksikan pertandingannya.
Hampir 14 Tahun aku menjadi Tifosi IL Nerazzurri, sejak kali pertama menyaksikan laga Inter Milan kontra Parma, maka sejak saat itu kecintaan ini sulit untuk dilunturkan, apapun alasannya.

Amala Inter Pazza Amala


Selasa, 26 Februari 2013

sebatas celoteh

Hari ini, entah hari keberapa kita dalam kerikuhan untuk saling berbicara. Seolah memilih untuk tidak saling mengenal adalah jalan pilihan yang paling baik. Setidaknya paling baik untukmu?. Terlau banyak waktu yang tersita oleh amarah dan sedikit dendam. Itu memang yang sering kita bicarakan selama ini. Selama itu pula rasanya tak ada senyum manis, sapa lembut atau kelembutan lainnya yang membuat kita bisa saling mengenal satu sama lain, bukan menjadi musuh tentunya. Sudah banyak yang ku upayakan  tetapi hasilnya pun sama. Lagi-lagi, keras kepalalah yang membuat semuanya hancur.
Matahari masih belum terlalu terik, aku sengaja ingin memulainya lagi pembicaraan yang selama ini selalu terhenti. Entah pikiran apa yang membuatnya menjadi sangat kaku dan kasar. Seolah ia tertutupi oleh kebenaran . kebeneran yang hanya menjadi keyakinannya, kebenaran yang banal karena sungguh mengesampingkan sisi kelembutan.
“kita bukanlah musuh” itulah yang selalu aku katakan tetapi ketulian menutupi semuanya. Ah, sudahlah, aku hanya ingin berteman saja tak lebih. Toh tak ada pikiran untuk membuat segalanya lebih baik, tetapi setidaknya kita pernah begitu intim sangat intim. Hal bodoh semacam ini seharusnya tidak perlu terjadi jika ada keikhlasan.
Ketika memang keadaan ini tidak bisa diperbaiki, ya sudah toh aku semuanya akan baik-baik saja.

Sabtu, 02 Februari 2013

Semangat Perlawanan Perkebunan Kopi Rakyat Pakis


Pohon Kopi yang diKelola oleh  Masyarakat Pakis


Bicara tentang kopi, tidak sedikit orang yang menyukai minuman pahit ini. Dari anak muda hingga orang tua. Kedai kopi pun telah menjamur dan bisa kita temui di pinggir jalan maupun di mall. Kedai kopi telah menjadi trend dan tempat berkumpulnya suatu komunitas untuk sekedar bersilaturahmi hingga urusan bisnis.

Dalam Simposium Nasional Ekonomi Kopi bertema”meningkatkan Daya Saing Kopi Indonesia” di aula lantai 3 gedung rektorar Universitas Jember, Drs. Moh. Hasan, MSc., PhD  ketika membuka acara itu melontarkan kalimat “ketika Kopi yang dibicarakan, maka Jember yang terpikirkan”. Jember merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia, dimana hasil kopinya pun merupakan kopi unggulan.

Kualitas kopi Jember pun diakui di berbagai daerah, pada suatu hari saya mampir ke kedai kopi di Bandung. Kedai kopi itu sudah cukup tua berdiri sejak tahun 1928, ketika itu saya bertanya pada seorang nenek tua keturunan Tionghoa yang menjadi keturunan ke 4 pengelola kedai kopi itu. Saya bertanya darimana kopi di kedai ini dipasok. Ia menjawab sudah sejak jaman kakeknya kopi di kedainya salah satunya berasal dari Jember, Jawa Timur.
Jember sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas, dimana pengembangan produksi kopi di Jember rata-rata dikuasai oleh rakyat, maksudnya adalah masyakat yang bukan menjadi bagian PT Perkebunan Nusantara, mengelola kebun kopinya secara mandiri untuk kesejahtraan pribadi mereka dan dalam sistem pengelolaan kebun kopinya pun tidak ada sistem yang biasa diterapkan di perkebunan seperti mandor, sinder dll. Sehingga masyarakat benar-benar leluasa untuk mengelola tanahnya yang ditanami kopi.

 Produksi kopi yang dikelola masyarkata umum atau perkebunan rakyat di Jember dalam setahun mencapai 100-200 ton. Bila digabung dengan produksi PT Perkebunan Nusantara XII, maka hasil kopi Jember mencapai 800-1000 ton per tahun. Jember memang telah memiliki akar perkembangan kopi sudah sejak jaman kolonial Belanda. Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Jember, Joni Murti Mulyo Aji, mengatakan sekitar 96 persen dari total luas kebun kopi di Indonesia, yakni 1,254 juta hektare, dikelola oleh rakyat atau petani. Sedangkan yang dikelola BUMN dan swasta hanyalah sisanya, sekitar 4,10 persen .

Banyak contoh perkebunan kopi di Jember, salah satunya yang berhasil adalah desa Sidomulyo Jember, dimana petani kopi di desa itu yang tergabung dalam koperasi sudah berhasil mengembangkan produksinya tidak hanya sebatas biji kopi saja tetapi juga bubuk kopi. Bahkan perkebunanan kopi rakyat ini, produktifitasnya bisa melebihi PTPN.
Kebun Kopi

Diantara banyaknya pengelolaan kopi oleh rakyat di Jember ada yang membuat saya tertarik yaitu perkebunan kopi rakyat di kecamatan Panti. Alasan utama ketertarikan itu adalah menjadi kopi rakyat bagi mereka sebagai simbol perlawanan atas perebutan tanah yang sempat mereka lakukan sejak tahun 1962, pada waktu itu masyarkat diusir dari desa Widodaren setelah itu tanah didesa Widodaren dikuasai ole PDP (Perusahan Daerah Perkebunan) . Pada tahun 1967 rakyat diberikan hak lagi untuk mengelola tanah tetapi dengan sistem sewa lalu dua tahun kemudian terjadi perebutan tanah lagi oleh perhutani. Sudah terjadi dua kali pengusiran yang dilakukan baik oleh Perhutani maiupun PDP.

Proses sengeketa tanah itu terus berlanjut dan rakyat tidak dapat mengelola kopi dengan tenang. Sampailah pada tahun 2000, dimana Perhutani dan masyarakat mencoba untuk berkerja sama mengelola Hutan dalam bentuk PHBM (pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). Alasan dibentuknya PHBM adalah sering terjadinya pencurian kayu di hutan sehingga  merugikan Perhutani. Perhutani tidak memiliki Sumber Daya Manusia yang banyak sehingga harus melibatkan masyarakat untuk mengelola hutan. Masyarakat diberikan hak untuk mengelola tanah untuk ditanami kopi kembali setelah beberapa kali kopi-kopi yang ditanam harus di tebasi oleh pihak Perhutani karena berbagai alasan yang intinya menunjukan soal legalitas ijin pengelolaan tanah oleh masyarakat.

Sejak dibentuknya perjanjian PHBM, masyarakat mampu mengelola kopinya dengan lebih optimal meski belum maksimal karena memang perjanjian PHBM itu hanya dilaksanakan oleh satu pihak saja yaitu masyarakat sedangkan Perhutani beberapa kali melakukan wanprestasi sehingga konflik-konflik kecil itu masih sering terjadi seperti kasus penangkapan karena masyarkat dianggap meruskan hutan meskipun yang dilakukan oleh masyarakat itu sudah diatur di perjanjian PHBM seperti Perjarangan pohon Mahoni.

Kopi Robusta merupakan varietas kopi yang c ditanam di perkebunan rakyat Pakis kecamatan Panti. Pada awalnya masyarakat mendapatkan benih kopi tidak dengan membeli atau melakukan pembenihan sendiri tetapi sisa-sisa kopi perkebunan yang tumbuh liar dan kadang masyarakat ‘mengambilnya’ dari pekerbunan secara diam-diam. Hal ini dilakukan karena keadaan ekonomi masyarkat pada awal-awal penanaman kopi masih sangat minim, "jangankan untuk membeli benih kopi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih sangat sulit" kata pak Munaji salah satu pemilik lahan perkebunan kopi rakyat.
sistem enten

Setelah pohon kopi tumbuh besar, agar hasil kopinya maksimal maka petani kopi melakukan teknik enten dengan menyambungkan dahan dari kualiatas kopi yang baik dengan pohon kopi yang mereka tanam. Untuk mendapatkan dahan-dahan kopi itu, pada awal-awal penanaman mereka pun melakukan hal yang sama dengan memotong pohon-pohon kopi dari perkebunan tetapi pada saat ini kebiasaan itu sudah tidak dilakukan kerena keadaan ekonomi masyarakat sudah meningkat karena hasil dari tanaman kopi. Kopi telah merubah keadaan ekonomi dan sosial masyarakat desa Pakis kecamatan Panti.

Ketika beberapa tahun yang lalu banyak tenanga-tenaga produktif di desa itu yang pergi keluar negeri menjadi TKI karena sulitnya mencari pekerjaan di desa itu maka pada saat ini tidak hanya menyerap tenaga kerja tetapi juga kualitas pendidikan di desa itu meningkat. Tidak sedikit dari penduduk desa yang menguliahkan anak-anaknya. Peningkatan kualitas ekonomi ini tidak dibarengi oleh pola pikir masyarakat. Hasil kopi seharusnya lebih maksimal tetapi masyarakat yang masih bereuforia dengan keberlimpahan pada akhirnya tidak mampu memaksimalkan penjualan kopi. Pada masa pra produksi masyarakat bisa dikatakan berhasil mengelola kopi tetapi pada pasca produksi kekuatan pemodal masih berkuasa. Masyarkat masih belum memiliki kemapuan negoisasi untuk menentukan harga jual kopi.

Produksi kopi selama sekali panen bisa mencapai hampir 600 ton dengan harga jual kisaran Rp.17.500 – Rp. 22.000. sering kali produktivitas kopi yang dikelola oleh masyarkat jika dibandingkan dengan perkebunan daerah tidak sebanding, Masyarakat lebih unggul dalam hal produksi. Dari segi kualitas dan produtivitas sering kali PDP Widodaren meminta pasokan tambahan kopi pada masyarakat. Pengelolaan kopi masyarakat pada akhirnya menimbulkan semangat perlawanan untuk ‘merebut’ kembali tanah-tanah yang sebelumnya dikuasai oleh masyakat tetapi karena kekuasaan  rezim pada akhirnya mereka menjadi korban.

Semangat itu muncul karena masyarakat semakin teredukasi dan sadar akan alienasi ekonomi selama ini, keterasingan  menimbulkan kemiskinan ditengah-tengah tanah sebagai faktor produkis yang luas. Cukup lama masyarakat hidup dalam kemiskinan dan ketertindasan. Semangat itu terus di dijaga oleh para masyarakat pengelola kopi yang sudah sejak lama tergabung dalam kelompok-kelompok tani.

Perkebunan kopi yang dikelola rakyat, khususnya didaerah kecamatan Panti, desa Pakis tidak saja meningkatkan kualitas ekonomi tetapi juga menggugah semangat perlawanan rakyat yang sudah cukup lama hidup dalam ketertindasan sistem penguasaan tanah, dimana selama ini rakyatlah yang melulu menjadi korbannya.[]

Merdeka!

Jumat, 01 Februari 2013

Akhirnya Menjadi Asing

dalam malam yang benar-benar getir
ada cahaya yang mencari gelap
ada pula gelap yang bersembunyi diantara lorong panjang
kemana cahaya itu?
kucari dalam lipatan-lipatan kisah lama pun tak ada
ada yang benar-benar terasing dalam bayangnya sendiri
sampai-sampai ia menjadi ketakutannya sendiri

lalu dimana terang itu?
harus kah terus berjalan menyusuri langkah dalam liku lorong yang panjang?
atau berdiam diri sambil mendengarkan hardikan caci maki
jika itu membuatnya puas, lakukanlah,. lakukanlah
selagi gelap itu menutupi matanya
biarkan ia terpuruk dalam penyesalan yang sama gelapnya dengan bayangnnya sekarang.
lalu cahaya itu datang menyibakkan kebenaran

semua akan dimulai kembali
saat mata yang biasa saling memandang
bibir yang biasa saling membasahi
dan paha yang saling bertelungkup
sama-sama tidak saling mengenal


Minggu, 27 Januari 2013

Biarkan kamu Cum Laude di mata Tuhan



Mungkin itulah kegetiran? Mungkin itu kegagalan? Atau mungkin juga itu kekalahan yang membuahkan penyesalan dan kekecewaan?. Semunya memang serba mungkin, hanya diri kita yang merasakan tentang semua yang terjadi. Termasuk tentang Cum Laude, ada yang bermimpi mendapatkan predikat itu, ada pula yang acuh karena itu tidak begitu penting tetapi predikat itu memang begitu membanggakan. Apalagi jika kita berhasil menunjukannya pada orang tua yang kita sayangi. Sadarlah, sekarang pun tidak sedikit diantara kita yang mendapatkan predikat sebagai cum lauder tetapi mendapatkannya dengan cara yang tidak elegan sama sekali. Menampilkan wajah memelas, sok pintar dengan kekesongan atau apapun lah. Intinya cum laude bukanlah segalanya yang bisa membuat kita menjadi lemah. Aku rasa orang tua kita akan lebih bangga ketika anaknya setelah lulus bisa bekerja dengan manfaat dan mampu menghidupi keluarganya. Jelas itu lebih ‘prestasi’ dari pada  cum laude yang sebats statistik saja.

Cum laude tak lagi istimewa!
Sengaja aku menulis ini untukmu, kawanku. Kesedihanmu memang beralasan karena  belum berhasil membahagiakan orang tuamu, melihat pancaran kebanggan orang tuamu ketika kau lulus dengan predikta cum laude, tapi ingatlah itu bukan segalanya yang membuatmu menjadi patah arang lalu meratapi keadaan ini dan tak bisa beranjak. Aku tahu betul kapasitasmu seperti apa? Tentu saja, selama kita menjadi saling mengenal kau cerdas dan terampil itu sudah menjadi modal penting hanya saja keberuntungan atau mungkin kebaikan masih melindungimu sebab tidak sedikit yang mendapat predikat cumlaude dikampus kita bermain curang dengan menjadi pelacur intelektual, ya anggap saja pelacur intelektual bagi mereka yang suka mengemis nilai, mencari muka didepan dosen dengan menutupi kebopengannya. Tak perlu risau, matahari masih terus menyinari, selama itu pula kau harus sadar bahwa semangat itu harus tetap membara. Cum laude atau tidak cum laude bukan hal yang penting lagi sebab  kau masih lebih layak mendapatkan itu semua meski tidak disahihkan dalam angka dan patung cinderamata tanda cum laude. Semua memang serba simbol saja.

Sedih bukan alasan dominan.
Sekarang bukan saatnya memikirkan cum laude atau tidak. Kebahagian orang tuamu tidak ditentukan sebatas itu saja bukan? Sebab seperti yang sudah ku bilang tadi selagi matahari masih terus bersinar selama itu pula kemungkinannya semakin besar untuk membuat keluargamu bahagia. Sedangkan cum laude hanya cangkang-cangkang kecil yang sudah harus kau lalui, percuma juga kita cum laude tetapi pada akhirnya menjadi pengangguran terdidik. Sungguh sayang bukan? Atau pecuma juga mendapat predikta cum laude  lalu berkerja di perusahaan besar tetapi tidak menjadi manfaat bagi sekitarnya.

Kawanku yang ku sayang, aku pernah bercerita soal filosofi china tidak? Ada yin dan yang, dimana dalam lingkarang terdapat warna putih dan hitam, tentu kau tau bukan kalau itu semua soal keseimbangan? . keseimbangan dalam kehidupan ini, mungkin saja kau tidak mendapatkan predikat itu pada hari ini karena Tuhan ingin menyeimbangkan kehidupanmu di masa yang akan datang. Ketika manusia hidup selalu bahagia tanpa pernah merasakan getir itu namanya bukan manusia yang sejati bukan?. Ayolah, sudah jangan  biarkan dirimu menjadi lemah karena tujuang yang tak sempat kau capai. Kebahagian itu bagai oksigen yang terbang bebas diudara, ada disekitar kita, tinggal bagiamana kita menjaringnya untuk diri kita.

Aku selalu ingat tentang cita-citamu, tujuan hidupmu setelah kita berkenalan banyak hal yang kita lakukan untuk saling mengedukasi diri. Dari proses dialektis itu, pada akhrinya menghadirkan dirimu yang tidak ‘itu-itu saja’. Semua yang kau dapat dihari ini adalah usaha murnimu, yang tak berlebihan ketika aku bilang bahwa nilai-nilai yang kau dapat suci dari proses belajarmu sebagai mahasiswa. Bukanlah hasil merendahkan idealismemu untuk sebatas simbol-simbol angkat atau huruf yang tak mempunyai bobot atau lebih sederhananya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Untuk kawanku, yang sempat menjadi pendamping revolusi hidupku. Sudah bukan saatnya ratapan itu terus kau biarkan menggoresmu dalam penyesalan. Ingat, waktu kita sudah mendekati akhir. Kebersamaan sudah mendekati batasnya. Oleh karena itu siapakan diri kita untuk masuk dalam rimba kehidupan yang  lebih kejam dari kehidupan kampus, yang intrik-intriknya paling keras soal pemilihan dekan, paling umum soal pelacuran pada nilai, yang paling mungkin sekarang adalah memperbesar kemungkinan yang ada tengah kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Dirimba kehidupan nanti, pasti kita akan bertemu dengan kebopengan-bopengan yang lebih tragis dari yang pernah kita temui di kampus. IPK mu yang kau dapatkan  sekarang ini sudah sangat membuat ku puas, minimal aku sebagai ‘teman’mu. Itu saja. Selamat malam.