Minggu, 10 November 2013

Ceracau Kemuakan

Ocehan berbusa melampirkan kemunafikan yang tak kunjung usai.
Menyesatkan yang hidup, membuat tertawa penghuni neraka.semua penuh ilusi
Tidak ada sudut-sudut yang tidak digenangi darah, sebelum semuanya berakhir di jalur Gaza, di hantam pasukan setan yang bermetamorfosis zionis.
Semua memaki topeng-topeng hak asasi manusia. Dan anarkisme menjadi jawaban yang tidak pernah tuntas karena semua pahlawan telah mati di monopoli kapitalis.
Oh betapa indahnya dunia ini yang tidak pernah menemukan tujuan dan hanya memperlihatkan berhala-berhala dunia yang telah menjadi Tuhan yang akhirnya mati di mata Nietzche.
Dunia kembali memerah ditangan para komunis yang suka beronani disamping palu dan arit yang berkarat.
Tidak ada kemungkinan kepala yang tidak mampu terpisah dari leher karena takdir telah dikuasasi kapitalis-kapitalis yang berseragam birokrat. 
Dan Tuhan pun hanya menjadi mainan para ulama yang beriman sekarat.
Dan kitab suci pun menjadi komiditi yang menjanjikan pundi-pundi keparat.
Khotbah semakin semburat
Maka pada saat itulah sejarah dunia akan mencapai puncaknya dan berbicara memalui ujung-ujung senapan yang dibeli dari uang rakyat
Para aktivis hanya menjadi gerombolan manusia yang tidak pernah mandi yang mencari idealisme di tong-tong sampah busuk, bersama mimpi bejat.
Pesta demokrsi hanya menjadi opera sabun para pengusaha.
Kini mata kita harus kembali di tutup.
Menutup untuk tidak menyaksikan Mario ozawa dan misonaris bersengama di pinggir jalan mengikuti trend moderinsme. Jadilah modern,,jadilah modern. Persetan dengan moralitas
Persetan dengan perdamaian
Persetan dengan Tuhan
Dunia terjungkal dalam perebutan kuasa yang tidak pernah tuntas untuk memahaminya.
 Keadilan hanya milik para sarjana hukum yang sibuk mencari kerja.
Yang ketika kuliah menjadi pemburu IPK
Setelah sebelumnya, Teroris berbaju FPI menobrak-abrik kemasiatan.
Mereka menenteng senjata, mereka menembaki, lalu sembunyi di balik kesucian Tuhan.
Mereka membunuh, mereka membakar lalu bersembunyi di balik firman Tuhan.
Roh kudus menjadi tumbal manusia yang tidak pernah paham mengkaji jengkal demi jengkal kehidupan yang akhirnya murahan.
Dan trotoar di kotori oleh baliho para calon penguasa yang berselingkuh dengan pengusaha
Anak muda merangkul nafsu dalam buaian cinta dan menyelsaikannya dalam kondom import.
Aku tak paham dengan dunia yang darahnya mulai mengering.
Aku tidak paham dengan kekuasaan yang rela memisahkan setiap kepala dari leher manusia tak berdosa.
Aku tidak pernah paham dengan kapitalisme yang melanjutkan tradisi holocaust.
Aku katakan pada matahari yang tidak pernah mampu mengkhianati Tuhan.
Aku katakan perihal kesucian Tuhan yang tertukar oleh silau emas.
Surga dan Neraka hanya menjadi komoditi dagang para ulama yang muncul di setiap bulan puasa.
Moralitas hanya terlihat dari selangkangan dan lubang anus

Aku katakan semuanya pada para martir perubahan yang lemah syahwat ditikam valas
Aku katakan pada lucifer tentang dunia dan kehancuran yang semakin kolaps
Aku katakan semuanya pada roh-roh suci pembawa damai yang berkedok Guy Fawkes
Dan aku katakan ini pada bayi-bayi yang berteriak sendu mencari tetek ibunya
Inilah dunia yang yang membuat Bung Karno menangis
Membuat Tan Malaka terus berteriak dari liang kuburnya.
Dan Mengharuskan Isa segera di turunkan kembali ke Bumi
Hay, kalian martir kitab suci, sarjana muda pembawa pesan perubahan, demontran musuh polisi dan politikus berkumis tikus masih kah kau berbicara soal kiasan Tuhan, Nasionalisme norak alas Cintailah Produk Dalam Negeri, Ganyang Kapitalisme sambil makan siang di Pizza Hut atau bereritak Allah Akbar, Hallujah sambil meneteskan darah penindasan.
Ah,,,Dunia tak pernah mampu didefinisikan,
Setelah darah mengering, setelah nanahdan anggur menyatu
Setelah itu kita sadar, tak ada waktu untuk bersatu

Sabtu, 19 Oktober 2013

(Ketidak)Pedulian =Kebusukan Sekret

Bau busuk kaos kaki bercampur dengan pesing kecing cecurut, ditambah kasur sisa tidur semalam yang tidak dirapikan, koran yang berserakan tak karuan dan piring sisa makan yang digeletakan begitu saja telah menjadi pemandangan yang sulit dipisahkan dari sekret UKPKM Tegalboto, sudah dibersihkan berkali-kali namun tetap sama, selalu saja ada orang-orang yang tak bisa memahami nikmatnya bersih.  Kumuh dan tak beraturan. Belum lagi diruang redaksi, tumpukan baju busuk, entah  siapa saja yang punya pun menampah berantakan sekret ini. Selama beberapa hari ini, Tegalboto, hanya saya, Bill, Elya, kadang Ardi  yang biasanya standbye di sekret kadang tidur disana, sisanya yang lain entah kemana. Entah sedang sibuk mengerjakan tulisan majalah atau mencoba untuk menenangkan pikiran karena tekanan deadline majalah yang semakin memburu. Akhirnya, atas keadaan yang menyiksa itu saya mencoba untuk mengajak crew Tegalboto untuk bersih-bersih sekret. Namun, sayang sekali hanya ‘yang itu-itu saja” yang datang. sudah dua kali ini aku mengajaknya namun tetap sama dengan hari yang sebelumnya. Lalu dimanakah pengurus, anggota yang lainnya? entahlah, ketika diberi kabar melalu sms ada yang balas dan ada yang hilang sama sekali.

Keadaan ini membuat saya sangat jengah. Kemana saja, kawan-kawan ini? Sekret sudah kumuh seperti ini tetap saja dibiarkan kumuh tak aturan, padahal kita semua tahu kalau Tegalboto sedang menggarap majalah, dimana intensitas komunikasinya dan koordinasi di sekret perlu ditingkatkan, bagaimana akan membicarakan ide-ide segar jika mata dan hidung kita terganggu oleh keadaan yang busuk macam sekret Tegalboto sekarang ini. Sungguh, bagi mereka yang tiap hari tidur di sekret pasti akan merasakan hal yang sangat menggangu, apalagi tidur bareng dengan cecurut yang lewat diatas kepala kita, melewati bantal yang biasanya sering diperbutkan oleh kita semua. Salah-salah, bisa terkena penyakit Pes kita nanti.

Oleh karena itu, kepada kawan-kawan pengurus ataupun anggota magang UKPKM Tegalboto, dengan hormat saya menggundang semuanya untuk hadir besok, hari Minggu tanggal 20 Oktober 2013 untuk bersih-bersih Sekret UKPKM Tegalboto.  Ketika sms tidak dihiraukan, diberi kabar berkali-kali diacuhkan maka saya mencoba menulis seruan ini. Terima kasih atas perhatiannya!
 
Salam bersih-bersih

Jumat, 04 Oktober 2013

Malam membawaku pada Hari itu!

Selamat malam.
Hening, berteman dengan syahdu, sepertinya memang selalu begitu tak pernah berubah. Aku bilang “syahdu itu mencandu”. Malam ini, kutemui temaran yang main layu, tak bersemangat memberi warna yang perlahan menjadi sedikit gelap tapi tak berharap gelap menguasai segalanya. Hanya Jangkrik yang tak bosan membuat gaduh, sedangkan dari kejauhan sayup-sayup berkumandang orang mengaji, malam makin syahdu. Syahdu lagi-lagi berkawan denganku dalam suasana putik kontemplatif seperti malam ini.Malam membawaku ke hari itu.

Baru saja aku tinggalkan kemeriahan malam, berkelekar tentang lelucon-lelucon, sambil kadang  menertawakan hidup yang terlalu itu-itu saja. Malam, selalu saja menjadi tempat sampah, apalagi jika hening memeluk ingatan-ingatan yang lama diendapkan waktu, yang kini mulai melapuk.
Sementara, kemeriahan yang kutinggalkan itu masih menyisakan tawa meski keceriaan itu hanya sementara. Ketika langit makin menua, waktu  menghadirkan kantuk yang tak kuasa ditahan maka semua akan kembali dalam kehangatannya masing-masing. Dikala itulah, dikala hening datang, damai datang, ada ingatan yang yang mengendap-endap merasuk. Sama seperti malam ini yang kurasakan.

Malam membawaku pada hari yang lalu, ketika aku masih mengeja kepastian. Belajar berdiri sambil tertatih-tatih untuk tetap bisa tegap ditanah perantauan. Tak terasa, hari itu sudah beranjak  4 tahun lebih. Dimana kini aku sedang menghadapi tugas akhir meski masih aku biarkan tak tergarap, karena ketika terlalu cepat lulus aku tak ingin dipermainkan oleh keresahan “akan kerja dimana aku?”. Pertanyaan yang akan sulit terpecahkan oleh generasi-generasi limbung macam aku ini. Hari itu sudah semakin berlalu, meyisakan tawa-tawa yang ditertawakan dalam suasana seperti malam ini. Kenangan itu hadir.

Hari itu, aku tak ingat pasti. Dimana langkah kakiku berjalan setapak demi setapak meninggalkan rumah, menyisakan tetesan air mata dari Mamah dan adik-adik. Kala itu, aku masih hijau, berbebekal semangat akan kebaharuan yang cukup lama aku idam-idamkan, mencari hal baru ditempat yang baru. Semangat itu meruntuhkan kesedihan akan perpisahan. Kereta menuju timur membawaku pergi ke tempat yang penuh asa, Jember. Begitu bersemangat menyambutnya, sedangkan yang ditinggalkan menahan sesak, salah satu keluarganya, anaknya harus meninggalkan rumah untuk pertama kalinya dan tak akan kembali hidup bersama dalam kerjaan kecil keluarga Sugandhi.

Berlalulah hari itu, kemudian setelah seragam putih dan abu-abu aku tanggalkan berganti ke perguruan tinggi. Dimana aku bergumul dengan suasana pendidikan yang baru, di fakultas Hukum Universitas Jember. Bertemu dengan kawan baru, budaya baru, suasana baru dan semangat yang lebih baru. Meski awalnya aku menginginkan UGM sebagai tujuanku. “Tak apalah, dimanapun aku berada” pikirku waktu itu, karena aku sudah terlalu bosan dan muak dengan suasana di rumah, lingkungan di Garut. Bagiku, hari-hari yang kulalui begitu monton, tak ada yang menarik.

Sudah  tahun 4 tahun berganti. Banyak cerita yang tertulis, banyak kisah yang diceritakan oleh siang, senja, malam, kemarau, hujan. Banyak hari yang kulalui dengan pengalaman –pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja. Meninggalkan kesan yang mendalam, meyimpan kenangan yang tak terlupkan. Kisah itu manis, syahdu, satir berpadu dalam buku besar yang kuberi nama “keberanjakan waktu”. Kutemui impian yang selama ini hanya angan-angan, kutemui idola-idola yang selama ini kucari dan kudapatkan kehangatan yang selama ini kubayangkan. Jember, telah memberi kesan yang mendalam. Ketika diawal aku hadir disini, ketidak betahan selalu menghantuiku, kini aku cinta kota ini. Kota yang sebelumnya telah menjadi saksi aku dilaharikan dimuka bumi ini dan kini kota ini pun menjadi saksi awal langkahku menuju keberanjakan pada dunia yang lebih baru dan menarik untuk aku lalui.

Kini, ketika semuanya sudah dijalani sampailah pada senjakala. Senja yang biasa aku nikmati di Gumuk kerang itu akan berganti senja yang aku nikmati dilain tempat, lain suasana. Siklus itu berulang dan berganti waktu, sama mencari kemeriahannya. Namun, kini aku tak pergi dengan sendiri. Seorang perempuan telah menjadi alasanku untuk tetap kembali meski telah berlayar jauh. Ia ibarat pulau idaman bagi seoerang bajak laut, meski berkelana dalam samudra luas, tersesat senyap kabut samudera, dihantam badai laut selatan atau karam di luatan artic, sang bajak laut itu akan kembali ke pulau impiannya. Menikmati kebersamaan  yang mentramkan, berbicara tentang kucing dan anjing yang hidup rukun, memandangi anak-anak hasil buah cinta yang  bertingkah lucu. Ya aku selalu berharap Tuhan memeluk mimpi kita.

Sampailah pada hari yang kunanti sekaligus kubenci karena aku benci perpisahan, dengan apapun. Dimana hari ini, aku tak lagi sehijau dulu. Setelah mengalami banyak cerita dan pengalaman  yang membawa aku pada hari-hari yang mulai mempakan lembayung, terjadi gradasi antara kebosanan dan kemeriahan yang masih tersisa menciptakan keindahan tentunya akan berbeda di hari dan tempat yang lain.

Kini, waktu ku banyak dinikmati di ruang-ruang diskusi, bukan lagi sebagai pendengar  atau penonton  seperti dulu. Kini aku yang banyak bercuap-cuap sambil didengarkan oleh mereka yang hijau. Kini pun, waktuku banyak dihabiskan di warung kopi sambil menuntaskan keresahan dengan bercerita dengan sejawat yang sama-sama melahirkan kreativitas untuk mensahihkan kalau aku itu manusia yang tak sekedar hidup lalu hanya makan dan minum, tidak, aku pun ingin berkarya dengan caraku.

Begitulah hari itu semakin hari terus beranjak. Seperti yang pernah kukatakan dulu, waktu itu sungguh arogan tak ingin berhenti barang sejenak, menikmati keceriaan sejenak. Waktu terus berganti meski perlahan namun menghipnotis, tiba-tiba sudah jauh keberanjakan itu. Dari sini, aku bisa ingin menyimpan hari-hari yang membuat kelu ketika diingat dikemudian hari itu, tentunya melalui tulisan ini. Ada kesan yang tak rela dari aku jika membiarkan  meninggalkan kenyamanan yang selama ini bersama ku. Namun, hidup ini terus berputar. Aku seorang supertramp yang terus akan mencari tempat baru sambil merasakan sensasi petualangannya sampai kebosanan terlalu berkuasa, baru aku akan menikmati kebersamaan yang hangat itu bersama keheningan yang cintai.

Semakin melapuknya malam mendekati pergantian hari dari tengah malam menuju dini hari, aku hanya ingin ketika catatan ini kubaca dikemudian hari oleh siapapun bahwa hidup ini adalah siklus yang terus berulang. Meninggalkan kisah yang lucu dan indah jika dikenang dikemudian hari. Bersama kisah itu aku lebih beranjak dari hari yang lalu begitu seterusnya sampai akhirnya harus berkalang tanah. Namun biarkan kisah itu tetap hidup meski raga ini tak bisa lagi berkata-kata, tak bisa lagi menjauhkan langkah atau tak bisa lagi menjelajahi eksotisme hari-hari baru.

Orang-orang sepertiku tak pantas menikamti hidup melulu dari balik meja sambil menghabiskan susu kaleng. Orang-orang sepertiku harus merasakan kenikmatan indahnya kebebesan, agar lebih menghargai kalau hidup sekali dan kita hidup bukan untuk dinikmati secara monoton.

Seperti malam sebelumnya, ada ceracau yang kacau tapi aku hanya ingin menitipkan kisah ini. Selamat malam. Setidaknya malam kembali lagi membawaku pada hari ITU, hari yang membawaku pada keresahan 4 tahun yang lalu.

Kamis, 08 Agustus 2013

Kawan Baru itu Bernama Syahdu


Sepi begitu menyengat, malam ini sepi terlalu ditawarkan begitu banyak sehingga setiap jengkal langkahku selalu diikuti oleh syahdu. Tanpa bintang, langit diselimuti awan hitam, tanda hujan namun hujan tetap enggan membasahi gersang. Percuma saja aku meminta hujan, hujan tak sudi membasahi kemarau, karena aku butuh juga sejuk. Dikanan dan kiriku hanya lampu temaran yang terbuat dari bekas botol minuman berenergi. Temaran itu sengaja ditempelkan dikanan kiri jalan oleh pemuda desa untuk memeriahkan hari nan Fitri ini. Temaran sisa  takbiran malam lalu masih tetap menyala sampai 3hari kedepan, khas suasana desa yang menentramkan. Malam  begitu syahdu ditemani lantunan Dewa 19- kangen. Tepat sekali, aku memang sedang menahan gejolak rindu, “ membara menahan rasa, pertemuan kita nanti” begitu kata salah satu liriknya, seolah menyindirku dalam senyap malam ini. Aku rindu teman hidupku, Anggie. Ia teman hiudp lebih dari pacar atau apapun. Damn, I Miss You.
 
Aku memang sedang mencari sepi, bergumul dengan malam yang sepi sungguh membuat tenang. Sepi adalah kawan yang tepat untuk membawaku terbang melintang kebanyak tempat. Mengunjungi yang lalu, berimajenasi tentang yang akan datang, bersamamu. Pada saat sepi yang syahdu seperti inilah kematian terasa begitu tajam menyayat ingatan. Oh Tuhan, Engakau membawaku pada pengalaman yang menentramkan, membayangkan bagaimana nanti kematian menghampiriku, dimana aku menghadapi kematian? Diranjang empukah atau dalam alam kebebasan?, entahlah. Kematian tidak akan mengakhiri semuanya, hanya perpindahan saja. Jiwa akan tetap hidup dalam  tunas semangat baru. Begitulah siklus itu terus diceritakan.
 
Malam semakin larut, membawaku suasana kontemplatif untuk menelanjangi segala resahku, salahku.  Lalu datang pertanyaan yang juga belum aku bisa jawab dengan pasti,” kemana aku akan melangkah setelah mentari benar-benar memintaku melanjutkan langkah?”. Sebentar lagi waktu itu tiba. Aku akan lulus kuliah dan mencari kehidupan untuk melanjutkan asa dan membanggakan yang kucintai.
 
Kedekatanku dengan sunyi bukan untuk lari dari penat. Aku hanya ingin mengakrabi sunyi yang katanya mencandu itu. Terlalu muak aku dengan hingar, meski aku pun tak terlalu suka dimakan sepi. Memang ada resah, keresahan akan kebutuhan suasan yang penuh dengan kontemplasi. Sepi bagiku adalah ruang untuk lebih mengenal siapa aku, menjadi lebih jujur akan segala kebohongan di kala mentari purba menerangi. Aku suka sepi karena ada suara lembutmu memanggil-manggil namaku, aku suka sepi karena ada wajahmu meski kau tak ada disampingku, aku suka sepi karena membawaku pada kejujuran, semangat dan tentunya segala jawaban atas setaip pertanyaan yang tak terjawab.
 
Sepi adalah kawan, ya kawan untuk memperkenalkan diriku pada aku, menurutku seperti itu.
 
Malam semakin larut dan aku masih tetap tenggelam dalam syahdu, playlist terus berlanjut mendendangkan nada-nada yang menambah malam lebih syahdu, aku masih terhanyut dalam renungan malam. Hidup itu menarik ya? Aku bertemu dengan banyak cerita, teringat tentang kemenangan dan kekalahan, kebodohgan. Sepi yang syahdu ini pun seperti anti toxin , membuang segala ingatan kotor yang pernah datang mengisi buku ceritaku, meski sempat merasakan indah.

Semua tercurah dalam suatu cerita panjang yang terus akan ditulis, kini aku sedang membacanya sambil ditemani syahdu. Sudah, itu saja yang ingin kuceritakan. Seorang kawan yang bernama sepi. Bukan sepi yang menikam, bukan sepi yang katanya mencandu tapi sepi sanggup menceritakan cerita-cerita yang sempat aku tulis, namun tak sempat kubaca.

Samudra Menantimu, Kawan


Mas Asep dan AKu setelh Wisuda tahun 2013
Tentang waktu, aku memulainya dari gerakan yang begitu lambat. Bergantian dari detik ke detik berubah menjadi menit lalu jam. Jam berakumulasi menjadi hari, hari terus beranjak menjadi bulan, minggu, tahun dan seterusnya.  Dalam waktu yang bergerak banyak kisah yang diceritakan dan aku berusaha menangkapnya dalam barisan kata-kata yang membuat kelu untuk dikenang. Berawal dari perjumpaan sehingga saling berkenalan menjadi kawan berbagi lalu diantarkan oleh waktu pada perpisahan. Seolah itu hukum yang sudah pasti, sulit dielakan. Terlalu kuasa waktu mengatur semuanya, termasuk soal pertemuan dan perpisahan. Rasanya yang terakhir itu paling tidak enak untuk dilalui. Tak ubahnya seperti kemeriahan pasar malam yang tiba-tiba senyap ketika bulan dan bintangbeganti mentari. Kali ini pun aku mengalami kisah yang tidak ku sukai, tentang pertemuan dengan kawan baru lalu dihadapkan dengan kabar perpisahan.

Beberapa waktu lalu, ketika saya tak sengaja menyempatkan mampir diwarung kopi tempat biasa berkumpul untuk memuntahkan ide, bertemu dengan banyak muka dan banyak kepala yang membawa ide-ide yang menarik untuk segera di praksiskan. Malam itu aku bertemu dengan kawan, sebenarnya ia baru saja aku kenal, ia biasa aku panggil Asep, mas Asep lebih tepatnya. Nama panggilannya itu bukan nama yang sebenarnya, menurut penjelasnya, sebenarnya ia bernama Luqman Al Farid, sedangkan sebutan Asep itu karena ketika ia SMA (atau SMP) ia menjadi santri disuatu pesantren, dan Asep merupakan nama kyai yang menjadi pemimpin di pesantren tersebut sehingga sejak saat itu ia lebih dikenal dengan nama Asep daripada Luqman. Hem, jauh sekali bergantian namanya.

Perkenalan ku dengan dia diawali melalui Anggie Puspita, Anggie yang lebih dulu mengenal mas Asep karena kedekatan dalam paguyuban mahasiswa Surabaya. Awalnya tidak terlalu dekat lalu mulai saling mengenal ketika sama-sama suka ngopi diwarung kopi. Dari warung kopi itu proses dialektis tercipta, banyak cerita yang disampikan sehingga saling memperkaya pengalaman dan pengetahuan. Kebetulan mas Asep, kawan yang aku anggap cukup paham soal agama, dimana soal satu ini aku benar-benar tidak paham dan sedang berusaha untuk bisa memahami. Obrolan diwarung kopi itu benar-benar ngalor-ngidul menemukan sendiri alur dan klimaks ceritanya tanpa harus dicari-cari. Ia orang yang bersahabat dan hangat sehingga mengobrol dengannya tidak pernah terasa, sampai-sampai jarum jam sudah menunjukan angka 4 jam obrolan. Pernah ada kejadian yang membuatku benar-benar menaruh respek pada Mas Asep. Ketika itu sehabis ngopi di Cak Wang, Vespa yang aku kendarai mogok dan tidak bisa jalan lalu ia pun membantu. Pikirku hanya sebatas membantu sebatas formalitas saja, ya dikarenakan ia baru mengenalku (maaf mas, terlalu berpikiran negatif) tetapi ia benar-benar total membantu agar Vespaku yang sering ngadat-ngadatan itu segara membaik dari mulai membelikan bensin sampai akhirnya mendorong sampai di bengkel. Mungkin itu hal yang biasa tetapi ketika itu aku dan dia baru pertama kali ngopi dan ia sudah rela berusah payah untuk orang yang baru pertama kali ia kenalnya. Sejak saat itu, kita semakin banyak bercerita dan bertukar ide tentang remeh temeh tetapi bermakna.

Obrolan diwarung kopi selalu mengangkasa, meluas meski diawali dari hal kecil yang sepertinya tidak menarik tetapi selalu saja ada proses diskusi yang membuat obrolan tidak pernah terputus, begitu obrolan ku dengan kawan  baru itu. Beberapa kali aku minta ia mengajarkan ngaji, namun ide itu masih belum terealisasikan sampai pada akhirnya ia bercerita kalau ia tinggal beberap hari lagi di Jember. Sontak kabar itu membuatku terhenyak, meski ia kawan yang baru aku kenal tetapi rasanya ia kawan yang tepat untuk sharing hal-hal kecil yang menambah panjang malam diantara uap kopi yang terus mengepul. Kini, ia harus pindah karena ia sudah dihadapkan pada konsekuensi hidup “lulus menjadi mahasiswa”. Ia melalui proses itu sangat panjang, kalau tidak salah ia angkatan 2006 dan baru lulus 2013. Well. Totalitas tanpa batas.

Sekali lagi perkawanan itu tidak mengenal waktu lama atau sebentar untuk bisa sama-sama nyaman dalam berkawan. Ia termasuk kawan yang mudah beradaptasi, meski baru dikenal tetapi seolah seperti sahabat lama. Malam itu, aku menyakan alasannya kenapa kok begitu cepat harus memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Jember, ia menjelaskan kalau ia harus mengabdi kepada orang tuanya. “ aku yo kudu ngabdi karo wong tuwekku,om” jelasnya dengan logat Surabayanya yang khas. Pertemanaku dengan mas Asep begitu hangat dan bersahabat sekali.
Malam itu, keadaanya sedikit berbeda, aku lebih banyak diam seoalah tak siap harus kehilangan kawan ngopi. Namun ia berkata padaku “ jangan ucapkan selamat tinggal om, tetapi ucapkan sampai jumpa lagi”. persis seperti yang dikatakan oleh kapten Bajak laut Luffy si Topi Jerami. Benar, kawan. Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal, biarkan kita berjumpa lagi dilain waktu. Rencananya aku ingin lebih mengenal kota Surabayamu itu. Haha

Perpisahan bagiku suatu hal yang biasa namun sedikit berbeda suasanya jika aku berpisah dengan kawan baik. Beberapa bulan ini, aku bertemu dengan banyak perpisahan, dari mulai sahabat-sahabat se-anggakatanku di 2009 di fakultas Hukum, kawan se-organisasi dll. Sungguh tidak menyenangkan perpisahan itu namun aku harus menyadari kalau pertemuan dan perpisahan itu seperti dua sisi mata koin. Namun dari obrolan tadi malam aku pun disadarkan tidak pernah ada istilah perpisahan yang ada hanya pertemuan yang akan terjadi diwaktu yang akan datang.

Semoga kita benar-benar bisa bertemu lagi kawan, menghabiskan banyak obrolan ditemani kopi hangat yang terus mengepul dalam kehangatan kebersamaan. Sekali , selamat jalan dan sampaikan kabar baikmu dari tanah lamamu, Surabaya.[]



Rabu, 07 Agustus 2013

Memaknai Ulang Rimba

Menjadi persoalan baru, ketika apatisme terlalu berkuasa sehingga acap kali membuang jauh-jaukepedulian atau lain dari itu, apatisme memaknai ulang atas suatu hal yang sebelumnya terpola pada pakemnya. Ya, semacam alasan pembenar saja agar menyesuaikan dengan rutinitas yang ada atau mencoba membuat hal baru  seolah menjadi hispter padahal mainstream yang malu-malu sehingga mencoba membuat keunikan tersendiri meski tak beresensi. Hem. aku hanya melihatnya dari kejauhan, dibalik lubang-lubang tambang emas di Gunung Manggar, Ambulu. Di sela celah batu Gumuk yang telah luluh.

Setelah berganti wajah, berganti tubuh, berganti pandangan  tetapi tetap berseragam sama, karena seragam itu masih berguna sebagai simbol (semata), aku merasakan kegusaran yang sama seperti seorang kawan lamaku, namun tak pernah bisa terjawab sampai hari ini. Persoalan itu tentang pemaknaan ulang pecinta alam, yang mana ketika dulu aku pernah aktif di organisasi pecinta alam kampus namun hanya melalui proses-proses yang membuatku terasa membentur tembok ratapan. “ada perbedaan visi dalam pemaknaan organisasi mahasiswa pecinta alam” pikirku waktu itu, namun aku hanya mendiamkannya saja. Awalnya dalam benakku, pecinta alam itu sekumpulan ‘manusia’ yang merasa memiliki kepedulian lebih kepada lingkungan, kebetulan ketika SMA aku terlibat dalam gerakan stop Global Warming. Kenapa manusianya aku beri tanda petik karena mereka manusia yang istimewa dalam arti memilih meluangkan banyak waktu, materi tenaga untuk alam, lingkungan. Intinya, kegiatan-kegiatan pecinta alam itu tidak sebatas bercumbu dalam rimba, menyelami ngarai, atau merayap diterjalnya tebing. Sekali lagi tidak sekedar itu saja. Ada rasa kepedulian yang besar kepada lingkungan sekitar, sebagai contoh  terlibat dalam advokasi pelestarian lingkunga, menanam pohon dilahan kritis, atau juga terlibat dalam sosek masyarakat sekitar rimba. Nyatanya, aku hanya bertemu dengan segala macam kegiatan yang bersentuhan dengan alam bebas, bergumul dalam dingin malam, memanjangkan langkah untuk mengarungi hutan lebat atau menginjakan kaki di puncak gunung tertinggi, lain dari itu tidak. Harapanku terbentur pada kultur yang dirasa berbeda, dimana yang ditonjolkan kemampuan untuk bertahan bukan kepedulian pada lingkungan, contoh mudahnya masih sering ku lihat anggota-anggota pecinta alam yang membuang sampah dihutan, menebang pohon sembarang meskipun untuk alasan api unggun. Itu adalah contoh sederhana kalau alam hanya digunakan sebatas untuk mensahihkan identitas atas seragam dan scaf yang dikenakan “ini aku anggota organisasi pecinta alam yang telah banyak mendaki gunung, menyisiri pantai dan memanjat banyak tebing, yang menanggap setiap anggota pecinta alam adalah saudara sehingga sakit satu sakit semua, persetan dengan salah dan benarnya”. Namun kadang bisu ketika ditanya soal bagaimana peran yang harus diambil ketika Paseban akan tenggelam oleh pasang laut ketika Pasir besinya terus dikeruk atau pura-pura buta ketika melihat lubang-lubang tambang emas di Wuluhan atau tak berdaya ketika melihat keterbelakangan masyarakat sekitar rimba.
Bukan bermaksud untuk mencari nilai kebenaran atau memasung kesalahan, tidak.  Aku hanya ingin berangan-angan soal pecinta alam itu harusnya bagaimana?. Meski aku bukan lagi anggota pecinta alam, meski aku hanya beberapa kali mendaki gunung.

Ketika itu, tahun 2010 untuk pertama kalinya aku mendatangi salah satu desa di kecamatan Paseban Jember yang berdekatan langsung dengan bibir pantai Paseban, dimana pasirnya begitu menyilaukan para investor tambang untuk segera melepaskan birahinya mengeksploitasi pasir besi itu. Masyarakat didesa itu jelas menolak karena memang posisi laut dan daratan lebih tinggi laut dan pasir besi itu sebagai tanggul alam yang melindungi mereka dari air laut yang pasang. Waktu itu, aku dan beberapa teman dari organisasi mahasiwa ekstra mencoba memahami permasalah yang terjadi namun apa daya, analisis lingkungan kami sangat minim sehingga kami hanya bisa berupaya dibidang lainnya yaitu penyelesaian sengketa hukum dan mendampingi masyarakat untuk meredakan konflik horizontal antar sesama, karena pada waktu itu ada semacam politik devide at impera yang dilakukan investor untuk memecah belah masyarakat.  Ketika aku bertanya kepada salah seorang tokoh masyarkat  “apakah ada teman-teman pecinta alam yang ikut terlibat dalam permasalahan ini, karena ini pun termasuk permasalahan lingkungan mas?” “ oh belum mas hanya teman-teman dari mahasiswa dari organisasi ekstra dari PMII dan GmnI” jawabnya. Setelah obrolan itu dan setelah hari itu aku tidak lagi memikirkannya soal ambil peran teman-teman OPA, karena kebetulan pada waktu itu aku masih menjadi anggota OPA.

Berapa tahun kemudian sejak hari itu, ketika ada semacam keresahan pasca banyaknya gumuk di Jember yang hilang akibat eksplotasi gumuk secara berlebihan, aku kembali lagi bertanya-tanya? Dimana peran kawan-kawanku ini? -Sekarang ini aku sudah bukan lagi anggota OPA, namun telah menjadi anggota Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas-.  Pasca setelah terjadi angin ribut di daerah kauman, Jember kota. Aku kembali lagi merasakan keresahan karena gumuk-gumuk yang sebelumnya berfungsi sebagai pemecah angin dan meresap air kini telah beralih fungsi lahan, dari mulai pertokoan, perumahan atau rusak begitu saja. Lagi-lagi pertanyaanku tentang keberadaan pecinta alam dimana? Bukan bermaksud menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan alam pada OPA, namun setidaknya ada peran yang bisa diambil oleh masing-masing pihak bagi pelestarian lingkungan ini, khususnya di Jember.
 
Dalam perkembangannya, sungguh senang rasanya ketika melihat OPA dari fakultas lain yang bertindak berani untuk membeli Gumuk. Setidaknya ada angin segar kalau OPA masih peduli pada lingkungan tidak sekedar mendaki gunung lalu berpose ria yang di upload di sosial media atau atau memilih dirimba sunyi.

Sekali lagi, aku hanya ingin berandai-andai agar menjadi pecinta alam yang tidak hanya ‘sebatas’ menikamati alam. Hi kawan, cobalah tengok dengan mata kawan-kawan? Lihat pasca Semeru di angkat ke layar lebar, dengan film 5cm. Kini Semeru penuh dengan sampah. Pasar telah menjamah kesucian Mahameru, sampah berserakan dibibir danau Ranu Kumbolo, oh tidak sepanjang perjalanan dari Ranu Pane sampai Puncak Semeru. Hi, saudaraku tolong lihatlah Sempu kini berserakan oleh sampah pula. Seolah tidak keren jika tidak berkelana di alam bebas, ya sebatas agar terlihat lebih keren saja meneteng-neneteng carrier. Itulah keadaan sekarang kawan. Lingkungan telah dijual untuk kepentingan pundi-pundi. 

Kali ini, saya ingin lebih intim, mencoba memberi kritik pada kawanku yang kebetulan sebagai ketua umum Organisasi Pecinta Alam kampusku. Aku teringat pada seseorang yang mendorongku untuk ‘berkunjung’ ke Semeru. Tentu, kau tau siapa idolaku itu, Soe Hok Gie. Ia seorang pecinta alam, menikmati alam namun ia tidak buta pada realitas sosial yang terjadi disekitarnya. Ia menggunakan alam sebagai tempat yang penuh kontemplatif, tempat mengasingkan diri setelah lelah bertarung dalam ruang yang nyata. Ia sosok pecinta alam yang tidak malu-malu untuk mengkritis kondisi yang menurutnya penuh dengan kemunafikan. Ia bukan orang yang anti sosial, buta pada kondisi disekitarnya.

Lalu apakah kita bisa mengambil pelajaran dari  seorang Soe Hok Gie, tentunya kau pun sepakat kalau ada nilai positif yang harus dipraksiskan. Benar, apalagi kita mahasiswa fakultas hukum, yang mana selalu berdekatan dengan dogma-dogma yang kadang membuatmu malas untuk masuk kelas sehingga meminta TA pada kawanmu yang lain. Namun apakah kau tetap malas juga membiarkan keresahanmu terbiarkan begitu saja, melihat organisasi katanya kau hargai dan cintai itu hanya berisi bocah-bocah yang tidak mempunyai soul pada lingkungan, begitu kan ceracaumu di Twitter? Ada baiknya kita mencoba mengendap, membalikan kemudi dan mengangkat sauh untuk segera berlayar dalam ide yang praksis, tidak hanya sebatas retorika-retorika kosong.

Oh ya, beberapa waktu lalu aku membaca Undang-Undang 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Dimana dengan gamblang dijelaskan dalama pasal 37 tentang peran masyarakat dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna, artinya perlu ada upaya untuk memulai tidak hanya dalam kegiatan-kegiatan yang intern yang jauh dari esensi menghargai dan melestarikan lingkungan. Kita perlu membuka telinga dan mata lebar-lebar sambil menyiapkan tenaga dan suara yang lantang untuk mengepalkan tangan pada siapa saja yang mencoba untuk merusak lingkungan, mudahnya seperti itu. Sehingga generasi yang terlebih dahulu berproses, macam aku atau kamu setidaknya meninggalkan pondasi-pondasi yang kiranya akan diteruskan pada generasi selanjutnya, aku berbicara sebagai kita yang saat ini sama-sama mimpin organisasi yang mempunyai kultur besar dan berbeda dari yang lain. Alangkah tidak menyenangkannya ketika kita sadar akan keresahan yang terjadi di oganisasi yang kita pimpin namun membiarkannya begitu saja. Berkegiatan di alam bebas bukan lah menjadi tujuan yang paling utama namun seperti Soe Hok Gie, menggunakan alam sebagai tempat menyepi, kontemplasi bukan menyendiri dan anti sosial, ya pura tuli, pura bisu dan pura lugu.

Akhirnya, Kemungkinan terbesar sekarang, memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan. Sehingga setiap orang yang kita temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk kemungkinan untuk berkata tidak mungkin. Semoga obrolan melalui tulisan ini mampu mengedukasi masing-masing. Kita sama-sama berproses tetap berposes dalam jalur yang berbeda untuk bertemu pada samudra yang sama.
Salam Lestari dan Salam Persma.

Untuk saudara Se-PDAku,  Fathoni “Gesper”Amsyari ketua Umum IMPA Akasia periode 2012-2013.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Kapitalisasi Ritus Suci

Senyap itu perlahan hadir. Merasuk melalui celah-celah ventalisi bersama dengan dingin yang menusuk tulang. Malam ini H-4, Jember sudah mulai terasa senyap ditinggal para penghuninya, khusus hanya didaerah kampus. Para penghuninya yang mayoritas mahasiswa sudah banyak yang kembali di rumahnya masing-masing menikmati hari besar bersama keluarga, menyatap sepiring Opor ayam dan kupat, mengenakan baju baru  sambil mengobrol santai dengan sanak keluarga yang juga sama berkumpul untuk bersilaturahmi, seolah semuanya terasa kekeluargaan. Ya, mudah-mudahan seperti, kehangatan yang tidak hanya dipertemukan dalam sebatas momen.  Sedangkan saya masih tetap bertahan dalam ruangan sepi, sekertariat UKPKM Tegalboto bersama kawan-kawan yang juga memilih untuk pulang mendekati hari H lebaran.  Saya sengaja tidak mudik lebaran ini. Saya ingin benar-benar merasakan keheningan lebaran jauh dari hiruk pikuk keramaian yang saya merasa itu semua sebatas kesemuan.

Ketika Idul Fitri dimaknai sebagai hari kemenangan, hari dimana Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Bulan Ramadhan merupakan bulan khusus yang dikhususkan Allah untuk Umat Islam. Di bulan ini terdapat maghfirah, rahmah dan itqun minan nar. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi sarana umat manusia untuk memohon dan meminta pengampunan dari Allah dengan jalan melaksanakan ibadah puasa dan shalat tarawih. Sebagaimana hadis Rasul:

(Dari Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Faudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan kepercayaan bahwa perintah puasa itu dari Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya).

Keheningan adalah pilihan yang tepat bagi saya tanpa kue lebaran, baju baru, atau apapun yang menjadi simbol kebaruan, kebaruan yang materialistik. Idul Fitri yang katanya sebagai momen kemenangan ditanggapi salah kaprah, berpuasa yang katanya menahan nafsu seolah tak berbekas ketika Idul Fitri atau pasca dari itu. Setelahnya semua berlomba berburu hasrat kebendaanya. maka menjadi sah ketika saya harus mengatakan Idul Fitri tak lebih dari acara seremonial yang identik dengan unjuk kuasa materi. Repetisi pesan audio visual terlanjur menyihir alam kesadaran (subconscious) sehingga menyebabkan gangguan kejiwaan (neurosis) dengan laku konsumtif. Mengacu pada terminologi puasa (shaum) yang berarti menahan, semestinya ramadhan membuat kita kian mampu mengendalikan diri, nyatanya itu lagi-lagi sebatas omong kosong. Bukan soal ide ajarannya namun penangkapan atas pesan puasa yang tidak tersampaikan, bukan pula karena saya sudah merasa menjalankan bulan puasa dengan baik sesuai keinginan Tuhan, masih terlalu jauh untuk itu.  Keresahan yang tak terjawab itu ketika Idul Fitri ini dimaknai sebatas ritus suci yang sebatas seremonial belaka, seperti yang sudah saya katakan diawal, makan opor, ketawa ketiwi, menjadi etalase kapitalis dengan barang-barang terbaru, bermaaf-maaf yang palsu, atau mungkin tangisan-tangisan yang mainstream. Karena tidak afdol jika tidak berderai air mata. Suasananya pun tak lebih dari 3 hari. Lalu saya bertanya-tanya, namun pertanyaanku selalu membentur dinding ketidak tahuan. “ lalu untuk apa kita merayakan Bulan Ramadhan yang 3 hari itu? Ketika memang ritus suci itu sebatas manifestasi dari kapitalisme yang berganti wajah atau sebatas formalitas belaka?” atau “ apa dengan membeli baju baru, menghabiskan banyak uang, makan-makan, dll itu simbol dari kemenangan?”. Mungkin aku terlalu dangkal memaknainya, namun sudah cukup lama aku tidak merasakan kekhusyukan meraih kemenangan itu. Tak ada kebaharuan ruhiyah pasca Ramadhan akibat terlalu fokus ‘beribadah’ di mall, supermarket, dan pusat-pusat perbelajaan lainnya.

Sudah 4tahun aku merasakan kehampaan di Bulan Ramadhan, semenjak Eyangku di Garut meninggal. Ketika kami keluarga besar berkumpul –sekali lagi- semua itu sebatas formalitas yang terkesan dipaksakan, kekeluargaan yang tidak hangat, kebaruan yang tidak menarik, selebihnya hanyalah ritus kosong yang tak pernah saya rasakan esensi kesuciannya, kemenangannya. Aih, Lebaran lebih baik dalam sunyi, karena semenjak itu atau mungkin lebih lama lagi, saya terjebak pada kapitalisasi ritus yang menjauhkan dari esensi Idul Fitri. Seolah tak ikut berlebaran jika tanpa hal-hal yang baru.

Kini saya hanya ingin mencari kekhusyukan dari hari kemenangan yang akan datang di 4 hari lagi meski tanpa kemeriahan tanpa kemegahan, meski tanpa kehangatan Mamah, Ayah dan adik-adik. Memang berkumpul dengan keluarga itu indah, namun aku ingin memprotes diriku sendiri, menghukum diriku sendiri yang terlampau terlarut dalam kekosongan hari suci itu.
Selamat Lebaran untuk saudaraku, kawanku dan semuanya! 

*UKPKM TEGALBOTO, di kala Subuh yg berwajah senyap

Jumat, 02 Agustus 2013

Tentang Mu: aku ceritakan Kelahiranmu



Siang itu, mentari terasa begitu menyengat. Namun kehangatan yang berbeda terasa di Rumah Sakit Harapan Kita. Kurang 1 menit untuk menggenapkan menuju jam 12 siang, seorang anak perempuan lucu dilahirkan melengkapi kehangatan keluarga yang telah menantinya 2tahun lamanya, Selasa tanggal 3 Agustus 1993 Anggie Puspita Chris Agata untuk pertama kalinya meneriakan suaranya keras-keras seolah ingin menunjukan pada dunia seorang dara jelita telah dilharikan ke bumi ini. Hari itu aku tidak ada disana karena aku masih belajar untuk bisa berlari. Aku tidak tahu tentang hari itu. Aku hanya menerka-nerka saja.

Hari itu sudah berganti, berganti rupa, berganti warna dan melewati labirin kehidupan yang terus berlanjut yang akhirnya membawa ia sampai pada hari yang sudah terasa. Jika ditengok kembali sudah 20 tahun ia menghirup udara dunia ini. Bersama cerita-cerita dari mulai kisah pilu, bahagia, riang semua mewarnai hari-harinya yang sendiri. Ia menjadi satu-satunya yang menemani Ayah dan Ibunya.

Kini, ia bukan lagi perempuan kecil yang pendiam, perempuan kecil yang menangis ketika dilarang untuk bermain air hujan, ia bukan lagi perempuan kecil yang menyebut pesawat dengan sebutan “wat..wat.” atau dengan polosnya meminta uang ke mesin ATM. Kini ia perempuan jelita yang banyak menemani hari-hariku. Ia perempuan manis yang sudah menginjak usia 20 tahun, meski aku tahu dia sungguh enggan menerima kenyataan kalau ia sudah beranjak dari hari ke hari untuk sampai pada usianya yang ke-20.  


Tak sempat kita menikmati bergantinya malam menyambut hikayat kelahiranmu. Kita tak sempat melewatkan itu kembali. Aku pun tidak sempat membalas kecup hangatmu ketika kau menyambut keliharanku dalam tatapan mata pertama setelah terlelap. Aku pun tak sempat menyelipkan setangkai bunga diteralis kamarmu untuk sekedar menyelamatimu, aku pun tak sempat membawakan sepaket kue tart sebagai penanda hari ulang tahunmu. Bukan aku enggan, sayang. Namun biarkan beberapa baris kata ini mewakili keinginanku untuk tetap tidak membiarkan kehangatan kelahiranmu itu bias begitu saja.

“Selamat ulang Tahun, sayang”. Sekedar kata yang ingin ku sampaikan padamu dibarengi beribu doa untuk menyambut hari baru menjadi lebih berwarna dan lebih baik. Tentunya melewati hari bersama aku, dengan membawa pada banyak cerita dan petualangan lalu membiarkannya terkenang dikala kita sudah saling memutih.

Selamat Ulang tahun, mbul. Semoga segala kebaikan menyertaimu dihari-hari yang akan semakin berat dan menantang. Bersama tangan kita yang saling menggamil mensahihkan kebersamaan yang menjadi mimpi manis.
I Love You sayang. Happy Birthday Puspita!

Kamis, 11 Juli 2013

Oh Skripsi, Kau sedang menantiku ya?

Seharusnya jika langit tidak diliputi kelam pastinya mentari akan lebih menghangatkan suasana. Beberapa hari ini, kota Jember selalu diliputi mega mendung lalu hujan deras. Hem, lama rasanya tidak mengisi blog ini, hampir 1 bulan karena selama itu pula aku lupa password blog ( untuk yang kesekian kalinya). Selama satu bulan ini, banyak cerita yang kutuliskan dari mulai ke Blitar sampai cerita dari Semeru tapi kali ini aku memang sedang tidak ingin bercerita tentang petualangan yang kulalui. 
Puasa kali ini sedikit berbeda, pertama, tahun ini adalah tahun terakhirku di untuk menempuh strata 1, kali ini aku sedang menyelsaikan skripsi yang tertunda karena berbagai kepentingan. kedua, puasa ini untuk pertama kalinya kebersamaanku dan perempuanku lebih dekat, kita melakukan rutinitas yang pastinya tidak akan mudah dilupakan dari mulai memasak untuk berbuka puasa dan sahur bersama. Dilalui dengan canda tawa disela-sela kecup kasih, Memang sederhana sekali, namun itu ada kesan damai yang terasakan. 
Keaktifan di organisasi pun sedang tidak terlalu sibuk, aku sengaja meluangkan banyak waktu untuk urusan-urusan santai meski masih ada kewajiban besar memanti didepan yaitu menyelsaikan majalah UKPKM TEGALBOTO, karena aku masih menjabat sebagai Pemimpin Umumnya (PU). Semua dijalani dengan santai dan tenang, itu yang aku tanamkan kepada adik-adikku di organisasi ini (aku lebih merasa kalau mereka adikku daripada pengurus organiasi). Aku hanya ingin menanamkan semangat kekeluargaan dalam menyelsaikan persamalasahan organisasi. Organisasi merupakan wadah untuk belajar dan berproses sedangkan hasil merupakan buah dari proses yang dilalui begitulah pandanganku.
Ya, kembali seperti aku pertama datang ke Jember itulah yang kulakukan sekarang ini sebelum aku lulus di tahun ini, membaca buku dikamar, mendengarkan musik, menulis, berkumpul bersama kawan-kawan yang sudah beranjak untuk menghadi kehidupan yang lebih nyata. kulalui hariku dengan tenang bersama kehangatan kawan-kawanku yang rasanya aku merasakan seperti keluarga sendiri dan tentunya menikmati senja yang tak juga muncul bersama Anggie-ku....

Namun, proses pengerjaan skripsi ini yang masih mengalami ketersendatan bukan karena aku tidak bisa mengerjakan namun beberapa kali kegiatan-kegiatan kulturallah yang lebih aku utamakan . Sampai-sampai dosen pembimbingku memberikan analago satir " kamu harus tahu mana yang harus dikuatkan, antara batang, akar atau ranting". Huft, aku paham itu semua, aku terlalu memprioritaskan urusan diluar akademik meski nyatanya aku pun tidak tinggal diam membiarkan skripsiku terbengkalai begitu saja. Kadang kala aku pun terlibat dalam diskusi-diskusi kecil dengan orang-orang yang berkompeten dibidang skripsiku. Sebenarnya ada alasan kenapa aku harus menunda skripsi ini, alasan utamanya aku masih ingin menikmati kehidupan ku sebagai mahasiswa karena setelah ini aku akan/ harus bergegas mengangkat sauh untuk segera berlayar  mengarungi kehidupan ini. Pikirku, lebih baik lulus diwaktu yang tepat daripada lulus cepat tapi tidak tepat, meskipun aku tidak menjamin aku akan mendapatkan dengan mudah apa yang aku inginkan setelah lulus nanti. Apapun itu, aku hanya ingin menikmati semuanya dengan damai dan tenang bersama kawan-kawan yang masih belum pergi dari Jember ini meskipun mereka sudah lulus dan berproses menambah bekal untuk kemajuan dimasa yang akan datang. Aku pun masih ingin membersarkan organisasi yang aku ikuti UKPKM TEgalboto, GMNI dan LPM IMPARSIAL (simpatisan). Semua itu kulakukan agar romantika menjadi mahasiswa tidak sekedar cerita biasa yang tidak menarik untuk diceritakan pada genarasi setelahku.Sebenarnya masih ada yang ingin kulakukan untuk suatu hal yang lebih besar namun biarkan waktu yang menunjukan semua apa yang kulakukan bersama kawan-kawan 'ngopi'ku.
 Ketika sudah menemukan moment yang tepat aku akan segara selesaikan semua kewajibanku terkait skripsi. Skripsi memang mengasikan namun mengasingkan

Minggu, 12 Mei 2013

Hikayat: aku dan kamu adalah KITA

Untuk perempuanku!
Entah kenapa 2 hari ini aku sedang gandrung untuk mengingat-ingat kembali awal pertama kita bertemu, tentunya aku hanya mengingat-ingat sendiri tanpa bercerita padamu. Tak terasa oleh ku kalau kita sudah beranjak lebih dari 1 satu dalam kebersamaan. Semenjak pertama bertemu denganmu, aku masih ingat waktu itu. Hari Rabu, 2 Mei 2012, tepatnya malam hari, kala itu aku mengajak mu untuk pertama kalinya bertatap muka setelah hampir seminggu saling mengenal melalui jejaring sosial. Sebenarnya kita sudah saling mengetahui tetapi tidak saling mengenal.

“ Hai Anggie” sapaku pertama kali. Waktu itu aku menjemputmu di kost lalu kita pergi mencari tempat makan yang enak sekalian nyaman untuk bertukar cerita. Malam itu memang tidak terlalu istimewa tetapi awal yang penting bagi hubungan kita kedepan. Aku lihat senyumu yang  manis  karena lesung pipimu. Aku pun membuatkan tulisan di Blogku “Lesung Pipi itu yang membuatku tidak bisa tidur”
.
 Sejak malam itu, kita semakin dekat. Sampai-sampai  beberapa hari kemudian tepatnya hari Jumat subuh  sekitar jam 5an, kamu datang ke UKPKM Tegal Boto. Aku belum tidur waktu itu karena malamnya aku sedang ada wawancara pengangkatan anak magang. Aku mengajakmu untuk minum kopi subuh itu. Jujur saja, pada waktu itu aku terheran-heran kenapa kamu mau-maunya mendatangiku, subuh pula. Sejak hari itulah aku semakin yakin kalau aku sedang jatuh hati padamu. kebersamaan itu semakin lama semakin menyenangkan. Aku sendiri tak pernah tahu pasti tanggal pertama aku dan kamu menyepakati untuk menjadi ‘kita’. tetapi selalu saja ada  tanda dalam hubungan ini, oleh karena itu kamu mengusulkan tanggal 3. Ehm, aku tidak teralu ambil pusing dengan itu semua.

Seiring berjalannya waktu banyak hal yang pernah kita lalui. Waktu itu tidak terlalu penting tetapi yang perlu kita ambil dari perjalanan yang beriringan dengan waktu berjalan ini adalah seberapa banyak pelajaran yang kita ambil untuk membuat kita lebih baik. Banyak hal yang membuat kita semakin menghargai arti kebersamaan. Setelah beberapa bulan akhirnya kamu tahu kalau aku masih menjalin hubungan dengan mantan pacarku, setelah sebelumnya kamu pun melakukan hal yang sama. Akhirnya kamu memutuskan untuk benar-benar memilih aku pada bulan September tetapi bulan itu aku masih tetap membagi sayangku dengan orang lain. Maafkan aku untuk kebodohanku yang satu ini.
Sampai klimaksnya, pada bulan November 2012  terjadi kejadian yang memalukan di  kampus fakultas hukum didepan matamu aku berkelahi hanya karena alasan perempuan yang bukan seharusnya lagi aku hiraukan. Sial.

Pada waktu itu, kamu baru mengetahui semuanya. Segala kebohongan yang aku sembunyikan dan segal salahku padamu. Aku pun menyadari salahku dan siap menerima segala risiko yang ada. sungguh, aku terkejut ketika kamu tidak marah dan memutuskan untuk mengakhirnya. Aku tahu kamu sungguh sangat kecewa waktu itu, aku pun sadar kalau aku pantas mendapatkan apapun dari kemungkinan yang terburuk tetepi kamu mengajariku untuk bisa memaafkan dan mengajariku untuk bisa terbuka. Kamu hanya meminta ketegasanku pada waktu itu, ingat sekali dengan suara yang bergetar tanpa meneteskan air mata (meskipun aku lihat matamu berkaca-kaca), kamu memintaku untuk mengakhiri semuanya atau kamu yang akan mengakhirinya. Kekecewaan mu memang sudah sangat bertumpuk-tumpuk tetepi ikatan kebersamaan yang kita sepakati membuatmu lebih tenang dalam bertindak.

Aku sempat kalut pada waktu itu karena masih belum menemukan keyakinan padamu.bingung memilih siapa. Karena kejadian pertengkaran ku dengan anak Akasia itu membuatku sulit untuk bertindak karena aku baru menyadari kalau aku sedang dibohongi olehnya. Aku pun sadar bahwa aku yang mempunyai andil salah padanya tetapi yang tak habis pikir kenapa kesakitan harus dibalas oleh kesakitan. Kamu tentu masih ingat waktu dimana aku sedang down, aku sering acuhkan kamu, marah tanpa alasan yang jelas.

 Lambat laun semua kebaikan yang ditanam tumbuh juga. Kamu menunjukan sayangmu padaku tidak sebatas kata-kata saja. Ketidak yakinanku pada waktu itu karena kamu terlampau egois dan individulis, ya, meskipun aku sadar akan hal itu karena memang latar belakangmu sebagai anak tunggal.  Tetapi pemahamanku pada waktu itu sifat-sifat seperti itu tidak akan baik dalam hubungan. Kamu pun selalu bilang padaku kalau sedang berusaha untuk menjadi lebih baik. Mungkin karena sebelumnya dalam hubunganku selalu diliputi oleh amarah, aku pun kadang tak bisa menahan emosi padamu. lagi-lagi, kamu mengajariku untuk menjadi lebih sabar, mengajari bukan memberi tahu secara verbal tetapi dalam tindakan. Dalam proses-proses yang diluar jangakuanku itulah aku banyak mendapatkan pelajaran, bagiamana aku harus bersikap pada perempuan, bagaimana aku harus bisa menahan emosi, bagaimana aku harus bertutur yang baik dan sopan. Hal-hal itu sebelumnya aku sempat lupakan.

Banyak hal yang sudah berubah, kita menjalin hubungan dalam kehangatan. Banyak jalanan yang pernah kita lalui bersama. Kita pernah terbakar terik padang Savana Baluran, kita pernah kedinginan di kawah Ijen, kita pernah kehujana di Banyuwangi, kita pernah tersesat pada saat menuju Rawa Cangak, kita pernah berpetualang di hutan kucur sampai menemukan petapa yang sudah 3 tahun di hutan itu, kita pernah menapak tilasi semangat Reformasi 1998 di gedung MPR RI, kita pernah minum Heineken bareng di Ciwalk, kita pernah ngopi bareng di Javaco Kopi di Bandung, kita pernah duduk santai menikmati indahnya suasana jogja, kita pernah bercumbu dalam gelapnya bus malam, dan kita terus mencari banyak cerita untuk kemudian diceritakan pada anak-anak kita dikala kita sudah benar-benar sahih membentuk  kerajaan kecil yang selama ini selalu kita impikan.

Anggie, sudah banyak yang berubah dari dirimu semenjak pertama kita bertemu, tak terasa hubungan ini terus mencari bentuk terbaiknya tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa hilang dari dirimu, manjamu. Kata-kata yang tak pernah bisa hilang dan selalu kamu ucapkan  yaitu “aku kangen kamu”. Ya, kata-kata itu sering kali kamu ucapkan meskipun sebenarnya kita sering bertemu. Anggie, anggie. Kita memang banyak perbedaan, kamu suka warna ungu sedangkan aku suka hitam, kamu tidak suka Jogja tetapi aku sangat suka Jogja, kamu suka shoping tetapi aku paling benci shoping, kamu suka makan manis sedangkan aku suka asin, dan masih banyak lainnya. kamu ingat puisi Soe Hoek Gie yang berjudul ‘sebuah tanya’ yang pernah aku kasihkan untuk mu, “kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta”.

Cinta itulah yang akhirnya melengkapi diri kita yang berbeda ini. Dengan perbedaan itu secara tidau sadar kalau kita sedang membuat kekayaan dalam hubungan. Aku baru mengerti serunya main puzle setelah kamu menang terus ketika main puzle bersamaku, aku baru mengerti enaknya buah Kiwi ketika kamu memaksaku untuk mengincipinya dan aku suka setelah sebelumnya aku tidak suka karena bentuknya yang berbulu dan aneh itu. Aku baru tahu manisnya duren setelah kamu mengajakku makan duren di Botani setelah sebelumnya aku paling tidak suka duren sama sekali. Aku dan kamu adalah kita yang terus belajar mengeja abjad-abjad kehidupan yang terus menerus membuat cerita. sekali lagi untuk kita yang akan menciptakan keindahan  di masa depan bersama benih revolusi yang aku tanam diharimmu.

Jember, 13 Mei 2013. Dikala langit berhiaskan bintang dan bulan sabit



Mempertanyakan Ulang Praktikum di Fakultas Hukum UNEJ

Oleh Gulfino Guevarrato

Hampir setiap malam kampus fakultas Hukum selalu ramai dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai angakatan. Rata-rata kepentingan mereka sama yaitu mengerjakan tugas-tugas kuliah yang bejibun, kerja kelompok atau sekedar mengisi waktu dengan browsing memanfaatkan Wifi kampus. Beberapa waktu terakhir ini fakultas Hukum memang sedang gencar-gencarnya memperbaiki diri entah itu secara fisik atau dari pondasi pendidikan. Ada yang menarik dengan perubahan dalam sistem pendidikan yang ada di fakultas Hukum yaitu dalam proses belajar yang memberikan ruang lebih banyak kepada mahasiswa untuk belajar secara perorangan (indivudually learning) dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman (learning experiencing).  Maka tak heran, mahasiswa akan lebih banyak disibukan oleh kegiatan-kegiatan akedemik diluar jam kuliah karena hampir setiap mata kuliah selalu menyepilkan praktikum yang mana pelaksanaannya biasanya diluar waktu kuliah. Praktikum idealnya semacam pengaplikasian ilmu yang telah diajarkan sehingga tak heran kampus selalu ramai seperti pasar malam.

Pelaksanaan praktikum pun ada alokasi dananya tersendiri yang tentunya diambil dari mahasiswa meskipun transaparasinya perlu dipertanyakan ulang. Ada bermacam-macam praktikum itu, salah satunyanya adalah studi banding. Namun, pelaksanaan praktikum benar-benar lepas dari hakikatnya artinya pelaksanaanya sebatas dilakukan sebatas formalitas belaka. Sering kali mahasiswa ‘diharuskan’ untuk ikut praktikum dalam bentuk studi banding. Entah itu ke Jogja, Jakarta, Malang atau Bali. Rata-rata tujuannya tempat-tempat yang menarik dan banyak tempat wisatanya. Karena harus saya akui kalau tujuan dari studi banding itu hanyalah hura-hura yang dibalut dengan tujuan akademis.

Saya pernah ikut studi banding tujuaanya MPR RI dan Mahkamah Pelalayaran. Dalam pelaksanaanya porsi untuk studi bandingnya sepertinya tidak seimbang jika dibandingkan dengan kegiatan bersenang-senangnya, seperti ke Bandung dan Jogja. Pelaksanaan studi banding sepertinya memang tidak mengenai sasaran.  Kegiatan itu bukan satu-satunya, masih banyak kegiatan-kegiatan lainnya yang menghabiskan banyak uang dalam kamuflase pendidikan tetapi sebenarnya adalah liburan. Sungguh ironis.

Kegiatan studi banding itu dijadikan semacam trend karena ada hampir di setiap mata kuliah dari tiga jurusan di fakultas Hukum. Pelaksanaan praktikum pun harus kita akui bersama luput dari sasarannya dan perlu di evaluasi ulang. Ya, saya memang harus mengakui pula pelaksanaan praktikum dalam bentuk studi banding itu memang bermanfaat, bermanfaat untuk refreshing ditengah kepenatan kegiatan kuliah tetapi kalau memang tujuannya untuk berlibur rasanya tak perlulah harus menggunakan istilah studi banding atau apalah itu yang ada dalam ruang lingkup akademis.semacam anomali lah.

Saya yakin sekali bahwa perubahan kurikulum atau perubahan sistem pendidikan yang ada di fakultas Hukum memiliki tujuan yang baik dan membangun. Saya pun jadi teringat pada Jhon Dewey, salah seorang pemikir berkebangsaan Amerika. Pemikirannya yang terkenal yaitu pendidikan progresif. Menurutnya Pendidikan bukan hanya proses pemberian pengetahuan yang bersifat statis. Keterampilan dan pengetahuan mahasiswa dari proses belajar harus diintegrasikan sepenuhnya ke dalam kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan dalam dunia nyata. Jika dihubungakn dengan praktikum kurang lebih tujuaanya tidak jauh dari situ yaitu memperoleh keterampilan melalui proses belajar yang diintergrasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kontek fakultas hukum sepertinya memang tidak jauh berbeda dengan pemikirannya Jhon Dewey yaitu mengarahkan mahasiswa untuk mencari pengalaman-pengalaman belajar karena pengalaman belajar akan berpengaruh dalam penjelajahan dan introduksi ide-ide baru yang revolusioner.
Filsafat instrumentalisme Dewey sendiri dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman yang bergerak dan bergerak kembali menuju pengalaman, untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan yang tidak menentu kearah keadaan tertentu.

Apapun itu, dalam pelaksanaan proses pendidikan yang terjadi di fakultas Hukum tujuanya jelas yaitu bagaimana menghasilkan kader-kader lulusan fakultas Hukum yang terdidik dan berguna karena Pendidikan merupakan komponen penting dalam perubahan sosial. Namun sayang sekali, hal itu kadang dilupakan oleh banyak pihak (secarta khusus civitas akademik). Pendidikan masih belum mampu untuk mempengaruhi tatanan dan perubahan sosial. Pendidikan hanya mencerminkan tatanan sosial dalam arti: siapa yang berpendidikan, ia memiliki hak prerogatif untuk mendominasi kelas ekonomi dan pendidikan dijadikan salah satu barometer status sosial.
Jika berkaca pada realita yang ada jangalah dulu kita bermuluk-muluk soal pendidikan sebagai sarana pembebasan seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire. Pendidikan sekarang ini memiliki kecenderungan mengalienasi peserta didiknya. Mahasiswa akan sangat disibukan oleh tugas, praktikum, sehingga sering kali harus melupakan realitas yang terjadi disekitanya. Tujuanya jelas, yaitu mendapatkan nilai sesempurna mungkin dan lulus cepat. Sistem pendidikan pun masih belum menemukan bentuk terbaiknnya seperti yang sudah saya ceritakan diatas. Sekali lagi, Praktikum pun akhirnya mengalieanis mahasiswa ketika memang pelaksanaanya tidak terarah.

Perlu kita ketahui kalau diluar sana, banyak sesama kita yang perlu diperjuangkan bersama. Karena dengan cara membaur dengan realita,  sesungguhnya pendidikan itu tidak akan statis karena besentuhan dengan realitas dan terus menciptakan dialektika-dialektikan baru yang akan mengedukasi kita. Sehingga istilah praktikum, studi banding abal-abal itu hanyalah omong kosong yang tidak pernah menemukan praksisnya dan tetap membiarkan kita dalam menara gading pendidikan yang sama sekali tidak mencerdaskan. oleh karena itu perlu usaha untuk mengevaluasi sistem yang katanya berpihak pada perubahan nyatanya malah terdiam dalam kebisuan.

Jumat, 10 Mei 2013

Untuk Perempuan Berlesung Pipi (bag 2)


Kali ini aku ingin menahan nafasku untuk beberapa saat lalu mengingat dirimu yang mungkin sudah terlelap.  Sudah banyak cerita yang sering diceritakan oleh angin, oleh hujan, oleh terik dan oleh kita dikala senja belum benar-benar tenggelam. Setiap hari kita bertemu muka, saling menyapa, membelai, memuji atau bahkan saling bertengkar. Kemarin kau baru saja menggigit tanganku,sakit sekali.
Kita biasa melewatkan hari dengan tidur-tiduran di kostku sambil bercerita banyak hal. Rasanya selalu ada saja cerita-cerita yang keluar dari mulut kita. Ketika memang bosan ‘ngaplo’, kadang kita memasak hal-hal yang belum pernah kita makan sampai-sampai berat badanku naik sekarang ini gara-gara kau selalu mengajakku makan. Hem, tapi itu hanya sementara lusa perutku sudah kembali rata, ndut.aih, aku sedang rindu kau, selalu rindu. Entahlah aku sendiri pun tak mempunyai alasan yang jelas.

Belakang ini aku jarang ajak kamu jalan-jalan, ehm terakhir k pulau Kucur, Puger. Kamu tahu sendiri belakangan ini aku sedang banyak kegiatan, selain itu rasanya sudah tidak ada tempat yang menarik yang belum pernah kita kunjungi. Semua pernah kamu datangi, sepertinya hampir di Kabupaten Karesdienan Besuki   kita pernah datangi. Sampai-sampai hanya untuk sekedar beli rujak saja kita cari di Rambipuji, makan pecel ke Ngarahan atau makan Ayam goreng yang sangat kita suka harus ke Banyuwangi. Oh ya, satu lagi yang aku lupa, untuk makan Mie Goreng yang kesukaan kita, kita sampai harus ke Situbondo. Hadeh, memang repot ya, tetapi itulah menariknya. Selalu ada saja ingatan-ingatan yang kita tanam lalu dipetik dikemudian hari untuk diceritakan ketika kita sudah tua nanti.

Beberapa akhir ini kau sering kali marah. Marah karena cemburu oleh orang yang ada di masa laluku. Sudahlah, jangan kau biarkan dirimu dalam kesia-siaan karena tidaklah ada alasan apapun yang sepadan untuk menginggalkanmu. Kau tau sendiri, bagaimana kualitas hubunganku dulu dengan dia dan kualitas hubunganku dengan kau. Mulai sekarang janganlah pernah takut oleh alasan-alasan yang tak beralasan itu. Ketika dia menggangu hubungan kita, biarkan saja. Aku pun enggan berurusan dengan hal-hal yang  sia-sia.
Senang sekali jika kita terus berusaha untuk saling membangun diri dan menciptakan kualitas hubungan yang positif. Terima kasih aku padamu karena telah mengajarkanku untuk menjadi sabar, setelah sebelumnya aku sangat emosional, menjadi tenang,  mengajariku mandi pagi dan berpakaian rapi, membiasakan berdoa sebelum makan, dll. aku masih ingat dan sangat senang ketika awal pertama magang, kau datang k kostku pagi sekali hanya untuk mengajari aku berpakaian rapi. Pada waktu itu, kau ajari aku sertika lalu merapihkan letak leher kemejaku yang tidak rapi. Begitu telatennya kamu, ngie. Setelah itu kau memasakan nasi goreng kesukaanku. Terima kasih sayang.

Kamu semakin hari semakin lucu, goyunan-goyunanmu kadang membuatku terpingkal-pingkal. Kita memang sering bergeje ria, tapi dari kondisi itulah aku sadar kalau kita sedang membangun ikatan kasih yang lebih baik.

Tak terasa kita sudah mengijak usia hubungan setahun lebih, masih sangat muda tentunya. Dari kebersamaan kita yang terus berlanjut ini, aku selalu berharap kalau kita saling melengkapi. Apa adanya kamu adalah pelengkap dalam hidupku. Saling menggamit lalu melangkah menemukan cakrawala kehidupan bersama. Amin..

Love U, Anggie Puspita.....
Hem, aku menulis ketika mataku sduah tak kuat untuk melek.


Selasa, 07 Mei 2013

Terlahir Untuk Menjadi Berlian



Jember selalu tak pernah ingin berhenti melahirkan karyanya melalui anak-anak muda yang mengekspresikan bakatnya, salah satunya melalui seni. Sagavo band yang bergenre Alternatif/Rock itu  berdiri sejak 21 Juni 2007 itu mencoba merilis kumpulan lagu-lagunya dalam bentuk Extended Play (EP) yang berjudul Anthem For The Glory"  pada tanggal 13 Mei 2013 di gedung Yabina, Jember. “ini merupakan EP pertama dari kami” kata Rian, salah satu personil Sagavo. “ EP ini sempat tertunda launchingya karena masalah internal kami yaitu hengkangnya Inyok sebagi penggebuk drum Sagavo” tambah Rian disela-sela obrolan ketika sedang ngopi di Cak Wang.

EP ini berisikan enam lagu, dimana lagu yang As hard As Diamond menjadi singel pertamanya. Kesan pertama dari EP ini adalah semangat, pesan sosial dan cinta yang dibahasakan dengan tidak menye-menye. Enam lagu itu akan mengajak kita sebagai pendengar untuk terus jingkrak-jingkrak dan Headbangs, Hell yeah!!.

Sebagai awalan “Anthem For Glory” dan “As hard As Diamond”  terdengar lebih gahar dengan paduan screm Jendik dan clean vokal Rian. Suara vokal Jendik yang khas dengan Screamnya itu seolah mengingatkan saya pada Danny Worsnop, vokalinya Asking Alexandria. Ehm, memang jelas berbeda tetapi ada karakter khas yang tidak jauh berbeda.  Menurut saya, kedua lagu itu sebagai pergambaran semangat Sagavo untuk tetap terus berkarya dan mewarnai dunia musik, tidak hanya di Jember tapi scene Indie secara umum, tentunya dengan karya yang orisinil. “Kita tak Akan mati” kalimat yang menurutku sama garangnya seperti kata-kata Chairil Anwar “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Saya pun sepertinya jatuh hati pada pendengaran pertama pada lagu “ As hard as diamond”, apalagi reffnya karena dalam reff itu Sagavo ‘ngotot’ untuk tetap berkomitmen agar tetap bisa eksis dengan karya-karyanya. Sesuai dengan judul lagunya As hard As Diamnond, semangat mereka  sekeras batu berlian. Oh Fu*kinDamn, Dude!haha

“sampai nanti sampai akhir
sampai ku tak bangun lagi
semua tetap berdiri (siksamu takkan berarti)
sampai nanti sampai akhir
sampai ku tak bangun lagi
semua tetap berdiri”

Lagu lainnya seperti “12 Mei 1998” yang didedikasikan untuk semangat perjuangan mahasiswa 1998, dimana dalam tragedi Trisakti itu ada empat korban yang tewas karena tertembak.
“Tak terbayangkan
jiwa melayang dan berjatuhan
oleh TEMBAKAN”
Sementara, “Cheer dan Move” dan Bangun Dan Bertahanlah” tidak banyak menampilkan perbedaan yang berarti. Keduanya tetap dengan tema semangat melawan, perjuangan dalam arti yang sangat luas. Meski dalam lirik “Bangun dan Bertahanlah” seolah ada ketidak konsistenan makna yaitu “hanya untuk bertahan, hanya untuk melawan”. Disatu sisi betahan tetapi disisi lain melawan. Ketidak sinkronan ini bisa dilihat dikalimat sebelumnya “tersadarlah bahwa perjuangan kita tak kan terhenti karena kita akan bertahan”. Saya paham maksudnya tetepi sepertinya penggunaan diksinya saja yang kurang tepat. Jadi artinya bahwa mereka melawan tetapi dengan bertahan.

Mungkin musik dari Sagavo mungkin tidak akan menjadi hits yang terdengar disetiap 10 meter ditengah keramaian. Namun musik Sagavo akan tetap bisa didengar kapanpun oleh pendengar-pendengar yang ingin mengedukasi telinganya dengan musik-musik yang bermutu. Musik Sagavo pun bukan musik yang terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan komersialisasi pasar.

Semenjak saya pertama kali mendengar Sagavo pada tanggal 12 Desember 2009 di malam inagurasi Fakulatas Hukum sampai saat ini, Sagavo telah menunjukan kematangannya sebagai band yang bergerak di jalur Indie.  Tidak saja soal musik tetapi juga perwajahan yang menjadi identias band, seperti video clip, profil band yang mulai menampakan karakternya, sepertinya mereka tidak main-main dalam bermusik.
Ya, saya yakin mereka benar-benar sedang menuju jalan panjang untuk menjadi lebih baik. “Long way To Be Better” akan terus mereka titi dengan menyingkirkan segala penghalang dan hambatan, sekali lagi untuk menjadi lebih baik dan lebih matang.
Cheers and Move!!!


Pers Mahasiswa Sebagai Ruang Dialektis

Salam Persma!!!

Sejak awal pergerakan melawan penjajah, kaum pergerakan sadar akan arti penting bacaan dalam meningkatkan kesadaran rakyat anti penindasan sekaligus meluaskan semangat perlawanan. Disinilah peran pers mulai tampak untuk membela rakyat yang terjajah dan menyatukan cita-cita bersama untuk mentang penjajahan. Kesadaran ini pun diambil Tirto Adhi Soeryo dengan mendirikan koran Medan Prijaji (1910-1912) yang bermotto: "Organ boeat bangsa jang terperenta tempat akan memboeka swaranja anak-Hindia". 
Pendikotomian pers ini dimulai pada tahun 1950an antara pers umum dan pers mahasiswa, dimana pada periode ini Indonesia memasuki fase kesinambungan sejarah perjuangan kemerdekaan dari tiga periode sejarah yakni periode Pergerakan Kebangsaan, periode Pendudukan Jepang, dan periode Revolusi Fisik 1945-1949 sampai dengan Pengakuan Kedaulatan di tahun 1950. Puncaknya kembalinya Indonesia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada masa ini juga sekaligus menandai dimulainya demokrasi parlementer, dimana kekuasaan berada ditangan partai politik. Partai politik menancapkan pengaruhnya sampai pada tataran akar rumput, salah satunya kampus dan media. Tidak sedikit partai politik yang mempunyai media sendiri atau media yang berafiliasi dengan partai politik untuk menjadi corong dari program dan propaganda partai politik, sebut saja Harian Rakyat yang pro pada PKI. Pun dengan kampus, partai politik begitu leluasa memasuki kampus, Partai Sosialis Indonesia (PSI) mendirikan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS), Partai Nasional Indonesia(PNI)  mendirikan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Masyumi mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Partai Komunis Indonesia mendirikan Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan partai-partai lain pun menancapkan kakinya di dalam kampus.

Sejarah gerakan mahasiswa terus berlanjut dari semenjak Boedi Oetomo, gerakan mulai terkonsentrai di kampus-kampus, tidak terkecuali pers. Hal itu ditandai dengan berdirinya Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada tahun 1955 tetapi berakhir para tahun 1980an karena kebijakan dari kepentingan penguasa untuk mengebiri aktifitas mahasiswa yang dijejalkan dalam sistem pendidikan dengan nama NKK/BKK. Baru pada tahun 1992 muncul kembali wadah pers mahasiswa yang bernama Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), dimana pada waktu itu tidak diperbolehkan menggunakan nama pers mahasiswa.
Waktu terus berputar, sejarah tetap ditulis dan perjuangan tidak pernah berakhir, Persma mulai tumbuh sebagai wadah pergerakan bagi mahasiswa untuk mengakutalisasikan aspirasinya melalui tulisan dan foto. Persma  lebih menekankan pada pengodokan isu-isu yang berkembang di kampus, meski tidak jarang ikut terlibat dalam proses proganda isu-isu nasional. Akibatnya pun persma dibredel karena tidak sesuai dengan kehendak penguasa waktu itu, sebut saja di Jember Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sastra UNEJ- SAS- yang pada tahun 1994 di bredel oleh dekanatnya setelah mengangkat hasil wawancara Pramoedya Ananta Toer yang mengkritik pemerintah Orde Bar dan militer.
Pada era ini meski sama-sama pers, pers umum dan pers mahasiswa mengalami perbedaan dalam segi gerakannya. Jurang pemisah itu ditandai dengan runtuhnya semangat perjuangan dan profesionalitas dari pers umum yang kini telah terinfeksi oleh pemodal sehingga sekarang ini, pers umum lebih mengedepankan penaikkan oplah serta pemberitaan yang bombastis dan tendensius. Menuju pencerahan masyarakat sepertinya harus ditanggalkan terlebih dahulu jika berbicara keuntungan. Sedangkan persma, yang terdiri dari mahasiswa masih sedikit lebih aman dari kontaminasi kepentingan para pemodal sehingga persma bisa dikatakan lebih ‘jujur dan ceplas-ceplos’ dalam memberitakan atau menganlisis suatu permasalahan, halangan paling kuat ketika tulisannya terlalu keras mengkritik mungkin sebatas rektorat atau dekanat dan tentu permasalahan klasik soal kaderisasi atau regenerasi. Kerja-kerja persma pun tidak senjelimet pers umum yang kadang diawasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. awak persma lebih banyak cangruk (berkomunal), ‘ngopi’ meski sesekali konsilidasi untuk menguatkan kinerja, kerja-kerja persma sifatnya bukan ‘berkerja’ mencari keutungan tetapi lebih pada proses belajar (nonprofit), tentu belajar secara kultural. Warung kopi menjadi tempat favorit, jika merujuk pemikiran Habermas, warung kopi merupakan salah satu ruang publik yang bebas dari kontaminasi pasar dan pemerintah, sehingga mampu menciptakan konsensus rasional. Mungkin kita akan setuju kalau tempat macam warung kopi itu merupakan salah satu ruang kontemplasi dan dialetika sekaligus meningkatkan jaringan kerja antar LPM.
Nyatanya hasil-hasil pemikiran dari awak persma yang dituangkan dalam karyanya tidak sederhana rutinitasnya. Pengerjaan media yang lebih mendalam dan terkesan hati-hati, karena mengatasnamakan proses belajar. Maka kadang analisisnya atau pemberitaanya lebih menarik dan jernih dari pers umum.  Isu-isu menarik tetapi tidak dilirik oleh pers umum karena dianggap tidak menguntungkan kadang dilahap oleh persma, sebut saja tema majalah tahun 2011 LPM Ekpresi UNY “jalan berliku sastra anak”. Di media itu dikupas habis soal peran yang siginfikan sastra anak. Namun, keberadaanya masih dianggap tidak penting. Termasuk isu-isu sensitif macam pertambangan yang dkupas habis oleh LPM Ecpose UNEJ dimajalahnya tahun 2009 soal mitos kesejahtraan pertambangan emas di Tumpang Pitu, Banyuwangi. begitu pula dengan LPM Natas, Sanatadharma yang mengktisi permasalahan pertambangan di selatan Yogyakarta. Belum lagi permasalahan isu-isu lokal kampus masing-masing yang kadang membuat pihak-pihak terkait macam rektorat atau dekanat kebakaran jenggot menanggapinya.
Kejernihan dan keseterilan dari kontaminasi-kontaminsai yang dapat merusak idealisme pers akan yang tetap dikawal oleh mahasiswa sehingga pers mahasiswa, sekali lagi meskipun mahasiswa tidak bisa dianggap sebelah mata. Persma dapat mengawal isu yang menyangkut permasalahan bersama, karena  sesungguhnya pers tidak akan pernah bisa objektif, kalaupun ada keobjektifan kita hanya satu. Yaitu keperpihakan kepada rakyat, keperpihakan kepada yang tertindas. Hal itu dituangkan dalam satu point kode etik persma. Arti penting persma, khususnya dalam ruang lingkup kampus dapat kita lihat bagaimana LPM-LPM menelurkan kader-kader berbakat, kita pernah mendengar Ahmad Wahib, Muhidin M Dahlan, Dahlan Iskhan yang merupakan jebolan dari Persma.
Ada yang sedikit membuat dahi berkerut ketika melihat perkembangan persma pada saat ini, beberapa tahun belakangan ini. Persma seolah kehilangan tajinya, lemah syahwat dalam menanggapi isu-isu yang terkait dengan keberpihakan persma kepada yang tertindas. Jangan terlalu jauh membicarakan yang tertindas, dalam hal kaderisasipun beberapa persma yang pada akhirnya harus termegap-megap melewatinya, di Jember saja ada beberapa LPM yang pada akhirnya harus mati suri meski pada akhirnya  dengan kerja sama dan ke eratan antar sesama LPM yang tergabung dalam PPMI kota Jember bisa memberikan semangat untuk tetap berproses. Kemunduran itu dikarenakan, ya salah satunya kerena perkembangan jaman. Sepertinya pun tidak adil jika menyalahkan hanya pada jaman yang terus berubah karena itu konsekuensi logis. Alasan lainnya adalah minat mahasiswa yang saat ini memang menurun tetapi pun minat pun tidak ada bisa ditunjuk sebagai biang keladi menunduran persma karena masih ada sistem pendidikan dan paradigma ketika kuliah harus lulus cepat sehingga hanya mahasiswa-mahasiswa pemberani saja yang rela meluangkan waktunya untuk memilih aktif di persma atau di organisasi lainnya, lain dari itu mahasiswa-mahasiswa yang akan menjadi skrup-skrup kapitalis yang terserap oleh kepentingan pasar lebih memilih asyik untuk kuliah lalu pulang. Ah, sepertinya pun tidak bisa menyalahkan sistem. Intinya, kemunduran gerakan dari persma memang melibatkan banyak faktor dan alasan. Sehingga kita antar sesama awak persma perlu sama-sama memikirkan bagaimana keberlangsungan proses kaderisasi yang merupakan tiang penyangga gerakan persma agar tetap terjaga, salah satunya melalui penguatan jaringan kerja antar sesama LPM, penguatan jaringan kerja ini semacam penyatuan permasalahan yang dibahas secara bersama oleh sesama LPM. Sebagai contoh bagaimana arti penting jaringan kerja, LPM Ekspresi UNY dan UKPKM Tegalboto UNEJ. Dua LPM yang berkerabat sudah cukup lama, mungkin dimulai sejak dekade 2002an. Hubungan kekerabatan itu memberikan dampak positif bagi kemanjuan intern LPM,  entah itu sharing soal narasumber, pemateri, permasalahan internal khususnya terkait kaderisasi atau sharing soal percetakan. Kekerabatan itu bahkan tidak hanya dalam tataran organisasi tetapi juga sampai ranah personal. Hubungan semacam ini yang sifatnya kultural itulah yang justru diharapkan dapat memberikan pemecahan baru terkait permasalahan di internal masing-masing organisasi.
Persma bukan sebatas ruang untuk sekedar menulis, me-lay out, atau fotografi tetapi ruang dimana kita ditempa dan terus untuk mengedukasi diri agar menjadi kader-kader bangsa yang sama berpihaknya seperti dalam kode etik persma yaitu keberpihakan pada kaum yang tertindas.[]
Tabik!!

Jumat, 19 April 2013

BANGKIT DARI DEKADENSI

Oleh Gulfino Che Guevarrato*

Hampir dari tahun 2004 sejarah kami terhenti di titik nol, tanpa karya, tanpa anggota dan tanpa semangat. Kami gagal menuliskan sejarah dan hanya terdiam dalam kevakuman. Seolah hidup tak mampu dan mati pun segan, dekandensi ini terus menggerus organisasi yang pada dekade 90an sempat menjadi media pers mahasiswa (persma) yang sangat disegani, bahkan sejarah dimasa lalu mencatat kalau kami salah satu dari lima LPM yang membidani lahirnya UKPKM yang kelak kita kenal sebagai UKPKM Tegalboto, persma di tingkat universitas. Sejarah hanyalah sejarah yang tak bisa mungkin diulang dan akan sangat naif jika hanya sebatas membaggakannya tanpa berbuat sesuatu untuk menuliskan kembali cerita yang baru.
Imparsial, begitu nama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari fakultas Hukum Unej. Arti Imparsial sendiri adalah tidak memihak. Dengan semangat itu kami berusaha menjadi awak-awak persma yang mengaktualisasikan semangat berproses kami dengan tidak memihak pada siapapun, meski secara subjektif akan selalu memihak pada kaum yang tertindas. Keberpihakan pada kaum tertindas ditandaskan dalam kode etik persma.

Imparsial bukanlah organisasi yang terus menerus hanya menampangkan papan namanya dan mempunyai sekertariat tetapi tidak ada nyamanya. Seolah hanya jasad-jasad yang tidak bisa berkarya.  Oleh karena itu dengan semangat yang terbangun kembali dari mati suri yang mebelenggu kami pada keterpurukan itulah yang akhirnya mendorong kami yang pada saat ini hanya terdiri dari 5 orang untuk bangkit dari liang jahanam yang bernama “hidup tanpa gerakan”. Imparsial mencoba  bangun kembali, mengemasi sisa-sisa kejayaan masa lalu sebagai bekal di masa depan, tentu dengan semangat pembaharuan, dengan perlawanan tanpa banyak bicara. Melalui pena, lensa, dan kertas kami akan berbicara banyak.meraung-raung dikala keadilan ini dibiarkan dan menerkam melalui tulisan dikala semuanya sudah semakin parah.

Maka dari itu, kami segera berbenah untuk mempersiapkan dialektika-dialektika baru, meramaikan semangat berproses yang membara di antara UKM-UKM fakultas Hukum. Perjuangan kami bukanlah perjuangan dirimba-rimba yang kelam tetapi teralienasi dari realitas, perjuangan kami bukan juga beretorika tentang teori –teori kuno tetapi nol tanpa praksis. Perjuangan kami pun bukan perjuangan yang berkoar-koar melalui megaphone tetapi mempagari diri dalam menara gading pendidikan. Perjuangan kami hanyalah perjuangan anak-anak ingusan yang baru saja belajar menuliskan realitas dalam kertas-kertas buram dan perjuangan kami sebatas memindahkan  keindahan melalui lensa-lensa usang. Sebatas itu saja.

Oleh karena itu kami mengundang kawan-kawan yang berani meluangkan waktunya untuk berproses dalam absurditas pendidikan informal untuk menuju pada pencerahan khalayak. Sekali lagi, kami hanya mengundang kawan-kawan yang berani bergabung dengan LPM IMPARSIAL untuk berproses, mempertajam analisis, membicarakan filsafat yang absurd, mempercantik karya memalui foto dan menelurkannya dalam majalah, buletin lalu mengoyangkan tirani yang arogan.
Salam perubahan!!!
Ragu-ragu harap diyakinkan!!!





*Saya menulis ini karena melihat kawan-kawan baru LPM Imparsial yang sangat bersemangat untuk memulai membangun Imparsial kembali. Tahun 2009-2010, kebetulan saya pernah merasakan bagiamana sulitnya membangunkan tidur Imparsial, sampai setelah Imparsial terkumpul beberapa anggota, saya terpaksa didepak dari Imparsial karena pertentangan saya soal keterlibatan ekstra di Imparsial, meskipun saya seorang GmnI sekalipun. Sejak saat itu, saya menyebrang ke UKPKM TegalBoto dan menjadi pengurus puncak disana. Sekali lagi, tulisan ini hanyalah sebentuk dukungan moril bagi kawan-kawan Imparsial, apapun Imparsial merupakan tempat dimana saya benar-benar memulai belajar menulis jadi sudah sepantasnya untuk tetap mendukung setiap kemajuan dari Persma. Dan tulisan ini tidak mengurangi rasa cinta saya pada UKPKM Tegalboto yang telah memberikan kepercayaanya pada saya untuk memimpin organisasi ini setahun kedepan.
Mantan Anggota Imparsial yang sekarang hijrah ke UKPKM Tegalboto UNEJ

Selasa, 16 April 2013

You’ll Never Walk Alone, bro!!!


Mata belum juga tertutup untuk sekedar meletakan kepala dibantal lalu terbang menuju alam mimpi. Malam tadi, aku terbangun sekitar pukul 00.30 WIB tujuanku untuk membaca dan menulis. Rutinitas itu aku biasa lakukan ketika  memang merasa bahwa aku ingin menulis atau membaca. Ada kewajiban tulisan untuk kawan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) dari Yogjakarta dan sedikit menutup ending tulisan untuk refleksi Tegalboto Pos. Sampai pukul 07.00WIB semuanya baru beres. Beginilah ketika memang semangat menulis sedang tinggi-tingginya, setelah beberapa hari berada di titik nol. Kini aku ingin menulis, menceritakan tentang seorang kawan yang sering berdialektika bersamaku diruang-ruang yang lunak untuk mencurahkan segala keresahan dan kegundahan ketika melewati kehidupan ini.
Siang yang panas tetapi kami masih sangat enggan untuk menghentikan aktivitas yang menghibur itu. Aku, Ainul, Agus dan Yuri sedang tidak bisa diganggu karena kami sedang menrusuhi Libbi, kawan kami ditempat magang. Tujuannya sederhana agar dia marah, dan melatih dia sabar. Tujuan itu sebenarnya hanya kamuflase belaka. Ketika ia hampir naik pitam, Ainul dengan tampang alim yang sebenarnya adalah topeng yang paling berhasil mengelabui orang, berkata pada Libbie “bie, tujuan awak dewe ngudoi awakmu itu ben awakmu sabar. Ben ga nesuan” mimik muka persis seperti  Aa Gym ketika ceramah. Shit :P tetapi ia pun kawan yang baik dan pantas, pantas untuk di antemi.
 Mendengar ocehan Ainul, Libbie kembali tenang dan kami memulai lagi. Guyonan, ehm sepertinya  Bully-an lebih tepat. Dimulai dari apapun yang Libbie kerjakan dan katakan. Contonya ketika ia mencoba menangkis ejekanku “ah kon iku vin, dasar manusia kata-kata”sergahnya. Aku hanya membalas, “lah awakmu bi, lanang omahan” jawabku santai. Ia pun diam seribu bahasa dan semua terbahak-bahak. Kejadian itu berlangsung ketika magang. Dari semenjak 13 Maret sampa sekarang ini. Bisa dibayangkan bagaimana ia tertekan dengan guyonan sarkas kami. Libbie memang bukan orang yang sabar, ia laki-laki yang terlihat tangguh tetap nyatanya ia rapuh. Semua itu memang terjadi di beberapa waktu lalu, ketika ia belum berkumpul dengan mahasiswa-mahasiwa absurd dan begundal macam kami, termasuk  Ainul yang mantan ketua organisasi kerohanian di kampus. Kami memang ingin menjadi apa adanya, tidak ada sok keren di depan sesama kami, kecuali Libbie #kenek maneh bie.
 Setelah berselang hampir satu bulan, kita memulai kebersamaan dari pukul 08.00WIB sampai 13.00WIB, dari situ kebersamaan yang sesungghunya itu dibangun, kerapuhan diperbaiki, amarah diredam jadi kesabaran. Kini ia bukan lagi laki-laki pemalu yang beberapa semester lalu hanya untuk datang ke kampus saja harus malu-malu atau lelaki minder yang tidak bisa bersikap jika ditekan atau laki-laki yang hobinya banting HP ketika amarah membutakan logika. Ia jauh lebih baik dari yang kawan-kawan kenal sebelumnya. Bukan karena kami atau karena dia berteman dengan kami tetapi karena memang ia sudah saatnya beranjak dari titik nol. Ia tidak ingin terus menerus berada di titik nol.
 Ketika pada awal-awal magang, ia kadang marah atau ngambul, dengan tiba-tiba diam dan tak ingin bicara, ya ngambul khas ala perempuan-perempuan labil itu. Kini ia sudah jauh lebih baik. Beberapa kali kita bertukar pemikiran, mencoba lebih tenang dan elegan menghadapi suatu permasalahan. Ada banyak kata yang kuingat selain manusia kata-kata yang ia lontarkan untukku,-oh ya, manusia kata-kata yang ia maksud karena aku selalu beretorika ketika berbicara sehingga membuat orang yang mencari masalah denganku kadang dibuat kebingungan, begitu menurutnya- ia pun pernah mengatakan kalau ia merupakan orang yang ditinggal sendiri oleh kawan yang dekat dengannya selama ini ketika ia ditimpa suatu permasalahan yang menurutku itu permasalahan yang keren dan laki-laki banget, kenapa keren? Karena ia berhasil menyelesaikan masalah itu dengan diam-diam tanpa bantuan orang lain dan ia tidak gentar dengan presepsi orang lain yang memandang sebelah mata padanya. Iku jenenge koncoku!!, begitu kata libbie dan aku ingin katakan kata-kata itu padanya.
Sebulan kita bersama-sama, banyak bercerita entah itu cerita suka, duka cerita tentang kehidupan yang satire. Dari cerita-cerita itu kami saling mengenal satu sama lain. Memaknai perkawanan tidak hanya secara luas. Kini, laki-laki yang dulu aku kenal bermulut besar dan terkesan arogan ditambah individualis, kini adalah kawanku sendiri, yang sangat merendah, tenang dan tidak pemarah. Ia pun sering memberikan masukan yang memang pantas untuk didenagar, beberapa kali aku mencoba menganalisa kepribadiannya dan mengkritiknya dan beberapa kali pula ia menganalisa dang mengkritikku. Kita sama-sama saling membangun diri dalam hubungan perkawanan ini. 
Ia selalu berkata kepada kami, entah pada aku Ainul, Yuri, Agus atau Aku. “aku pingen weroh awakmu 10 tahun engkas jadi opo, jek tak ileng raimu seng megeli iku” ocehnya dengan nada kesal, sekarang ia hanya bisa mengoceh dan tersenyum. Kemarin da yang pengalaman menarik. ketika itu ada sesosok laki-laki paruh baya yang membuat Libbie di uji ketenangannya. Ia dihampiri lalu disalami oleh laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu Ayah dari mantanya Libbie, sontak saja seluruh pegawai Pemda mengetahui semuanya dan bisa dibayangkan Libbie dibuat salah tingkah dan tidak banyak bicara, lagi ia diam seribu bahasa. “lah pak, iki onok mantan mantune” itu kata-kata yang aku ingat dari ibu-ibu groupies Pemda. Kali ini ia cukup tenang meski di gojloki sekantor. Menurutnya ia lebih bersyukur karena dalam kejadian itu aku belum datang karena sedang menyelsaikan urusan di rektorat UNEJ. Aku masih beruntung untuk tidak melewatkan momen membahagiakan itu, karena laki-laki itu masih ada ketika aku sudah datang, jadi aku masih bisa “menghabisinya” ketika laki-laki itu salaman pulang dengan Libbie.
Ah ada-ada saja cerita dari Magang ini. Satu hal yang ingin aku ajak padanya. Aku ingin menegaskan padanya kalau jalanan benar-benar Indah dan penuh pengalaman. Meski ia tahu akan hal itu tetapi kadang ia enggan untuk mencoba menikmatinya. 
Kalau ada masalah, jangan pendam sendiri, bro. Karena kamu tidak akan pernah berjalan sendirian[]
Jember, 17 April 2013


Minggu, 14 April 2013

Kawah Candradimuka


Dalam subuh ini, kau datang kembali
Membawaku mengingat lembah dan  hijaunya hutanmu
Bersama tetes embun..
Aku rindu..
Sungguh rindu,,
Berteriak lantang
Dengan tangan terkepal
Menjadikan Kapitalis ada musuh yang harus denyahkan, mungkin usang
mungkin juga tidak.
Hanya dihutanmu,yang membawaku pada rindu yang semakin tak tertahan
tak berhasil diendapkan waktu
meski ingatan semakin melapuk
aku tetap rindu
Untukmu..rumahku, rumah kita
Hanya itu yang kutahu,
Selebihnya rindu ini menusukku perlahan
Membuat kelu
Tak bicara
Sempolan selalu hijau,,
Sunyi
Damai, meski teriakan-teriakan itu memecahkan semuanya namun kau tetap anggun dalam temaram yang menyahihkan syahdu..

Sedang dalam Posisi Nol

sumber Google
Beberapa  minggu ini, Jember sepertinya sedang galau, galau dalam arti cuacanya yang berubah secara tiba-tiba. Dikala siang, panas benar-benar membakar kulit sedang di sorenya langit benar-benar tak pandang bulu menguyurkan air. Sore hari sering sekali berganti dari terik menuju sangat basah. Hem, inilah anomali cuaca.

Keadaan cuaca di Jember semakin memperparah kebosananku di kota ini, karena  ketika panas yang sangat terik, jelas aku enggan untuk kemana-kemana, kalau sudah di Tegal Boto ya disitu sampai sore, ketika hujan pun tidak bisa kemana-mana. Selain itu cuaca mendung berdampak tidak menyenangkan secara psikologi. Entahlah, kali ini aku memang sedang ingin menulis tentang kepenatan yang semakin menjadi karena sudah hampir 5bulan aku tidak pergi kemana-mana, hanya di Jember dan sekitarnya. Hari-hariku terasa membosankan apalagi semenjak selesai seminar proposal sebab sebelumnya aku masih ada kegiatan kesana-kemari yang membunuh waktu kosongku dan masih bisa produktif, entahla dalam hal apapun tetapi intinya bisa bermanfaat. Rasanya semua kegiatanku beberapa hari ini terasa sangat tidak menarik untuk dijalani. Pagi-pagi aku pergi magang, siangnya aku ke Tegalboto atau ke organisasi yang lai. Lain dari itu kadang aku mengisi waktu kosong dengan ngopi, main game, baca buku, internetan, diskusi, jalan-jalan keliling kota Jember. kebiasaan keliling Jember itu membuatku sampai hafal daerah-daerah yang ada di Jember sampai-sampai jalan tikusnya sekalipun. Mungkin kegiatan yang lebih menyenangkan hanya pacaran. Ah, penat sekali rasanya, kegiatan yang melulu itu-itu saja, bertemu dengan orang yang itu-itu saja, datang ke tempat yang itu-itu saja, seolah Jember memang begitu kecil untuk sekedar membuatku senang. Mungkin aku bukan orang satu-satunya yang saat ini sedang merasakan kebosanan.

Akibat kepenatanku ini, beberapa kali terbesit keinginan untuk mengepaki beberap baju dan memasukannya kedalam Carrier lalu pergi jalan-jalan menapaki setapak-setapak yang akan membuatku bisa segera menggenapi impianku untuk berkililing Indonesia, pergi dari Jember untuk beberapa saat sepertinya akan mengembalikan libidoku untuk bisa bersemangat kembali melakukan banyak hal. Sudah ada beberapa renacanya, salah satu Sumatra, ingin sekali aku kembali ke sana. Memulai perjalanan dari Lampung, mampir ke Lampung barat menikmati senja di Pantai Liwa lalu kembali ke Bandar Lampung melanjutkan perjalanan ke Palembang dan menyebrang ke Pulau Bangka lalu berganti kapal menuju ke Belitung. Namun semua harapan pemecah penat itu harus sedikt tertahan, Anggie tidak mengijinkan aku pergi sampai aku selesai magang selain itu aku masih punya tanggungan untuk menyelsaikan kewajibanku di TegalBoto, tidak tega juga aku harus tinggalkan Elya sendirian, karena pengurusku yang lain masih sibuk dengan kepentingannya. Selain itu, tidak pantas rasanya aku meninggalkanya dan kawan-kawanku yang lain ketika kita sedang sibuk menggarap Tegalboto pos yang sudah berbulan-bulan belum terbit, yang mana selain karena tulisan yang telat masuk ke redaksi, juga birokrasi kampus Unej yang ingin mencari masalah dengan menahan uang  yang menjadi hak organisasi untuk mencetak Tegalboto pos. Sudah 5 bulan belum cair-cair. Damn, hanya menambah-nambah jengkel saja!

Kepentan ini berdampak pada hal-hal lain yang membuatku tidak produktif, beberapa kali aku harus bertengkar dengan Elya karena tidak juga menyelsaikan tulisan terakhirku, refleksi. Namun pertengkaran itu hanya semacam dialektika dalam organisasi. Tak jarang pula aku kadang marah-marah ke Anggie meski hanya kesalahan kecil saja, untung saja, perempuan jelitaku ini bisa mengerti aku dan mengajakku untuk melupakan penat. Skripsiku pun aku tinggalkan untuk beberapa saat.
Apakah kepenatan ini merupakan hal yang wajar? Kalau aku merasa ini tidak bisa didiamkan harus segera beranjak dan melakukan sesuatu, aku bukanlah orang yang suka berdiam diri, menenggelamkan diri dalam ketidak produktifan. Kadang diam adalah kegiatan yang sangat menenangkan, beberapa hari ini aku begitu senang memandangi senja, kebiasaan yang lama aku tinggalkan, rasanya tenang sekali.
Ya, mungkin ini sedikit ceritaku, alasan kenapa belakangan ini aku tidak stabil, mungkin aku sedang bosan-bosannya. Kebosanannku sudah sampai pada titik nadir, perlu semangat dan motivasi untuk membawaku terbang kembali sampai titik zenith.
Maafkan aku, untuk Anggie yang sempat kena dampaknya dan Elya yang sering menahan kesal karena tulisanku belum juga selasai tapi malam ini aku akan segara edit lagi tulisan yang kau kembali kan itu.[]

Jember, 15 April 2013
2. 56 WIB
Che