Minggu, 21 Oktober 2012

Pilihanmu adalah ketepatan yang tak terduga!!!


Kau datang dengan di kota yang lampu-lampunnya tak sama dengan kota lamamu. Kau datang dengan skeptisme yang tak terbentung. Keragu-raguan soal tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu, keraguan soal capaian yang hanya bisa terjawab oleh waktu. Semua memang menjadi serba tanda tanya. Kadang tanda tanya itu menggantungkan mu dalam keraguan, yang tadi diawal kusebut dengan skeptisme.
Ini kota yang berbeda dengan kotamu. Kota yang menurut banyak orang tidak terdaftar di Peta atau kota di ujung timur yang ketika kita menerangkannya membuat dahi lawan bicara kita berkerut “dimana itu”. Entah mereka yang bodoh tidak tahu Indonesia yang luas dan kaya ini atau kita memang perlu introspeksi diri bahwa memang kota ini masih asing ditelinga orang-orang banyak. Meski aku tak yakin ketidak tahuan mereka apa memang benar kota kita ini memang layak untuk tidak diketahui atau mereka yang bodoh.
Tak perlu berdebat soal kota mana yang lebih keren dan membuat keren. Itu akan menjadi kisah usang yang tak ada pentingnya untuk dibahas kelak. Terpenting dari semua itu adalah pemahaman akan tujuan yang akan dicapai. Kita sempat cukup banyak menghabiskan waktu untuk sekedar berbincang menggenapkan banyak tanya yang mencari celah untuk jawabannya. Kau menjadi penceracau yang terbuka untuk memperkenalkan lebih jauh siapa dirimu. Sungguh luar biasa, meski baru beberapa kali bertatap muka, kita menghabiskan cukup banyak keterbukaan. Sampai akhirnya aku ingin membuat tulisan ini, untukmu. Agar segala risau yang membebani segera dikhatamkan waktu yang bergerak cepat.
Kutulis ini untukmu dikala fajar masih malu-malu untuk muncul, dikala dingin kota masih begitu berkuasa menusuk kulit. Semua kutulis agar – setidaknya- memberikan gambaran yang berbeda soal tujuan yang ingin kau capai dikota ini. sempat ragu untuk menulis, karena aku khawatir kau tidak ingin membacanya lalu mencapakannya begitu saja. Peduli setan dengan semua itu, aku hanya ingin berusaha memberikan pengalaman yang baru padamu agar kau tidak merasa bahwa pilihanmu bukanlah pilihan yang tepat dan hanya sebatas datang ke kota ini untuk tujuan yang tidak layak dikenang. Paham bukan maksudku?
Tak berlebihan rasanya jika pada akhirnya aku harus benar-benar mengakui aku betah dikota ini. kota yang berjuluk kota tembakau yang memiliki banyak kebudayaan antara lain Jawa, Madura, Osing dan China lalu kita mengenalnya dengan istilah Pandalungan. Jika dibandingkan dengan segala kemegahan kota lamamu jelas. Kota ini tak ada berbanding. Tetapi ada banyak hal yang tak ada dikota lamamu yang ada dikota ini. Tentunya seperti yang sempat kau bilang “aku ingin pengalaman yang berbeda”.  Menawakan kemandirian yang selama ini tidak pernah kau dapat mungkin? Menawarkan kesederhanaan yang mebangun mentalmua sebagai seorang rebellion mungkin? Atau menawarkan pengalaman yang mengatas namakan kebersamaan sebagai tema utamanya. “different experience”
Aku merasa kenapa menjadi cinta pada kota ini, jika dihubungkan dengan pepetah Jawa “Tresno jalaran soko kulino”. Cinta karena terbiasa atau kita juga harus ingat pepatah Melayu “ Tak kenal maka Tak sayang”. Kenalilah kota ini dulu, merasuklah dalam relung-relung kota ini, kehidupan dan keseharian yang mungkin saja diawal-awal menurut mu “freak”.
Aku merasa ditempa ditempat ini, khususnya mentalku untuk siap menjadi petarung dalam kehidupan luar kampus yang katanya tak bersahabat itu. Jika memang kau ingin mencari tantangan dan menemukan pembeda dari rutinitas mu yang itu-itu saja, mungkin kota ini adalah jawaban yang tepat untuk itu semua.
Aku bertemu dengan banyak orang juga disini tidak hanya dalam lingkup yang kecil, tapi lingkup yang lebih luas. Kekhawatiran mu sepertinya akan lenyap ketika memang kau pandai untuk berkawan dengan siapapun itu. Karena aku yakin kau pasti berbakat untuk sebatas berkomunikasi dan membangun relasi. Kotamu sudah sangat penat meski bergelimang kemudahan, tapi dikotamu sepertinya otak manusianya lebih kecil dari manusia-manusia diluar kota lamamu. Polusi, macet, kriminalitas, individualisme, dan banyak hal. Apakah pernah kau menemui kebersahajaan penduduk local yang menolong siapapun dengan ikhlas? Apakah kau dapat bergerak dengan bebas tanpa harus terjebak pada kemacetan yang membuat otak manusia mengkerut lebih kecil karena stress? Apakah kau bisa berjalanan di trotoar jalan sendirian dikota lamamu? Atau cari sendiri lebih jauhnya olehmu yang sebentar lagi akan merasakan hal yang lebih nyata dari sebenar kata-kataku ini, karena memang kata masih belum genap tanpa laku yang menjadi penopang utamanya.
Disini aku pasti akan merasakan suasana belajar yang lebih kondusif jika memang kau menginginkan hal itu tentunya. Disini pun kau akan bertemu teman-teman yang tak kalah berkualitasnya dengan teman-temanmu yang memandang sebelah keberadaanmu kuliah sekarang, jangan pedulikan itu semua. Yang menjawab toh waktu, karena waktu tak akan diam. Tentunya akan membawamu pada kejayaan yang kau inginkan. Tak sedikit para purna-purna yang menjajalal banyak tempat yang lebih meriah dikota ini justru menjadi sukses dan berhasil. Aku rasa kau sudah paham dengan hal-hal itu, tujuanku adalah bagaimana sedikti memberikan keyakinan saja padamu. Bahwa kau harus menjadi yang berbeda dan tentunya lebih baik dari kehidupanmu sebelumnnya. Karena dikota inilah tempat yang tepat untuk menjadi amazing or get most amazing achievement. Its simple sist. If you have willpower for make your dream became true.
Selebihnya aku hanya ingin mengatakan. Selamat datang di kota sepi dan sunyi yang mencandu ini. selamat datang dikehidupanmu yang akan menjadi berbeda itu. Selamat datang menjadi mahasiswa rebel. Selamat datang segala harapan dan cita mu dan selamat datang untuk menjadi mandiri dan amazing[]
#Untukmu yang  sedang tidak betah!!!

Jumat, 19 Oktober 2012

Rembangan yang Puitis




Kita berada dipuncak. Puncak dalam arti sesungguhnya, tetapi bukan Puncak Bogor, Puncak Kaliurang atau daerah Puncak Batu. Puncak Rembangan, Jember. Tempat dimana aku biasa mengendapkan keresahan ditemani kabut tipis, nyanyian malam dan semua itu benar-benar menentramkan. Kali itu Rembangan sedikit berbeda, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Bukan aku yang berada disana, tetapi kita. Kita bersama menikmati senja yang mulai karam, memandangi langit yang yang mulai melembayung.  Semua keindahan yang nyata.
Rembangan sedang manis-mansinya. Itu mungkin kalimat yang sangat mewakili, ketika semua mata menuju pada hiruk pikuk keramaian, makam mia ayam lah atau nongkrong diwarung kopi, kita hanya ingin menikmati setiap detik tergelincirnya matahari tua. Rembangan memang istimewa hari itu, selain karena kabut kesukaanku muncul. Di  Rembangan pula kita kembali bertemu dalam tatap muka setalah sekian lama aku banyak menghabiskan diri dalam keresahan. Begitu istimewa hadirmu disisiku. Mengobati kerinduan akan kebersamaan yang aku perjuangkan tetapi lebih memilih dengan dia yang ada segalanya. Kau keistimewaan yang sederhana. Tidak perlu banyak bicara untuk menjadi dirimu. Cukup bertindak lalu berbuat dalam kelembutan yang mencandu.
Rembangan sedang cantik-cantiknya, ada langit yang mengitam, bulan sabit yang merona, lampu-lampu kota Jember yang dilihat dari ketinggian, tebu-tebu yang mulai tumbuh dan ada kerudung ungumu yang membuat semua suasana itu mengkumulasi dalam bentuk keindahan yang benar-benar  indah. Kerudungmu membuat suasananya lebih tenang, lebih syahdu dan tentunya ada ketulusan dalam setiap ucapan yang keluar dari bibir manismu.
Kita berbicara banyak malam itu, soal gemerlap lampu-lampu kota Jember, soal bintang yang berkedip atau soal masa kecil kita yang berbeda-beda. Secara kasat mata, kita seolah memang berbeda, sangat berbeda. Tetapi tak akan pernah usai jika membicarakan perbedaan itu. Perbedaan perlu dikawinkan oleh perbedaan lagi agar semuanya menjadi satu. Banyak hal yang kita rasakan dalam berjalannya detik berlalu itu. Banyak hal pula yang aku endapkan malam itu. Kemarahanku, keresahanku, kekalutanku seolah semuanya diendapkan oleh tawamu, lesung pipimu yang semakin membuatku terdiam dan berpikir panjang. Sebab diluar sana, keindahan yang kuyakini bermain mata denganku. Menunjukan kepura-puraan yang sebenarnya bisa kurasakan sebagai sebuah kebaikan tapi sayangnya itu masih palsu. Ia menjebakan diri dalam kebaharuan yang tidak pernah ia tau tujuannya apa. Tidak ada satu setanpun tentang tujuan hidup kita.
Kau hadir kembali dalam senja yang mulai khatam lalu seperti senja-senja sebelumnya. Selalu saja meninggalkan rindu untuk diulang. Meninggalkan kasih yang selama ini kunanti. Kurasa kau adalah alasan tepatku untuk menjadi lebih baik. Aku sudah tidak ingin membuang-buang waktu dengan ketidak pastian. Membiarkan orang lain menikmati kemegahan yang kubangun atas dasar apa? Atas dasar aku bukan orang yang baik untuk Nya. Tidak, aku tidak ingin lagi ada yang mengganggu hidupku denganmu tentunya.
Malam semakin melarut, detik sengaja tak ingin mengendapkan rindu kita. Jelas, karena kau lebih dan sangat manis jika kerudung itu tak kau lepas. Terlihat lebih anggun, dewasa, pendiam, seoalah kau hadir denga lebih baru, lebih baik. Memang benar, kau banyak mengajarkanku soal kebenaran dan kebaikan bukan dengan meninggalkan cerita kita begitu saja dengan mencari orang lain, tetapi kau mengajarkanku soal kesetian dengan kelembutan dengan kejujuran dan ketulusan. Kau hadir meski aku tau beberapa waktu lalu kau benar-benar hancur melihat semuanya. Aku terjebak pada makna “kasih sejati’ tetapi ternyata bukan itu. Semua sekali lagi kepalsuan yang mencoba diyakini olehku. Kau hardik aku, tampar aku dengan perhatianmu yang seolah aku tak layak untuk jadi yang terbaikmu.
Rembangan memang manis dan syahdu. Kita masih melanjutkan obrolan ini. Bukan tentang kegundahan tentunya, tetapi soal bagiamana kita kedepan. Banyak harapan yang dimunculkan, banyak asa yang bisa kita rajut suatu hari nanti jika memang keadaan tetap mendukung. Tetapi biarkan kali ini aku menuntaskan perasaanku dulu. Baru kita berbicara panjang lagi.
Sepertinya waktu memang tidak peduli dengan kebersamaan kita yang panjang ini. sepertinya waktu memang berjalan sesuai dengan tugasnya. Kitapun mengakhiri malam itu dengan kalimat istimewa yang sangat aku suka. tetapi biarkan aku, kamu dan Tuhan yang tahu. Biarkan ketulusan dan kejujuran itu menjadi kunci jawaban dalam meningkatkan kualitas hubungan kita lagi.
Mungkin kita akan melanjutkan obrolan panjang ini bukan lagi di Rembangan, tetapi di tempat yang jauh lebih indah dari hari-hari yang lalu.
Terimakasih manisku, kau hadir diwaktu yang tepat ketika semua keresahan semakin menjadi, ketika logika hanya berfungsi sebatas formalitas dan biarkan dia yang mencari segalanya itu sadar tentang kesungguhan yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Biarkan waktu benar-benar mengendapkan semuanya, tak terkecuali janji-janjinya dulu yang pernah kita sepakati!

Sabtu, 13 Oktober 2012

Selalu ada hikmah dibalik kisah

hahhaha. kadang aku merasa lucu dengan apa yang aku lakukan sekarang. Lucu sekali, tak terbiasa rasanya dalam kurun waktu 3tahun terakhir ini aku benar-benar banyak mengorbankan perasaanku pada perempuan yang kalau dipikir pakai akal sehat biasa saja. Namun selalu saja ada cerita yang berbeda. Mencintai itu tak perlu alasan yang logis dan bertele-tele. mencintai itu alasan yang sangat sederhana. "aku suka ama kamu, mau kamu jadi pacarku". Sesederhana itu bukan? tetapi pada akhirnya jiika sudah merajuk dapat membuat kelu semuanya. kesederhanaan itu seolah tidak ada bekasnya. Mungkin cinta itu serumit rumus E=mc2 milik om Eisntein. terlalu rumit jika dijabarkan dengan perasaan dan logika. perlu ada kesemestaan perasaan. Aku jadi teringat kata-kata tokoh terkenal yang aku lupa namanya. "ketika anda berhubungan dengan wanita, anda disarankan untuk tidak menggunkan terlalu banyak logika". Benar sekali, perempuna memang kadang mengesampingkan rasionya hanya untk keyakinan yang Ia sendiri tidak tahu kebenarannya itu. Hegel sepertinya gagal berbicara kebenaran yang absolut pada perempuan.

Ada saja yang membuat perempuan ragu dari hal-hal yang tak kasat. tetapi Perempuan lah yang kadang banyak memberikan pelajaran berharga pada laki-laki, salah satunya aku ini. Perempuan tidak banyak bicara pada akhrinya ketika sisi halusnya diterkam oleh ke macanan laki-laki. Ditinggalkan ditengah perasaan ini sedang berbunga-bunga lalu entah kemana rimbanya.

Aku tidak berharap itu terjadi padaku, tetapi aku ingin menikmati proses sakit hati yang mendalam ini. Dari situ ada semacam usaha yang mensahihkan ucapan.

aah,,kau memang pandai pada akhirnya. Tak salah kiranya kau belajar banyak dalam hubungan kita yang banyak diterpa kegelisahan.

satu hal lagi, dari sakit hati yang mendalam ini, aku merasakan proses menuju penulis yang menjadikan sakti hatinya sebagai modal untuk berkarya.



KEMANA AKU AKAN MELANGKAH?



(10/08/2012)

Kemana kita akan berjalan setelah ini? malam ini begitu dingin menghujam dengan dingin yang menusuk, kupandangi malam yang sedikit ceria dari kemarin. Sebab beberapa bintang masih sudi menghiasi malam setelah lewat batas lingsir wengi. Dalam lamunan malam kuterbayang soal hari esok yang menanti. Ku terbang tentang bintang-bintang yang tak tersusun rapi justru membuat indah itu, apakah akan aku lihat juga di Bumi belahanan lainnya?
Aku esok akan pergi kemana? Melanjutkan langkah menuju kemana? Setelah selesai masa studiku di kota ini. ku terbayang soal mimpi yang sama , dulu aku masih SD. Memandangi langit yang bertabur bintang membawaku pada khayalan lepas “aku berada di negeri yang asing yang banyak kupandangi kincir-kincir angin, udaranya dingin, mungkin saja Belanda yang kubayangkan itu. Kini, setelah hampr 10 tahun  aku tidak lagi bersahabat dengan langit malam, aku kembali melakukan kebiasaanku dulu. Perasaan semangat itu masih ada, masih ada harapan yang begitu Berjaya di setiap tatapanku pada langit malam.
Aku akan pergi kemana? Lagi-lagi aku bertanya langkah mana yang akan kutuju dikemudian hari. Jelas, aku tak ingin menjadi stagnan. Berdiam diri dalam tempat yang sama yang pada akhirnya tersandera oleh rasa bosan yang menjadi. Aku tak ingin itu terjadi padaku, tapi malam setidaknya selalu membangkitkan semangatku untuk tetap berada dalam lintasan mimpi dan harapan.
Aku akan bertemu dengan dunia baru? Iya, sepertinya aku ingin bertemu dengan dunia yang baru, yang berbeda dengan biasanya kutemui dihari-hariku. Entahlah, harapan itu selalu ada. Aku tak ingin menjadi sok tahu soal takdir yang hanya waktu yang tahu jawabannya dan yang bisa menjawab{}.

Senja Terakhir untuk menjadi perempuan Anonim (Twillightend Tobe Anonymous woman)


Senja Terakhir untuk menjadi perempuan Anonim (Twillightend Tobe Anonymous woman)

(The Clouds that suspends bashful rain like the face of a girl who silently)
Ku tulis surat ini dikala perasaan ini bercampur aduk. Bagaimana aku harus memulainya.
Kutulis surat ini, yang besok atau malam ini kau membacanya keadaan sudah berganti rupa. Dan kutulis surat ini, kukirim bersama sepotong senja yang sedang cantik-cantiknya.
Seperti setiap senja di setiap bukit, tentu ada juga burung-burung, rumput yang menghijau, siluet batu koral, dan barangkali juga petani di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga domba, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Amelinda, dalam kertas-kertas yang lusuh, biarkan aku memberikan sesuatu pada lebih dari sekedar kata-kata tentang senja  terakhir yang telah kita nikmati dihari yang lalu.
Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Amelinda, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Amelinda.
Biarkan saja kata-kata itu menjadi pelengkap dan pengukuh bahwa kita sempat bersama, melewatkan senja-senja yang sebelumnya dengan belaian, peluk, cium dan cumbu.
Amelinda yang manis, Amelinda yang sendu. Amelinda yang lucu. Ingin aku jelaskan kenapa aku mengajakamu bertemu dimalam ini lalu membicarakan senja yang selalu aku rindukan itu?
Siang ini aku aku duduk seorang diri di tepi bukit, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Dalam mata terpejamku ini, terlintas bayangmu yang semakin menjauh-menjauh dan hilang. Obrolan siang tadi membukakan mataku yang menurutmu terlampau egois ini. aku masih ingat semua percakapan itu. Kita sama-sama dalam kondisi yang dilematis, sulit memilih.
Kau telah dihadirkan laki-laki yang kau anggap pantas untukmu, “setia” itu kata kuncinya, sedangkan aku “tidak”. Iya. Karena aku sedang tidak sendiri. Apa kau masih ingat dengan hari dimana kita benar-benar berakhir, dimana pada waktu itupun aku tidak memilih siapa-siapa, termasuk kamu. Tujuannku ingin mencari kedamaian yang mencandu. Tetapi kau hadir kembali dengan usaha dan upaya yang membuatku akhirnya melepaskan pilihanku yang terladuhulu, kita bersama kembali.
Memang waktu yang kurang bersahabat, aku tak lagi sendiri, itu masalah utamanya. Karena alasan itulah yang selalu kau jadikan untuk mencambuk diriku ketika aku tidak “well” denganmu, yang sampai membuatmu merasa menderita karena pilihanku itu terlampau sulit dipahami olehmu, amelinda.

Sekarang senja benar-benar mencapai senjakalanya, kau dihadapkan dua pilihan. Antara aku dan dia yang aku benci. Jika berbicara egoisme, jelas aku akan sangat tidak suka, aku tidak bisa menerima keadaan itu. Dimana selama ini, hampir empat bulan setelah putus kita masih saja bersama bahkan lebih erat, tiba-tiba kau menjadi ragu “maaf, aku ragu”. Jelas terasa ditusuk uluhatiku. Sebelumnya kita punsempat mengobrol panjang lebar, kau pun sempat mengatakan yang membuatku merasa tenang. Setidaknya aku merasa kita akan tetap merajut mimpi dimasa yang akan datang.
Lagi-lagi, kau harus membuatku berpikir “aku berharap tidak menyesal dengan pilihan ini.” Jelas ada keraguan yang tampak darimu, aku tak ingin kau menyesal manisku, aku tak ingin kau terus merasa menderita karena pilihanmu itu “ tidak memilih siapa-siapa”. Salah satu caranya, aku harus melepaskan egoisme ku, aku harus benar-benar mengubur dalam-dalam cerita yang selama ini sempat kita rajut.
mencintaimu, bagiku
adalah membentuk kesadaran
pada tubuh dan jiwa
pada batas-batas akali, dimana
segala mula dimengerti
dan meniscaya.

Aku minta puisi ini dari seorang kawan diJogja sana, mencintaimu adalah membentuk kesadaranku pada apa yang ada pada tatapan mata dan melupakan bayang-bayang yang kabur dihatam detik yang terus bedetak. Mengawinkan kata dan laku menjadi satu dan menghadiahkan padamu.
Hanya kau yang bisa merubah semua untuk menjadi indah, aku rasa itu tidak berlebihan, tak mudah untuk bisa mencari rasa yang telah mati, namun kamu membangkitkan asa yang ada dihati ini. ketika dulu aku sempat kesulitan melupakan perempuan yang selalu membuatku kelu ketika mengingatnya, tapi sekali lagi “hanya kau yang bisa merubah semua”.
Karena laku memang menyempurnakan kata-kata, karena kata-kata menggenapkan laku “aku ingin kau bahagia.” Pergilah dengan dia yang selama ini ingin kau temui. Kata-kataku harus sesuai dengan laku ku dan akan kubuktikan sekarang. Memang sangat menyakitkan. Tetapi hidup harus memilih.  Mencintai memang tak sesederhana kata-kata yang biasa diucap dua sejoli, lalu aku hanya ingin menafirkan ke“sok tauanku” tentang mu itu. Kutafsirkan setelah kita bercakap-cakap dengan diwarnai amarah, senyum dan air mata. Sebelum lidahku ngilu dan kaku, karena berbatas perasaan pada rindu yang menyiksa, ketika kularung segenap gelisahku atas pilihan untuk mu berlayar bersama dengan dia yang kubenci.
Setelah itu, kusiksa diriku untuk tak bilang sayang dan rindu padamu, biarkan kita sama-sama asing untuk saling mengenal. Mendefinisikan ulang janji yang pernah kita ucap. Karena kau sudah jelas tau setiap apa yang harus dibayar dalam setiap pilihan. Jangan hiraukan itu manisku, jangan pedulikan semua tentangku. Toh sebentar lagi kita akan benar-benar berjarak, tidak ada wajah-wajah dipagi hari yang biasa kau sapa lagi.
kita saling lupa memaafkan ketololan,
pun tetap membingkai sekerdil apa kenangan.
kemudian adalah hidup, masa lalu dan kini
yang melulu kaurekam.

Sebait puisi itu menggabarkan secarik kelembuatan yang selalu kau bingkai rapih tapi kini telah rapuh.
Semua bergantung apa yang inginkan dan yakini, aku tak ingin menjadi pembeban dalam langkah yang kau pilih. Asing dan menjauh adalah kelogisan yang siap dihadapkan pada apa yang kita takutkan.
Amel,

Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas.  Bukan tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu. kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapa semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seperti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.


8 Agustus ketika pertama kau bohong padaku